Archive for the ‘Siapakah YESUS f**ckhrist’ Category


Kebutuhan manusia akan Ilahi adalah perkara yang tidak terbantahkan. Semua orang butuh beribadah kepada Allah, karena pada dasarnya ada kebutuhan hati makhluq kepada sang Khaliq. Telah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk beribadah melebihi urusan makan dan bernafas. Hal ini jelas di dalam Al Quran, Allah telah gambarkan: “tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku..”. Maknanya seolah-olah manusia itu adalah kreasi Allah yang telah di program khusus untuk beribadah kepadaNya. Ulama tafsirkan makna kata “ li ya’buduun (agar mereka beribadah)..” adalah mentauhidkan Allah.

Manusia di dunia bekerja dan beraktivitas, segala macam aktivitas dilakukan manusia itu sangat beragam. Maka konteks ibadah dalam kehidupan menurut ajaran islam adalah setiap gerak-gerak manusia itu haruslah berlandaskan Tauhid (peng-Esaan kepada Allah), disamping Allah juga perintahkan manusia dengan ibadah-ibadah yang bersifat khusus, seperti shalat, puasa, zakat, kurban, membaca qur’an dsb. Alangkah indahnya jika setiap aktivitas bernafaskan tauhid, ia akan memulai aktivitas dengan bismillah, semuanya dilakukan dengan profesional karena Allah maha melihat, perkara yang haram akan dijauhi, jika dalam perdagangan ia akan memudahkan dan niat saling menolong, dan jika dalam aktivitas mu’asyaroh ia akan berakhlak dengan baik karena Allah adalah Ar Rohim (Maha Penyayang)..”

Itulah mengapa kalimat Tauhid menjadi induk segala urusan. Segala aktivitas, bahkan sampai kepada lintasan hati/niat, merupakan urusan agama. Satu hadits yang ma’ruf berbunyi.” Sungguh tiada amal itu kecuali atas niatnya..”. Dalam hadits lain disebutkan..” niat seorang mukmin itu lebih baik daripada ‘amalnya”. Dalam hadits lain bahkan disebutkan niat kebaikan seorang sudah dihitung sebagai pahala walaupun ia belum mengerjakannya. Hadits pertama dalam banyak kitab para fuqoha adalah hadits niat, dan ulama sampaikan masalah niat ini mencakup 70 bab dalam ilmu fiqh.

Intinya, urusan agama itu bukanlah urusan ibadah ritual saja, namun mencakup seluruh gerak-gerak keseharian kita bahkan menyangkut masalah hati, yang mungkin tidak ada yang tahu isi hati kita selain kita dan Allah saja. Mungkin itulah ma’na kalimatullah yang artinya : ..Masuklah ke dalam Islam secara sempurna..” karena “ siapa yang berbuat walaupun sebesar atom (misqola dzarrotin) maka akan dibalas..” Bahkan lebih khusus lagi, dalam urusan hati dan amal ini, Allah jadikan keduanya menjadi standar penilaian Allah terhadap diri kita, dalilnya: “..sungguh Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tapi Dia memandang (tertuju hanya) kepada hati-hati dan segala amal perbuatanmu..” (hadits). Dalam hadits rasulullah kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda..”ya Muadz, ikhlaskanlah niat. Karena amal yang sedikit namun ikhlas itu mencukupi…”

Makanya, sangat mengherankan bila segala permasalahan yang terjadi pada saat ini,dikembalikan kepada selain urusan agama. Bahkan dalam sains dan jenjang pendidikan tinggi, seolah tidak ada celah sedikitpun ma’na tauhid yang sesungguhnya, dan seolah agama dipisahkan jauh-jauh daripada urusan dunia. Jika kita menilik lebih detail, siapakan pelaku kehidupan ini? Jikalau ada semiliyar teori tentang ekonomi/pertanian/hukum/seni/politik/dsb, yang akan mengamalkan itu adalah manusia itu juga. Tapi kenapa seringkali kita berlari dari fitrah dalam mentauhidkan Allah?? dalam sebuah hadits dikatakan: ..”jika di dunia ini tidak ada lagi yang menyebut asma Allah, maka dunia akan kiamat..”. maknanya, jika aktivitas manusia tidak ada lagi pemahaman Tauhid yang benar (sekuler, meniadakan Allah), maka sehebat apapun aktivitas manusia dalam kajian A hingga Z-nya, maka itu semua adalah bentuk kesia-siaan dan kehancuran. Sebaliknya, walaupun umat islam ‘terlihat’ lamban, namun karena ada keikhlasan dan imaniyah yang benar, maka Allah pandang urusan itu sebagai sesuatu yang mencukupi. Allah tidak pandang usaha kita (sebab-akibat) tetapi Allah pandang keyakinan kita kepadaNya. Inilah makna Tauhidullah.

Untuk memahami dan mendapatkan tauhid yang sempurna ini, tidak bisa dengan hanya membaca tulisan mengenai tauhid atau ikut kajian membahas kitab tauhid. Tauhid adalah bukti keimanan dan yakin, sedang iman adalah sifat yang hanya didapatkan dengan mujahadah dan riyadhoh (latihan hati) yang kontinyu. Satu kisah seorang pemuda bertanya kepada Al Imam Ghazaly  “Apa itu iman..?” maka Imam Al Ghazaly tidak menjawab dan langsung mengajak sang pemuda ke sebuah danau besar. Mereka berdua berjalan dan naik perahu yang kemudian membawa mereka ke tengah-tengah danau yang dalam itu. Di tengah danau yang sepi itu, Imam Ghazaly lantas melemparkan sang pemuda ke tengah danau sendirian. Sang pemuda kaget dan berteriak ketakutan karena ia tidak bisa berenang. Sang imam pergi begitu saja. Sang pemuda berteriak-teriak..” imam….imam….tolong aku..tolong…”. namun imam Ghazaly tidak menolong malah makin menjauh. Akhirnya dalam keadaan demikian, sang pemuda berteriak lagi..namun dengan nada dan keyakinan yang berbeda,  ”Ya Allah, tolonglah aku..”. Sesaat kemudian, datang pertolongan Allah dan menyelamatkan pemuda itu. Setelah pemuda itu selamat, dan kembali menemui sang Imam, maka sang imam menjawab: “Itulah iman. Iman adalah kau lepaskan semua keyakinanmu selain kepada Allah..”.

Itulah sebabnya orang kafir (mengingkari Allah) itu tidak ada harganya sedikitpun di mata Allah. dan itulah sebabnya mereka mendapatkan adzab yang kekal di neraka. Ia telah melawan fitrahnya, mengikuti hawa nafsu, memusuhi orang mukmin, mengejar dunia, dan tidak belajar mengenai kebesaran illahi. Dalam sebuah hadits disebutkan kunci syurga adalah kalimat Laa ilaha illa Allah. Bagaimana mungkin seorang masuk ke rumah tanpa kunci?

Umat islam saat ini telah mengucapkan kalimat ini, namun sangat jarang yang mengupayakan keyakinan yang sempurna atas kalimat ini dan mengaplikasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Adapun yang mengupayakan kalimat iman ini dan belajar mengamalkan maka akan dikatakan orang asing (ghuroba). Dalam sebuah hadits dikatakan: “ Islam muncul dalam keadaan asing dan kembali nya dalam keadaan asing. Maka, sungguh beruntung orang-orang yang yang asing itu..”

Asingnya konsep islam di mata umum boleh jadi disebabkan karena kuatnya pengaruh media, tv, film, musik, dsb yang telah memerangi pola fikir (mind set), dan terus menanamkan konsep yang meletakkan kebahagiaan melalui kehidupan yang materialistik dan hiburan, bahkan seringkali menfitnah islam adalah teroris dengan menelurkan konsep islamophobia. Intinya, media massa telah dikontrol dan diprogram agar menjauhkan umat islam dari islam walau ia masih berstatus muslim, dan makin menjauhkan umat non islam kepada islam. Sebuah penelitian mengatakan, 90% opini masyarakat dikontrol oleh media. Lihat pola fikir dan keyakinan kita hari ini, jika kita merasa susah memahami konsep islam yang mulia, boleh jadi hati dan fikiran kita telah di-brain-washed oleh musuh-musuh Allah. Karena kebenaran itu mahal, yang dengki dan berusaha menghambat kita ke jalan ini sungguh banyak sementara yang menghibau ke jalan kebenaran itu sedikit. Karena kebenaran itu syurga dan mengikuti hawa nafsu itu neraka. Sebuah hadits berma’na..”Syurga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, neraka itu diliputi oleh hal-hal yang disukai hawa nafsu…”. Wallahu a’lam

klik

Iklan

Yah /YHWH is a name of the another moon god of the ancient egypt

Halleluya = Pujilah Dewa Bulan

Gambar : Yah atau dewa bulan mesir kuno

 

Para pembaca muslim yang dirahmati Allah SWT., dan para pembaca Kafir yang dilaknati Allah SWT dan seluruh alam semesta ciptaaNya., sekarang kita akan melihat suatu keterangan bukti siapa sebenarnya yang menyembah dewa bulan, zaman dulu Allah memang dianggap dewa bulan oleh orang-orang arab pagan, karena pada saat Nabi ismael wafat akhirnya pergeseran demi pergeseran dari ajaran ibrahim yang benarpun mulai menyimpang yaitu penyembahan terhadap dewa bulan yang dibawa oleh orang – orang mesir tapi tindakan mereka tidak dapat memperkenalkan dewa Yah kepada orang-orang arab karena seperti yang kita ketahui orang arab sangat kuat dalam menjaga tradisi nenek moyang, maka timbul ide orang-orang pagan mesir mengatakan bahwa dewa bulan yang mereka sembah bernama Allah hal ini merupakan metode yang juga dilakukan oleh kaum
pagan yunani yaitu paulus dalam memperkenalkan Isa sebagai Je Zeus kepada orang romawi, akhirnya hingga kedatangan rasulullah orang-orang arab menjadi memiliki kepercayaan bahwa Allah itu dewa bulan, dan dengan kedatangan rasulullah Allah SWT. kembali sebagai sebutan kepada Tuhan yang sejati pencipta Alam semesta, bukan lagi sebutan untuk dewa bulan.

Suatu kesalahan yang telah terjadi sejak turun temurun yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristen adalah pemujaan terhadap Yah, umat kristen begitu ngotot bahwa tuhannya Ibrahim bernama Yah Weh, dan Allah SWT adalah dewa bulan, ternyata hal tersebut sangat berbeda dengan kenyataan, ternyata dewa bulan yang sesungguhnya adalah YHWH, dan umat kristen dan yahudi selalu memujanya dalam ucapan Haleluya.

Satu lagi bukti, Allah SWT. adalah tuhannya Ibrahim adalah pengakuan dari para pakar dan sarjana bible sendiri. Hal ini disadari oleh para pakar alkitab di Indonesia dan di situs Sabda, sehingga mereka tetap mengatakan Allah adalah nama tuhan dan YHWH adalah hanya gelar seperti halnya adonai, god, ataupun tuhan ataupun king. Tapi ada orang kafir yang begitu sok dan ngotot mengumbar
kebodohan dan kemaluan sendiri disetiap web dan bahkan buat blok sendiri untuk pamer kemaluan, dan mengatakan YHWH lah tuhan sejadi dan Allah adalah dewa bulan, tidak taunya dia membuka pengetahuan kita untuk mencari tau apa itu Yhwh ternyata para ahli memang sengaja tidak berani mengatakan bahwa YHWH adalah nama tuhan adalah suatu alasan nya karena
YHWH ditemukan sebagai nama dari dewa pagan Mesir kuno. Hal yang dilakukan Duladi atau Baidowi ternyata telah membuka borok yahudi selebar-lebarnya bahwa yang mereka sembah adalah Dewa bulan.

Ok sekarang kita dalam dujul Haleluya, maka kita akan membahas Yah atau Ya atau Ia yang terdapat pada kalimat “Halelu Ya”. menurut orang-orang yahudi sebutan Haleluya berarti pujilah tuhan. “Ya”sengaja diartikan sebagai Tuhan karena kata Ya terdapat pada “Yahweh”. Benarkah Ya atau Ia atau Yah adalah berarti Tuhan? Ini adalah dewa bulan, di babilonia para pagan
menyebut dewa bulan dengan sebutan “Ya, Ia ataupun Yah” dewa ini bencong alias memiliki dua identitas sebagai laki-laki dan perempuan. Tidak berjenis kelamin dan tidak menikah, kemudian ada yang benar ama “Shua” adalah sebutan untuk dewa langit, jadi ketika orang menggabungkan kedua kata Ia dan Shua maka akan terbentuk dua dewa pagan sekaligus, yaitu Dewa bulan dan Dewa langit, jadi YahShua atau IaShua adalah sebutan nama untuk Dewa Bulan dan Dewa Langit

Suatu keanehan, alkitab mumuat nama dewa bulan bangsa babilonia sebagai nama lain dari dewa bulan yaitu baal, mereka bangsa yahudi telah murtad setelah mereka mulai memuja berhala EHYEH, bulan dalam bahasa Ibrani berarti yareach, dan ini sama dengan sebutan untuk YHWH, Ibrani modern mengeja ini sengaja berbeda, untuk menyimpangkan identitas asli dari dewa pagan mesir kuno. Tapi tidak masalah, para sarjana sangat mengetahui ini adalah benar. Bukti para sarjanapun sangat berlimpah untuk bisa dan tak pernah bisa tersanggah oleh orang yahudi bahwa YHWH adalah Dewa bulan. Dan mereka para yahudi dan kristen telah lama menjadi
penyembah berhala.

Hal yang dilihat dan pengalaman-pengalaman bangsa bani israel selama dimesir dulu selalu membayangi bangsa bani Israel ini. Yang mana kehidupan dengan dewa-dewa dan kekuatan sihir dari mesir kuno dan majikan mereka. Mereka benar-benar tidak bisa meninggalkan tradisi yang mereka lakukan secara turun temurun sejak mereka dalam perbudakan bangsa
mesir kuno.

Walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Musa, bani Israil tetap dalam penentangan mereka, dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Gunung Sinai seorang diri, penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niup kecenderungan bani Israil kepada apa yang dilakukan oleh majikan mereka dulu yaitu menyembah berhala. dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Konon kisah berhala
tersebut terbuat dari emas yang didalamnya dimasukkan tanah pijakan Nabi Musa dan Dengan sedikit mantra yang dilihat waktu majikannya dulu berbuat sihir maka patung tersebutpun dapat berbicara, sihir itu disebut Kabbalah.

Kecenderungan bani Israil terhadap keberhalaan Mesir Kuno dan dewa Yah (dewa Bulan), yang telah kita gambarkan di sini, penting untuk dipahami dan memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat  Penyisipan ajaran keberhalaan mesir kuno oleh umat yahudi ini sudah menjadi kekhawatiran dalam diri Musa sendiri, ke khawatiran Musa tertulis dalam kitab ulangan 31:26 “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. (takut diubah isi taurat oleh orang israel)

Bukti penyimpangan-penyimpangan bangsa Israel kepada dewa mesir kuno banyak tercatat dalam Alkitab, seperti dalam: Bilangan 22:41 dan Num 25:3, hakim-hakim 2:13, 8:33; 2raja2 23:13, 1:2, 16:16, 23:13, 1raja 211:33 Mazmur 68:4 2Tawarikh 33:3; Yehezkiel 8:16; 8:1 dan lainya.

Nah kembali kepada Haleluya apakah artinya? Dalam bahasa Ibrani Halelu berarti “Puji” dan Ya adalah dewa bulan Lihat disini nama-nama dewa mesir kuno

Jadi haleluya artinya adalah puji dewa bulan

Umat kristen terpelajar memang sangat menyembunyikan itu dan berusaha untuk mengatakan bahwa Tuhan ibrahim adalah Allah, lihat situs Sabda sangat jelas YHWH diartikan sebagai gelar sebutan saja bukan nama pribadi tuhan, YHWH sama dengan Adonai, King, Tuhan, dll. Tapi KRISTEN begitu ngotot mengatakan bahwa Tuhan Ibrahim dalam alkitab adalah YHWH sampai kirim surat ke LAI untuk merubah terjemahan Tuhan jadi YHWH, ga bisa dibayangin pasti orang LAI mentertawakan kebodohan ini.
=================================

Yah – Another Moon God

It is interesting that the earliest references to the name Yah (Yaeh) refer to the moon as a satellite of the earth in its physical form. From this, the term becomes conceptualized as a lunar deity, pictorially anthropomorphic but whose manifestations, from hieroglyphic evidence, can include the crescent of the new moon, the ibis and the falcon, which is comparable to the other moon deities,  Thoth and Khonsu.

Of course, the complexity and controversy of Yah stem from the term’s similarity to the  early form of the name for the modern god of the Jews (Yahweh), Christians and Muslims, as well as the fact that their ancestors were so intermingled with those of the Egyptians. In fact, this distinctive attribute of this god makes research on his ancient Egyptian mythology all the more difficult.

Little is really known of  this god’s cult, and there is no references to actual temples or locations where he may have been worshipped.

However, among ancient references, we do seem to find in the Papyrus of Ani several references to the god, though here, his name has been translated as Lah:

In Chapter 2:

“A spell to come forth by day and live after dying. Words spoken by the Osiris Ani:
O One, bright as the moon-god Iah; O One, shining as Iah;
This Osiris Ani comes forth among these your multitudes outside, bringing himself back as a shining one. He has opened the netherworld.
Lo, the Osiris Osiris [sic] Ani comes forth by day, and does as he desires on earth among the living.”

And again, in Chapter 18:

“[A spell to] cross over into the land of Amentet by day. Words spoken by the Osiris Ani:
Hermopolis is open; my head is sealed [by] Thoth.
The eye of Horus is perfect; I have delivered the eye of Horus, and my ornament is glorious on the forehead of Ra, the father of the gods.
Osiris is the one who is in Amentet. Indeed, Osiris knows who is not there; I am not there.
I am the moon-god Iah among the gods; I do not fail.
Indeed, Horus stands; he reckons you among the gods.”

The high point in Yah’s popularity can be found following the the  Middle Kingdom when many people immigrated from the Levant and the  Hyksos ruled Egypt. Hence, it is likely that contact with the regions of Palestine, Syria and Babylon were important in the development of this god in Egypt. George Hart, in his “A Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses” believes that these foreigners in Egypt may have associated Yah with the Akkadian moon-god, Sin, who had an important temple at Harron in north Syria. Like Thoth, Sin was a god of Wisdom, but his other epithets included “Brother of the Earth”, Father of the Sun, Father of Gods, as well as others.

Later during the New Kingdom within the Theban royal family, and not so strangely, even though it was they who expunged these foreign rulers from Egypt, the name of the god Yah was incorporated into their names. The daughter of the 17th Dynasty king, Tao I, was Yah-hotep, meaning “Yah is content”. The name of the next and last ruler of the 17th Dynasty, Kamose, may have also been derived from Yah. His name means “”the bull is born”, and this might be the Egyptian equivalent of the epithet applied to Sin describing him as a “young bull…with strong horns (i.e. the tips of the crescent moon). Also another interpretation of the name of the founder of the 18th Dynasty, Ahmose, is Yahmose, which would mean “Yah is born”. However, this was not the only name associated with Hyksos gods to be adopted by these Egyptians.

In the tomb of Tuthmosis III of the 18th Dynasty, who is often called the Napoleon of Egypt, and who was perhaps responsible for Egypt’s greatest expansion into the Levant, there is a scene where the king is accompanied by his mother and three queens, including Sit-Yah, the “daughter of the moon-god”. However, after this period, the traces of Yah’s moon cult in Egypt appear to be sporadic.

At this point, and because this is a scholarly work, we need to point out several important elements surrounding the name of this ancient Egyptian god, beginning with the fact that most Egyptologists throughout the history of that discipline have had difficulty agreeing on the translation of names from ancient text. Of course, this is not unique to Egyptologists, but is a problem throughout ancient studies.

Secondly, the references on Yah as an Egyptian moon god are slim. The best available documentation is that of George Hart, “A Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses”, but few other scholarly references make mention of this specific Egyptian deity.

Now as an observation, the fact that this deity’s name appears so similar to the early form of the Hebrew God, may mean little if anything. A powerful god of one region was often taken by another, including the Egyptians, and almost completely redefined.

In any event, this god did not attain a very high regard within Egypt, and it is unlikely that he had any major effect on the religion of others in his Egyptian form. Rather, it was the Egyptians in this case who were influenced from without.

sumber klik


Sebenernya saya capek mbahas ini terus, tap gimana ya…masih ada FUCKHRIST yang bebel sih, artikel ini saya dedikasikan buat rekan saya ,  SEMOGA BERMANFAAT

1. http://www.facebook.com/asyunita?sk=wall

 

2. http://www.facebook.com/profile.php?id=100001722034122&sk=wall

 

ya semoga aja baca….kalo ada kawan muslim yang baca, tolong bantu diarahkan.. :p

Seperti yang kita semua ketahui, didalam ajaran Kristen (kecuali saksi Yehovah dan Unitarian yg lain), Tuhan dikonsepkan menjadi 3 oknum. Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus. Dan ketiga-tiga oknum ini sehakikat dan satu dalam zat.

Dan sekali lagi, menurut ajaran Kristen (baik itu Katolik maupun Protestan) bahwa kata Anak pada anak Tuhan yang diperankan oleh Jesus alias Yahshua alias YAOH?SHUA hol-MEHUSHKH?Y alias ‘Isa al-Masih putra Maryam bukan hanya sebagai kiasan, namun dalam arti yang sebenarnya.

Oleh karena perkataan anak Tuhan disini digunakan dalam arti yang sebenarnya, maka perkataan “Bapa” disini harus juga digunakan pula dalam arti Bapa yang sesungguhnya.

Dengan demikian terjadilah suatu hal yang mustahil !

Karena anak yang sebenarnya dari sesuatu, adalah mustahil akan memiliki suatu zat dengan Bapa yang sesungguhnya dari sesuatu itu juga.

Sebab pada ketika zat yang satu itu disebut anak, tidak dapat ketika itu juga zat yang satu ini disebut sebagai Bapa.

Begitupula sebaliknya, yaitu pada ketika zat yang satu itu disebut sebagai Bapa, tidak dapat ketika itu kita sebut zat yang sama ini sebagai anak dari Bapa itu.

Ketika kita zat yang satu ini kita sebut Bapa, maka dimanakah anak ?

Oleh karena mereka memiliki konsep pluralitas Tuhan dalam satu zat, maka disini telah menghadapi suatu dilema yang sukar. Tapi jika disebut zat Bapa lain dari zat anak, maka akan nyata pula bahwa Tuhan itu tidak Esa lagi tetapi sudah menjadi dua (dualisme keTuhanan).

Begitu pula dengan masalah oknum Trinitas yang ketiga, yang umumnya disebut sebagai Roh Kudus, menambah perbendaharaan oknum keTuhanan sehingga Tuhan memiliki tiga oknum yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga imbasnya pengakuan ke-Esaan Tuhan dalam satu zat akan sirna.

Roh Kudus digambarkan sebagai api, sebagai burung dan lain sebagainya. Dan oknum Roh Kudus ini seringkali turun, baik sebelum Yesus lahir, masa Yesus hidup ataupun masa-masa setelah kepergian Yesus sesudah kejadian penyaliban dibukit Golgotta.

Kalau anda perhatikan apa yang tertulis di Alkitab mengenai Roh Kudus maka akan ada dapati suatu kenyataan bahwa:

Roh Kudus didalam Alkitab *tidak pernah* tampil sebagai suatu pribadi.
Pada saat Yesus dibabtis Roh Kudus hanya digambarkan seperti burung merpati.
Pada saat Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh Kudus digambarkan sebagai *lidah-lidah api*.

Kita perhatikan ayat tersebut:

KIS 2:3-4
Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Renungkanlah!

Adakah Allah itu bertebaran?
Adakah Allah itu hinggap pada murid-murid Yesus?
Adakah Allah itu memenuhi para murid?
Perhatikanlah, bahwa akibat dari *hinggapnya* Roh Kudus tersebut adalah: mereka menjadi mampu untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat mereka lakukan.

Kemudian lihat ayat berikut:

MAT 3:11
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Air, Roh Kudus dan Api digunakan untuk membaptis, apakah kita harus berfikir bahwa murid Yesus dibaptis dengan Allah?

Dalam hal ini, Tuhan sudah terpecah kedalam tiga zat yang berbeda.
Sebab jika tetap dikatakan masih dalam satu zat, maka pada ketika itu juga terjadilah zat Bapa adalah zat anak kemudian zat anak dan Bapa itu adalah juga zat Roh Kudus.
Sewaktu zat yang satu disebut Bapa, dimanakah anak ?
Dan sewaktu zat yang yang satu disebut sebagai anak, maka dimanakah Bapa serta Roh Kudus ?

Oleh sebab itu haruslah disana terdapat tiga wujud Tuhan dalam tiga zat yang berbeda.
Sebab yang memperbedakan oknum yang pertama dengan oknum yang kedua adalah ‘keanakan’ dan ‘keBapaan’. Sedang anak bukan Bapa dan Bapa bukan anak.

Jadi nyata kembali bahwa Tuhan sudah tidak Esa lagi.

Oleh karena itulah setiap orang yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan baik dan benar akan menganggap bahwa Kristen Trinitas, bukanlah termasuk dalam golongan agama yang mengEsakan Tuhan, selama ia masih mengajarkan Tuhan itu memiliki tiga oknum seperti yang dijelaskan diatas.

Dengan begitu, maka nyata sudah bahwa ajaran itu bertentangan dengan ajaran semua Nabi-nabi yang terdahulu yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah Esa dalam arti yang sebenarnya.

Adam tidak pernah menyebut bahwa Tuhan itu ada tiga, Abraham, Daud, Musa, Isa dan nabi-nabi sebelum mereka sampai pada Nabi Muhammad Saw juga tidak pernah mengajarkan keTritunggalan Tuhan.

Malah mereka semuanya adalah sederetan nabi-nabi yang telah susah payah, telah mengorbankan harga diri dan jiwa raganya demi menegakkan kalimah Tauhid, Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Tuhan yang satu, Tuhan yang bernama Allah (Swt).

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kepadaNya lah kami menyerahkan diri”. (QS. Ali Imran 3:84)

Dalam sebuah Hadistnya, Rasulullah Saw bersabda :
“Nabi-nabi itu adalah bersaudara yang bukan satu ibu, ibunya bermacam-macam, namun agamanya satu.”
(HR. al-Saikhan dan Abu Daud)

Dalam satu studi banding antara AlQur’an plus Sunnah dan Bible yang meliputi Old Testament dan New Testament plus surat-surat kiriman jo riwayat perbuatan para Rasul (The Acts), apa yang diungkapkan Islam tentang ke-Esaan Allah mendapatkan satu titik temu.

Dalam kitab Ulangan 4:35 disebutkan :
“Kepada kalianlah dia itu ditunjuk, supaya engkau ketahui bahwa Y?OHU UL itulah ULH?M; tidak ada yang lain selain Dia.”

Ulangan 6:4
“Dengarlah oleh mu wahai Israel ! Sesungguhnya Y?OHU UL adalah Tuhan kita; dan Y?OHU UL itu satu adanya.”

Isaiah 45:21
“Dan tidak ada ULH?M lain selain Ku; hanya ada ULH?M sang penyelamat; Tidak ada siapapun beserta-Ku.”

Isaiah 45:22
“Ikutilah Aku, dan kalian akan diselamatkan, semua yang ada diujung dunia: bahwa Aku lah ULH?M dan tidak ada yang lain.”

Jeremiah 10:10,
“Namun, Y?OHU UL itulah ULH?M yang sebenarnya. Dia-lah ULH?M yang hidup dan penguasa yang sejati.”

Galatia 3:20
“Tetapi Y?OHU UL adalah satu”.

1 Timothy 1:17
“Sekarang menuju kepada penguasa abadi, tidak berkesudahan, tidak terlihat, hanyalah ULH?M yang bijaksana, menjadi kehormatan dan kemuliaan selama-lamanya.”

James 2:19
“Kamu mengimani bahwa hanyalah ada satu ULH?M, dan pun Setan mengimaninya … lalu menggeletar.”

YAOH?SHUA alias Jesus The Messias alias ‘Isa Almasih as, berulang kali menyatakan ke-Esaan Tuhan yang dalam bahasa Ibrani purbakala disebut dengan ULH?M.

John 17:3
“Dan inilah hidup yang abadi, bahwa mereka mengenal Engkau, ULH?M yang benar, dan al-masih yang telah Engkau utus.”

Mark 12:29
“Dan YAOH?SHUA menjawabnya, Hukum yang terutama adalah, dengarlah wahai Israel, adapun Y?OHU UL adalah Elohim kita, Y?OHU UL itu satu adanya.”

Kembali pada masalah konsep Tritunggal atau Trinitas, seperti yang diterangkan, ketiga Tuhan ini berbeda satu sama lain. Oknum yang pertama terbeda dengan Ke-Bapaan.

Oknum kedua terbeda dengan Keanakan yang menjadi manusia.
Dan oknum ketiga terbeda dengan keluarnya dari Allah Bapa dan dari Allah anak.
Perbedaan itu merupakan perbedaan yang hakiki, yaitu Bapa bukan anak dan anak bukan Roh Kudus.

Apabila sesuatu menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum, maka perbedaan dan keistimewaan itu harus ada pada zatnya.

Misalnya, satu oknum memiliki perbedaan dan keistimewaan menjadi anak, maka zatnya harus turut menjadi anak.
Artinya zat itu adalah zat anak. Karena oknum tersebut tidak dapat terpisah daripada zatnya sendiri. Apabila perbedaan dan keistimewaan itu ada pada zatnya, maka ia harus adapula pada zat Allah, karena zat keduanya hanya satu.

Oleh karena sesuatu tadi menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum maka ia tidak mungkin ada pada oknum yang lain. Menurut misal tadi, keistimewaan menjadi anak tidak mungkin ada pada oknum Bapa.

Apabila ia tidak ada pada oknum Bapa, maka ia tidak ada pada zatnya.
Apabila ia tidak ada pada zatnya, maka ia tidak ada pada zat Allah.
Karena zat Bapa dengan zat Allah adalah satu.

Dengan demikian terjadilah pada saat yang satu, ada sifat keistimewaan tersebut pada zat Allah dan tidak ada sifat keistimewaan itu pada zat Allah.

Misalnya, anak menjadi manusia.
Apabila anak menjadi manusia, maka zat Allah harus menjadi manusia karena zat mereka satu.
Selanjutnya disebut pula bahwa Bapa tidak menjadi manusia.
Dengan demikian berarti pula bahwa zat Allah tidak menjadi manusia.

Maka pada saat zat Allah akan disebut menjadi manusia dan zat Allah tidak menjadi manusia, maka ini menjadi dua yang bertentangan dan mustahil akan dapat terjadi.

Konsep Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus hanya dapat dipelajari dan dapat diterima jika mereka mendefenisikannya sebagai 3 sosok Tuhan yang berbeda dan terlepas satu sama lainnya, dalam pengertian diakui bahwa Tuhan bukan satu atau Esa, melainkan tiga.

Jika betul Tuhan itu Esa dan Dia telah menjelma atau berinkarnasi menjadi manusia yaitu Jesus, tentu dilangit sudah tidak lagi ada Tuhan. Hal ini dapat kita bandingkan dalam cerita pewayangan, dimana Bathara Ismaya ketika dia berada dikahyangan ia adalah seorang Bathara (dewa), tetapi jika ia turun kebumi dan menjelma menjadi Semar sebagai panakawan Arjuna.

Dan apabila Bathara Ismaya ini menjelma menjadi Semar didunia, maka dikahyangan tidak lagi ada Bathara Ismaya itu. Dan jika dia berada di Kahyangan sebagai Bathara Ismaya, maka dibumi tidak ada Semar, sehingga para panakawan kehilangan Semar.

Lalu bisakah hal ini kita terapkan pada Jesus ? Sayangnya justru tidak bisa.
Dimana Jesus ada didunia, maka dilangit Tuhan masih ada.
Bahkan dalam beberapa pasal Bible nyata-nyata kita dapati bahwa Tuhan berbeda dengan Jesus dan berbeda pula dengan Roh Kudus yang dalam teologi Nasrani juga merupakan bagian dari Tuhan.

Sebagaimana juga yang kita ketahui, klaim pihak Kristen Trinitas bahwa Allah Bapa, Allah anak dan Allah Roh Kudus bersifat Kadim, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir.

Tapi benarkah pendapat demikian ?
Kita tinjau dari Tuhan anak yang diperankan oleh Yesus saja pendapat yang demikian sudah bisa kita pentalkan.
Yesus baru ada ketika dia dilahirkan oleh Siti Maryam atau dalam agama Kristen disebut sebagai Mariah.
Sebelum Mariah melahirkannya, tidak pernah ada Tuhan yang bernama Yesus ini.

Sebagaimana juga yang kita ketahui, pemahaman Trinitas mengajarkan bahwa Allah Bapa, Allah anak dan Allah Roh Kudus bersifat Kadim, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir.

Tapi benarkah pendapat demikian ?
Kita tinjau dari Tuhan anak yang diperankan oleh Yesus saja pendapat yang demikian sudah bisa kita gugurkan. Yesus baru ada ketika dia dilahirkan oleh Siti Maryam atau dalam agama Kristen disebut sebagai Mariah. Sebelum Mariah melahirkannya, tidak pernah ada Tuhan yang bernama Yesus ini.

Memang ada ayat yang konon kabarnya Yesus mengakui bahwa dia sudah ada sebelum Abraham ada, tapi benarkah demikian adanya ?

Siapakah nama beliau sebelum dilahirkan oleh Mariah dengan nama Yesus ?
Kemana gerangan Tuhan Yesus sebelum-sebelumnya ?
Ada dimana Tuhan Yesus ketika Adam diciptakan pertama kali ?
Ada dimana pula Tuhan Yesus ketika Abraham, Daud, Sulaiman, Musa diutus ?

Lanjut pemahaman kaum Trinitas ini, Allah bukannya barulah menjadi Bapa oleh kelahiran Yesus di Betlehem, melainkan sedari kekal, ia adalah juga Allah Bapa.
Yesus bukanlah menjadi anak ALlah pada saat kelahirannya di Betlehem, melainkan sedari kekal ia adalah anak Allah.
(Dr. G.C. Van Niftrik & Ds. B.J. Boland dalam bukunya Dogmatika masa kini halaman 151)

Mengenai hal ini harus kita ketahui bahwa akal manusia dapat membenarkan, Bapa yang sebenarnya harus lebih dahulu daripada anak yang sebenarnya. Akal manusia tidak dapat membenarkan anak lebih dahulu daripada Bapa atau anak bersama-sama ada dengan Bapa.

Apabila Allah Bapa telah terbeda daripada anak Allah dari kadim, maka anak Allah itu tidak dapat disebut ‘diperanakkan’ oleh Allah Bapa.
Karena Allah Bapa dan anak Allah ketika itu sama-sama kadim, Alpha dan Omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak ada yang lebih dahulu dan yang lebih kemudian wujudnya.

Apabila ia disebut diperanakkan, maka yang demikian menunjukkan bahwa ia terkemudian daripada Bapa.
Karena anak yang sebenarnya harus terkemudian daripada Bapanya yang sebenarnya.

Oleh karena itu ajaran Trinitas yang menyatakan bahwa anak dengan Bapa sama-sama kadim, alpha dan omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak saling dahulu mendahului tidak akan masuk akal dan adalah suatu kejadian yang mustahil.

Seterusnya ajaran Trinitas yang mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari sang Bapa dan sang anak (lihat : Pengakuan Nicea-Konstantinopel dalam buku Dogmatika Masa kini hal. 433), adalah juga ajaran yang tidak masuk akal.

Apabila Bapa telah terbeda dari kadim, anak telah terbeda dari kadim dan Roh Kudus telah terbeda dari kadim, maka ketiga-tiganya telah ada diluar dari kadim.
Dengan demikian Roh Kudus tidak dapat disebut telah keluar dari sang Bapa dan sang anak, karena ia memang telah ada diluar dari kadim seperti Bapa dan anak telah ada diluar.

Sesungguhnya, ajaran-ajaran seperti ini adalah tidak mungkin terjadi.
Tuhan tidak akan merubah hukum yang telah dibuat olehNya sendiri, dan Allah tidak menyukai kekacauan (1 Korintus 14:33).

Segala sesuatu itu memiliki aturan permainan masing-masing, dan tidak akan ada perubahan dari hukum-hukum alam itu (sunatullah).

“Katakan: Dialah All?h yang Esa. All?h tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.” (Qs. Al-Ikhlash 112:1-4)

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu, dan janganlah mengatakan tentang Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih, Isa putera Maryam itu, hanyalah Rasul Allah dan kalimah-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh daripada-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu katakan:”Tritunggal !”, Jangan teruskan. (Itu) lebih baik bagimu. Sungguh, Allah adalah Tuhan satu, Maha Suci Ia dari mempunyai anak, kepunyaan-Nya segala yang di langit dan segala yang di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung”. (Qs. An-Nisa’ 4:171)

 


KENAPA YESUS ?

Apakah Yesus masih relevan sekarang ini?

Banyak orang berpandangan Kristus menghendaki kita jadi orang religius. Mereka pikir Yesus datang dan mengambil semua kesenangan hidup, dan memberi kita aturan-aturan, yang tidak mungkin dijalankan, hidup. Mereka bersedia menyebut Dia pemimpin besar dari masa lalu, tapi mengatakan Dia tidak relevan dengan kehidupan masa kini.

Josh McDowell adalah mahasiswa yang diajarkan bahwa Yesus cuma salah satu pemimpin religius yang menetapkan aturan hidup, yang tidak mungkin dijalankan. Dia pikir Yesus sama sekali tidak relevan dalam hidupnya.

Kemudian, satu hari, pada saat makan siang seorang mahasiswi duduk disebelah Mc Dowell dengan senyuman lebar. Merasa tertarik, dia bertanya kenapa dia begitu bahagia. Jawaban langsungnya adalah,, “Yesus Kristus!

Yesus Kristus? pikir McDowell, yang balik mengatakan

“Oh, demi Tuhan, jangan beri saya sampah itu. Saya muak dengan agama; saya muak dengan gereja; saya muak dengan Alkitab. Jangan beri saya sampah tentang agama.”

Tapi tanpa terganggu rekan mahasiswi itu dengan tenang menjelaskannya,

“Tuan, saya tidak katakan agama, saya katakan Yesus Kristus.”

McDowell kaget. Dia tidak pernah memandang Yesus lebih dari sekedar tokoh agama, dan tidak ingin jadi bagian dari kemunafikan religius. Namun perempuan Kristen, yang gembira ini, berbicara tentang Yesus sebagai seseorang yang membawa arti kehidupan kepadanya.

Kristus mengklaim akan menjawab semua pertanyaan mendalam mengenai eksistensi kita. Pada satu saat, kita semua akan mempertanyakan apa arti kehidupan itu. Apakah anda pernah melihat ke langit, yang gelap gulita, dan merenungkan siapa yang menaruh bintang-bintang itu di sana? Atau apakah anda pernah melihat matahari terbenam dan berpikir tentang pertanyaan terbesar dalam hidup:

  • “Siapa saya?”
  • “Kenapa saya ada di sini?”
  • “Kemana saya pergi setelah meninggal?”

Meski para filsuf dan pemimpin agama lain menawarkan jawaban tentang arti kehidupan, hanya Yesus Kristus membuktikan kredensial-Nya ( apa yang dikatakanNya) dengan bangkit dari kematian. Skeptis seperti McDowell, yang pada awalnya mengejek kebangkitan Yesus , telah menemukan bahwa ada bukti, yang banyak, bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Yesus menawarkan hidup dengan arti yang sebenarnya. Dia mengatakan hidup lebih besar dari mengumpulkan harta, bersenang-senang, sukses, dan berakhir di kuburan. Kendati begitu, masih banyak orang mencoba menemukan arti kehidupan dalam ketenaran dan kesuksesan, bahkan juga bintang-bintang terbesar..

Madonna mencoba menjawab pertanyaan, “Kenapa saya di sini?” dengan menjadi seorang penyanyi terkenal (diva), mengakui, “Bertahun-tahun lalu saya pernah berpikir bahwa ketenaran, kekayaan, dan penerimaan publik akan memberikan kebahagiaan bagi saya. Tapi satu hari kamu akan bangun dan menyadari bukan hal seperti itu. Saya masih merasa kurang. Saya ingin tahu arti kebenaran dan kebahagiaan sejati dan bagaimana saya menemukannya.”[1]

Yang lain sudah menyerah untuk menemukan arti kehidupan itu, Kurt Cobain, vokalis Nirvana, grup band grunge asal Seattle, putus asa pada usia 27 tahun dan bunuh diri. Kartunis era Jazz, Ralp Barton, juga menemukan hidup tanpa arti, dan meninggalkan pesan bunuh dirinya, “Saya punya beberapa kesukaran, banyak teman, sukses hebat; saya sudah berpindah dari satu isteri ke isteri yang lain, dan dari rumah ke rumah, mengunjungi negara-negara di dunia, tapi saya muak dengan upaya menemukan alat-alah untuk mengisi 24 jam sehari”[2]

Pascal, filsuf besar Perancis percaya kekosongan hati yang kita semua alami hanya bisa diisi oleh Allah. Dia mengatakan, “Allah membentuk ruang vakum di hati setiap orang yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus”[3] Jika Pascal benar, maka kita akan berharap Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang identitas kita dan arti kehidupan, tapi juga memberi kita harapan akan kehidupan setelah kematian.

Apakah ada arti kehidupan, tanpa Allah? Tidak menurut ateis Bertrand Russell, yang menulis,”Sampai anda berasumsi adanya allh, pertanyaan tujuan hidup itu tidak ada artinya.” Russell sediri menyerah dengan menyatakan akan “membusuk” di kuburnya. Dalam bukunya, Why I am not a Christian(Kenapa saya bukan orang Kristen), Russell membantah semua yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan, termasuk janjiNya akan kehidupan kekal.

Tapi jika Yesus benar-benar mengalahkan kematian seperti klaim para saksi mata, (Lihat “Did Jesus Rise from the Dead?”) maka dia sendiri akan dapat memberi tahu kami apa yang hidup adalah semua tentang, dan menjawab, “Di mana saya pergi?” Untuk memahami bagaimana kata-kata Yesus, kehidupan, dan kematian dapat membentuk identitas kita, memberi kita makna dalam hidup, dan memberikan harapan untuk masa depan, kita perlu memahami apa yang dikatakannya tentang Tuhan, tentang kami, dan tentang dirinya sendiri.

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Allah Itu Relasional

Banyak orang berpendapat Allah lebih sebagai sebuah kekuatan bukan satu pribadi, yang bisa kita kenal dan bergaul denganNya. Allah yang disebutkan Yesus bukanlah kekuatan impersonal di Star Wars, yang kebaikannya bisa diukur dalam voltase. Dia juga bukan sosok besar menakutkan di angkasa, yang senang membuat hidup kita sengsara.

Sebaliknya, Allah itu relasional seperti kita, tapi lebih dalam lagi. Dia berpikir, Dia mendengar. Dia berkomunikasi dalam bahasa yang kita pahami. Yesus menjelaskan kepada kita dan memperlihatkan Allah itu seperti apa. Menurut Yesus, Allah tahu setiap kita dengan sangat baik dan personal, dan terus memikirkan kita.

Allah Itu Kasih

Dan Yesus mengatakan kepada kita, Allah itu kasih. Yesus mendemonstrasikan kasih Allah kemanapun Dia pergi, ketika Dia menyembuhkan orang sakit dan menolong yang disakiti dan miskin.

Kasih Allah sangat berbeda secara radikal dengan (kasih) kita, karena tidak berdasarkan ketertarikan atau penampilan. Kasih (Allah) itu secara total mengorbankan diri dan tidak mementingkan diri. Yesus membandingkan kasih Allah dengan kasih bapa/ayah yang sempurna. Ayah yang baik menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya, berkorban untuk mereka, dan memberikan (kebutuhan) mereka. Tapi untuk kepentingan terbaik mereka, dia juga mendisiplinkan mereka.

Yesus mengilustrasikan hati kasih Allah dengan cerita tentang seorang anak, yang memberontak, dan menolak nasehat ayahnya mengenai kehidupan dan apa yang penting. Kesombongan dan keinginan-diri, anak itu berhenti bekerja dan “hidup semaunya”. Daripada menunggu sampai ayahnya membagi warisan, dia mulai memaksa ayahnya untuk memberikan warisan itu kepadanya.

Dalam cerita Yesus, ayahnya memberi permintaan anaknya. Tapi keadaan buruk menimpa anaknya. Setelah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, anak pemberontak itu terpaksa bekerja di peternakan babi. Ketika dia begitu lapar bahkan makanan babi kelihatan enak (diceritakan dia memakan makanan babi). Putus asa dan tidak yakin ayahnya akan menerimanya kembali, dia membereskan tasnya dan pulang ke rumah.

Yesus menceritakaan kepada kita bukan saja sang ayah menyambutnya, tapi dia lari memeluknya. Dan kemudian secara radikal total dalam kasihnya, sang ayah menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak.

Ini sangat menarik, kendati ayahnya sangat mengasihi putranya, dia tidak mengejarnya. Dia membiarkan sang anak, yang dikasihinya, merasakan kesakitan dan penderitaan karena konsekuensi pilihan pemberontakannya. Dengan cara yang sama, ayat-ayat Alkitab mengajarkan kasih Allah tidak pernah mengkompromikan tentang apa yang terbaik untuk kita. Kasih iatu akan membiarkan kita menderita atas pilihan-pilihan salah kita.

Yesus juga mengajarkan Allah tidak akan pernah mengkompromikan karakterNya. Karakter adalah siapa kita adanya. Itu adalah esensi kita, dimana berasal pikiran-pikiran dan tindakan kita berasal. Jadi seperti apa Allah — esensinya?

Allah Itu Suci

Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya.

Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya.

Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia. Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat. Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita?

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah

Jika anda membaca seluruh Perjanjian Baru, anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya.

Bintang rock band Irlandia, U2, Bono menegaskan dalam sebuah wawancara,” Konsep mengejutkan bahwa Allah pencipta alam semesta mungkin mencari teman, hubungan sungguh-sungguh dengan manusia….”[5] Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus, Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mataNya, kita spesial (khusus).

Kebebasan Memilih

Dalam sebuah film, Stepford Wives, lemah, terbaring, orang serakah dan pembunuh ini telah menciptakan robot-robot penurut dan patuh untuk menggantikan isteri-isteri mereka, yang bebas, dan mereka nilai sebagai ancaman. Kendati laki-laki diharapkan mencintai isteri-isteri mereka, mereka menggantikannya dengan mainan untuk memaksakan kepatuhan.

Allah bisa membuat kita seperti itu —- manusia robot (iPeople) diprogram untuk mengasihi dan mematuhi Dia, program puji-pujian dimasukkan kepada kita seperti “screensaver”. Tapi akibatnya kasih karena terpaksa kita tidak ada artinya. Allah ingin kita mengasihi Dia dengan bebas. Dalam hubungan sebenarnya, kita ingin seseorang mencintai kita apa adanya, bukan karena paksaan — kita lebih suka tambatan jiwa daripada pengantin, yang dipesan sebelumnya. Søren Kierkegaard menyimpulkan dilema dalam kisah ini.

Andaikan ada seorang raja yang mencintai pelayan sederhananya. Raja itu tidak seperti raja-raja lain. Semua pejabat negara gemetar dihadapan kuasanya ….. dan tetap saja raja, yang sangat kuat ini, meleleh karena cinta terhadap pelayan sederhana itu. Bagaimana dia menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Dalam cara yang tidak biasa, dia terikat oleh “wibawa raja”.  Jika dia membawaya ke istana dan memahkotai dia dengan permata … dia pasti tidak akan menolak — tidak seorangpun berani menolak dia. Tapi apakakh dia mencintainya? Tentu saja dia akan mengatakan dia mencintainya, tapi apakah sungguh-sungguh?[6]

Anda lihat masalahnya. Ini masalah yang lebih sederhana: bagaimana anda putus dengan pacar, yang sudah tahu segalanya? (“Ini tidak berhasil buat kita, tapi saya rasa kamu sudah tahu.”) Namun untuk memungkinkan saling mencintai, Allah menciptakan manusia dengan kapasitas unik: kehendak bebas.

Pemberongakan Melawan Hukum Moral Allah

C.S. Lewis menjelaskan meski kit secara internal diprogram dengan keinginan untuk mengetahui Allah, kita memberontak atas itu sejak saat kita lahir.[7] Lewis juga memulai penelitiannya dengan motifnya sendiri, dimana dia menemukan bahwa dia secara instink tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Lewis heran darimana rasa salah dan benar ini datangnya. Kita semua mengalami rasa salah dan benar ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorban nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, kita di dalam hati telah diprogram dengan hukum moral, yang membuat seorang mantan ateis mencapai kesimpulan pasti ada “pemberi hukum” moral.

Sebenarnya, menurut Yesus dan Alkitab, Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi.. Dan bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, kita juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah. Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah:

“Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Dosa, karena itu, tidak hanya melakukan kesalahan ketika kita melanggar hukum, tapi juga kegagalan kita melakukan apa yang benar.

Allah membuat alam semesta dengan hukum-hukum yang mengatur segalanya. Hukum-hukum ini tidak bisa dihindarkan dan tidak berubah. Ketika Einstein menemukan formula E=MC2 dia membuka misteri energi nuklir. Campur bahan-bahan yang tepat dengan kondisi tertentu dan tenaga sangat besar dilepaskan. Alkitab mengatakan kepada kita hukum moral Allah tidak berubah karena keluar dari esensi karakterNya.

Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam. Alkitab menyebut ini sebagai ketidak-patuhan, dosa, yang berarti “tidak kena sasaran”, seperti seorang pemanah yang gagal mengenai sasarannya. Jadi dosa kita telah mematahkan hubungan, yang sudah dikehendaki, Allah dengan kita. Memakai ilustrasi pemanah, sebagai contoh, kita telah gagal mengenai sasaran yang sebenarnya merupakan tujuan penciptaan kita.

Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), indvidu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakt lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual) Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi.

Dan kita sudah putus. Seperti disimpulkan Kayne West, “Dan saya tidak berpikir bahwa saya tidak bisa melakukan apapun untuk membenarkan kesalahan saya….. saya ingin berbicara dengan Allah tapi saya takut karena kita sudah lama tidak saling berbicara.” Diambil dari lirik lagu West yang berbicara mengenai perpisahan yang dibawa oleh dosa dalam kehidupan kita. Dan menurut Alkitab, perpisahan ini lebih dari sekedar lirik di sebuah lagi rap. Itu punya konsekuensi mematikan.

Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah

Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2). Dalam ayat Alkitab, “perpisahan” berarti kematian spiritual. Dan kematian spiritual berarti terpisah sepenuhnya dari cahaya dan kehidupan Allah.

“Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita?

Kenapa Dia tidak melihat bahwa rencanaNya sudah gagal total?” Tentu saja, Allah maha tahu akan menyadari bahwa kita akan memberontak dan berdosa. Kenyatannya, kegagalan kita membuat rencanaNya jadi sangat mengejutkan. Hal ini membawa kita pada alasan Allah datang ke Bumi dalam bentuk manusia. Dan bahkan lebih menakjubkan —- alasan yang harus dicatat karena kematiannya.

Solusi Sempurna Allah

Selama tiga tahun kehidupan pelayananNya, Yesus mengajarkan kita bagaimana untuk hidup dan melakukan banyak mujizat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Tapi Dia menyatakan misi utamanya adalah menyelamatkan kita dari dosa kita.

Yesus memproklamirkan Dia adalah Mesias, yang sudah dijanjikan dan akan mengangkat beban kesalahan kita. Nabi Yesaya telah menulis mengenai Mesias 700 tahun sebelumnya, memberi kita beberapa tanda atas identitasnya. Namun tanda yang paling sukar dipahami adalah Mesias adalah manusia sekaligus Allah!

” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, …. dan namanya disebut orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” (Yesaya) 9:5)

Penulis Ray Stedman menuliskan janji Allah atas Mesias,”Sejak permulaan Perjanjian Lama, ada rasa akan harapan dan eskpektasi, seperti suara langkah kaki yang mendekat: seseorang datang!…. Harapan itu meningkat sepanjang catatan nabi ke nabi yang memproklamirkan tanda-tanda menjanjikan: ada yang datang!”[8]

Para nabi telah menyatakan Mesias akan jadi korban dosa sempurna bagi Allah, memuaskan keadilanNya. Manusia sempurna ini akan memenuhi kualifikasi untuk mati bagi kita. (Yesaya 53:6)

Menurut para penulis Perjanjian Baru, satu-satunya alasan Yesus pantas mati untuk kita adalah karena, sebagai Allah, Dia menjalani hidup sempurna secara moral dan tidak berdosa.

Sukar untuk mengerti bagaimana kematian Yesus itu menebus dosa-dosa kita. Mungkin analogi yudisial akan memperjelas bagaimana Yesus menyelesaikan dilema dari Allah, yang sempurna kasihNya dan keadilanNya.

Bayangkan memasuki ruang sidang, bersalah karena pembunuhan (anda punya isu serius disini) Ketika anda mendekati meja, anda menyadari bahwa hakim itu ayah anda. Karena tahu dia mengasihi anda, anda langsung mulai memohon,”Pak, bebaskan saya!”

Dia menjawab,”Aku mengasihi mu, nak, tapi saya hakim. Saya tidak bisa membebaskanmu begitu saja.”

Dia terbelah. Akhirnya, dia mengetuk palu dan menyatakan anda bersalah. Keadilan tidak bisa dikompromikan, paling tidak oleh seorang hakim. Tapi karena dia mengasihi anda, dia turun dari kursi, membuka jubahnya, dan menawarkan diri untuk membayar denda untuk anda. Pada kenyataannya, dia menggantikan anda di kursi listrik.

Inilah gambar yang dilukis di Perjanjian Baru. Allah turun memasuki sejarah manusia, dalam bentuk manusia Yesus Kristus, dan duduk di kursi listrik (baca: salib) menggantikan kita, untuk kita. Yesus bukanlah pihak ketiga kambing hitam, mengambil dosa kita, tapi Dia adalah Allah sendiri. Lebih jelas lagi, Allah punya dua pilihan: menghakimi dosa kita atau mengambil alih hukuman itu kepada diriNya sendiri. Dalam Kristus, Dia memilih yang terakhir.

Meski Bon, dari U2, tidak berkehandak jadi teolog, dia secara akurat mengatakan alasan kematian Yesus,

“Maksud kematian Kristus adalah Kristus mengambil dosa-dosa dunia, sehingga apa yang kita lakukan tidak kembali lagi kepada kita, dan sifat dosa kita tidak menghasilkan kematian pasti. Inilah alasan utamanya. Hal ini seharusnya membuat kita rendah hati. Bukan pekerjaan baik yang membuat kita bisa melewati gerbang Surga”[9]

Dan Yesus menegaskan hanya Dia, satu-satunya, yang bisa membawa kita kepada Allah, dikatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes14:6)

Tapi banyak yang berargumentasi klaim Yesus bahwa Dia adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu terlalu sempit, disebutkan ada banyak jalan menuju Allah. Mereka, yang percaya bahwa semua agama sama, menolak bahwa kita punya masalah dosa. Mereka tidak menerima perkataan Yesus dengan serius. Mereka mengatakan kasih Allah akan menerima kita semua, apapun yang sudah kita buat.

Mungkin Hitler pantas diadili, menurut pandangan mereka, tapi bukan mereka atau yang lain yang “hidup layak”. Ini sama saja mengatakan Allah memberikan nilai, dan semua yang dapat D- atau lebih baik akan masuk (surga). Tapi ini menelurkan dilema.

Seperti sudah kita lihat, dosa bertentangan dengan karakter suci Allah. Jadi kita telah menghina (menyinggung) Pencipta kita, dan mengasihi kita sampai mengorbankan AnakNya bagi kita. Pemberontakan kita sama seperti meludahi mukaNya. Tidak ada kebaikan, agama, meditasi, atau Karma bisa membayar hutang dosa kita, yang telah terjadi.

Menurut teolog R. C. Sproul, hanya Yesus sendiri satu-satunya yang mampu membayar hutang itu. Dia menulis,

“Musa jadi perantara hukum; Muhammad bisa mengangkat pedang; Buddha bisa memberikan konsultasi personal; Konfusius menawarkan kalimat-kalimat kebajikan; tapi tidak satupun orang ini punya kualifikasi untuk jadi penebus dosa dunia. . Hanya Kristus satu-satunya yang pantas mendapat pujian tidak terbatas dan pelayanan.”[10]

Pemberian Yang Tidak Semestinya

Istilah Alkitab untuk menggambarkan pengampunan gratis Allah melalui pengorbanan kematian Yesus adalah anugerah. Dimaafkan menyelamatkan kita dari apa yang seharusnya kita terima, anugerah dari Allah memberi kita apa yang seharusnya tidak pantas kita terima. Mari kita tinjau sebentar bagaimana apa yang Kristus lakukan terhadap kita yang tidak bisa kita sendiri lakukan:

  • Allah mengasihi kita dan menciptakan kita untuk berhubungan denganNya.[11]
  • Kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak hubungan itu.[12]
  • Dosa dan pemberontakan kita terhadap Allah dan hukumNya telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Dia.[13]
  • Meski kita pantas dihukum selama-lamanya, Allah telah membayar lunas hutang kita dengan kematian Yesus menggantikan kita, memungkinkan kita hidup selama-lamanya bersama Dia.[14]

Bono memberi kita perperktifnya atas anugerah.

“Anugerah melampaui akal dan logika. Kasih mengiterupsi, jika anda suka istilah ini, konsekuensi tindakan anda, dimana dalam kasus saya benar-benar berita baik, karena saya melakukan banyak hal-hal bodoh… Saya akan mendapat masalah besar jika Karma pada akhirnya jadi hakim saya…. itu tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saya, tapi saya berpegang pada Anugerah. Saya memegang (janji) bahwa Yesus menanggung dosa saya di Kayu Salib, karena saya tahu siapa saya, dan saya berharap saya tidak harus bergantung pada ke-religius-an saya sendiri.”[15]

Sekarang, kita punya gambaran rencana Allah selama ini. Tapi masih ada satu hal yang belum lengkap. Menurut Yesus dan para penulis Perjanjian Baru, setiap dari kita, secara individu, harus menjawab pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Yesus kepada kita. Dia tidak akan memaksa kita menerimanya.

Anda Sendiri Memilih Akhirnya

Kita terus membuat pilihan-pilihan …… apa yang akan dipakai, apa yang akan dimakan, karir, pasangan perkawinan, dan seterusnya. Hl yang sama juga terjadi pada hubungan dengan Allah. Penulis Ravi Zacharias menulis,

“Pesan Yesus mengungkap bahwa setiap orang…. dyang atang untuk mencari Allah bukan karena kebajikan kelahiran, tetapi oleh kesadaran pilihan untuk mempersilakan Dia masuk dan hukum-hukumNya mengatur hidupnya.”[16]

Pilihan-pilihan kita sering dipengaruhi orang lain. Namun dalam beberpa hal, kita diberi nasehat yang salah. Pada 11 September 2001, 600 orang tak bersalah pecaya pada nasehat yang salah, dan menderita konsekuensinya. Kisah nyatanya seperti ini,

Seseorang, yang sedang ada di lantai 92 di tower selatan World Trade Center, baru saja mendengar sebuah jet menambarak tower utara. Kaget karena ledakan, dia menelepon polisi dan meminta instruksi apa yang harus diperbuat. “Kita perlu tahu apakah kita harus keluar dari sini, karena kita tahu ada ledakan,” tanyanya di saluran darurat.

Suara di ujung lainnya menasehati dia untuk tidak keluar gedung. “Saya akan menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya”

“Baiklah, ” sang penelepon menjawab. “Jangan keluar gedung.” Kemudian dia menutup telepon itu.

Beberapa saat setelah pukul 09.00, sebuah jet lain menabrak lantai 80 di tower selatan. Hampir 600 orang dilantai atas tower selatan meninggal. Kegagalan evakuasi dari gedung merupakan salah satu tragedi terbesar hari itu.[17]

Ke 600 orang tewas karena mereka menggantungkan diri pada informasi yang salah, kendati diberikan oleh orang yang mencoba menolong. Tragedi tidak akan terjadi jika ke 600 korban diberi informasi yang benar.

Kesadaran pilihan kita terhadap Yesus sangatlah jauh lebih penting daripada menghadapi korban-korban 9/11, yang salah informasi. Taruhannya Keabadian. Kita bisa memiih satu dari tiga respon berbeda. Kita bisa tidak memperdulikan Dia. Kita bisa menolak Dia. Atau, kita bisa menerima Dia.

Alasan kenapa banyak orang hidup dengan tidak mempedulikan Allah adalah mereka juga terlalu sibuk mendesakkan agendanya sendiri. Chuck Colson seperti itu. Pada usia 39 tahun, Colson menempati kantor disebelah kantor presiden Amerika Serikat. Dia adalah “orang tangguh” Gedung Putih era Nixon, “pembunuh bayaran” yang akan mengambil keputusan-keputusan sulit. Pada tahun 1972, skandal Watergate menghancurkan reputasinya dan dunianya terpecah-belah. Belakangan dia menulis,

“Saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini dan itu, saya mencapai tujuan, saya sukses dan saya tidak memberi Allah kehormatan (atas semua keberhasilan itu), tidak pernah berterima kasih kepadaNya atas pemberian Dia kepada saya. Saya tidak pernah berpikir ada pribadi “tak terhitung superioritasnya” dibandingkan saya, atau jika penah berpikir tentang ke-maha kuasa-an Allah, saya tidak menghubungkannya dengan kehidupan saya.”[18]

Banyak orang sama dengan Colson. Cukup udah untuk terperangkap dalam kecepatan kehidupan dan hanya punya sedikit atau tidak ada waktu untuk Allah. Kendati begitu, tidak mempedulikan tawaran anugerah Allah akan pengampunan punya konsekuensi mengerikan. Hutang dosa kita tetap tidak terbayar.

Dalam kasus-kasus kriminal, hanya sedikit sekali yang memperoleh pengampunan penuh (pembebasan). George Burdick, 1915, editor kota New York Tribune, menolak memberitahukan sumber beritanya dan melanggar hukum. President Woodrow Wilson mengumumkan pengampunan penuh terhadap Burdick atas semua kesalahan “diperbuat atau mungkin diperbuatnya”. Apa yang membuat kasus Burdick bersejarah adalah dia menolak pengampunan itu. Keputusannya membuat kasus masuk Makamah Agung, yang akhirnya mendukung Burdick, menyatakan pengampunan presiden tidak bisa dipaksakan kepada siapapun.

Ketika menolak pengampunan penuh Kristus, orang-orang memberi berbagai alasan. Banyak yang mengatakan kurang bukti, tapi seperti Bertrand Russell dan skeptis lain, mereka tidak cukp tertarik untuk sungguh-sungguh melakukan investigasi. Yang lain menolak melihat lebih jauh dari beberapa orang Kristen munafik yang mereka kenal, menunjuknya sebagai perilaku tidak punya belas kasihan atau inkonsisten sebagai alasan. Dan yang lain masih tetap menolak Kristus karena mereka menyalahkan Allah atas pengalaman sedih atau tragis yang mereka derita.

Namun, Zacharias, yang berdebat dengan banyak intelektual di ratusan kampus universitas, percaya alasan utama kebanyakan orang menolak Allah adalah moral. Dia menulis,

“Seseorang menolak Allah bukan karena tuntutan intelektual juga buka karena kelangkaan bukti. Seseorang menolak Allah karena perlawanan motal menolak mengakui kebutuhannya akan Allah.[19]

Keinginan kebebasan moral telah menjauhkan CS Lewis dari Allah disebagian besar masa mahasiswanya. Setelah pencarian kan kebenaran membawanya kepada Allah, Lewis menjelaskan bagaimana menerima Kristus melibatkan lebih dari persetujuan intelektual atas fakta-fakta. Dia menulis,

“Orang yang jatuh bukanlah hanya karena mahluk tidak sempurna yang membutuhkan perbaikan: dia pemberontak yang harus menyerahkan senjatanya. Menerahkan senjata, menyerah, mengatakan anda minta ampun, menyadari bahwa anda berada pada jalan yang salah dan siap memulai hidup baru lagi…. itulah yang disebut orang Kristen sebagai lahir baru.”[20]

Lahir baru adalah kata yang berarti cara berpikir yang secara dramatis berbalik arah.. Itulah yang terjadi terhadap mantan “pembunuh bayaran” Nixon. Setelah Watergate terbuka, Colson mulai memikirkan tentang hidup secara berbeda. Merasa dia tidak punya tujuan (tak tahu apa yang harus dilakukan), dia mulai membaca buku KeKristenan Biasa (Mere Christianity), ditulis oleh Lewis, yang diberikan seorang teman kepadanya. Dilatih sebagai pengacara, Colson mengambil buku tulis dan menuliskan semua argumen-argumen Lewis. Colson mengingat,

“Saya tahu waktunya sudah tiba bagi saya. . Apakah saya akan menerima Yesus Kristus tanpa syarat sebagai Tuhan aas hidup saya. Itu seperti sebuah gerbang untuk saya. Tidak ada jalan untuk melangkah memutarinya. Saya masuk atau saya tetap diluar. Satu ‘mungkin’ atau ‘saya butuh tambahan waktu’ sama dengan memperolok diri sendiri.”

Setelah pergulatan di dalam hati, mantan pembantu presiden Amerika Serikat ini akhirnya menyadari Yesus Kristus pantas memperoleh kesetiaan total darinya. Dia menulis,

“Kemudian, pada Jumat pagi, ketika saya duduk sendirian melihat ke laut yang saya cintai, kalimat yang saya tidak pasti bisa saya pahami atau katakan meluncur begitu saja dari bibir saya, “Tuhan Yesus, saya percaya Engkau”. Saya terima Engkau. Mohon masuklah dalam hidup saya. Saya berkomitmen kepadaMu.”[21]

Colson menemukan bahwa pertanyaannya, “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” dan “Kemana saya pergi?” semua terjawab dalam hubungan personal dengan Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena diadalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan (Efesus 1:11 )

Ketika kita memasuki hubungan personal dengan Yesus Kristus, Dia mengisi kekosongan dalam hati kita, memberi kita kedamaian, dan memuaskan keinginan kita akan arti kehidupan dan harapan. Dan kita tidak lagi membutuhkan stimultan sementara untuk mengisi kita. Ketika Dia masuk kedalam kita, Dia juga memuaskan keinginan paling dalam dan kebutuhan akan kasih dan kedamaian sejati.

Dan hal paling menakjubkan adalah Allah sendiri datang sebagai manusia untuk membayar seluruh hutang kita. Karena itu, kita tidak lagi ditindas hukuman dosa. Paulus menulisnya dengan jelas kepada jemaat Roma, ketika ditulisnya,

“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya.” (Kolose 1:21b-22a ).

Jadi Allah melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Kita dibebaskan dari dosa oleh pengorbanan Yesus sampai mati. Ini seperti pembunuh massal datang kepada hakim dan diberikan pengampunan penuh dan menyeluruh. Dia tidak pantas menerima pengampunan itu, dan juga kita. Pemberian kehidupan abadi Allah sepenuhnya gratis —- dan dibagi-bagikan (kepada siapa yang mau). Tapi meski pengampunan ditawarkan kepada kita, tetap tergantung kepada kita untuk menerimanya (atau tidak). Pilihan ada pada anda.

Apakah anda ada pada titik dalam hidup dimana anda akan menerima tawaran gratis Allah?

Mungkin seperti Madonna, Bono, Lewis, dan Colson, hidup anda juga kosong. Tidak satupun yang telah anda coba bisa memuaskan kekosongan (jiwa) yang anda rasakan. Allah bisa mengisi kekosongan itu dan mengubah anda dalam sekejab. Dia telah menciptakan anda agar anda mempunyai hidup yang membanjir dengan arti dan tujuan. Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10b)

Atau mungkin semua berjalan baik-baik dalam hidup anda, tetapi anda tidak bisa istirahat dan tidak ada kedamaian. Anda menyadari anda telah melanggar hukum-hukum Allah dan terpisah dari kasihNya dan pengampunanNya. Anda takut akan penghakiman Allah. Yesus mengatakan, “Saya pergi dengan memberi kamu berkat — kedamaian pikiran dan hati. Dan kedamaian yang saya beri tidak sama dengan yang diberikan dunia.”

Jadi kapanpun anda lelah akan kekosongan hidup atau terusik oleh ketiadaan perdamaian dengan Pencipta anda, jawabannya ada dalam Yesus Kristus.

Ketika anda percaya dalam Yesus Kristus, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa anda — di masa lalu, sekarang, dan masa depan dan menjadikan anda anak-anakNya. Dan sebagai anak yang dikasihiNya, Dia memberi anda tujuan dan arti kehidupan di Bumi dan menjanjikan kehidupan abadi bersamaNya.

Firman Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya (Yohanes 1:12)

Pengampunan dosa, tujuan hidup, dan kehidupan abadi semuanya untuk anda jika anda memintanya. Anda bisa mengundang Kristus memasuki hidup anda sekarang ini dengan iman melalui doa. Berdoa adalah berbiacara dengan Allah. Allah tahu hati anda dan tidak terlalu memperhatikan kata-kata anda karena Dia melihat sikap hati anda. Dubawah ini ada saran doa:

“Ya Allah, saya ingin mengenal Mu secara pribadi dan hidup abadi bersamaMu. Terima kasih, Tuhan Yesus, karena mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya. Saya buka pintu kehidupan saya dan menerima Engkau sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ambil hidup saya dan ubah saya, jadikan saya orang yang Engkau kehendaki.”

Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati anda? Jika ya, berdoalah seperti saran di atas dalam bahasa anda sendiri.

Jika anda sudah meminta Yesus Kristus masuk dalam hidup anda, kami mendorong anda untuk mulai membaca Firman (Alkitab) dan bergabung dengan yang lain yang juga ingin hidup untuk Dia.

Sangat penting bagi anda untuk belajar rahasia-rahasia kehidupan indah yang Allah rencanakan bagi anda. Di bawah ada Studi Alkitab yang akan membantu anda menghubungkan potongan-potongan rencana indahNya bagi anda dan bagi pertumbuhan iman anda.

Jika anda masih ada pertanyaan mengenai apa yang perlu untuk mengenal Yesus Kristus dan memiliki kehidupan abadi, klik disini untuk melihat presentasi video

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Ada Konspirasi Da Vinci?

“Senyum Mona Lisa” menginvestigasi teori besar dunia tentang konspirasi Yesus Kristus. Yesus dan Maria Magdalena menikah? Apakah (Kaisar) Constantine memerintahkan penghancuran catatan yang sebenarnya mengenai Yesus Kristus dan menciptakan Dia sebagai ALLAH yang dipuja orang Kristen sekarang?

 

ENDNOTES

1.   O: The Oprah Magazine, “Oprah talks to Madonna,” (January, 2004), 120.

2.   Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1981), 1.

3.   Quoted in William R. Bright, Jesus and the Intellectual (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1968), 33.

4.   Quoted in Rick Warren, The Purpose Driven Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2002), 17.

5.   Quoted in Michka Assayas, Bono in Conversation (New York: Riverhead Books,  2005), 203.

6.   Soren Kierkegarrd, Philosophical Fragments, trans. Howard V. Hong and Edna H. Hong (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1985), 26-28.

7.   C. S. Lewis, Mere Christianity (San Francisco: Harper, 2001), 160.

8.   Ray C. Stedman, God’s Loving Word (Grand Rapids, MI: Discovery House, 1993), 50.

9.   Quoted in Assayas, 204.

10. R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1982), 44.

11. New Testament, John 3:16

12. Ibid., John 1:12

13. Old Testament, Isaiah 59:2

14. New Testament, Romans 5:8

15. Assayas, Ibid.

16. Ravi Zacharias, Jesus among Other Gods (Nashville: Word, 2000), 158.

17. Martha T. Moore and Dennis Cauchon, “Delay Meant Death on 9/11,” USA Today, Sept. 3, 2002, 1A.

18. Charles W. Colson, Born Again (Old Tappan, NJ: Chosen, 1976), 114.

19. Ravi Zacharias, A Shattered Visage: The Real Face of Atheism (Grand Rapids, MI: Baker, 2004), 155.

20. Lewis, 56.

21. Colson, 129

 

Sumber : klik


Kita semua ingin tahu apa yang terjadi setelah kita mati. Ketika orang yang kita cintai meninggal, kita ingin sekali melihat mereka kembali pada giliran kita (meninggal) nantinya. Apakah kita akan punya reuni menggembirakan dengan mereka yang kita cintai atau kematian adalah akhir dari seluruh kesadaran?

Yesus mengajarkan bahwa hidup tidak berakhir setelah tubuh kita mati. Dia membuat klaim mengejutkan ini, “Akulah kebangkitan dan hidup. Mereka, yang percaya kepadaKu, meskipun mereka mati sama seperti semua orang, akan hidup kembali.” Menurut para saksi mata, yang sangat dekat denganNya, Yesus kemudian memperlihatkan kuasa atas kematian dengan bangkit dari kematian setelah disalibkan dan dikubur selama tiga hari. Inilah kepercayaan yang memberikan harapan kepada orang Kristen selama hampir 2000 tahun.

Namun sebagian orang tidak punya harapan setelah kematian. Filsuf ateis, Bertrand Russell, menulis,”Saya percaya bahwa ketika saya meninggal saya akan membusuk dan tidak ada dari kesadaran saya yang akan bertahan.”[1]  Russell jelas tidak percaya pada perkataan Yesus.

Para pengikut Yesus menulis Dia menampakkan diri hidup setelah penyaliban dan penguburanNya. Mereka juga menjelaskan tidak hanya melihat Dia, tapi juga makan bersama-sama dengan Dia, menyentuhNya, dan bersama-sama dengan Dia selama 40 hari.

Jadi, apa ini hanyalah cerita yang bertumbuh dengan berjalannya waktu atau berdasarkan bukti kuat? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah mendasar bagi KeKristenan. Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, hal itu akan memberi pengesahan atas segala hal yang dikatakanNya mengenai diriNya, mengenai arti kehidupan, dan mengenai tujuan kita setelah kematian.

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian maka hanya Dia sendiri yang punya jawaban mengenai kehidupan dan apa yang menanti kita setelah kita meninggal. Disisi lain, jika kebangkitan Yesus tidak benar, maka KeKristenan akan didasarkan pada kebohongan. Teolog R. C. Sproul menyebutnya seperti ini,

“Klaim kebangkitan vital bagi KeKristenan. Jika Kristus dibangkitkan dari kematian oleh Allah, maka Dia punya mandat dan sertifikat yang tidak dimiliki oleh pemimpin agama manapun. Buddha meninggal. Muhammad meninggal. Musa meninggal. Konfusius meninggal. Tapi menurut …KeKristenan, Kristus hidup.”[2]

Banyak para kritikus telah mencoba membantah kebangkitan. Josh McDowell adalah salah satu kritikus yang melakukan riset bukti-bukti kebangkitan, lebih dari 700 jam. McDowell menyatakan mengenai pentingnya kebangkitan,

“Saya sudah mencapai kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah yang paling aneh, kejam, kebohongan tidak berhati nurani yang pernah dilakukan terhadap pikiran manusia atau ini adalah fakta paling menakjubkan dalam sejarah.”[3]

Jadi, apakah kebangkitan Yesus adalah fakta fantastis atau mitos paling keji? Untuk mengetahuinya, kita harus melihat bukti sejarah dan mengambil kesimpulan kita sendiri. Mari kita lihat apa yang ditemukan para kritikus bagi dirinya sendiri.

Sinis Dan Kritis

Tidak semua orang siap untuk meneliti bukti-bukti dengan adil dan terbuka. Bertrand Russell mengakui pandangannya terhadap Yesus “tidak berkaitan” dengan fakta sejarah.[4] Sejarahwan Joseph Campbell, tanpa menyebut adanya bukti, dengan tenang menyatakan kepada pirsawan televisi PBS bahwa kebangkitan Yesus bukanlah kejadian nyata.[5] Para ahli lain, seperti John Dominic Crossan dari Seminar Yesus setuju dengannya.[6] Tidak satupun dari orang-orang yang sinis ini memberikan bukti atas pandangan mereka.

Kritis yang sebenarnya, berlawanan dengan sinisme, tertarik dengan bukti-bukti. Dalam editorial majalah Skeptic berjudul “Apa itu Skeptis (Kritis)?” sebuah defenisi diberikan,”Skeptisme (Kritis) adalah penerapan pemikiran yang masuk akal pada setiap dan semua ide — tidak ada sapi suci yang dikecualikan. Dengan kata lain … kritis (skeptis) tidak ingin memasuki sebuah investigasi yang menutup diri dari kemungkinan fenomena itu nyata atau klaim itu mungkin benar. Ketika kita katakan kita kritis s, kita artikan bahwa kita harus melihat bukti yang meyakinkan sebelum kita percaya”[7]

Tidak seperti Russell dan Crossan, banyak kritikus yang sungguh-sungguh telah menginvestigasi bukti-bukti kebangkitan Yesus. Dalam artikel ini kita akan mendengar dari banyak dari mereka dan melihat bagaimana mereka menganalisa bukti yang mungkin jadi pertanyaan paling penting dalam sejarah manusia: apakah benar Yesus bangkit dari kematian?

Bernubuat Untuk Dirinya Sendiri.

Sebelum kematiannya, Yesus mengatakan kepada para muridnya bahwa dia akan dikhianati, ditangkap, dan disalib, dan Dia akan bangkit tiga hari kemudian. Sebuah rencana yang aneh! Ada apa dibelakang ini? Yesus bukan penghibur yang bersedia melakukan pertunjukan atas pesanan orang lain; tapi, Dia berjanji bahwa kematianNya dan kebangkitanNya akan memberi bukti kepada orang-orang (jika hati dan pikirannya terbuka) bahwa Dia adalah benar-benar Mesias.

Ahli Alkitab Wilbur Smith mencatat tentang Yesus,

“Ketika Dia mengatakan Dia akan bangkit kembali dari kematian, pada tiga hari setelah Dia disalibkan, Dia mengatakan sesuatu yang hanya orang bodoh berani mengatakannya, jika Dia mengharapkan pemujaan lebih lama dari para murid —- kecuali Dia benar-benar yakin bahwa Dia akan bangkit. Tidak ada pendiri agama dunia manapun yang diketahui manusia pernah berani mengatakan hal semacam itu.[8]

Dengan kata lain, karena Yesus sudah dengan jelas mengatakan kepada para muridnya bahwa Dia akan bangkit lagi setelah kematianNya, maka kegagalan memenuhi janji itu akan membuat diriNya menjadi sekedar seorang penipu. Tapi kita sudah terlalu jauh analisanya. Bagaimanan Yesus meninggal sebelum Dia (jika bena) bangkit kembali?

Kematian Yang Mengerikan Dan Kemudian. . . ?

Anda tahu apa yang terjadi pada jam-jam terakhir kehidupan Yesus di dunia, mirip jika anda telah menonton film yang dibuat oleh Mel Gibson (bintang Brave Hart dan jagoan jalanan) Jika anda tidak melihat bagian dari “The Passion of the Christ” karena anda menutup mata anda (akan lebih mudah mensyuting film itu dengan filter merah di kamera), coba membaca halaman-halaman Injil di Perjanjian Baru untuk mengetahui apa yang anda tidak lihat itu.

Seperti yang sudah diprediksi Yesus, Dia dikhianati oleh salah satu muridnya, Yudas Iskariot, dan ditangkap. Dalam sebuah pengadilan, yang sudah diatur sebelumnya, oleh Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, Dia terbukti bersalah karena pengkhianatan dan dihukum mati disalib kayu. Sebelum dipaku di salib, Yesus secara brutal disiksa dengan cambuk Romawi, yang pada tiap cambukan maka mata cambuk akan masuk sampai ke tulang dan kait-kait besinya akan merobek daging. Dia dipukuli berkali-kali, ditendangi, dan diludahi.

Kemudian, dengan paku besar algojo Romawi memaku tangan dan kaki Yesus. Akhirnya,mereka mendirikan salib di sebuah lubang di tanah diantara dua penjahat, yang juga disalib.

Yesus tergantung disalib selama sekitar enam jam. Kemudian, pada pukul 3.00 sore — sama persis dengan pengorbanan (pemotongan) domba Paskah sebagai penebus dosa (ada sedikit simbolisme disini, bagaimana menurut anda?) — Yesus berteriak, “Sudah selesai” (dalam bahasa Aramaic) dan mati. Tiba-tiba langit jadi gelap dan terjadi gempa bumi.[9]

Pilatus ingin memverifikasi bahwa Yesus benar-benar mati sebelum tubuhNya dikuburkan. Karena itu, seorang prajurit Romawi menusuk perut Yesus dengan tombak. Campuran darah dan air yang keluar memberi indikasi jelas bahwa Yesus sudah mati. Jenazah Yesus kemudian diturunkan dari salib dan dikuburkan di kubur Yusuf dari Arimatea. Prajurit Romawi menyegel kuburan dan menjaganya selama 24 jam.

Sementara, murid-murid Yesus syok. Dr. J. P. Moreland Menjelaskan bagaimana syok dan kebingungan melanda mereka setelah kematian Yesus di kayu salib. “Mereka tidak lagi punya kepercayaan bahwa Yesus telah dikirim oleh Allah. Mereka juga telah diajarkan bahwa Allah tidak akan membiarkan MesiasNya mati. Jadi mereka tercerai berai. Seluruh gerakan Yesus sudah terhenti. ”[10]

Semua harapan lenyap. Roma dan pemimpin Yahudi telah menang —- atau memang tampaknya seperti itu

Sesuatu Terjadi

Tapi itu bukan akhirnya. Gerakan Yesus tidak lenyap (kelihatannya) dan nyatanya KeKristenan ada hari ini sebagai agama terbesar dunia. Karena itu, kita harus tahu apa yang terjadi setelah jenazah Yesus diturunkan dari salib dan dibaringkan di kuburan.

Dalam artikel di harian New York Times, Peter Steinfels menuliskan peristiwa yang terjadi selama tiga hari setelah kematian Yesus,”Beberapa saat setelah Yesus di eksekusi, para pengikutNya tiba-tiba berubah dari kelompok orang yang takut dan bersembunyi menjadi pembawa pesan mengenai Yesus yang hidup dan kedatangan kerajaanNya, berkotbah dengan taruhan nyawa, dan akhirnya mengubah kekaisaran. Sesuatu terjadi. … Tapi pastinya apa?”[11] Itulah pertanyaan yang harus kita jawab melalui investigas atas fakta-fakta.

Hanya ada lima kemungkinan penjelasan atas kemungkinan kebangkitan Yesus, seperti terlihat di Perjanjian Baru:

  1. Yesus tidak benar-benar mati di atas kayu salib.
  2. “Kebangkitan” adalah konspirasi.
  3. Para murid berhalusinasi.
  4. Catatan mengenai itu hanya legenda.
  5. Itu benar-benar terjadi.

Mari kita telaah opini-opini itu dan melihat yang mana yang paling cocok dengan fakta-fakta.

Apakah Yesus Mati?

“Marley benar-benar sudah mati lebih dari sebuah paku pintu, mengenai hal itu sudah tidak diragukan lagi.” Tulis Charles Dickens dalam A Christmas Carol, pengarang tidak ingin siapapun salah sangka atas karakter supranatural yang akan muncul menggantikannya. Dengan cara sama, sebelum kita mengambil peran CSI dan merangkai bukti-bukti kebangkitan, kita harus memastikan bahwa, pada kenyataannya, ada sebuah mayat. Apalagi, kadang-kadang surat kabar melaporkan ada “jenazah” di kamar mayat yang ditemukan bergetar dan akhirnya bangun lagi. Apakah hal seperti itu telah terjadi terhadap Yesus?

Beberapa telah mengira Yesus tetap hidup setelah penyaliban dan dipulihkan oleh udara dingin dan lembab di kuburan– “Wah, berapa lama saya tidak sadarkan diri?” Tapi teori ini tidak cocok dengan bukti medis. Dalam artikel di majalah Journal of the American Medical Association dijelaskan kenapa hal seperti itu disebut sebagai “teori pingsan/mati suri” tidak bisa diterima,”Sudah jelas, bobot bukti historis dan medis mengindikasikan Yesus sudah mati. … Tombak, yang ditusuk diantara rusuk kananNya, kemungkinan tidak hanya merobek paru-paru kanan, tapi juga menembus membran selimut jantung dan jantung dan memastikan kematianNya”[12] Tapi skeptisme terhadap kesimpulan ini tetap ada apalagi kasus ini sudah dingin selama 2000 tahun. Karena itu, kita membutuhkan opini kedua.

Satu tempat untuk menemukannya adalah laporan-laporan dari sejarahwan non-Kristen, yang ada pada saat Yesus hidup. Tiga sejarahwan ini mencatat kematian Yesus.

  • Lucian (120 SM – 180 sesudah masehi. menyebutkan Yesus sebagai penyaliban seorang filsuf.[13]
  • Josephus ( tahun 37– 100.) menulis, “Pada saat itu tampaknya Yesus, seorang bijaksana, karena perbuatan luar biasaNya . Ketika Pilatus menghukumNya disalib, pemimpin kita, menuduh Dia, mereka yang mengasihi Dia tidak berbuat apa-apa”[14]
  • Tacitus (tahun 56–120.) menulis, “Kristus, namaNya dari tempatNya berasal, menderita hukuman ekstrim …. ditangan penguasa kita, Pontius Pilatus.[15]

Ini seperti masuk ke ruang arsip dan menemukan satu hari di musim panas pada abad pertama, The Jerusalem Post memuat berita halaman depan dengan cerita Yesus di salib dan mati. Bukan hasil kerja detektif yang jelek, dan cukup konklusif.

Nyatanya, tidak ada catatan sejarah dari orang Kristen, Romawi, atau Yahudi yang mempertanyakan apakah Yesus mati atau penguburannya. Bahkan Crossan, yang skeptis atas kebangkitan, sepakat bahwa Yesus benar-benar hidup dan mati. “Dia disalibkan adalah meyakinkan secara kesejarahan.16 Dibawah cahaya bukti seperti itu, kita tampaknya punya dasar kuat untuk menyingkirkan satu dari lima opini itu. Yesus benar-benar mati, “mengenai itu tidak diragukan lagi.”

Mengenai Kubur Kosong

Tidak ada sejarahwan serius yang sungguh meragukan kematian Yesus ketika Dia diturunkan dari salib. Namun, banyak yang mempertanyakan bagaimana tubuh Yesus lenyap dari kuburan. Jurnalis Inggris, Dr. Frank Morison. sebelumnya berpikir kebangkitan itu mitos atau penipuan, dan dia mulai melakukan riset untuk menulis buku menentangnya.[17] Buku itu jadi terkenal tapi dengan alasan yang berbeda dari maksud sebelumnya, seperti yang akan kita lihat.

Morison memulainya dengan mencoba memecahkan kasus kubur yang kosong. Kubur itu milik anggota Dewan Sanhedrin, Yusuf dari Arimatea. Pada masa itu, masuk anggota dewan sama dengan bintang rock. Semua orang tahu siapa anggota dewan. Yusuf pastilah orang, yang hidup dimasa itu. Kalau tidak, para pemimpin Yahudi akan mengungkap cerita itu sebagai penipuan dalam upaya mereka membantah telah terjadi kebangkitan. Juga, kubur Yusuf sudah dikenal baik lokasinya dan dengan mudah diidentifikasi, jadi setiap pemikiran bahwa Yesus “hilang di pekuburan” harus disingkirkan.

Morison heran kenapa para musuh Yesus membiarkan “mitos kubur kosong” ada jika itu tidak benar. Penemuan jenazah Yesus akan langsung membunuh seluruh rencana itu.

Dan apa yang dikenal sejarah sebagai musuh-musuh Yesus adalah mereka yang menuduh murid-murid Yesus mencuri mayatNya, sebuah tuduhan yang datang dari kepercayaan bahwa kubur itu sudah kosong.

Dr. Paul L. Maier, dosen sejarah kuno di Universitas Western Michigan, juga memberi pendapat yang sama, “Jika semua bukti diteliti dengan hati-hati dan adil, maka itu sungguh-sungguh bisa dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa kubur dimana Yesus ditempatkan benar kosong pada pagi hari pertama Paskah. Dan tidak ada sedikitpun bukti yang ditemukan …. yang membantah pernyataan itu.”[18]

Para pemimpin Yahudi kaget, dan menuduh para murid mencuri mayat Yesus. Tapi penguasa Romawi sudah menugaskan penjagaan 24 jam di kubur dengan sebuah unit penjaga terlatih (4 – 12 prajurit). Morison bertanya,”Bagaimana profesional-profesional ini membiarkan mayat Yesus dicuri? Tidak mungkin bagi siapapun untuk menyelinap dibelakang penjaga Romawi dan menggeser batu seberat dua ton. Namun batu itu bergeser dan tubuh Yesus hilang.

Jika tubuh Yesus ditemukan di satu tempat, para musuhnya akan langsung mengekspos kebangkitan itu sebagai penipuan. Tom Anderson, mantan ketua California Trial Lawyers Association, menyimpulkan kuatnya argumen ini,

“Kejadian itu terpublikasi dengan baik, apa anda pikir akan cukup masuk akal jika satu sejarahwan, satu saksi mata, satu penentang (Yesus) akan mencatat, untuk sepanjang masa, bahwa dia telah melihat jenazah Yesus? … Ke-diam-an sejarah begitu menulikan, ketika mencari testimoni menentang kebangkitan.”[19]

Jadi, tanpa ada bukti jenazah, dan diketahui kubur itu benar-benar kosong, Morison menerima ada bukti kuat tubuh Yesus telah hilang dari kubur.

Perampokan Kuburan?

Morison meneruskan investigasinya, dia mulai meneliti motif-motif para pengikut Yesus. Mungkin apa yang diperkirakan kebangkitan hanyalah pencurian mayat. Tapi jika begitu, bagaimana dengan semua laporan mengenai kehadiran Yesus yang sudah bangkit. Sejarahwan Paul Johnson, di bukunya History of the Jews, menulis, ”Apa yang penting bukanlah kondisi kematianNya tapi fakta Dia telah secara luas dan dipercayai dengan kuat, oleh lingkaran orang yang meluas, telah bangkit kembali.[20]

Kubur itu benar-benar kosong. Tetapi bukanlah hanya ketiadaan tubuh yang menyemangati pengikut Yesus (terutama jika merekalah yang mencuriNya.). Sesuatu yang luar biasa pastilah telah terjadi, bagi para pengikut Yesus yang tidak lagi berduka, tidak lagi bersembunyi, dan mulai, dengan tanpa takut, memproklamasikan bahwa mereka telah melihat Yesus hidup.

Catatan para saksi mata melaporkan Yesus tiba-tiba muncul dihadapan para pengkikutNya, pertama-tama perempuan. Morison heran kenapa para konspirator menjadikan perempuan sebagai pusat rencana mereka. Pada abad pertama, perempuan tidak punya hak apapun, milik pribadi, atau status. Jika rencana (konspirasi) itu ingin berhasil, Morison berpikir akan masuk akal jika para konspirator menggambarkan laki-laki, bukan perempuan, sebagai yang pertama melihat Yesus hidup. Namun kita dengar perempuan menyentuh Dia, berbicara dengan Dia, dan yang pertama menemukan kubur kosong.

Belakangan, menurut catatan saksi mata, semua murid melihat Yesus lebih dari 10 kali pada peristiwa berbeda. mereka menulis Dia memperlihatkan tangan dan kakinya dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh menyentuhNya. Dan Dia dilaporkan makan bersama mereka dan kemudian muncul hidup kepada lebih dari 500 pengikut di satu peristiwa.

Ahli hukum John Warwick Montgomery menjelaskan, “Pada tahun 56 (Rasul Paulus menulis lebih dari 500 orang telah melihat Yesus bangkit dan sebagian besar dari mereka masih hidup (1 Korintus 15:6) Orang Kristen mula-mula akan melewati batas kredibilitas jika merekayasa cerita seperti itu dan berkhotbah diantara mereka yang mungkin dengan mudah membantahnya dengan mempertunjukkan jenazah Yesus.”[21]

Ahli Alkitab Geisler dan Turek setuju. “Jika kebangkitan tidak terjadi, kenapa Rasul Paulus memberi begitu banyak daftar saksi mata? Dia bisa langsung kehilangan semua kredibilitasnya dihadapan pembaca Korintus dengan berbohong sedemikian terangnya.[22]

Petrus, dihadapan kerumunan orang di Kaisarea, mengatakan kenapa dia dan para murid lain sangat yakin Yesus hidup.

Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.

(Kisah Para Rasul 10:39-41)

Ahli Alkitab Inggris, Michael Green, mengatakan, “Penampakkan Yesus adalah otentik sama seperti yang lain di era kuno itu. … Tidak ada keraguan rasional bahwa hal-hal itu telah terjadi.”[23]

Konsisten sampai Akhir

Seakan-akan laporan saksi mata tidak cukup untuk menjawab tantangan skeptisme Morison, dia juga kaget oleh perilaku para murid. Fakta historis telah membingungkan sejarahwan, psikolog, dan juga para kritikus bahwa ke 11 mantan pengecut itu tiba-tiba bersedia menderita dipermalukan, disiksa, dan dibunuh. Semua murid Yesus, kecuali satu, mati sebagai martir. Apakah mereka telah melakukan banyak hal hanya untuk kebohongan, mengetahui bahwa merekalah yang mengambil tubuh itu?

Para martir Islam pada 11 September telah membuktikan bahwa ada orang yang bersedia mati untuk perjuangan, yang salah, yang mereka percayai. Tapi untuk bersedia mati martir demi sebuah kebohongan adalah gila. Seperti ditulis Paul Little, “Orang bersedia mati demi apa yang mereka percaya itu benar, kendati sebenarnya salah. Mereka tidak akan bersedia mati bagi apa yang mereka tahu itu kebohongan.”[24] Para murid Yesus berperilaku konsisten dengan keyakinan asli mereka bahwa pemimpin mereka hidup.

Tidak tersedia penjelasan, yang cukup, untuk menjelaskan kenapa para murid bersedia mati untuk kebohongan yang diketahui. Tapi bahkan jika mereka semua berkonspirasi berbohong mengenai kebangkitan Yesus, bagaimana mereka mampu memelihara konspirasi itu selama puluhan tahun tanpa ada salah satu dari mereka menjual informasi itu, demi uang atau jabatan? Moreland menulis,”Mereka yang berbohong demi memperoleh keuntungan pribadi tidak akan kompak bersama-sama demikian sangat lama.”[25]

Mantan “orang bertopi” dari pemerinthan (Presiden Amerika Richard) Nixon, Chuck Colson, yang terlibat dalam skandal Watergate, menjelaskan betapa sukarnya bagi beberapa orang untuk mempertahankan kebohongan dalam jangka waktu lama.

“Saya tahu kebangkitan itu fakta, dan Watergage sudah membuktikannya untuk saya. Bagaimana? Karena ada 12 orang bersaksi mereka telah melihat Yesus bangkit dari kematian, dan mereka memproklamirkan kebenaran itu selama 40 tahun, tidak sekalipun membantahnya. Setiap orang telah dipukuli, disiksa, dilempari batu dan dipenjarakan. Mereka tidak akan bertahan jika itu tidak benar. Watergate melibatkan 12 orang paling berkuasa di dunia — dan mereka tidak mampu bertahan berbohong selama tiga minggu. Anda katakan kepada saya ke 12 rasul telah berbohong selama 40 tahun? Sangat tidak mungkin.”[26]

Sesuatu terjadi sehingga mengubah segalanya bagi laki-laki dan perempuan itu. Morison mengakui, “Siapapun yang menghadapi masalah itu cepat atau lambat akan berhadapan dengan fakta yang tidak bisa dijelaskan. … Ini fakta … bahwa ada keyakinan mendalam muncul dari kelompok kecil orang — perubahan yang terikat dengan fakta bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.”[27]

Apakah Murid-Murid Berhalusinasi?

Ada orang-orang yang masih berpikir mereka melihat Elvis, gemuk dan berambut abu-abu, mampir di Dunkin Donuts. Dan yang lain percaya malam sebelumnya mereka bersama-sama mahluk luar angkasa di kapal induknya dan jadi bahan percobaan, yang tidak bisa diungkapkan. Kadang-kadang ada orang tertentu yang bisa “melihat” hal-hal yang ingin mereka lihat, hal-hal yang tidak benar-benar ada di sana. Dan itulah kenapa orang mengklaim murid-murid begitu tertekan karena penyaliban dan mereka sangat ingin melihat Yesus hidup telah menyebabkan halusinasi massal. Mungkinkah?

Psikolog Gary Collins, mantan ketua American Association of Christian Counselor, ditanya mengenai kemungkinan halusinasi ada dibelakang perubahan radikal perilaku para murid. Collins menjawab,”Halusinasi terjadi hanya pada individu. Oleh karena sifat alamiahnya, hanya satu orang bisa melihat sebuah halusinasi pada satu waktu. Mereka pasti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat oleh sekelompok orang.[28]

Halusinasi bahkan bukan kemungkinan paling kecil, menurut psikolog Thomas J. Thorburn. “Sama sekali tidak meyakinkan bahwa ….. lima ratus orang, dengan kondisi pikiran baik …. mengalami semua jenis pengalaman indra — visual, pendengaran, sentuhan — dan semua …. pengalaman-pengalaman itu seluruhnya disebabkan oleh …… halusinasi”[29]

Apalagi, dalam psikologi halusinasi, seseorang perlu ada dalam kerangka berpikir dimana mereka sangat ingin melihat seseorang sehingga orang itu terbentuk dalam pikiran mereka. Dua pemimpin utama gereja mula-mula (purba), Yakobus dan Paulus, keduanya berhadapan dengan Yesus, yang sudah bangkit, tanpa pernah berharap, atau mengharapkan kesenangan. Rasul Paulus, nyatanya pernah memimpin penindasan terhadap orang Kristen, dan pertobatannya masih tetap tidak terjelaskan kecuali oleh testimoninya sendiri bahwa Yesus menampakkan diri untuknya.

Dari Kebohongan Sampai Legenda

Sejumlah kritikus, yang tidak yakin, melabelkan cerita kebangkitan sebagai legenda yang dimulai oleh satu atau lebih orang berbohong atau merasa mereka melihat Yesus bangkit. Selama perjalanan waktu, legenda tumbuh dan berbunga-bunga ketika diteruskan berkeliling. Pada teori ini, kebangkitan Yesus disamakan dengan meja bundar Raja Arthur, George Washington kecil yang tidak bisa berbohong, dan janji bahwa Jaminan Sosial akan tersedia ketika kita membutuhkannya.

Tapi ada tiga masalah besar dengan teori ini.

  1. Legenda jarang berkembang ketika masih banyak saksi mata hidup, yang bisa membantahnya. Sejarahwan Romawi dan Yunani kuno, AN Sherwin-White, berargumen bahwa berita kebangkitan tersebar telalu dini dan terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai legenda.[30]
  2. Legenda berkembang melalui tradisi oral dan tidak melalui dokumen-dokumen bersejarah yang bisa di verifikasi. Apalagi Injil ditulis di dalam jangka waktu tiga dekade setelah kebangkitan.[31]
  3. Teori legenda tidak cukup untuk menjelaskan fakta akan adanya kubur kosong atau keyakinan historis, yang bisa di verifikasi, para rasul bahwa Yesus hidup.[32]

Kenapa Kekristenan Menang

Morison kaget dengan fakta sebuah gerakan kecil, yang tidak signifikan, mampu bertahan terhadap tekanan keras penguasa Yahudi, juga oleh kekuatan besar Roma. Kenapa mereka menang menghadapi semua pihak yang menentangnya?

Dia menulis, “Dalam waktu dua puluh tahun, klaim para petani Galilea ini telah menggoyang kekuasaan Yahudi. … Dalam kurang dari lima puluh tahun, gerakan itu sudah mulai mengancam kedamaian Kekaisaran Romawi. Ketika kita sudah mengatakan apa yang bisa dikatakan … kita berdiri dihadapan misteri terbesar. Kenapa mereka menang?”[33]

Berdasarkan semua pemikiran, KeKristenan seharusnya mati di salib ketika para murid lari ketakutan. Tapi para rasul terus membangun gerakan KeKristenan, yang terus tumbuh.

J. N. D. Anderson menulis, “Pikirkan psikologi absurditas sebuah kelompok kecil orang kalah, yang pengecut, bersembunyi di ruang atas, satu hari, dan beberapa hari kemudian berubah jadi kelompok yang tidak ada satupun penindasan bisa membungkamnya — dan kemudian mencoba melabel perubahan dramatis ini tidak lebih meyakinkan daripada sebuah rekayasa menyedihkan. … Ini dengan jelas tidak masuk akal.”[34]

Banyak pakar percaya (dalam perkataan komentator jaman kuno) bahwa, “darah martir adalah bibit gereja”. Sejarahwan Will Durant mengamati, “Kaisar dan Kristus telah bertemu di arena dan Kristus menang.”[35]

Kesimpulan Mengejutkan

Dengan mitos, halusinasi, dan otopsi asal-asalan tersingkirkan, dengan bukti-bukti meyakinkan terhadap kubur kosong, dengan banyaknya saksi mata penampakkanNya, dan dengan transformasi (perubahan) yang tidak terjelaskan dan dampaknya terhadap dunia oleh mereka yang mengklaim telah melihatNya, Morison jadi yakin bahwa keyakinan biasnya pada kebangkitan Yesus salah. Dia mulai menulis buku yang berbeda —berjudul Who Moved the Stone?—untuk merinci kesimpulan-kesimpulan barunya. Morison hanya mengikuti jejak bukti-bukti, petunjuk demi petunjuk, sampai kebenaran kasus itu menjadi jelas baginya. Kejutannya adalah bukti-bukti itu telah membawanya menjadi percaya terhadap kebangkitan.

Di bab pertama bukunya, “Buku yang Menolak untuk Ditulis”, mantan kritikus (skeptis) ini menjelaskan bagaimana bukti-bukti meyakinkan Dia bahwa kebangkitan Yesus adalah kejadian nyata historis. “Itu seperti seseorang berjalan menembus hutan mengikuti jalur, yang dikenal dan sering dilewati, dan keluar dengan tiba-tiba ditempat yang dia tidak harapkan.”[36]

Morison tidak sendirian. Tak terhitung banyaknya para kritikus lain setelah meneliti bukti-bukti kebangkitan Yesus, menerimanya sebagai fakta menakjubkan dalam sejarah manusia. Namun kebangkitan Yesus Kristus mengangkat pertanyaan: Fakta bahwa Yesus mengalahkan kematian, apa hubungannya dengan kehidupan saya? Jawaban pertanyaan itu merupakan isi seluruh Perjanjian Baru KeKristenan

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca jawaban yang mengejutkan di “Kenapa Yesus”

Klik disini untuk membaca “Kenapa Yesus” dan temukan apa yang Yesus katakan mengenai kehidupan setelah kematian.

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia.

ENDNOTES

1. Paul Edwards, “Great Minds: Bertrand Russell,” Free Inquiry, December 2004/January 2005, 46.

2. R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1982), 44.

3. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s ††††Life, 1999), 203.

4. Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian (New York: Simon & Schuster, 1957), 16.

5. Joseph Campbell, an interview with Bill Moyers, Joseph Campbell and the Power of Myth, PBS TV special, 1988.

6. Michael J. Wilkins and J. P. Moreland, eds, Jesus Under Fire (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1995), 2.

7. “What Is a Skeptic?” editorial in Skeptic, vol 11, no. 2), 5.

8. Wilbur M. Smith, A Great Certainty in This Hour of World Crises (Wheaton, ILL: Van Kampen Press, 1951), 10, 11

9. Historian Will Durant reported, “About the middle of this first century a pagan named Thallus … argued that the abnormal darkness alleged to have accompanied the death of Christ was a purely natural phenomenon and coincidence; the argument took the existence of Christ for granted. The denial of that existence never seems to have occurred even to the bitterest gentile or Jewish opponents of nascent Christianity.” Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 555.

10. Quoted in J. P. Moreland interview, Lee Strobel, The Case for Christ (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1998), 246.

11. Peter Steinfels, “Jesus Died—And Then What Happened?” New York Times, April 3, 1988, E9.

12. William D. Edwards, M.D., et al., “On the Physical Death of Jesus Christ,” Journal of the American Medical Association 255:11, March 21, 1986.

13. Lucian, Peregrinus Proteus.

14. Josephus, Flavius, Antiquities of the Jews, 18. 63, 64. [Although portions of Josephus’ comments about Jesus have been disputed, this reference to Pilate condemning him to the cross is deemed authentic by most scholars.]

15. Tacitus, Annals, 15, 44. In Great Books of the Western World, ed. By Robert Maynard Hutchins, Vol. 15, The Annals and The Histories by Cornelius Tacitus (Chicago: William Benton, 1952).

16. Gary R. Habermas and Michael R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Grand Rapids, MI: Kregel, 2004), 49.

17. Frank Morison, Who Moved the Stone? (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1958), 9.

18. Paul L. Maier, Independent Press Telegram, Long Beach, CA: April 21, 1973.

19. Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1981), 66.

20. Paul Johnson, A History of the Jews (New York: Harper & Row, 1988), 130.

21. John W. Montgomery, History and Christianity (Downers Grove, ILL: InterVarsity Press, 1971), 78.

22. Norman L. Geisler and Frank Turek, I Don’t Have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton, IL: Crossway, 2004), 243.

23. Michael Green, The Empty Cross of Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1984), 97, quoted in John Ankerberg and John Weldon, Knowing the Truth about the Resurrection (Eugene, OR: Harvest House), 22.

24. Paul Little, Know Why You Believe (Wheaton, IL: Victor, 1967), 44.

25. J. P. Moreland, Scaling the Secular City, (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 2000), 172.

26. Charles Colson, “The Paradox of Power,” Power to Change, http://www.powertochange.ie/changed/index_Leaders.

27. Morison, 104.

28. Gary Collins quoted in Strobel, 238.

29. Thomas James Thorburn, The Resurrection Narratives and Modern Criticism (London: Kegan Paul, Trench, Trubner & Co., Ltd., 1910.), 158, 159.

30. Sherwin-White, Roman Society, 190.

31. Habermas and Licona, 85.

32. Habermas and Licona, 87.

33. Morison, 115.

34. J. N. D. Anderson, “The Resurrection of Jesus Christ,” Christianity Today, 12. April, 1968.

35. Durant, Caesar and Christ, 652.

36. Morison, 9.

Sumber : klik


JALAN KENABIAN:

Apakah Yesus itu Mesias?

Bukti apa yang ada sehingga Yesus benar-benar seperti yang diklamNya? Bagaimana kita tahu Dia bukanlah semacam penipu? Mari kita lihat beberapa penipu ternama dan kita lihat apakah julukan itu sesuai dengan Yesus, atau apa ada bukti-bukti yang mendukung klaimNya.

Ferdinand Waldo Demara Jr. diberi julukan, penipu besar. Demara menyamar jadi psikolog, dosen, dekan, guru sekolah, dan sipir penjara. Bahkan dia pernah melakukan operasi-operasi, berpura-pura jadi dokter.

Beberapa yang lain mengatakan Frank Abagnale adalah penipu/penyamar yang lebih hebat lagi. Pada usia 16 sampai 21 tahun, Abagnale adalah penipu terbesar saat itu. Dia berhasil memperoleh $2.5 juta dengan cek palsu diseluruh 50 negara bagian Amerika dan di 26 negara lain. Dia juga berhasil menyamar sebagai pilot pesawat, pengacara, dosen, dan dokter sebelum berhasil ditangkap oleh Polisi Prancis.

Jika cerita ini cukup akrab dengan anda, mungkin karena anda telah menonton film, yang dibuat tahun 2002, berjudul Catch Me If You Can, Abagnale diperani oleh Leonardo DiCaprio ( yang sukses sebagai aktor di film Titanic).

Bagaimana melampaui aksi Abagmale sebagai penipu paling tersohor? Yah, jika Yesus Kristus bukanlah Mesias, seperti klaimNya, maka Dia tidak punya pesaing. Kita tidak membicarakan ribuan orang yang berhasil ditipu, pada kasus Abagnale. Jika Yesus Kristus adalah penipu, maka aksiNya telah berhasil menipu miliaran orang dan mengubah sejarah selama 2.000 tahun terakhir ini.

Jadi, apakah Yesus adalah Mesias palsi, yang berhasil menipu para ahli agama terkemuka. Apa mungkin dia dibesarkan oleh orang tuanya atau mentor, yang tidak diungkapkan, untuk menjadi raja Israel, yang telah lama dijanjikan dan dicari?

Pada kenyataannya, jika Yesus seorang penipu, Dia bukanlah orang pertama dalam sejarah Israel yang berbohong bahwa dia adalah Mesias. Selama ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus dan sesudahnya, banyak orang mengklaim dirinya Mesias, yang belakangan terbukti hanyalah kebohongan atau orang gila biasa.

Nubuat Yahudi kuno telah sangat jelas memprediksi pemerintahan seorang raja, dimasa depan, yang akan memberi kedamaian Israel dan jadi Penyelamatnya. Harapan ini menyelimuti negeri dan menumbuhkan harapan dan aspirasi orang Yahudi. Dalam suasana seperti Israel, seseorang, yang kualifikasinya kurang, bisakah didorong untuk atau dicetak sesuai dengan (kriteria) Mesias? Untuk menjawab pertanyaan ini ada di nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama mengenai Mesias.

Perantara Allah

Menurut kitab-kitab suci, Allah orang Yahudi berbicara kepada umatnya melalui nabi-nabi, laki-laki dan perempuan yang mendengarkan Allah dan mungkin atau mungkin tidak bagian dari kalangan religius (pekerja di rumah ibadah). Pesan nabi sebagian untuk masa itu dan yang lain untuk masa depan. Apapun pesannya, mereka berperan memproklamirkan pernyataan Allah kepada umatNya.

Secara umum, menjadi nabi sama dengan bekerja di pengepakan daging, yang merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Bahkan jika mereka mengatakan kebenaran, nabi-nabi mungkin dibunuh atau dimasukkan penjara oleh orang-orang yang tidak senang atas perkataan mereka. (Banyak raja membenci kabar buruk.) Menurut catatan sejarah, Nabi Elisa digergaji jadi dua.

Jadi pertimbangkan dilema seorang nabi: pasti mati jika dia terbukti salah dan kemunkinan juga mati jika dia benar. Nabi, yang sebenarnya/asli, tidak ingin menyinggung Allah, dan hanya sedikit yang ingin digergaji jadi dua.

Jadi kebanyakan nabi menunggu sampai mereka sungguh-sungguh yakin bahwa Allah sudah berbicara, atau mereka lebih suka diam. Raja-raja akan gemetar mendengar kata-kata mereka. Pesan nabi, yang benar, tidak pernah salah.

Sekarang pertanyaannya: bagaimana akurasi nabi jaman Aliktab dibandingkan dengan paranormal masa kini?

Nabi Vs Paranormal?

Untuk mempertimbagkan apakah akurasi paranormal masa kini mendekati akurasi nabi-nabi Alkitab, kita bisa mengambil Jean Dixon sebagai studi kasus. Paranormal Amerika ini tampaknya punya kemampuan khusus untuk memperkirakan kejadian-kejadian masa depan. Tapi berdasarkan analisa reputasinya, tampaknya tidak bisa dijamin.

Conothnya, Dixon punya visi bahwa pada 5 Februari 1962 seorang anak lahir di Timur Tengah, yang akan mengubah dunia pada tahun 2000. Orang ini akan menciptakan satu agama dunia dan membawa perdamaian abadi. Dia melihat salib membesar diatas orang itu sampai seluruhnya meliputi bumi. Menurut Dixon, anak ini keturunan Ratu Mesir Nefertiti.[1]

Dimana orang ini? Apa anda melihatnya? Dan bagaimana dengan perdamaian abadi dunia?

Nyatanya, pencarian melelahkan prediksinya memberi dua hasil fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Tingkat akurasinya sama dengan siapapun yang memperkirakan masa depan, dan pemenuhan ramalannya, yang paling luas dipublikasikan, adalah ramalan-ramalan yang secara sengaja dibuat kabur sehingga sejumlah kejadian bisa disebut sebagai pemenuhannya.

Bahkan ramalan-ramalan, yang paling dipublikasikan, dari Nostradamus sering salah mesipun ramalannya juga kabur, yang sebenarnya sukar dibantah.[2] Contohnya, ini salah satu perkiraan Nostradamus:

“Ambil Dewi Bulan, untuk Harinya dan Gerakannya: seorang pengelana yang panik dan menyaksikan Hukum Para Dewa, dalam kebangkitan wilayah besar di Dunia atas kehendak Dewa (Seseorang Menghendakinya).[3]

Disebutkan ini mengenai kematian Putri Diana. (Anda mungkin berpendapat Margaret Thatcher.) Ramalan-ramalan semacam ini melihat sama seperti melihat sebuah gambaran sesuatu di awan. Tapi tetap ada yang memaksakan bahwa ini adalah bukti pemenuhan ramalan Nostradamus. Sangat diragukan, tapi sukar dibantah.

Dan itulah secara umum rekam kerja dari paranormal. Ketika “The People’s Almanac” meriset ramalan-ramalan 25 paranormal terkenal, 92 persen ramalan terbukti salah. Sisa 8 persen dipertanyakan dan bisa dijelaskan hanya karena kebetulan atau karena pengetahuan umum dari situasi.[4] Dalam percobaan dengan paranormal terkemuka dunia, tingkat akurasi mereka ada disekitar 11 persen, yang mungkin tidak begitu buruk kecuali ternyata orang biasa yang membuat perkiraan random mengenai masa depan juga punya presentase yang sama. Hal ini tidaklah berarti menolak semua perkiraan masa depan, tapi sudah pasti bisa menjelaskan kenapa paranormal tidak menang lotre.

Perbedaan antara paranormal dengan nabi tampaknya lebih karena jenisnya bukan tingkatannya. Nabi membuat deklarasi khusus mengenai kejadian di masa depan dalam hubungannya dengan pengungkapan rencana Allah dan melalukannya dengan akurasi penuh. Peramal lebih seperti pedagang, memberikan gambaran kabur masa depan kepada pasar yang membayar pelayannya. Mereka menawarkan informasi sensional, tapi dengan rekam jejak jelek.

Nubuat Religius Dalam Perspektif

Nubuatan bisa seperti mistis, metafisik, dan —tidak ada kata lebih baik— menyeramkan. Nubuat memperlihatkan gambaran mengejutkan seperti berhubungan dengan orang yang sudah mati dan dunia lain. Dalam film Star War ada ramalan tentang seseorang yang akan memabawa keseimbangan Kekuatan (Force). Film Lord of the Rings berkisah tentang tema disekitar ramalan. Tapi itu semua dunia imajinasi.

Di dunia nyata, dikatakan jika seseorang tahu satu menit saja di masa depan dia akan menguasai dunia. Pikirkan hal ini. Satu menit tahu pasti apa yang akan keluar di kasino Trump. Anda akan jadi orang terkaya di dunia dan Donald (Trump) akan jadi petugas pos.

Tapi di dunia agama, ramalan punya fungsi penting. Nubuat jadi jalan kepastian untuk mengetahui apakan seseorang datang dari Allah atau bukan, karena Allah Mahatahu pasti tahu masa depan. Pada poin ini nubuatan di Perjanjian Lama menjadi unik, karena sebagian besar buku suci dari agamam lain menghindari nubuatan prediksi masa depan. Contohnya, kitab suci Book of Mormon dan Hindu Veda mengklaim diinspirasi oleh Yang Mahakuasa, tidak ada cara untuk mengkonfirmasi klaim mereka; anda hanya dibiarkan dengan, “Ya, itu tampaknya yang mungkin dikatakan oleh Allah.”

Ahli Alkitab Wolbur Smith membandingkan nubuatan Alkitab dengan buku sejarah lain, mengatakan, “Alkitab adalah satu-satunya buku yang pernah diproduksi oleh manusia, atau kelompok manusia, dimana banyak nubuatan berkaitan dengan negara-negara individu, kepada Israel, kepada semua orang di dunia, kepada kota-kota tertentu, dan kepada seseorang yang akan datang yang akan jadi Mesias.”[5] Jadi Alkitab mendasarkan klaim-klaimnya sedemikian rupa sehingga Alkitab itu bisa diterima atau ditolak.

Jika anda memasukkan tingkat akurasi kedalam perspektif harian, anda akan melihat betapa menakjubkannya. Contohnya, akan jadi mujizat jika pada tahun 1910 anda sudah memperkirakan seseorang bernama George Bush akan memenangkan pemilihan umum tahun 2000. Tapi bayangkan anda juga mengikutkan rincian ini dalam prediksi anda:

  • Kandidat yang mengumpulkan suara total terbanyak akan kalah.
  • Semua jaringan televisi akan mengumumkan pemenangnya dan kemudian mereka semua menasik pernyataan itu.
  • Satu negara bagian (Florida) akan menentukan hasil pemilihan
  • Amerika. Makamah Agung akhirnya yang memutuskan siapa pemenangnya.

Ketika itu semua terjadi, akan ada gereja-gereja dengan nama anda dan kartun-kartun dengan wajah mirip anda. Tapi kan anda tidak melakukannya, jadi semuanya tidak ada. Betapa sukarnya (atau tidak mungkin) pada tahun 1910 untuk secara akurat memperkirakan peristiwa-peristiwa yang berurutan semacam itu, disisi lain makin sangat sulit bagi Yesus, atau siapapun, untuk memenuhi semua nubuatan Yahudi bagi Mesias. Di dalam Perjanjian Lama, ditulis ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus, ada 61 nubuatan khusus dan hampir 300 referensi mengenai Mesias.[6]

Berdasarkan syarat Yahudi bahwa nubuatan harus 100 persen akurasinya, Mesias, yang asli, Israel harus memenuhi semuanya atau dia bukan Mesias. Jadi pertanyaannya adalah apakah Yesus terbukti atau jadi penipu terbesar dunia, dalam memenuhi semua nubuatan Perjanjian Lama.

Apa Hasilnya?

Mari kita lihat dua nubuat khusus tentang Mesias di Perjanjian Lama.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum-kaum Yehuda. dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”(Mikha 5:1)

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

Sekarang, sebelum mempertimbangkan 59 nubuatan lainnya, anda perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri seberapa banyak orang yang masuk kategori ini untuk berpotensi jadi Mesias disepenjang sejarah, yang lahir dari seorang perempuan perawan di kota Bethlehem. “Baiklah, lihat, ada tetangga saya George, tapi tidak; dia lahir di Brooklyn.” Dalam kasus 61 nubuatan rinci dipenuhi oleh satu orang, kita berbiacara tentang kemungkinannya sangat mungkin tidak mungkin.

Ketika ilmuwan forensik menemukan profil DNA cocok, kemungkian salah orang adalah kurang dari satu berbanding beberapa miliar (sebenarnya hanya ingin mengingatkan saja bahwa ada kemungkinan salah betapapun kecilnya). Tampaknya kita punya kemunkinan yang sama, dan banyak angka nol, dalam menilai satu orang memenuhi semua nubuatan itu.

Profesor Peter Stoner, ahli matematika, memberi 600 muridnya soal matematika probabilitas yang akan menentukan kemungkinan satu orang memenuhi delapan nubuatan khusus. (Ini tidak sama dengan melemparkan koin delapan kali berturut-turur dan menghitung kepala yang muncul) Pertama para murid harus menghitung kemungkinan satu orang memenuhi semua kondiri satu nubuatan, seperti dikhianati teman demi 30 keping perak. Kemudian para murid memperlihatkan perkiraan terbaik mereka akan kemungkinan seseorang memenuhi delapan nubuatan secara keseluruhan.

Para murid menghitung kemungkinan satu orang memenuhi seluruh delapan nubuatan adalah satu berbanding sepuluh pangkat 21.(1021)  Untuk menggambarkan angka itu, Stoner memberikan contoh, “Pertama-tama, selimuti seluruh Bumi dengan koin dolar setinggi 120 kaki. Kedua, tandai satu dari koin dolar itu dan secara random menguburnya. Ketiga, minta seseorang mengelilingi dunia untuk mencari dan menemukan koin dolar yang sudah ditandai sambil matanya ditutup.[7]

Orang bisa melakukan hal-hal menakjubkan dengan angka (terutama dengan nama keluarga dan semacamnya), jadi cukup penting dicatat bahwa upaya Stoner diteliti oleh American Scientific Association, yang menyatakan, “Analisa matematika berdasarkan prinsip probabilitas yang bisa diandalkan dan Profesor Stoner telah menerapkan prinsip-prinsip ini dengan tepat dan meyakinkan.”[8]

Dengan perkenalan itu, mari kita tambahkan enam prediksi kepada dua yang sudah dipertimbangkan sehingga total delapan seperti Profesor Stoner.

Nubuat: Mesias akan berasal dari garis keturunan Raja Daud.Yeremia 23:5

tahun 600 SM.

Pemenuhan: “Yesus … anak Daud ….”Lukas 3:23, 31

tahun 4 SM

Nubuat: Mesias akan dikhianati dengan bayaran 30 keping perak.Zacharias 11:13

tahun 487 SM.

Pemenuhan: “Mereka memberi dia tiga puluh keping perak.”Matius 26:15

tahun 30

Nubuat: Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk.Mazmur 22:16

tahun 1000 SM.

Pemenuhan: “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya.”Lukas 23:33

tahun 30

Nubuat: Orang akan mengundi untuk mendapakan jubah Mesias.Mazmur 22:18

tahun 1000 SM.

Pemenuhan: “Prajurit-prajurit …. dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain, “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.”Yohanes 19:23-24

tahun 30

Nubuat: Mesias akan datang menaiki keledai.Zacharias 9:9

tahun 500 SM.

Pemenuhan: “Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mreka dan Yesuspun naik ke atasnya.”Matius 21:7

tahun 30

Nubuat: Seorang utusan akan dikirim untuk mengumumkan kedatangan Mesias.Maleakhi 3:1

tahun 500 SM.

Pemenuhan: Yohanes menjawab mereka, katanya,”Aku membaptis dengan air; tetapi ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”Yohanes 1:26

Tahun 27.

Ke delapan nubuatan, yang kita teliti mengenai Mesias ditulis oleh orang-orang dengan waktu dan tempat berbeda antara 500 sampai 1.000 tahun sebelum Yesus lahir. Jadi tidak ada kesempatan untuk melakukan kolusi diantara mereka. catat juga kehususannya. Ini bukan jenis prediksi Nostradamus –”Ketika bulan berubah jadi hijau, biji lima akan jatuh dan tertutupi di pinggir jalan”

Diluar Kontrolnya

Bayangkan memenangkan lotre Powerball hanya dengan satu tiket, diantara puluhan juta tiket yang terjual. Sekarang, bayangkan berhasil memenangkan lotre seperti itu ratusan kali. Apa yang anda pikirkan? Benar, “Itu dicurangi!”

Dan selama bertahun-tahun klaim yang sama dikeluarkan oleh orang skeptis mengenai pemenuhan nubuatan Perjanjian Lama oleh Yesus. Mereka mengakui Yesus memenuhi nubuatan mesianik tapi menuduh Dia hidup dengan cara tertentu untuk dengan sengaja memenuhinya. Kelihatan seperti alasan yang cukup masuk akal, tapi bukan tanpa keraguan.

Lihat kondisi empat saja nubuatan mesias:

  • Dia keturunan Daud (Yeremia 23:5).
  • Dia akan lahir di Betlehem (Mikha 5:2).
  • Dia akan lari (mengungsi) ke Mesir (Hosea 11:1).
  • Dia akan tinggal di Nazareth (Yesaya 11:1).[9]

Sekarang, bagaimana Yesus bisa memenuhi nubuatan itu? Dia dan orang tuanya tidak punya kontrol atas nenek moyangNya. Kelahiran Yesus di Betlehem adalah dikarenakan adanya sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Orang tuanya pindah ke Mesir karena dipicu oleh penindasan Raja Herodes. Dan ketika Herodes mati, orang tua Yesus langsung memutuskan untuk kembali pulang ke Nazareth.

Bahkan jika pada usia muda seorang peniru Yesus membaca nubuat-nubuat yang secara tidak sengaja dipenuhi dan memutuskan untuk terus memenuhi seluruhnya (sama seperti seseorang memutuskan untuk menembak bulan dalam permainan kartu Heart), dia tidak mungkin menang. Pertimbangkan beberapa faktor dalam nubuat-nubuat yang sudah kita lihat: Mesias akan dikhianati dengan 30 keping perak; Dia akan dibunuh dengan cara disalib; dan orang akan mengundi jubahNya. Semua nubuatan ini terpenuhi oleh Yesus, lalu kontrol seperti apa yang dimiliki untuk memenuhi setiap nubuatan itu?

Para ahli Alkitab menjelaskan kepada kita sekitar 300 referensi dengan 61 nubuatan khusus Mesias dipenuhi oleh Yesus Kristus. Kemungkinan seseorang memenuhi begitu banyak nubuatan akan ada diluar semua kemungkinan matematis. Hal itu tidak akan pernah terjadi, tidak perduli berapa banyak waktu didedikasikan. Seorang matematikawan memperkirakan ketidak-mungkinan itu seperti, “satu banding satu miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar.”[10]

Bertrand Russell, ateis, ditanya, dipublikasikan majalah Look, bukti apa yang akan membuatnya percaya pada Allah. Russell menjawab,”Jika saya mendengar suara dari surga dan (suara) itu memprediksi rankaian peristiwa dan itu terjadi, maka saya pikir saya harus percaya ada semacam pribadi supernatural.”

Ahli Alkitab Norman Geisler merespon skeptisme Russell, “Saya aakn katakan, tuan Russell, sudah ada suara dari sorga; (suara) itu sudah memprediksi banyak hal; dan kita sudah melihatnya terjadi, tanpa bisa dibantah.” Geisler menyatakan secara tidak langsung bahwa pada kenyatannya hanya Pribadi transenden di luar waktu yang bisa secara akurat memperkirakan kejadian masa depan

Bukti Di Dalam Toples

Kita melihat bukti pemenuhan nubuat mesianik Yesus dari semua arah, tapi belum yang satu ini. Bagaimana jika orang Kristen yang mnulis kopi kitab Yesaya dan buku-buku nabi lain di Perjanjian Lama mengubahnya untuk disesuaikan dengan kehidupan Yesus?

Inilah pertanyaan banyak ahli dan skeptis tanyakan. Tampaknya mungkin, kendati sekilas agak diragukan. Jawaban ini akan mencegah kita menjadikan Yesus sebagai penipu, yang kemungkinannya sangat kecil, dan hal itu akan menjelaskan akurasi menakjubkan pemenuhanNya atas nubuatan. Jadi, bagaimana kita tahu buku-buku nabi di Perjanjian Lama, seperti Yesaya, Daniel, dan Mikha, ditulis ratusan tahun sebelum Yesus lahir? Dan jika memang benar, bagaimana kita tahu orang Kristen tidak mengubah teksnya dikemudian hari?

Selama 1.900 tahun, banyak skeptis memegang teguh teori, berdasarkan ketidak-mampuan manusia memprediksi masa depan. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang melenyapkan antusiasme terhadap konspirasi semacam itu. Sesuatu yang disebut Gulungan Laut Mati.

Setengah abad silam, penemuan Gulungan Laut Mati memberi para ahli Alkitab kopi-kopi buku-buku Perjanjian Lama yang jauh lebih tua dari yang selama ini diketahui. Tes-tes ekstensif membuktikan banyak dari kopi-kopi ini dibuat sebelum Yesus Kristus hidup. Dan mereka benar-benar identik dengan teks-teks Alkitab yang sudah kita gunakan selama ini.

Akibatnya, bahkan para ahli yang menolak Yesus sebagai Mesias menerima manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama bertarik sebelum kelahiranNya dan karena itu bisa disimpulkan nubuat-nubuat mengenai Mesias yang ada didalamnya tidak diubah untuk disesuaikan dengan Yesus.

Jika prediksi-prediksi dipenuhi begitu akurat melalui kehidupan Yesus, tampaknya akan logis untuk merenungkan kenapa semua orang di Israel tidak bisa melihat itu. Tapi ketika salib didirikan, tidak semua orang melihatnya. Seperti dikatakan Yohanes tentang Yesus, ” Tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yohanes 1:11) Kenapa ?

Dengan pertimbangkan sejarah perjuangan Israel, tidak sukar untuk membaca informasi (nubuat-nubuat) Mesias sebagai pejuang kemerdekaan politik. Bisa dipahami bagaimana orang Yahudi abad pertama mungkin berpikir, bagaimana mungkin Mesias telah datang dan Israel masih tetap ditindas dibawah penjajahan Romawi?

Pada saat Yesus memenuhi nubuatan mesianik, Dia melakukannya dengan cara yang tidak diperkirakan oleh seorangpun. Dia mengobarkan revolusi moral dan spiritual, bukan politik, mencapai tujuan-tujuanNya melalui pengorbanan-diri dan melayani dengan rendah hati, menyembuhkan, dan mengajar. Sementara isu, Israel sedang menunggu Musa atau Yoshua lain, yang akan memimpin mereka untuk menaklukkan untuk memperoleh kembali kerajaan mereka, yang hilang.

Tentu saja, banyak orang Yahudi , pada masa Yesus, tidak mengakui Dia sebagai Mesias — seluruh pondasi gereja Kristen adalah orang Yahudi. Namun bukan mayoritasnya. Dan tidaklah sukar untuk mengerti kenapa.

Agar lebih baik memahami salah-paham orang Yahudi abad pertama, pertimbangkanlah nubuat yang ditulis 700 tahun sebelum Yesus lahir oleh nabi Yesaya. Apakah ini merujuk pada Yesus?

“Kita sekalian sesat seperti domba. masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya. seperti anak domba yang dibawa kepembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup dan karena pemberontakan umatKu dia kena tulah. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sekalipiun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik”.

“Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut. . . Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melhat terang dan menjadi puas; dan hambaKu itu, sebagai orang.” (Bagian dari Yesaya 53:6-11)

Ketika Yesus tergantung di salib, sebagian orang dan bisa dipahami mungkin telah berpikir, bagaimana bisa ini Mesias? Pada saat yang sama, orang lain mungkin merenung, siapa selain Yesus yang dikatakan Yesaya?

Tidak Mungkin Penipu

Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar Yesus memenuhi begitu banyak nubuatan yang ditulis ratusan tahun sebelum kelahirannya? Leonardo DiCaprio … Maksud saya, Frank Abagnale mungkin peniru yang bagus, tapi bahkan dia tertangkap ketika dia sudah cukup umur untuk minum bir secara legal.

Yesus tidak kelihatan lebih hebat dari Frank Abagnale. Dia ada di kategori berbeda. Tidak ada peniru yang bisa memenuhi begitu banyak nubuatan Yahudi.

Dan apa artinya? Dua kesimpulan muncul: Pertama, hanya Pribadi transenden yang mampu mengatur semua peristiwa. Dan kedua, itu membuat semua klaim Yesus kredibel dan pantas dipertimbangkan dengan serius.

Dalam Injil Yohanes, Yesus membuat klaim, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” Bukti-bukti melimpah tampaknya memberi indikasi bahwa tanda tangan di cek itu bukan palsu.

Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca dan mulai menjawab “Kenapa Yesus?”

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia

Endnotes

1. Terence Hines, Pseudoscience and the Paranormal (Buffalo, NY: Prometheus Books, 2003), 193.

2. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s Life Publishers, 1999), 194.

3. Prediction 3, Quatrain 2, 28.

4. McDowell, Ibid.

5. Quoted in McDowell, 12-13.

6. McDowell, 164-193.

7. Peter W. Stoner, Science Speaks (Chicago: Moody Press, 1958), 97-110.

8. Stoner, 5.

9. The Hebrew word netzer, appearing in Isaiah 11:1, is believed by many to refer to Nazareth, Jesus’ hometown.

10. Lee Strobel, The Case for Faith

 

Sumber :  http://y-jesus.com/jesus_believe_god_1.php

 


YESUS.DOC

Apakah Injil di Perjanjian Baru adalah benar-benar sejarah saksi mata Yesus Kristus, atau mungkinkah cerita itu telah diubah-ubah dalam perjalanan waktu? Apakah kita hanya bisa menerima catatan Perjanjian Baru hanya dengan iman, atau apa ada bukti-bukti keandalannya?

Reporter televisi ABC, Peter Jennings, pernah berada di Israel dan menyiarkan acara khusus mengenai Yesus Kristus. Programnya, “Pencarian Yesus”, mengeksplorasi pertanyaan apakah Yesus di Perjanjian Baru secara historis akurat.

Jennings mengemukakan pendapat-pendapat, terhadap Injil, dari Profesor John Dominic Crossan dari DePaul, tiga rekan Crossan dari Seminar Yesus, dan dua ahli Kitab Suci lainnya. (Seminar Yesus adalah kelompok ahli yang memperdebatkan kata-kata dan tindakan Yesus yang tercatat. Dan menggunakan tinta merah, merah muda, abu-abu atau hitam untuk mengambil suara yang mengindikasikan sejauh mana kebenaran yang mereka percayai dari pernyataan di Injil.)[1]

Beberapa komentar mengagetkan. Dalam siaran televisi nasional Dr. Crossan tidak hanya meragukan lebih dari 80 persen perkataan Yesus tapi juga menolak klaim Ke-Tuhan-an Yesus, mujizatNya, dan kebangkitanNya. Dengan jelas Jennings terperangah oleh gambaran Yesus yang diperlihatkan oleh Crossan.

Mencari sejarah kebenaran Alkitab (Kitab Suci) selalu jadi berita, itulah kenapa tiap tahun majalah Time dan Newsweek mempunyai berita utama tentang pencarian Maria, Yesus, Musa, atau Abraham. Atau — siapa tahu?– mungkin tahun ini akan membahas “Bob: Kisah, yang belum terungkap, Murid ke 13 yang Hilang”.

Ini hiburan, dan juga investigasi tidak akan pernah atau menghasilkan jawaban, karena akan melenyapkan program selanjutnya di masa depan. Ditampilkan, mereka yang pandangannya secara radikal berseberangan seperti sebuah episode ‘Survivor’, dengan tanpa harapan berputar-putar pada isu dan tidak memberi kejalasan.

Tapi laporan Jennings berfokus pada isu yang perlu memperoleh pemikiran serius. Crossan menjelaskan catatan orsinil tentang Yesus disebarkan dengan tradisi oral dan belum dituliskan sampai setelah para rasul meninggal. Karena itu, mereka (catatan di Perjanjian Baru) tidak bisa diandalkan dan gagal memberi gambaran akurat Yesus yang nyata. Bagaimana kita tahu ini (penjelasan Crossan) benar?

Hilang Dalam Terjemahan?

Jadi, apa yang diperlihatkan bukti-bukti? Kita mulai dengan dua pertanyaan mudah: Kapan dokumen orsinil Perjanjian Baru ditulis? Dan siapa penulisnya?

Kedua pertanyaan ini jelas penting. Jika catatan mengenai Yesus ditulis setelah para saksi mata meninggal, tidak seorangpun yang bisa memverifikasi akurasinya. Tapi jika Perjanjian Baru ditulis ketika para rasul masih hidup, maka keontetikannya dipastikan. Petrus bisa mengatakan terjadi pemalsuan atas namanya,”Hey, saya tidak menulis itu.” Dan Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes bisa merespon atas pertanyaan-pertanyaan atau tantangan yang ditujukan kepada pernyataan mereka tentang Yesus.

Penulis-penulis Perjanjian Baru mengklaim sumber penulisan Yesus dari saksi mata. Rasul Petrus menegaskan ini dalam salah satu suratnya,”Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita. Yesus Kristus sebagai raja, tapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya” (2 Petrus 1:16).

Bagian besar dari Perjanjian Baru adalah 13 surat rasul Paulus kepada gereja-gereja mula-mula dan individu-individu. Surat-surat Paulus, bertarik pertengahan tahun 40 dan pertengahan tahun 60-an (12 sampai 33 tahun setelah Kristus), merupakan catatan paling awal dari saksi mata akan pengajaran dan kehidupan Yesus. Will Durant menuliskan pentingnya secara historis surat-surat Paulus,”Bukti Kristen terhadap Kristus dimulai dengan surat-surat yang ditulis oleh Santo Paulus. … Tidak seorangpun mempertanyakan keberadaan Paulus, atau pertemuan-pertemuannya dengan Petrus, James, dan Yohanes; dan Paulus mengaku ‘iri’ orang-orang ini mengenal Kristus dari dekat (ketika masih hidup).[2]

Tapi Apa Benar?

Di banyak buku, majalah, siaran dokumenter televisi, Seminar Yesus memperkirakan Injil ditulis pada tahun 130 sampai 150 oleh penulis yang tidak dikenal. Jika tanggal (waktu penulisan) itu benar, maka akan ada jarak sekitar 100 tahun sejak Kristus meninggal (para ahli menempatkan kematian Yesus antara tahun 30 dan 33). Dan karena seluruh saksi mata sudah meninggal, Injil hanya bisa ditulis oleh penulis tak dikenal, yang berbohong.

Jadi, bukti apa yang kita miliki berkaitan dengan waktu penulisan Injil tentang Yesus benar-benar ditulis? Konsensus dari kebanyakan ahli adalah Injil ditulis oleh para rasul pada abad pertama. Mereka merujuk pada beberapa alasan, yang akan kita bahas di artikel ini. Untuk saat ini, bagaimanapun, perlu dicatat ada tiga bentuk utama pembuktian, yang mampu membangun kasus yang kuat untuk mencapai kesimpulan;

  • dukumen-dokumen awal dari sekte (kepercayaan) seperti Marcion dan sekolah Valentinus mengutip buku-buku Perjanjian Baru, tema, dan kata-katanya (Lihat “Senyum Mona Lisa”)
  • sejumlah penulisan sumber-sumber awal Kristen, seperti Clement dari Roma, Ignatius, dan Polycarp
  • penemuan kopi-kopi bagian dari Injil, yang diuji karbon berasal dari tahun 117.

Arkeolog Alkitab William Albright menyimpulkan, berdasarkan risetnya bahwa semua buku Perjanjian Baru ditulis ketika sebagian besar rasul masih hidup. Dia menulis, “Kita sudah bisa menyatakan secara empati bahwa tidak ada lagi dasar kuat untuk menyatakan penulisan dari salah satu buku setelah sekitar tahun 80, dua generasi penuh sebelum tahun 130 sampai 150, yang diberikan oleh kritik lebih radikal terhadap Perjanjian Baru.”[4] Ditempat lain, Albright menempatkan penulisan seluruh Perjanjian Baru “sangat mungkin disekitar tahun 50 sampai tahun 75.”[5]

Bahkan ahli paling skeptis John AT Robinson menempatkan penulisan Perjanjian Baru lebih awal dari para ahli yang paling konservatif. Dalam Redating the New Testament (Mentanggalkan kembali Perjanjian Baru) Robinson menegaskan sebagian besar Perjanjian Baru ditulis pada tahun 40 sampai tahun 65. Penanggalan ini berarti hanya terpaut tujuh tahun setelah kematian Yesus.[6] Jika ini benar, setiap kesalahan historis akan langsung diungkapkan oleh para saksi mata dan juga oleh musuh-musuh KeKristenan.

Mari kita lihat jejak petunjuk-petunjuk yang membawa kita dari dokumen orsinil sampai kopi Perjanjian Baru sekarang ini.

Siapa Yang Butuh Kinko?

Tulisan asli para rasul sangat dihormati. Gereja-gereja mempelajarinya, saling berbagi, dengan hati-hati memelihara dan menyimpannya seperti harta karun.

Tapi, sayangnya, penyitaan Romawi, berlalunya 200 tahun, dan hukum kedua thermodinamika mengambil korbannya. Jadi, sekarang, apa ada, yang kita punyai, tulisan orisinal itu? Tidak ada. Manuskrip asli semuanya sudah lenyap (kendati tiap minggu pelajar Alkitab, tidak dirgukan, mendengar Antiques Roadshow berharap mungkin ada yang muncul).

Kendati begitu, Perjanjian Baru tidaklah sendirian mengalami nasib ini; tidak ada dokumen kuno, dari jaman yang sama, masih eksis sekarang ini. Sejarahwan tidak kuatir oleh karena ketiadaan manuskrip asli, jika mereka punya kopi-kopi yang bisa diandalkan untuk diteliti. Tapi apa ada kopi-kopi kuno Perjanjian Baru yang tersedia, jika ya, apakah kopi itu sama dengan yang aslinya.

Ketika jumlah gereja bertambah, ratusan kopi secara hati-hati dibuat dengan pengawasan para pemimpin gereja. Setiap surat dengan hati-hati dan tepat ditulis dengan tinta diatas perkamen (dibuat dari kulit domba/sapi) atau papyrus. Dan, sekarang ini, para ahli bisa mempelajari kopi (dan kopi dari kopi, dan kopi dari kopi — anda paham), yang masih ada, untuk memutuskan keotentikan dan sampai sangat dekat dengan dokumen orisinalnya.

Para ahli yang mempelajari literatur kuno telah mengembangkan kritik tekstual untuk meneliti dokumen-dokumen seperti The Odyssey, membandingkan mereka dengan dokumen kuno lain untuk menilai akurasinya. Baru-baru ini, sejarahwan militer Charles Sanders menambahkan kritik tekstual dengan membaginya jadi tiga bagian tes yang tidak hanya melihat kemurnian kopi tapi juga kredibilitas para penulisnya. Tesnya adalah:

1. Tes bibliografi

2. Tes pembuktian internal

3.  Tes pembuktian eksternal.[7]

Mari kita lihat apa yang terjadi saat kita terapkan semua tes itu kepada manuskrip kuno Perjanjian Baru.

Tes Bibliografi

Tes ini membandingkan dokumen dengan sejarah lain dari periode yang sama. Tes menanyakan:

  • Berapa banyak kopi dari dokumen orisinal yang masih ada?
  • Berapa besar jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang paling awal?
  • Seberapa baik dokumen ini dibandingkan dengan sejarah kuno lainnya?

Bayangkan jika kita hanya punya dua atau tiga kopi dari manuskrip asli Pernjanjian Baru. Sample bisa sangat kecil sehingga kita tidak bisa memverifikasi akurasinya. Disisi lain, jika kita punya ratusan atau bahkan ribuan, kita bisa dengan mudah mengesampingkan kesalahan karena dokumen-dokumen, yang ditulis ulang dengan kurang baik.

Jadi, seberapa baik Perjanjian Baru dibandingkan dengan tulisan kuno lain dipandang dari sisi jumlah kopi dan jarak waktu dari orisinalnya? Ada lebih dari 5.000 manuskrip Perjanjian Baru eksis hari ini dalam bahasa aslinya, Yunani. Jika dihitung bersama terjemahannya ke bahasa lain, jumlahnya meloncat jadi 24.000 — mulai dari abad ke 2 sampai ke 4.

Dibandingkan dengan dokumen kuno terbaik manuskrip sejarah, Illiad, yang ditulis Homer, dengan 643 kopi.[8] Dan ingat kebanyakan tulisan bersejarah kuno punya manuskrip jauh lebih sedikit (biasanya kurang dari 10). Ahli Perjanjian Baru Bruce Metzger menyatakan, “Dengan kontras angka ini (dibandingkan dengan manuskrip kuno lain), kritik tekstual Perjanjian Baru sangat kaya materialnya.”[9]

Jarak Waktu

Tidak hanya jumlah manuskrip itu penting, tapi juga jarak waktu antara ketika naskah asli ditulis dan tanggal kopinya. Sepanjang seribu tahun kopi ke kopi, tidak bisa diketahui jadi apa sebuah teks itu — tapi jika sekitar seratus tahun, ini lain ceritanya.

Kritikus Jerman, Ferdinand Christian Baur (1792 – 1860) sekali waktu pernah menyatakan Injil Yohanes belum ditulis sampai sekitar tahun 160, sehingga tidak mungkin ditulis langsung oleh Yohanes. Jika ini benar, tidak hanya mengurangi kredibilitas tulisan Yohanes tapi juga menimbulkan kecurigaan terahadap seluruh Perjanjian Baru. Tapi kemudian, ketika ada sebuah tempat penyimpanan naskah Perjanjian Baru dengan fragmen-fragmen papirus ditemukan di Mesir, diantaranya fragmen dari Injil Yohanes (berupa Yohanes 18:31-33) dikopi hanya 25 tahun setelah Yohanes menulis aslinya.

Metzger menjelaskan, “Sama seperti Robinson Crusoe, melihat hanya ada satu jejak kaki di pasir, mengambil kesimpulan hanya ada manusia lain, dengan dua kaki, ada dipulau itu bersama-sama dengan dia, jadi P52 (label fragmen itu) membuktikan keberadaan dan penggunaan empat buku Injil pada paruh pertama abad kedua di kota provinsi disepanjang sungai Nil sangat jauh dari tempat, yang secara tradisi, ditulisnya (kota Efesus di Asia Kecil).”[10] Penemuan dan penemuan lagi, arkeologi telah mengangkat sebagian besar Perjanjian Baru yang berjarak 150 tahun dari aslinya.[11]

Banyak dokumen-dokumen kuno lain punya jarak waktu antara 400 sampai 1.400 tahun. Contohnya, Poetics, yang ditulis Aristoteles tahun 343 sebelum masehi, kopi paling kunonya sudah bertarik sesudah masehi. dari 1.100 kopi, hanya ada 5 yang masih eksis. Namun tidak seorangpun mencari sejarah Plato, yang mengklaim dirinya adalah pemadam kebakaran dan bukan filsuf.

Pada kenyataannya, ada sebuah kopi seluruh Alkitab, yang hampir lengkap, disebut Codex Vaticanus, yang ditulis hanya sekitar 250 sampai 300 tahun setelah tulisan asli para rasul. Kopi Perjanjian Baru lengkap, yang paling kuno, dinamakan Codex Sinaiticus, sekarang disimpan di Museum Inggris.

Seperti Codex Vaticanus, kopi itu bertarik abad ke empat. Vaticanus dan Sinaiticus, dari awal sejarah Kristen, sama seperti manuskrip kuno Alkitab, mereka saling berbeda sedikit dan memberi kita gambaran sangat bagus mengenai apa yang seharusnya dikatakan oleh dokumen asli.

Bahkan kritikus John AT Robinson mengakui, ”Kekayaan manuskrip dan diatas semuanya sempitnya jarak waktu antara tulisan asli dengan kopi, yang banyak, membuatnya terbukti kebenarannya, yang terbaik diantara semua tulisan kuno di dunia.”[12]  Professor hukum John Warwick Montgomery menyatakan, “Untuk jadi skeptis atas hasil teks buku-buku Perjanjian Baru sama artinya mempersilakan seluruh teks klasik kuno jadi tidak jelas, karena tidak ada dokumen pada jaman kuno yang bibliografinya sebaik Perjanjian Baru.”[13]

Pada pokoknya: jika catatan Perjanjian Baru dibuat dan disirkulasikan begitu dekat dengan kejadian yang sebenarnya, gambaran mereka terhadap Yesus akurat. Namun bukti eksternal bukanlah satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan mengenai keandalan; para ahli juga menggunakan bukti internal untuk menjawab pertanyaan ini.

Penemuan Codex Sinaiticus

Pada tahun 1844, pakar Jerman, Constantine Tischendorf, sedang mencari manuskrip Perjanjian Baru. Secara tidak sengaja, dia menemukan satu ember penuh dengan halama-halaman kuno di sebuah biara, Santo Cathrerine, di Gunung Sinai. Ilmuwan Jerman ini sangat gembira sekaligus syok. Dia belum pernah melihat manuskrip Yunani setua itu. Tischendorf bertanya kepada penjaga perpustakaan mengenai kertas itu dan sangat terkejut ketika tahu halaman-halaman itu disobek – sobek dan digunakan sebagai bahan bakar. Dua ember penuh kertas-kertas itu telah dibakar!

Antusiasme Tischendorf membuat biarawan kuatir dan mereka tidak bersedia memperlihatkan kepadanya manuskrip-manuskrip lainnya. Namun, mereka mengijinkan Tischendorf mengambil 43 halaman, yang ditemukannya.

Lima belas tahun kemudian, Tischendorf kembali ke biara Sinai, saat itu dengan banguan dari Tsar Rusia Alexander II. Ketika dia sampai di sana, seorang biarawan membawa Tischendord ke kamarnya dan menarik sebuah manuskrip, yang dibungkus kain, tersimpan di rak bersama piring dan gelas. Tischendord langsung mengenali nilainya yang tinggi, seperti sebagian manuskrip yang sudah dia lihat sebelumnya.

Biara setuju menghadiahkan manuskrip itu kepada tsar Rusia sebagai pelindung Gereja Yunani. Pada tahun 1933 Uni Soviet menjual manuskrip kepada Museum Inggris seharga £100,000.

Codex Sinaiticus adalah salah satu dari manuskrip lengkap paling kuno dari Perjanjian Baru, yang kita miliki, dan termasuk yang paling penting. Beberapa orang berspekulasi dia adalah salah satu dari 50 Alkitab, yang Kaisar Konstantin perintahkan kepada Eusebius untuk disiapkan pada awal abad ke empat. Codex Sinaiticus telah sangat membantu para ahli memverifikasi akurasi Perjanjian Baru.

Tes Pembuktian Internal

Seperti seorang detektif yang baik, sejarahwan memverfikasi keandalan dengan mencari petunjuk-petunjuk internal. Petujuk semacam itu mengungkap motif-motif penulis dan kesediaan mereka untuk mengungkapkan detil-detil dan hal-hal lain yang bisa diverifikasi. Kunci petunjuk internal yang digunakan para ahli mentes keandalan adalah:

  • Konsistensi laporan saksi mata.
  • Detil nama, tempat, dan peristiwa
  • Surat-surat kepada individu atau kelompok kecil
  • hal-hal yang mempermalukan penulis
  • ada material yang tidak relevan atau kontra produktif
  • kekurangan material relevan[14]

Mari kita ambil contoh film Friday Night Lights. Disebutkan film berdasarkan kejadian sebenarnya, tapi seperti kebanyakan film, yang tidak ketat, mendasarkan diri pada kenyataan sebenarnya, film terus-menerus memunculkan pertanyaan, “Apa kejadiannya benar-benar seperti itu?” Jadi bagaimana anda menilai keandalan historisnya?

Satu petunjuk adalah kehadiran material tidak relevan. Katakanlah pada pertengahan film, sang pelatih, tanpa alasan yang jelas, menerima telepon mengkonfirmasikan bahwa ibunya terkena kanker otak. Kejadian itu tidak ada kaitan dengan cerita dan tidak pernah disinggung lagi. Satu-satunya penjelasan kehadiran fakta tidak relevan ini adalah hal itu benar-benar terjadi dan sutradara berkeinginan agar secara historis akurat.

Contoh lain, film yang sama. Mengikuti alur drama, kita ingin Permian Panthers memenangkan kejuaraan negara bagian. Tapi mereka kalah. Hal ini terasa kontra produktif dengan drama dan kita langsung tahu hal itu terjadi, karena dalam kehidupan nyata memang Permian kalah dalam pertandingan itu. Kehadiran material kontra produktif juga jadi petunjuk akurasi historis.

Akhirnya, pemakaian kota yang sebenarnya dan tempat-tempat yang dikenal, seperti Houston Astrodome, membawa kita pada elemen-elemen sejarah cerita itu, karena hal-hal itu mudah sekali dipalsukan atau diubah.

Hal-hal ini merupakan contoh bagaimana pembuktian internal bisa mendekatkan atau menjauhkan sebuah kesimpulan bahwa sebuah dokumen secara historis bisa diandalkan. Kita akan lihat pembuktian internal kesejarahan Perjanjian Baru.

Beberapa aspek Perjanjian Baru membantu kita menilai keandalannya berdasarkan isinya dan kualitasnya.

Konsistensi

Dokumen palsu tidak mencatat saksi mata atau tidak konsisten. Jadi mencari kontradiksi diantara Injil akan membuktikan mereka berisi kesalahan-kesalahan. Tapi pada saat yang sama, jika Injil menyatakan hal-hal yang sama, hal itu akan meningkatkan kecurigaan adanya kolusi. Itu seperti para konspirator mencoba menyepakati setiap detil rancangan mereka. Terlalu banyak konsistensi sama meragukannya dengan terlalu sedikit.

Saksi mata sebuah tindak kejahatan atau kecelakaan biasanya mengetahui kejadian pada garis besarnya, tapi melihatnya dari perspektif berbeda pada detilnya. Sama dengan itu, keempat Injil menggambarkan peristiwa kehidupan Yesus dari perspektif berbeda. Kendati begitu dari semua perspektif, para ahli Alkitab terkagum-kagum pada konsistensi catatan mereka dan gambaran jelas akan Yesus dan pengajaranNya, ketika mereka menyatukan semua laporan itu.

Detil

Sejarahwan suka sekali dengan detil-detil sebuah dokumen karena akan membuatnya mudah diverivikasi keandalannya. Surat-surat Paulus penuh dengan deti. Dan Injil banyak memuatnya. Contohnya, Injil Lukas dan buku Kisah Para Rasul ditulis untuk bangsawan bernama Teofilus , yang tidak diragukan orang terkemuka saat itu.

Jika tulisan ini hanyalah karangan dari para rasul, nama-nama palsu, tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa akan dengan cepat diketahui oleh para musuh mereka. Hal ini akan jadi kasus ‘Watergate’ abad pertama. Tapi banyak detil Pernjanjian Baru telah terbukti benar oleh verifikasi independen. Sejarahwan klasik Colin Hemer, contohnya, “mengidentifikasi 84 fakta di 16 bab Kisah Para Rasul yang sudah dikonfirmasikan oleh riset arkeologi.”[15]

Pada abad yang lalu, para ahli Alkitab, yang skeptis, menyerang Injil Lukas, yang ditulis Lukas, dan kapan ditulisnya, dengan menyatakan kitab itu ditulis pada abad kedua oleh penulis anonim (tidak diketahui). Arkeolog Sir William Ramsey yakin mereka benar, dan dia mulai menyelidiki. Setelah riset arkeologi yang luas, dia membalikkan pendapatnya. Ramsey menyimpulkan,”Lukas adalah sejarahwan nomer satu. … Penulis ini harus ditempatkan bersama sejarahwan paling terkemuka. Tulisan sejarah Lukas luar biasa dipandang dari sisi kebenarannya (bisa dipercaya).”[16]

Kisah Para Rasul menceritakan perjalanan pelayanan Paulus, mendaftar tempat-tempat yand dikunjunginya, orang yang ditemuinya, pesan yang disampaikannya, dan hukuman yang dideritanya. Bisakah semua rincian ini dipalsukan? Sejarahwan Romawi, AN Sherwin, menulis, “Untuk Kisah Para Rasul konfirmasi historisnya melimpah. Tiap usaha untuk membantah dasar historisnya sekarang akan tampak kabur. Sejarahwan Romawi sudah terlalu lama meremehkannya.”[17]

Dari catatan Injil sampai surat-surat Paulus, para penulis Perjanjian Baru secara terbuka menggambarkan detil-detil, bahkan menyebutkan nama-nama individu yang hidup pada masa itu. Sejarahwan sedikitnya sudah memverifikasi 30 nama.[18]

Surat-Surat Untuk Kelompok Kecil

Teks,yang paling terlupakan, adalah dokumen yang ditujukan kepada khalayak umum, seperti artikel majalah ini (tidak diragukan banyak penjiplakan telah tersirkulasi di pasar gelap). Ahli sejarah Loois Gottschalk mencatat bahwa surat-surat personal dimaksudkan untuk pendengar berjumlah kecil (kelompok kecil) mempunya probilitas keandalan yang tinggi.[19] Pada kategori mana dokumen Perjanjian Baru berada?

Sebagian darinya jelas dimaksudkan untuk disebar-luaskan. Namun ada bagian besar dari Perjanjian Baru berisi surat-surat pribadi yang ditulis untuk kelompok kecil pendengar dan individu-individu. Dokumen-dokumen ini, paling tidak, tidak akan jadi kandidat utama untuk disalahkan.

Hal-Hal Memalukan

Kebanyakan penulis tidak ingin mempublikasi hal memalukan dirinya sendiri. Karena itu, sejarahwan mengamati bahwa dokumen-dokumen mengungkapkan hal-hal yang mempermalukan penulisnya biasanya bisa dipercaya. Apa yang dikatakan para penulis

Perjanjian Baru tentang diri mereka?

Mengejutkan, para penulis Perjanjian Baru memperlihatkan diri mereka sebagai terlalu tidak mengerti (bodoh), pengecut, dan tidak beriman. Contohnya, lihatlah tiga kali penyangkalan Petrus terhadap Yesus atau para murid bertengkar mengenai siapa diantara mereka yang terbesar — kedua cerita ini dicatat di Injil. Di gereja mula-mula, penghormatan terhadap para rasul sangatlah penting, karena itu memasukkan cerita seperti itu tidak masuk akal kecuali para rasul melaporkannya dengan kejujuran.[20]

Dalam buku The Story of Civilization, Will Durant menulis tentang para rasul,”Orang-orang ini bukanlah tipe yang akan dipilih untuk mengubah dunia Injil secara realistik memperlihatkan karakter mereka, dan dengan jujur mengekspose kesalahan-kesalahan mereka.”[21]

Material Kontra-Produktif Atau Tidak-Relevan.

Injil menceritakan kepada kita tentang kubur kosong Yesus ditemukan oleh perempuan, mekipun di Israel (jaman itu) kesaksian perempuan dipandang tidak bernilai atau berlaku dan tidak bisa diajukan dalam pengadilan. Ibu Yesus dan keluarganya dicatat pernah mengutarakan keyakinannya bahwa Dia (Yesus) tidak berpikir dengan benar. Sebagian kata-kata akhir Yesus di kayu salib adalah, “AllahKu, AllahKu, kenapa Engkau meninggalkanKu?” Dan daftar terus terisi oleh insiden-insiden, yang tercatat di Perjanjian Baru, sebagai kontra-produktif jika dimaksudkan oleh penulisnya sebagai upaya pewarisan akurat kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus.

Kekurangan Material Relevan.

Ironisnya (atau mungkin logis) bahwa hanya sedikit isu penting pada gereja abad pertama –misi non-Yahudi, anugrerah spiritual, baptis, kepemimpinan — tercatat dibahas langsung oleh Yesus sendiri. Jika para pengikutnya hanya ingin mencatat material yang mendorong perptumbuhan gereja, kenapa mereka tidak “membuat” instruksi-instruksi dari Yesus mengenai isu-isu itu. Pada satu kasus, Rasul Paulus menyatakan pada pokok bahasan tertentu, “Dalam hal ini, kita tidak menerima pengajaran dari Tuhan.”

Tes Pembuktian Eksternal

Bagian ketiga dan ukuran terakhir keandalan dokumen adalah tes pembuktian eksternal, yang bertanya, “Apakah catatan sejarah diluar Perjanjian Baru mengkonfirmasikan kebenarannya?” Jadi apa kata ahli sejarah non-Kristen mengenai Yesus Kristus.

“Secara keseluruhan, sedikitnya 17 tulisan non-Kristen mencatat lebih dari 50 detil tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus, ditambah rincian tentang gereja mula-mula.[22]  Ini luar biasa, mengingat ketiadaan catatan sejarah lain yang kita miliki pada periode ini. Yesus disinggung oleh lebih banyak sumber (catatan sejarah) daripada laporan penaklukan (perang) yang dilancarkan Kaisar (Romawi) pada periode yang sama. Lebih luar biasa lagi karena konfirmasi-konfirmasi detil Perjanjian Baru bertarik 20 sampai 150 tahun setelah Kristus, ”cukup cepat dengan standar histografi kuno.”[23]

Keandalan Perjanjian Baru diperkuat secara substantif oleh lebih dari 36.000 dokumen non-alkitab orang Kristen (kutipan-kutipan pernyataan para pemimpin gereja pada tiga abad pertama) bertarik, yang paling awal, hanya 10 tahun setelah penulisan buku terakhir Perjanjian Baru.[24]  Jika seluruh kopi Perjanjian Baru hilang, anda bisa memproduksi seluruhnya kembali dari surat-surat dan dokumen itu, dan hanya kekurangan beberapa ayat saja.[25]

Profesor (pensiunan) Universitas Boston, Howard Clark Kee, menyimpulkan, “Hasil penelitian dari sumber-sumber diluar Perjanjian Baru yang diperoleh …bagi pengetahuan kita telah mengkonfirmasi eksistensi historis Yesus, kuasa luar biasaNya, pemujaan pengikutNya, berlanjutnya gerakan setelah Dia meninggal… dan penetrasi KeKristenan …. di Roma itu sendiri pada akhir abad pertama.”[26]

Jadi tes pembuktian eksternal dibangun dari bukti-bukti yang diberikan oleh tes-tes lainnya. Meskipun masih tetap ada yang skeptis secara radikal (yang mengambil kesimpulan dengan informasi yang tidak lengkap), Perjanjian Baru sudah memotret Yesus Kristus yang nyata dan tidak terbantahkan. Kendati ada beberapa yang tetap berbeda seperti Seminar Yesus, konsensus para ahli, apapun keyakinan religiusnya, mengkonformasikan Perjanjian Baru yang kita baca hari ini dengan tepat menggambarkan perkataan dan peristiwa kehidupan Yesus.

Clark Pinnock, profesor interpretasi di McMaster Divinity College, menyimpulkan dengan bagus ketika dia menyatakan, “Tidak ada dokumen dari dunia kuno yang dikonfirmasikan oleh begitu banyak teks dan testimoni historis. … (seorang) jujur tidak bisa mengesampingkan sumber-sumber seperti ini. Skeptisme (tidak percaya) berkaitan dengan kesejarahan KeKristenan akan berbasiskan irasionalitas.”[27]

Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus?” Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca dan mulai menjawab “Kenapa Yesus?”

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia.

REFRENCE :

1.  According to jesusseminar.org, “The Jesus Seminar was organized under the auspices of the Westar Institute to renew the quest of the historical Jesus. At the close of debate on each agenda item, Fellows of the Seminar vote, using colored beads to indicate the degree of authenticity of Jesus’ words or deeds.”

2.  Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 555.

3.  Josh McDowall, The New Evidence That Demands A Verdict (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1999), 38.

4.  William F. Albright, Recent Discoveries in Biblical Lands (New York: Funk & Wagnalls, 1955), 136.

5.  William F. Albright, “Toward a More Conservative View,” Christianity Today, January 18, 1993, 3.

6.  John A. T. Robinson, Redating the New Testament, quoted in Norman L. Geisler and Frank Turek, I Don’t Have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton, IL: Crossway, 2004), 243.

7.  McDowell, 33-68.

8. McDowell, 34.
Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament (New York: Oxford University Press, 1992), 34.

9. McDowell, 38.

10. Metzger, 39.

11.  Metzger, 36-41.

12. John A. T. Robinson, Can We Trust the New Testament? (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), 36.

13.  Quoted in McDowell, 36.

14.  J. P. Moreland, Scaling the Secular City (Grand Rapids: Baker, 2000), 134-157.

15.  Quoted in Geisler and Turek, 256.

16.  Quoted in McDowell, 61.

17.  Quoted in McDowell, 64.

18.  Geisler and Turek, 269.

19.  J. P. Moreland, 136-137.

20. Geisler and Turek, 276.

21.  Durant, 563.

22.  Gary R. Habermas, “Why I Believe the New Testament is Historically Reliable,” Why I am a Christian, eds Norman L. Geisler & Paul K. Hoffman (Grand Rapids, MI: Baker, 2001), 150.

23.  Ibid.

24.  Ibid.

25.  Metzger, 86.

26.  Quoted in McDowell, 135.

27.  Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life Publishers, 1981), 9.

sumber : klik