Archive for the ‘ISLAM’ Category


Upaya Terselubung Islam “Anyaran” Dirikan Khalifah Daulah Islamiyah:
1. Siapa di Indonesia yg tak kenal @NahdlatulOelama dan Muhammadiyah? Di atas kertas, merekalah dua organisasi Islam terbesar di RI.
2. Sekitar 85 juta umat Islam di Indonesia adalah NU, dan 50 juta Muhammadiyah. Artinya, sekitar 65 % seluruh penduduk muslim Indonesia.
3. Ini jumlah yg besar, tp dlm kenyataannya, tampaknya 135 juta anggota NU dan Muhammadiyah hanya sebatas besar di angka statistik semata.
4. Buktinya? Lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah tidak bsa lagi memegang kepemimpinan ummat.
5. Ummat justru dikendalikan oleh pergerakan Islam Trans-Nasional yg di Indonesia telah menjelma dlm wujud Islam “anyaran/baru”.
6. Mereka adalah penerus gagasan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tharir yg ingin mendirikan Khalifah Daulah Islamiayah.
7. Pelan2, mereka terus menggerus kepemimpinan NU dan Muhammadiyah yg masih setia dengan Pancasila dan NKRI.
8. Knp itu bisa terjadi? Krn kelompok Islam “anyaran” itu justru dibiarkan tumbuh subur di era SBY (2004-2014).
9. Dlm 10 th itu,kelompok Islam Trans-Nasional banyak dapatkan ruang hidup,dapatkan subsidi dan juga difasilitasi utk tumbuh.
10.Dengan cara itu, kelompok Islam Trans-Nasional makin besar.Mereka mulai motong kaki NU dan Muhammadiyah di Mesjid, pengajian, dan sekolah.
11. Awalnya Islam Trans-Nasional hanyalah kelompok kecil yg mulai hadir pd era tahun 1970-an.
12. Di era Orde Baru mereka masih tiarap, tapi setelah reformasi mereka mulai unjuk gigi.
13. Melihat tren ini, SBY justru membiarkan kelompok ini utk bergerak dan mengakomodasi mereka utk memperkuat kekuasannya.
14.Akhirnya, kelompok trans nasional tumbuh, bantuan asing dari timur tengah, dana Wahabi mengalir deras bersamaan dengan fasilitasi dari SBY.
15. Selama 10 tahun cukup untuk mereka membesar dengan dana asing yang tidak ber-seri (sangat banyak)
16. Mari kita lihat satu-persatu para Islam Trans-Nasional yg mulai membuat NU dan Muhammadiyah gigit jari.
17. Pertama, Ikhwanul Muslimin atau yang sering dikenal dengan nama Moslem Brotherhood kalau di luar negeri.
18. Didirikan di Mesir pada Maret 1928, saat ini mereka menyebar di 70 negara dengan menggunakan methode Halaqah.
19. Gerakan Ikwan terbelah mjd dua arus utama: Ikhwan Tarbiyah yg menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera.
20. Serta Ikhwan Jihad yg gunakan kekerasan yg jadi embrio Jamatul Muslimin, Jama’ah Islamiayah dan Jamaah Jihad yg berujung pd Al Qaeda.
21. Di Indonesia, Ikhwanul Muslimin dideklarasikan tahun 1994, lebih banyak gerak di kelompok Tarbiyah SMA dan Perguruan Tinggi (LMD/ LDK).
22. Setelah reformasi, mereka berubah bentuk jadi Komite Aksi Muslim Indonesia, lalu berubah jadi Partai keadilan dan selanjutnya jadi PKS.
23. Tujuan utama Ikhwan Tarbiyah yaitu membentuk Daulah Islamiyah dengan cara non kekerasan.
24. Mereka manfaatkan instrumen demokrasi dg dirikan partai dan merebut kursi di Parlemen untuk wujudkan cita2 Daulah Islamiyah.
25. Mereka turut bentuk jaringan Ikhwan Tarbiyah seluruh dunia, yaitu The International Forum for Islamic Parliaments (IFIP).
26. IFIP pernah adakan pertemuan di Indonesia tahun 2007 di Jakarta, bahkan Jakarta ditetapkan sbg Sekretariat IFIP.
27. Waktu itu SBY dengan bangga membuka acara IFIP di Jakarta m.tempo.co/read/news/2007… 
28. Sedangkan Ikhwan Jihadi atau Ikhwan sayap radikal muncul di Indonesia setelah dipicu oleh perang Afghanistan.
29. Dan gerakan ini menemukan bahan baku pada aktivis Darul Islam Indonesia (DII). Kelompok ini jg dirikan Jammaah islamiyah (JI) pada 1991.
30. Tujuan utamanya: Mendirikan Khilafah Islamiyah dengan menggunakan metode kekerasan allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/09/
31. Kedua, adalah Hizbut Tahrir yg menolak konsep demokrasi dan menekankan tentang paham kekhalifahan.
32. HTI jelas tidak menerima NKRI dan Pancasila HTI jg tidak mau hormat bendera merah Putih muslimedianews.com/2014/08/ustadz…
33. Metode perjuangan HTI adalah kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan.
34. Gerakan HT di Indonesia berawal dari aktivis masjid kampus Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor yg disebarkan melalui halaqah2.
35. Kader-kadernya HTI aktif melakukan sosialisasi dan kaderisasi dengan memanfaatkan Masjid2.
36. Sejalan dengan gerakan Tarbiyah, mereka juga lakukan kaderisasi ke sekolah dan kampus-kampus, selain mengajak ke pengajian HT Indonesia.
37. Karakter dari HTI : angkat isu struktural dan global, bahaya kapitalisme, dominasi USA serta sistem ekonomi dan politik alternatif.
38. Jawaban mereka (HTI) hanya satu: ganti NKRI dengan sistem Khalifah,Bagi mereka Khalifah adalah harga mati!!!
39. Ketiga adalah gerakan Salafi Dakwah dan Salafi Sururi yg berkembang dengan bantuan dana pemerintah Arab Saudi.
40. Awalnya mereka adalah alumni Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)Perkembangan mereka berbasis pesantren.

41. Keempat adalah Syiah yg berkembang setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menyebarnyanya alumnus Qum.
42. Di Indonesia muncul dua organsiasi Syiah: pertama, Lembaga Komunikasi Ahlul Bait yg merupakan wadah alumni Al Qum.
43. Organisasi kedua tergabung dalam IJABI yg lebih berkiblat ke Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah.
44. Pengikut Syiah keturunan Arab lakukan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri)Jaringan Syiah yg kuat ditemukan di Jatim dan Pekalongan.
45. Di era SBY, perkembangan Syiah dianggap ancaman ol kelompok Sunni termasuk Tarbiyah dan HTI krn Iran sangat mengganggu kepentingan Arab Saudi.
46. Inilah yg membuat kelompok Wahabi justru menyerang kelompok Syiah dan Ahmaddiyah.
47. Skali lg demi dukungan, menyingkirkan NU dan Muhammadiyah, maka jaringan SBY fasilitasi konflik Sunni-Syiah ini.
48. Kelima adalah Jamaah Tablig juga masuk kategori gerakan trans-nasional.
49. Jamaah Tablig ini berpusat di perkotaan dan bersifat non-politis. Anggotanya kurang lebih 20.000 orang.
50. Dlm 10 tahun di era SBY, gerakan Islam Trans-Nasional banyak menggerogoti basis2 organisasi massa.
51. Masjid2 NU dan Muhammadiyah mulai dikuasai oleh Ikhwan dan HTI. Jemaah Tabliq menggerogoti beberapa basis penting NU di perkotaan.
52. Sedangkan gerakan Salafi mengambil jemaah @NahdlatulOelama puritan dg pendekatan pesantren.
53.jadi strategi kuasai Mesjid dr kelompok Trans-Nasional relatif berhasil Dengan cara itu mereka menguasai Marbot,takmir sampai pendakwah.
54. Aktivitas mesjid digunakan untuk halaqah para Ikhwan dan HTI.
55. Selain itu para Ikhwan Tarbiyah (PKS) dan HTI aktif juga bergerak di sekolah dan perguruan tinggi.
56. Mereka masuk melalui dua cara: pertama, melakukan kaderisasi yg sangat agresif di forum Kerohanian Islam (Rohis).
57. Kader2 mereka aktif mendekati pelajar dan mahasiswa dengan pendekatan emosional, empati dalam Liqo.
58. Dan selanjutnya mengajak bergabung dlm Halaqah Jaringan kaderisasi seperti bergerak berjenjang dalam model sel-sel kecil.
59. Tentu ini mengherankan karena model kerja sel kecil ini awal muasalnya diciptakan oleh komunis internasional.
60. Pdhl kita tahu, kelompok Islam Trans-Nasional gaungkan anti-komunis, tapi cara penguatan jaringan ala komunis ternyata mereka pakai juga.
61. Dg kaderisasi di perguruan tinggi, gerakan Tarbiyah pelan2 masuk ke sektor negara jadi PNS, anggota TNI, Polri dan profesional.
62. Di era SBY mereka juga menikmati fasilitasi beasiswa dan tugas belajar ke luar negeri.
63. Di luar negeri mereka aktif membangun jaringan dan semakin terbentuk setelah kembali ke tanah air Joxzin Jogja.
64. Mereka kemudian mulai menguasai Mesjid kementerian/BUMN dengan pendakwah dari kader Tarbiyah dan HTI.
65. Dakwah lain yg dikembangkan adlh melalui media dan medsos Kelompok ini aktif mengisi acara dakwah di TV maupun radio @RRI TVRI Nasional.
66. Di era SBY mereka diberi ruang gerak karena SBY mengangkat Menteri Kominfo yang kader PKS @tifsembiring.
67. Dengan penguasaan kementerian Kominfo oleh Tarbiyah, mereka mengendalikan media resmi seperti TVRI, RRI dan Antara.
68. Dan menempatkan kader mereka di posisi eselon 1 sampai 3 untuk jaga kontrol internet dan medsos.
69. Mereka juga agresif menyediakan jasa Ustad-Ustad untuk mengisi pengajian-pengajian komunitas Islam.
70. TV yg memerlukan penceramah agama juga disediakan oleh mereka secara gratis Dan juga melakukan dakwah melalui pengajian di radio2.
71. Di media sosial mereka juga berjaya Pendekatan pada generasi muda dilakukan melalui media sosial baik WA Groups, BBM maupun SMS.
72. Hal ini membuat metode dakwah dari @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah menjadi ketinggalan kereta.
73. Bahkan para Islam Trans-Nasional sudah membentuk pasukan dunia maya (cyber army) di medsos.
74. yg bukan hy sebarkan dakwah ala Tarbiyah dan HTI tapi jg sebarkan fitnah dg bungkus dalih agama untuk mulai serang kelompok lawan mereka.
75. Kelompok Trans nasional terutama Ikhwan dan HTI mulai ubah strategi dg membuat aliansi strategis antar kelompok Islam dg berbagai nama.
76. Bisa menggunakan Forum Umat Islam (FUI) ataupun Front-front Aksi yg bersifat taktis seperti GNPF-MUI.
77. Dengan cara itu, mereka tidak terkungkung oleh dominasi kepemimpinan @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah.
78. Upaya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah juga dilakukan SBY dengan membentuk Majelis Dzikir Nurussalam.
79. Dg bentuk kelompok ini, SBY ingin punya kendali langsung atas massa Islam tanpa harus bernegoisasi dg NU dan Muhammadiyah.
80. Cara ini jg berkembang sejalan dg tren maraknya Habib dirikan kelompok Dzikir yg pengikutnya ribuan.
81. Kegiatannya sekilas hanya berdizikir, namun dengan acara itu, bisa jadi ajang baru untuk melakukan konsolidasi massa terutama anak2 muda.
82. Alasan itu yg melatar belakangi SBY memobilisasi Majelis Dzikir Nurussalam yg dipimpin oleh Utun Tarunadjaja pada thn 2000.
83. Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam disebut sebagai mesin politik dan mesin uang tim sukses SBY nasional.inilah.com/read/detail/25.
84. Kelompok Trans-Nasional melanjutkan aksinya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah.
85.Dengan cara merebut kepengurusan organisasi fatwa seperti Majelis Ulama Indonesia.
86. Dengan menancapkan pengaruh di MUI maka mereka bisa memberikan legitimasi pada aksi yg dipakai dengan bekal fatwa MUI.
87.Mereka memanfaatkan kelengahan NU dan Muhammadiyah pasca berpulangnya KH Sahal Mahfud.
88.Dien Syamsudin dan KH Mahruf Amin yg menggantikan Sahal Mahfud justru lebih bersikap oportunis pada kelompok Trans-Nasional.
89.Dua orang pengganti Sahal ini dikenal punya nafsu politik yg tinggi dan sptnya rela meninggalkan Muhammadiyah dan NU demi posisi politik.
90.Dengan penguasaan MUI ditambah dengan terbentuknya Front aksi, maka kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam.
91.kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam dari NU dan Muhammadiyah, serta bisa kendalikan agenda politik keumatan.
92.Ini yg jelaskan knapa kelompok Trans-Nasional setir ummat utk kep. politik ideologi, yakni terwujudnya Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan.
93. Berbagai cara mereka gunakan untuk menguji kepemimpian mereka (kelompok islam trans-nasional).
94.Mulai safari Maulid Nabi ke berbagai daerah, salat subuh berjamaah sampai dengan pengumpulan dana untuk bergerak.
95.Terakhir ada upaya untuk kumpulkan dana untuk danai kelompok teroris di Suriah cnnindonesia.com/nasional/2016.
96.Demi persatuan aksi Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan, para Islam Trans-Nasional terpaksa mau terima Rizieq sebagai pemimpin gerakan.
97.Walaupun kelompok islam trans-nasional ini tahu, bahwa Rizieq FPI dibesarkan oleh elit tentara.
98.Tapi mereka tahu jg tahu kelemahan Rizieq yg mudah dibeli oleh elit politik dan punya sejumlah “cacat” yg bs stiap saat utk disingkirkan.
99.@syihabrizieq didorong-dorong masuk perangkap makar Setelah itu gantian kelompok Ikhwan dan HTI yg akan memimpin.
100.Kelompok islam trans-nasional sudah siap mengganti Pancasila dan NKRI dengan Negara Khalifah Daulah Islamiyah.
101.Sekali lagi, kepemimpinan NU dan @muhammadiyah semakin jauh disisihkan secara sistematis.
102.Entah apakah NU dan Muhammadiyah merasa “tertampar” dengan berbagai aksi Islam Trans-Nasional belakangan.
103.Atau mungkin NU dan Muhammadiyah msh blm sadari ini? Mereka masih mrasa posisinya aman walau nyatanya sdh berdiri di atas batang lidi?
104. Ketika kepemimpinan NU dan Muhammadiyah jatuh, maka jatuh pula NKRI dan sangat mudah digantikan dg Negara Khilafah Daulah Islamiyah.
105. Semoga kita Indonesia masih bisa berharap munculnya kembali kepemimpinan ummat Islam di tangan Nu dan Muhammadiyah demi tegaknya NKRI.
Terimakasih semua saudara sebangsa setanah Air. JANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI KERAGAMAN DALAM BALUTAN NKRI. kita harus jeli membaca berita dan kita harus bersatu melawan penghianat negara.

Iklan

KH Hasyim Muzadi menegaskan jika penyelesaian masalah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) melalui pendekatan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi, bukan merupakan solusi yang tepat.

“Masalah LGBT tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan HAM dan demokrasi, karena pada hakikatnya LGBT merupakan kelainan seksual dalam peri kehidupan seseorang,” ucapnya kepada pers di Jakarta, Selasa (2/2/2016) terkait maraknya polemik LGBT.

Menurut tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini, pendekatan yang benar untuk menyelesaikan masalah LGBT adalah melalui prevensi dan rehabilitasi sehingga mereka bisa kembali menjadi normal secara seksual.

Prevensi sendiri dalam istilah psikologi artinya pencegahan, dapat dilakukan sejak masa kanak-kanak sebagai upaya tangkal dini apabila terdapat gejala kelainan seksual. Caranya dengan psikoterapi, penyadaran dan latihan-latihan agar kelainan seks itu tidak menjadi berkembang.

Sementara proses rehabilitasi diperlukan untuk mereka yang sudah terlanjur menjadi bagian dari kelainan tersebut. Sesulit apa pun proses rehabilitasi, upaya itu tetap harus dilakukan agar jumlah LGBT tidak membesar.

“Dalam kaitan ini, perlu diperhatikan bahwa masyarakat umum tidak boleh menjauhi mereka secara diskriminatif, karena sesungguhnya mereka sendiri juga tidak menyukai kelainan tersebut,” imbuhnya.

image

elbowisblack.wordpress.com


image

elbowisblack.wordpress.com


Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) adalah nilai unggulan (core values) NU yang membedakan dengan organisasi keagamaan lainnya di Indonesia dan dunia. Sesuai dengan kelahirannya, NU adalah untuk memperjuangkan nilai-nilai Aswaja yang berbasis dan mengikuti pada tradisi transmisi keilmuan (silsilah sanadiyah) dan bermadzhab.

Sebenarnya tak mudah mendefinisikan Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) apalagi memberikan ciri-ciri pemikiran dan implementasinya pada sikap. Sebab mendefinisikan yang meliputi keseluruhan isi Aswaja (inclusive/jami’) dan menolak keseluruhan yang tidak termasuk di dalamnya (exclusive/mani’) sungguh amat sulit. Jika definisi Aswaja dari hadits yang diserap

image

oleh fatwa MUI adalah sesuatu yang ada pada zaman Nabi saw dan para sahabatnya, sungguh sangat luas dan sulit mengidentifikasi kelompok yang di dalam dan yang di luar Aswaja. Sulitnya terletak pada klaim bahwa semuanya adalah penganut Aswaja dengan tafsirnya masing-masing yang berbeda.

Kini menjadi penting “merebut” definisi Aswaja karena diantara 73 firqah-firqah Islam itu yang diakui dan selamat selamat kelak di akhirat hanya Aswaja. Kini beberapa paham, kelompok dan organisasi menyebut dirinya Aswaja. Namun, masing-masing kelompok dan organisasi itu memiliki penafsiran yang berbeda, bahkan kontras dan bertentangan dalam memahami akidah, syariah dan akhlak Aswaja.

Di tengah arus arogansi klaim Aswaja dan masing-masing kelompok menyatakan yang paling benar penafsirannya, NU mencoba mendefinisikan yang sekaligus mencirikan Aswaja yang dirasa benar tanpa menyalahhkan apalgi mencemoh pemahan Aswaja yang lainnya.

Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) yang dituangkan oleh Pendiri NU, Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya Risalah ahAhlu as-Sunnah Wal Jama’ah yang kemudian diserap menjadi keputusan NU, menafsirkan Aswaja sebagaimana yang dirumuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Di bidang fikih mengikuti pendapat atau metode (manhaj) salah satu empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dan di bidang tasawwuf mengikuti al-Junaid al-baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.

Abu al-Hasan al-Asya’ari (260 H/873 M – 324 H/935 M) bukan pembuat atau pencetak Aswaja, tetapi yang mengkodifikasi dan merumuskannya yang sesuai dengan pertimbangan teks (naql) dan konteks rasionalitas (‘aql). Aswaja yang dikodifikasi al-Asy’ari dibangun atas dasar teks-teks agama (nash) yang sekaligus didialogkan dengan nalar rasio (konteks). Menurutnya, tak akan pernah mengkafirkan kepada siapapun selagi masih meyakini dan mengucapkan, tiada tuhan selain Allah (ahl al-qiblah).

Pada saat yang bersamaan, NU tidak akan membenarkan kelompok rasionalis yang memutus hubungan orang yang hidup dengan yang telah wafat, kelompok yang mencaci para sahabat Nabi SAW dan kelompok libralisme (abahiyun) yang semua hal boleh sehingga tak ada batasan dan tak ada kriteria dalam beragama.

Ciri utama Aswaja ala NU adalah wasathiyah (Islam wasathi). Kemudian derivasinya tercermin dalam sikap tasamuh (toleran), tawazun (seimbang ) dan i’tidal (tegak lurus). Melalui ciri-ciri tersebut nampak dalam sikap warga nahdliyin yang akomudatif dan terbuka yang pada saat yang bersamaan juga tegak lurus dan tegas. NU bisa menerima perbedaan pandangan, keyakinan dan paham, tetapi pada saat yang bersamaan juga tegas lurus. Seperti keputusan Resolusi Jihad dalan rangka membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ciri NU adalah bermadzhab dalam pemahaman keagamaan. Berijtihad hanya menjadi hak orang yang telah memenuhi syarat sebagaimana yang tertuang dalam kitab Ushul Fiqh. Bermazhab menjadi penting karena bisa mengurai pemahaman dan penafsiran ajaran agama secara berantai melalui guru-guru sampai bersambung kepada Rasulullah saw. Tak cukup bagi warga NU hanya berguru pada buku-buku apalagi hanya melalui pencaharian artikel di internet tentang suatu ilmu, karena hal itu tak dapat menyimpulkan ilmu dan tidak mendapat barakah.

Bahaya belajar tak berguru berakibat pada penyimpulan makna teks agama sesuai dengan keterbatasan daya pikir dan kemungkinan terjerumus pada imajinasi bayangan syaitan. Guru, selain menuntun cara belajar agar lebih efektif, cepat mengerti dan terarah juga akan memberi barakah (tambah kebaikan) melalui do’a-do’anya.

Tak kalah pentingnya bagi warga NU adalah bermazhab dengan salah satu mazhab fikih yang telah diakui dan terbukukan. Bermazhab sangat penting bagi umat beragama sebagai mata rantai keilmuan dan menghargai jerih payah upaya keilmuan ulama terdahulu. Bermazhab tak berarti hanya terpaku pada ucapan dan tulisan (ibarah) saja tetapi juga bisa bermadzhab secara metodologi. Sebab bermadzhab itu menjadikan keberagamaan yang seimbang dan lebih mengarahkan pada pemahaman agama secara tekstual yang sekaligus kontekstual. Cara beragama yang tidak bermazhab cenderung ahistoris, mengingkari teks sejarah dan memutus mata rantai keilmuan.

Ciri berguru dalam belajar ilmu dan bermazhab dalam mengamalkan agama popular dengan ungkapan, “memelihara tradisi lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” (al-muhafazhah ‘ala al-slafi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al ashlah). Yaitu mempertahan tafsir dan cara beragama seperti gerenrasi terdahulu yang masih sesuai kondisi dan mengupayakan penafsiran agama yang lebih sesuai dengan konteks dan tuntutan zaman.

Corak keberagamaan warga nahdliyin kreatif. Sesuatu yang baru dalam beragama tidak semua dilarang atau sesat. Sebab, NU membedakan antara kreatifitas baik yang berkenaan dengan syi’ar agama (bid’ah hasana) dengan kreatifitas yang merusak agama yang berkenaan dengan esensi agama (bid’ah sayyi’ah).

Dalam tradisi keagamaan warga NU banyak cara untuk menyampaikan dan melakukan ajaran Islam, seperti perayaan maulid Nabi saw, istighatsah dan perayaan-perayaan keagaman.  Cara bernegara pun NU mengedepankan maslahah dan persatuan demi terjaminnya kebebasan umat beragama. Islam tidak harus menjadi label negara, yang terpenting nilai dan dakwah Islam bisa dijalankan dengan baik. Pun agama lain bisa hidup berdampingan dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

image

Ber-Islam menurut NU yang wajar-wajar saja. Mendekatkan diri kepada Allah SWT secara wajar yang sesuai dengan tuntunan-Nya. Demikian juga berinteraksi dengan masyarakat dengan wajar mengikuti pola dan budaya masyarat setempat. Teks dipahami sebagai petunjuk untuk mengukur kebenaran, sedangkan konteks masyarakat adalah area untuk membumikan teks ajaran Islam dalam kehidupan  Klik

elbowisblack.wordpress.com


Kabut hitam menyelimuti dunia yang fana
Terik matahari memanas di padang sahara
Tangan-tangan yang kekar mengucurkan madu
Ternyata tipuan belaka

Suara kendang betalu-talu
Dupa mewangi mengepul yang memabuk kasih
Mawar-mawar yang indah menjadi layu
Putik-putik bunga berserakan merana sambil bertanya apa salahku

Rumah yang suci dipagari batu-batu yang dianggap dewata
Namun Engkau Mahakekal Mahakasih lagi Penyayang
Engkau turunkan perahuMu penuh dengan air Telaga Kautsar
Mengulurkan tangan kasih sayang yang abadi

Beruntunglah atas manusia yang mau meneguknya
Karena secercah air Telaga Kautsar akan menjadi pelita hati yang abadi
========================================
Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya dalam acara Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. di PP Ma’hadut Tholabah Babakan, Lebaksiu, Tegal, 30 Januari 2016:

image

Klik

(Sya’roni As-Samfuriy)

elbowisblack.wordpress.com


Mojok.co ~ Insiden Tolikara mengajarkan kita banyak hal untuk dipikirkan: bagaimana merespons hal-hal yang belum jelas kebenarannya, bagaimana bersikap terhadap berita-berita provokatif.

image

Di abad media sosial ini, tautan berita atau tulisan yang diberikan seseorang bisa menjadi tolok ukur kecerdasan orang itu. Misalnya, jika sekali waktu seseorang memberikan tautan status facebook Jonru atau berita dari PKS piyungan, maka alhamdulillah, kita bisa tahu kualitas kecerdasan orang itu. Tentu saja dengan sedikit perkecualian.

Jika orang itu bukan saudara bukan teman, cukup di-unfriend saja, jika ia kakak kandung anda yang kebetulan juga seorang fundamentalis garis keras, cukup di-mute atau di-unfollow. Anda tidak harus menanggapi tautan itu. Dengan mendiamkan anda bisa jadi lebih bahagia. Hubungan keluarga tidak rusak, akal sehat terjaga, dan yang paling penting anda tidak terpapar polusi kedunguan.

Namun pasti suatu saat, akan tiba masa di mana anda mesti berjihad melawan kedunguan. Saat-saat di mana kebodohan sudah paripurna, dan mendiamkan bukanlah pilihan. Yaitu ketika orang-orang yang anda sayang, orang-orang yang anda cintai, atau bahkan mantan orang-orang pernah anda kasihi, menjadi korban berita dusta. Itu adalah saat yang paling tepat bagi anda untuk balen bersuara. Bertindak untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Berikut ada beberapa cara agar Anda bisa menyelamatkan orang-orang yang anda kasihi. Mengajak mereka untuk tidak jadi tolol di Internet. Agar tidak menyebarkan berita provokatif yang belum terverifikasi kebenarannya, supaya tidak ikut menyebarkan status-status kebencian yang tidak bisa dibuktikan fakta-faktanya.

Dengan memberikan panduan ini, setidaknya, anda menyelamatkan satu manusia dari barisan kebodohan.

1. Verifikasi
M. Said Budairy, ombusman legendaris majalah Pantau itu, pernah berkata: verifikasi merupakan syarat kerja wartawan profesional. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam buku mereka yang berjudul 9 Elemen Jurnalisme, berkata bahwa esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

Tanpa verifikasi, kerja media yang secara objektif berkejaran dengan waktu akan serampangan. Kelengkapan, otentitas, akurasi informasi dipertaruhkan.

Jika ada media, atau pesohor Facebook, yang berulang kali menuliskan berita bohong, kabar dusta, pantaskah ia dipercaya? Oh, kita bisa saja berkata bahwa blog piyungan itu bukan media jurnalistik, atau pesohor Facebook itu bukan jurnalis. Nah, kalau sudah begini, kita kembalikan saja, jika mereka bukan siapa-siapa kenapa kita mesti percaya? Dan mengapa anda membagi tautan berita/status orang itu?

Sebuah media yang kerap menulis berita bohong tidak pantas dipercaya. Seseorang yang kerap menyebarkan berita dusta, lantas menghapusnya tanpa pemberitahuan dan permintaan maaf, selayaknya tidak lagi diberikan kesempatan bicara.

Lantas bagaimana jika ia tetap saja bicara? Ya tidak perlu didengarkan lagi.

2. Reputasi dan Integritas
M. Said Budairy juga berkata, landasan moral profesi mengharuskan wartawan menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Bukan untuk menebak-nebak mana yang benar mana yang salah. Verifikasi berfungsi sebagai filter, ia akan menghilangkan bias opini dari fakta, juga menyelamatkan seseorang dari penyebaran kebohongan.

Jika verifikasi ini bisa dilakukan, niscaya Anda bisa balikan menjadi seseorang yang berpendapat tanpa takut apa yang anda katakan berasal dari kebohongan.

Disiplin melakukan verifikasi (jika anda tidak suka kata ini bisa diganti tabayun) bisa membuat penulis menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan tulisan yang baik dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.

Dan pada akhirnya, media atau individu yang biasa berpendapat dengan disiplin verifikasi yang ketat akan memiliki reputasi yang baik dan integritas yang dapat dipercaya.

Jika anda masih ngotot membagikan tulisan dari situs yang berulang kali menyebarkan berita bohong, atau seseorang yang kerap berdusta, anda barangkali butuh psikolog untuk menguji kualitas kewarasan.

3. Proporsional dan Komprehensif
Andreas Harsono, jurnalis dan aktivis hak asasi manusia, mengatakan dalam resensi 9 elemen Jurnalisme, suratkabar (dalam hal ini portal berita online) seringkali menyajikan berita yang tak proporsional, dengan judul bombastis dan sensional yang kadang tidak sesuai dengan konten berita. Penekanannya pada aspek yang emosional. Sehingga bisa saja seseorang menulis judul yang aneh untuk mengejar klik dan hit dari pemberitaan yang ia tulis.

Lantas bagaimana memahami kualitas berita proporsional dan komprehensif? Pertama, lihat bagaimana media itu bekerja, apakah mereka kerap menuliskan judul berita yang berbeda dengan isi berita? Apakah berita itu kerap menggunakan kata-kata seperti ASTAGA?  BUJUBUNENG? EBUSYET? SEGAN? Atau yang lebih agamis seperti Astagfirullah, Subhanallah dan sejenisnya. Judul yang demikian menggiring opini pembaca bahkan sebelum beritanya kelar dipahami. Dari pengalaman yang sudah-sudah, media yang menggunakan judul seperti ini bahkan tidak becus dalam masalah ejaan, apalagi masalah verifikasi.

Nah, itulah beberapa cara agar kita tidak jadi tolol di Internet. Susah memang, lebih mudah menyebarkan berita tanpa verifikasi, atau berkelit “Ah, saya cuma berbagi,” ketika ketahuan beritanya bohong.

Tapi saya yakin Anda, seperti sedikit orang waras di dunia, tidak ingin jadi keledai yang membuat kebodohan berulang-ulang. Cukuplah itu dipanggul oleh orang-orang yang merasa cukup masuk sorga dengan menyebarkan berita bohong.


Mojok.co ~ Sebuah masjid di Papua terbakar di hari Idul Fitri. Versi ceritanya lebih dari satu. Ada yang bilang, masjid itu dibakar oleh sebuah jemaat Kristen yang intoleran. Yang lain bilang, api berasal dari pasar, lalu merembet ke masjid. Wapres bilang, ini gara-gara speaker. Ada juga yang bilang, ini gara-gara tentara. Yang jelas kasus ini butuh diselidiki lebih lanjut.

image

Kita boleh waspada tapi jangan gegabah. Apalagi kita tidak sedang di Tolikara, daerah terpencil yang sulit ditempuh dari kota-kota utama.

Lalu seorang Hafidz Ary berkicau di linimasa: “Jika muslim di jakarta atau jawa minoritas, pembakaran masjid ya terjadi juga di sini,” dan “Umat Islam sudah begitu tolerannya, Indonesia jd negara dg gereja terbanyak di dunia, yg didapat? masjid dibakar.”

Sisanya adalah cuitan-cuitan lain yang kepingin membimbing umat ke “jalan surgawi”, “jalan syuhada.”

Pernyataan-pernyataan Akhi Hafidz jelas kacau. Di Jawa, Muslim bolehlah mayoritas. Di Timur belum tentu—dan tentu itu bukan alasan untuk merusak masjid.

Jika benar masjid itu sengaja dibakar, pastilah para perusak masjid itu memiliki alur berpikir yang sama dengan antum: “Kami di Timur sudah kasih toleransi yang besar terhadap Muslim, tapi …. bla bla bla bla”

Dua cara pandang ini adalah dua sisi dari koin yang sama. Sama-sama bermasalah. Sama-sama memperkeruh suasana.

Begini ya, Dik Hafidz. Rajin-rajinlahlah bergaul dan jalan-jalan. Antum akan temukan bahwa Muslim minoritas yang antum bela itu sebelas-duabelas nasibnya dengan Ahmadiyyah yang penutupan masjid-masjidnya antum dukung. Antum juga akan berjumpa dengan Hafidz Ary versi Kristen, Hafidz Ary versi Hindu, versi Buddha, versi Yahudi, dan buanyak lagi.

Antum tahu Ashin Wirathu kan, biksu Myanmar yang meneror Muslim Rohingya itu? Nah, andaikata antum pindah ke agama Buddha dan transmigrasi ke Myanmar, mungkin antum bakal gabung sama beliau.

Makanya antum nggak usah GR, deh. Spesies kayak antum itu nggak unik. Ada di hampir semua agama. Sama-sama nyebahi, sama-sama belum lurus kencingnya.

Daripada ngompor-ngomporin orang sambil mensyen-mensyen Pak Lukman Saifuddin, dan nyuruh beliau action, Dik Hafidz baiknya refleksi diri: yang terjadi pada masjid di Papua itu persis seperti yang menimpa banyak tempat ibadah lain di Jawa, entah itu gereja atau masjid orang Islam yang beda aliran, dari Ahmadiyyah sampai Syiah.

“Lho tapi kan mereka melecehkan agama Islam, agama mayoritas!” gugat antum.

Akhi Hafidz ini gimana sih. Antum kira yang yang dilecehkan cuma Islam? Terus, selama ini antum ngapain kalau nggak melecehkan agama orang? Memangnya cuma agama yang bisa dilecehkan? Coba main-main ke Kendeng, lihat bagaimana aparat melecehkan ibu-ibu yang memprotes perampasan tanah.

Lagian juga, apa Dik Hafidz ini tiap hari nggak melecehkan pekerjaan mertua, yang di Lebanon jadi pelayan Jokowi–presiden yang antum bilang thaghut itu?

Ya ane nggak suka-suka banget sih sama Jokowi, juga nggak benci-benci amat. Biasa aja. Tapi minimal ane kan nggak punya mertua pejabat, jendral, apalagi dubes di Lebanon. Boro-boro punya mertua, laku aja kagak.

Oh iya, Dik Hafidz pernah angkat senjata di daerah konflik? Di Ambon, orang-orang yang lelah berperang malah sibuk meretas jalan damai. Mending antum samperin orang-orang MUI cabang Ambon yang turut merajut rekonsiliasi. Mereka paham, dari pihak Muslim maupun Kristen, ribuan nyawa terbuang sia-sia, anak-anak tidak bisa sekolah, para pemuda menganggur. Mereka paham bahwa kedua kubu dipanas-panasi, dipasok duit dan senjata oleh orang-orang kaya di Jakarta.

Nah, antum kira perang itu cuma soal kehormatan. Antum pikir perang cuma urusan melindungi “Muslim yang tertindas”? Hih.

Memang gampang membelokkan isu politik di Papua menjadi isu agama. Begitu muncul kabar masjid terbakar, antum langsung ngetwit, “Teroris kristen harus ditindak tegas , apalagi jika ada kaitan dg separatisme. “…harus diwaspadai, ulah gereja di Papua dalam agenda separatisme. Muslim harus jaga NKRI, kalo bukan kita siapa lagi?”

Dik Hafidz, gerakan kemerdekaan Papua tidak ada hubungannya dengan agama. Orang di sana menuntut merdeka karena berpuluh-puluh tahun tanahnya dirampas korporasi-korporasi bajingan dan ditindas tentara—iya, tentara yang dulu juga membantai muslim di Tanjung Priok dan Talangsari.

Makanya, jika ada yang “mengkristenkan” orang-orang berjiwa merdeka itu, ya mungkin cuma Dik Hafidz Ary seorang. Apa, antum bilang musibah hujan salju di Lanny Jaya itu gara-gara nggak  ada masjid di sana?

Dik Hafidz, tanyalah kenapa aparat keamanan terus bertambah, dan orang-orang Papua—mau Eslam atau Kresten—tetap saja terbunuh sia-sia. Coba telisik kenapa militer ngotot kodam-kodam baru didirikan di sana, sementara orang Papua makin habis diberantas. Jarang ada yang angkat bicara di isu ini, lho. Dari orang-orang beriman yang rindu surga macam Dik Hafidz sampe yang cinta duniawi, rata-rata adem-ayem aja tuh.

Pernah dengar kasus tentara tembak mati beberapa remaja di Paniai? Apa? nggak pernah?

Di Medsos itu, Dik Hafidz, banyak informasi bertebaran. Sebagian besar noise. Tapi tidak sedikit juga yang betul-betul berguna, meskipun tertutupi oleh noise seperti cuitan-cuitan antum. Apa Dik Hafidz mau, disangka teroris gara-gara twit-twit nggak mutu? Saya sih berharap tidak, karena saya pun paling anti mencap orang lain teroris. Plus, Dik Hafidz ini kan konon lulusan cemerlang ITB. Sebagai lulusan ITB dan kebanggaan mertua,  carilah pekerjaan yang benar, Akhi.

Mosok alumni ITB cuma jago ngetwit nggak mutu. Kalo ditanya sumber faktanya dari mana, trus Antum akan jawab dari capture-capture berita Arrahmah, VOA-Islam,  PKSpiyungan, Nahimunkar, Pribuminews, gitu?

Dik Hafidz, seandainya ane dulu dosen antum, jawaban-jawaban seperti itu bukan hanya bisa bikin antum dapat nilai F. Ane bahkan akan merekomendasikan supaya antum diospek lagi.

Dik Hafidz, tingkah lakumu yang pecicilan itu, alih-alih membantu minoritas muslim Papua, justru hanya membangun kesan bahwa antum itu telat bandel dan masa remaja antum tidak bahagia. Sejauh ini antum cuma mengesankan diri sekadar sebagai remaja alay yang baru bisa naik motor dan pengen kebut-kebutan biar dibilang jantan.

Mungkin Dik Hafidz perlu gabung klub bela diri. Selain bisa menyalurkan masa puber yang belum tuntas, antum juga bisa jauh lebih sehat jasmani rohani.

Ya sudah, Dik Hafidz. Nggak usah mewek gitu lah. Saya mau bobo dulu. Antum juga istirahat ya. Rehatlah sejenak dari twitter. Besok mertua antum menghadap presiden. Halal Bi Halal. Temani beliau. Jangan lupa pakai batik lagi, dan senyumlah selebar ketika mertua antum ketiban rejeki.