Arsip untuk Maret, 2018


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah parpol yang tidak tahu diri dan tak pernah bercermin. PKS sedang gencar pergantian presiden 2019. Presiden mau diganti tanpa alasan yang jelas sementara dosa-dosa PKS sudah berjibun.

Dalam perjalanannya, PKS tersangkut banyak kasus mulai dari kasus korupsi, kasus mesum, sampai keterkaitannya dengan tindak pidana terorisme.

Berikut ini kami rangkumkan 8 dosa PKS yang pernah mencuat ke publik.

1. Korupsi Impor Daging Sapi dan Satu-satunya Presiden Parpol yang Ditangkap KPK di kantor Parpol

Presiden PKS periode 2010-2013 Lutfie Hasan Ishaaq memang rekor satu-satunya presiden dan ketua umum parpol yang dicokok KPK di kantor parpolnya. Luthfi Hasan ditangkap KPK di kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang. Luthfi Hasan Ishaaq menerima vonis 18 tahun penjara di putusan MA dan hak politiknya dicabut.

(Sumber: MA Perberat Vonis LHI 18 Tahun Penjara dan Hak Politik Dicabut)

Putusan MA lebih tinggi dari putusan Pengadilan sebelumnya16 tahun penjara dari Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada Senin, 9 Desember 2013 lalu.

Hakim menyebutkan, bersama rekannya Ahmad Fathanah, Luthfi terbukti menerima suap Rp 1,3 miliar dari Direktur Utama PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman, terkait kepengurusan penambahan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

2. Kasus Pencucian Uang dan Menerima Suap dari Aseng (Meski Teriak-teriak Tolak Aseng)

Kasus yang mungkin masih hangat dalam ingatan masyarakat yang kembali menjerat PKS ialah kasus pencucuian uang yang dilakukan oleh Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Yudi Widiana Adia yang berasal dari fraksi PKS. Yudi Widia divonis 9 tahun kurungan beserta denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis tersebut dijatuhkan kepada Yudi salah satunya karena menerima suap lebih dari Rp 11 miliar dari Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa, So Kok Seng alias Aseng. Uang tersebut diberikan kepada Yudi atas ‘jasanya’ menyalurkan usulan proyek pembangunan jalan dan jembatan di wilayah Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara. Yudi menggunakan otoritasnya sebagai anggota Komisi V DPR melalui program aspirasi untuk mengajukan proyek tersebut pada tahun anggaran 2015 dan Aseng selaku kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut. Sementara, dalam dakwaan kedua, Yudi terbukti menerima uang Rp 2,5 miliar.

(Cek kompas.com: Politisi PKS Yudi Widiana Divonis Sembilan Tahun Penjara)

3. Menggunakan Istilah Al-Quran Untuk Korupsi

Dalam merencakan korupsinya, Yudi Widiana dan Muhammad Kurniawan, anggota DPRD Kota Bekasi, kader PKS yang berperan sebagai penghubung Yudi dan Aseng sering menggunakan bahasa-bahasa arab yang identik dengan Islam dalam pembicaraan busuk mereka. Berikut pembicaraan antara Yudi dan Kurniawan yang dibongkarkan oleh Jaksa KPK:

“semalam sdh liqo dengan asp ya” (Kurniawan)

“naam, brp juz?“ (Yudi)

“sekitar 4 juz lebih campuran” (Kurniawan)

“itu ikhwah ambon yg selesaikan, masih ada minus juz yg agak susah kemarin, skrg tinggal tunggu yg mahad jambi”. (Kurniawan)

“naam.. yg pasukan lili blm konek lg?’ (Yudi)

“sdh respon beberapa.. pekan depan mau coba dipertemukan lagi sisanya” (Kurniawan)

Seperti yang diketahui kata Juz dikenal sebagai bagian-bagian bab yang ada dalam Al-Qur’an, dan Liqo merupakan bahasa Arab yang berarti pertemuan. Bukankah hal-hal seperni inilah yang sebenarnya menista Islam?

(cek cnnindonesia.com: Ketika Juz Qur’an dan Liqo Menjadi Kode Korupsi)

4. Kasus Mesum dengan PSK

Selain seorang koruptor, Ahmad Fathanah yang merupakan ‘sahabat karib’ dan disebut “ustadz PKS” Presiden PKS Lutfie Hasan Ishaaq dikenal sebagai seorang yang ‘doyan daun muda’. Saat terjaring OTT KPK saja Fathanah kedapatan sedang berduaan bersama seorang mahasiswi di dalam kamar hotel yang telah dibayarnya dengan uang sejumlah Rp.10 juta.

(cek tribunnews.com: Telanjang Saat Ditangkap KPK, Rani Tertunduk Malu Selama Sidang)

(Baca juga: Ahmad Fathanah Disebut ‘Ustaz Arif’ dan ‘Ustaz Kecil’ dari PKS)

5. Doyan Pornografi

Pada tahun 2011 lalu, salah satu kader PKS yang menjabat sebagai anggota DPR Arifinto pernah “tercyduk” sedang menonton video berkonten pornografi saat sidang paripurna berlangsung. Setelah dikonfirmasikan kepada dirinya, Arifinto tak dapat mengelak lagi karna gambar ketika matanya sedang asik menonton video porno tersebut telah terlanjur beredar luas. Berkat peristiwa tersebut akhirnya Arifinto mengundurkan diri dar DPR.

(Cek detik.com: Anggota DPR yang Nonton Video Porno Saat Paripurna Ternyata dari PKS)

Selain Arifinto ada juga Refrizal, Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, yang menghebohkan netizen karena memberi like ke sebuah video dengan judul ‘Video Gay Bapak’, selain itu Refrizal juga terbukti mengiuti akun-akun gay, porno, dan judi di akun twitter pribadinya.

(Cek: Sudah Minta Maaf, Netizen Malah Beber 4 Fakta Mengejutkan Tentang Refrizal PKS. Yang Nomor 3 Jangan Kaget Ya!)

6. Perzinaan, Perselingkuhan, Asusila

Tidak hanya ditingkat pusat, kelakuan tidak bermoral yang dilakukan oleh kader-kader PKS sampai kepada tingkatan bawah.

Seperti kasus “Politisi PKS Ini Dipergoki ‘Gituan’ bareng Cewek, Mobil Goyang-goyang kayak Main Kuda-kudaan“)

Anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HHS) Gazali Rahmad tak menampik perbuatan asusilannya dengan siswi SMA berinisial I di Gedung Olahraga dan Seni (GOS) Aluh Idut, Kandangan, Selasa (11/4).

Kepada penyidik Polres HSS, Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu mengaku melakukan perbuatan asusila di mobil.

“Saat digerebek warga berdasarkan pengakuan pelaku kepada penyidik mengakui sudah melakukan hubungan badan. Namun belum sampai klimaksnya sudah digerebek,” ujar kata Kasubbag Humas Polres HSS AKP Agus Winartono, Kamis(13/4).

(Cek jppn.com: Kronologis Politikus PKS Mobil Goyang dengan Siswi SMA)

Demikian juga kasus dari Mardiatoz, seorang yang dianggap ustad oleh warga dan merupakan ketua DPC PKS Binjai Barat, digruduk warga sedang menyembunyikan perempuan di dalam kamar mandi. Saat digrebek warga wanita yang disembunyikan oleh Mardiatoz tersebut juga dalam keadaan telanjang dada.

(Cek tribunnews: Ustaz Sekaligus Kader PKS Digerebek di Kamar Mandi Bersama Perempuan)

7. PKS Menginjak-injak Bendera Merah Putih

Berbeda dengan perayaan-perayaan ulang tahun partai pada umumnya yang biasanya ada upacara dan prosesi penghormatan terhadap sang saka merah putih, di perayaan milad PKS di Tasikmalaya bendera merah putih malah dijadikan alas untuk menari dan berjingkrak-jingkrak.

(Cek rmol.co: Di Tasikmalaya, Milad PKS Diisi Aksi Injak-injak Bendera Merah Putih)

8. PKS Memasang Bendera Setengah Tiang dan Terbalik

Selain menginjak-injak bendera, diwilayah lain, kantor PKS di Situbondo malah memasang bendera Merah Putih dengan posisi terbalik yang menjadi warna putih di atas dan warna merah di bawah. Peristiwa ini sempat menjadi viral di media sosial.

(Cek liputan6.com: Bendera Terbalik di Kantor PKS Situbondo Viral di Medsos)

Dosa-dosa PKS di atas hanyalah sebagian kecil dari setumpuk dosa partai ini, ini hanyalah contoh kecil bahwa PKS hanya menggunakan agama sebagai bingkai belaka.

Ini juga bukti kecil betapa berantakannya internal PKS namun sudah sok-sokan berkicau ingin mengganti presiden pada 2019 nanti.
(Baca: Diketawain, PKS Mau Ganti Presiden, Ganti Fahri Saja Gagal)

Sekarang yang menjadi pertanyaanya adalah, dengan sejumlah 8 dosa PKS dari kasus korupsi, pornografi, perzinaan, asusila, amoral, penghinaan apakah masih mau mendukungnya?

Mujahidin Aziz

(Suara Islam)


 Gus Rijal Mumazziq Z ~ Kelompok yang mengklaim diri sebagai Salafi—mereka menolak disebut Wahhabi—ini kelompok kecil, tapi perpecahannya dahsyat, bahkan saling mengkafirkan. Wkwkwkwk…
Abu Husein At-Thuwaliby saling mubahalah dengan Fauzan al-Anshari, Salafi Jihadi simpatisan ISIS. Ngefek? Wallahu A’lam, tapi At-Thuwailiby mengakui dirinya “menang” karena setelah mubahalah Fauzan Al-Anshari, dedengkot Majelis Mujahidin Indonesia, itu sakit, lalu wafat. Ketika video sighat mubahalah diupload di youtube, Abu Aiman Al-Jimrasi yang merupakan pendukung Fauzan al-Anshari melaknat At-Thuwailiby dan menyebutnya sebagai munafik. 
Abu Jibril pada awalnya sependapat dengan Aman Abdurrahman. Tapi ketika Aman Abdurrahman, yang dipenjara atas kasus terorisme itu bersama Abu Bakar Baasyir berbaiat kepada Abu bakar al-Baghdadi, maka Abu Jibril berbeda pendapat sengit dengan kedua orang di atas. Abu Jibril pro Jabhat An-Nushrah sedangkan Abu Bakar baasyir dan Aman Abdurrahman pro ISIS. Para pengebom di berbagai daerah rata-rata anak buah Aman Abdurrahman yang dibina melalui jaringannya, termasuk Santoso dan pengebom panci yang tewas di Bandung. 
Saya menelusuri pemikiran Aman Abdurrahman dalam buku karyanya, “Ya Mereka Memang Thaghut”. Isinya mengerikan, hehehe, hampir semua dikafirkan! Gaya buku Aman Abdurrahman ini nyaris mirip karya Imam Samudera, “Aku Melawan Teroris”, tuduh sana sini. Klaim kebenaran mutlak ini berceceran dalam halaman per halaman, sebagaimana buku karya terakhir trio bomber Bali ( Imam Samudera, Mukhlas dan Amrozi), yang saya beli dari Ali Fauzi, adik Amrozi. Yang pasti, pemetaan di kubu Salafi Jihadi sangat mengerikan. Saling ancam bunuh, salaing tuding sebagai kilabun nar (asune neroko), saling tuduh munafik dan taghut, dan sebagainya. Kalau anda melihat kombatan ISIS menyembelih komandan tank kubu Jabhat an-Nushrah, nggak heran, itu adalah puncak saling mengkafirkan di antara dua kubu yang bertempur di Suriah ini. Sama-sama bersyahadat, dan sama sama bertakbir saat menyembelih umat Islam. Naudzubillah min dzalik…..
Perpecahan kubu Salafi ini juga tampak saat membaca buku “Sebuah tinjauan Syar’i: Mereka Adalah Teroris” karya Luqman Baabduh, yang juga mengklaim diri sebagai Salafi. Buku ini merupakan bantahan dari buku Imam Samudera, “Aku Melawan Teroris”.  Luqman yang merupakan murid Syekh Muqbil bin Hadi al-Wad’i di Yaman, mencela gerakan yang dilakukan oleh Imam Samudera Cs, termasuk Abdullah Azzam, mentor “pejuang” Afganistan, sebagai gerakan Khawarij. Kubu trio bomber Bali tidak terima atas sangkaan sebagai khawarij ini, termasuk yang keberatan dengan tendensi itu adalah kubu Salafi lainnya, yaitu Abu Salma Al-Atsari, murid dari Abdul Hakim Abdat dan Abu Qatadah. Harus diakui gaya bahasa dalam buku karya Luqman Baabduh ini kasar, sangat kasar, hingga Imam Samudera dan Ali Ghufron (Mukhlas) menyebut Luqman sebagai seorang yang sembrono dan jahil murakkab (padahal dua nama terakhir ini lebih kasar dalam tulisan-tulisannya qiqiqiqi). 
Setelah buku “Aku Melawan Teroris” yang dibantah oleh buku “Mereka Adalah Teroris”, muncul kemudian buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?” karya Abduh Zulfidar Akaha. Mbulet ae ya? Hahaha…isinya yang mencoba memetakan kembali kontradiksi kedua kubu Salafi di atas. Selain itu, di kalangan Wahabi sendiri, gesekan-gesekan saling menguat karena ada rasan-rasan apabila Luqman Ba’abduh ditahdzir oleh gurunya sendiri seperti Syaikh Yahya al-Hajuri, dan masyaikh di Darul Hadist Dammaj, Yaman, tempat menuntut ilmunya.
Selesai? Belum. Silahkan mencermati saling cela antara kubu Wahabi di Indonesia. Abu Qatadah, salah seorang ustadz Wahabi yang dihormati kubunya, dituduh oleh kelompok Wahabi lainnya sebagai Salafi Sururi. Sebutan ini merupakan penisbatan kelompok yang mengikuti jalan Syaikh Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, salah seorang pentolan Wahabi asal Saudi yang kemudian bermukim di London. Sebutan Salafi Sururi alias Salafi Hizbi ini adalah istilah tendensius dan pejoratif di kalangan Wahabi sendiri. Abu Hamzah al Atsari (embuh, nama aslinya siapa) habis-habisan mencela Abu Qatadah sebagai ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu, melenceng dari sunnah, dan sebagainya. Sekadar catatan, Abu Qatadah (ini lagi, nggak tau nama aslinya), ini juga sama dengan Luqman Baabduh, sama-sama alumni  Dammaj, Yaman.
Bagaimana Wahabi lainnya? Embuh, podo gelut karepe dewe. Agomo digawe geluuut ae. Wkwkwkw Mereka geram karena Salafi Sururi menyebut trio ulama legendaris Wahabi: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin sebagai ulama haidh dan nifas. Embuh, apa maksudnya ini. Yang pasti, di kalangan Wahabi sendiri masing-masing kubu berebut klaim sebagai Salafi dan Ahlussunnah. 
Tampaknya, ada polarisasi antara Wahabi jaringan Saudi dengan Wahabi jaringan Yaman. Alumni Saudi tidak menyerang kerajaan sebagai taghut (ya iyalah, majikan gitu loh) dan banyak menyandarkan pendapatnya pada ulama-ulama Saudi dalam berbagai masalah. Sedangkan Wahabi alumni Yaman, di Dammaj, lebih terbuka dalam melakukan “serangan” terhadap pemerintah. Namun soal penyeberangan ideologis menjadi Salafi Jihadi, itu tergantung sikon. Bahkan ada kecenderungan apabila yang menjadi pelaku bom bunuh diri di tanah air maupun terlibat gerakan teror tidak pernah secara langsung belajar di Saudi maupun Yaman.  Mereka rata-rata baru belajar agama secara intens selama beberapa tahun terakhir lalu tertular ideologi radikal kemudian menjadi ekstremis. Aspek terakhir ini membutuhkan kajian mendalam, saya kira.
Membaca berbagai perseteruan dan saling mentahdzir antara masing-masing kubu Wahabi ini juga banyak faktor. Pemetaannya rumit, karena masing-masing pihak kadang kala merasa independen, meskipun pada saat yang sama mereka seiya sekata. Setidaknya ini yang bisa saya cermati dalam berbagai ulasan di media mereka maupun pengajian para ustadznya, yang tersebar banyak di internet. 
Kalau saudara-saudara kita tersebut menuduh kaum muslimin di luar kelompoknya sebagai ahli bid’ah, musyrikin, penyembah kuburan, pengikut taghut dengan cara memutilasi ayat Al-Qur’an untuk mendukung tuduhannya, maka semoga kita tidak tergoda melirik mereka dengan penggalan Surat al-Hasyr ayat 14: tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta….

Semoga tidak, jangan! Eman eman kalau ayat al-Qur’an dipake mainan begitu….
Paham, kan Kak Emma? 🙂

Wallahu a’lam bisshawab.

Klik