Archive for the ‘Kasih Tuhan’ Category

​KONSER ZAKIR NAIK

Posted: Juli 19, 2017 in Kasih Tuhan

De Fath, 8 jam yang lalu – Lewat telpon, saya diajak nonton Zakir Naik oleh beberapa Alumni, menurut mereka supaya saya tidak terlalu jauh tersesat, segera kembali ke jalan yang benar. Jalan yang ditawarkan Zakir Naik cocok untuk orang yang sedang tersesat seperti saya, kata mereka sambil tertawa gurih
Saya tersenyum, selama ini mereka tidak pernah menelpon saya, tiba tiba menelpon mengajak menonton Zakir Naik. Bagi saya ini sindiran tingkat Alexis. Baiklah saya akan bercerita, mumpung kalian yang menelpon saya

“Saya sudah selesai dengan Zakir Naik. Saya dulu sempat pengagum Ahmad Deedad, orang yang dicontoh Zakir Naik, ada yang bilang, dia gurunya Zakir Naik. Saya ingat, saat itu kalian masih unyu-unyu  kumpul dengan Aak Gim menangis bersama di geger kalong meratapi nasib, atau sekelas kader ormas Islam yang kerjanya tidur, makan, mandi di masjid. 

Kalian mendengar Zakir Naik hanya supaya bisa tidur nyenyak, berselimut keimanan kalian sambil mentertawakan kesesatan keimanan umat lain. Kalian tidak pernah berpikir bagaimana kalian juga sesat di mata keimanan orang lain. Lalu kalian bangga, sezalim-zalimnya kalian tapi tetap masuk surga asal beriman. Surga mana ? Jika surga yang dimaksudkan itu disaat batang Zakar Naik, itu betul
Jika kalian jijik melihat ular, pernahkah kalian berpikir, bahwa ular pun jijik melihat kalian. Begitulah kira kira benang merahnya
Islam seperti apa yang ditawarkan Zakir Naik ?, Islam yang menyalah-nyalahkan ajaran umat lain ?, Islam yang menganjurkan menggendong panci hanya untuk menghancurkan rumah ibadah umat lain ?, Islam tukang koreksi kitab suci umat lain ?, Islam yang tidak mencintai tanah air ? Khilafah solusinya ? Itulah intinya
“…Tolong sampaikan ke Zakir Naik, urusi saja umat Islam di Timur Tengah yang hijrah ke negeri kafir karena perang tak berkesudahan. Urusi saja apa sumbangsih umat Islam untuk peradaban dunia di masa depan. Sampaikan ke Zakir Naik, urusi saja umat Islam agar tidak menjadi horror negara-negara di dunia. Urusi saja umat Islam yang hanya menjadi cheerleader dalam penguasaan teknologi dan perekonomian dunia….” (Makjleb)
Sudahlah, jika anak-anak berumur belasan tahun takjub dengan Zakir Naik itu wajar. Tapi jika sudah bau tanah atau umur sudah 1/3 abad masih kagak bisa nalar mana Islam, mana pedagang agama, mana Industri ceramah yang ujung-ujungnya duit, itu artinya sudah tanda-tanda pekok stadium 2
Satu lagi, jangan berhenti belajar hanya pada Zakir Naik saja, nanti “pekok awet”, masih ada Mbah Mustafa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Quraish Shihab, Habib (asli) Luthfi bin Yahya, dan banyak lagi”

Krik, krik, krik,…telponnya wafat

Bacanya sambil srufut kopih

​CAK NUR MENGINGATKAN ANIES

Posted: Maret 18, 2017 in Kasih Tuhan

D’Fath ~ Hari hari Anies setelah mendapatkan suara 39,5% seperti kandidat Calon Presiden saja, tampak sekali perubahan muka dalam menghadapi media, maklumlah dengan modal itu ia berkeyakinan memenangkan petarungan di Jakarta. 39,5 + 17 = Presiden RI. Begitu itungan bodoh-bodohannya.

Awalnya suara Anies tidaklah masuk hitungan bahkan banyak yang meragukannya, partai pendukungnya sudah ketar-ketir dengan hasil polling dari semua lembaga survei. Tapi setelah Anise main ke toko sebelah sowan ke markas FPI, mengklarifikasi dirinya bukan Wahabi dan Syi’ah. Maka suara Anise langsung mengelinjang mengalahkan Agus.

Ibu-ibu kalau shalat witir berapa rakaat? 1 rakaat boleh nggak?” tanya Anies.

“Boleh,” jawab mereka serempak.

“Kalau 2 rakaat?” lanjut dia.

“Tidak.”

“Kalau tiga boleh, Bu?” tanyanya lagi.

“Boleh.”

“Kalau ibu-ibu shalat witir 1 rakaat sama 3 rakaat afdhal mana?” tanya cagub nomor urut tiga ini.

“Tigaaa,” jawab mereka serentak.

Jika mengacu ucapan Anies soal “Afdhal mana?” Bukankah lebih afdhal 5 rakaat atau diatasnya dibandingkan 3 rakaat? Jadi dengan merendahkan witir 1 rakaat, mengabaikan witir 5 rakaat keatas dan mengidentikkan dengan menolak pasangan calon no urut 2, itu sangat jelas Anise sudah bermain dalam isu agama.

Sepertinya Nurcholis Madjid sebagai Guru dari Anise dan Presiden PKS sedang memberikan kuliah dari dalam kuburnya tentang konsep sekularisasi, menurut Cak Nur sesuatu yang sakral dalam agama harus disakralkan, sholat adalah kegiatan sakral karena itu jangan disempali dengan politik.

Tapi yang dilakukan Anise malah membawa Politik ke ranah sakral, menurut Cak Nur Saklarisasi kepada sesuatu selain kepada tuhan pada hakikatnya adalah syirik. Jadi Politik dengan isu agama itu adalah prilaku Syirik. Dan mereka sedang menikmatinya.


Pertama kali saya mendengar nama Jokowi ketika ada pemberitaan hangat mengenai mobil Esemka di Solo. Waktu itu Pak Jokowi masih menjabat sebagai walikota di sana. Jujur dan maaf pada Pak Jokowi, kesan pertama saya melihat Jokowi adalah beliau tidak ada kesan atau punya tampang sebagai pemimpin. Nggak cocok banget, sori ya Pak Jokowi, maafkan saya.

16832197_291102294640975_7119735565031267712_n

Namanya makin tenar ketika namanya disebut-sebut dan ternyata mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Ahok. Namanya terus tenar hingga memenangkan Pilkada DKI dengan menyingkirkan Fauzi Bowo alias Foke. Dua nama ini seolah menyedot perhatian media kemana pun mereka pergi dan beraktivitas. Dan hanya dalam waktu 2 tahun, setelah rumor sana-sini, Jokowi langsung mencalonkan diri menjadi Presiden dan ternyata juga menang setelah menyingkirkan Prabowo-Hatta.

Jujur, saya juga kurang sreg waktu itu. Kenapa Jokowi seperti kutu loncat? Jabatan walikota Solo belum selesai, sudah jadi Gubernur DKI Jakarta. Belum juga selesai periode pertama, sudah langsung lompat jadi Presiden. Saya rasa ini sangat konyol waktu itu. Saya sempat berpikir Pak Jokowi seperti orang yang haus kekuasaan, ada peluang langsung lompat dan rebut.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa Pak Jokowi bukan orang sembarangan. Kinerjanya telah membuka mata saya dan malah sekarang saya jadi bertanya-tanya apa saja yang sebenarnya dilakukan pemerintah dulu? Kenapa orang seperti Jokowi baru hadir sekarang, nggak dari dulu-dulu?

 Salah satu style yang saya sukai dari Pak Jokowi adalah slogan kerja, kerja dan kerja. Kalau kata orang tua saya, Pak Jokowi orangnya ligat dan tidak lamban kayak siput. Ini terlihat dari banyaknya infrastruktur dan proyek-proyek yang sedang dibangun dan sudah selesai. Kalau saya sebutkan satu per satu mungkin bisa dijadikan novel utuh. Salah satunya adalah pembangunan jalan seperti Trans Papua dan Trans Sumatera, perluasan dan pembangunan bandara, pelabuhan, proyek pembangkit listrik. Dan yang lebih hebatnya, untuk pertama kalinya sejak Jokowi memimpin, daerah luar Jawa mendapat perhatian khusus, tidak lagi mendapat diskriminasi seperti anak tiri yang terbuang. Lihat saja Papua yang sekian tahun tidak begitu dipedulikan. Hanya Jokowi yang benar-benar menaruh perhatian. Jokowi tidak lagi melulu fokus pada Jawa-sentris. Dan yang lebih hebat lagi, beberapa proyek mangkrak warisan pemerintah dulu, juga dikebut dan diselesaikan.

Kekaguman saya makin bertambah saat Jokowi menunjuk Menteri yang benar-benar kapabel dan kredibel, dan yang tidak sesuai harapan langsung di-reshuffle. Yang paling memorable bagi saya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang secara background juga tidak cocok, tapi siapa sangka dia mampu menjadi salah satu menteri terbaik di Indonesia. Terkenal akan ketegasannya dalam menindak pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia sampai-sampai dibuatkan meme dengan tagline pamungkas ‘Tenggelamkan!”. Hasilnya Indonesia sempat meraih nomor satu dalam pemberantasan illegal fishing.

Dan hanya di zaman Jokowi, pariwisata Indonesia benar-benar diperhatikan dan dibahas serius. Ini yang membuat saya salut. Bagaimana tidak, dari semua negara tetangga ASEAN, Indonesia adalah negara terluas, tapi kunjungan turis asing kalah telah Malaysia, Thailand bahkan Singapore yang luasnya hanya seupil pada peta. Malaysia mampu mendatangkan 24 juta turis, Thailand 32 juta Turis, Singapore 15 juta turis, sedangkan Indonesia tahun 2016 hanya kedatangan 12 juta turis. Halo, apa saja kerjaan pemerintah dulu? Potensi keindahan alam dan budaya sangat tak terbatas, tapi tak dimaksimalkan dengan baik. Negara tetangga sudah sadar akan potensi pariwisata dalam menggenjot devisa negara sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Tapi kenapa baru Jokowi yang menyadari potensi dan promosi besar-besaran demi target 20 juta turis di tahun 2019.

Salah satu hal yang membuat tertawa lucu adalah candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja. Candi ini dikunjungi 2,5 juta turis per tahun, bandingkan dengan candi Borobudur yang hanya dikunjungi 250 ribu turis per tahun. Kalah 10 kali lipat. Jelas nggak ada niat promosi dari pemerintah terdahulu. Kenapa tidak ada niat, tanya pada yang bersangkutan. Kawasan yang tidak lebih maju dari kota Indonesia, tapi bisa menang.

Jokowi memang kerempeng dan secara tampang kurang meyakinkan, tapi itu hanya kamuflase saja. Jokowi lebih dari apa yang terlihat dari luar. Kurus tapi sangat tegas dan tidak main-main, cepat dalam bekerja dan membangun. Dan yang terbaru adalah konflik RI dan Freeport yang memanas di mana Freeport mengancam akan menggugat pemerintah Indonesia ke Arbitrasi Internasional mengenai masalah Kontrak Karya yang diminta agar mengubahnya ke IUPK sebagai satu-satunya jalan agar Freeport dapat mengekspor konsentrat. Pemerintah tidak takut dengan ancaman dan gugatan Freeport ke Arbitrase Internasional dan siap untuk menghadapinya.

Jokowi juga terkenal jarang dan saya tidak pernah mendengar beliau mengeluh layaknya anak kecil apalagi mewek-mewek di media sosial mengenai betapa malang nasibnya, betapa sulitnya masalah yang dia hadapi. Saya tidak pernah dengar seperti itu. Bahkan dalam beberapa kesempatan, responnya malah santai dan tenang, mampu membawa diri dengan baik. Sisi lain yang menjadi nilai plus Jokowi adalah kesederhanaan. Tidak malu-malu membeli barang yang biasa-biasa saja.

Dan sebagai penutup, pada musim panas nanti, patung lilin Jokowi sudah siap dan akan dipajang di Madame Tussaud Hongkong berbarengan dengan patung Soekarno. Ini sudah menjadi bukti, bahwa Jokowi bukan orang yang pantas dikagumi. Tidak semua orang bisa menjadi objek patung lilin di sana. Bahkan sebelum dipastikan pembuatan patung lilinnya, Jokowi mengungguli Hillary Clinton dan Donald Trump mengenai siapa yang akan dibuatkan patung lilin. Luar biasa bukan?

Dulu mungkin saya tidak yakin, sekarang saya sangat yakin dengan kemampuan Pak Jokowi. Badan memang kerempeng, tapi nyali setara banteng, kinerja dan prestasi mentereng hanya dalam waktu 2 tahun lebih saja.

Don’t judge Jokowi by the appearance.

Bagaimana menurut Anda?

 

DIAM SUDAH GAK MUSIM

Posted: Februari 22, 2017 in Kasih Tuhan

Banyak orang menyangka, kaum spesies dengkul pandai meributkan hal remeh temeh, disangkut pautkan dengan agama. Orang mengira itu disebabkan karena kebodohan belaka.
Bukan. Sesuatu yang tampaknya bodoh itu, menurut saya, memang sengaja disetting. Sengaja diproduksi. Tujuannya simpel. Untuk menciptakan kegaduhan terus menerus di masyarakat dan menjaring spesies dengkul lainnya. Mereka dijanjikan surga, padahal yang mau diciptakan adalah neraka.

Target besarnya untuk menciptakan konflik horisontal. Sebab konflik horisontal hanya bisa dibuat jika populasi spesies ini semakin banyak.

Penciptaan konflik horisontal itu dibarengi dengan terus menerus melemahkan negara. Segala isu diprosuksi untuk menciptakan ketidakpercayaan publik. Yang paling gampang adalah memperhadapkan negara dengan agama.
Kenapa perlu diciptakan konflik horisontal dan pelemahan peran negara?

Begini. Jika negara kuat, masyarakatnya kuat, akan tercipta sistem yang kokoh. Demokrasi berjalan, fungsi korektif menyehatkan dan ada keseimbangan kekuasaan.
Jika negara kuat dan masyarakatnya lemah, yang terjadi adalah otoritarian. Kita pernah merasakan di jaman Soeharto. Sementara jika negara lemah, masyarakat kuat, yang akan terjadi adalah chaos.

Nah, jika negara lemah dan masyarakatnya juga lemah, yang akan terjadi adalah intervensi asing. Kondisi seperti ini terjadi di Suriah, Libya, Irak, Yaman, juga berbagai negara Afrika.

Coba lihat kondisi kita sekarang, kegiatan melemahkan fungsi negara terus menerus dilakukan. Masyarakat diajarkan anarkis. Hanya karena fatwa MUI ormas bisa melakukan sweeping ke mall atau menekan aparat. Desain uang dan banyak soal remeh temeh lainnya dipermasalahkan.

Salah satu ciri negara yang melemah adalah berkuasanya gerombolan sipil bergaya militer di masyarakat. Lihat saja. Laskar-laskar, organsasi kedaerahan, dan kelompok agama para militer saat ini. Pada beberapa kasus justru ulahnya mengalahkan polisi. Sweeping dan pembubaran kegiatan agama, sudah sering kita dengar. Juga demonstrasi untuk menekan sistem hukum.

Organisasi yang jelas-jelas tujuannya merusak NKRI tumbuh dan makin membesar. Mereka bahkan bisa teriak-teriak hendak menggantikan Pancasila dengan khilafah di jalanan umum.

Semua kebijakan negara dibenturkan dengan isu agama. Spesies dengkul yang otaknya dimakan tikus, melahap semua ini dan menganggap sebagai perjuangan agama. Mirip publik Libya diawal kehancurannya.

Bagaimana dengan usaha pelemahan masyarakat? Itu dilakukan dengan mengkondisikan konflik horisontal. Sama juga, modalnya adalah isu agama dan rasial.

Nah, coba perhatikan. Seberapa gampang kini masyarakat menuding kafir dan sesat kepada orang lain. Makin enteng bukan? Bukan saja kepada mereka yang berbeda agama, tapi juga yang seagama. Pada siapapun yang berbeda maunya berantem terus.

Sedangkan konflik rasial terus dihembuskan dengan menciptakan permusuhan pada etnis Tionghoa. Yang paling bodoh mereka menyamakan segala hal berbau RRC dengan WNI berdarah Tionghoa. Itu sama saja RRC sebagai sebuah negara, jelas berbeda dengan WNI etnis Tionghoa. Suriname yang warganya berdarah Jawa juga gak ada hubungannya dengan Indonesia. Cuma ada hubungan sejarah. Tidak lebih.

Mengapa kebencian pada etnis Tionghoa terus dihembuskan? Selain menciptakan konflik horisontal juga usaha melumpuhan ekonomi kita.

Harus diakui, akibat kebijakan Orba, saudara-saudara kita etnis Tionghoa menempati posisi ekonomi cukup baik. Selama ini, karena trauma dengan kerusuhan 1998, orang-orang kaya lebih memilih menyimpan asetnya di luar negeri. Aset-aset inilah yang ingin ditarik kembali oleh Presiden Jokowi dengan program tax amnesty.

Langkah itu akan terhambat jika para pemilik aset besar itu, tidak merasa nyaman dengan kondisi Indonesia.
Bayangkan jika ketidaknyamanan ini terus terpelihara. Bukan hanya aset dari luar ogah masuk, justru malah duit di dalam negeri akan kabur ke luar.

Ini berakibat akan semakin beratnya ekonomi nasional. Rakyat susah. Lalu muncul ketidakpuasan pada pemerintah. Nah masalah ekonomi, konflik agama dan rasial merupakan paduan yang pas untuk memporakporandakan bangsa.

Dari semua usaha itu, kita lihat tampaknya seperti ada sekelompok orang yang sedang membangun landasan untuk mendaratnya kekuatan asing disini. Polanya sama dengan Suriah atau Libya. Ada orang yang hendak mengundang perampok masuk ke dalam rumah dan merampas harta benda kita.

Jika itu terjadi, siapakah yang paling menderita? Seluruh rakyat Indonesia. Termasuk spesies dengkul itu juga. Termasuk anak cucu keturunan mereka.

Sekarang mereka seolah bangga, seperti sedang memperjuangkan agamanya. Bergaya mau mencium bau surga. Padahal yang dilakukannya cuma merusak masa depan anak cucunya sendiri. Cuma menghadirkan neraka di negerinya sendiri.

Untuk menyelamatkan masa depan anak kita, tidak ada cara lain selain mengurangi populasi spesies dengkul ini dan menjaga jangan sampai terjadi konflik horisontal. Sambil terus memperkuat peran negara.

Jangan diam. Indonesia membutuhkanmu. Anak cucumu berharap besar padamu.
Dulu orang mengira diam itu emas. Sekarang diam sudah gak musim.
#EkoKuntadi #


Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah memiliki perbedaan yang jauh, sehingga jangan sekali-kali mencoba untuk mempersamakannya. Ilmu Tasawuf itu erat kaitannya dengan ilmu tarekat dan ilmu syariat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Mempelajari tasawuf tanpa syariat itu jelas tidak dibenarkan.

Untuk mempelajari tasawuf, harus mempelajari ilmu syariat dulu. Syariat sudah mengatur dan menjadi dasar. Kalau dipelihara dengan baik akan berbuah tarekat. Pakaian di antara tarekat tersebut adalah tasawuf. Ia mengatur bagaimana menjaga perbuatan, iman, amal dan Islam. Yaitu untuk mengantisipasi datangnya penyakit penyebab rusaknya amal, itulah yang disebut tasawuf. Maka itu inti tasawuf adalah akhlak dan adab atau sopan santun.

Ada orang yang diberi kelebihan oleh Allah (Swt) berupa ahlak dan adab. Ia memiliki kemampuan weruh sak durunge winarah, atau waskita, yaitu tahu sebelum kejadian. Bagi orang yang tahu, tidak akan berani berbicara sembarangan. Ia merasa malu kepada Allah karena mendahului kehendak-Nya.

16195194_1237850319634075_5273792581127415184_n

Orang yang mencapai tingkatan tasawuf yang berakhlak dan beradab, akan mempergunakan tasawuf untuk menjaga diri dari perbuatan yang tidak menguntungkan. Seperti bagaimana membersihkan riya’, atau bagaimana cara mem-bawa wudu yang maknannya bukan sekadar untuk menja-lankan shalat tapi di luar shalat. Tapi bisakah wudu itu, setelah menyucikan secara lahiriah, juga membuat suci batin. Ini hakikat wudu dalam dunia tasawuf.

Sedangkan ilmu hikmah berbeda.

Ilmu hikmah, asal dia mengetahui ilmu tauhid itu sudah cukup. Yaitu mempelajari fatwa ulama khususnya dan Baginda Nabi Muhammad (saw). Ulama yang mengetahui rahasia ayat, doa dan sebagainya sehingga bisa mengobati orang, berani tirakatnya, harus puasa sekian kali dan sebagainya, siapa pun asal siap mentalnya, bisa mempelajari ilmu hikmah itu. Untuk mem-beri pengobatan atau pertolongan itu, dengan jalur ilmu hikmah. Seperti supaya dagangannya laris, dan sebagainya, itu bisa dicapai oleh siapa pun. Ia mengetahui, membaca ini atau itu, bisa dipakai untuk jimat. Kalau ditaruh di toko, Allah (Swt) akan membukakan rezeki yang lebih banyak, dan orang yang membeli juga banyak— sebab ada doa yang mengandung pengabulan hajat tersebut. Itulah ilmu hikmah, yang terkait dengan rahasia ilmu Al-Qur’an untuk diman-faatkan manusia.

Bisa saja ilmu hikmah terkait dengan karomah. Tapi sebenarnya karamah itu dikhususkan bagi waliyullah atas kedekatan seseorang di sisi Allah dan Rasul-Nya. Sekali lagi saya tekankan, karamah bukan tujuan para wali. Tapi Allah (Swt) memberikannya. Jadi, mau diberi karamah apa pun, kalau Allah (Swt) memberi, sekaNpun tidak masuk akal bagi manusia, itu sangat mungkin terjadi. Karena Allah (Swt) tidak pernah terikat oleh akal manusia. Para wali mem-pergunakan karomahnya bila terdesak. Sekalipun mampu, namun karena malu, mereka tidak sembarangan menggu-nakan. Apalagi karena itu bukan tujuan. Mereka tidak membangga-banggakan karomahnya. Sewaktu-waktu bila terdesak dan sangat diperlukan, baru itu keluar.

Orang yang menjalankan ilmu hikmah diberikan karomah karena karomahnya ayat-ayat Allah swt, yaitu yang memiliki kandungan asrar (rahasia) luar biasa. Karena itu Allah swt. menurunkan karomah. Tapi hakikatnya bukan karomah si pelaku ilmu hikmah, melainkan karena pribadinya bertawasul kemudian mendapat karomah dari ayat-ayat tersebut. Sedangkan para wali tidak. Karomah yang mereka miliki langsung dari Allah swt, yang disebabkan karena penghambaannya kepada Allah. Demikian perbedaan Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah yang dikutip dari buku Nasihat Spiritual ala Habib Luthfi.

​MAHASISWA CABE-CABEAN.

Posted: Januari 10, 2017 in Kasih Tuhan

Sindiran paling nge_hek buat mahasiwa unyuk unyuk yang menggemaskan, sampek sampek bikin Kang Deny angkat bicara. Cekidot bro kripik pedesnya. 

Kang Deny ~ Lucu baca rencana aksi mahasiswa tanggal 12 Januari nanti.
Mereka menamakan gerakan mereka 121, mirip ma gerakan 411 & 212. Sepertinya ada yang lagi senang ma susunan angka2 sehingga dijadikan simbol.

Yang paling lucu adalah mereka menamakan gerakan mereka Reformasi jilid II. 
Mencoba nostalgia dengan gerakan kakak-kakak mereka di tahun 98 yang kebanyakan sekarang udah pada kenyang di DPR, perutnya gendut dan rambut mulai botak. Malah ada kakak2 mereka yang dulu teriak2 “Demi rakyat !!” sekarang lagi tidur2an di sel karena tertangkap mencuri uang rakyat.
Ada lagi yang lebih lucu…
Seorang mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia UII berkata kepada media, “Kenaikan tarif biaya STNK, BPKB, SIM, disusul kenaikan harga BBM dan ditambah tingginya harga cabai hingga mencapai 200ribu lebih, dianggap menjadi bukti nyata ketidak berhasilan Jokowi memimpin Indonesia,”
Permisi, harga cabai ?? Indikator ketidak-berhasilan Jokowi dilihat dari harga cabai ? Ini mahasiswa apa emak-emak ?
Rasanya mau sobek celana membaca masalah kenaikan biaya STNK 100 rebu rupiah yang hanya 5 tahun sekali itu diributkan. Ditambah BBM naik yang non subsidi juga di permasalahkan. Duh, kok indikator ketidak-berhasilan Jokowi itu cuman bernilai beberapa rebu rupiah gitu ya ?
Kenapa si siswa yang merasa maha ini tidak melihat indikator yang lebih besar ? Misalnya kembalinya dana ribuan triliun rupiah melalui amnesty pajak ke Indonesia ? Atau selamatnya 120 triliun potensi laut Indonesia oleh Menteri Susi ? Atau selamatnya uang negara 275 triliun per tahun yang sekian lama dibayarkan ke Petral dalam pembelian migas ?
Yang dibahas Jokowi itu triliun, nak.. bukan rebu… Kebiasaan jajan minta emak sih jadi gak paham triliun itu enolnya berapah..
Coba si siswa yang belum lurus kencingnya itu tanya ke warga Papua. Berapa triliun yang dikucurkan Jokowi untuk pembangunan infrastruktur disana, sesuatu yg selama ini tidak pernah dilakukan pemimpin sebelumnya ?
Tanya ke NTT, berapa triliun lagi yg dikucurkan Jokowi untuk pembangunan 7 waduk besar disana, supaya mereka tidak akan pernah kekeringan lagi ketika musim kemarau panjang tiba ?
Sekali lagi, ini kita ngobrol triliun rupiah adek2ku yang ganteng2 tapi keteknya jarang kena deodoran.. TRILIUN, tuh gua tulis pake hurup kapital biar bulu halus di atas bibir kalian bisa meregang..
Dan kalian meributkan harga cabai yang naik 200 rebu rupiah per kg yang bukan kebutuhan pokok dan naik sementara hanya karena momentum saja ??
Kalian ini nanti lulus cita2nya mau jadi tukang sayur atau gimana ??
Belajar dulu lagi lah hitung2an. Jangan nanti salah lagi ngitung peserta demo yang hanya beberapa ratus orang tapi diklaim 7 juta jiwa… Mending kalian pelajari lagi dengan seksama bagaimana men-download video Mia Khalifa dengan baik dan benar..
Sinih abang ajak minum kopi..  Jangan pake susu kalo berasa laki. Sudah saatnya kalian itu berpikir lebih besar.

Malu ma gelar “Maha”nya kalau ternyata kalian hanya sekelas cabe2an…
Laki laki itu seruput, bukan minum pake sedotan..
Pahamkan itu, kunang2…

Banggalah menjadi LIBERAL Bung!

Posted: Januari 3, 2017 in Kasih Tuhan
Tag:,

Qureta –Sejak lengsernya orde baru, kebebasan berpendapat sepenuhnya mendapatkan jaminan UUD 1945. Kini, kita bisa dengan bebas menyuarakan apa yang dalam pikiran. Kebebasan ini juga difasilitasi dengan banyaknya media untuk menulis mulai dari media sosial sampai media elektronik.

Menulis atau berbicara bisa dilakukan dengan amat mudah. Kebebasan ini tentu mengundang konsekuensi. Jika individu boleh mengemukakan apa saja yang mereka pikirkan, perbedaan dalam memandang suatu masalah niscaya akan terjadi.  Beda kepala, beda isi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sudahkah kita dewasa menyikapi perbedaan pendapat tersebut? Siapkah kita berargumen dengan sehat terhadap orang yang memiliki pandangan yang berbeda? Tampaknya kita belum siap sepenuhnya, khususnya jika bicara mengenai agama. Lumrah diketahui bahwa orang-orang Indonesia sangat fanatik membicarakan soal agama dan politik. Bukan begitu?

Membahas agama adalah membahas hal yang amat sensitif. Orang-orang konservatif tak bisa menerima sepenuhnya perbedaan dari apa yang mereka yakini. Tetapi di sisi lain, ada segelintir orang yang menghargai perbedaan penafsiran prinsip-prinsip beragama.

Bagi mereka, kitab suci bukan barang kaku yang hanya bisa ditafsirkan satu golongan saja. Mereka menolak penafsiran dimonopoli oleh pihak tertentu karena akan merusak pemikiran. Beberapa orang yang menjunjung tinggi kebebasan dalam beragama ini kemudian membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kelahiran JIL ini mengundang kontroversi. Orang-orang konservatif yang radikal menolak mentah-mentah paham JIL. Bagi orang-orang konservatif, JIL bisa menyesatkan umat Islam karena lebih mementingkan “kulit” ketimbang “isi” ajaran Islam. JIL dianggap menolak syariat dalam beragama. Intinya, JIL dilabeli sesat. Benarkah demikian? Padahal toleransi dan kerukunan tidak akan lahir tanpa pemikiran yang digagas oleh JIL.

Tetapi sayang, stigma negatif yang dilekatkan pada JIL membuat kata “liberal” menjadi kata kotor yang tabu diucapkan. Terlebih saat lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme adalah paham sesat.

Fatwa ini dipegang erat oleh kaum konservatif. Mereka melabeli orang-orang yang memiliki tafsir berbeda sebagai orang liberal yang membahayakan. Siapa sebenarnya yang berbahaya? Orang liberal yang menjunjung tinggi kebebasan dan toleran atau orang konservatif yang memaksa setiap orang harus sama dengannya?

Imam Ali as berkata “Seseorang cenderung menjadi musuh atas sesuatu yang tidak diketahuinya.” Orang-orang yang menyerang kaum liberal, sudahkah paham apa yang dimaksud dengan liberalisme? Dan sudahkah mereka mengkaji kadar “kesesatan” liberalisme?

Kebanyakan dari mereka hanya sekedar ikut-ikutan tanpa berpikir secara mendalam. Mereka hanya ikut berkoar tanpa mempertanyakan dimana letak kesesatan liberalisme. Jika mereka mengerti benar apa itu liberalisme, mereka tidak akan “alergi” dengan pemikiran ini.

Secara umum, liberalisme merupakan faham yang menghendaki adanya kebebasan kemerdekaan individu di segala bidang, baik dalam bidang politik, ekonomi maupun agama. Terdapat 3 hal yang paling mendasar dalam faham liberalisme yaitu kehidupan, kebebasan dan hak milik (lifeliberty dan property).

Dalam pandangan liberalisme, setiap orang memiliki hak yang sama dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan. Hasil yang diperoleh setiap individu akan sangat tergantung pada kemampuan masing-masing. Liberalisme juga menjamin kebebasan berpendapat, pemerintahan yang demokratis, dan hukum yang adil.

Liberalisme lahir pada abad ke-18 Perancis ketika kaum Borjuis menentang kaum bangsawan dan padri yang menguasai negara. Liberalisme lahir dari penentangan terhadap dogmatisme yang melekat di Perancis. Kaum borjuis dan rakyat jelata tidak mau menerima begitu saja negara dikuasai oleh bangsawan dan padri tanpa penjelasan yang meyakinkan. Setelah dilaksanakan di Perancis, barulah Liberalisme menyebar di negara-negara lain di Eropa.

Bisakah dibayangkan dunia tanpa liberalisme? Tak akan ada demokrasi, tidak akan ada kebebasan berpendapat dan akan banyak kaum tertindas. Bagaimana rasanya hidup dalam kungkungan dogma yang tidak bisa dibantah? Apa rasanya menjadi orang yang didiskriminasi dan tidak diberikan kesempatan yang sama?

Orang-orang yang melabeli liberalisme sebagai sebuah kesesatan mungkin tidak menyadari bahwa kebebasan mereka dalam berteriak saat ini adalah berkat tumbuhnya faham  liberalisme yang mereka kutuk. Bahkan kebebasan beragama yang mereka nikmati adalah hasil pemikiran liberal. Ironis!

Liberalisme memanusiakan manusia dan mengajak manusia kembali kepada fitrahnya untuk berpikir. Para liberalis adalah pemikir yang tak mau terkungkung dalam dogma dan mereka adalah pembawa perubahan. Itulah sebabnya tak perlu khawatir dicap liberal sebab liberalisme lahir dari kehendak dasar manusia untuk bebas dan berpikir.

Bukankah setiap manusia menghendaki kebebasan? Ia menolak untuk segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Sudahkah anda dicap sebagai liberal?  Jika ada yang mencap anda liberal, berbanggalah.