Arsip untuk Mei, 2011


[Koran Depicts Kabbalah as Apostasy]

david-livingstone

Oleh: David Livingstone
(untuk henrymakow.com)

“Meskipun sudah sejak lama ada kecurigaan diantara pemeluk agama Kristen kepada agama Islam, namun para sarjana menerima kenyataan bahwa tidak ada tradisi anti – Semit dalam ajaran agama Islam,” tulis David Livingstone, seorang peneliti yang dihormati dan sudah memeluk agama Islam sejak tahun 1995.

Yang penting adalah bahwa Islam menawarkan pendekatan yang berbeda untuk memahami masalah “pemeluk agama Yahudi”.1) Islam mengecam mereka, akan tetapi masih menganggap mereka sebagai Ahli Kitab [baik yang beriman maupun kafir-pent], sehingga meskipun kejahatan yang mereka lakukan, mereka masih diakui sebagai komunitas agama yang dihormati.

Jadi sepanjang perjalanan sejarah dalam lingkungan kerajaan Islam, para pemeluk agama Yahudi, Muslim dan Kristen telah hidup berdampingan secara damai.  Orang  yang beragama Yahudi bahkan diizinkan untuk mempertahankan Exilarch mereka sendiri, [Exilarch : salah satu dari garis keturunan penguasa komunitas agama Yahudi di Babylonia dari sekitar abad ke- 2 sampai awal abad ke-11.]  dan mengatur kelompoknya sendiri sesuai dengan peraturan mereka, bahkan dengan hukum Talmud yang sudah menyimpang dari kebenaran sekalipun.  Saya berpendapat bahwa hal tersebut menjelaskan mengenai luasnya rahmat Allah yang Maha Besar, dan juga terdapat pelajaran dalam ajaran Islam bagi kita semua tentang  bagaimana memperlakukan orang lain, walaupun kita tahu mereka salah.”

 Islam mengatakan bahwa agama Yahudi awalnya memperoleh kebaikan dari wahyu Ilahi, akan tetapi kemudian berbalik murtad kepada Tuhan.  Dewasa ini “Yudaisme” berarti Kabbalah dan Talmud.

Menurut Al-Qur’an, Allah menetapkan perjanjian dengan Bani Israel dan memilih mereka atas semua bangsa-bangsa di dunia untuk bertindak sebagai wakil -Nya di muka bumi.

Mereka diberi 10 perintah-perintah sederhana, semangat yang tercakup dalam diktum ini adalah:  “do unto others as thou would have others do unto you, – lakukan kepada orang lain sebagaimana orang lain memperlakukanmu,”  yaitu, Golden Rule.

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” ( QS al-Baqarah 2: 83 )

Al-Qur’an kemudian melanjutkan dan menyebutkan nikmat apa saja yang telah diberikan kepada orang-orang  yang beragama Yahudi, dan mengingatkan mereka tentang mujizat yang luar biasa yang telah mereka saksikan sendiri, akan tetapi mereka tetap dan terus-menerus menolak menyembah Allah dengan benar.

Selama berabad-abad Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para nabi untuk memperingatkan bangsa Israel supaya menghentikan penyembahannya kepada dewa Kanaan, Baal dan Astarte, mereka membangun  pilarphallic untuk para dewa tersebut, melakukan pengorbanan manusia serta perbuatan keji lainnya.

 Akhirnya, mereka diperingatkan bahwa jika mereka tidak berhenti, mereka akan diasingkan.  Itulah yang memang kemudian terjadi pada pergantian abad keenam SM, dimana ketika Nebukadnezar menangkap hampir seluruh penduduk Bani Israel dan di buang ke Babel, suatu periode yang dikenal sebagai masa pengasingan.
Al-Qur’an menceriterakan:
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS al-Isra’17: 4).“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (QS al-Isra’17: 5)

Saat kejadian itu di Babilonia dimana sejumlah orang-orang yang beragama Yahudi melakukan tindakan penentuan dari semua pelanggarannya,  yaitu murtad.  Alih-alih meninggalkan penyembahan kepada Baal, mereka malah memasukkannya ke dalam agama Yahudi, kemudian agama Yahudi di re-“interpretasi” kembali sesuai hawa nafsu mereka.

Agama Yahudi yang sudah di re-interpretasi itu akhirnya dikenal sebagai Kabbalah, di dalamnya termasuk unsur-unsur sihir Babilonia dan astrologi, dimana dengan diam-diam Lucifer dianggap sebagai Tuhan yang benar dari Alkitab, dan Lucifer disetarakannya dengan berbagai dewa kuno.

Namun tidak semua orang-orang yang beragama Yahudi ikut bertanggung jawab terhadap perubahan agamanya,  melainkan hanya sebuah kelompok di antara mereka yang murtad,  sebagaimana dijelaskan al-Qur’an:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat2) -di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat  itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS al-Baqarah 2:102)

Orang-orang  yang beragama Yahudi murtad ini kemudian menyamarkan tujuan mereka yang sebenarnya dalam rangka untuk mendominasi dunia, dengan mengaku bekerja untuk memenuhi nubuatan Alkitab.  Cara kerja mereka mendasarkan kepada keyakinan Luciferianisme, yang esensinya sama dengan ” tujuan menghalalkan segala cara “.

Tapi sebaliknya, mereka menganggap bahwa tanggung jawab moralnya hanya untuk diri mereka sendiri, dan dengan asumsi yang salah ini menganggap dirinya menjadi “manusia pilihan” yang berarti menurut mereka bahwa Allah lebih menyukai mereka di atas semua bangsa.  Karena al-Qur’an mengatakan:

“Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar”. (QS al-Baqarah 2: 94)

Mereka dengan demikian semakin merusak pengertian perjanjian dengan Tuhan bahwa hal itu berlaku untuk mereka tanpa syarat, dan karena itu, bahwa janji Tuhan tentang kepemilikan atas tanah Israel, atau Zion, adalah untuk selamanya – mengikat, dan bahwa mereka akhirnya ditakdirkan untuk menguasai dunia, dengan kedatangan  Mesias [Imam Mahdi-pent] mereka yang ditungu-tunggu.

Pada dasarnya, orang-orang yang beragama Yahudi sudah kehilangan pengetahuan  “Spirit Hukum” yang  benar,  mereka beralasan telah dihukum oleh Yesus yang mengingatkan mereka bahwa dasar Hukum ini adalah untuk mencintai sesama, bukan hanya terhadap sesama penganut agama Yahudi saja, karena tetangga mereka  juga adalah makhluk manusia juga.

Namun meskipun risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang untuk memperbaiki wahyu Allah yang telah dirubah oleh orang-orang yang beragama Yahudi dan Kristen, beliau meramalkan bahwa kaum muslimin juga akan jatuh ke dalam kesalahan yang sama, “seperti masuk ke dalam lubang biawak”.3)

Dan dewasa ini hal itu telah terjadi pada umat Islam,  kaum Muslimin juga kini telah kehilangan pengetahuan Spirit Hukum, dan karenanya terperosok kedalam kontroversi yang tidak penting dan kondisinya dimana-mana ditindas oleh penguasa despotik,4) gagal untuk hidup sesuai dengan contoh dari orang yang sejati keimanannya.


Catatan pent:

  1. Menurut penterjemah tidak ada orang/bangsa Yahudi, Yahudi adalah salah satu dari tiga agama samawi yang dikhususkan untuk Bani Israel.
  2. Penterjemah sependapat dengan  yang dimuat dalam tafsir al-Jalalin [terjemahan, Tafsir Jalalain hal. 53] bahwa kata ‘al-malikain’ dibaca dengan lam baris di bawah sehingga berarti dua orang raja. Karena sihir merupakan sesuatu yang diharamkan, baik belajar atau mengajarkannya. Menurut kami Malaikat tidak akan melakukannya, apalagi belajar dari setan, sebagaimana dijelaskan al-Qur’an dalam at-Tahrim 66:6 bahwa para malaikat tidak mendurhakai Allah.
  3. “Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhary)
  4. Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; (1) Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (3) Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. (4) Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan (5) tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka.” (HR Ibnu Majah 4009

David Livingstone is the author of “Terrorism and the Illuminati.” His website carries the same name.

Diterjemahkan oleh: klik

Related- Jews in the Koran


(Quran and 2012: Evidence Hints At Event Types and Locations of 2012 Catastrophe)

Oleh: Ali Adams

Mereka yang memilih untuk mengabaikan bukti tanpa mengevaluasi terlebih dahulu tidak layak untuk bertahan hidup. Evaluasilah, cek dan cek kembali, dan kemudian berkontribusi dengan yang lain untuk menyelamatkan dunia. Jika kita benar-benar peduli tentang kemanusiaan, maka kita harus memperhatikan peringatan yang serius dari Allah Yang Maha Penyayang dan memperingatkan orang-orang sekarang sebelum terlambat.

Quran dan 2012

Bilangan Prima adalah Kunci

Quran dan Bilangan-bilangan Prima

Sama seperti bilangan-bilangan prima yang digunakan dalam tulisan-tulisan rahasia (kriptologi), Kitab Suci Islam, Quran dibangun di atas bilangan prima seperti yang ditunjukkan oleh jumlah ayat (7), kata (29) dan huruf (139) dan Surah pertama yang menakjubkan bernama The Opener (atau Kunci/al-Fatihah).

 Ketiga bilangan prima ini (7, 29, 139) bukan merupakan bilangan prima akan tetapi mereka disebut sebagai Bilangan Prima Aditif (Aditive Prime Numbers) jumlah digit bilangan prima mereka juga (7 = 7, 2+9 = 11,1+3+9 = 13) dan jumlah digit ini jumlahnya prima juga (7+11+13 = 31).
Terlebih lagi, menggabungkan ketiga bilangan prima ini dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri juga menghasilkan bilangan prima aditif (729139 dan 139297 dengan jumlah angka 31 seperti yang dinyatakan di atas).

Bahkan nama kitab suci, Quran (Artinya Dapat Dibaca) sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa walaupun kitab suci itu sudah disandikan menggunakan bilangan prima, tetapi masih dapat dibaca. Inilah sebabnya mengapa Tuhan menantang kita untuk menulis satu bab seperti itu jika kita dapat.

NB: Ada alasan seperti yang Anda akan melihat selanjutnya, mengapa saya  beri warna merah angka 13 dan 31, karena mereka bukan prima aditif yang memberi kesan terdapat urutan lain untuk diikuti.

Quran dan Susunannya

Quran berisi 114 Surah dengan total 6236 Ayat. Surah pertama (Kunci/al-Fatihah) berjumlah  7 ayat dan disebut dalam Al-Qur’an secara terpisah sebagai “tujuh ayat yang sering diulang” sedangkan sisanya 113 Surah disebut sebagai Quran yang Agung.

garis-warna

Quran al-Hijr 15:87

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًۭا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.”(QS al-Hijr 15:87)

garis-warna

Dengan pembagian berikut ini kita sekarang mendapatkan:

Quran = Kunci + Pesan
114 Surah = 1+113
6236 ayat = 7+6229
Sekali lagi angka-angka 113 dan 6229 merupakan bilangan prima aditif (1+1+3=5 dan 6+2+2+9=19)
Bukti lebih jauh atas kebenaran pembagian ini dapat dilihat dalam surah ke-57 al-Hadid (Besi) dan rasio yang melimpah dari 113 unsur kimia di dalam alam.  Rinciannya dapat dilihat di: [Quran.and.2012.pdf]

Quran dan Primalogy*

Menetapkan nilai-nilai ke huruf disebut numerologi, sehingga ketika saya mencoba untuk menggunakan sistem numerologi pra-Quran (Abjad Gematria) dengan 139 surat dari surat Al-Fatihah, saya kecewa mendapatkan total komposit GV = 10143.
Sebaliknya saya melakukannya dengan sistem baru berdasarkan nilai-nilai prima untuk menetapkan 29 huruf Arab dan mendapat total Nilai Primalogy PV = 8317 yang juga merupakan prima aditif (8+3+1+7 = 19)
Untuk jelasnya ini bukan merupakan hal yang kebetulan, saya menerapkan sistem baru ke dalam surah paling penting kedua dalam Quran (surah #112 /al-Ikhlas/Keesaan Allah) dan mendapatkan bilangan prima aditif yang kedua dengan dan tanpa “Bism Allah Ar-Rahman Ar-Rahiim” menegaskan statusnya sebagai ayat bernomor (ayat di awal tidak sama seperti angka dalam Surah Kunci). [4201, 4+ 2+ 0 +1 = 7] dan [3167, 3+ 1+ 6+ 7 = 17].
Menerapkan primalogy ke dalam surah-surah lain tidak menimbulkan bilangan prima  aditif lagi, jadi tujuan primalogy tidak untuk mengkonfirmasi konsistensi Quran namun untuk membuka pesan tersebut (113 surah) menggunakan primalogy (atau yang serupa).

Quran dan 2012

Jadi saya mulai menulis sebuah perangkat lunak open source QuranCode (QuranCode open source software), untuk menyelidiki hubungan ini lebih lanjut, dan ketika mencari tanda tempat yang mudah terlihat dalam Quran secara manual, langsung menemukan sebuah ayat yang sering diulang-ulang (ayat yang sangat terkenal juga) dalam surah # 55 (ar-Rahman -Yang Maha Penyayang)

garis-warna

Quran ar-Rahman 55:13

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

بِأَىِّ ءَالَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS ar-Rahman 55:13)

garis-warna

Persisnya ada 31 kali pengulangan dari ayat ini dalam surah yang sama di tempat-tempat berikut (nomor ayat)

13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77

Ayat-ayat lain di surah ini adalah 47 yang juga merupakan prima aditif (4+7 = 11) namun tidak relevan (sekarang).

Sementara 31 bukan sebuah prima aditif (hanya sebuah prima normal), mungkin 31 yang ditemukan di dalam Kunci menunjuk dan sama dengan angka 13. Juga bisa diabaikan untuk saat ini, karena tidak penting dalam kaitan untuk menemukan 2012.

Melihat kepada 31 nomor ayat ini, tidak semua bilangan prima utama apalagi aditif, 9 bilangan prima dan 22 komposit. Satu-satunya fakta positif untuk menarik dari ini adalah menggabungkan 22 dan 9 (bahasa Arab ditulis dari kanan ke kiri) menghasilkan prima aditif (2+2+9 = 13) tetapi sekali lagi tidak penting untuk menemukan 2012.

Apa yang sesungguhnya penting dan mendalam melainkan penjumlahan dari bilangan-bilangan ayat ini:

13 + 16 + 18 + 21 + 23 + 25 + 28 + 30 + 32 + 34 + 36 + 38 + 40 + 42 + 45 + 47 + 49 + 51 + 53 + 55 + 57 + 59 + 61 + 63 + 65 + 67 + 69 + 71 + 73 + 75 + 77 = 1433 dan tentu saja prima aditif (1+4+3+3=11) tapi apakah prima super aditif itu.

Kita ketahui bahwa kalender Islam saat ini adalah tahun 1431AH, kemudian 1433 merupakan sebuah aspiran yang mungkin menjadi referensi kita kepada tahun Hijriah 1433AH (== 2012AD). NAMUN bagaimana kita bisa membuktikannya?

Allah, yang Maha Penyayang tidak membiarkan kita untuk menebak sebagaimana Dia membuat surah ini ar-Rahman # 55 (Yang Maha Penyayang) terdiri dari 355 kata (termasuk diawali Bism Allah yang Ar-Rahman Ar-Raheem) yang PERSIS sama dengan jumlah hari penanggalan Islam dalam satu tahun (Hijriah) berdasarkan kalender lunar.

Jika tidak cukup, tahun lunar bisa berjumlah 354 atau 355 hari saat tahun kabisat dan memeriksa kalender untuk tahun 1433AH, ternyata memang tahun kabisat. Lihat: http://www.islamicfinder.org/Hcal/hdate_year.php?year=1433&base=h menunjukkan hari-hari setiap bulannya berikut ini: 30+29+30+30+29+30+30+29+30+29+30+29 = 355 hari.

Hijri-kalender

garis-warna

Waktu-waktu Kejadian 2012

Oleh karena itu, 355 kata-kata dalam surah ar-Rahman # 55 (Yang Maha Penyayang) sesuai dengan tahun 1433AH yang berjumlah 355 hari Islam dalam hubungan  satu- dengan yang lainnya.

Seperti ayat di atas terdiri dari 4 kata (فبأى ءالاء ربكما تكذبان) dan diulang 31 kali, maka Tuhan, Yang Maha Penyayang mungkin memperingatkan kita dalam surah ar-Rahman/Yang Maha Penyayang mengenai 31kejadian yang  masing-masing akan berlangsung selama 4 hari.

Oleh karena itu, dengan izin Allah peristiwa pertama akan terjadi pada hari ke-44 tahun Islam 1433AH yaitu pada tanggal 1433-02-14 ~ = 7-Jan-2012 dan kejadian  terakhir akan berlangsung pada hari ke-349 yaitu pada tanggal 1433-11 -23 ~ = 4-Nov-2012.

Tapi sementara AH singkatan dari “Setelah Hijrah” atau setelah migrasi Nabi (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarganya) dari Mekkah ke Madinah, kalender Islam dimulai pada hari pertama tahun migrasi, bukan pada hari migrasi itu sendiri 2 bulan dan 8 hari kemudian. Itu berarti perhitungan kami di atas bisa lambat 2×29,58 = 67 hari.

Setidaknya, sekali peristiwa pertama terjadi, maka semua 30 peristiwa lainnya akan diprediksi dengan tepat.

garis-warna

Jenis Peristiwa Apa Yang Diperkirakan Akan Terjadi Pada 2012

Peristiwa apa saja yang diperkirakan akan terjadi.  Tidak seorangpun yang tahu kecuali Allah Azza wa Jalla, Dia Yang Maha Rahman memberikan  petunjuk berupa tanda-tandanya:

1. Hujan Meteor sebagaimana huruf ke-1433 dari Quran berarti kata jatuh (batu dari langit)

garis-warna

Quran al-Baqarah 2:24

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَٱتَّقُوا ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ

“Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS al-Baqarah 2:24)

garis-warna

2. Hukuman yang tidak ringan dalam kata ke-1433 dalam Quran:

garis-warna

Quran al-Baqarah 2:86

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

أُولَٰئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا بِٱلْءَاخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ ٱلْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS al-Baqarah 2:86)

garis-warna

3. Mereka yang membuat dusta terhadap Allah tidak akan pernah mewarisi  menurut Quran ayat ke-1433

garis-warna

Quran Yunus 10:69

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ 

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (QS Yunus 10:69)

garis-warna

Itu bisa berarti apakah saya berbohong dan semua bilangan prima aditif di sini untuk menyesatkanku, Allah mengharamkannya, dalam hal ini saya mencari perlindungan kepada Allah dari kesesatan diri sendiri, dan dengan tulus meminta pengampunan dan petunjuk kepada kebenaran, atau hukuman akan selektif dan hanya akan ditimpakan kepada para  pembohong (1 dari 8 menurut Surah Kunci, yang lain adalah 1 dari 8 berperilaku baik dan 6 dari 8 hilang dan sesat).

Saya berharap kata penyelamat di sini adalah Katakanlah: yang berarti orang lain tidak penerima pesan.

earth2012

Download this software

Jika peristiwa ini benar-benar merupakan ancaman eksternal seperti hujan meteor, maka akan mudah untuk menemukan lokasi hujan meteor, karena masing-masing berlangsung selama 4 hari, dan akan menyapu bumi sepanjang lingkaran (lintang) empat kali bumi berputar 4 kali dalam 4 hari. Ini sudah termasuk kemiringan Bumi sebanyak 22,5˚.

Jadi lintang berapa? Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah sekali lagi tidak membiarkan  kita bertanya-tanya, dan memberi kita dengan tepat 31 nomor yang berada tepat di tengah kisaran garis lintang 0-90.

Nomor berapa?

Mereka adalah nomor ayat yang sama di atas mulai dari 13 dan berakhir di 77 dimana kesenjangan 0 sampai13 adalah sama dengan jarak 77 sampai 90. Jadi garis lintang berikut merupakan lokasi masing-masing dari ke-31 peristiwa yang akan terjadi.
13˚ 16˚ 18˚ 21˚ 23˚ 25˚ 28˚ 30˚ 32˚ 34˚ 36˚ 38˚ 40˚ 42˚ 45˚ 47˚ 49˚ 51˚ 53˚ 55˚ 57˚ 59˚ 61˚ 63˚ 65˚ 67˚ 69˚ 71˚ 73˚ 75˚ 77˚

Kita bahkan bisa menduga bahwa titik pertama yang dihantam pada setiap peristiwa akan berada di bujur 54˚ berdasarkan nomor surah ar-Rahman #55 (menjadi 54 jika kita menggunakan Quran baru = Kunci + Pembagian Pesan). Tidak seperti garis lintang, garis bujur ditetapkan oleh orang, jadi kita akan mengganti mereka dengan membuat bujur 0˚ melewati Mekah dan bukan Greenwich.

 Itu berarti Panjang ~ 39.8˚ menjadi 0˚ dan karena itu titik awal akan menjadi 54 + 39.8 ~= 94˚ dan ini merupakan sebuah tempat di Teluk Benggala menyapu Thailand, Vietnam, Philliphines,, ditengah-tengah dua Amerika, Afrika Tengah, Selatan Arabia, dan akhirnya India Selatan setelah hampir satu hari.
Sebagian besar garis lintang ini adalah 13N baik samudra terbuka atau tempat yang sedikit jumlah penduduknya, kemudian Allah, Yang Maha Penyayang memberikan kepada kita minimal 15 hari (4 hari untuk peristiwa pertama dan 11 hari tenggang waktu untuk peristiwa berikutnya), sebelum kejadian peristiwa kedua menghantam pada garis lintang 16. Lebih cepat kita memperingatkan orang-orang, semakin banyak kita menyelamatkan nyawa orang, tentu saja dengan izin Allah.
Mereka yang memilih untuk mengabaikan bukti dan tanpa mengevaluasi terlebih dahulu tidak layak untuk bertahan hidup. Evaluasi, cek dan cek kembali, dan kemudian berkontribusi untuk menyelamatkan dunia.
 Berikut adalah konfirmasi lebih lanjut dari salah seorang teman peneliti saya (Aminreza Ibrahimi Saba) menunjukkan bahwa nilai primalogy dari ayat yang diulang   (فَبِأَىِّ ءَالَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) sebanyak 31 kali, yang sudah ditetapkan sebagai bilangan prima aditif (683 dengan 6+8+3 = 17) dapat juga 31 menunjuk kepada 4 hari peristiwa sebagaimana 683 adalah merupakan prima yang ke-124 dan 124 = 31× 4.  Apakah hal ini kebetulan? Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta.

Jika kita benar-benar peduli tentang kemanusiaan, maka kita harus memperhatikan peringatan yang serius ini dari Allah Yang Maha Penyayang dan memperingatkan orang-orang sekarang agar tidak terlambat.

Sementara itu kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mempercepat  Kedatangan Kedua penyelamat kita, Imam Al-Mahdi (Muhammad Abu Al-Qasim) dan Nabi Isa (damai untuk mereka berdua) lebih cepat daripada nanti dengan mengucapkan:

garis-warna

Quran an-Naml 27:62

أعوذ بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (QS an-Naml 27:62)

garis-warna

Earthquake & Flood Projections Maps After the EVENT 2013

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu

Ali Adams

God > infinity

*(Primalogy merupakan perangkat Islam untuk menyandikan apa yang Allah idzinkan untuk diketahui oleh kita) 

diterjemahkan oleh : klik

Sumber: http://www.pakalertpress.com/2010/09/11/quran-and-2012-evidence-hints-at-event-types-and-locations-of-2012-catastrophe/


irfan-s-awwas

 Oleh: Irfan S Awwas
(Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin)

Belakangan ini, Media Di Indonesia baik cetak maupun elektronik,  rame-rame menayangkan tentang NII (KW 9) dan AL ZAYTUN (sebagai pusat  pemerintahannya). Padahal sudah lama Fatwa tentang kesesatan NII (KW 9) dan PESANTREN AL ZAYTUN dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Anda yang ingin tau lebih banyak, silakan download 2 buah ebook berikut ini dengan klik pada judulnya :  

Yang perlu diketahui oleh Muslimin adalah bahwa : NII (KW 9) dan PESANTREN AL ZAYTUN sengaja dipelihara oleh “OKNUM” yang tidak suka dengan Syariat Islam. Buktinya adalah, sampai detik ini tidak ada tindakan nyata dari aparat negara untuk memberangus kegiatan sesat ini. NII (KW 9) dan PESANTREN AL ZAYTUN akan segera di blow-up dalam “KONDISI TERTENTU” untuk mendiskreditkan usaha-usaha Penegakan Syari’at Islam Yang Mulia di negeri mayoritas muslim ini.

Anda ingin download lebih banyak lagi ebook ?
 kunjungin  CEKLIK DISINI

PROSES-REKRUITMEN-NII-KW9

Apabila kita mendengar isu Negara Islam Indonesia (NII), maka yang terlintas dalam pandangan masyarakat adalah, kelompok yang ingin mengganti NKRI dengan Negara Islam, dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Seperti, mengeksploitasi wanita bercadar untuk merampok dan memeras uang, termasuk mengancam dibunuh bila keluar dari komunitas tersebut.

Akibatnya, serentetan persepsi negatif itu, tidak saja berdampak buruk bagi komunitas itu, tapi juga terhadap Islam itu sendiri. Bahkan akhir-akhir ini, tidak saja mengaitkan gerakan Islam Syari’at dengan NII, tapi juga menyematkan labelalisasi terorisme.

 Kasus terbaru adalah terungkapnya kasus Laila Febriani alias Lian, 7 April 2011, pegawai honorer Departemen Perhubungan, yang terdampar dua hari di Masjid At Ta’awun dikawasan Puncak, Bogor. Ketika ditemukan, Lian dalam kondisi linglung dicurigai akibat indoktrinasi aliran sesat, bahkan ia sudah merubah gaya berpakaiannya dengan mengenakan Jilbab Lebar dan bercadar.
 ….kasus ini memojokkan citra berbusana Muslimah dengan jilbab lebar dan bercadar, juga pria berjenggot….
 Dibalik kasus ini muncul kesan untuk memojokkan citra berbusana Muslimah dengan jilbab lebar dan bercadar. Tak hanya itu, Lian menyebut banyak pria berjenggot tebal diantara mereka yang mengindoktrinasinya.

Gerakan NII Palsu

 Upaya mendiskreditkan misi NII yang diproklamirkan SM. Kartosuwiryo, 12 Syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, telah dilakukan bukan saja oleh mereka yang memusuhinya. Tapi, yang lebih berbahaya justru munculnya gerakan sempalan NII, yang melakukan penyimpangan atas nama NII oleh orang yang malah mengaku sebagai penerus perjuangan NII. Salah satu upaya jahat itu dilakukan oleh Totok Abdussalam alias AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, di bawah payung gerakan NII KW-9.
 Padahal, misi NII yang diperjuangkan SM. Kartosuwiryo dan NII KW 9 versi AS Panji Gumilang membawa misi kontradiktif, berbeda dalam tujuan, dan bertentangan secara aqidah. NII atau DII/TII Kartosuwiryo berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, NII KW-9 yang dipimpin AS Panji Gumilang dengan Ma’had Al-Zaytun sebagai sentral aktivitasnya, melakukan penipuan, dan pemerasan atas nama NII. Pemahaman keagamaan, dan perilaku pengikutnya yang sama sekali tidak bisa dikategorikan Islami, adalah fakta konkret. Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan metode safsathah, tafsir semau gue berdasarkan kepentingan hawa nafsu.

….NII KW-9 yang dipimpin AS Panji Gumilang dengan Ma’had Al-Zaytun sebagai sentral aktivitasnya, melakukan penipuan, dan pemerasan atas nama NII….

Karakteristik NII KW-9 versi Panji Gumilang dapat dilihat dari pemahaman keagamaan, dan perilaku pengikutnya:

 Pertama, ingkar Sunnah: Pengajian-pengajian diselenggarakan sangat eksklusif dan tertutup. Materi awal tentang kebenaran Al-Quran, berikutnya akan selalu menggunakan Al-Quran sebagai rujukan, jarang sekali menggunakan hadits. Alasannya, adanya perkataan Nabi Saw : “Inna khairul hadits kitaballah – sebaik-baik hadits adalah kitabullah.” Mereka menolak hadits dengan menggunakan dalil hadits. Dalam hal ini, NII KW-9 menggunakan kalimat yang benar untuk tujuan kebathilan, sebagaimana dikatakan Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Kalimatu haqqin yuradu biha bathilun.”
 Sedang Ustadz yang memberikan pengajian selalu menyembunyikan identitasnya, dengan alasan security (keamanan). Bukan itu saja, calon pengikut NII KW-9 diajak ke suatu tempat untuk dibai’at, selama dalam perjalanan matanya ditutup.
 Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran semau gue, sesuai kepentingan hawa nafsunya. Penggunaan hujjah Al-Quran hanya sekedar alat legitimasi atas suatu pemahaman sesat. Misalnya, peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Rasulullah Saw naik ke langit ke tujuh, mereka artikan sebagai tujuh tingkat struktur pemerintahan, yaitu RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, dan Presiden. Ibadah shalat dianggap bukan kewajiban setiap Muslim, karena belum futuh Makkah, padahal Al-Quran sudah turun 30 juz dan Rasulullah SAW sudah wafat.

….Mereka menolak hadits dengan menggunakan dalil hadits. NII KW-9 menggunakan kalimat yang benar untuk tujuan kebathilan….

Kedua, menghalalkan yang diharamkan Allah: Siapa saja di luar kelompoknya dianggap kafir, karena itu halal darahnya dan dan hartanya boleh dirampas, dengan menganggapnya sebagai harta rampasan (fa’i). Jama’ahnya diperas, dijadikan objek pengumpulan dana dengan alasan infaq dan shadaqah, sementara penggunaan dana yang terkumpul tidak transparan. Para anggota jama’ah yang tidak berinfaq dianggap berhutang. Karena itu mereka membolehkan pengikutnya untuk mencuri, merampok, berdusta atas nama agama demi memenuhi tuntunan bai’atnya.

 Istilah NII hanyalah kedok, untuk memudahkan rekrutmen para aktivis Muslim, sementara di sisi lain mereka menghalalkan darah dan harta sesama Muslim diluar kelompoknya, persis perilaku dan pemahaman kaum komunis PKI.
 Kelompok NII (Negara Intelijen Indonesia) KW-9 ini disinyalir banyak pengamat dan aktivis Muslim, sebagai pembawa misi terselubung untuk menghancurkan Islam dari dalam. Melakukan penyimpangan aqidah dan syari’ah dengan memakai label Islam, mengikuti pandangan Napoleon Bonaparte yang menyatakan : “Jika mau membunuh kuda, gunakan kuda.”
 Gerakan NII KW-9, juga mengusung misi intelijen. Tujuannya membangun citra negatif bagi gerakan yang bertujuan menegakkan Syari’ah Islam secara kaffah, menakut-nakuti umat Islam. Labelisasi Islam terhadap perilaku dan pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam, adalah di antara metode dakwah yang ditempuh NII KW-9 pimpinan Totok Salam alias AS Panji Gumilang. Pusat gerakan aliran sesat KW-9 di Ma’had Al-Zaytun (bukan Az-Zaytun), Haurgeulis, Kabupaten Inderamayu, Jawa Barat.

….Siapa saja di luar kelompoknya dianggap kafir, halal darahnya dan dan hartanya boleh dirampas, dengan menganggapnya sebagai harta rampasan (fa’i). Jama’ahnya diperas, dijadikan objek pengumpulan dana….

Jadi, Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo yang diproklamasikan 12 syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, hanya menjadi tameng gerakan KW-9 (Komandemen Wilayah 9), sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah, baik secara harakiyah maupun ideologis dengan NII KW-9 pimpinan Totok Salam. Hal ini penting ditegaskan, agar masyarakat tidak keliru menilai, dan tidak rancu dalam memahami peran sentral Darul Islam dalam membangkitkan semangat jihad, untuk membasmi kebathilan.

 NII bentukan intelijen ini sungguh jauh benar karakternya dengan NII yang semula dirintis Kartosoewirjo, Daud Beureuh. Upaya formalisasi syariat Islam di lembaga negara selalu dikaitkan dengan Negara Islam Indonesia (NII), karena dianggap memiliki benang merah dengan Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo.
 Darul Islam, dipandang sebagai embrio atas suatu paham yang mengedepankan pentingnya melaksanakan Syari’at Islam secara sistemik, melalui jalur kekuasaan pemerintahan. Karena tanpa kekuasaan, Islam tidak akan bisa secara optimal melaksanakan misi Rahmatan Lil ‘Alamin.
 Maka di zaman SM Kartosuwiryo, istilah NII bukan sekadar nama sebuah gerakan keagamaan, melainkan institusi Negara dengan konstitusi Islam yang memiliki kekuasaan berdaulat penuh. Memberi label NII pada aktivitas gerakan keagamaan, sangat riskan dari sudut pandang keamanan, juga dapat disalah gunakan sebagai alat penipuan secara ideologis.
 Penolakan penggunaan nama NII terhadap aktivitas yang hanya sekadar gerakan, tanpa basis teritorial serta otoritas kekuasaan yang jelas, selain sebagai upaya mengamankan dan mengamalkan amanah perjuangan. Juga, meluruskan pemahaman yang keliru, memberi nama pada sesuatu yang bukan menjadi namanya. Menganggap gerakan sebagai Negara, koordinasi sebagai kekuasaan pemerintahan, sangat rentan terhadap penyusupan dan penyalahgunaan wewenang.

Negara Intelijen

 Pada tanggal 27 Agustus 1999, masyarakat pergerakan Islam dikejutkan oleh sebuah pemberitaan berkenaan dengan diresmikannya sebuah pesantren oleh Presiden B.J. Habibie, di Indramayu (Jawa Barat). Pesantren termegah di Asia Tenggara itu bernama Ma’had Al-Zaytun, yang dipimpin oleh Syaikh Al-Ma’had AS Panji Gumilang.
 Yang membuat kalangan pergerakan terkejut bukanlah semata-mata karena kemegahan pesantren yang berdiri di tengah-tengah kemiskinan rakyat sekitarnya, tetapi terutama karena sosok yang bernama AS Panji Gumilang, yang tak lain adalah Abu Toto, alias Toto Salam.
 Pada tanggal 14 Mei 2003 Jenderal AM Hendropriyono (dalam kapasitasnya sebagai Kepala BIN), atas nama Presiden RI (waktu itu) Megawati, memenuhi undangan Panji Gumilang untuk menancapkan patok pertama bangunan gedung pembelajaran yang diberi nama Gedung Doktor Insinyur Haji Ahmad Soekarno. Kehadiran Jenderal Hendropriyono ketika itu diikuti hampir seluruh pejabat tinggi BIN.
 Pada Pemilu Legislatif 5 April 2004, terdapat sekitar 11.563 pemilih yang tersebar di 39 TPS Khusus Al-Zaytun, hampir seluruhnya (92,84 persen) diberikan kepada Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan Jenderal Purn. Hartono dan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut—putri Soeharto). Selebihnya (618 suara) diberikan kepada Partai Golkar.
 Tanggal 5 Juli 2004, masyarakat kembali dikejutkan oleh pemberitaan seputar Pemilihan Presiden, yaitu ketika Al-Zaytun berubah sementara menjadi ‘TPS Khusus’ yang menampung puluhan ribu suara (24.878 jiwa) untuk mendukung calon presiden Jenderal Wiranto. Ketika itu, puluhan armada TNIAD hilir-mudik mengangkut ribuan orang dari luar Indramayu yang akan memberikan suaranya di TPS tersebut. Dalam perkembangannya, hasil dari TPS Khusus ini dianulir.
 Sebelum kasus penimbunan senjata oleh Brigjen Koesmayadi diungkap oleh KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso (yakni pada 29 Juni 2006), beberapa tahun sebelumnya sejumlah aktivis Islam pernah melaporkan kepada aparat kepolisian tentang adanya timbunan senjata di Al-Zaytun, pada sebuah tempat yang dinamakan Bunker. Laporan itu baru ditindak-lanjuti aparat kepolisian beberapa bulan kemudian, setelah ratusan senjata itu dipindahkan ke tempat lain, dan bunker tempat penyimpanan senjata sudah berubah fungsi. Senjata-senjata itu milik seorang jenderal aktif yang sangat berpengaruh pada masanya.

….Toto Salam alias Abu Toto adalah sosok yang disusupkan ke dalam gerakan Islam, dengan proyek mercusuarnya berupa Ma’had Al-Zaytun….

 Dari rentetan fakta di atas, tampaknya sulit untuk membantah bila ada yang menyimpulkan bahwa Toto Salam alias Abu Toto adalah sosok yang disusupkan ke dalam gerakan Islam, dengan proyek mercusuarnya berupa Ma’had Al-Zaytun.
sumber : klik

Rancunya Istilah Islam Radikal

“Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS Fathir 35:43)

“Bangsa Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius terkait dengan terorisme, kekerasan horizontal, dan radikalisasi yang terus terjadi di sejumlah tempat. Jika tak ditanggulangi secara serius, kondisi ini bisa berdampak pada harmoni kehidupan bangsa ke depan.” [1]

islam_radikal

Ucapan ini penulis ambil ketika SBY berhadapan dengan seluruh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Gubernur, dan walikota seluruh Indonesia saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, hari Kamis kemarin. Ucapan ini tentu tidak lain adalah respon dari pemerintah terkait isu terorisme yang kini marak. Oleh karenanya dalam kesempatan itu pula, Presiden SBY juga berharap kepada pemuka agama untuk berperan aktif dalam mencegah gerakan yang menodai dan merusak ajaran agama.

Namun sayangnya, dalam kesempatan itu, SBY tidak merinci lebih jauh definisi sebenarnya dari radikalisme. Sebab, kita sekarang berada pada suatu masa, dimana kebenaran dan kekeliruan menjadi kabur. Istilah radikal dikonstruk sedemikian negatif dan kemudian dilekatkan kepada seluruh gerakan Islam yang memiliki visi pemurnian akidah, penegakkan syariat dan negara Islam, serta tidak lagi tersekat hanya pada organisasi sesat seperti NII KW IX saja. [2]

Walhasil, klaim-klaim radikal dan Islam seakan menjadi dua kutub yang tidak terpisahkan. Stigmatisasi Barat terhadap Timur menjadi genderang yang wajib didengarkan ketimbang umat Islam itu sendiri. Implikasinya, ajaran Islam menjadi redusi. Maka itu ucapan radikal dari SBY disini perlu kirannya diluruskan dan menjadi tanda kutip bagi kita semua bahwa betulkah radikalisme identik dengan Islam?

Islam Radikal: Kerancuan Istilah

Setelah Samuel Huntington mengeluarkan tesis bahwa Islam akan menjadi musuh baru Barat setelah komunisme runtuh[3], semangat Perang Salib jilid II bagai kembali berkobar. Penelitian-penlitian tentang Islam berlangsung begitu pesat. Istilah Radikalisme menjadi hal lumrah untuk menyudutkan Islam.[4]

Tak tanggung-tanggung Al Zastrouw sampai menyatakan bahwa radikalisme adalah (pasti) gerakan yang menyatakan Islam adalah satu-satunya sumber penyelesaian atas berbagai problem kemanusiaan, dan hanya dengan gerakan itulah mereka bisa mempertahankan eksistensi dan martabat Islam.[5]

india_radical

Prolematikanya adalah kata radikalisme disini pasti merujuk ke Islam dan cenderung meresahkan. Padahal dalam sejarahnya kata Radikalisme sama sekali tidak terkait akan misi Islam dan memang tidak lahir dari rahim Islam.

Paul Krassner dalam tulisannya “An impolite intervire with Mort Sahl”, di majalah The Realist tahun 1963 menyatakan asal muasal istilah Radical digunakan pada abad ke-18 bagi para pendukung Gerakan Radikal. Istilah radikal kemudian menjadi istilah yang sangat umum semata-mata untuk merendahkan kelompok yang mendukung atau mencari reformasi politik, termasuk perubahan dramatis terhadap tatanan sosial.

Dalam sejarahnya, tujuan awal dari gerakan radikal adalah untuk meraih kebebasan dan melakukan reformasi besar-besaran dalam pemilu Inggris. Gejala ini kemudian bergeser ke Amerika dan Perancis yang kemudian diterjemahkan mereka lewat dengan nama revolusi (Baca: Revolusi Perancis dan Amerika).

Pada awalnya, kelompok radikal mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang paling kiri dalam menentang basis politik kanan, baik itu kaum Orleanis dan Bonapartis di Perancis pada abad kesembilan belas.[6]

Dalam perkembangannya, radikalisme kemudian terserap dalam pengembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 baik di Inggris dan benua Eropa. Dan kemudian istilah Radikal ini justru datang untuk menunjukkan ideologi liberal yang progresif.

Oleh karenanya, di beberapa negara Istilah radikalisme adalah bagian dari liberalisme seperti terjadi di Swiss, Jerman, Bulgaria, Denmark, Italia, Spanyol dan Belanda, termasuk juga Argentina, Chile dan Paraguay. Pada Negara-negara tersebutlah kaum liberal sayap kiri justru mengusung ideologi radikal dengan berbagai nama.

Menariknya baik di benua Eropa maupun Amerika latin, radikalisme dikembangkan sebagai sebuah ideologi radikal sangat anti-agama. Mereka mendukung liberalisme, bahkan sekularisme. Di Inggris, misalnya, para radikal bersatu dengan para liberal daripada Whig Party di dalam Liberal Party.

Di negara lain termasuk Bulgaria, Denmark, Spanyol, Belanda, Argentina dan Chile, para liberal bersayap kiri mengasas parti politik radikal mereka yang mempunyai pelbagai nama; di Switzerland dan di Jerman, parti itu diberi nama Freisinn.

freedom

Oleh karenanya menjadi aneh dan rancu, jika istilah radikal justru dikaitkan kepada Islam dan gerakan Islam. Karena Islam mengharuskan hambanya untuk taat kepada Allahuta’la. Sedangkan dalam sejarahnya, kaum radikal justru memisahkan antara Negara dan agama (baca: sekularisme) sebagai pilar kehidupan.

Islam menjadikan nilai dan tatanan kehidupan sebagai sumber yang tetap, yakni ajaraNya. Sedangkan radikalisme menjadikan relativitas sebagai prinsip dan tujuan.

Lalu kalau sudah begini: apakah tidak salah ketika mengatakan radikalisme bersumber dari ajaran Islam dan Islam itu radikal?

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Rancunya Istilah Islam Fundamentalis

Gerakan Islam sering kali dikait-katikan dengan istilah fundamentalisme. Organisasi-orgnisasi yang mengusung ide kembali kepada syariat Islam mendapatkan sebuah stigma negatif berupa Islam Fundamentalis.[7]

they-say-we-say_2

Media-media di Indonesia pun pasca pemberitaan (yang masih simpang siur) akan syahidnya Usamah Bin Laden, langsung mengusung kembali jargon-jargon Islam Fundamentalis lenngkap dengan distorsinya kepada gerakan-gerakan yang terkait Al Qaida.

Di Barat kasusnya hampir ironi. Karen Amstrong yang digadang-gadang sebagai penengah antara Islam dan Barat, masih melekatkan stigma fundamentalis kepada orang seperti Sayyid Quthb hanya karena gagasan Sayyid Quthb yang menolak Demokrasi.[8]

Pun Amerika mereka gemar menyudutkan nama-nama mujahid sebagai gembong yang mengusung Ideologi Islam yang kuat seperti Abul Ala Al Maududi, Abdullah Azzam, Syekh Ahmad Yassin hingga Abu Bakar Ba’asyir sebagai gembong Islam fundamentalis.

Padahal, dalam sejarahnya, istilah fundamentalisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam. Sejarah fundamentalisme berawal pada ajaran agama Kristen yang mengembangkan kepercayaan mutlak terhadap wahyu, ketuhanan Al-Masih, mukjizat Maryam yang melahirkan ketika masih perawan, serta kepercayaan lain yang masih diyakini oleh golongan fundamentalis Kristen sampai sekarang. [9]

Lalu dengan begini apakah pas fundamentalisme kemudian dikaitkan kepada Islam? Apakah tepat istilah fundamentalisme menjadi kata tersendiri setelah menyebut nama Islam, sama persis dengan pertanyaan: Apakah pas pula jika dikatakan George Bush adalah seorang Kristen Salafi atau Obama adalah bagian dari kelompok Kristen sekte Tauhid Hakimiyyah? Menjadi rancu.

Fundamentalisme: Pertikaian Kristen, Bukan Islam

Pada konteks aslinya, istilah “fundamentalisme” adalah respon dari gerakan pemurnian teologi Kristen sebagai perlawanan terhadap modernisme. Ia berusaha memurnikan ajaran Kristen yang disusupi oleh sekularisme. Artinya fundamentalisme adalah gerakan kontra terhadap “pembaharuan” yang secara spesifik hanya terjadi pada lingkup Kristen.

Namun, pada penelusuran lebih dalam, James Barr dalam bukunya “Fundamentalism” [10] mengatakan bahwa istilah fundamentalisme bermula dari sebuah esai berjudul “Fundamentals” yang muncul di Amerika sekitar tahun 1910-1915.

Dengan mengambil ciri gerakan kembali ke asal, esai itu mewakili pandangan kaum tradisionil Kristen yang khawatir kehancuran ajarannya oleh serangan inflitrasi modernisme dalam pemikiran Kristen. Jadi, simpul Barr, fundamentalisme adalah studi yang berfokus pada gerakan fundamentalisme di dalam kekristenan (dan bukan dari agama Islam).

Sebagai sebuah organisasi yang terorganisir, fundamentalisme mulai terjadi pada Gereja-gereja Protestan, khususnya pada Gereja Baptis dan Gereja Presbyterian, di Amerika Serikat pada awal abad 20. Gereja Presbiterian sendiri adalah salah satu denominasi di lingkungan Gereja-gereja Protestan, yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropa Barat.

Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Calvin, Reformator dari Perancis Namun secara kelembagaan, Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Skotlandia, sebagai buah pekerjaan John Knox, salah seorang murid dari Calvin.

Karena latar belakang ini, Gereja Presbiterian pada umumnya ditemukan di negara-negara bekas koloni Inggris, seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, India, dan lain sebagainya.

Gereja Presbiterian pun dapat ditemukan di beberapa negara yang kuat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, seperti Korea Selatan dan Filipina. Di Indonesia sendiri, Gereja Presbyterian terletak di Jalan Baru Ancol, Jakarta dengan nama Gereja Presbyterian Injil Indonesia.

Istilah fundamentalisme juga kemudian digunakan untuk para penjaga Injil (Evangelikal) dalam golongan Protestan dan juga golongan Karzemy yang tumbuh pesat sebagai satu sekte dalam agama Kristen. Menariknya, awal mengapa penamaan fundamentalisme juga menyeret kaum Evangelis, karena di kalangan Kristen sendiri menolak penamaan fundamentalis. Sebagian kelompok Kristen akhirnya lebih senang ketika mereka disebut dengan Evangelisme Konservatif ketimbang Kristen Fundamentalis itu sendiri.

evangelism1

Menurut sebagian kalangan Kristen, fundamentalisme tidak mewakili dari akidah yang mereka anut, namun hanya untuk golongan dan sekte tertentu. Mereka kadang lebih suka menyebut dirinya dengan “Kristen sejati” atau Kristen saja. Karena setiap kritikan yang ditujukan kapadanya berarti hujatan atas agama itu sendiri. [11]

Oleh karenanya, fundamentalis Kristen akhirnya didefinisikan oleh sejarawan George M. Marsden[12] sebagai Evangelisme Protestan yang militan dan anti-modernis. Marsden kemudian menjelaskan bahwa fundamentalis adalah orang Kristen Evangelis yang pada abad ke-20 melakukan penentangan modernisme baik dalam sisi teologis maupun perubahan budaya modern.

Selain itu, menurut James Barr, fundamentalisme memang digerakkan oleh doktrin Bible untuk hidup secara militan. Barr mengatakan kendatipun posisi Evangelikal umumnya mengakui bahwa keselamatan diperoleh melalui Iman Kristus, namun bagi kaum fundamentalisme, bahwa Iman kepada Krsitus tidak saja cukup. [13]

Jadi, penamaan menjadi fundamentalis adalah hasil dari pertentangan antar golongan moderat Kristen dengan mereka yang keras dalam menafsirkan beberapa ayat Bible. Hal ini menjadi wajar karena dalam Kristen telah terjadi problem teks Bible, baik dalam orisinalitas dan metode penafsiran. [14]

Karena faktor inilah kaum Protestan lalu membentuk sejumlah organisasi pada 1902 yang dikenal dengan nama The Society of The Holy Scripture. Organisasi ini menerbitkan 12 penerbitan dengan nama Fundamentals semata-mata cara kelompok protestan untuk melindungi kitab suci mereka dari proses desakralisasi oleh para penafsir liberal.

Selain The Society of The Holy Scripture, mereka juga mendirikan Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Inilah akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang lahir sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan penafsiran injil yang menafikan makna literal injil.[15]

Kerancuan Istilah dalam Islam.

Jadi pada dasarnya konteks fundamentalisme tidak pernah memiliki kaitan langsung dengan Islam. Istilah fundamentalisme murni lahir akibat pertentangan diantara teologi Barat itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin ketika Barat saling bertikai, Islam kemudian disuruh ikut campur menyelesaikannya dan terkena getahnya? Inilah yang pernah disinggung Sayyid Quthb dalam kitab Dirosah Islamiyah bahwa adalah mustahil jika Islam disuruh menyelesaikan masalah dunia, sedang Islam sendiri belum dijalankan sepenuhnya.

sayyid-quthb

Bagaimana caranya ketika kerusakan sudah terjadi, Islam menjadi tertuduh dan bertanggung jawab atas semuanya, sedangkan Islam belum ditegakkan. Bagi Sayyid Quthb, Islam baru akan menjadi Sistem yang efektif ketika dijalankan sepenuhnya dan tidak setengah-setengah. Sayyid Quthb menulis:

“Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang ditimbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam…. Jadi yang perlu diupayakan adalah laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukuman pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan dan dalam prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilangan dengan sendirinya” [16]

Selain itu, konsekuensi logis lainnya akan berimplikasi pada pemaknaan bahasa fundamentalis dalam Islam. Islam tidak mengenal kosakata fundamentalisme, Islam hanya mengenal kata Kaffah, syariat Islam, tauhid, dan lain sebagainya yang memliki jurang pemisah panjang dengan dimensi fundamentalisme dalam Kristen.

Dalam Islam, hambanya hanya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Satu, sedangkan fundamentalisme Kristen, menolak hal itu dimana mereka mengaku bahwa Tuhan adalah Tiga dan Tiga adalah Tuhan. Dalam Islam, Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, sedangkan dalam fundamentalisme Kristen justru hal itu harus ditolak, karena bagi mereka Tuhan lahir dari proses persalinan dan kepercayaan itu harus dijaga seutuhnya. Ketika dia memperbarui, maka ia menjadi kafir.

Akhirnya, Islam tidak bisa disebut dengan istilah Islam Fundamentalis, sebagaimana Kristen juga tidak bisa disebut dengan Kristen Salafi. Islam juga tidak bisa dipanggil dengan nama Fundamentalisme Islam sebagaimana Kristen juga tidak bisa dipanggil dengan Salafi Jihadi Kristen. Islam pun tidak mengalami problem teks Qur’an sebagaimana Kristen mengalami problem terhadap kitab sucinya.

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Ketika Kekejaman Kristen Tidak Disebut Teroris

Dalam kasus terorisme, media memang terkenal tidak adil dalam memberitakan Islam. Islam menjadi agama yang paling banyak disudutkan dalam aksi kekerasan. Jika pada kasus pemboman Bali, Gerakan Amrozi Cs dicari sampai ke akar-akarnya, bahkan ditumpas tak bersisa, menjadi lain ceritanya jika Kristen yang melakukan tindakan sama. Seakan media menjadi bungkam seketika.

Dalam kasus kerusuhan Poso misalnya, pengadilan hanya berhenti pada nama tiga orang terdakwa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, dan tidak pernah diteruskan kepada siapa dibalik mereka sampai ke anggota-anggotanya. Padahal jelas Tibo cs bertindak atas nama gerakan.

Begitu juga dalam peberitaan internasional. Bush dan serdadunya – yang dikorbankan semangat Fundamentalisme Kristen – yang membunuh jutaan umat Muslim di Timur Tengah, seakan-akan lenyap tanpa dosa. Media-media pun tidak ada yang memanggil Bush dengan sapaan teroris. Berbeda jika Usamah Bin Laden yang diberitakan, baik media cetak maupun televisi ramai-ramai mencapnya teroris tanpa mendudukan kronologis dan pra-asumsi yang berkembang.

Kita tentu bertanya-tanya, entah mengapa jika Kristen yang melakukan aksi kekerasan, stigma teroris menjadi kebal bagi mereka. Padahal sejarah mencatat bagaimana kekejaman yang dilakuakn Kristen bukanlah isapan jempol semata, mereka tidak hanya membantai Islam, tapi juga Yahudi, kaum Pagan, pelaku bid’ah secara keji dan tak beradab. Tulisan ini bukan untuk membangkitkan luka, namun bisa jadi pelajaran bagi kita untuk meluruskan isu seputar terorisme atas nama agama.

Pembunuhan Kaum Pagan [17]

Sejak agama Kristen diresmikan pada tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan makin banyak dihancurkan oleh pengikut Kristen. Pendeta kaum pagan pun banyak dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke-6, ribuan orang penyembah berhala disembelih. Dan itu semua dilakukan atas nama misi Gereja.

dibakar
Melaksanakan ritual ibadah pagan menjadi sangat berbahaya bagi pelakunya dan terancam hukuman mati, ini sudah terjadi mulai tahun 356 Masehi. Kaisar Kristen Theodosius (408-450M) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar yang melakukan hal tersebut didasari akan kepatuhan terhadap seluruh ajaran Kristen.

Akhirnya, pada abad ke 6 seluruh hak hidup para penganut Pagan dinyatakan dicabut. Bahkan sebelumnya pada awal abad ke-4, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.

Selanjutnya di tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria, seorang filosof wanita yang terkenal, diseret kemudian dipotong-potong tubuhnya oleh orang-orang Kristen Koptik radikal yang dipimpin oleh pendeta Peter. Hypatia sendiri adalah seorang ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir. Hypatia dibunuh karena menjadi penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai “pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama”. Dan beberapa pendapat mengatakan kematiannya menandai akhir dari zaman Hellenistik dan dimulainya zaman kegelapan (The Dark Ages).

Pembunuhan Atas Nama Misi Gereja

Selain membunuh secara kejam dan membabi buta kaum pagan, Kristen juga melakukan terorisme dan kesadisan terhadap mereka-mereka yang tidak mau ikut agamanya. Kaisar Karl (Charlemagne), misalnya, pada tahun 782 M tanpa punya nurani memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.

Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja pun mengalami hal serupa. Mereka dijatuhi hukuman mati layaknya manusia penuh dosa. Jumlahnya pun tidak main-main, antara 5000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).

inkuisisi_2

Lalu pada abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini semata-mata demi menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka di anggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.

Pembantaian Dalam Perang Salib

Belum lagi fakta, di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada tanggal 12 sampai 24 Juni 1096 ribuan orang dihilangkan nyawanya secara kejam. Hanya dalam waktu hitungan hari dari tanggal 9 sampai 26 September 1096 sekitar 1000 orang dibunuh di Nikala atau Xerigordon (Turki).

Kita juga tidak lupa pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim di bantai di Marra. Tentara Salib yang lapar karena kehabisan makanan sampai-sampai mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).

crusader

Penaklukkan kota Jerusalem yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1099 pun dihiasi kematian 60.000 warga Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak, yang dibunuh secara keji oleh Pasukan Perang Salib. Puluhan ribu kaum Muslim yang mencari penyelamatan diatas masjid Al Aqsha pun dikejar sampai dapat dan mereka dibantai dengan sangat sadis.

Kekejaman demi kekejaman Pasukan Salib memang sulit dinalar oleh akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, pasukan tentara bengis itu telah membunuh ratusan ribu kaum Muslim di Arra’t-un-Noman, salah satu kota di Syria.[18] Mereka bergerak atas “sabda” Paus Urban yang menyeru “Killing these godless monsters was a holy act: it was a Christian Duty to exterminate thi vile race from our lands” atau “Membunuh para monster tak bertuhan itu adalah tindakan suci: adalah kewajiban umat Kristen untuk memusnahkan angsa jahat itu dari wilayah kita.”

Salah satu saksi mata sampai-sampai menyatakan bahwa ,”Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”. Sedangkan, salah seorang penulis Kristen bernama Eckehad dari Aura mengatakan, “bahkan berlanjut hingga musim panas, udara di seluruh Palestina masih tercemari oleh bau mayat-mayat yang membusuk”.

Pembunuhan Terhadap Orang Bid’ah (Inkuisisi)

inquisisi_4

Sejatinya, Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bid’ah oleh Gereja Katolik Roma. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Sanksi pelaku bid’ah bahkan bisa sangat mengerikan daripada kaum pagan yang jelas-jelas kafir dalam konsep mereka.

Dalam sejarahnya, Gereja Trinitarian yang menjatuhkan keputusan bersalah kepada seorang pelaku bid’ah akan memberikan hukuman tak berperikemanusiaan, dari mulai penyiksaan, pembakaran sampai pemenggalan kepala.

Kasus ini sempat menimpa kaum Manichaean. Kaum Manichean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bid’ah dalam Kristen karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Bayangkan karena hal itu, ribuan orang Manichean menjadi korban seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 M sampai 444 M.

Selain pembasmian yang menimpa kaum Manichean, hal serupa juga menimpa kelompok Cathars. Orang-orang Cathars pada dasarnya menganut Kristen dengan baik, tetapi pada sisi lain mereka menolak segala peraturan Gereja Katholik Roma yang dirasa tidak adil seperti pajak dan larangan pengendalian kelahiran.

Lantas hanya karena hal itu, Paus Innocent III memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis) pada tanggal 22 Juni 1209 pun dihancurkan. Semua makhluk yang hidup di dalamnya pun dibantai tanpa ampun. Jumlah korban menurut catatan sejarah berkisar pada angka 70.000 manusia, angka itu termasuk jumlah pemeluk Katolik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang di kategorikan bid’ah oleh Gereja.

inquisisi_6

Bid’ah lainnya yang juga dilakukan oleh Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dienyahkan hingga tak bersisa. Ratusan ribu orang kemudian mati tak bernyawa oleh kekejeman pihak gereja. Bahkan John Huss, yang mengkritisi “Papal Infallibility” (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada tahun 1415.

Pembunuhan Terhadap Yahudi

Yang juga turut mengalami kekejaman selain Islam adalah kaum Yahudi. Max Margolis dan Alexander Marx dalam “A History of Jewish People” menceritakan bahwa pada periode 612-620 M, banyak kasus terjadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Euric (680-687) membuat keputusan bahwa seluruh orang Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.

inkuisisi-yang-kejam-berdasarkan-ajaran-bible

Bahkan Raja Egica (687-701) membuat keputusan bahwa semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak. Keputusan sepihak itu tidak saja berlangsung dalam satu sampai dua tahun, namun untuk selamanya. Harta benda kaum Yahudi disita dan mereka diusir dari rumah-rumah sehingga tersebar ke berbagai provinsi. Lebih dari itu anak-anak Yahudi yang berumur tujuh tahun ke atas diambil paksa dari orangtuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. [19]

Selanjutnya pada tahun 1096, saat Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm teparnya pada tanggal 18 Mei 1906, di Mainz. Lalu pada tanggal 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga mengalami pembantaian.

Dalam Perang Salib itu, tercatat 12.000 orang Yahudi dibunuh dimana tempatnya membentang dari Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag hingga Metz di Perancis.

Sedangkan pada tahun 1348 nasib naas juga dialami Yahudi, dua ribu orang diantara mereka dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg. Sedangkan pada tahun 1349 di Kota Praha, data menyatakan bahwa 3000 orang Yahudi telah tewas terbunuh. Sedang pada 42 tahun selanjutnya, takni pada tahun 1391, kaum Yahudi Seville habis oleh Kardinal Martines. Dalam catatan sejarah tercatat sebanyak 4000 orang Yahudi tewas dan 25.000 lainnya dijual sebagai budak.

Ternyata itu pun belum berakhir. Abad 15 adalah abad yang menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 misalnya, 13.ooo orang Yahudi dieksekusi atas perintah komandan inquisisi Spanyol, Faray Thomas de Torquemada.

Jatuhnya Granada ke tangan Spanyol juga berbuah ancaman bagi Yahudi. Hanya dalam beberapa bulan antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar dari mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Utsmani yang menyediakan tempat aman bagi Yahudi.

gantung
Stand J Shaw dalam “The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic” mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun itu sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki. 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Italia dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis tetap di Spanyol sebanyak 50.000 orang.[20]

 Kekejeman Terhadap Muslim di Guantanamo

Dalam perkembangan modern, terror Kristen pun tidak pernah berhenti. Kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dalam jejak-jejak pemerintahan Amerika Serikat. Mereka tidak saja membasmi jutaan umat Muslim di Afghanistan, Pakistan, Kaukasus, Somalia, Palestina, Bosnia tapi juga menahan tawanan-tawanan Muslim di penjara terkejam di Guantanamo. Umat Muslim disiksa, dilecehkan, namun lagi-lagi tidak ada yang menyebut mereka dengan sapaan teroris, bahkan sampai detik ini.

guantanamo_1

Lawrence Wilkerson, asisten mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, pernah membuat pengakuan dalam suatu pernyataan yang ditandatangani untuk mendukung gugatan yang diajukan oleh seorang tahanan Guantanamo, Adel Hassan Hamad.

Hamad, seorang pria Sudan yang ditahan di Teluk Guantanamo sejak Maret 2003 sampai Desember 2007, mengklaim bahwa dia mengalami penyiksaan oleh agen-agen Amerika Serikat saat berada di dalam tahanan dan mengajukan gugatan terhadap beberapa nama pejabat Amerika.

 Menurut Wilkerson, baik Dick Cheney maupun Donald Rumsfeld sebenarnya mengetahui bahwa sebagian besar dari 742 tahanan yang pertama kali dikirim ke Guantanamo pada tahun 2002 adalah mereka yang tidak bersalah, tetapi yakin bahwa ada kemungkinan untuk membiarkan para tahanan itu bebas.

Wilkerson, yang menjabat sebagai kepala staf Powell sebelum ia meninggalkan pemerintahan Bush tahun 2005, mengklaim bahwa sebagian besar tahanan, yang terdiri dari anak-anak berumur 12 hingga kakek-kakek setua 93 tahun, tidak pernah melihat seorang tentara Amerika Serikat sebelumnya, kecuali setelah mereka ditangkap.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Rumsfeld dan Cheney pada khususnya, tidak punya belas kasihan bagi orang yang tak bersalah dan harus mendekam di Guantanamo selama bertahun-tahun, serta harus mengalami penderitaan hanya demi kepentingan Amerika Serikat untuk membenarkan perang melawan terornya.

guantanamo_2
“Dia (Cheney) sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa sebagian besar tahanan Guantanamo itu tidak bersalah … Jika ratusan individu yang tidak bersalah harus menderita,” kata Wilkerson.
 Selanjutnya, Mohammad al-Kahtani, tersangka ke-20 peledakan serangan 11 September yang ditahan di Teluk Guantanmo, Kuba dalam sebuah catatan harian penjara mengaku dipaksa telanjang sambil menirukan gonggongan anjing saat menjalani penyidikan.
 Saat tengah malam, kepala Kahtani kerap digebyuri air dan telinganya dijejali musik-musik keras karena mendadak harus menjalani pemeriksaan. Permintaannya untuk shalat senantiasa ditolak.
Selain itu, warga Arab Saudi ini juga diinterogasi di sebuah ruangan yang didekorasi dengan gambar-gambar korban 11 September. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus kencing di celana karena ketakutan. Harga dirinya juga dicabik-cabik ketika lehernya dikalungi gambar wanita setengah bugil. Sampai pernah suatu saat dia minta diperbolehkan bunuh diri.

Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan pernah beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat- kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.

Selanjutnya, Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantánamo juga menerima terror mental. Para sipir penjara menurutnya menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan. Sagheer menyatakan bahwa para tentara itu memberi tahanan sebuah tablet yang akan membuat para tahanan tak sadarkan diri.

“Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya.

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Pembantaian Muslim ASEAN Yang Tak Kunjung Usai

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang berakhir hari Minggu menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Salah satu butir kesepakatan itu adalah tantangan bersama ASEAN untuk ikut andil menghadapi isu terorisme demi menciptakan perdamaian. Hal ini sebelumnya juga sempat ditegaskan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa yang menilai selepas kematian Usamah bin Laden, isu kejahatan lintas negara termasuk terorisme bakal menjadi salah satu fokus Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.

asean-markets

Alangkah naifnya hasil KTT ASEAN itu jika menyatakan ingin memberantas terorisme. Sebab sampai detik ini beberapa Negara pembesar lah yang memiliki rekam jejak menindas umat Islam di negaranya sendiri. Kisah umat Muslim sebagai minoritas sangatlah menyedihkan di benua kecil Asia ini. Mereka hidup bagai anak kehilangan induknya yang dipermainkan musuh. Mereka tumbuh dalam bayang-bayang teror dan kematian. Masjid mereka dibakar, Al Qur’an mereka dirampas, bahkan istri mereka diperkosa di depan suami mereka sendiri. Sedangkan para pembesar-pembesar di negaranya berkumpul di Jakarta demi menciptakan perdamaian di ASEAN.

ktt-asean
Sungguh amat ironis. Sekalipun menindas, mereka pun juga tidak disebut teroris. Tidak ada pengadilan yang jelas untuk mengusut pembantaian terhadap Umat Muslim di Tenggara Asia ini. Sekalipun berjalan, kasus ini pun akan larut ditiup angin, karena hukum dapat dibeli. Seharusnya mereka dapat berkaca terhadap apa yang dilakukan bangsa mereka terhadap Muslim di negara mereka sendiri.

Sebab kita jangan lupa, ditengah peluru yang menyasar bumi Palestina, tidak jauh dari kita: Muslim Thailand, Muslim Myanmar, dan Muslim Filipina masih hidup bergelimang pembantaian. Yang ditindas disebut teroris, tapi sang penindas dianggap mampu mencitapkan perdamaian. Inilah kisah saudaraku yang dibantai “tetanggaku”.

Nestapa Muslim Thailand  Selatan: Pesantren Dibakar, Ustadz Dibunuh

Luka ini kita mulai ketika menyaksikan kekerasan di wilayah Thailand Selatan. Angka yang dicatat oleh National Reconciliation Council menyatakan, sepanjang tahun 2005 saja, tercatat 607 Muslim yang meninggal dunia.

 Kekerasan di Thailand meningkat tajam saat pemerintahan di bawah Komando Thaksin Sinawatra mulai berkuasa. Beberapa tahun sebelumnya, wilayah Selatan relatif aman dan tenang. Tapi hanya dalam dua sampai tiga tahun belakangan, jumlah kekerasana dan tragedi berdarah terjadi beruntun dan meminta kroban dalam skala besar. Peristiwa Masjid Grisek pada april 2004 dan tragedi Tak Bai pada 25 oktober 2004 menelan puluhan Korban jiwa.

Ini belum lagi kebijakan tembak di tempat yang dikeluarkan oleh Thaksin untuk para pengedar dadah atau narkoba. Ribuan orang telah menjadi korban pembunuhan ala petrus atau penembak misterius seperti terjadi di Indonesia periode 1970-an.

 Sebetulnya tuntutan masyarakat Muslim di wilayah Selatan ini cukup sederhana, mereka menuntut Thailand yang dulu bernama Siam untuk membebaskan lima provinsi di wilayah Selatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Tapi ada daya tuntutan itu berbuah nyawa, ratusan orang meninggal karena terbunuh secara keji oleh pemerintah Thailand. Tidak hanya itu, sejak 4 Januari 2004 sampai dengan 30 April 2007, dalam hanya waktu tiga tahun, sebanyak 166 sekolah sudah musnah dibakar. Ini belum dihitung 40 sekolah di wilayah Yala, 56 sekolah di wilayah Pattani, 8 sekolah di Narathiwhat dan dua lainnya di Songkhla.

tatbai2

Sementara itu, kasus ini belum ditambah dengan sejumlah guru yang tewas karena pembunuhan. Menjadi guru bukan pekerjaan ringan di Thailand Selatan, karena sepanjang tahun di atas, 71 guru telah meninggal dunia akibat kekerasan dan penculikan yang berakhir dengan kematian. [21]

Seorang guru Muslim berumur 30 tahun juga telah dibunuh dengan tembakan di daerah Yarang, Provinsi Pattani pada Kamis 24/7/2009. Guru tersebut ditembak saat dirinya sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang. Bisa dikatakan guru tersebut adalah guru keseratus yang dibunuh sejak pecah kerusuhan di daerah mayoritas Muslim tersebut.

Tidak hanya membunuh umat Muslim dan menutup sekolah, tapi pemerintahan Thailand juga memberangus Pondok Pesantren yang ada di Pattani. Bagi pondok-pondok yang mau menuruti tittah pemerintah mereka akan mendapatkan kucuran dana, subsidi dan bantuan pendidikan. Pemerintah juga akan mengirim guru-guru beragama Budha untuk mengajarkan Bahasa Siam dan Ilmu-ilmu lainnya di Pondok tersebut. Maka terjadilah asimilasi besar-besaran pada bangsa dan budaya Melayu menjadi bangsa Thai.

Tekanan demi tekanan untuk menghapuskan sistem pendidikan pondok ini tak pernah surut sampai hari ini. Pondok sering dijadikan sebagai sasaran militer Thailand. Mereka menggeledah dan memeriksa dengan paksa pondok-pondok yang dituduh menyembunyikan para pejuang Pattani atau melindungi mereka. Masyarakat Pattani merasa aksi kekerasan dan tuduhan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand ini sebagai usaha menindas hak pendidikan yang harus didapat oleh Masyarakat Pattani.

musthai
Selain institusi yang menjadi serangan para pengajar di pondok, para ustadz dan juga dimasukkan sebagai daftar hitam oleh pemerintah Thailand. Mereka dituduh sebagai pejuang pembebasan Pattani. Banyak Ustadz yang dikejar-kejar oleh alasan ini. Sejak 2004, banyak pula pondok yang akhirnya ditutup oleh pemerintah Thailand oleh alasan serupa. Kisah pemberangusan pondok di Pattani ini bisa ditelusuri dari penutupan paksa Pondok Tuan Guru Haji Sulong al-Fatani yang bernama Madrasah Al-Ma’arif al-Wataniyah tahun 1926. Kemudian secara massal militer Thailand memburu para guru dan Ustadz pasca unjuk rasa besar-besaran tahunn 1975.

Sejak bulan juli 2004, Undang-undang Darurat ditetapkan di Thailand Selatan. Korban akibat dari undang-undang itu dari tahun 2004-2006 sudah melebihi angka 1300 orang. Korban-koran berjatuhan mulai dari pihak Organisasi Pembebasan Pattani (PULO), Mujahidin Islam Pattani (MIP), Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNPP), dan Front Persatuan Pembebasan Pattani (FPPP).

Selain data kekerasan tentang guru, rezim Thaksin adalah masa-masa terberat bagi umat Islam. Data yang berhasil dihimpun, sejak januari 2004 sampai dengan November 2006, kasus kekerasan yang terjadi di seluruh provinsi di Thailand Selatan sebanyak 5.769 kasus dan korban tewas sebanyak 1.098. Jumlah yang cedera sebanyak 2920. Pada tahun 2005, tercatat jumlah lonjakan paling tinggi kasus kekerasan dilakukan oleh aparat keamanan Thailand, sebanyak 2.297 kasus dibukukan dan belum terselesaikan secara hukum sampai sekarang.

takbai

Selain itu, ribuan kaum Muslimin cedera dan selama periode Januari-Juni 2008. Tercatat 301 orang tewas dan 517 cedera. Kekerasan kali ini tercatat terbesar dan paling berdarah pasca-Kerajaan Siam (Thailand) yang menganut Budha ini menganeksasi kaum Muslimin Pattani di 1902. Mayat-mayat kaum Muslimin ditumpuk hingga mencapai 6 tumpukan.

Di Masjid Al Furqan, yang terletak di Desa Air Tempayan, terjadi pembantaian pada tahun 2009 yang mengakibatkan tewasnya 10 orang kaum Muslimin, dan belasan lainnya luka-luka. Kejadian keji ini dilakukan di dalam Masjid, tepatnya setelah kaum Muslimin melaksanakan shalat Isya berjamaah. Kini, di depan masjid saat ini selalu dijaga oleh penduduk setempat yang dikawal pemerintah Thailand.

Sampai saat ini ratusan bahkan ribuan umat Pattani masih dipenjara. Mereka di penjara akibat keikhlasan hati mereka untuk menyatakan hak dan juga kesanggupan mereka untuk perjuangkan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka yaitu sebuah Kemerdekaan Islam bagi tegaknya dienullah di Selatan Thailand.

derita_pattani
Muslim Myanmar: Kalian Bukan Saudara Kami Orang Rohingya!

Selain itu kisah memilukan –bahkan lebih pilu dari Pattani – terjadi di Myanmar. Kaum Muslim di Myanmar berjumlah 15 % dari total penduduk yaitu sekitar 7 Juta orang. Kira-kira seperduanya berasal dari Muslim Arakan. Arakan sendiri adalah sebuah provinsi Myamnar bagian barat laut yang memiliki tapal batas dengan Bangladesh.

Kaum Arakan selalu mendapat penindasan yang kejam dari pihak pemeluk agama Budha. Di tengah siskaan itu mereka tetap bertahan, kendati banyak pula umat Muslim Myanmar yang tidak kuat atas tekanan itu dan memilih untuk memeluk Budha. Kaum Arakan itulah yang kini bernama Rohingnya. [22]

pattani_5
Muslim Myanmar telah diberi label sebagai salah satu kelompok yang paling teraniaya di dunia. Ditengah hidup dirasa sulit, Pemerintah Myanmar pun menolak untuk mengakui mereka. Mereka mengatakan etnis Rohingya bukanlah penduduk asli Myanmar dan mengklasifikasikan mereka sebagai imigran ilegal, padahal mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi. [23]

Pemerintahan Islam pun sempat berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas sampai ke Selatan Maoulmein yang pada saat itu yang menjabat pada era kegemilanganya adalah Sultan Salim Shah Razagri (1593-1612 M). [24]

Selama 49 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar), jumlah Etnis Muslim Rohingya terus dikurangi, mulai dari pengusiran hingga pembunuhan. Sampai saat ini hanya tersisa sedikit umat Islam Rohingya di Selatan Arakan sedangkan di bagian Utara, Muslim Rohingya masih menjadi mayoritas.

 Untuk membatasi jumlah populasi umat Muslim dan ghirah ketakawaan Umat, Penghancuran Masjid menjadi hal biasa. Ratusan Masjid dan Madrasah telah dihancurkan oleh pihak junta, bahkan Al Qur’an dalam banyak kasus dibakar dan diinjak-injak oleh tentara sedangkan kitab-kitab tentang Islam disita dan dijadikan sebagai bahan pembungkus. Pihak junta juga melarang kaum Muslim untuk melakukan berbagai ibadah.

Tindak pemerkosaan terhadap Kaum Muslimah pun menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi sehari-sehari Muslim Rohingnya. Tak jarang, tentara tiba-tiba masuk ke dalam rumah etnis Rohingya pada tengah malam dan memperkosa kaum wanita di depan suami dan anak-anak mereka. Pengaduan terhadap perlakuan ini hanya akan berujung pada penahanan oleh polisi terhadap pelapor bahkan dalam banyak kasus sang pelapor malah disiksa dan dibunuh.

Di sisi lain pihak junta juga mempersulit gadis-gadis Rohingya untuk menikah. Kita jadi ingat bagaimana program depopulasi yang sering menjadi bagian dari proyek Zionisme internasional untuk menahan laju umat Muslim. Bisa jadi apa yang terjadi di Myanmar juga terkait misi ini.

5830-rohingya1
Masyarakat juga dipekerjakan sebagai porter militer. Mereka mendapat perlakuan kasar lagi pahit hingga sakit dan kematian menjadi hal yang melekat dakam kehidupan sehari-hari Muslim Rohingya. Pemerintah juga sering mengumumkan adanya relokasi penduduk minoritas dengan alasan keamanan. Mereka disuruh pergi sedangkan tanah milik kaum Muslim diambil oleh pemerintah. Data berikut akan memperpanjang daftar perlakuan diskriminatif pemerintah yang berkuasa terhadap Muslim Myanmar. [25]
  1. Pada tahun 1998 ada laporan bahwa penduduk di Wuntho berkewajiban membayar uang untuk merenovasi pagoda. Bila tidak membayar dikenakan denda 5 hari kerja membangun Pagoda
  2. Di Twantay, Yangoon, umat Muslim dibwajibkan untuk menjaga Pagoda Kuno Danoke. Penduduk boleh tidak menjaga, asal membayar uang pengganti
  3. Di Bogalay, daerah Irawadi, pemerintah memerintahkan pembangunan jalan sepanjang 32 mil di desa Pechaung dan Kadone, atau mencari penggantinya dengan menyewa orang dengan bayaran $10-$20. Padahal jalan itu tidak ada kaitannya dengan kepentingan umat Muslim, karena diperuntukkan bagi peziarah Budha atas perintah rahib mereka di Pe-chaung.
  4. Kelompok Islam di daerah Mangundaum di sekitar Arakan diperintahkan membangun pagoda di Dail Fara. Seorang penduduk berkomentar bahwa mereka diharuskan memerlukan 10 orang pekerja tiap minggunya.
  5. Pemerintah melarang kaum Muslimin untuk masuk militer atau naik jabatan ke level perwira menengah. Pemerintah yang berkuasa akan mengajak mereka untuk pindah agama ke agama Budha.
gallery-rohingya-tni

Rentetan peristiwa inilah yang menyebabkan ratusan ribu Muslim Rohingnya migrasi ke Negara lain di tahun 1991. Naas di tempat mereka mengungsi pun, kehidupan mereka tak lebih baik memilukan dengan di kampung halaman. Seperti pepatah keluar dari mulut buaya masuk ke kandang macan. Di Thailand, misalnya, mereka justru “dibuang” ke laut oleh otoritas Thailand.

rohingya
Kelompok hak asasi manusia menyebutkan, Angkatan Laut Thailand telah dua kali mencegat perahu yang ditumpangi ratusan orang Rohingya kemudian meninggalkan mereka begitu saja di laut lepas dalam perahu tanpa mesin dan perbekalan berupa beberapa kantong beras. Akhirnya sejumlah kapal tenggelam dan sedikitnya 500 orang dilaporkan hilang.

Teror Muslim Filipina: Tanah Diambil, Rumah Dibakar

Kisah pembantaian terhadap Muslim sampai sekarang juga masih terjadi di wilayah Filipina Selatan. Bahkan alumni-alumni jihad Moro yang pulang ke Indonesia, masih dikejar dengan tuduhan terkait misi terorisme. Padahal dalam saejarah justru Pemerintah Filipina yang disetir Amerika Serikat yang berperan sebagai pelaku terorisme sejati.

tank

Amerika membantu militer Filipina untuk menyerang dan melakukan pengejaran kepada kelompok pejuang-pejuang Muslim, terutama di wilayah Selatan. Tak hanya dengan pelatihan dan instruktur, tapi juga dengan persenjataan dan juga data intelijen. Salah satu buktinya, kelompok pejuang MILF pernah menembak jatuh pesawat pengintai tanpa awal milik Amerika yang sedang melakukan aktivitas mata-mata di wilayah Selatan Filipina. Pejuang MILF menembak sebuah pesawat mata-mata milik Amerika di wilayah Talayan, Maguindanao pada Desember 2008 silam.

bantai_muslim_filipina
Februari 2008 silam, sebuah tim pencari fakta dibentuk untuk menyelidiki keberadaan militer Amerika di markas-markas militer Filipina. Tim yang bernama The Citizens Peace Watch ini menemukan fakta bahwa ada kehadiran militer Amerika di dalam markas besar militer Filipina di Zamboanga, Mindanao. Ini adalah bentuk operasi bersama antara militer Amerika Serikat dan Filipina untuk menyerang pejuang-pejuang MILF. Pasukan Amerika Serikat yang ada di markas ini menggunakan tanda pengenal DynCorp, sebuah badan semacam kontraktor militer Amerika Serikat yang sangat kontroversial keberadaannya.
Ini adalah secuil bukti betapa Amerika memang telah memberikan bantuan yang substansial pada militer Filipina untuk menindas kaum Muslim yang berada di wilayah Selatan. Bukti lainnya yang bisa disatukan sebagai pecahan puzzle adalah proses migrasi penduduk non-Muslim dari wilayah Utara ke Selatan yang mayoritas Muslim.

Perkampungan-perkampungan penduduk Katolik dibangun di tengah-tengah wilayah perkampungan Muslim. Terjadi perampasan-perampasan tanah komunitas Muslim yang ada di Mindanao khususnya. Ironisnya, perkampungan yang merampas tanah penduduk Muslim ini justru dijaga oleh militer Filipina, bahkan beberapa kampung dipersenjatai. Tanah yang dirampas dan hak atas tanah itulah yang diperjuangkan oleh kaum Muslimin di wilayah Selatan Filipina. Tapi tragisnya, justru mereka yang dituduh sebagai pemberontak, kekuatan separatis, bahkan diberikan julukan terorisme.

mindanao_moslems

Perampasan tanah kaum Muslimin di Mindanao memang terjadi secara sistematis dan dilakukan oleh pemerintah Filipina. Pada tahun 1902 dibuat sebuah undang-undang dengan nama Land Registration Act No 496 yang mewajibkan pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis dan di bawah sumpah. Tentu saja hal ini akan merugikan kaum Muslimin di Selatan Filipina yang mewarisi tanah turun temurun dari Kesultanan Islam Sulu di masa lalu.

Lalu muncul lagi peraturan baru, Philippine Commission Act No 718 yang menegaskan bahwa hibah tanah dari para Sultan, Datuk, atau kepala suku non-Kristen dianggap tidak berlaku dan tidak sah jika dilakukan tanpa ada wewenang dan persetujuan dari pihak pemerintah. Dengan lahirnya undang-undang ini, semakin sulit posisi kaum Muslimin di Mindanao.

Ada undang-undang lain, Public Land Act No 296 yang disahkan pada Oktober 1903 yang menyatakan bahwa semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No 496 adalah tanah negara. Sementara The Mining Law of 1905 adalah peraturan yang menyatakan semua tanah negara di Filipina adalah bebas dieksplorasi, dibeli dan dimiliki oleh warga negara Filipina dan Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan Cadastral Act of 1907 yang memberikan kewenangan penuh kepada orang-orang yang lebih berpendidikan dan mengerti tentang masalah pertahanan untuk melakukan klaim-klaim secara legal.

Daftar masih panjang. Quino-Recto Colonialization Act No 4197 adalah pintu gerbang yang dibuat untuk penguasaan tanah kaum Muslimin di wilayah Mindanao. Pada awalnya, pemerintah akan membuka jalan dan akses transportasi, selanjutnya mengadakan survei pertanahan, dan tahap berikutnya adalah membangun koloni-koloni baru yang didatangkan dari Utara agar kaum Muslimin tak menjadi mayoritas di wilayah Mindanao. Di bawah program National Land Settlement Administration, gelombang migrasi warga Kristen dari wilayah Utara masuk dan melakukan klaim tanah di Mindanao. Nyaris seperti yang terjadi di Palestina, Muslim Mindanao di Filipina Selatan mengalami pengusiran dan penindasan. Bedanya, pemerintah Filipina melakukannya seolah-olah dengan tindakan legal dan undang-undang.

manguindanao

Pengembalian hak itu pula yang dituntut dan diperjuangkan oleh rakyat Mindanao, termasuk para pejuang MILF. Selain dengan cara mengumpulkan kekuatan umat Islam dalam perlawanan bersenjata, jalur diplomatik pun ditempuh dengan mengajukan perundingan yang melahirkan Memorandum of Agreement Ancestral Domain (MOA-AD). Tapi ironisnya, setelah melalui perundingan panjang yang rumit dan melelahkan, yang difasilitasi beberapa negara OKI, di hari penandatanganan, tiba-tiba saja Pengadilan Tinggi Filipina membatalkan kesepakatan. Semestinya, peninjauan ulang terhadap hasil keputusan perlu waktu sekurang-kurangnya tiga bulan.

Tapi dalam kasus ini, entah karena tekanan apa tiba-tiba saja Malacanang menarik kesepakatan pada 5 Agustus 2008. Nota keberatan yang diajukan oleh Muslim Legal Assistance Foundation (MUSLAF), Consortium of Bangsamoro Civil Society (CBCS) dan juga Bangsamoro Women Solidarity Forum (BWSF) tidak digubris sama sekali. Bahkan mereka tak diberikan kesempatan untuk bertanya langsung pada Pengadilan Tinggi.

 MOA-AD adalah sebuah perjanjian yang mengatur pengakuan atas tanah leluhur di wilayah Mindanao pada penduduk Muslim. Perjanjian ini dijalin antara dua komponen, pemerintah Filipina dan MILF. Di dalam MOA-AD dirancang pengaturan tentang hal-hal prinsip yang mengenai, teritorial, sumber daya alam, dan pengelolaannya merujuk pada tanah warisan Bangsamoro.

Kesepakatan yang dirancang di Libya ini diberi nama Tripoli Agreement on Peace pada 22 Juni 2001. Di dalamnya diatur tentang hak rakyat Mindanao mengurus dan mengelola tanah dan seluruh hasilnya secara independen. Termasuk memberikan hak kepada Bangsamoro memiliki identitas sebagai bangsa Muslim tersendiri. Hal ini sangat beralasan, sebab Mindanao merujuk pada era Kesultanan Sulu tak pernah ditaklukkan dan tak pernah dijajah oleh Spanyol. Tapi ketika Spanyol dikalahkan oleh Amerika, wilayah Mindanao dimasukan sebagai wilayah yang diserahkan pada Amerika.

anak_kecil_filipina

Pada tanggal 27 Juli 2008, terjadi pertemuan yang sangat serius dan final di Kuala Lumpur. Semua telah setuju dengan seluruh klausul yang ada dalam MOA-AD. Tapi ketika akan ditandatangani secara resmi pada 5 Agustus 2008, semua kesepakatan dibatalkan sepihak oleh pihak Filipina. PAustralia, Jepang dan Brunei Darussalam. Diduga, ada tekanan-tekanan yang lebih besar berada di belakang pembatalan kesepakatan.

Gagalnya penandatanganan ini memicu kekerasan yang terjadi di wilayah Selatan, terutama Mindanao. Pejuang-pejuang MILF yang merasa dikhianati oleh pemerintahan Filipina secara sporadis melakukan serangan pada fasilitas-fasilitas militer Filipina. Serangan balasan pun dilakukan, dan masyarakat sipil jatuh sebagai korban. Sebagian besar sipil yang menjadi korban dituding oleh militer Filipina sebagai pelindung dan menyembunyikan pemberontak.

Serangan yang terus terjadi, meluas pada sasaran sipil yang dilakukan oleh militer Filipina. Rumah-rumah dibakar, kekerasan serta pembunuhan terjadi pada masyarakat Muslim. Kurang lebih, sampai hari ini ada 600.000 kaum Muslimin di Selatan Filipina yang terusir dari tanah dan rumahnya, dan kini mereka menjadi pengungsi. Di Maguindanao saja, data resmi yang berhasil dikumpulkan tentara Filipina telah membakar 1.700 rumah penduduk yang dituduh simpatisan MILF.[26]

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Dimanakah Yahudi Berlindung Saat Dikejar Musuh?

holocaustyahudi

Sekalipun Islam dituduh sebagai agama anti semit oleh Yahudi. Sekalipun Islam dituduh sebagi penteror nomor satu bagi Yahudi. Alangkah baiknya, mereka harus kembali membuka lembaran hitam sejarah ketertindasan mereka. Sejarah “hitam” ketika mereka justru diselamatkan oleh kaum Muslim saat dikejar-kejar oleh NAZI. Islam lah yang dengan berbesar hati membuka pintu rumahnya untuk dijadikan tempat bersembunyi oleh NAZI.

Kisah ini bukanlah roman picisan belaka, atau rekayasa. Fakta ini benar-benar terjadi di sebuah Negara bernama Albania. Sebuah Negara berbasis Muslim yang ditandai ketika Khalifah Usmaniyah menguasai negara itu antara tahun 1385-1912.

 Dalam jejak Perang Dunia II, kisah pembantaian orang Yahudi menjadi catatan tersendiri bagi mereka. Mereka dikejar dan dicari oleh bala pasukan NAZI. Dalam keadaan bingung, mereka hampir putus asa, terlebih jalur pelarian menjadi satu hal yang sulit mereka perjuangkan.
 Dalam keadaan bimbang, mereka bagai mendapatkan setitik cahaya. Dari informasi yang beredar, ada sebuah negara berpenduduk ramah lagi baik terhadap tamu. Negara itu bernama Albania. Sebuah Negara berbasis Muslim yang masuk ke teritori Eropa bagian Tenggara –yang kini- berbatasan dengan Montenegro di sebelah Utara, Serbia (Kosovo) di Timur laut, Republik Makedonia di Timur, dan Yunani di Selatan. [27]

besa-norman-gershman

Sekitar dua ribu orang Yahudi kemudian melarikan diri ke daerah Albania. Disana, mereka dilindungi oleh keluarga-keluarga Muslim Albania di kota Berat. Para Muslim Albania mempertaruhkan nyawa guna melindungi pengungsi Yahudi yang meminta pertolongan.

Padahal menyembunyikan Yahudi risikonya sangat tinggi, karena setiap saat patroli NAZI dapat datang ke perkampungan dan menggeledah setiap rumah. Kalau sampai ketahuan menyembunyikan Yahudi, maka kehilangan nyawa adalah ganjarannya.

Namun menurut catatan sejarah, tidak ada satupun pengungsi Yahudi yang diserahkan oleh Muslim Albania pada pihak NAZI. Dengan penuh keikhlasan dan kebesaran hati, para Muslim Albania melindungi pengungsi Yahudi dengan segenap cara.

Justin Kerber, seorang Rabbi Yahudi sampai-sampai mengatakan, “Komunitas Muslim ada diantara orang-orang yang telah menghadapi resiko besar karena memberikan perlindungan pada kaum Yahudi di rumah-rumah mereka. Dan mereka melakukannya tanpa melihat latar belakang agama para Yahudi,”

Sedangkan, Dr Ghazala Hayat, seorang doktor ahli syaraf di Universitas St. Louis dan juru bicara Islamic Foundation di Greater Saint Louis mengatakan, “Anda mungkin belum pernah mendengar cerita ini, bagaimana komunitas Muslim Albania mempertaruhkan nyawa mereka sendiri untuk mengamalkan keimanan dan menghormati kehidupan yang disebut Besa,”

Besa sendiri adalah tradisi yang berakar dari Al Qur’an yang berarti “memegang janji” atau “menjaga kehormatan”. BESA juga berarti peduli pada yang membutuhkan, melindungi kaum lemah, dan menolong sesama.

Dalam upaya melindungi kaum Yahudi, para Muslim Albania menganggap mereka sebagai saudara. Mereka diberikan pakaian yang sama, makanan yang sama, dan tinggal bersama-sama di rumah seperti anggota keluarga. Apabila ada patroli Jerman datang, kaum Yahudi disembunyikan di bawah tanah atau tengah hutan.

Kisah dari keluarga Kasem Kocerri, yang didatangi serombongan patroli NAZI pada awal 1944, menarik disimak. Saat itu, tentara NAZI menanyakan di mana para pengungsi Yahudi bersembunyi. Tapi Kasem menolak untuk memberitahu. Diam-diam, ia menyembunyikan keluarga Yahudi di salah satu gudang di atas bukit.

Keluarga Halil Frasheri menceritakan pengalamannya yang mencekam saat patroli NAZI menggeledah rumah ke rumah. Ia, melalui pintu belakang, mengajak keluarga Yahudi yang bersembunyi di rumahnya, untuk lari ke dalam hutan. [28]

Namun kisah fenomenal diatas itu semua, terjadi ketika Yahudi mengalami berbgai kekejaman di Eropa, kaum Yahudi di wilayah Utsmani mersakan hidup di tanah air. Selama ratusan tahun mereka tinggal disana, menikmati kebebasan beragama dan berbagai perlindungan sebagai kaum minoritas atau ahlud dimah. Selama itu, kaum Yahudi tidak berfikir untuk berpisah dari Ustmani.

nazi-shooting-jew

Kondisi Yahudi di Ustmani itu begitu bertolak belakang dengan perlakuan yang diterima Yahudi di dataran Eropa sehingga mereka harus mengungsi besar-besaran ke Eropa, dan terutama ke wilayah Utsmani. Padahal ketika Spanyol berada dibawah pemerintahan Islam, kaum Yahudi juga mendapat perlakuan yang baik,

Oleh karenanya, Martin Gilbert, dalam Atlas of Jewish Civilization mencatat bagaimana kebijaksanaan penguasa Muslim Spanyol terhadap Yahudi. Dia katakan bahwa penguasa Muslim juga memperkejakan sarjana Yahudi sebagai kecintaan mereka terhadap Sains dan ilmu pengetahuan. [29]

Dengan berbagai fakta sejarah yang ada, pelabelan Islam adalah fundamentalis. Islam adalah radikalis, bahkan Islam adalah teroris patut ditinjau ulang. Jika menegakkan Islam secara kaffah adalah teroris, menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem kufur adalah teroris, lalu mendelegasikan bahwa sistem buatan manusia adalah bathil, maka dengan senang hati kami bangga disebut teroris. Karena label manusia menjadi tidak penting dibanding ridha Allah Subhana wata’ala. Allahua’lam

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (QS. At-Taubah 9:31-32).

Catatan Kaki

[1] Harian Kompas, Jangan Biarkan Radikalisme, Jum’at 29 April 2011.

 [2] Setara Institute dalam penelitian yang berjudul “Radikalisme Agama di Jadebotabek & Jawa Barat: Implikasinya terhadap Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan,” mencatat bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi memprihatinkan.Tahun 2007, Setara mencatat terdapat 185 jenis tindakan dalam peristiwa 135 kebebasan beragama dan berkeyakinan. Penelitian yang diselenggarakan dari tahun 2007-2010 inipun menimbulkan polemik di kalngan umat Islam.
Tahun 2008, terdapat 367 tindakan di 265 peristiwa. Tahun 2009, masih dalam survey Setara, terdapat 291 tindakan untuk 200 peristiwa. Tahun 2010, tidak kurang 175 peristiwa. Dan uniknya, menurut data penelitian itu, nyaris semua pelanggaran, selalu berhubungan dengan organisasi-organisasi Islam radikal.
 [3] Melalui bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Menurutnya, di antara berbagai peradaban besar yang masih eksis hingga kini hanyalah Islam yang berpotensi besar menggoncang peradaban Barat, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah.
 [4] Selain istilah radikalisme, Barat juga menyebut dengan fundamentalisme. Lihat William Montgmery Watt, Islamic Fundamentalism And Nodernity, T.J. Press (Padstow)

Ltd, London, 1998, hlm.2.

 Fundamentalisme juga berarti anti-pembaratan (westernisme). Lihat juga Fazlur Rahman, Islam And Modernity, The University of Chicago Press, Chicago, 1982, hlm.136.

[5] Lihat Al-Zastrouw Ng, Gerakan Islam simbolik: Politik Kepentingan FPI, (Yogyakarta: LKiS, 2009) hlm. 4.

 [6] Rezim Bonapartis adalah rezim yang sungguh otoriter. Mereka menjadikan rakyatnya sebagai konsumen. Pemerintah terkesan cuci tangan dalam mengurus warganya, sehingga tak jarang rakyat dalam rezim bonapartis menjadi korban ulah negara (state neglect) yang tak terurus.
 Bagi rezim ini, kebijakan sosial hanya digunakan oleh kelompok elite untuk menjaga status quo. Kebijakan Bonapartis cenderung digunakan untuk terus mempertahankan dominasi negara terhadap rakyatnya.

Konsekuensinya, keadaan rakyat tak banyak berubah. Bahkan, cenderung kian memburuk, sengsara, dan menderita. Berbagai kebijakan yang dihasilkan rezim Bonapartis pun tidak memihak rakyatnya karena tidak didasarkan fakta dan realita, tetapi bagaimana tetap berkuasa.

 [7] Islam Fundamentalis juga kadang disebut dengan sebutan lain seperti Islam Politik. Dalam sejumlah literatur, berbagai istilah baik itu Islam Politik, “fundamentalisme”, Neo fundamentalisme atau revivalisme Islam memiliki substansi yang sama. John Esposito misalnya menyamakan istilah Islam Politik dengan “fundamentalisme Islam” atau gerakan-gerakan Islam lainnya. Lihat Riza Sihbudi, Menyandera Timur Tengah, (Jakarta: Mizan, 2007) h. 24
 [8] Lebih lengkap baca, Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta: GIP, 2010)
 Selain itu menurut Karen Armstrong, fundamentalisme tidak hanya terdapat pada agama seperti Islam, Kristen, Yahudi melainkan juga terdapat dalam agama Hindu, Buddha dan bahkan agama Kong Hu Chu, yang sama‑sama menolak butir‑butir budaya liberal, melakukan kekerasan atas nama agama‑maupun membawa sakralitas agama ke dalam wilayah politik dan negara. Lihat, Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen Dan Yahudi, Terj. Satrio Wahono, dkk. (Bandung & Jakarta: Mizan & Serambi Ilmu Semesta, 2000), hlm. x.
 [9] DR. Haidar Ibrahim Ali. Al Ushûliyyah; Al Târîkh Wa Al Ma’na.
 [10] James Barr. Fundamentalisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia.) Hal. 1-2. James Barr adalah Guru Besar Bahasa Ibrani di Universitas Oxford. Ia disebut-sebut peletak dasar kajian tentang fundamentalisme.
 [11] Haidar Ibrahim Ali, op.cit
 [12] George Marsden adalah seorang sejarawan yang telah banyak menulis tentang interaksi antara Kristen dan budaya Amerika, terutama pada Kristen Evangelikalisme.
 [13] James Barr, op.cit, h. 378.
 [14] I.J. Satyabudi, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana, menulis dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, bahwa penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M, sampai 1976 M, telah menghasilkan 5366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang berasal dari tahun 135 M sampai tahun 1700 M yang terdiri dari 3157 manuskrip yang bervariasi ukurannya.
 Dari 5366 salinan naskah itu, jika diperbandingkan, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata. Lihat Adian Husaini, Problem Teks Bible.
 [15] Fadhli Ayas, Menguak Fundamentalisme.
 [16] Sayyid Quthb, Beberapa Studi Tentang Islam, (Jakarta: Media Dakwah, 2001) h. 101
 [17] Bisa dilihat dala tulisan Kelsos dengan judul Victims of The Christian Faith di situs http://www.truthbeknown.com yang kemudian ditulis kembali oleh Hj. Irena Handono dalam buku Fitnah dan Teror, (Bekasi: Gerbang Publishing, 2008)
 [18] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, (Jakarta: GIP, 2004) h. 141
  [19] Ibid, h. 140
 [20] Ibid. h. 145
 [21] Herry Nurdi, Perjuangan Muslim Pattani, (Jakarta: Sabili Publishing, 2010) h. 14
 [22] Awalnya mereka dinakakan Rohang, dan merupakan sebuah bangsa yang berdiri sendiri. Lebih lengkap baca, Seri penelitian PPW-LIPI, Problematika minoritas Muslim di Asia Tenggara : Kasus Moro, Pattani, dan Rohingya. (Jakarta : Puslitbang Politik dan Kewilayahan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2000) h. 48
 [23] Etnis Rohingya sudah tinggal di Arakan sejak abad ke-7 Masehi. Hal ini merupakan bantahan bagi junta militer yang menyatakan, bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang yang di tempatkan oleh penjajah Inggris dari Bangladesh. Memang secara fisik etnis Rohingya memiliki kesamaan fisik dengan orang Bangladesh. Merupakan keturunan dari campuran orang bengali, Persia, Mongol, Turki, Melayu dan Arab menyebabkan kebudayaan Rohingya sedikit berbeda dari kebanyakan orang Myanmar. Termasuk dari segi bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Parsi, Urdu dan Bengali.
 [24] M. Ali Ketani, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa ini, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2005) hlm. 204
 [25] Sri Nuryanti, Minoritas Muslim di Filipina, Thailand, dan Myanmar : Masalah Diskriminasi Sosial-Budaya, dalam Seri penelitian PPW-LIPI, Problematika minoritas Muslim di Asia Tenggara : kasus Moro, Pattani, dan Rohingya. (Jakarta : Puslitbang Politik dan Kewilayahan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2000) h. 64
  [26] Herry Nurdi, Gold, Glory and Gospel di Tanah Muslim, http://www.penerang.com, 12 Oktober 2010.
 [27] Junanto Herdiawan, BESA: Kisah Islam yang Menyelamatkan Yahudi, Kompas, 29 April 2011
  [28] Tradisi Besa Muslim Albania Selamatkan Kaum Yahudi dari Kejaran Nazi, eramuslim.com, 25 Oktober 2010
 [29] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi, Kristen, Islam. (Jakarta: GIP, 2004) H. 163
sumber : klik

AIR atau API

Posted: Mei 22, 2011 in ISLAM, Khazanah, sharing n completed

Mereka menawarkan AIR padahal hakekatnya mereka menawarkan API, begitupula sebaliknya

Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan proyek tafsir alquran online. Sejumlah negara-negara Arab mencurigai proyek yang menurut Israel bertujuan untuk menjembatani dunia Islam dengan Barat.

Kementerian Luar Negeri melibatkan sekitar 15 akademisi Muslim dari kalangan Arab Badui di Israel untuk membuat proyek yang diberi nama Quranet itu. Menurut Kementerian Luar Negeri, keterlibatan mereka sebagai bagian dari program Master mereka di bidang konseling di bidang pendidikan dan sebagai “alat pendidikan untuk mengungkap keindahan al-Quran dan penghormatan al-Quran terhadap kemuliaan umat manusia.”

Israel juga melibatkan tiga ulama Islam yang akan memeriksa kembali keseluruhan isi Quranet. Meski demikian, pengawasan terhadap Quranet tetap berada di pihak Israel, yang menunjuk seorang Yahudi Profesor Dr. Ofer Grosbard sebagai pengawasnya.

Situs Kementerian Luar Negeri Israel menyebutkan, Quranet adalah proyek untuk mentransformasikan al-Quran menjadi alat yang unik dan bisa dimanfaatkan untuk sarana pendidikan bagi para orangtua dan guru. Dengan cara ini orang akan dengan mudah mengakses keindahan dan kekuatan al-Quran.

Untuk mengakses Quranet, para penggunanya tinggal memilih indeks topik yang diinginkan untuk mendapatkan ayat-ayat al-Quran yang relevan dengan topik terkait, disertai dengan penjelasan bagaimana cara mengimplementasikan ayat-ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Proyek Quranet ditampilkan pada bulan Mei di aula gedung kepresidenan Israel di wilayah pendudukan Yerusalem. Selain meluncurkan situsnya, materi-materi Quranet juga akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Universitas Ben Gurion.

Israel meluncurkan situs Quranet, karena terinspirasi dari seorang mahasiswa Badui yang sedang mengikuti pendidikan di bidang ilmu Psikologi Pembangunan. Mahasiswa itu mengatakan pada Profesor Grosbard bahwa ayat-ayat al-Quran mampu memberikan dampak yang dashyat bagi para orang tua yang berkonsultasi tentang problem anak-anak mereka.

Grosbard kemudian membawa al-Quran ke kelas mereka dan meminta para mahasiswa Badui itu menunjukkan ayat-ayat mana yang terkait dengan masalah pendidikan. Mereka kemudian memilih 300 ayat. Masing-masing ayat dikaitkan dengan cerita dan penjelasan singkat dari sisi pendidikan dan psikologi yang dibuat Grosbard. Ayat-ayat yang dipilih itu kebanyakan ayat-ayat yang berisi tentang tanggung jawab, saling menghormati dan kejujuran.

Namun proyek Quranet Israel ini menimbulkan kekhawatiran di dalam dan di luar Israel. Kementerian Agama Mesir menilai Israel akan memanipulasi al-Quran untuk kepentingannya sendiri. Deputi kementerian agama Mesir Syaikh Shawqi Abdul Latief menyatakan, kementeriannya akan mengeluarkan pernyataan tentang manipulasi dalam proyek itu dan akan mengeluarkan larangan terhadap Quranet di dunia Islam.

Pernyataan tegas juga dikeluarkan oleh Kementerian Agama Palestina yang meragukan validitas dari tafsir al-Quran versi Israel. Menurut kementerian itu, sudah ada tafsir-tafsir al-Quran yang benar dan tidak perlu diluncurkan tafsir seperti proyek Quranet Israel


Hermeneutika, suatu istilah baru yang bersifat akademik, untuk menafsirkan maksud, pengertian dan tujuan suatu teks-teks kuno. Metode tafsir Hermeneutika  yang akhir-akhir ini  marak digunakan di perguruan tinggi Islam mengandung bahaya yang sangat besar kepada Al-Quran khususnya dan pemahaman umat Islam pada umumnya. Mengapa demikian? Berikut ini pembahasan lebih dalam tentang asal muasal tujuan diterapkan hermeneutika sampai  akhirnya dipaksa diterapkan dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Dari segi bahasa hermeneutika yang meminjam perkataan Inggris hermeneuticsberasal dari perkataan Greek (Yunani) hermeneutikos. Aristotle ahli filsafat Greek dahulu pernah menulis tajuk yaitu Peri Hermenias yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai De interpretatione yang lantas dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai On the Interpretation.

Namun, jauh sebelum terjemahan dalam bahasa latin, al-Farabi (w.339/950), seorang ahli filsafat Muslim terkemuka, telah menerjemahkan dan memberi komentar karya Aristotle itu terlebih dahulu ke dalam bahasa Arab dengan judul Fi al-‘Ibarah. Jadi dari segi bahasa sebenarnya hermeneutics itu artinya adalah pemahaman (to understand), yaitu bagaimana kita memahami sesuatu, khususnya pemahaman tentang teks tertentu.

Kemudian hermeneutika ini dikembangkan menjadi suatu metodologi yang khusus untuk menafsirkan bible yaitu kitab suci orang-orang kristen. Nah, kenapa mereka membangun metodologi demikian? Karena didalam bible mereka menghadapi masalah dengan teks-teks bible itu sendiri.

Mereka tahu bahwa bible ini bukan ditulis oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam (yang dipercaya orang-orang nasrani sebagai Yesus) dan bukan pula ditulis oleh murid-murid Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa. Jadi kalau kita lihat bible new testament atau perjanjian baru, disana ada Injil Johanes, Injil Markus, Injil Mathius, Injil Lukas dan sebagainya. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, tetapi mereka menulis tentang bible dan menceritakan tentang kisah hidup Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Dalam ilmu hadits, kalau seseorang meriwayatkan hadits tapi dia tidak pernah bertemu dengan Rasulullah maka hadits itu dikatakan mursal. Seharusnya yang bisa menceritakan kisah hidup Rasulullah itu hanya sahabat. Jika ada tabi’in mengatakan sami’tu Rasulullah (saya mendengar Rasulullah) maka haditsnya mursal, dan mursal itu dhoif, yaitu tidak bisa diterima dari segi periwayatan.

Kalau kita menilai bible dengan menggunakan ilmu hadits maka seluruh isi bible itu mursal semua, semua riwayatnya tertolak. Jangankan membandingkan bible dengan Al-Qur’an, bahkan membandingkan bible dengan hadits saja tidak seimbang.

Al-Qur’an memiliki riwayat yang mutawatir, seluruh Al-Qur’an memiliki jalur periwayatan yang amat banyak. Sedangkan bible, selain riwayatnya ahad (tunggal, dibawa oleh seorang saja – Johanes, Markus, Lukas dan Mathius hanya meriwayatkan seorang diri) juga riwayatnya mursal, sanad atau mata rantai periwayatannya terputus, karena mereka tidak pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Demikian fakta pertama tentang bibel.

Fakta kedua adalah, bahwasanya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam itu berbicara dalam bahasa Aramaic sedangkan bible ditulis berdasarkan kepada manuskrip  yang berbahasa Yunani atau bahasa Greek. Padahal Nabi ‘Isa ‘alaihissalam tidak berbicara dengan bahasa Greek.

Kemudian bible-bible yang berkembang sekarang ini bukanlah lagi menggunakan bahasa Greek. Ada bahasa Inggris, bahasa Jeman, bahasa Perancis. Sedangkan bible yang berbahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris. Mereka mengatakan semuanya itu adalah bible. Sedangkan bagi Al-Qur’an, terjemahan Al-Qur’an itu bukanlah Al-Qur’an itu sendiri. Itu hanya terjemahan saja, sedangkan Al-Qur’an yang asli itu dalam bahasa Arab.

Karena orang-orang kristen menghadapi masalah yang seperti ini, mereka menganggap di dalam bible ada gap, ada suatu jarak antara bible dan Nabi ‘Isa yang menerima wahyu. Oleh karena itu mereka mencurigai atau tidak meyakini bahwasanya bible yang sekarang ini mewakili wahyu yang diterima oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Maka pada gilirannya, mereka membangun satu metodologi yang disebuthermeneutics, tujuannya untuk menjembatani antara wahyu yang diterima Nabi ‘Isa dengan empat orang periwayat bible tadi, disebabkan ada jarak atau rentang waktu yang cukup jauh  bahkan sampai seratusan tahun. Jadi mereka ingin mencari suatu pendekatan supaya ketika mereka membaca bible, mereka bisa mendapat wahyu yang diperoleh oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Tegasnya, hermeneutika yang dibawa oleh kaum nasrani itu bermula dari kecurigaan mereka akan keraguan tentang keaslian teks-teks di dalam bible (Injil Johanes, Injil Lukas, Injil Markus dan Injil Mathius) karena penulisan teks-teks dalam bible tersebut dilakukan setelah seratusan tahun lebih dari semenjak Nabi ‘Isa ‘alahissalam. Artinya penulis bible itu tidak pernah hidup sejaman dengan Nabi ‘Isa ‘alaihisaalam. Maka metodologi hermeneutika itu digunakan untuk menjembatani “rentang yang hilang”  sehingga diharapkan akan mendekatkan mereka dengan wahyu sebenarnya yang diterima oleh Nabi ‘Isa ‘alahissalam. Demikianlah asal dari hermeneutka bible itu.

Metoda “MENAMBAL” rentang yang hilang pada bible (hermeneutika) itu dianggap sebagai metode ilmiah yang sahih, dan sekarang di-coba-paksa-terap-kan dalam kitab suci orang Islam, Al-Qur’an. Sementara itu hasil “uji coba” hermeneutika  pada bible sampai sekarang tidak menghasilkan rekonstruksi bible baru yang kemudian mereka sahihkan sebagai wahyu Allah yang dahulu diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam  (dan saya yakin hal itu mustahil akan berhasil)

Anehnya, saat ini orang-orang muslim banyak yang terpesona, – (astaghfirullah al’adziim, kembali kita menyaksikan kebodohan karena terpesona dengan metodologi non muslim – Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? [Al-Munafiqun 63:4]). Sekarang apabila seseorang ingin menerapkan hal ini kepada Al-Qur’an, asumsi yang harus ia buat pertama kali adalah kita memiliki masalah terhadap teks-teks Al-Qur’anul Karim. Orang seperti ini akan mengatakan bahwa teks Al-Qur’an ini bermasalah. Sebab jika seorang menggunakan hermeneutika berarti ia menganggap Al-Qur’an ini ada yang menulis atau mengarangnya.

Menurut hermeneutikawan, didalam setiap buku kuno maupun buku baru disana ada 3 unsur : yang pertama adalah teks. Buku itu terdiri dari huruf, kata-kata, kalimat, paragraf dan seterusnya. Kemudian yang kedua, sebuah buku tidak mungkin jadi begitu saja. Mesti ada yang mengarangnya. Yang ketiga, ada pembacanya.

Ketiga hal tersebut sangat tepat diterapkan kepada bible karena ada teks, ada penulis/pengarangnya dan ada pembacanya. Karena bible tidak mewakili seluruh wahyu Tuhan yang diterima oleh Nabi ’Isa ’alaihissalam, maka pembacanya tidal dapat menyerap seluruh wahyu tersebut. Dengan alasan inilah dibangun suatu metode hermeneutika, sehingga salah satu tujuan hermeneutika bible adalah supaya kita bisa membaca teks sebaik atau lebih baik dari pengarangnya.

Hal ini sah-sah saja karena tujuan orang kristen untuk membaca bible dengan metode hermeneutika adalah supaya mereka mampu membaca bible sebaik Johanes, Lukas, Markus dan Mathius. Atau bahkan agar bisa lebih baik dari mereka karena ada jarak tadi. Maka wajar bila metode ini diterapkan dalam studi bible.

Tetapi apabila hal ini diterapkan kepada Al-Qur’an maka apakah terpikir di dalam benak umat Islam bahwa kita akan membaca Al-Qur’an sebaik atau lebih baik daripada yang menurunkannya yaitu Allah SWT. Mustahil hal ini terjadi, tidak terpikir sama sekali oleh umat Islam karena ketika kita membaca Al-Qur’an itu kita berada di belakang Al-Qur’an. Kita tidak bisa macam-macam dengan Al-Qur’an.

Kalau kita membaca buku biasa, sebenarnya kita melakukan reproductive reading, membaca kembali apa yang telah ditulis pengarang.  Jadi kita berada di belakang pengarang, kita ikut alur pengarang.

Dalam metode hermeneutika, kita tidak lagi melakukan reproductive reading tapi kita memproduksi makna baru dari teks itu sendiri. Maka ia disebut sebagai productive reading, yaitu membaca secara produktif. Jadi karena pengarangnya sudah mati, maka kita bisa membaca dan bisa memahaminya semampu dan semau kita dengan makna baru yang kita produksi sendiri. Mau diapakan saja teks itu terserah kepada pembaca. Dalam hal ini pembaca berada dalam posisi sangat bebas untuk mengartikan dan memahami teks. Inilah yang disebut denganproductive reading yang dalam bahasa Arab disebut dengan qiro’ah muntijah. Hal ini tentu tidak bisa diterapkan untuk Al-Qur’an Al-Karim, khususnya tentang apa-apa yang sudah qoth’i atau pasti.  Kita harus selalu di belakang Al-Qur’an, kita di belakang Allah subhanahu wata’ala.

Hermeneutika dalam bible ini kemudian dikembangkan dalam dunia filsafat, sehingga dia menjadi metodologi umum dalam memahami teks apa saja. Perkembangan pemakaian metode hermeneutika ini dibawa oleh seorang protestan bernama Friedrich Schleiermacber. Dialah yang sebenarnya bertanggungjawab dalam membawa hermeneutika ini dari ruang lingkup biblical studies ke dalam lingkungan filsafat. Sehingga setiap karya yang berupa teks dapat menjadi objek dari hermeneutika.

Sebuah thesis Ph.D milik Dr. Arief Nayed (ISTAC) mengenai hermeneutika juga menyatakan hal demikian. Originally, the term ’Hermeneutics’ was employed in reference to the field of study concerned with developing rules and methods that can guide biblical exegesis. During the early years of the nineteenth century, ‘Hermeneutics’ became ‘General Hermeneutics’ at the hands of philosopher and protecstant theologian Friedrich Schleiermacber. Schleiermacber transformed Hermeneutics into a philosophical field af study by elevating it from the confines of narrow specialization as a theological field to the higher ground of general philosophical concerns about language and its understanding.  

Dekonstruksi Al-Quran

Hermeneutika yang kini telah menjadi metodologi umum, apakah mungkin hermeneutika ini diterapkan kepada Al-Quran. Mereka berkata bahwa “Al-Quran adalah buku, adalah teks, adalah kitab kuno atau kitab klasik. Jadi ada jarak antara kita dengan Rasulullah”.

Tentang keaslian teks-teks Al-Quran itu pun mereka pertanyakan, mereka keluarkan riwayat-riwayat maka timbullah kajian tentang dekonstruksi (baca : pembongkaran kembali) Al-Qur’an. Al-Qur’an ingin mereka konstruksi ulang, mereka edit sampai-sampai ingin mengeluarkan Al-Qur’an edisi kritis. Maksud mereka ingin merubah kembali Qiro’ah Al-Qur’an, wallahu musta’an. Kita lihat bagaimana mereka dengan lancang mengutak-atik firman Allah. Hal ini tidak lain dikarenakan oleh metodologi kufur hermeneutika itu sendiri.

Hermeneutika memiliki banyak aliran, ada hermeneutika Emilio Betti, hermeneutika Friedrich Schleiermacber, hermeneutika  Paul Ricouer. Yang paling gencar dikembangkan akhir-akhir ini adalah hermeneutika Paul Ricoeur.

Paul Ricoeur mempunyai gagasan yang disebut the hermeneutics of suspicion, yaitu teori kecurigaan. Ia berkata kalau ingin memahami suatu teks maka harus mencurigai teks itu sendiri, memeriksa motif dan maksud penulis, mengetahui latar belakang penulis, maka barulah dapat dipahami maksud sebenarnya dari teks tersebut. Jadi, ”ketika kita tidak tahu apa motif dan maksud dari penulis maka saat itu kita telah ’ditipu’ oleh teks tersebut”, demikian katanya.

Dapat kita bayangkan bagaimana bila metode hermeneutic of suspicion ini bila diterapkan untuk Al-Qur’an Al-Karim. Sebelum membaca Al-Qur’an kita mesti curiga terlebih dahulu. Padahal sebelum membacanya kita diajar membaca ta’awudz :’Audzubillahi minasysyaithoonirrojiim”,mohon perlindungan dari setan yang akan menyeret kepada kekeliruan ketika membaca dan memahami Al-Qur’an. Metode hermeneutika ini mengajar kita untuk menjadi setan sebelum membaca Al-Qur’an, karena belum apa-apa hati, pikiran, logika dikondisikan untuk curiga akan kebenaran teks, kebenaran makna dan kebenaran ke-wahyu-an Al-Quran. Betapa dahsyatnya kesesatan tafsir Hermeneutika ini.

Dalam metodologi tafsir tidak pernah ada yang mempermasalahkan teks, karena Rasulullah SAW sendiri yang menafsirkan Al-Qur’an. Jalur periwayatannya sudah jelas, mutawatir, para huffadz (penghafal Al-Qur’an) juga para Quro’ (ahli baca Al-Qur’an) pun selalu menjaganya dalam sanubari mereka.

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada peradaban di dunia ini yang memiliki buku maupun kitab suci yang begitu hebat, yang dihafal dalam dada-dada jutaan pengikutnya. Sepakar-pakarnya atau seprofesor-profesornya ahli ekonomi tidak akan pernah menghafal bukunya Adam Smith ”The Wealth of Nation”, dan tidak akan tertarik menghafalkannya. Seahli-ahlinya seseorang dalam ilmu sosiologi ia tidak pernah berminat menghafal bukunya Max Weber. Semarxis-marxisnya seseorang dia tidak ingin menghafal bukunya Karl Marx. Bahkan orang kristen sendiri tidak ada yang menghafal kitab suci mereka, walau betapa dia adalah pendeta tertinggi.

Lihatlah umat Islam. Walau dia bukan orang Arab, selalu berupaya menjaga apa yang terkandung di antara dua lembar sampul kitab sucinya. Walau dia mungkin tidak mengerti setiap kosa kata Arab, tapi tahu dimana letak panjang pendeknya, tahu dimana harus berhenti, tahu dimana harus jelas dimana harus samar, tahu urutan-urutan ayat2nya tanpa tertukar. Bahkan kita lihat, orang yang buta bisa lebih hafal dibanding orang yang bisa melihat. Buku/kitab mana lagi di dunia ini yang bisa mendekati kemukjizatannya dalam hal ketertarikan pengikutnya untuk menghafal?

Al-Qur’an sudah dihafal secara massal dari sejak ayat demi ayatnya diturunkan. Jadi tidak mungkin terjadi kekeliruan dan penyimpangan. Keotentikan akan selalu terjaga. Bahkan satu huruf saja yang menyimpang dari Al-Qur’an itu akan ketahuan, karena ilmu tentang huruf-huruf Al-Qur’an pun ada dalam Islam.

Kita mengenal ilmu makhoorijul huruf yang membahas tentang cara pengucapan huruf, sifat-sifatnya, hukum pertemuan diantara dua huruf. Ini semua dalam khazanah keilmuan Islam yang begitu lengkap. Tidak ada peradaban yang sehebat ini sampai-sampai memperhatikan satu per satu hurufnya sekalipun. Ini dari segi pengucapan.

Kemudian dari segi tulisannya juga begitu. Huruf-huruf Al-Qur’an ditulis dengan sangat hati-hati, semua ada standarnya sehingga ada yang kita kenal sebagai Ahli Khot. Dengan demikian jelaslah bagi kita, tidak ada peradaban yang seperti itu dalam memperhatikan keotentikan kitab suci mereka.

Bukankah kita seharusnya bangga memiliki kitab suci yang demikian itu? Tapi karena kita tidak kenal Al-Qur’an, maka kita hanya menganggap Al-Qur’an sebagai barang keramat. Kita bungkus rapi bak keris pusaka kemudian kita letakkan di bagian lemari paling atas hingga berdebu tanpa mau mempelajari, enggan mengkaji dan tentunya tidak mengamalkan.

Ketika kita tidak mengenal Al-Qur’an sebagai jantung Islam maka musuh pun akan dengan sangat mudah masuk ke dalam umat Islam melalui jantung kita sendiri. Hermeneutika hanya akan memotong Islam dari akarnya, karena ketika Al-Qur’an sudah diobrak-abrik maka segala sesuatu dalam Islam pun akan habis terkikis. Inilah dampak dari penerapan hermeneutika.

Tidak perlu hermeneutika.

Kajian Al-Qur’an, terutamanya mengenai penafsirannya, tidak memerlukan hermeneutika. Kita khawatir, akhir-akhir ini kita begitu bergairah mengimpor istilah hermeneutika untuk kajian Al-Qur’an tanpa menyelidiki dahulu latar belakang istilah itu sendiri, yang mempunyai muatan pandangan hidup yang berlainan dengan pandangan hidup Islam.

Sebenarnya jika akan digunakan bahasa asing juga, maka istilah exegesis atau pun commentaryatau penafsiran yang selama ini digunakan, itu sudah cukup memadai untuk Al-Qur’an. Kenapa kini exegesis atau commentary mesti ditukar dengan hermeneutics?

Kita akan menggarisbawahi pembahasan ini dengan satu peringatan dari Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi : ”Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kamu, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga apabila mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kamu akan mengikutinya juga”. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam ditanya: ”Apakah mereka yang diikuti itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab ”Siapa lagi kalau bukan mereka”   [HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad]

“Bahaya Metode Hermeneutika dalam Penafsiran Al Qur’an”.

Ada dua pembicara ahli dari INSISTS yaitu Adian Husaini M.A dan Dr. Ugi Suharto, yang membahas tentang metode Hermeneutika mulai dari sejarahnya, awal mula penggunaannya sampai kepada efek atau hasil dari penafsiran yang menggunakan metode tersebut.

Penafsiran Hermeneutika ini adalah suatu “alat” untuk me-liberalkan pemikiran yang berasal dari tradisi penafsiran Injil/Bible. Maka tidak heran ketika ada yang berfaham Islam Liberal, bisa menghalalkan nikah beda agama, mengatakan jilbab tidak wajib, khamr halal, Al Qur’an adalah kitab puisi dan sebagainya. Salah satu contoh hasil dari penafsiran Hermeneutika yang paling kontroversial adalah peristiwa sholat Jum’at berjamaah yang di pimpin oleh seorang wanita yang bernama Dr. Aminah Wadud, profesor studi Islam di Departemen Filsafat dan Studi Agama Universitas Virginia Commonwealth. Sholat Jum’at itu pun dilakukan disebuah Gereja Katedral Saint John The Divine di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat.

Hermeneutika memang tidak mengenal status seseorang dan bahkan bisa diaplikasikan oleh seorang profesor sekalipun. Seorang yang awam pun sangat mudah terkena imbas dari penafsiran ini. Ketika kita mendengar ada seseorang yang mengatakan jilbab itu tidak wajib, khamr bisa jadi halal di negara dingin, Al Qur’an adalah kitab puisi atau produk budaya, nikah beda agama itu halal, maka sebenarnya dia telah terkena efek dari Hermeneutika ini walaupun orang tersebut tidak mengerti apa itu Hermeneutika dan bagaimana efek buruknya.

Kajian tentang Hermeneutika ini penting kita telaah lebih lanjut untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh Hermeneutika ini telah merasuk di lingkungan sekitar kita dan juga untuk membentengi aqidah kita. Dalam clip dishare kali ini hanyalah penjelasan singkat dari Adian Husaini M.A (http://adianhusaini.blogspot.com/) yang diringkas menjadi durasi 8 menit.

Link Video Youtube : http://youtube.com/watch?v=bF7sO8_wZ


ISLAM JADI MOMOK, DITAKUTI, BAHKAN MUSLIM SENDIRI DIBUAT TAKUT OLEH AGAMANYA SENDIRI (ISLAMOPHOBIA)….PROPAGANDA ZIONIS DAN KROCO-KROCONYA….TUNGGU, BAPA DI SORGA AKAN MEMBALAS NYA

WAHAI BAPA DISORGA, BERILAH HAMBA KESABARAN, PETUNJUK DAN IMAN YANG KUAT….

FEISAL Abdul Rauf, 62 tahun, sekarang jadi sasaran caci-maki di Amerika Serikat. Soalnya, warga Amerika berdarah Kuwait inilah pemimpin Cordoba Initiative , bersama istrinya, Daisy Khan, dan pengusaha real estate Sharif al-Gamal. Mereka punya ide membangun Cordoba House.

Itulah pusat komunitas Islam – berupa gedung 13 lantai — yang direncanakan terdiri dari masjid berkapasitas 2000-an jemaah, pusat kesenian (performing arts center) berkapasitas 500 pengunjung, restauran, lapangan basket, kolam renang, pusat kebugaran (fitness center), sekolah, toko buku, dan berbagai aktivitas lain. Biaya pembangunannya ditaksir mencapai 100 juta dollar (sekitar Rp 900 milyar). Cukup wah.

Pusat komunitas itu akan berdiri di bekas bangunan gudang di Park Place (biasa disebut Park 51), yang mereka beli seharga 5 juta dollar tahun lalu. Semua izin yang diperlukan sudah diperoleh. Walikota New York Michael Bloomberg sejak awal memang mendukung rencana ini.

Tempat itu terpaut cuma dua blok dari Ground Zero, lokasi tempat berdirinya dulu menara kembar World Trade Center (WTC) di Mahattan, New York. Kini World Trade Center hanya tinggal nama setelah dirubuhkan serangan teroris pimpinan Usamah Bin Laden pada 11 September 2001.

Feisal Abdul Rauf mau pun teman-temannya di Cordoba Initiative tentu saja tak ada hubungan dengan Usamah, putra konglomerat Arab Saudi yang kini jadi buron nomor satu Amerika Serikat itu.

Tapi lokasi Cordoba House dekat Ground Zero, dijadikan alasan oleh sejumlah tokoh konservatif dan Kristen ekstrem untuk menantang pembangunan pusat komunitas itu. Tokoh-tokoh politik dari Partai Republik yang beroposisi bersama organisasi kemasyarakatan pendukungnya Tea Party, tampaknya memanfaatkan situasi demi keuntungan politik.

Maklumlah November ini,memilih sebagian Gubernur, sebagian anggota Senat dan seluruh anggota DPR (House of Representative). Partai Republik yang minoritas di Senat mau pun DPR tampaknya ingin membalikkan keadaan.

Sarah Palin, bekas Gubernur Alaska, calon Wapres Partai Republik yang gagal dalam pemilihan presiden lalu, menulis di Twitter bahwa pembangunan masjid di Ground Zero adalah tindakan provokasi yang tak perlu. “Itu menusuk hati,” tulisnya.

Bekas Ketua DPR (House Speaker), juga dari Partai Republik, Newt Gingrich, menulis bahwa tak akan ada masjid di dekat Ground Zero selama tak ada gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Apa kaitan Cordoba Initiative dengan Kerajaan Saudi Arabia? Tak ada. Para pengurus panitia pembangunan Cordoba House semua warga negara Amerika Serikat, bukan Saudi Arabia. Artinya: bukan pemerintah Arab Saudi yang akan membangun masjid di Manhattan, maka sungguh tak relevan menghubungkan pembangunan Cordoba House dengan eksistensi gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Muslim Jadi Hantu

Tapi Gingrich terus berkoar-koar, menurut sementara pengamat, untuk meningkatkan populeritas karena ia ingin mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu mendatang.

Malah pemakaian nama Cordoba, oleh Gingrich, dituduh hanya untuk mengingatkan orang bahwa Islam pernah menundukkan dan menjajah Kristen di Spanyol. Cordoba adalah ibu kota Kerajaan Islam di Spanyol dulu.

Padahal panitia menggunakan nama Cordoba untuk simbol perdamaian karena di Cordoba dulu orang Islam, Kristen, dan Yahudi, hidup berdampingan dengan damai sepanjang ratusan tahun.

Tokoh Partai Republik lainnya, Gubernur Minnesota Tim Pawlenty mengatakan pembangunan masjid akan menurunkan martabat dan kehormatan kawasan Ground Zero. Pernyataan ini lebih aneh lagi. Sebab di Manhattan selama ini sudah ada setidaknya 2 masjid dan sebuah sinagog, selain klub malam, café, studio tari telanjang, pelacuran homo, dan bermacam tempat maksiat.

Salah satu adalah Masjid Manhattan berdiri tahun 1970 di Warren Street atau kira-kira 4 blok dari Ground Zero. Yang satu lagi berdiri 1985, Masjid al-Farah di West Broadway sekitar 12 blok terpaut dari Ground Zero.

Feisal Abdul Rauf sejak lama menjadi imam di Masjid al-Farah sampai belakangan ini ia sibuk di Cordoba Initiative. Ide mendirikan masjid baru karena kedua masjid tadi sudah terlalu kecil oleh bertambahnya jemaah.

Bekas Gubernur Massachusetts dan salah satu kandidat calon presiden dari Partai Republik dalam Pemilu lalu, Mitt Romney, menentang pembangunan masjid itu dengan dalih mengikuti keinginan keluarga para korban peristiwa teror 11 September. Selain ia melihat masjid itu berpotensi menjadi tempat rekrutmen dan propaganda global kelompok ektremis.

Padahal sesungguhnya, keluarga korban 11 September terpecah: sebagian menolak pembangunan Cordoba House, sebagian lagi mendukungnya.

Tapi yang jelas, serangan para tokoh itu segera bergaung ke seantero negeri dalam bentuk gelombang kebencian kepada Islam (Islamophobia) dan menyebabkan kaum Muslim Amerika Serikat terancam.

Sejumlah bus kota di New York kini terlihat berkeliling dengan iklan menempel di dinding, menggambarkan sebuah pesawat udara sedang menukik menuju menara World Trade Center yang diberi nama ‘’Mega Mosque’’ — masjid mega. Lalu ada pertanyaan: ‘’Why there?’’ Mengapa di sana?

Iklan yang mengaitkan serangan teroris 11 September dengan pembangunan masjid itu dipesan sebuah kelompok penentang pembangunan Cordoba House yang menamakan diri American Freedom Defence Initiative.

Azeem Khan dari The Islamic Circle of North America, mengatakan iklan itu hanya untuk menyebarkan ketakutan dan kebencian pada kaum Muslim Amerika Serikat. ‘’Mereka ingin Islam dan kaum muslim jadi hantu sekarang,’’ katanya seperti ditulis koran online Inggris, guardian.co.uk, 12 Agustus lalu.

Presiden Barack Obama berusaha mengubah keadaan dengan menyatakan dukungan tegas atas pembangunan masjid itu. Kata Obama, ummat Islam memiliki hak yang sama untuk mempraktekkan agamanya sebagaimana warga lainnya . ‘’Itu termasuk hak membangun rumah ibadah dan pusat komunitas di Lower Manhattan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Ini Amerika. Komitmen kita kepada kebebasan beragama tak bisa digoyahkan,’’ kata Obama dalam acara buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih, pertengahan Agustus.

Apa pun kata Obama, yang jelas, membangun masjid tak gampang di Amerika Serikat, negeri kampiun demokrasi dan paling suka menggurui negeri lain dalam mempraktekkan kebebasan beragama.

Terbukti setelah dukungannya, Obama malah dicurigai sebagai pemeluk Islam. Survei yang dilakukan kemudian menunjukkan meningkatnya jumlah orang Amerika yang percaya – kini satu di antara lima orang Amerika — Obama seorang pemeluk Islam. Gedung Putih pun sibuk membantahnya sekalian menegaskan Obama seorang Kristen yang mempraktekkan ajaran Kristen.

Sekarang bukan hanya Cordoba House yang jadi masalah – walau semua izin yang diperlukan sudah diperoleh – tapi juga sejumlah masjid atau Islamic center di tempat lain. Tantangan selalu muncul dari kelompok sayap kanan yang konservatif, apakah karena fanatisme agama Kristen atau kepentingan politik. Para tokoh Partai Republik terlihat menunggangi isu itu.

Di Murfreesboro, kota berpenduduk 100.000 jiwa di Tennessee, rencana pembangunan Islamic center di lokasi seluas 15 acre mendapat tentangan keras dari kelompok ekstrem Kristen pendukung Partai Republik. Mereka menuduh kompleks itu akan jadi tempat pelatihan teroris untuk menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat dan memberlakukan syariat Islam.

‘’Itu bukan agama. Mereka adalah grup militer politis,’’ kata Bob Shelton, 76 tahun, pensiunan yang tinggal di dekat areal itu, seperti disiarkan kantor berita Associated Press, 9 Agustus lalu.

Shelton adalah salah satu dari ratusan demonstran yang memperotes pembangunan Islamic center itu. Banyak di antara mereka memakai baju oblong dengan tulisan ‘’Vote for Jesus’’, sembari membawa poster ‘’No Sharia law for USA’’ (Tak ada hukum syariah untuk Amerika Serikat). Akibat demo-demo itu penduduk muslim setempat terpaksa minta perlindungan polisi untuk melaksanakan ibadah di masjid.

Bom Pipa Meledak

Beberapa bulan sebelumnya, di Temecula, selatan California, kelompok Tea Party membawa beberapa anjing galak untuk menghadang umat Islam setempat yang sedang melaksanakan salat Jumat. Mereka melakukannya sebagai protes atas rencana pembangunan masjid baru di areal kosong di situ.

Beberapa peristiwa mirip terjadi di berbagai daerah lain seperti di Texas atau Wisconsin. Di Sheboygan, Wisconsin, sejumlah pendeta terlibat polemik seru dengan sekelompok muslim yang ingin membuka sebuah masjid. Dulunya masjid itu adalah toko makanan kesehatan, lalu dibeli seorang dokter yang muslim karena ingin menjadikannya masjid.

Di Texas, jemaah Masjid An-Noor nyaris baku hantam dengan sekelompok orang yang menamakan diri ‘’Operation Save America’’ (operasi selamatkan Amerika) yang tiba-tiba mengepung masjid sembari berteriak-teriak menyemburkan kalimat-kalimat yang penuh kebencian.

Masih di Texas, di Kota Arlington, kompleks Dar El Eman Islamic Center akhir Juli lalu dirusak dan dibakar orang tak dikenal. Kerusakan cukup parah di bagian permainan anak-anak (play ground). Sampai sekarang polisi belum berhasil menangkap orang yang bertanggung jawab atas perbuatan anarkis ini.

Di Islamic Center Jacksonville, Florida, awal Mei lalu, sebuah bom pipa meledak. Tak ada korban. Tapi peristiwa itu sangat mengejutkan para jemaah masjid.

Yang paling gila adalah program yang direncanakan sebuah gereja di Gainesville, Florida, dipimpin Pendeta Terry Jones. Mereka akan mengadakan upacara pembakaran kitab suci al-Quran di gereja itu pada 11 September 2010, melalui sebuah upacara yang mereka juluki “The International Burn A Quran Day’’ (Hari pembakaran Quran internasional). Upacara itu dimaksudkan untuk memperingati serangan teroris ke WTC, 11 September 2001.

Berbagai persiapan telah dilakukan di gereja miik The Dove World Outreach Center itu. Antara lain dengan membuat facebook yang memuat berbagai alasan pembenaran atas rencana mereka.

Sekarang di facebook itu bisa ditemukan pengumuman ini: On September 11th, 2010, we will burn the Koran on the property of Dove World Outreach Center in Gainesville, FL, in remembrance of the fallen victims of 9/11 and to stand against the evil of Islam. Islam is of the devil (Pada 11 September 2010, kami akan membakar Quran di properti Dove World Outreach Center di Gainesville, FL, untuk memperingati korban yang gugur pada 11 September dan menyiapkan diri melawan kejahatan Islam. Islam dari setan).

Kalimat terakhir itu, Islam is of the devil (Islam dari Setan), diambil dari judul buku yang ditulis Pendeta Terry Jones. Isi buku itu sudah bisa ditebak hanya hujatan terhadap Islam dan muslim. ‘’Tujuan semua protes ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada muslim untuk bertobat,’’ kata pendeta itu (Huffington Post, 28 Juli 2010).

Majelis Tertinggi Al-Azhar di Kairo dalam pernyataannya 12 Agustus lalu, mengutuk rencana gereja di Florida itu dan menuduhnya sebagai tindakan menghasut, menyebarkan kebencian dan diskriminasi. Al-Azhar mengimbau gereja lain di Amerika Serikat untuk mengutuk rencana itu (Associated Press, 12 Agustus 2010).

Selain dari Al-Azhar, reaksi kelompok Islam yang lain belum terdengar. Yang jelas bila kelak rencana ini terlaksana, bearti upacara pembakaran al-Quran itu dilaksanakan tepat ketika ummat Islam melaksanakan perayaan Idul Fitri.

Memang sikap Islamophobia yang penuh kebencian dari Pendeta Terry Jones tak bisa disebut sebagai gambaran sikap seluruh ummat Kristen Amerika Serikat terhadap Islam. Tapi menurut Profesor John Esposito, ahli studi Islam paling terkemuka di Amerika Serikat dari Georgetown University, Washington, banyak orang Amerika menerima pikiran-pikiran Pendeta Terry Jones.

Pertentangan dalam rencana pembangunan masjid di Ground Zero, menjadi tameng bagi orang-orang untuk melampiaskan kebencian terhadap Islam secara lebih terbuka setelah serangan 11 September yang traumatis.

Setelah 11 September, apa yang terlihat sebagai peristwa lokal telah mengglobal dan menjadi payung sehingga orang tiba-tiba merasa bebas terbuka dengan keberatannya terhadap orang Islam. “Menurut sejarahnya memang ada problem di Mississippi atau Georgia, atau New York, atau di mana pun ketika orang ingin mendirikan masjid,’’ kata Esposito (lihat guardian.co.uk, 12 Agustus 2010).

Maka perusakan masjid sering terjadi. Sekadar contoh, Maret lalu, hakim menjatuhkan hukuman 183 bulan penjara (15 tahun lebih) kepada Eric Ian Baker, 34 tahun, karena bersalah membakar masjid di Islamic Center of Columbia di Tennessee. Baker bersama dua temannya, Februari 2008, membakar masjid tadi dengan menggunakan bom Molotov.

Selain Baker, dua temannya telah dibawa ke pengadilan. Seorang di antaranya, Michael Corey Golden, dijatuhi hukuman 171 bulan penjara. Temannya, Jonathan Edward Stone, telah dinyatakan bersalah oleh hakim tapi hukumannya belum dijatuhkan.

Pengusiran Imigran China

Ditaksir penduduk muslim di Amerika Serikat sekarang tak sampai 5 juta. Tapi Islam di sana termasuk agama yang sedang tumbuh. Sekitar 10 tahun lalu, jumlah masjid di negeri itu hanya 1200. Sekarang, seperti dikatakan Profesor Ihsan Bagby, ahli studi Islam di University of Kentucky, sudah tumbuh menjadi 1900 masjid. Termasuk di dalamnya sejumlah Islamic center – seperti di New York, California, atau Tennessee – yang dapat menampung jumlah jemaah lebih banyak.

Ada pendapat yang mengatakan banyaknya pembangunan masjid itu berkaitan dengan banyaknya imigran di antara ummat muslim di sana. Mereka datang dari India, Pakistan, negeri-negeri di Afrika, atau Timur Tengah. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center tiga tahun lalu, menemukan bahwa 39% dari penduduk dewasa Islam adalah imigran yang datang ke Amerika Serikat sejak 1990.

Imigran itu, menurut Diana Eck, Profesor dalam perbandingan agama di Harvard University, punya kecendrungan ingin membangun sesuatu. Dengan itu, mereka merasa tak lagi sekadar penumpang di negeri baru. ‘’Sebagian, itu menyebabkan komunitas menancapkan akarnya dan menjadikan Amerika rumah mereka,’’ kata Diana Eck (artikel Travis Loller, Associated Press, 9 Agustus 2010).

Pembangunan masjid atau Islamic Center memang tak berjalan mulus karena sering mendapat protes dari masyarakat. Itu tak aneh karena seperti dikatakan Profesor John Esposito tadi, sejumlah daerah di Amerika Serikat memang punya sejarah menolak pembangunan masjid.

Bila dilihat sejarah, bukan hanya Islam atau muslim yang mengalami penolakan seperti ini di Amerika Serikat. Di tahun 1800-an, muncul agama Mormon (sekarang gerejanya bernama the Church of Jesus Christ of Later-Day Saints) dengan Joseph Smith sebagai nabi.

Apa yang terjadi? Kelompok agama baru ini diburu dan nabinya ditangkap. Belum cukup. Pada 27 Juni 1844, ratusan massa menyerbu penjara di Missouri dan membunuh Joseph Smith dan pembantunya yang ditahan di sana.

Penolakan juga terjadi ketika agama Katolik masuk dan berkembang di Amerika Serikat. Terjadi konflik dan kerusuhan. Mereka mengalami diskriminasi . Sejarah Amerika Serikat juga dikotori oleh peristiwa pembunuhan dan pengusiran imigran China.

Bila diamati apa yang terjadi di sana maka kita di Indonesia jauh lebih menghargai kelompok mintoritas. Pada Hari Raya Nyepi di Bali, misalnya, pendud uk muslim atau Kristen ikut berkurung bersama ummat Hindu karena semua toko, pasar, bahkan lapangan terbang harus ikut ‘’nyepi’’.

Pemerintah memberlakukan hari libur pada semua hari besar agama, tak terbatas hari besar agama mayoritas seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau Eropa atau Australia. Dan umat Islam sebagai mayoritas menerimanya dengan ikhlas.

Kembali cerita pembangunan masjid di Gound Zero. Kini Feisal Abdul Rauf sudah dituduh sebagai ulama ekstrem, bahkan pendukung terorisme. Kelemahannya mulai dicari-cari. Misalnya, sekarang dipersoalkan ceramah Feisal Abdul Rauf pada 2004 di Masjid al-Farah di West Broadway, Manhattan.

Ketika itu Feisal mengatakan, dalam peperangan Islam tak membunuh orang-orang sipil tak berdosa. ‘’Adalah orang Kristen di dalam Perang Dunia II yang mengebom orang-orang sipil tak berdosa di Dresden (Jerman) dan Hiroshima (Jepang), sekali pun kedua daerah itu bukan sasaran militer,’’ katanya.

Belum sebulan terjadi peristiwa serangan 11 September, Feisal diwawancara dalam acara TV, CBS’s 60 Minutes. Ketika itu ia mengatakan bahwa pimpinan teroris Usamah Bin Laden adalah buatan Amerika Serikat (“Osama Bin Laden is made in the USA’’).

Sarah Palin, Rick Lazio, bekas anggota DPR (Partai Republik) dan kini calon Gubernur New York, atau bekas Gubernur New York dari Partai Republik, Rudy Giuliani, menjadikan pernyataan tadi sebagai alasan untuk menuduh Feisal Abdul Rauf sebagai pendukung kelompok radikal dan bersimpati kepada teroris Islam.

Tentu Rauf membantahnya, sebagaimana ia juga membantah dituduh sebagai anggota Ikhwanul Muslimun, organisasi di Mesir, yang mempromosikan Quran dan Hadis sebagai basis paling tepat bagi masyarakat.

Tugas Deplu ke Timur Tengah

Memang sampai sekarang belum satu pun tuduhan kepada ulama sufi ini bisa dibuktikan. Malah berbagai pernyataannya tadi sebenarnya punya cukup alasan. “Usama made ini USA’’, misalnya, bisa dibaca di berbagai buku yang sudah terbit selama ini.

Antara lain, Good Muslim, Bad Muslim, America, the Cold War, and the Roots of Terror (Three Leaves Press, Doubleday, New York 2005) yang ditulis Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, New York. Atau bisa dilihat buku House of Bush, House of Saud (Scribner 2004) yang ditulis wartawan Crigh Unger.

Di kedua buku itu diungkapkan bahwa Usamah Bin Laden dan kawan-kawan Mujahidin-nya berjuang di Afghanistan mengusir tentara pendudukan Uni Soviet di tahun 1980-an, dengan bantuan badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Setidaknya diketahui CIA membantu mereka 3 milyar dollar ditambah rudal jinjing Stinger buatan Amerika yang banyak digunakan merontokkan heli tempur Uni Soviet.

Dari seluruh dunia, CIA mendatangkan para pejuang muslim – termasuk dari Indonesia – yang kemudian dilatih bertempur untuk menghadapi tentara Uni Soviet. Seperti diketahui Uni Soviet bisa dikalahkan dan harus menarik mundur pasukannya dari Afghanistan. Akibat kekalahan ini, antara lain, Uni Soviet kemudian terpecah-pecah.

Jadi kalau disebutkan Usamah Bin Laden buatan Amerika Serikat, memang ada benarnya. Karena CIA-lah yang melatih Usamah dan kawan-kawannya untuk bertempur dan mengenal berbagai model bahan peledak yang menjadi modal mereka dalam gerakan terorisme.

Belakangan, mereka menggemparkan dunia setelah berhasil merubuhkan Menara Kembar WTC di Manhattan, New York, 11 September 2001, memakan korban sekitar 3000 orang, hampir 10% di antaranya adalah muslim.

Di dalam House of Bush, House of Saud, Crigh Unger malah mengungkap bahwa keluarga Bin Laden dan keluarga Bush saling kenal dan bersahabat. George Bush atau ayahnya, George H.W.Bush, keduanya adalah mantan Presiden Amerika Serikat.

Selain itu, adalah fakta ketika Feisal Abdul Rauf mengatakan bahwa Amerika Serikat mengebom habis-habisan Dresden sehingga banyak orang sipil tak berdosa menjadi korban. Adalah fakta pula Amerika menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima yang memakan korban banyak penduduk sipil di akhir Perang Dunia II.

Feisal adalah seorang sufi. Sebagai Imam Masjid al-Farah di Manhattan, ia dikenal moderat. Ia punya misi yang terus diperjuangkannya secara konsisten: membangun jembatan yang menghubungkan masyarakat Amerika, masyarakat muslim Amerika, dan masyarakat muslim dunia.

Untuk itulah, pada 1997, bersama istrinya, Daisy Khan yang berprofesi sebagai desain interior, ia mendirikan the American Society for Muslim Advancement, organisasi sipil yang bertujuan mempromosikan hubungan baik masyarakat Amerika dengan masyarakat muslim Amerika. Dalam kaitan itu pula Feisal telah menulis tiga buku, salah satu di antaranya What’s Right with Islam is What’s Right with America.

Wanita penulis terkenal dari Inggris yang banyak menulis tentang Islam, Karen Amstrong, memujinya sebagai figur jembatan karena ia memiliki akar yang dalam di dua dunia itu (Islam dan Barat). Ia belajar di Mesir, Inggris, Malaysia, dan Amerika Serikat, dan lalu memimpin masjid di Manhattan, New York.

Ketika terjadi peristiwa 11 September, menurut Karen Amstrong, banyak orang bertanya kepadanya, “Mana muslim moderat? Mengapa mereka sekarang tak bicara? Dengan Imam Rauf, kita memiliki muslim yang bisa bicara kepada orang Barat dengan bahasa yang bisa mereka mengerti,’’ tulis Amstrong dalam kata pengantar di sebuah buku Rauf.

Fareed Zakaria, wartawan dan kolomnis Majalah Newsweek itu, memuji pernyataan Feisal yang menyejukkan dalam hubungan antar-kepercayaan. Begitu pula Walter Isaacson, pemimpin Aspen Institute, organisasi yang membangun kerja sama muslim-kristen-yahudi. “Ia seorang yang konsisten menolak Islam radikal dan terorisme, mempromosikan Islam yang moderat dan toleran,’’ ujar Isaacson.

Karena itulah setelah peristiwa 11 September, atas permintaan polisi federal Amerika Serikat, FBI, Feisal melakukan pelatihan kebudayaan terhadap ratusan agen FBI. Tampaknya pelatihan itu untuk memberi pengenalan tentang muslim dan Islam bagi para agen FBI.

Selain itu, Feisal mendapat penugasan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk menjelaskan kondisi ummat Islam Amerika Serikat dan hubungannya dengan pemerintahan negeri itu kepada masyarakat Timur Tengah. Ia sudah dua kali mengelilingi Timur Tengah di tahun 2007, di zaman pemerintahan Presiden George Bush.

Kemudian untuk tahun 2010, mulai 20 Agustus lalu, Feisal kembali mengelilingi Timur Tengah. Direncanakan ia akan menghabiskan waktu sekitar 15 hari berkeliling di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kunjungan itu ia mulai dengan memimpin shalat Jumat, 20 Agustus lalu, di sebuah masjid di Manama, ibukota Bahrain. Dalam sebuah acara televisi ia mengatakan bahwa ancaman keamanan terhadap Barat dan dunia muslim adalah ekstremisme. Tapi Feisal menolak mendiskusikan penolakan masyarakat Amerika atas rencananya membangun Islamic center di dekat Ground Zero.

Tampaknya kalau ia membicarakan masalah itu, tak lain yang bisa ia sampaikan bahwa penolakan pembangunan masjid di Ground Zero menunjukkan masyarakat Amerika Serikat menderita Islamophobia, rasis, dan tak toleran. Pernyataan seperti itu tentu bertentangan dengan misinya dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengelilingi Timur Tengah.

klik