Arsip untuk Februari 10, 2011

Apakah YESUS itu ALLAH

Posted: Februari 10, 2011 in Siapakah YESUS f**ckhrist

Pernahkan anda bertemu dengan seseorang, yang punya magnet personal begitu besar, sehingga dia selalu jadi pusat perhatian? Mungkin karena kepribadiannya atau kepintarannya — tapi ada sesuatu dari dia yang mempesona. Itulah yang terjadi dua ribu tahun lalu terhadap Yesus Kristus.

Keagungan Yesus sangat jelas bagi mereka yang melihat dan mendengarNya. Tapi, ketika sebagian besar orang besar pelan-pelan hilang dalam buku-buku sejarah, Yesus dari Nazareth tetap jadi fokus kontroversi di banyak buku dan media. Dan sebagian besar kontroversi berada disekitar klaim radikal Yesus mengenai dirinya sendiri.

Sebagai tukang kayu dari sebuah desa di Galilea di Israel, Yesus, mengklaim drinya, jika benar, memberi implikasi besar terhadap hidup kita. Menurut Yesus, anda dan saya istimewa, bagian dari rencana besar kosmis dan Dia adalah pusat dari semuanya. Klaim ini dan yang lain semacamnya mengagetkan mereka yang mendengarnya.
Terutama karena klaim, yang membuat marah, Yesuslah yang menyebabkan Dia dipandang sebagai pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Kendati Dia adalah orang luar yang tidak punya kredensial atau basis politik, dalam waktu tiga tahun, Yesus mengubah dunia selama 20 abad terakhir ini. Pemimpin moral dan agama lain meninggalkan dampak — tapi tidak seperti tukang kayu yang tidak dikenal dari Nazareth.

Ada apa tentang Yasus Kristus yang membuatnya berbeda? Apakah dia hanya seorang besar, atau sesuatu yang lebih?
Pertanyaan-pertannyaan ini masuk ke inti siapa Yesus sebenarnya. Ada yang percaya dia hanyalah guru moral yang besar, yang lain percaya dia hanyalah pemimpin dari agama terbesar dunia. Namun banyak yang percaya lebih jauh lagi. Orang Kristen percaya Allah telah melawat kita dalam bentuk manusia. Dan mereka percaya ada bukti-bukti yang mendukungnya. jadi, Siapa sebenarnya Yesus? Mari kita lihat lebih dekat.

Ketika kita melihat lebih dalam dari pribadi yang paling kontroversial di dunia, kita mulai bertanya apa mungkin Yesus hanyalah seorang guru moral yang besar?

Guru Moral Yang Besar?
Hampir semua ahli mengakui Yesus adalah guru moral yang besar. Pada kenyataannya, kedalaman tajamNya dalam moralitas kemanusiaan adalah sebuah pencapaian yang juga diakui oleh agama-agama lain. Dalam bukunya, Jesus of Nazareth, pakar Yahudi, Joseph Klausner menulis, “Secara universal diakui …. Kristus mengajarkan etika yang paling murni dan sempurna… yang melempar semua persepsi dan pepatah dari manusia paling bijak di jaman kuno jauh kedalam bayangan.”[1]

Khotbah Yesus di atas bukit telah disebut sebagai pengajaran paling unggul etika manusia yang pernah diutarakan oleh seorang individu. Pada kenyatannya aka yang sekarang kita kenali sebagai “persamaan hak” adalah hasil dari pengajaran Yesus. Sejarahwan Will Durant menyatakan jika Yesus hidup dan memperjuangkan persamaan hak di era modern Dia akan langsung dikirim ke Siberia. “Dia yang terbesar diantara kamu, adalah dia yang melayani kami” — ini telah membalikkan semua kebijaksanaan politik, yang sudah wajar.[2]

Sebagian orang mencoba memisahkan pengajaran etika Yesus dari klamNya tentang diriNya, dan percaya Dia hanyalah manusia biasa yang besar dan mengajarkan prinsip – prinsip moral luhur (mulia). Inilah pendekatan yang diambil dari salah satu bapa pendiri Amerika.

Presiden Thomas Jefferson, rasionalis yang tercerahkan, duduk di Gedung Putih dengan dua kopi identik Perjanjian Baru, sebuah silet dan kertas. Sepanjang beberapa malam, dia menggunting dan menempelkan kitab sucinya, yang tipis dan disebutnya “Filsafat Yesus dari Nazareth”. Setelah memotong semua ayat/kalimat yang menyebutkan (menyiratkan) Ke-Tuhan-an Yesus, Jefferson mempunyai Yesus yang tidak lebih dan tidak kurang daripada sebuah panduan etika yang baik.[3]
Ironisnya, kata-kata Jefferson, yang dikenang, di Deklarasi Kemerdekaan berakar pada pengajaran Yesus bahwa setiap orang sangat berharga dan penting bagi Allah, terlepas dari jenis kelamin, ras, atau status sosial. Dokumen terkenal itu menambahkan, “Kami pegang teguh kebenaran yang telah membuktikan dirinya sendiri, bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka diperlengkapi oleh Penciptanya dengan hak-hak azasi.

Tapi Jefferson tidak pernah bertanya, bagaimana Yesus bisa jadi pemimpin moralitas besar jika Dia berbohong tentang Dia adalah Allah? Jadi mungkin Dia tidak benar-benar bermoral, tapi motifnya adalah memulai sebuah agama besar. Mari kita lihat jika itulah penjelasan tentang kebesaran Yesus.

Pemimpin Besar Agama?
Apakah Yesus pantas disebut sebagai “pemimpin besar agama”?
Kejutannya, Yesus tidak pernah mengklaim diriNya sebagai pemimpin agama.
Dia tidak pernah masuk dalam perpolitikan agama atau didorong oleh agenda ambisius dan Dia melayani (berkotbah) diluar kerangka kelembagaan agama.

Ketika membandingkan Yesus dengan pemimpin besar agama lain, perbedaan besar muncul. Ravi Zacharias, yang besar dalam budaya Hindu, mempelajari agama-agama dunia dan mengamati perbedaan fundamental antara pendiri agama lain dengan Yesus Kristus.

“Apapun yang kita buat terhadap klaim mereka, satu realitas tidak akan terlewatkan. Mereka adalah guru-guru yang menunjuk pengajaran atau memperlihatkan jalan tertentu. Dari semua, muncul perintah-perintah, cara hidup. Bukanlah Zoroaster yang jadi panutan; Zoroaster yang anda dengarkan. Bukan Buddha yang membebaskan anda; Kebebarannya yang Agung yang memerintahkan anda. Bukan Muhammad yang mengubah anda; keindahan Quran yang menarik anda. Kontrasnya, Yesus tidak hanya mengajar atau menjelaskan pesan-pesanNya. Dia identik dengan pesanNya.”[4]

Kebenaran Zacharias diperjelas dengan beberapa kali di Injil pesan pengajaran Yesus hanyalan “Datang kepada Ku” atau “Ikut Aku” atau “Patuhi Aku”. Juga, Yesus menegaskan bahwa misi utamanya adalah untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.

Tidak ada pemimpin agama besar yang pernah mengklaim berkuasa mengampuni dosa. Tapi bukan klaim itu saja yang memisahkan Yesus dari yang lain. Dalam The World’s Great Religions, Huston Smith mengamati, “Hanya dua orang yang sangat mengejutkan orang pada jamannya sehingga pertanyaan yang ditujukan kepadanya bukanlah “Siapa dia?” tapi ‘Dia itu apa? Mereka adalah Yesus dan Buddha. Jawaban keduanya atas pertanyaan ini bertentangan. Buddha dengan tegas menyatakan dia hanyalah seorang manusia bukan allah — seakan-akan dia bisa memperkirakan belakangan ada upaya untuk memujanya. Yesus, disisi lain, mengklaim…. Dia itu Tuhan.”[5]

Apakah Yesus Mengklaim Dirinya Adalah Allah?
Sudah jelas, sejak awal gereja, Yesus dipanggil Tuhan dan dipandang oleh orang Kristen sebagai Allah. Namun tetap saja Ke-Tuhan-an Yesus terus jadi perdebagan besar. Jadi pertanyaan —a dan memang pertanyaannya — adalah : Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah (Pencipta), atau semacam mahluk mulia yang diciptakan atau diasumsikan oleh para penulis Perjanjian Baru? (Lihak “Apa Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah”)

Beberapa ahli percaya Yesus adalah guru yang sangat berkuasa dan mempunyai kepribadian yang mendorong murid-murudNya berasumsi Dia adalah Allah. Atau mereka hanya ingin untuk berpikir Dia adalah Allah, John Dominic Crossan dan Seminar Yesus (kelompok pakar, yang skeptis, dengan prasangka menolak mujizat) adalah sebagian orang yang percaya Yesus didefenisikan salah.

Kendati buku seperti The Da Vinci Code berpendapat Ke-Tuhan-an Yesus adalah doktrin gereja saja, bukti-bukti memperlihatkan sebaliknya (Lihat “Apa ada Konspirasi Da Vinci?”). Sebagian besar orang Kristen yang menerima Injil, yang bisa dipercaya, menekankan Yesus memang mengklaim diriNya sebagai Tuhan (Allah). Dan kepercayaan ini bisa ditelusuri kebelakang sampai pada pengikut Yesus di awalnya (langsung).
Tapi ada juga mereka yang menerima Yesus sebagai guru agung, tapi tidak bersedia menyebutNya sebagai Allah. Thomas Jefferson tidak mempersoalkan untuk menerima pengajaran Yesus atas moral dan etika tapi menolak Ke-Tuhan-anNya.[6] Tapi seperti kami sudah katakan, dan akan dijelaskan kemudian, jika Yesus bukanglah seperti yang diklaimNya, maka kita harus mencari alternatif lain, yang tidak satupun akan membuat Dia jadi guru agung moral.
Bahkan membaca sekilas Injil akan mengungkapkan bahwa Yesus mengklaim lebih dari nabi seperti Musa atau Daniel. Tapi sifat dasar klaim-klaim itu jadi perhatian kita.

Dua pertanyaan perlu diperhatikan.
• Apakah Yesus mengklaim diriNya adalah Allah?
• Ketika Dia katakan “Allah”, apakah Yesus benar-benar memaksudkannya Dia adalah Pencipta alam semesta seperti yang disebut oleh Kitab Suci Yahudi.

Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, kita perlu mempertimbangkan kata-kata Yesus di Matius 28:18, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Apa yang dimaksudkan dengan Yesus telah “diberikan” kuasa?
Sebelum menjadi manusia, kita diberitahu bahwa Dia bersama-sama dengan Bapa, dan sebagai Allah, Dia punya semua kuasa. Namun Filipi 2:6-11 menceritakan kepada kita kendati Yesus telah ada dalam bentuk Allah, Dia “melepaskan” kekuasaan Allah untuk lahir jadi manusia. Namun bagian surat itu juga menyatakan kepada kita bahwa setelah kebangkitan, Yesus dipulihkan lagi dalam kemulianNya semula dan satu hari nanti “setiap lutut akan bertelut kepadaNya dan menyebut Tuhan.”

Jadi, apa yang dimaksud Yesus ketika dia mengklaim memiliki seluruh kuasa di sorga dan di bumi? Kekuasaan merupakan istilah yang dikenal baik di Israel, yang dijajah Romawi kala itu. Pada saat itu, Kaisar adalah kekuasaan tertinggi diseluruh Romawi. Keputusannya bisa langsung mengirim pasukan untuk berperang, menghukum penjahat, dan menetapkan hukum dan peraturan pemerinta. Pada kenyataannya, kekuasaan Kaisar begitu besar sehingga dia sendiri mengklaim dirinya sama dengan Tuhan. 

Jadi, hal paling kecil kemungkinannya adalah Yesus mengklaim punya otoritas sama dengan Kaisar. Tapi Dia tidak hanya mengatakan Dia punya kekuasaan lebih dari para pemimpin Yahudi atau penguasa Romawi; Yesus mengklaim memiliki otoritas (kuasa) tertinggi di alam semesta. Bagi mereka yang mendengarNya, itu berarti Dia adalah Allah. Bukan salah satu allah — tapi ALLAH. Baik perkataan dan tindakan menegaskan fakta bahwa mereka benar-benar percaya Yesus adalah Allah. (Lihat “Apakah Para Rasul Percaya Yesus adalah Allah?”)

Apakah Yesus Mengklaim Sebagai Pencipta?
Tapi mungkin Yesus hanya merefleksikan otoritas Allah dan tidak menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta. Pertama dibaca sekilas kelihatannya tidak meyakinkan. Namun klaim Yesus memiliki seluruh kuasa akan masuk akal jika Dia adalah Pencipta alam semesta. Kata “seluruh” berarti segala sesuatu termasuk penciptaan itu sendiri. 

Ketika kita menggali lebih dalam kata-kata Yesus sendiri, sebuah pola mulai muncul. Yesus membuat penegasan tentang diriNya, jika benar, tidak salah lagi merujuk pada Ke-Tuhan-anNya. Inilah sebagian pernyatan yang dicatat oleh para saksi mata.
• “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25)
• “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12)
• “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)
• “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” (Wahyu 22:13).
• “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
• “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
• “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9)

Sekali lagi, kita harus kembali kepada konteks. Dalam Kitan Suci Yahudi, ketika Musa bertanya kepada Allah namaNya didepan semak yang berapi, Allah menjawab, “AKU”. Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta, abadi dan ada disemua tempat.

Sejak jaman Musa, tidak ada satupun orang Yahudi yang berani menyebut dirinya atau orang lain dengan sebutan “AKU”. Karena itu, klaim Yesus sebagai “AKU” langsung membuat para pemimpin Yahudi sangat marah. Satu kali, contohnya, beberapa pemimpin Yahudi menjelaskan kepada Yesus kenapa mereka mencoba membunuhNya, “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.” (Yohanes 10:33).

Tapi pada pokoknya bukan hanya kalimat-kalimat itu yang membuat para pemimpin agama marah. Poinnya adalah mereka tahu persis apa yang Dia katakan —Dia mengklaim diriNya sebagai Allah, Pencipta alam semesta. Hanya dengan klaim ini membawa pada tuduhan penghujatan. Membaca teks klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah sudah sangat jelas, bukan hanya oleh kalimatNya, tapi juga oleh reaksi mereka yang mendengarnya.
Allah Seperti Apa?
Ide bahwa kita semua bagian dari Allah, dan didalam kita ada bibit ke-Tuhan-an, tidaklah bisa diterapkan bagi kata-kata dan tindakan Yesus. Pemikiran semacam itu berasal dari kaum revisionis, asing bagi pengajaranNya, asing bagi keyakinan yang dikatakanNya, dan asing bagi para muridNya yang mengerti pengajaranNya.

Yesus mengajarkan Dia adalah Allah seperti yang dipahami orang Yahudi tentang Allah dan sama dengan Kitab Suci Yahudi gambarkan atas Allah, bukan seperti gerakan Abad Baru pahami mengenai Allah.
Yesus maupun para pendengarnya tidak pernah tahu tentang Star Wars, sehingga jika mereka berbicara tentang Allah, mereka tidak membicarakan kekuatan kosmis. Hanya akan jadi sejarah yang jelek untuk meredefenisi ulang apa yang dimaksud Yesus akan konsep Allah.

Tapi jika Yesus bukan Allah, apakah kita bisa tetap menyebutNya sebagai guru agung moral? C. S. Lewis berargumen, ”Saya disini mencoba mencegah siapapun menyatakan hal bodoh yang sering dikatakan orang mengenai diriNya: ‘saya siap menerima Yesus sebagai guru agung moral, tetapi saya tidak menerima klaimnya sebagai Allah.’ Hal ini tidak boleh dikatakan.”[7]
Dalam pencarian akan kebenaran, Lewis tahu bahwa dia tidak bisa mengambil dua jalan itu berkaitan dengan identitas Yesus. Benar klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah dalam daging atau klaimNya salah. Dan jika salah, Yesus bukanlah guru agung moral. Dia bisa dengan sengaja berbohong atau Dia hanyalah orang gila, yang menganggap diriNya Allah.
Apakah Yesus Pembohong?
Salah satu buku politik paling terkenal dan berpengaruh ditulis oleh Noccolo Machiavelli 1532. Dalam buku klasik, The Prince, Machiavelli menjelaskan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, sukses, dan efesiensi adalah melampaui kesetiaan, iman, dan kejujuran. Menurut Machiavelli, berbohong itu bagus jika untuk mencapai tujuan politik.
Mungkinkah Yesus Kristus membangun seluruh pelayananNya berdasarkan kebohongan untuk memperoleh kekuasaan, kemashuran, atau keberhasilan? Faktanya, orang Yahudi, musuh Yesus, secara konstan berusaha memperlihatkan Dia sebagai pembohong dan penipu. Mereka akan menyerang Dia dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjebakNya dan membuat Dia berkontradisksi dengan diriNya sendiri. Namun Yesus selalu menjawab dengan konsistensi yang mengagumkan.
Pertanyaan yang harus kita hadapi adalah, apa mungkin motivasi Yesus hidup seperti hidupNya adalah kebohongan? Dia mengajar Allah menentang kebohongan dan kemunafikan, jadi Dia tidak akan melakukan itu untuk menyenangkan BapaNya. Dia pasti tidak berbohong demi keuntungan para pengikutNya. (Seluruh murid kecuali satu orang mati terbunuh jadi martir.) Akhirnya kita tinggal punya dua kemungkinan penjelasan, yang punya problemnya sendiri.
Keuntungan
Banyak orang berbohong untuk memperoleh keuntungan pribadi. Faktanya, kebanyakan bohong dimotivasi oleh keuntungan pribadi. Apa yang Yesus harapkan dari berbohong atas identitasNya? Kekuasaan jadi jawaban paling mudah diperoleh. Jika rakyat percaya Dia adalah Allah, Dia bisa punya kekuasaan luar biasa besar. (Itulah sebab banyak pemimpin jaman dulu, seperti Kaisar, mengklaim punya asal usul ilahi.)
Jawaban atas perjelasan ini adalah Yesus menolak semua upaya untuk mendudukkanNya sebagai penguasa, lebih suka mengecam mereka yang menyalah-gunakan kekuasaan dan hidup untuk mengejar kekuasaan. Dia juga memilih untuk menjangkau orang yang terbuang (pelacur dan penderita lepra), mereka yang tidak punya kekuasaan, menciptakan jaringan dari orang-orang yang pengaruhnya kurang dari nol. Bisa digambarkan sebagai aneh, semua yang Yesus lakukan dan katakan bergerak menjauhi kekuasaan.
Kelihatannya, jika kekuasaan jadi motivasi Yesus, Dia akan menghindari salib dengan segala cara. Namun, dalam beberapa kesempatan, Dia mengatakan kepada para muridNya bahwa salib adalah tujuan dan misinya. Bagaimana kematian di salib Romawi bisa memberikan kekuasaan kepada orang itu?
Kematian, tentu saja, membawa segalanya memasuki fokus yang tepat. Banyak orang martir mati karena perjuangan yang mereka percayai, tapi hanya sedikit orang mau mati untuk kebohongan yang sudah diketahui. Tentunya seluruh harapan Yesus untuk memperoleh keuntungan pribadi akan lenyap di kayu salib. Tapi, sampai pada napas terakhirnya, Dia tidak pernah mencabut klaimNya sebagai Anak Allah. Yesus menggunakan istilah “Anak Manusia” dan “Anak Allah” untuk mengidentifikasi sifat dasar sebagai manusia dan Allah. (Lihat “Apakah Yesus Mengklaim diriNya adalah Allah?”).
Warisan
Jadi jika Yesus berbohong bukan untuk keuntungan pribadi, mungkin klaim radikalnya dipalsukan untuk meninggalkan sebuah warisan. Tapi prospek dipukuli hancur-hancuran dan dipaku di salib dengan cepat akan menyurutkan siapapun, yang paling antusias, untuk jadi bintang super masa depan.
Ada fakta lain, yang sering timbul. Jika Yesus mencabut saja klaim sebagai Anak Allah, Dia tidak akan di salib (hukum). Karena klaimNya sebagai Allah dan ketidak-sediaan untuk mencabutnya, yang membawanya ke salib.
Jika meneliti reputasi kredibilitas dan historis mengenai apa yang memotivasi Yesus untuk berbohong, seseorang harus menjelaskan bagaimana seorang tukang kayu dari desa miskin Yudea bisa mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan mengangkat namanya jadi terkemuka di dunia. Bagaimana Dia tahu pesan-pesanNya akan bertahan (ada terus sampai sekarang)? Murid-murid Yesus sudah lari dan Patrus menyangkal Dia. Ini semua bukanlah sebuah formula untuk menanamkan warisan religius.
Apakah para sejarahwan percaya Yesus berbohong? Para ahli telah menyidik kalimat-kalimat Yesus dan kehidupanNya untuk melihat apakah ada bukti kejanggalan pada karakter moralNya. Pada kenyataannya, bahkan yang paling skeptispun kaget oleh kemurnian moral dan etika Yesus. Salah satu, skeptis dan antagonis, John Stuart Mill (1806 – 73), filsuf. Mill menulis mengenai Yesus,
“Tentang kehidupan dan perkataan Yesus ada tanda orsinilitas personal dikombinasikan dengan kedalaman pengertian di tingkat pertama manusia yang jenius tertinggi yang spesies kita bisa utarakan. Pada saat jenius terbesar (terhebat tak ada yang melebihi) dikombinasi dengan kualitas yang mungkin reformer moral terbesar dan martir untuk misinya itu yang pernah hidup di bumi, agama tidak bisa dikatakan melakukan pilihan salah dalam memilih orang ini sebagai wakil ideal dan panduan bagi kemanusiaan.”[8]
Menurut sejarahwan Philip Schaff, tidak ada bukti, dalam sejarah gereja atau sekuler, yang mencatat Yesus berbohong atas apapun. Schaff berargumen, Bagaimana, atas nama logika, masuk akal, dan pengalaman, seorang penipu, egois, telah menciptakan dan secara konsisten dari mulai sampai akhir, dikenal sebagai karakter paling mulia dan murni dalam sejarah dengan aroma kebenaran sempurna dan realitas?[9]
Untuk tetap pada pilihan kebohongan, tampak seperti berenang melawan arus atas apa yang diajarkan, dihidupi sampai mati, oleh Yesus. Bagi sebagian besar ahli, itu tidak masuk akal. Kendati begitu, untuk menolak klaim Yesus, seseorang harus mengajukan penjelasan. Dan jika klaim Yesus tidak benar dan Dia tidak berbohong, satu-satunya pilihan tersisa adalah Dia membohongi diriNya sendiri.
Apa Yesus Gila?
Albert Schweitzer, penerima Nobel Prize 1952, karena upaya-upaya kemanusiannya, punya pandangan sendiri tentang Yesus. Schweitzer menyimpulkan bahwa kegilaan ada dibelakang klaim Yesus bahwa Dia adalah Allah. Dalam kata lain, Yesus salah atas klaimNya tapi tidak secara sengaja berbohong. Menurut teori ini, Yesus disesatkan sedemikian rupa hingga Dia percaya Dialah Mesias.

C. S. Lewis mempertimbangkan pilihan ini dengan hati-hati. Lewis mendeduktif klaim Yesus — seakan-akan tidak benar. Dia mengatakan seseorang yang mengklaim sebagai Allah tidak mungkin jadi guru agung moralitas. “Dia orang gila — ditingkatan orang yang mengaku dia adalah telur rebus — atau dia bisa saja Setan dari Neraka.”[10]
Bahkan mereka yang paling skeptis terhadap KeKristenan sangat jarang mempertanyakan kesadaran Yesus. Reformis sosial William Channing (1780–1842), mengaku bukan orang Kristen, melakukan pengamatan terhadap Yesus,”Tuduhan secara berlebihan, secara antusias membohongi-diri adalah yang paling akhir bisa dikatakan tentang Yesus.” Dimana kita bisa temukan jejak itu dalam sejarah? Apakah kita bisa mendeteksinya dalam pemikiranNya? persepsiNya[11]
Meski kehidupannya dipenuhi oleh imoralitas dan skeptisme personal, filsuf terkemuka Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712 -78) mengakui superioritas karakter dan pemikiran Yesus. “Ketika Plato menggambarkan manusia kebenaran, imajinasinya, dipenuhi oleh hukuman akan kesalahan, tetapi tetap berhak atas ganjaran keutamaan (kebijaksanaan) tertinggi, dia dengan tepat menggambarkan karakter Kristus. … Pemikiran yang luar biasa. … Ya, jika kehidupan dan kematian Socrates adalah filsuf, kehidupan dan kematian Yesus Kristus adalah Allah.”[12]
Schaff melontarkan pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri, ” Apa ada kepintaran pada tingkat itu — sepenuhnya sehat dan bersemangat, selalu siap dan selalu percaya diri — menyerahkan diri secara radikal dan sangat serius kepada khayalan berkaitan dengan karakter dan misinya sendiri?[13]
Jadi, apakah Yesus seorang pembohong, gila, atau Dia adalah Anak Allah? Dapatkah Jefferson benar ketika menjuluki Yesus “hanya guru moral yang bagus” dan pada saat yang sama menolak Ke-Tuhan-anNya? Menariknya, para pendengar Yesus — mereka yang percaya dan musuh-musuhNya — tidak pernah memandang Dia hanya sebagai guru moral. Yesus menghasilkan tiga dampak utama bagi orang yang bertemu denganNya: kebencian, ketakutan, atau penyembahan (pemujaan).
Dan sekarang, 2000 tahun kemudian, Yesus masih tetap pribadi yang membelah dunia kita. Bukan moral, etika, atau warisanNya yang membakar gairah. Pesan yang dibawa Yesus kepada dunia adalah Allah menciptakan kita dengan tujuan dan tujuan itu ada pada AnakNya.

Klaim Yesus Kristus memaksa kita untuk memilih. Seperti dikatakan Lewis, kita tidak bisa mengkategorikan Yesus hanya sebagai pemimpin besar agama atau guru moral yang baik. Mantan pengajar Oxford dan skeptis menantang kita mengambil keputusan sendiri mengenai Yesus,
“Anda harus mengambil keputusan sendiri. Apa orang ini adalah Anak Allah atau orang gila atau yang lebih buruk lagi. Anda bisa menyebutNya bodoh, anda meludahiNya dan membunuhNya sebagai setan atau anda bisa jatuh didepan kakiNya dan memanggilNya Tuhan dan Allah. Tetapi kita tidak bisa menyatakan hal yang tidak masuk akal dengan menyebutnya sebagai guru yang agung dan manusia. Dia tidak menyediakan (pandangan itu) terbuka untuk kita. Dia tidak menghendakinya.”[14]
Dalam tulisan “Kekristenan Biasa”, Lewis menjelaskan kenapa dia menyimpulkan Yesus Kristus persis sama dengan klaimNya. Dia secara hati-hati meneliti kehidupan dan perkataan Yesus dan membawa penulis jenius ini membuang ateismenya dan jadi orang Kristen yang sungguh-sungguh.


Da Vinci Code tidak bisa dikesampingkan hanya sebagai rancangan fiksi belaka. Premisnya adalah Yesus Kristus telah dibentuk (direkayasa) kembali untuk kepentingan politik, telah menyerang lansung pondasi utama KeKristenan. Pengarangnya, Dan Brown, didepan televisi nasional menyatakan kendati cerita itu fiksi, dia percaya ceritanya mengenai identitas Yesus benar. Jadi apa itu kebenaran? Mari kita lihat.
• Apa Yesus secara rahasia menikah dengan Maria Magdalena?
• Apakah ke-Tuhan-an Yesus diciptakan oleh Konstantin dan gereja?
• Apakah catatan orsinil Yesus dihancurkan?
• Apakah penemuan terbaru manuskrip menceritakan kebenaran akan Yesus?
Apakah konspirasi maha besar itu bermuara pada rekayasa kembali (penciptaan kembali) Yesus? Menurut buku itu dan filmnya, The Da Vinci Code, itulah yang terjadi. Beberapa bagian buku memperlihatkan bau konspirasi mengenai Yeus. Contohnya, buku menyebutkan,
“Tidak seorangpun menyatakan Kristus merupakan kebohongan, atau membantah Dia pernah berjalan di bumi dan menginspirasi jugaan orang untuk hidup lebih baik. Kita hanya mengatakan Konstantin memanfaatkan substansi dari pengaruh dan pentingnya Yesus itu. Dan dalam melakukannya, dia membentuk wajah KeKristenan yang kita kenal sekarang ini.”[1]
Apa mungkin pernyataan dari buku laris Dan Brown ini benar? Atau premis dibelakangnya hanyalah bahan-bahan yang bagus untuk novel konspirasi — sama dengan kepercayaan bahwa pesawat luar angkasa asing jatuh di Roswell, New Mexico, atau ada penembak kedua di lapangan rumput di Dallas ketika JFK dibunuh.
Apapun itu, cerita memang menarik. Tidak heran buku Brown telah jadi salah satu buku paling laku dalam satu dekade terakhir.
Konspirasi Yesus
The Da Vinci Code dimulai dengan pembunuhan kurtor museum Perancis bernama Jacques Sauniere. Seorang pakar dari Universitas Harvard dan perempuan cantik Perancis ahli kritologi diminta mengartikan sebuah pesan yang ditinggalkan kurator sebelum kematiannya. Pesan itu ternyata mengungkap konspirasi besar dalam sejarah manusia: sebuah penipuan pesan sebenarnya tentang Yesus Kristus oleh tangan rahasia gereja Katolik Roma disebut Opus Dei.
Sebelum kematiannya, sang kurator punya bukti yang akan menghapuskan ke-Tuhan-an Kristus. Kendati (menurut cerita di buku) gereja selama berabad-abad mencoba menghapus bukti-bukti, para pemikir dan seniman besar telah menanam petunjuk dibanyak tempat: dalam lukusan seperti Mona Lisa dan Perjamuan Malam Terakhir oleh da Vinci, dalam arsitektur katedral-katedral, bahkan dalam kartun-kartun Disney. Klaim utama buku adalah:
• Kaisar Romawi Konstantin berkonspirasi untuk men-Tuhan-kan Yesus Kristus.
• Konstantin secara pribadi memilih buku-buku di dalam Perjanjian Baru.
• Injil Gnostik dilarang oleh para laki-laki untuk menindas perempuan.
• Yesus dan Maria Magdalena secara rahasia menikah dan punya anak.
• Ada ribuan dokumen yang bertentangan dengan poin-poin kunci KeKristenan.
Brown mengungkapkan konspirasinya melalui seorang ahli, fiksi, sejarahwan bangsawan Inggris, bernama Sir Leigh Teabing. Digambarkan sebagai seorang pakar yan bijak dan tua, Teabing mengungkapkan kepada ahli kriptologi Sophie Neveu bahwa pada sidang Dewan Nicaea tahun 325 “banyak aspek dari KeKristenan diperdebatan dan diambil pemungutan suara (untuk memutuskannya),” termasuk ke-Tuhan-an Yesus.
“Sampai pada momen historis,” katanya, “Yesus dipandang oleh para pengikutnya sebagai nabi fana …. seorang besar dan berkuasa, tapi tetap seorang manusia biasa.”
“Relatif menang tipis dalam pemungutan suara,” tukas Teabing yang sangat mengejutkan ahli kriptologi itu.[2]
Neveu kaget sekali. “Bukan Putra ALLAH?” Tanyanya.
Teabing menjelaskan, ”Penetapan Yesus sebagai ‘Putra ALLAH’ secara resmi diusulkan dan dipilih oleh Dewan Nicaea.”
“Tunggu. Anda katakan Ke-Tuhan-an Yesus adalah hasil pemungutan suara.”
Jadi menurut Teabing, Yesus belum dipandang sebagai ALLAH sampai Dewan Nicaea bersidang tahun 325, ketika catatan sebenarnya tentang Yesus dikatakan dilarang dan dihancurkan. Jadi, menurut teori itu, seluruh dasar KeKristenan berdiri diatas kebohongan.
The Da Vinci Code telah menjual ceritanya denga bagus,menarik komentar dari para pembaca seperti “jika tidak benar maka tidak akan dipublikasikan!” Yang lain menulis dia “tidak akan menginjakkan kakinya di gerja lagi.” Seorang pengulas buku memujinya karena “riset sempurna (meyakinkan)[3] Cukup meyakinkan buat sebuah cerita fiksi
Mari kita sebentar menerima pandangan Teabing yang mungkin benar. Kenapa, dalam kasus ini, Dewan Nicaea memutuskan untuk mengangkat Yesus menjadi ALLAH?
“Karena kekuasaan,” imbuh Teabing. “Kristus sebagai Mesias sangat penting supaya Gereja dan negara bisa berfungsi. Banyak ahli mengklaim gereja mula-mula secara harafiah mencuri Yesus dan para pengikut asli, membajak pesan kemanusiaannya, menutupiNya dengan jubah Ke-Tuhan-an yang tidak bisa ditembus, dan menggunakanNya untuk memperluas kekuasaan mereka sendiri.”[4]
Dalam banyak cara, The Da Vinci Code adalah konspirasi teori paling lengkap. Jika penuturan Brown benar, maka kita telah dibohongi oleh — gereja, oleh sejarah, dan oleh Kitab Suci. Mungkin bahkan oleh mereka yang paling kita percayai: orangtua kita atau guru-guru kita. Dan itu semua hanya untuk meraih kekuasaan. 

Meskipun The Da Vinci Code merupakan cerita fiksi, sebagian besar premisnya diambil dari kejadian nyata (Dewan Nicaea), orang-orang nyata (Konstantin dan Arius), dan dokumen nyata (injil Gnostik). Jika kita memasuki dasar dari konspirasi, proyek kita harus meneliti tuduhan Brown dan memisahkan fakta dengan fiksi.
Konstantin Dan Kekristenan
Beberapa ratus tahun sebelum Konstantin berkuasa di Kekaisaran Romawi, orang Kristen mengalami penindasan berat. Tapi kemudian, ketika akan melancarkan perang, Konstantin dilaporkan melihat salib terang di angkasa dengan tulisan “Taklukkan dengan ini.” Dia bertempur dengan tanda salib dan mengambil alih kekuasaan kekaisaran.
Pertobatan Konstantin jadi Kristen terlihat jelas dalam sejarah gereja. Roma jadi kekaisaran Kristen. Untuk pertama kalinya, selama hampir 300 tahun, orang Kristen relatif aman dan bahkan merasa keren untuk jadi Kristen.
Orang Kristen tidak lagi ditindas karena iman mereka. Kemudian Konstantin berusaha menyatukan Kekaisaran Barat dan Timur, yang terpecah karena perbedaan keyakinan, sekte, dan golongan, sebagian besar berpusat pada isu identitas Yesus Kristus.
Ada bagian-bagian yang benar dalam The Da Vinci Code, dan bagian-bagian yang benar ini jadi prasyarat bagi sebuah kesuksesan teori konspirasi apapun. Tapi cerita dalam buku membuat Konstantin jadi tokoh konspirator. Jadi, mari dilihat pertanyaan kunci yang ditujukan kepada teori Brown: apakah Konstantin menciptakan doktrin Kristen tentang Ke-Tuhan-an Yesus?
Ke-Tuhan-An Yesus
Untuk menjawab tuduhan Brown, kita pertama-tama harus menemukan apa yang dipercaya orang Kristen secara umum sebelum Konstantin menyelenggarakan sidang Nicaea.
Orang Kristen telah memuja Yesus sebagai ALLAH sejak abad pertama. Tapi pada abad ke empat, seorang pemimpin gereja dari timur, Arius, melakukan kampanye untuk mempertahankan ke-esa-an ALLAH. Dia mengajarkan Yesus merupakan ciptaan khusus, lebih tinggi dari malaikat, tapi bukan ALLAH. Athanasius dan sebagian besar pemimpin gereja, dipihak lain, yakin bahwa Yesus adalah ALLAH dalam daging.
Konstantin ingin menyelesaikan pertikaian ini, berharap membawa damai di kekaisarannya, menyatukan timur dan barat yang terpecah. Jadi, tahun 325, dia menyelenggarakan konvensi lebih dari 300 uskup di Nicaea (sekarang bagian dari Turki) dari seluruh dunia Kristen. Pertanyaan penting adalah, apakah gereja purba berpikir Yesus adalah Pencipta atay hanyalah ciptaan — Anak ALLAH atau anak seorang tukang kayu? Jadi, apa yang ajarkan oleh para rasul tentang Yesus? Dari catatan paling awal, mereka memandang Dia sebagai ALLAH. Sekitar 30 tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Paulus menulis kepada orang Filipi bahwa Yesus adalah ALLAH dalam bentuk manusia (Filipi 2:6-7). Dan Yohanes, saksi mata yang dekat, mengkonfirmasikan Ke-Tuhan-an Yesus dengan kalimat ini:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan ALLAH dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita. (Yohanes 1: 1-4, 14).
Kalimat ini dari Johanes 1, ditemukan dalam manuskrip kuno dan sudah dihitung dengan tehnik karbon berasal dari tahun 175 – 225. Jadi Yesus dengan sangat jelas diberitakan sebagai Allah lebih dari seratus tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea. Sekarang kita melihat bukti forensik manuskrip bertentangan dengan klaim The Da Vinci Code, yang menyatakan ke-Tuhan-an Yesus diciptakan pada abad ke empat. Tapi apa yang dikatakan sejarah kepada kita mengenai Dewan Nicaea? Brown dalam bukunya, melalui Teabing, menyatakan mayoritas uskup di Nicaea meniadakan kepercayaan Arius bahwa Yesus adalah nabi biasa (manusia biasa) dan mengadopsi doktrin Ke-Tuhan-an Yesus dengan “hasil pemungutan suara (menang) tipis”. Benar atau salah?
Dalam kenyataan hasil pemungutan suara menang mutlak: hanya dua dari 318 uskup yang berbeda pandangan. Arius percaya bahwa hanya Bapa yang Allah, dan Yesus adalah ciptaan terutamaNya, dewan mengambil kesimpulan bahwa Yesus dan Bapa satu hekekat ke-Allah-an.
Bapa, Anak, dan Roh Kudus, berbeda, hadir bersama-sama, berpribadi, tapi tetap Allah yang Esa. Doktrin Allah yang Esa dalam tiga pribadi (Trinitas) dikenal dalam Pengakuan Iman Rasuli Nicene dan jadi pusat utama keimanan Kristen. Sekarang, apakah benar Arius itu mudah mempengaruhi orang lain dan punya pengaruh kuat. Hasil pemungutan suara, yang menang mutlak, dilakukan setelah perdebatan panjang. Tapi pada akhirnya dewan secara mayoritas besar menyatakan Arius bidah (sesat), karena pengajarannya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh para rasul tentang ke-Tuhan-an Yesus.
Sejarah juga mengkonfirmasi Yesus dimuka umum menerima pemujaan para muridnya. Dan, seperti kita telah lihat, Paulus dan para rasul lain dengan jelas mengajarkan Yesus adalah Allah dan pantas menerima pemujaan.
Sejak hari pertama gereja Kristen, Yesus dipandang lebih dari sekedar manusia biasa, dan kebanyakan pengikutnya memuja dia sebagai Tuhan — Pencipta alam semesta. Jadi, bagaimana Konstantin menciptakan doktrin Ke-Tuhan-an Yesus, jika gereja telah memandang Yesus sebagai Allah lebih dari 200 tahun? The Da Vinci Code tidak membahas pertanyaan ini.
Menembak Kanon
The Da Vinci Code juga menyebutkan Konstantin menghancurkan semua dokumen mengenai Yesus selain yang ditemukan pada kanon Perjanjian Baru seperti sekarang (diakui oleh gereja sebagai laporan saksi mata otentik para rasul). Ditambahkan bahwa catatan Perjanjian Baru diubah oleh Konstantin dan para uskup untuk menciptakan Yesus yang baru. Eleman kunci lain konspirasi The Da Vinci Code adalah ke empat Injil dipilih dari total “lebih dari 89 Injil”, kebanyakan dimusnahkan oleh Konstantin.[5]
Ada dua isu sentral disini, dan kita perlu membahas keduanya. Pertama adalah apakah terjadi bias atau ‘asal pilih’ Konstantin atas buku-buku di Perjanjian Baru. Kedua adalah apakah dokumen-dokumen, yang dilarangnya, seharusnya dimasukkan dalam Kitab Suci.
Mengenai isu pertama, surat-surat dan dokumen yang ditulis para pemimpin gereja abad kedua dan juga termasuk aliran (sekte-sekte) sesat mengkonfirmasikan penggunaan buku-buku Perjanjian Baru. Hampir 200 tahun sebelum Konstantin menyelenggarakan konvensi Dewan Nicaea, aliran sesat Marcion mendaftar 11 dari 27 buku Perjanjian Baru sebagai tulisan otentik para rasul.
Pada saat yang hampir bersamaan, aliran sesat lain, Valentinus, memakai secara luar tema dan banyak tulisan dari Perjanjian Baru. Diketahui, kedua aliran sesat ini adalah musuh dari kepemimpinan gereja mula-mula, dan mereka tidak menulis apa yang diinginkan oleh para uskup. Kendati begitu, sama seperti gereja mula-mula, mereka masih tetap memegang referensi yang sama dengan Perjanjian Baru dengan apa yang kita baca sekarang.
Jadi, kalau Perjanjian Baru sudah digunakan secara luas 200 tahun sebelum Konstantin dan Dewan Nicaea, bagaimana kaisar bisa menciptakan atau mengubahnya? Pada saat gereja sudah tersebar luas dan meliputi ratusan, kalau bukan jutaan, orang percaya, dan mereka semua akrab dengan catatan Perjanjian Baru.
Dalam bukunya The Da Vinci Deception (Tipuan Da Vinci), mengenai analisa terhadap buku The Da Vinci Code, Dr. Erwin Lutzer mencatat,
“Konstantin tidak memutuskan buku-buku mana yang masuk dalam kanon; sesungguhnya topik kanon tidak muncul dalam sidang Dewan Nicaea. Pada saat gereja mula-mula membaca sebuah buku-buku kanon maka sudah diputuskan bahwa itu adalah Firman Allah dua ratus tahun sebelumnya.”[6]
Meskipun kanonisasi resmi masih membutuhkan waktu tahunan sebelum difinalisasikan, Perjanjian Baru saat ini sudah ditegaskan otentik lebih dari 200 tahun sebelum Nicaea.
Hal ini membawa kita kepada isu kedua; kenapa injil-injil Gnostik, yang misterius itu, dimusnahkan dan dikeluarkan dari Pernjanjian Baru? Dalam buku itu, Teabing meyakinkan bahwa tulisan-tulisan Gnostik dihapuskan dari 50 Kitab Suci yang ditulis oleh dewan atas perintah Konstantin. Dengan antusias dia berkata kepada Neveu,
“Karena konstantin mengangkat status Yesus empat abad sejak kematian Yesus, ada ribuan dokumen eksis yang menceritakan kehidupanNya sebagai manusia biasa. Untuk menulis ulang buku sejarah, Konstantin tahu dia membutuhkan tindakan besar dan keras. Dari sinilah momen paling penting dalam sejarah KeKristenan. … Konstantin memerintahkan dan membiayai Kitab Suci baru, yang tidak memasukkan injil-injil yang berbicara bahwa Yesus manusia biasa dan mengangkat injil-injil yang membutNya menjadi seperti Allah. Injil-injil awal dilarang, dikumpulkan, dan dibakar.”[7]
Apakah tulisan-tulisan Gnostik ini adalah sejarah Yesus Kristus yang benar? Mari kita lihat lebih dalam agar kita bisa memisahkan antara kebenaran dari fiksi.
Rahasia “Mereka Yang Tahu”
Injil Gnostik dikaitkan dengan sebuah kelompok sebagai (kejutan besar disini) Gnostik. Nama mereka diambil dari kata Yunani gnosis, berarti “pengetahuan”. Mereka adalah orang-orang yang berpikir mereka punya rahasia, pengetahuan khusus yang disembunyikan dari orang biasa.
Dari 52 tulisan, hanya ada 5 yang benar-benar pernah didaftar sebagai injil. Seperti kita lihat, apa yang disebut sebagai injil itu ditandai berbeda dari injil Perjanjian Baru, Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Ketika KeKristenan meluas, Gnostik mencampur sejumlah doktrin dan elemen KeKristenan kedalam kepercayaan mereka, mengubah Gnostikisme jadi KeKristenan palsu. Mungkin mereka melakukan itu untuk menarik pengikut baru lebih banyak dan membuat Yesus sebagai tokoh dari perjuangan mereka. Kemdati begitu, bagi sistim pemikiran mereka agar masuk dalam KeKristenan, Yesus perlu diubah, ditelanjangi dari kemanusianNya dan juga ke-Allah-anNya.
Dalam The Oxford History of Christianity John McManners menulis Gnostik mencampur kepercayaan Kristen dengan mistis.
“Gnostikisme pernah (dan masih) jadi “upaya pencerahan diri” dengan banyak bumbu. Okultisme dan mistik timur bercampur dengan astrologi, sihir. … Mereka mengumpulkan perkataan Yesus dibentuk agar sesuai dengan interpretasi mereka (seperti pada Injil Thomas) dan menawarkan kepercayaan mereka sebagai alternatif atau bentuk pesaing dari KeKristenan.”[8]
Kritik Awal
Bertentangan dengan Brwn, bukanlah Konstantin yang melabelkan kepercayaan Gnostik sebagai sesat; tetapi para rasul sendiri. Aliran filsafat telah mulai tumbuh pada abad pertama, hanya beberapa puluh tahun setelah kematian Yesus. Para rasul, dalam pengajaran dan tulisan mereka, bertutur panjang lebar mengecam kepercayaan ini sebagai bertentangan dengan kebenaran Yesus, dimana mereka adalah saksi mata.
Kita cek, contohnya, apa yang ditulis rasul Yohanes pada akhir abad pertama,
“Siapa pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antiKristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun anak.” (1 Johanes 2:22)
Mengikuti pengajaran para rasul, pemimpin gereja mula-mula secara bulat mengutuk Gnostik sebagai sekte sesat. Bapa gereja Irenaeus, menulis 140 tahun sebelum Dewan Nicaea, mengkonfirmasikan Gnostik dikutuk oleh gereja sebagai sesat. Dia juga menolak “injil” mereka. Namun, dengan referensi Injil Perjanjian Baru, dia mengatakan, “Tidak mungkin Injil lebih atau kurang jumlahnya dari yang sudah ada.”[9]
Teolog Kristen Origen menulis pada awal abad ke tiga, lebih dari seratus tahun sebelum Nicaea,
Saya tahu beberapa injil yang disebut “Injil menurut Thomas” dan “Injil menurut Matthias”, dan banyak lagi yang lain yang sudah kita baca — supaya jangan kita dianggap bodoh karena mereka yang mengkhayal mereka memiliki sejumlah pengetahuan jika mereka memperolehnya dengan itu (Injil Thomas dan Injil Matthias). Walaupun begitu, dari semua yang kita sudah setujui dari apa yang akui gereja, dimana hanya ada empat injil seharusnya diterima.[10]
Itulah kata-kata dari pemimpin terkemuka gereja mula-mula. Gnostik sudah dikenal sebagai sekte non-Kristen jauh sebelum Dewan Nicaea. Tapi masih ada lebih banyak bukti yang bisa dipertanyakan terhadap klaim-klaim The Da Vinci Code.
Siapa Yang Bias Gender?
Brown menyatakan salah satu motif Konstantin melarang tulisan Gnostik adalah keinginan untuk menindas perempuan dalam gereja. Irosnisnya, justru Injil Gnostik Thomas yang merendahkan martabat perempuan. Injil menyimpulkan (katanya mengutip Petrus) dengan pernyataan yang mengagetkan,” Biarkan Maria pergi dari kita, karena perempuan tidak pantas bagi kehidupan.” (114). Kemudian Yesus disebutkan mengatakan kepada Petrus bahwa dia akan mengubah Maria jadi laki-laki sehingga dia bisa memasuki kerajaan surga. Baca: perempuan lebih rendah. Dengan sentimen seperti itu diperlihatkan, sangat sukar untuk meyakinkan bahwa tulisan Gnostik sebagai dasar dari perjuangan pembebasan perempuan.
Dengan kontras yang jelas, Yesus di Injil (Kitab Suci) selalu memperlakukan perempuan dengan menjujung harga dirinya dan hormat. Ayat revolusioner seperti ini ditemukan dalam Perjanjian Baru dan jadi dasar dari upaya peningkatan status perempuan:
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba, atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28).
Penulis Misterius
Ketika membahas injil Gnostik, sama seperti setiap buku yang menyandang nama karakter Perjanjian Baru, Injil Filipus, Injil Petrus, Injil Maria, Injil Yudas, dan seterusnya. (Terdengar seperti kumpulan panggilan dengan pemikiran sempit) Ini adalah kuku-buku dimana teori konspirasi seperti The Da Vinci Code mendasarkan dirinya. Tapi apakah mereka pernah menuliskan siapa penulisnya?
Injil Gnostik ditulis sekitar 110 – 300 tahun setelah Kristus, dan tidak ada ahli yang kredibel percaya ada salah satu buku yang menuliskan penulisnya. Dalam buku, yang membahas secara menyeluruh, James M. Robinson, berjudul The Nag Hammadi Library, kita pelajari injil Gnostik ditulis oleh “penulis anonim dan tidak saling berhubungan.”[12] Dr. Darrell L. Bock, pengajar studi Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, menulis,
“Material, yang banyak ini, adalah generasi-generasi yang keluar dari dasar-dasar iman Kristen, ini poin vital untuk diingat ketika meneliti isinya.”[13]
Ahli Perjanjian Baru Norman Geisler berkomentar atas dua tulisan Gnostik, Injil Petrus dan Perbuatan Yohanes (Tulisan Gnostik ini tidak terkait dengan buku-buku Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yohanes dan Petrus);
“Tulisan Gnostik tidak ditulis oleh para rasul, tapi oleh orang pada abad ke dua (dan setelahnya) seakan-akan menggunakan otoritas kerasulan untuk mengajukan pengajaran mereka sendiri. Hari ini, kita menyebutnya sebagai penipuan dan penjiplakkan.”[14]
Injil Gnostik bukanlah catatan historis kehidupan Yesus tapi sebagian besar berisi mistis, diselimuti misteri, tidak mengindahkan detil historis seperti nama-nama, tempat, dan peristiwa. Ini sangat kontras dengan Injil Perjanjian Baru, yang berisi banyak sekali fakta historis tentang kehidupan Yesus, pelayananNya, dan firmanNya.
Nyonya Yesus
Bagian paling menarik dari konspirasi Da Vinci adalah pernyataan bahwa Yesus dan Maria Magdalena diam-diam menikah dan punya anak, yang menurunkan keturunan. Karena itu, rahim Maria Magdalena, yang ada anak Yesus, digambarkan di buku sebagai ‘Holy Grail’, rahasia yang dijaga sangat ketat oleh organisasi Katolik dengan nama ‘Priory of Sion’. Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci disebutkan sebagai anggotanya.
Romantika. Skandal. Intrik. Bahan sangat bagus bagi teori konspirasi. Tapi apa benar? Lihat apa yang dikatakan para pakar.
Artikel di majalah Newsweek menyimpulkan pendapat para ahli, teori Yesus dan Maria Magdalena menikah diam-diam tidak punya dasar sejarah.[15] Cerita yand disodorkan The Da Vinci Code dibangun hanya berdasarkan satu ayat di Injil Filipus yang mengindikasikan Yesus dan Maria Magdalena ‘berteman’. Dalam buku, Teabing membangun kasus dengan argumen kata ‘berteman’ (koinonos) bisa berarti ‘pasangan’. Tapi teori Teabing tidak diterima oleh para ahli.
Juga ada satu ayat di Injil Filipus yang menyatakan Yesus mencium Maria. Menyambut teman dengan ciuman sudah biasa dilakukan di abad pertama, dan tidak punya konotasi seksual. Tapi meski interpretasi The Da Vinci Code benar, tidak ada dokumen historis yang mengkonfirmasi teori itu. Juga karena Injil Filipus ditulis sekitar 150 – 220 tahun setelah Yesus oleh penulis tak diketahui, pernyataannya mengenai Yesus tidak bisa diandalkan secara historis.
Mungkin Gnostik (para penganut Gnostik) merasa Perjanjian Baru sedikit malu-malu mengungkapkan romatika dan memutuskan menambahkan bumbu itu sedikit. Apapun alasannya, ayat yang terisolasi dan tidak jelas ini, ditulis dua abad setelah Yesus dan tidak kuat untuk dijadikan dasar sebuah teori konspirasi. Menarik di baca, mungkin, tapi jelas bukan sejarah. 

Bagaimana tentang ‘Holy Grail dan the Priory of Sion’, tulisan fiksi Brown kembali mendistorsi sejarah. Legenda ‘Holy Grail’ diperkirakan adalah gelas Yesus pada saat makan malam terakhir (malam sebelum penyaliban) dan tidak ada kaitan apapun dengan Maria Magdalena. Dan Leonardo da Vinci tidak pernah tahu tentang ‘Priory of Sion’, karena organisasi ini belum dibentuk sampai tahun 1956, 437 tahun setelah kematiannya. Kembali, fiksi menarik, tapi kebohongan sejarah.
Dokumen Rahasia
Tapi bagaimana dengan pengungkapan Teabing bahwa ada “ribuan dokumen rahasia” yang membuktikan KeKristenan itu kebohongan. Apakah ini benar?
Jika ada dokumen-dokumen seperti itu, para ahli penentang KeKristenan akan langsung melahapnya. Tulisan-tulisan pemalsuan yang ditolak oleh gereja mula-mula karena pandangan sesatnya bukanlah rahasia, sudah dikenal selama lebih dari satu abad. Tidak ada kejutan disini. Mereka tidak pernah dipertimbangkan sebagai bagian tulisan otentik para rasul.
Dan jika Brown (Teabing) mengambil referensi catatan-catatan yang tidak jelas asalnya atau injil-injil yang belum jadi, hal ini akan membuat cerita jadi hambar. Tulisan-tulisan ini bukan rahasia, apalagi tulisan itu tidak menentang KeKristenan. Ahli Perjanjian Baru Raymond Brown mengatakan Injil Gnostik,
“Kami pelajari tidak ada fakta baru, yang bisa diverifikasi, tentang sejarah pelayanan Yesus, dan hanya ada beberapa pernyataan yang mungkin berasal dari Yesus.”[17]
Tidak seperti injil-injil Gnostik, yang penulisnya tidak dikenal dan bukan saksi mata, Perjanjian Baru, yang kita miliki sekarang, telah melewati banyak ujian ke-otentik-an. (Klik untuk membaca Jesus.doc) Kontras sangat mengejutkan bagi mereka yang mendesakkan teori-teori konspirasi. Sejarahwan Perjanjian Baru F. F. Bruce menulis :
“Tidak ada literatus kuno di dunia yang memiliki kekayaan teksual, dalam kondisi baik, seperti Perjanjian Baru.”[18]
Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger mengungkapkan kenapa Injil Thomas tidak diterima oleh gereja mula-mula:
“Tidak benar untuk menyatakan Injil Thomas dikeluarkan oleh sebagian dewan: hal benar untuk melihatnya, Injil Thomas itu sendiri mengeluarkan dirinya sendiri! Injil tidak mempunyai harmoni dengan testimoni lain tentang Yesus sehingga orang Kristen mula-mula menerimanya untuk bisa dipercaya.”[19]
Putusan Sejarah
Jadi, apa yang kita simpulkan berkaitan dengan berbagai teori konspirasi mengenai Yesus Kristus? Karen King, dosen sejarah di Harvard, telah menulis beberapa buku mengenai injil Gnostik, termasuk Injil Maria Magdalena dan Apa itu Gnostikisme? King, meskipun dia membela dengan keras pengajaran Gnostik, menyimpulkan, “Pernyataan-pernyataan mengenai teori konspirasi — semuanya adalah ide-ide marginal saja dan tidak punya dasar sejarah.”
Meski tidak ada bukti sejarah, teori konspirasi terus menjual jutaan buku dan membuat rekor ‘box office’. Para ahli dibidang yang berkaitan, sejumlah orang Kristen dan mereka yang tidak punya keimanan, telah mempertanyakan klaim ‘The Da Vinci Code’. Namun, mereka yang mudah terombang-ambing tetap merenung, apa ada sesuatu di sana?
Wartawan televisi, yang mendapat beberapa penghargaan, Frank Sesno, bertanya kepada panel para ahli sejarah mengenai ketertarikan orang dengan teori-teori konspirasi. Professor Stanley Kutler dari University of Wisconsin menjawab, “Kita suka sekali misteri— tapi yang lebih kita sukai adalah konspirasi.”[20]
Jadi jika anda ingin membaca teori konspirasi,yang sangat menarik, tentang Yesus, novel Dan Brown, The Da Vinci Code, mungkin akan memuaskan anda. Tapi kalau anda ingin membaca catatan yang sejati tentang Yesus Kristus, maka Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes akan membawa anda kepada apa yang dilihat, didengar, dan ditulis para saksi mata. Siapa yang anda lebih percayai ?
Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?
Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.
Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.
Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?
Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?
Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca dan mulai menjawab “Kenapa Yesus?”
Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?
“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia.


IDENTITAS KELAHIRAN:

Apakah Yesus Kristus benar-benar ada, atau apakah KeKristenan dibangun berdasarkan legenda saja. Beberapa pakar mempertanyakan keberadaan Yesus, namun cukup banyak musuh KeKristenan mencoba membuktikan Yesus tidak pernah ada.

Dalam sebuah tuntutan hukum terhadap Vatikan, Gereja dituduh menciptakan kisah keberadaan Yesus. Kasus diajukan ke pengadilan oleh Luigi Casciolli, Februari 2006, namun kasus ditolak dan ditutup oleh pengadilan. 

Argumen menentang keberadaan Yesus disiarkan ke publik oleh jaringan televisi CNN, ketika Ketua Ateis Amerika Ellen Johnson menyatakan,

“Kenyataannya tidak ada sedikitpun bukti dari sumber sekuler bahwa Yesus Kristus itu ada.” Yesus Kristus dan KeKristenan adalah agama modern. Dan Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain: Osiris, Mithras, yang punya kesamaan asal-usul, kesamaan kematian seperti mitos Yesus Kristus,” – ateis Ellen Johnson.

Johnson dan panel para pemimpin religius pita-biru mendiskusikan pertanyaan, “Apa yang terjadi setelah kita meninggal dunia”, dalam acara televisi Larry King di CNN. King yang biasanya lancar berbicara sempat terdiam, merenung, dan kemudian mengatakan, “Jadi anda tidak percaya keberadaan Yesus Kristus?” 

Dengan nada yakin, Johnson menjawab,”Tidak pernah ada. Ini bukan apa yang saya percaya; tidak ada bukti sekuler bahwa JC, Yesus Kristus, pernah ada (hidup).” 

King tidak meneruskan diskusi dan langsung masuk iklan. Setelah itu, tidak ada diskusi mengenai bukti mendukung atau menentang keberadaan Yesus. Pemirsa televisi internasional itu dibiarkan terheran-heran.[1]

Lima puluh tahun lalu, dalam bukunya, Kenapa Saya Bukan orang Kristen, penganut ateis Bertrand Russell mengagetkan generasinya dengan mempertanyaan eksistensi Yesus. Dia menulis, “Dari sudut pandang sejarah cukup diragukan apakah Yesus Kristus benar-benar ada, dan jika dia ada kita tidak mengetahui apapun mengenaiNya, jadi saya tidak begitu mempedulikan pertanyaan historis itu, yang sangat sukar.”[2]

Apa ada kemungkinan Yesus yang dipercaya begitu banyak orang pernah hidup ternyata tidak pernah ada?Dalam Kisah Peradaban, sejarahwan sekuler Will Durant mengungkapkan pertanyaan ini,” Apa Yesus ada (pernah hidup/eksis)?” Apakah cerita-cerita dari para pendiri KeKristenan adalah produk dari kepedihan, imajinasi, dan harapan manusia — mitor yang bisa disejajarkan dengan legenda Krishna, Osiris, Attis, Adonis, Dionysus, dan Mithras?”[3]  Durant memperlihatkan bagaimana kisah KeKristenan, “Dicurigai banyak kemiripan dengan legenda-legenda dewa-dewa (tuhan-tuhan pagan).”[4] Dalam artikel ini, kita akan lihat bagaimana sejarahwan besar ini menjawab pertanyaannya sendiri mengenai eksistensi Yesus.

Jadi, bagaimana kita tahu dengan meyakinkan bahwa orang ini, yang dipuja orang dan dikutuki orang lain, nyata adanya? Apakah Johnson benar, ketika dia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penggabungan dari tuhan-tuhan lain?” Dan Russell benar ketika dia menyatakan keberadaan Yesus ” cukup diragukan”?

Mitos Vs Realitas

Mari kita mulai dengan pertanyaan yang lebih fundamental: apa yang membedakan mitos dengan realitas atau kenyataan? Bagaimana caranya kita tahu, contohnya, apakah Alexander Agung benar-benar ada? Andaikata, tahun 336 SM, Alexander Agung jadi raja Makedonia pada usia 20 tahun. Seorang jenius militer, pemimpin tampan dan sombong ini melakukan pembantaian dari desa ke desa, kota ke kota, dan diseluruh kerajaan-kerajaan Yunani – Persia sehingga dia menguasai semuanya. Dalam waktu singkat, hanya delapan tahun, pasukan Alexander menempuh perjalanan penaklukan sejauh 22.000 mil. 

Dikabarkan, Alexander menangis ketika tidak ada lagi wilayah yang akan ditaklukkannya. (Saya merasa, inilah orang yang saya tidak ingin mengajaknya main monopoli.) 

Sebelum dia meninggal diusia 32, dikabarkan Alexander pencapaian militernya lebih besar dari penaklukan militer siapapun sepanjang sejarah, bukan hanya para raja yang hidup sebelumnya, tapi juga mereka yang lahir sesudahnya, sepanjang sejarah kita. Tapi hari ini, selain beberapa kota yang diberi nama Alexandria, film membosankan yang dibuat Oliver Stone, dan beberapa buku, warisannya sudah lama dilupakan. Pada kenyataannya, nama Colin Farrell lebih mampu membuat film sangat laku (box office) daripada nama Alexander. 

Meski film itu gagal, para sejarahwan percaya Alexander ada karena tiga alasan utama:

  • dokumentasi tertulis dari sejarahwan terdahulu
  • dampak sejarah
  • bukti-bukti sejarah lainnya dan bukti arkeologi

Dokumen Sejarah Tentang Yesus

Sejarah Alexander Agung dan penaklukan militernya diperoleh dari lima sumber kuno, yang semuanya bukan saksi mata. Kendati ditulis 400 tahun setelah Alexander, tulisan Plutarch berjudul Kehidupan Alexandermerupakan catatan utama kehidupannya.

Karena Plutarch dan para penulis lain terpisah beberapa ratus tahun dari saat kehidupan Alexander, maka mereka mendasarkan informasinya dari informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya. Dari dua puluh catatan sejarah Alexander, tidak satupun ada sampai sekarang (sudah musnah). Catatan yang lebih kemudian memang ada, tapi tiap kisah memperlihatkan “Alexander” yang berbeda, yang kebanyakan bergantung pada imajinasi kita. Namun meski dengan perbedaan waktu beberapa ratus tahun, para sejarahwan yakin bahwa Alexander merupakan manusia nyata dan detil-detil utamanya, seperti yang kita baca mengenai kehidupannya benar.

Melihat Alexander sebagai titik referensi, kita catat apa yang dikatakan sejarahwan religius dan sekuler mengenai Yesus. Tapi kita harus bertanya, apakah sejarah yang mereka tuliskan itu bisa diandalkan dan obyektif? Mari kita lihat sekilas.

Perjanjian Baru

Ke 27 buku Perjanjian Baru diklaim ditulis oleh penulis yang tahu secara langsung denga Yesus atau menerima informasi dari mereka, yang kenal langsung. Empat Injil menceritakan kehidupan dan pengajaran Yesus dari perspektif berbeda. Tulisan-tulisan ini diteliti dengan sangat ketat oleh para ahli dari dalam KeKristenan dan dari luar.

Pakar John Dominic Crossan percaya hanya kurang dari 20 persen dari apa yang kita baca di Injil secara orsinil berasal dari perkataan Yesus. Kendati ini pandangan skeptis, tidak dipersoalkan mengenai Yesus benar-benar pernah hidup.

Kendati ada pandangan Crossan, dan beberapa ahli lain sepertinya, konsensus sebagian besar sejarahwan adalah catatan Injil memberi kita gambaran jelas mengenai Yesus Kristus. Mengenai apakah catatan Injil itu benar, ada artikel tersendiri (Lihat “Yesus.doc”), jadi, kita akan melihat sumber-sumber non-Kristen untuk menjawab pertanyaan kita mengenai apakah Yesus ada (eksis).

Catatan Awal Non-Kristen

Jadi, sejarahwan abad pertama mana yang menulis mengenai Yesus tapi tidak punya agenda KeKristenan? Pertama-tama, mari kita lihat musuh-musuh Yesus.

Orang Yahudi, yang memusuhiNya, punya keuntungan terbesar dengan cara meniadakan keberadaan Yesus. Tapi bukti memperlihatkan arah sebaliknya. “Beberapa tulisan Yahudi menceritakan kehidupan nyata manusia Yesus. Dua buku Gemara dari Talmud Yahudi mencatat Yesus. Kendati hanya disinggung sedikit, beberapa kalimat yand dimaksudkan untuk menentang KeTuhanan Yesus, tulisan sangat awal Yahudi ini tidak memulai argumennya dengan pernyataan bahwa Dia bukan orang yang pernah hidup (bukan tokoh sejarah)[5]

Flavius Josephus adalah sejarahwan terkemuka Yahudi yang mulai menulis pada jaman Romawi di tahun 67. Josephus, yang lahir hanya beberapa tahun setelah Yesus meninggal, tentu sangat tahu reputasi Yesus dimata orang Yahudi dan Romawi. Dalam tulisan terkenalnya, Jaman Kuno Yahudi (a.d. 93), Josephus menulis Yesus sebagai manusia nyata. ” Pada masa kehidupan Yesus, seorang yang suci, mungkin seperti itu Dia dipanggil, karena Dia melakukan hal-hal luar biasa, dan mengajar orang-orang, dan dengan gembira menerima kebenaran“. Dan Dia dipercayai oleh banyak orang Yahudi dan Yunani. Dia adalah Mesias.”[6] Kendati ada perdebatan mengenai beberapa kata dari catatannya, terutama berkaitan dengan Yesus sebagai Mesias (para ahli yang skeptis berpikir bahwa orang Kristen menyidipkan kalimat ini), bisa dipastikan Josephus mengkonfirmasikan keberadaan (eksistensi) dari Yesus.

Bagaimana dengan sejarahwan sekuler — mereka yang hidup di jaman itu tapi tidak punya motivasi relegius? Saat ini, ada konfirmasi sedikitnya 19 penulis sekuler yang mencatat Yesus sebagai manusia nyata.[7]

Salah satu sejarahwan terkemuka , Cornelius Tacitus, menegaskan bahwa Yesus telah menderita dibawah (pemerintahan Pontius) Pilatus. Tacitus lahir 25 tahun setelah Yesus wafat, dan dia melihat bagaimana penyebaran KeKristenan mulai memberi dampak terhadap Roma. Sejarahwan Romawi menulis secara negatif mengenai Yesus dan orang Kristen, mengidentifikasi mereka, ditahun 115, sebagai ” ras manusia yang tidak disukai karena perilaku jahatnya, dan secara umum disebut Kristiani”. Nama itu diambil dari Kristus, yang pada pemerintahan Tiberius, menderita dibawah Pontius Pilatus, Penguasa Yudea.”[8]

  • Fakta-Fakta Mengenai Yesus Dibawah Ini Ditulis Oleh Sumber-Sumber Non-Kristen:
  • Yesus dari Nazareth.
  • Yesus hidup secara bijak dan saleh/suci.
  • Yesus disalibkan di Palestina dibawah pemerintahan Pontius Pilatus pada saat Tiberius jadi kaisar ketika Paskah dan disebut sebagai Raja Orang Yahudi.
  • Yesus dipercaya oleh para muridNya telah mati dan bangkit dari kubur tiga hari kemudian.
  • Para musuh Yesus mengakui Dia melakukan tindakan tidak-biasa (mujizat) , yang mereka sebut sebagai sihir.
  • Kelompok kecil murid Yesus berlipat ganda dengan cepat, meluas sampai mencapai Roma.
  • Para murid Yesus menolak politeisme, hidup bermoral (suci), dan memuja Yesus sebagai ALLAH.

Ahli teologi Norman Geisler mencatat :

“ Penggambaran ini sangat cocok dengan apa yang ada di Perjanjian Baru.”[9]

Semua di atas adalah catatan independen, religius dan sekuler, membicarakan manusia nyata yang cocok dengan Yesus di Injil. Ensiklopedia Britannica mencatat sejumlah tulisan sekuler sebagai bukti yang meyakinkan bahwa Yesus itu ada (eksis). Dituliskan,

“Catatan-catatan independen ini membuktikan bahwa di jaman purba, bahkan oleh para musuh KeKristenan tidak ragu akan Yesus sebagai tokoh sejarah (ada atau nyata)”.[10]

Dampak Historis

Perbedaan penting antara sebuah mitos dan manusia nyata adalah bagaimana tokoh itu memberi dampak historis. Contohnya, buku-buku telah ditulis dan film-film juga telah dibuat mengenai Raja Arthur dari Camelot dan Ksatria Meja Bundarnya. Karakter-karakter ini telah begitu melekat sehingga banyak orang percaya mereka pernah ada di jaman itu. Namun para sejarahwan, yang mencari tanda-tanda kehidupan mereka, tidak bisa menemukan dampak apapun dalam hukum, etika, atau agama. Sebuah kerajaan besar seperti Camelot tentunya akan meninggalkan jejaknya pada sejarah masa kini. Ketidak-beradaan dampak historis ini mengindikasikan Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar hanyalah mitos saja.

Sejarahwan Thomas Carlyle mengatakan, ” Tidak ada orang besar yang hidup sia-sia. Sejarah dunia adalah biografi orang besar.”[11]  Seperti dicatat Carlyle, hanya orang yang benar-benar ada atau nyata, bukan mitor, yang memberi dampak pada sejarah.

Sebagai orang yang pernah ada atau hidup, Alexander memberi dampak sejarah oleh penaklukan militernya, merubah negara-negara, pemerintahan, dan hukum. Tapi apa dampak Yesus Kristus terhadap dunia kita?

Pemerintahan Israel dan Romawi di abad pertama sebagian besar tidak tersentuh oleh kehidupan Yesus. Warga biasa Kekaisaran Romawi tidak tahu Dia ada sampai bertahun-tahun kemudian setelah kematianNya, budaya Romawi juga sebagian besar tidak terpengaruh oleh ajarannya selama puluhan tahun, dan diperlukan beberapa ratus tahun sebelum pembunuhan orang Kristen di arena (Coliseum) jadi rekreasi nasional. Selain itu, dunia hanya tahu sedikit atau tidak sama sekali mengenai Dia. Yesus tidak pernah jadi panglima sebuah bala tentara. Dia tidak menulis buku atau mengubah hukum apapun. Para pemimpin Yahudi berharap menghapus ingatan mengenaiNya, dan tampaknya mereka akan berhasil.

Namun, sekarang, Romawi kuno tinggal reruntuhan. Pasukan Kaisar dan kekuasaan imperial Romawi sudah lenyap. Bagaimana Yesus dikenang sekarang ini? Apakah dia masih punya pengaruh?

  • Lebih banyak buku ditulis mengenai Yesus dibandingkan dengan tokoh lain dalam sejarah.
  • Banyak negara menggunakan kata-katanya sebagai dasar bangunan pemerintahan. Menurut Durant, “Kebesaran Kristus adalah dimulainya demokrasi.”[12]
  • Khotbah dibukitnya telah membentuk paradigma baru dalam etika dan moral.
  • Sekolah-sekolah, rumah sakit, dan upaya kemanusiaan lain telah dibangun berdasarkan namaNya. Universitas Harvard, Yale, Princeton, dan Oxford adalah beberapa universitas dimana orang Kristen perlu diberi ucapan terima kasih karena sudah memulainya.
  • Peningkatan peran perempuan di budaya Barat akar jejaknya bisa diusut sampai kepada Yesus. (Perempuan di jaman Yesus dipandang inferior dan tidak dilihat sebagai orang sepenuhnya sampai pengajaranNya diikuti)
  • Perbudakan dihapuskan di Inggris dan Amerika juga karena pengajaran Yesus bahwa hidup manusia itu berharga.
  • Mereka yang pernah mengalami ketergantungan pada obat, alkohol, pelacur, dan yang lainnya mencari tujuan hidup dan mengklaim Dia sebagai penjelasan perubahan hidup mereka.
  • Dua miliar manusia menyebut diri mereka Kristen. Sementara sebagian orang Kristen hanya tinggal nama saja, tapi bagi yang lain terus memberi dampak terhadap budaya kita dengan mengajarkan prinsip-prinsip Yesus bahwa hidup itu berharga dan kita harus saling mengasihi.

Yang paling menakjubkan, Yesus memberi semua dampak ini hanya dengan melakukan pelayananNya selama tiga tahun. Jika Yesus tidak ada (hidup nyata), orang akan heran bagaimana sebuah mitos mampu begitu besar mempengaruhi sejarah. Ketika sejarahwan H.G. Wells ditanya siapa yang meninggalkan warisan terbesar terhadap sejarah, dia menjawab,”Dengan tes ini Yesus berada pada tempat pertama.”[13]

Bukti-bukti terdokumentasi dan dampak historis menegaskan pada fakta bahwa Yesus itu ada (nyata). Jika Yesus benar-benar ada, kita juga bisa mengharapkan menemukan jejak kaki secara rinci dalam sejarah. Mitos tidak meninggalkan konfirmasi detil-detil semacam itu.

Salah satu kunci bagi Durant dan para ahli lain adalah faktor waktu. Mitos dan legenda biasanya berkembang selama ratusan tahun — cerita George Washington tidak pernah bohong kemunkinan tidak benar, sampai 200 tahun kemudian berubah jadi legenda. Berita mengenai KeKristenan, disisi lain, meluas terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai mitos atau legenda. Jika Yesus tidak pernah ada (nyata), mereka yang menentang KeKristenan akan langung menyebutNya sebagai mitos sejak semula. Tapi mereka tidak melakukannya.

Bukti-bukti itu, bersama dengan catatan awal dan dampak historis Yesus Kristus, meyakinkan sejarahwan skeptis bahwa pendiri KeKristenan itu bukan mitos atau legenda. Tapi ada juga pakar-pakar tentang mitos tidak yakin.

Seperti Muggeridge, pakar dari Oxford, CS Lewis, sejak semula yakin Yesus tidak lebih dari sebuah mitos. Lewis pernah menyatakan, “Semua agama, karena itu, semua mitologi …. hanyalah ciptaan manusia — Kristus sama saja dengan Loki.”[14] (Loki adalah dewa kuno Norwegia. Seperti Thor, tapi tanpa rambut kepangnya.)

Sepuluh tahun setelah menyatakan Yesus sebagai mitos, Lewis menemukan rincian sejarah, termasuk dokumen-dokumen dari para saksi mata, telah membuktikan keberadaanNya.

Yesus Kristus memberi keluasan dampak sejarah seperti gempa besar. Dan gempa bumi ini telah meninggalkan jejak lebih luas daripada Grand Canyon. Jejak ini berupa bukti-bukti yang meyakinkan para ahli bahwa Yesus benar-benar ada dan benar-benar memberi dampak pada dunia kita sejak 2.000 tahun lalu.

Salah satu orang yang skeptis, yang berpendapat Yesus hanyalah mitos, adalah wartawan Inggris Malcolm Muggeridge. Namun dalam salah satu penugasannya ke Israel, Muggeridge berhadapan dengan bukti-bukti akan Yesus Kristus yang dia tidak tahu bukti itu ada. Ketika dia memeriksa tempat-tempat bersejarah — tempat kelahiran Yesus, Nazareth, tempat penyaliban, dan kubur yang kosong — perasaan keberadaan Yesus mulai muncul. 

Belakangan dia menyatakan,

“Satu ketika saya ada di Tanah Suci untuk membuat tiga program televisi BBC. mengenai Perjanjian Baru yang …. secara pasti menarik saya tentang kelahiran Yesus, pelayanNya, dan penyalibanNya. …saya jadi sadar bahwa pernah ada seseorang, Yesus, yang juga ALLAH.”[15]

Beberapa pakar Jerman, yang sangat kritis, pada abad 18 dan 19 juga telah mempertanyakan eksistensi Yesus, menyebutkan bahwa tokoh kunci seperti Pontius Pilatus dan Imam Kepala Yosep Kayafas di catatan Injil tidak pernah dikonfirmasikan sebagai manusia nyata. Tidak ada jawaban sampai pertengahan abad 20.

Tahun 1962, para arkeologi mengkonfirmasikan eksistensi Pilatus ketika mereka menemukan namanya ada dalam sebuah prasasti batu, yang ditemukan. Hampir sama, keberadaan Kayafas tidak pasti sampai tahun 1990, ketika sebuah kotak berisi tulang-belulang ditemukan dengan namanya ada dikotak itu. Para arkeolog juga menemukan apa yang mereka percaya sebagai rumah Simon Petrus dan gua dimana Yohanes Pembabtis membaptis. 

Akhirnya, mungkin bukti sejarah paling meyakinkan akan keberadaan Yesus adalah pertumbuhan cepat KeKristenan. Bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa Kristus? Bagaimana sekelompok nelayan dan pekerja lainnya menciptakan Yesus dalam beberapa tahun saja? Durant menjawab pertanyaan awal yang berasal darinya — apakah Yesus ada? — dengan kesimpulan ini:

Beberapa orang sederhana itu jika saja mampu dalam satu generasi menciptakan satu pribadi yang sangat kuat dan menarik, mulia dalam etika, dan sangat inspiratif terhadap visi persaudaraan manusia, akan merupakan mujizat yang jauh lebih besar dari yang tercatat di Injil. Setelah dua abad kritikan keras akan kehidupan, karakter, dan pengajaran Kristus, tetap saja jelas dan menjadi bahan paling menarik dalam sejarah manusia Barat.

Putusan Para Ahli

Clifford Herschel Moore, dosen di Universitas Harvard, mempertegas kesejarahan Yesus, “KeKristenan mengetahui Penyelamat dan Pengampun tidak seperti tuhan-tuhan lain yang sejarahnya terkontiminasi keimanan mitos. …Yesus adalah manusia historis bukan karakter mitos. Tidak ada sedikitpun atau ada penipuan mitos yang masuk dengan sendirinya kepada orang percaya Kristen, imannya didasarkan secara positif, historis, dan fakta-fakta yang bisa diterima. ”[16]

Beberapa, jika ada, sejarahwan yang serius setuju dengan pernyataan Ellen Johnson dan Bertrand Russell bahwa Yesus tidak nyata (ada). Dokumentasi luas mengenai kehidupan Yesus yang ditulis oleh para penulis masa kini, dampak besar pada sejarah, dan konfirmasi tak terbantahkan bukti sejarah telah membuat para ahli mengakui Yesus benar-benar ada (nyata).

Mampukan mitos melakukan itu semua? Semua, kecuali beberapa pakar yang amat sangat skeptis menyatakan tidak. 

Dr. Michael Grant of Cambridge menulis, “Untuk menyimpulkannya, metode kritis modern telah gagal mendukung teori Yesus adalah mitos. Sudah berkali-kali dijawab kembali dan dituntaskan oleh pakar terkemuka. Dalam tahun-tahun terakhir ini tidak ada seorang ahli yang melontarkan pernyataan bahwa Yesus bukan tokoh historis (nyata).”[17]

Sejarahwan Yale, Jaroslav Pelikan, mengatakan, “Apapun yang mungkin dipikirkan seseorang atau percaya mengenai Dia, Yesus dari Nazareth telah menjadi tokoh dominan dalam sejarah budaya Barat hampir selama dua puluh abad. … mulai dari kelahirannya, dimana sebagian besar manusia menandai kalendernya, atas namaNya jutaan orang mengutuki dan jutaan lainnya berdoa.”[18]

Refrensi :

1. Ellen Johnson and Larry King, “What Happens After We Die?” Larry King Live, CNN, April 14, 2005.

2. Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian (New York: Simon & Schuster, 1957), 16.

3. Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 553.

4. Ibid., 557.

5. D. James Kennedy, Skeptics Answered (Sisters, OR: Multnomah, 1997), 76.

6. The Gemaras are early rabbinical commentaries of the Jewish Talmud, a body of theological writings, dated a.d. 200–500.6 Quoted in Durant, 554.

7. Quoted in D. James Kennedy, Skeptics Answered, (Sisters Oregon: Multnomah Publishers Inc., 1997), 73.

8. Quoted in Durant, 281.

9. Norman Geisler and Peter Bocchino, Unshakable Foundations (Grand Rapids, MI: Bethany House, 2001), 269.

10. Quoted in Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict, vol. 1 (Nashville: Nelson, 1979), 87.

11. Quoted in Christopher Lee, This Sceptered Isle, 55 B.C.–1901 (London: Penguin, 1997), 1.

12. Will Durant, The Story of Philosophy (New York: Pocket, 1961), 428.

13. Quoted in Bernard Ramm, Protestant Christian Evidences (Chicago: Moody Press, 1957), 163.

14. Malcolm Muggeridge, Jesus Rediscovered (Bungay, Suffolk, U.K.: Fontana, 1969), 8.

15. David C. Downing, The Most Reluctant Convert (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2002), 57.

16. Quoted in McDowell, 193.

17. Michael Grant, Jesus (London: Rigel, 2004), 200.

18. Jaroslav Pelikan, Jesus through the Centuries (New York: Harper & Row, 1987), 1

Permission to reproduce this article: Publisher grants permission to reproduce this material without written approval, but only in its entirety and only for non-profit use. No part of this material may be altered or used out of context without publisher’s written permission.

Printed copies of Y-Origins and Y-Jesus magazine may be ordered at: www.JesusOnline.com/product_page


Berdasarkan matthew 10:34 Jesus tidak membawa damai.

10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (machaira).

Ket : 3162 macaira probably feminine of a presumed derivative of mach – mache 3163; a knife, i.e. dirk; figuratively, war, judicial punishment:–sword. ìá÷áéñá (218) a large knife or dagger, short sword. Machaira, adalah senjata yang canggih pada saat itu alias alat pembunuh yang mematikan http://www.aurorahistoryboutique.com/A000045.htm (padanan di Indonesia: clurit), jadi machaira pada ayat itu konotasinya apa?. Pengertian machaira menurut PB dan PL adalah sama : senjata, alias alat pembunuh. Untuk memotong telinga Matt 26:51 machairan, noun, singular. Bisa dibeli Luke 22:38 machairai, noun, plural.

Yahweh sendiri punya machaira (bacalah septuagint)

Exo 22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang (machaira), sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Deut 32:41 apabila Aku mengasah pedang-Ku (machairan mou) yang berkilat-kilat, dan tangan-Ku memegang penghukuman, dst…

Deut 32:42 Aku akan memabukkan anak panah-Ku dengan darah, dan pedang-Ku(machairan mou) akan memakan daging:…dst

Silahkan pembaca check sendiri apa arti “machaira” pada ayat bible lainnya.

Digunakan untuk siapa “machaira” (senjata) itu?

Matt 10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,

Matt 10:36 dan musuh (echtroi) orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Apa yang dipisahkan dengan “machaira”, orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya?, Machaira adalah senjata, digunakan untuk memisahkan ruh dan jasad mereka alias membunuh, sehingga mereka benar-benar terpisah oleh kematian. Tindakan apa yang harus dilakukan terhadap musuh dengan “machaira” ditangan? Apa ayat itu tidak berkonotasi untuk membunuh anggota keluarga sendiri?

Realisasi Matt 10:34, pengikut Jesus diperintah membeli machaira (anda sudah membeli atau belum?)

Luke 22:36 Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang (machaira).

Luke 22:49 Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang

Peter memakai machaira Matt 26:51

Saya punya contoh applikasi Matt 10:34. Saya mau sedikit cerita tentang ajaran kasih Jesus. Kembali ketahun 1994 di Rwanda negeri itu adalah negeri yang paling Christian di benua Africa, buah success evangelical missionary (http://www.britannica.com/eb/article-40763/Rwanda ), tapi ditahun itu tanpa ada pihak luar yang mengadu domba dua suku Hutu dan Tutsi saling bantai tidak pandang bulu termasuk para tokoh/pemuka agama juga terlibat/ gereja (Rwanda Christian Churches and Genocide in Rwanda my research indicates that religion was nevertheless an essential element in the Rwandan genocide. Timothy Longman Vassar College

Christian_Church_Genocide.htm

http://iwpr.net/?p=acr&s=f&o=325838&apc_state=henpacr

http://www.afrol.com/html/Countries/Rwanda/backgr_cross_genocide.htm

http://www.unitedhumanrights.org/Genocide/genocide_in_rwanda.htm

http://www.geocities.com/missionalia/rwanda1.htm

http://findarticles.com/p/articles/mi_m1058/is_8_121/ai_n6003109

http://www.newsfromafrica.org/newsfromafrica/articles/art_10231.html

Fakta: Dinegeri penganut ajaran Jesus yang katanya penuh kasih, dengan melibatkan gereja dan tokoh agama, rakyatnya saling membunuh, mereka melakukannya tanpa dengan alat pembunuh massal, hanya dalam waktu 100 hari atau 3 bulan 800.000-1000.000 nyawa manusia melayang (lebih dari 10% jumlah penduduk yang kala itu berjumlah 7,7 jt), hampir 10.000 nyawa sehari!!!!!(melebihi kekejaman rekan seiman mereka, Nazi). Bayangkan kalau berat rata-rata penduduk Rwanda/ Burundi yang terbunuh 40 kg, total korban genocide ajaran kasih = 800 ribu X 40 kg = 32 ribu ton/ 3 bulan melebihi produksi daging sapi nasional 34 ribu ton/ tahun http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1553&Itemid=30

Ajaran apakah yang memperlakukan manusia lebih kejam dari pada memperlakukan binatang?

Peristiwa itu sepertinya sesuai dengan Matt 10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang…….

Bagaimanakah rekonsiliasi mereka?

1. http://www.nytimes.com/2004/04/07/international/africa/07RWAN.html?ex=1396756800&en=e0838186e9f4832f&ei=5007&partner=USERLAND

2. http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/africa/3561365.stm

3. http://www.islamonline.net/English/News/2002-09/24/article42.shtml

Kembali kepada fitrah manusia. (Setelah tragedi tersebut para penduduk Rwanda mulai beralih memeluk Islam yang mereka anggap bisa menciptakan kedamaian)

Pertanyaan dari sdr. teman : “Saya tidak punya data statistik .. tapi permusuhan itu dari dulu ada. Bagaimana mengukur “bertambah kasih” atau “bertambah bermusuhan” ???” dijawab :”Paling mudah ukur saja dengan jatuhnya korban jiwa”. Lalu Jones mengungkapkan fakta dan data statistik :

Coba anda check data ini valid atau tidak.

Sejak jaman Rasulullah tahun 622 hingga kini korban jiwa jang jatuh karena keterlibatan orang yang mengaku beragama Islam termasuk peristiwa politik dll.

Arab Outbreak, et seq. (7th Century CE and beyond) TOTAL: 698,200
Perang salib : 2000,000
Muhammad Shah Sultan of Kulbarga vs. Bukka I, Raya of Vijayanagar (1366) 500,000
Armenian Massacres (1915-23): 1 500 000
Bangladesh (1971): 1 250 000
Afghanistan (1979-2001): 1 800 000
Iran-Iraq War (1980-88): 1 000 000
Sudan (1983 et seq.): 1 900 000
Iraq, Saddam Hussein (1979-2003): 300 000
Kurdistan (1980s, 1990s): 300 000
Somalia (1991 et seq.): 400 000
Indonesia (1965-66): 450 000
Sudan (1955-72): 500 000
Lebanon (1975-90): 150 000
East Timor, Conquest by Indonesia (1975-99): 200 000
Uganda, Idi Amin’s regime (1972-79): 300 000
Greco-Turkish War (1919-1922): 250 000, dll.

Total katakanlah 15 000 000 jiwa selama 14 abad, (Kalau karena ke Islaman saja jumlah korban diatas akan jauh berkurang),lebih sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan orang yang mati karena merokok di tahun 80 an. (R. Peto, “Mortality from tobacco in developed countries: indirect estimation from national vital statistics”, Lancet, 23 May 1992: 1980s: 17,000,000}

Check data ini valid atau tidak.

Korban jiwa jang jatuh karena keterlibatan orang yang mengaku beragama Kristen. Ajaran yang diclaim “kasih”

0-XI terlalu panjang urutannya

Crusades (1095-1291) 1 000 000
Albigensian Crusade (1208-49) 1,000,000
During the Saracen slaughters in Spain 7000 000
Saxons and Scandinavians lost their lives opposing the introduction of Christianity 2 000 000
Holy Wars against the Netherlands, Albigenses, Waldenses, and Huguenots 1,000,000
Spanish Inquisition (1478-1834) 350000
French Wars of Religion 16th century 3 000 000
Thirty Years War 17th century 7 000 000

Total 22 000 000 selama 6 abad, siapakah pelakunya ? Ini melebihi 15 jt selama 14abad.

Penjajahan & perang Abad 18 – 19
Congo Free State (1886-1908): 8 000 000
Annihilation of the American Indian 20.000.000
(untuk genocide American Indian diatas angkanya lebih banyak dari itu, sedang saya pelajari)
Philippines Insurgency (1899-1902): 220 000
Brazil (1900 et seq.): 500 000
Amazonia (1900-12): 250 000
Portuguese Colonies (1900-25): 325 000
French Colonies (1900-40) >200,000
Abyssinian Conquest (1935-41): 400 000
Algeria (1954-62): 537 000
British India 19th century 17 000 000, dll.

Total kira kira 45 000 000 jiwa selama 2 abad , siapakah pelakunya ? lho kok grafiknya meningkat ?

Abad 20

First World War (1914-18): 15 000 000
Second World War (1937-45): 55 000 000
That’s 35,000,000 deaths which can probably be blamed on Hitler to one extent or another.
Mexican Revolution (1910-20): 1 000 000
Spanish Civil War (1936-39) and Franco Regime (1939-75): 365 000 + 100 000
Korean War (1950-53): 2 800 000
First Indochina War (1945-54): 400 000
Second Indochina War (1960-75): 3 500 000
Ethiopia (1962-92): 1 400 000
Rwanda and Burundi (1959-95): 1 350 000
Liberia (1989-97): 150 000
Zaire (Dem. Rep. Congo), Civil War (1997) 250,000
Bosnia and Herzegovina (1992-95): 175 000
Iraq – International embargo (1990-): 350 000
Guatemala (1960-1996): 200 000
Colombia (1946-58): 200 000
Greek Civil War (1943-49): 158 000
Balkan Wars (1912-13): 140 000. dll.

Total kira kira 70 000 000 juta jiwa selama 1 abad , melonjak drastic siapa lagi pelakunya..? Jadi selama adanya Christianity hingga kini tahun sudah 140.000.000 juta jiwa melayang

Bagaimana nantinya di abad 21 ? Apakah itu yang disebut buah ajaran kasih ?

Coba direnungkan

20 abad 140 juta, 14 abad 15 juta

Ajaran yang manakah yang pantas disebut damai ? Perjanjian lama menyebutkan 1,300,000 orang mati atas perintah Jehowa, penduduk dunia saat itu 300,000,000 http://www.census.gov/ipc/www/worldhis.html

Persentasi orang mati diatas, dibanding jumlah penduduk dunia adalah 0.43%. Sekarang Perjanjian Baru total korban jiwa keterlibatan orang mengaku beragama Kristen 140,000,000 penduduk dunia sekarang 6,000,000,000. Persentasi orang mati diatas dibanding jumlah penduduk dunia adalah 2.33%.

0.43 % menjadi 2.33%??? Kok malah meningkat 540 %?

Kasih?? Damai??? Lip service!!!!

sumber : klik

Kristen Atau Pagan

Posted: Februari 10, 2011 in Khazanah, sharing n completed

Easter – Christian or Pagan?

paskah-permen

<p
<p <p s<p <p s<p 

 

From: truthbeknown.com

Contrary to popular belief, Easter does not represent the “historical” crucifixion and resurrection of Jesus Christ. In reality, the gospel tale reflects the annual “crossification” of the sun through the vernal equinox (Spring), at which time the sun is “resurrected,” as the day begins to become longer than the night.

Rather than being a “Christian” holiday, Easter celebrations date back into remotest antiquity and are found around the world, as the blossoming of spring did not escape the notice of the ancients, who revered this life-renewing time of the year, when winter had passed and the sun was “born again.” The “Pagan” Easter is also the Passover, and Jesus Christ represents not only the sun but also the Passover Lamb ritually sacrificed every year by a number of cultures, including the Egyptians, possibly as early as 4,000 years ago and continuing to this day in some places.

Easter is “Pessach” in Hebrew, “Pascha” in Greek, “Pachons” in Latin and “Pa-Khonsu” in Egyptian, “Khonsu” being an epithet for the sun god Horus. In Anglo-Saxon, Easter or Eostre is goddess of the dawn, corresponding to Ishtar, Astarte, Astoreth and Isis. The word “Easter” shares the same root with “east” and “eastern,” the direction of the rising sun.

The principal Mexican solar festival was held at the vernal equinox, i.e., Easter, when sacrifices were made to sustain the sun. In India, the vernal equinox festival is called “Holi” and is especially sacred to the god Krishna. The Syrian sun and fertility god Attis was annually hung on a tree, dying and rising on March 24th and 25th, an “Easter celebration” that occurred at Rome as well. The March dates were later applied to the Passion and Resurrection of Christ: “Thus,” says Sir Frazer, “the tradition which placed the death of Christ on the twenty-fifth of March was ancient and deeply rooted. It is all the more remarkable because astronomical considerations prove that it can have had no historical foundation….” This “coincidence” between the deaths and resurrections of Christ and the older Attis was not lost on early Christians, whom it distressed and caused to use the “devil got there first” excuse for the motif´s presence in pre-Christian paganism.

The rites of the “crucified Adonis,” another dying and rising savior god, were also celebrated in Syria at Easter time. As Frazer states:

“When we reflect how often the Church has skillfully contrived to plant the seeds of the new faith on the old stock of paganism, we may surmise that the Easter celebration of the dead and risen Christ was grafted upon a similar celebration of the dead and risen Adonis, which, as we have seen reason to believe, was celebrated in Syria at the same season.”

The salvific death and resurrection at Easter of the god, the initiation as remover of sin, and the notion of becoming “born again,” are all ages-old Pagan motifs or mysteries rehashed in the later Christianity. The all-important death-and-resurrection motif is exemplified in the “Parisian magical papyrus,” a Pagan text ostensibly unaffected by Christianity:

“Lord, being born again I perish in that I am being exalted, and having been exalted I die; from a life-giving birth being born into death I was thus freed and go the way which Thou has founded, as Thou hast ordained and hast made the mystery.”

In the gospel tale, there are two dates for the crucifixion: the 14th and the 15th of the month of Nisan, and within Christianity the date for Easter was debated for centuries. There continue to be two dates for Easter: the Western Catholic and Eastern Orthodox, thus demonstrating that this holiday is not the historical date of the actual crucifixion of a particular man. The dates are, in fact, astronomical, astrological and astrotheological.

In explaining this roving date, one “distinguished churchman,” as Catholic Church historian Eusebius called him, Anatolius, revealed the meaning of Easter and of Christ, as well as the fact that astrology was a known and respected science used in Christianity. Said Anatolius:

“On this day [March 22] the sun is found not only to have reached the first sign of the Zodiac, but to be already passing through the fourth day within it. This sign is generally known as the first of the twelve, the equinoctial sign, the beginning of months, head of the cycle, and start of the planetary course…. Aristobolus adds that it is necessary at the Passover Festival that not only the sun but the moon as well should be passing through an equinoctial sign. There are two of these signs, one in spring, one in autumn, diametrically opposed to each other….”

In establishing the “Paschal festival,” Church father Anatolius thus based his calculations on the positions of the sun and moon during the vernal equinox.

The need to time the Easter celebration – or resurrection – to coincide with the vernal equinox demonstrates that “Christ” is not an historical personage but the sun. This fact of Easter being the resurrection of the Sun has been well known for centuries, just as “the Savior´s” birth at the winter solstice has been recognized as another solar motif. Another obvious clue as to Christ´s nature is the fact that the “Lord´s Day” is Sunday.

Concerning Easter, in his “Letter I. for 329” Bishop of Alexandria Athanasius (c. 293-373) remarks, “Again, ´the Sun of Righteousness,´ causing His divine beams to rise upon us, proclaims beforehand the time of the feast, in which, obeying Him, we ought to celebrate it…” Christ is thus the Sun of Righteousness, with “divine beams.”

The Easter calculations were recomputed in the seventh century by the Christian author(s) of the Paschal Chronicle or Alexandria Chronicle, which seeks to establish a Christian chronology from “creation” to the year 628. The Paschal Chronicle determines the proper date for Easter as March 21st and the date of Christ´s resurrection as March 25th (or, midnight, March 24, three days after the beginning of the equinox). In his various calculations, the Chronicle author discusses solar and lunar cycles, including the 19-year lunar cycle, by which he reckons the crucifixion and resurrection, concluding: “This is consistent with the prior determinations of reputable men in the calculation of the heavenly bodies.” To wit, Christ´s death and resurrection are based on astrotheology.

The Chronicle author further confirms that Christianity is a continuation of the ancient “Pagan” astrotheological religion when he states that the “Annunciation of our Lady,” i.e., the conception of Christ by the Virgin Mary, likewise occurred on March 25th, the vernal equinox, exactly nine months prior to the December 25th birthdate, the annual rebirth of the sun.

TruthBeKnown.com

StellarHousePublishing.com

For more on the Pagan Roots of Easter, see here

Original source: http://www.redicecreations.com/article.php?id=10400


Yang Salah Dari Pengajaran Gereja Kristen

The False Teachings of Church Christianity

Oleh: Will Newman, pengarang “Is Lucifer the God of Judaism?”)

(for Henrymakow.com)


“Christ told his people to repent and forsake their sinful ways (Mat 9:13). He did not command them to form a religion in his name or to build a multi-million dollar church while the poor slept on the stoop.”
WORSHIP OF THE SUN

NOT THE SON

Jesus666

Christ warned that in the time leading up to his return, the masses would be exploited with false teachings in His name (Mat 24). The same condemnations He made of the hypocritical Pharisees in Matthew 23 can be directed toward modern Christian churches for teachings that are contrary to the scriptures (Mar 7:7, 2Jn 1:9).

The Church is indistinguishable from the pagan priesthood of Babylon. The parallels fill books such as “The Two Babylons” and “The Papal Worship Proved to be the Worship of Nimrod and his Wife,” ( A. Hislop.) The Catholic Church claims its authority supersedes that of the bible, as demonstrated by the Pope’s title “Holy Father” (Mat 23:9).

“Vatican” translates to “prophetic serpent.” The Pope wears a fish-shaped hat identical to the Babylonian Priest of Dagon, the fish-god. Cardinals dishonor Christ by covering their heads while praying (1Co 11:4).

Catholics worship the pagan goddess Diana/Athena/Hecate/Semiramis/Ishtar/Isis/Ashtaroth by calling her Mary, “the Queen of Heaven” (Jer 7:18, Luk 11:27-28).

Protestant denominations are quick to condemn the widespread iniquity, idolatry, and scriptural violations of the Catholic Church yet refuse to acknowledge that they are equally guilty (Joh 7:38, Mat 7:4). At least Catholics and modern pagans openly admit their defiance of the bible.

Most Protestants uphold the Catholic tradition of a Sunday Sabbath, in opposition to God’s fourth commandment to worship on the seventh day of the week (Saturday). Sun-day worship of the sun-god (Helios/Apollo/Lucifer) was the custom of pre-Christian Rome.

PAGAN CUSTOMS AND SYMBOLS

All Christians celebrate Christmas (Osiris/Nimrod’s birthday, the birth of the sun-god), the modern equivalent of Rome’s Saturnalia (Satan-alia). Witches sacrifice a child at midnight Christmas Eve and leech emotional energy from the Christians’ “holiday spirit.”

The tree is a symbol of Nimrod and forbidden by God (Jer 10:12). Santa, a scrambling of “Satan,” is a false god for children who usurps God’s power to judge sin. (www.met.org.zawww.macquirelatory.com/Santa Is Satan)

Easter is the astrological fertility celebration of Nimrod’s wife, Ishtar. In pre-Christian times, the cross (“T”) was an idol to represent the virginally-conceived sun-god Tammuz (Eze 8:13-14, Heb 2:16-17).

The cross and the “X” symbols (as in Xmas) both represent the sun and the zodiac, as does the circular communion wafer.

Church architecture is based on pagan fertility symbolism. Steeples are obelisk-shaped (phallic symbols) resting on vaulted naves (female womb). The word Church derives from the goddess Circe who represents the circular moon.

The Pentecostal practice of speaking in indecipherable tongues is forbidden by God (1Co 14).

CHRIST’S HEBREW NAME

The Christian churches are guilty of suppressing the only name by which men can be saved (Act 4:12) and of breaking the first commandment by worshiping Jesus (who they claim to be) the Son above the Father. This instead of living like Christ in obedience to the Father’s commandments.

The name of god venerated in churches, Jesus, derives from “Zeus,” the Greek name for the god of lightning–Satan (Luk 10:18). Many Christian ministers (e.g. Billy Graham) and Catholic priests are trained in mind-control and occultism; some intentionally summon the demonic spirit named “Jesus” to fill their churches while falsely calling it the Holy Spirit (The Illuminati…Mind Control Slave, Springmeier, 178).

Christ’s name could not have been Jesus, as the letter “J” did not exist until about 1500 years after His resurrection. It is YASHAYAH, Hebrew for “savior” (Hos 2:16, Act 26:14, Luk 1:47, Mat 21:9). The name YASHAYAH was translated into Greek as “Iesaias” and then to “Iesus” by the Vatican.

The Jewish faction helps obscure the true name of the Son by calling him “Yeshua” in Modern Hebrew. The “oo” sound came via Greek influence and is not found in ancient Hebrew, which had only one neutral vowel sound.

CESARE BORGIA AS JESUS CHRIST

borgia
The graven images of Christ found in Christian churches (in violation of the second commandment) are often seen displaying satanic hand gestures. These often display Jesus’ head surrounded with a halo, identical to the solar disk which adorned the pagan sun gods of Rome, Greece, and Babylon.

These Jesus images do not represent Yashayah’s historical appearance. In the early 1500s, Pope Alexander VI employed Leonardo da Vinci to paint his son, Cesare Borgia, as Christ. Even today, when the world pictures Christ, it pictures Cesare Borgia, a man who committed murder, incest, and sodomy (Triptych of Poisoners, Cesare Borgia His Life and Times, Bradford).

This image of Christ has been preserved by both Catholic and Protestant denominations; it was used by Catholic missionaries to enslave the natives of Central/South America and by Protestants as proof to the Negro slaves (Judah) that god was a white man (Wisdom of Solomon 14:8-21).

CHRIST TAUGHT THE LAW OF MOSES NOT PAGANISM

Christ says that the greatest commandment is to love God and that this is done by keeping his commandments. “He that … keepeth not [God’s] commandments, is a liar” (1Jn 2:4, 1Jn 5:3, Mat 22:37, Joh 14:15, Mat 5:17, Joh 5:30, 46, Ex 20:6).

Despite Christ’s words, most churches teach that the Law, including the Ten Commandments, is done away with, effectively teaching that there is no sin (1Jn 3:4). Christ’s sacrifice did not nullify the Law, but rather marked the end of animal sacrifice and the death penalty by giving those who believed on Him the opportunity to repent and receive forgiveness of sins (Rom).

Without Law, one can pursue his own selfish or perverse lusts even through murder, theft, and deceit. Many churches preach the prosperity doctrine, that god wants us to be rich. This god of lawlessness and excess is not the God of the bible; it is the god of the flesh–Satan (Mar 10:25).

By actions, not words, we are to discern good from evil (Mat 7:20, 15:8). Fritz Springmeier reveals that “Magic and witchcraft are…being taught in many Christian churches… human sacrifices are…being done in secret in some well known Christian churches” (Be Wise as Serpents, i4).

Anton LaVey of the Church of Satan converted Christians by explaining that those in a “witchcraft group…practice the same basic philosophy as Christianity” without the guilt (The Satanic Bible, 27). The difference between Christian and Satanic philosophies is that Satanists admit that their actions please Satan and anger God.

DANGERS OF MODERN CHRISTIAN CHURCHES

There is no separation of Church and state; political agendas are pushed from the pulpit. Preachers cannot speak about the Illuminati, the NWO, human micro-chipping, or question the Jewish people as the biblical Israelites without losing their 501(c)3 non-profit tax status.

Preachers do not teach the truth for fear that they might lose members who want sermons to make them feel good even if through lies (Isa 30:10). As a result, many Christians will peacefully march off to FEMA camps while they are waiting to be “raptured” before the tribulation (another false teaching).

Christ told his people to repent and forsake their sinful ways (Mat 9:13). He did not command them to form a religion in his name or to build a multi-million dollar church while the poor slept on the stoop. We are to love Christ by caring for the poor and fatherless, by obeying His Law, by eschewing evil, and by worshiping His Father in spirit and in truth (Joh 4:24).

TERJEMAH :

Para Palsu Ajaran Kristen Gereja

Dibuat: Will Newman, Pengarang “Apakah Lucifer Allah Yudaisme?”)

(Untuk Henrymakow.com)

“Kristus menyuruh orang untuk bertobat dan meninggalkan cara-cara dosa mereka (Mat 9:13). Dia tidak perintah mereka untuk membentuk agama dalam nama-Nya atau untuk membangun gereja-jutaan dolar, sementara orang miskin tidur di teras.”

IBADAH OF THE SUN

YANG TIDAK SON

Jesus666

Kristus memperingatkan bahwa dalam waktu menjelang kembali, rakyat akan dimanfaatkan dengan ajaran palsu dalam nama-Nya (Mat 24). Pengutukan yang sama Ia membuat orang Farisi munafik dalam Matius 23 dapat diarahkan ke gereja-gereja Kristen modern untuk ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci (Mar 07:07, 2Jn 1:9).

Gereja tidak dapat dibedakan dari imamat pagan Babel. Parallels mengisi buku seperti “Dua Babylons” dan “Ibadah Terbukti Paus menjadi Ibadah Nimrod dan Istrinya,” (A. Hislop.) Gereja Katolik mengklaim menggantikan kewenangannya bahwa dari Alkitab, seperti yang ditunjukkan oleh Paus judul “Bapa Suci” (Mat 23:09).

“Vatikan” diterjemahkan menjadi “ular kenabian.” Paus mengenakan topi berbentuk ikan identik dengan Imam Babel Dagon, ikan-dewa. Cardinals memalukan Kristus dengan menutupi kepala mereka sambil berdoa (1Co 11:4).

Katolik menyembah berhala Diana dewi / Athena / Hecate / Semiramis / Ishtar / Isis / Asytarot dengan menelepon Mary, “Ratu Surga” (Yer 7:18, Luk 11:27-28).

denominasi Protestan cepat untuk mengutuk kejahatan meluas, penyembahan berhala, dan pelanggaran alkitabiah dari Gereja Katolik namun menolak untuk mengakui bahwa mereka sama-sama bersalah (Yoh 7:38, Mat 7:4). Di Katolik sedikit dan orang-orang kafir modern secara terbuka mengakui pembangkangan mereka Alkitab.

Kebanyakan Protestan menjunjung tinggi tradisi Katolik dari Sabat Minggu, bertentangan dengan perintah keempat Tuhan untuk beribadah pada hari ketujuh dalam seminggu (Sabtu). Sun-hari penyembahan dewa-matahari (Helios / Apollo / Lucifer) adalah kebiasaan pra-Kristen Roma.

Pagan BEA DAN SIMBOL

Semua orang Kristen merayakan Natal (Osiris / ulang tahun Nimrod ‘, kelahiran dewa matahari), setara modern Roma Saturnalia (Setan-alia). Penyihir pengorbanan seorang anak di tengah malam Natal dan energi emosional lintah dari orang-orang Kristen ‘”semangat liburan.”

Pohon itu adalah simbol Nimrod dan dilarang oleh Allah (Yer 10:12). Santa, sebuah mengaduk “Setan,” adalah dewa palsu untuk anak-anak yang merampas kuasa Allah untuk menghakimi dosa. (Www.met.org.za, http://www.macquirelatory.com / Santa Apakah Setan)

Paskah adalah perayaan kesuburan astrologi istri Nimrod’s, Ishtar. Pada masa pra-Kristen, salib (“T”) adalah idola untuk mewakili Tammuz dewa matahari virginally-menganggap (Eze 8:13-14, Ibr 2:16-17).

Salib dan “X” simbol (seperti dalam Xmas) baik mewakili matahari dan zodiak, seperti halnya wafer komuni melingkar.

Arsitektur Gereja didasarkan pada simbolisme kesuburan kafir. Menara yang berbentuk obelisk (simbol phallic) beristirahat di naves berkubah (rahim wanita). Kata Gereja berasal dari Circe dewi yang mewakili bulan melingkar.

Praktek Pentakosta berbahasa lidah terbaca dilarang oleh Allah (1Co 14).

KRISTUS NAMA IBRANI

Gereja-gereja Kristen bersalah menekan satunya nama dimana pria dapat disimpan (Act 4:12) dan melanggar perintah pertama dengan menyembah Yesus (yang mereka mengklaim sebagai) Anak di atas Bapa. Ini bukan hidup seperti Kristus dalam ketaatan kepada perintah-perintah Bapa.

Nama dewa dihormati di gereja-gereja, Yesus, berasal dari “Zeus,” nama Yunani bagi dewa petir – Iblis (Luk 10:18). Banyak Kristen menteri (misalnya Billy Graham) dan imam Katolik dilatih dalam pikiran-kontrol dan okultisme, beberapa sengaja memanggil roh jahat yang bernama “Yesus” untuk mengisi gereja-gereja mereka sementara salah menyebutnya Roh Kudus (The Illuminati … Mind Control Slave , Springmeier, 178).

nama Kristus tidak mungkin Yesus, seperti huruf “J” tidak ada sampai sekitar 1500 tahun setelah kebangkitan-Nya. Hal ini YASHAYAH, Ibrani untuk “penyelamat” (Hos 2:16, Undang-Undang 26:14, Luk 1:47, Mat 21:9). Nama ini YASHAYAH diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai “Iesaias” dan kemudian “Iesus” oleh Vatikan.

Faksi Yahudi membantu mengaburkan nama sebenarnya dari Anak dengan menyebut dia “Yeshua” dalam bahasa Ibrani Modern. The “oo” suara datang melalui pengaruh Yunani dan tidak ditemukan dalam bahasa Ibrani kuno, yang hanya memiliki satu suara vokal netral.

Cesare Borgia SEBAGAI YESUS KRISTUS
Borgia

patung berhala itu Kristus yang ditemukan di gereja-gereja Kristen (yang melanggar perintah kedua) yang sering terlihat menampilkan gerakan tangan setan. Ini sering menampilkan kepala Yesus dikelilingi dengan halo yang, identik dengan disk surya yang menghiasi dewa matahari pagan Roma, Yunani, dan Babel.

Gambar-gambar Yesus tidak mewakili penampilan historis Yashayah’s. Pada awal tahun 1500-an, Paus Alexander VI dipekerjakan Leonardo da Vinci untuk melukis anaknya, Cesare Borgia, seperti Kristus. Bahkan saat ini, ketika gambar dunia Kristus, itu gambar Cesare Borgia, seorang pria yang pembunuhan yang dilakukan, inses, dan sodomi (Triptych dari Poisoners, Cesare Borgia Nya Hidup dan Times, Bradford).

Ini citra Kristus telah diawetkan dengan baik Katolik dan denominasi Protestan, melainkan digunakan oleh misionaris Katolik untuk memperbudak penduduk asli Amerika Tengah / Selatan dan Protestan sebagai bukti untuk para budak Negro (Yehuda) yang dewa adalah orang putih (Hikmat Salomo 14:8-21).

Kristus mengajarkan HUKUM MUSA TIDAK Paganisme

Kristus mengatakan bahwa perintah terbesar adalah untuk mengasihi Allah dan bahwa hal ini dilakukan dengan mematuhi perintah-perintah-Nya. “Dia itu … menggembalakan tidak perintah-perintah [Allah], adalah pendusta” (1 Yoh 2:4, 1 Yoh 5:3, Mat 22:37, Yoh 14:15, Mat 5:17, Yoh 5:30, 46, Ex 20:6).

Meskipun kata-kata Kristus, kebanyakan gereja mengajarkan bahwa UU, termasuk Sepuluh Perintah Allah, dilakukan jauh dengan, efektif mengajarkan bahwa tidak ada dosa (1 Yoh 3:4). pengorbanan Kristus tidak meniadakan hukum Taurat, melainkan menandai akhir pengorbanan hewan dan hukuman mati dengan memberikan mereka yang percaya pada-Nya kesempatan untuk bertobat dan menerima pengampunan dosa (Rom).

Tanpa Hukum, seseorang dapat mengejar nafsu sendiri egois atau sesat bahkan melalui pembunuhan, pencurian, dan penipuan. Banyak gereja memberitakan doktrin kemakmuran, bahwa tuhan menginginkan kita untuk menjadi kaya. Dewa ini pelanggaran hukum dan kelebihan bukan Allah Alkitab, itu adalah dewa daging – Setan (Mar 10:25).

Dengan tindakan, bukan kata-kata, kita harus membedakan baik dari yang jahat (Mat 7:20, 15:8). Fritz Springmeier mengungkapkan bahwa “Magic dan sihir adalah … yang diajarkan di gereja-gereja Kristen … pengorbanan manusia … dilakukan secara rahasia di beberapa gereja-gereja Kristen terkenal” (Be Wise sebagai Ular, i4).

Anton LaVey Gereja Setan dikonversi Kristen dengan menjelaskan bahwa mereka dalam sebuah “kelompok ilmu sihir … praktek filosofi dasar yang sama seperti Kristen” tanpa rasa bersalah (The Satanic Bible, 27). Perbedaan antara filsafat Kristen dan setan adalah bahwa setan mengakui bahwa tindakan mereka menyenangkan Allah Setan dan kemarahan.

BAHAYA GEREJA KRISTEN MODERN

Tidak ada pemisahan gereja dan negara; agenda politik didorong dari mimbar. Pengkhotbah tidak dapat berbicara tentang Illuminati, yang NWO, manusia mikro-chipping, atau pertanyaan orang-orang Yahudi seperti orang Israel alkitabiah tanpa kehilangan 501 mereka (c) 3 non-profit status pajak.

Pengkhotbah tidak mengajarkan kebenaran karena takut bahwa mereka mungkin kehilangan anggota yang ingin khotbah untuk membuat mereka merasa baik, bahkan jika melalui kebohongan (Yes 30:10). Akibatnya, banyak orang Kristen damai akan berbaris ke kamp FEMA sementara mereka sedang menunggu untuk “diangkat” sebelum kesengsaraan (lain ajaran palsu).

Kristus memberitahu orang-orang untuk bertobat dan meninggalkan cara-cara dosa mereka (Mat 9:13). Dia tidak perintah mereka untuk membentuk agama dalam nama-Nya atau untuk membangun gereja-jutaan dolar, sementara orang miskin tidur di teras. Kita harus mengasihi Kristus dengan merawat orang miskin dan yatim, dengan mematuhi hukum-Nya, dengan menghindari kejahatan, dan dengan menyembah Bapa-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).

Sumber :

http://www.savethemales.ca/


Yesus Juru Selamat Bangsa Israel

jesus-preaching

Oleh: Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto

Kepada siapakah sebetulnya Yesus diutus oleh Allah? Dalam Injil Yohannes 20: ayat 21, Yesus bersabda: “Sama seperti Bapa mengutus AKU, demikian juka sekarang AKU mengutus kamu.” Luas perutusan Yesus kepada murid-murid-NYA adalah sama dengan luas perutusan yang diterima oleh Yesus dari Bapa. Jadi tidak mungkin Yesus mengutus murid-murid-Nya lebih luas dari perutusan-Nya sendiri yang diterima-Nya dari Bapa. Yesus dalam salah satu sabda-Nya pernah. bersabda bahwa Dia diutus hanya kepada domba hilang dari Bangsa Israeli.

Rupanya Yesus-pun mengutus murid-murid-Nya hanya kepada Bangsa Israel saja. “Janganlah kamu menyimpang ke jalan Bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari pada Umat Israel” (Mateus 10: 5-6).

Bahwa Yesus adalah Utusan Allah khusus untuk Bangsa Israel, menjadi lebih jelas lagi, ketika beliau menegaskan bahwa para murid-Nya yang berjumlah 12 orang itu akan duduk pada 12 tahta untuk mengadili Yahudi. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu pencitaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi dua belas suku Israel” (Mateus 19:28).

Bagaimana ciri, Juru Selamat dunia yang dijanjikan oleh Allah? Juru Selamat itu bukan hanya diutus untuk sesuatu bangsa tertentu saja, akan tetapi haruslah dimaksudkan untuk seluruh Bangsa. Yang kepadanya bangsa-bangsa akan berharap, Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa (semua bangsa), bukan hanya kepada satu bangsa tertentu saja. Untuk ini maka Nabi Yesaya, tokoh Perjanjian Lama yang terkenal meramalkan: “Lihatlah, itu Hamba-KU yang KU-pilih, yang Ku-kasihi yang kepadanya jiwa-KU berkenan; Aku akan menaruh roh-KU keatas-Nya, dan ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa” (Mateus 12: 18). “Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap” (Mateus 12: 21).

Sabda Yesus yang perlu juga kita perhatikan adalah yang tercantum dalam Injil Mateus 10:41: “Barang siapa yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barang siapa yang menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah sebagai orang benar.”

Kita kembali kepada pertanyaan pada pasal-pasal yang lalu: Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang akan datang sesudah Yesus? Tentu seorang nabi, karena jelas bukan Paulus? Sekarang pertanyaan kita: “Siapakah nabi itu?” Kita belum tahu, tetapi pasti harus seorang nabi, utusan Allah.

Yesus memang Juru Selamat, tetapi seperti apa yang pernah ditandaskan-Nya sendiri bahwa beliau datang untuk domba bangsa Israel yang hilang. Kalau Yesus sudah memberikan pertanyaan tentang dirinya dan murid-murid-Nya begitu jelas, apakah kita harus berkata bahwa Yesus dikirim Allah untuk semua bangsa? Dengan menyatakan hal itu maka berarti bahwa kita tidak menaruh hormat kepada beliau, baik selaku pribadi maupun selaku Nabi Allah yang besar. Kalau Yesus sendiri lebih senang memakai predikat: “Anak manusia,” mengapa kita harus memaksakan dengan mengatakan bahwa beliau adalah:

“Anak Allah?” Apakah Yesus sendiri tidak akan marah kalau diri-Nya disebut dengan cara yang tidak benar, walaupun predikat yang kita berikan kepadanya lebih tinggi?

Pernah pada suatu waktu Presiden Soeharto begitu marah sekali ketika majalah “POP” menulis tentang silsilahnya dimana dikatakan bahwa sesungguhnya beliau adalah keturunan bangsawan, keturunan kraton. Artikel semacam itu kemudian dibantah sendiri oleh beliau, bahkan dianggap sebagai penghinaan; dalam kesempatan itu beliau menandaskan bahwa beliau hanya seorang anak petani biasa.

Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Allah, kita telah berbuat kesalahan yang besar, sebab Yesus sendiri tidak pernah menyatayambut Yesus sebagai Nabi Allah yang benar.

Dan apakah Umat Kristen telah menyambut Utusan Allah sesudah Yesus dengan benar? Apakah Muhammad itu utusan Allah? Apakah ada bukti-bukti kenabian melekat pada diri beliau? Apakah Yesus juga menyebut hal itu? Semoga pasal yang terakhir dan uraian kami akan dapat menjawab pertanyaan di atas. Mungkin jawaban yang akan diperoleh tidak begitu memuaskan pada saat permulaan tetapi jika Saudara mau merenungkan, dan lebih-lebih mempelajari dari buku-buku yang bobot ilmiahnya lebih tinggi dari ini; kami percaya bahwa Saudara akan mempunyai kepuasan yang Saudara harapkan. Semoga.

Siapakah Sebetulnya Juru Selamat Dunia?


jesus-lamb

Bangsa Israel mempunyai keyakinan bahwa Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dan juga keturunan Daud, hal ini berarti Juru Selamat Dunia adalah keturunan Ibrahim dari garis Ishak bukan dari garis Ismail. Tetapi ternyata keyakinan itu sendiri disangkal oleh Yesus sendiri.

Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias (Juru Selamat)?” “Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuhan-nya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuhan-ku: duduklah di sebelah kanan-Ku sampai musuh-musuh-Mu kutaruh dibawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuhannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? “Tidak ada seorangpun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya” (Mateus 22: 41-46).

Untuk mengklaim bahwa Juru Selamat Dunia adalah Bangsa Israel maka Mateus tidak segan-segan untuk memaksakan silsilah Yesus menjadi sedemikian rupa, sehingga Yesus menjadi “Anak Ibrahim, Anak Daud.” Tetapi jika ada bukti bahwa Yesus memang benar Anak Daud, namun kenyataan ini tidak bisa membuktikan bahwa Dia adalah Mesias, karena terhadap itu Yesus bahkan telah membantahnya.

Yesus memang Mesias tetapi hanya untuk Bangsa Israel saja.

Pada suatu hari Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya:

“Menurut kamu, siapakah Aku?” Jawab Petrus: “Messias dari Allah.” Dalam sejarah umat manusia telah beberapa saja Tuhan mengirim Nabi kepada Bangsa Israel, tetapi ternyata seperti Yesus sering-kali ucapkan bahwa Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar hati; maka untuk itulah kiranya Tuhan mengirim Nabi Bangsa Israel, Nabi yang terbesar dari nabi-nabi sebelumnya agar bangsa Israel menjadi selamat. Jadi Yesus memang Juru Selamat Bangsa Israel. Kita tidak boleh menyangkal kenyataan ini, sebab setiap orang yang mengakui Yesus di depan manusia akan diakui juga oleh Yesus di hadapan Tuhan, dan barang siapa yang menyangkal Yesus di hadapan manusia akan disangkal Yesus dihadapan Allah. (Mateus 10: 32-33). Alhamdulillah, Umat Islam bukan termasuk Umat yang menyangkal Yesus Umat Islam mengakui bahwa beliau adalah Utusan Allah, Nabi Besar dari deretan Nabi-Nabi sebelumnya.

Rupanya karena Bangsa lsrael memang merupakan bangsa yang tegar hati sampai-sampai Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan Allah” (Mateus 21: 43)

Bangsa apa yang dimaksud oleh Yesus? Janji Tuhan akan tetap terlaksana. Demikian juga janji Tuhan kepada Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua orang anak, yaitu Ishak dan Ismail. Keduanya menurunkan bangsa yang besar, ialah Bangsa Israel dan Bangsa Arab. Jadi jika Kerajaan diambil dari bangsa Israel, maka akan lebih mudah masuk pada akal jika kemudian diserahkan kepada Bangsa Arab. Jadi akan masuk diakal jika Juru Selamat Dunia akan lahir dari Bangsa Arab, yakni keturunan Ibrahim dari garis Ismail. Apakah hal ini mungkin?

Dalam Mateus 21: 42 dan juga Mazmur 118: 22-23, kita membaca: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari fihak Tuhan suatu perbuatan ajaib di mata Kita. Apakah yang dimaksud batu yang dibuang itu? Dan apakah yang dimaksud dengan batu penjuru? Atas anjuran dari Sarah: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya!” (Kejadian 21:10) maka Ibrahim lalu membuang Hagar dan Ismail. Bukankah hal itu jelas bagi kita, bahwa keturunan Ibrahim dari garis Ismail telah dibuang oleh Ibrahim sendiri sebagai tukang bangunan? Apakah batu penjuru itu? Kita tahu bahwa semua orang Islam yang bersembahyang menghadap kepada penjuru yang samas yakni Ka’bah.

Kita kembali kepada pertanyaan “Siapakah Penolong yang dijanjikan oleh Yesus yang datang sesudah beliau?”

” dan baptislah mereka demi nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mateus 28: 19), yang dapat kita artikan: ” dan selamatkanlah mereka demi nama Tuhan, dengan ajaran para Nabi dan lebih-lebih ajaran Nabi sesudah Yesus ”

Siapakah Nabi sesudah Yesus? Ia adalah batu yang di buang oleh tukang bangunan dan sekarang menjadi batu penjuru. Ia tentu harus keturunan Ismail. Siapakah dia? Jawab-nya tidak ada dua: Muhammad! Apakah Muhammad juru selamat dunia? “Ya, pasti.”

Sumber: SIAPA SEBENARNYA JURU SELAMAT DUNIA ? oleh: Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto, Penerbit PERSATUAN, Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977, Bab 3 & 4

 

sumber : klik