​KONSER ZAKIR NAIK

Posted: Juli 19, 2017 in Kasih Tuhan

De Fath, 8 jam yang lalu – Lewat telpon, saya diajak nonton Zakir Naik oleh beberapa Alumni, menurut mereka supaya saya tidak terlalu jauh tersesat, segera kembali ke jalan yang benar. Jalan yang ditawarkan Zakir Naik cocok untuk orang yang sedang tersesat seperti saya, kata mereka sambil tertawa gurih
Saya tersenyum, selama ini mereka tidak pernah menelpon saya, tiba tiba menelpon mengajak menonton Zakir Naik. Bagi saya ini sindiran tingkat Alexis. Baiklah saya akan bercerita, mumpung kalian yang menelpon saya

“Saya sudah selesai dengan Zakir Naik. Saya dulu sempat pengagum Ahmad Deedad, orang yang dicontoh Zakir Naik, ada yang bilang, dia gurunya Zakir Naik. Saya ingat, saat itu kalian masih unyu-unyu  kumpul dengan Aak Gim menangis bersama di geger kalong meratapi nasib, atau sekelas kader ormas Islam yang kerjanya tidur, makan, mandi di masjid. 

Kalian mendengar Zakir Naik hanya supaya bisa tidur nyenyak, berselimut keimanan kalian sambil mentertawakan kesesatan keimanan umat lain. Kalian tidak pernah berpikir bagaimana kalian juga sesat di mata keimanan orang lain. Lalu kalian bangga, sezalim-zalimnya kalian tapi tetap masuk surga asal beriman. Surga mana ? Jika surga yang dimaksudkan itu disaat batang Zakar Naik, itu betul
Jika kalian jijik melihat ular, pernahkah kalian berpikir, bahwa ular pun jijik melihat kalian. Begitulah kira kira benang merahnya
Islam seperti apa yang ditawarkan Zakir Naik ?, Islam yang menyalah-nyalahkan ajaran umat lain ?, Islam yang menganjurkan menggendong panci hanya untuk menghancurkan rumah ibadah umat lain ?, Islam tukang koreksi kitab suci umat lain ?, Islam yang tidak mencintai tanah air ? Khilafah solusinya ? Itulah intinya
“…Tolong sampaikan ke Zakir Naik, urusi saja umat Islam di Timur Tengah yang hijrah ke negeri kafir karena perang tak berkesudahan. Urusi saja apa sumbangsih umat Islam untuk peradaban dunia di masa depan. Sampaikan ke Zakir Naik, urusi saja umat Islam agar tidak menjadi horror negara-negara di dunia. Urusi saja umat Islam yang hanya menjadi cheerleader dalam penguasaan teknologi dan perekonomian dunia….” (Makjleb)
Sudahlah, jika anak-anak berumur belasan tahun takjub dengan Zakir Naik itu wajar. Tapi jika sudah bau tanah atau umur sudah 1/3 abad masih kagak bisa nalar mana Islam, mana pedagang agama, mana Industri ceramah yang ujung-ujungnya duit, itu artinya sudah tanda-tanda pekok stadium 2
Satu lagi, jangan berhenti belajar hanya pada Zakir Naik saja, nanti “pekok awet”, masih ada Mbah Mustafa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Quraish Shihab, Habib (asli) Luthfi bin Yahya, dan banyak lagi”

Krik, krik, krik,…telponnya wafat

Bacanya sambil srufut kopih

​CAK NUR MENGINGATKAN ANIES

Posted: Maret 18, 2017 in Kasih Tuhan

D’Fath ~ Hari hari Anies setelah mendapatkan suara 39,5% seperti kandidat Calon Presiden saja, tampak sekali perubahan muka dalam menghadapi media, maklumlah dengan modal itu ia berkeyakinan memenangkan petarungan di Jakarta. 39,5 + 17 = Presiden RI. Begitu itungan bodoh-bodohannya.

Awalnya suara Anies tidaklah masuk hitungan bahkan banyak yang meragukannya, partai pendukungnya sudah ketar-ketir dengan hasil polling dari semua lembaga survei. Tapi setelah Anise main ke toko sebelah sowan ke markas FPI, mengklarifikasi dirinya bukan Wahabi dan Syi’ah. Maka suara Anise langsung mengelinjang mengalahkan Agus.

Ibu-ibu kalau shalat witir berapa rakaat? 1 rakaat boleh nggak?” tanya Anies.

“Boleh,” jawab mereka serempak.

“Kalau 2 rakaat?” lanjut dia.

“Tidak.”

“Kalau tiga boleh, Bu?” tanyanya lagi.

“Boleh.”

“Kalau ibu-ibu shalat witir 1 rakaat sama 3 rakaat afdhal mana?” tanya cagub nomor urut tiga ini.

“Tigaaa,” jawab mereka serentak.

Jika mengacu ucapan Anies soal “Afdhal mana?” Bukankah lebih afdhal 5 rakaat atau diatasnya dibandingkan 3 rakaat? Jadi dengan merendahkan witir 1 rakaat, mengabaikan witir 5 rakaat keatas dan mengidentikkan dengan menolak pasangan calon no urut 2, itu sangat jelas Anise sudah bermain dalam isu agama.

Sepertinya Nurcholis Madjid sebagai Guru dari Anise dan Presiden PKS sedang memberikan kuliah dari dalam kuburnya tentang konsep sekularisasi, menurut Cak Nur sesuatu yang sakral dalam agama harus disakralkan, sholat adalah kegiatan sakral karena itu jangan disempali dengan politik.

Tapi yang dilakukan Anise malah membawa Politik ke ranah sakral, menurut Cak Nur Saklarisasi kepada sesuatu selain kepada tuhan pada hakikatnya adalah syirik. Jadi Politik dengan isu agama itu adalah prilaku Syirik. Dan mereka sedang menikmatinya.


Pertama kali saya mendengar nama Jokowi ketika ada pemberitaan hangat mengenai mobil Esemka di Solo. Waktu itu Pak Jokowi masih menjabat sebagai walikota di sana. Jujur dan maaf pada Pak Jokowi, kesan pertama saya melihat Jokowi adalah beliau tidak ada kesan atau punya tampang sebagai pemimpin. Nggak cocok banget, sori ya Pak Jokowi, maafkan saya.

16832197_291102294640975_7119735565031267712_n

Namanya makin tenar ketika namanya disebut-sebut dan ternyata mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Ahok. Namanya terus tenar hingga memenangkan Pilkada DKI dengan menyingkirkan Fauzi Bowo alias Foke. Dua nama ini seolah menyedot perhatian media kemana pun mereka pergi dan beraktivitas. Dan hanya dalam waktu 2 tahun, setelah rumor sana-sini, Jokowi langsung mencalonkan diri menjadi Presiden dan ternyata juga menang setelah menyingkirkan Prabowo-Hatta.

Jujur, saya juga kurang sreg waktu itu. Kenapa Jokowi seperti kutu loncat? Jabatan walikota Solo belum selesai, sudah jadi Gubernur DKI Jakarta. Belum juga selesai periode pertama, sudah langsung lompat jadi Presiden. Saya rasa ini sangat konyol waktu itu. Saya sempat berpikir Pak Jokowi seperti orang yang haus kekuasaan, ada peluang langsung lompat dan rebut.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa Pak Jokowi bukan orang sembarangan. Kinerjanya telah membuka mata saya dan malah sekarang saya jadi bertanya-tanya apa saja yang sebenarnya dilakukan pemerintah dulu? Kenapa orang seperti Jokowi baru hadir sekarang, nggak dari dulu-dulu?

 Salah satu style yang saya sukai dari Pak Jokowi adalah slogan kerja, kerja dan kerja. Kalau kata orang tua saya, Pak Jokowi orangnya ligat dan tidak lamban kayak siput. Ini terlihat dari banyaknya infrastruktur dan proyek-proyek yang sedang dibangun dan sudah selesai. Kalau saya sebutkan satu per satu mungkin bisa dijadikan novel utuh. Salah satunya adalah pembangunan jalan seperti Trans Papua dan Trans Sumatera, perluasan dan pembangunan bandara, pelabuhan, proyek pembangkit listrik. Dan yang lebih hebatnya, untuk pertama kalinya sejak Jokowi memimpin, daerah luar Jawa mendapat perhatian khusus, tidak lagi mendapat diskriminasi seperti anak tiri yang terbuang. Lihat saja Papua yang sekian tahun tidak begitu dipedulikan. Hanya Jokowi yang benar-benar menaruh perhatian. Jokowi tidak lagi melulu fokus pada Jawa-sentris. Dan yang lebih hebat lagi, beberapa proyek mangkrak warisan pemerintah dulu, juga dikebut dan diselesaikan.

Kekaguman saya makin bertambah saat Jokowi menunjuk Menteri yang benar-benar kapabel dan kredibel, dan yang tidak sesuai harapan langsung di-reshuffle. Yang paling memorable bagi saya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang secara background juga tidak cocok, tapi siapa sangka dia mampu menjadi salah satu menteri terbaik di Indonesia. Terkenal akan ketegasannya dalam menindak pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia sampai-sampai dibuatkan meme dengan tagline pamungkas ‘Tenggelamkan!”. Hasilnya Indonesia sempat meraih nomor satu dalam pemberantasan illegal fishing.

Dan hanya di zaman Jokowi, pariwisata Indonesia benar-benar diperhatikan dan dibahas serius. Ini yang membuat saya salut. Bagaimana tidak, dari semua negara tetangga ASEAN, Indonesia adalah negara terluas, tapi kunjungan turis asing kalah telah Malaysia, Thailand bahkan Singapore yang luasnya hanya seupil pada peta. Malaysia mampu mendatangkan 24 juta turis, Thailand 32 juta Turis, Singapore 15 juta turis, sedangkan Indonesia tahun 2016 hanya kedatangan 12 juta turis. Halo, apa saja kerjaan pemerintah dulu? Potensi keindahan alam dan budaya sangat tak terbatas, tapi tak dimaksimalkan dengan baik. Negara tetangga sudah sadar akan potensi pariwisata dalam menggenjot devisa negara sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Tapi kenapa baru Jokowi yang menyadari potensi dan promosi besar-besaran demi target 20 juta turis di tahun 2019.

Salah satu hal yang membuat tertawa lucu adalah candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja. Candi ini dikunjungi 2,5 juta turis per tahun, bandingkan dengan candi Borobudur yang hanya dikunjungi 250 ribu turis per tahun. Kalah 10 kali lipat. Jelas nggak ada niat promosi dari pemerintah terdahulu. Kenapa tidak ada niat, tanya pada yang bersangkutan. Kawasan yang tidak lebih maju dari kota Indonesia, tapi bisa menang.

Jokowi memang kerempeng dan secara tampang kurang meyakinkan, tapi itu hanya kamuflase saja. Jokowi lebih dari apa yang terlihat dari luar. Kurus tapi sangat tegas dan tidak main-main, cepat dalam bekerja dan membangun. Dan yang terbaru adalah konflik RI dan Freeport yang memanas di mana Freeport mengancam akan menggugat pemerintah Indonesia ke Arbitrasi Internasional mengenai masalah Kontrak Karya yang diminta agar mengubahnya ke IUPK sebagai satu-satunya jalan agar Freeport dapat mengekspor konsentrat. Pemerintah tidak takut dengan ancaman dan gugatan Freeport ke Arbitrase Internasional dan siap untuk menghadapinya.

Jokowi juga terkenal jarang dan saya tidak pernah mendengar beliau mengeluh layaknya anak kecil apalagi mewek-mewek di media sosial mengenai betapa malang nasibnya, betapa sulitnya masalah yang dia hadapi. Saya tidak pernah dengar seperti itu. Bahkan dalam beberapa kesempatan, responnya malah santai dan tenang, mampu membawa diri dengan baik. Sisi lain yang menjadi nilai plus Jokowi adalah kesederhanaan. Tidak malu-malu membeli barang yang biasa-biasa saja.

Dan sebagai penutup, pada musim panas nanti, patung lilin Jokowi sudah siap dan akan dipajang di Madame Tussaud Hongkong berbarengan dengan patung Soekarno. Ini sudah menjadi bukti, bahwa Jokowi bukan orang yang pantas dikagumi. Tidak semua orang bisa menjadi objek patung lilin di sana. Bahkan sebelum dipastikan pembuatan patung lilinnya, Jokowi mengungguli Hillary Clinton dan Donald Trump mengenai siapa yang akan dibuatkan patung lilin. Luar biasa bukan?

Dulu mungkin saya tidak yakin, sekarang saya sangat yakin dengan kemampuan Pak Jokowi. Badan memang kerempeng, tapi nyali setara banteng, kinerja dan prestasi mentereng hanya dalam waktu 2 tahun lebih saja.

Don’t judge Jokowi by the appearance.

Bagaimana menurut Anda?

 

DIAM SUDAH GAK MUSIM

Posted: Februari 22, 2017 in Kasih Tuhan

Banyak orang menyangka, kaum spesies dengkul pandai meributkan hal remeh temeh, disangkut pautkan dengan agama. Orang mengira itu disebabkan karena kebodohan belaka.
Bukan. Sesuatu yang tampaknya bodoh itu, menurut saya, memang sengaja disetting. Sengaja diproduksi. Tujuannya simpel. Untuk menciptakan kegaduhan terus menerus di masyarakat dan menjaring spesies dengkul lainnya. Mereka dijanjikan surga, padahal yang mau diciptakan adalah neraka.

Target besarnya untuk menciptakan konflik horisontal. Sebab konflik horisontal hanya bisa dibuat jika populasi spesies ini semakin banyak.

Penciptaan konflik horisontal itu dibarengi dengan terus menerus melemahkan negara. Segala isu diprosuksi untuk menciptakan ketidakpercayaan publik. Yang paling gampang adalah memperhadapkan negara dengan agama.
Kenapa perlu diciptakan konflik horisontal dan pelemahan peran negara?

Begini. Jika negara kuat, masyarakatnya kuat, akan tercipta sistem yang kokoh. Demokrasi berjalan, fungsi korektif menyehatkan dan ada keseimbangan kekuasaan.
Jika negara kuat dan masyarakatnya lemah, yang terjadi adalah otoritarian. Kita pernah merasakan di jaman Soeharto. Sementara jika negara lemah, masyarakat kuat, yang akan terjadi adalah chaos.

Nah, jika negara lemah dan masyarakatnya juga lemah, yang akan terjadi adalah intervensi asing. Kondisi seperti ini terjadi di Suriah, Libya, Irak, Yaman, juga berbagai negara Afrika.

Coba lihat kondisi kita sekarang, kegiatan melemahkan fungsi negara terus menerus dilakukan. Masyarakat diajarkan anarkis. Hanya karena fatwa MUI ormas bisa melakukan sweeping ke mall atau menekan aparat. Desain uang dan banyak soal remeh temeh lainnya dipermasalahkan.

Salah satu ciri negara yang melemah adalah berkuasanya gerombolan sipil bergaya militer di masyarakat. Lihat saja. Laskar-laskar, organsasi kedaerahan, dan kelompok agama para militer saat ini. Pada beberapa kasus justru ulahnya mengalahkan polisi. Sweeping dan pembubaran kegiatan agama, sudah sering kita dengar. Juga demonstrasi untuk menekan sistem hukum.

Organisasi yang jelas-jelas tujuannya merusak NKRI tumbuh dan makin membesar. Mereka bahkan bisa teriak-teriak hendak menggantikan Pancasila dengan khilafah di jalanan umum.

Semua kebijakan negara dibenturkan dengan isu agama. Spesies dengkul yang otaknya dimakan tikus, melahap semua ini dan menganggap sebagai perjuangan agama. Mirip publik Libya diawal kehancurannya.

Bagaimana dengan usaha pelemahan masyarakat? Itu dilakukan dengan mengkondisikan konflik horisontal. Sama juga, modalnya adalah isu agama dan rasial.

Nah, coba perhatikan. Seberapa gampang kini masyarakat menuding kafir dan sesat kepada orang lain. Makin enteng bukan? Bukan saja kepada mereka yang berbeda agama, tapi juga yang seagama. Pada siapapun yang berbeda maunya berantem terus.

Sedangkan konflik rasial terus dihembuskan dengan menciptakan permusuhan pada etnis Tionghoa. Yang paling bodoh mereka menyamakan segala hal berbau RRC dengan WNI berdarah Tionghoa. Itu sama saja RRC sebagai sebuah negara, jelas berbeda dengan WNI etnis Tionghoa. Suriname yang warganya berdarah Jawa juga gak ada hubungannya dengan Indonesia. Cuma ada hubungan sejarah. Tidak lebih.

Mengapa kebencian pada etnis Tionghoa terus dihembuskan? Selain menciptakan konflik horisontal juga usaha melumpuhan ekonomi kita.

Harus diakui, akibat kebijakan Orba, saudara-saudara kita etnis Tionghoa menempati posisi ekonomi cukup baik. Selama ini, karena trauma dengan kerusuhan 1998, orang-orang kaya lebih memilih menyimpan asetnya di luar negeri. Aset-aset inilah yang ingin ditarik kembali oleh Presiden Jokowi dengan program tax amnesty.

Langkah itu akan terhambat jika para pemilik aset besar itu, tidak merasa nyaman dengan kondisi Indonesia.
Bayangkan jika ketidaknyamanan ini terus terpelihara. Bukan hanya aset dari luar ogah masuk, justru malah duit di dalam negeri akan kabur ke luar.

Ini berakibat akan semakin beratnya ekonomi nasional. Rakyat susah. Lalu muncul ketidakpuasan pada pemerintah. Nah masalah ekonomi, konflik agama dan rasial merupakan paduan yang pas untuk memporakporandakan bangsa.

Dari semua usaha itu, kita lihat tampaknya seperti ada sekelompok orang yang sedang membangun landasan untuk mendaratnya kekuatan asing disini. Polanya sama dengan Suriah atau Libya. Ada orang yang hendak mengundang perampok masuk ke dalam rumah dan merampas harta benda kita.

Jika itu terjadi, siapakah yang paling menderita? Seluruh rakyat Indonesia. Termasuk spesies dengkul itu juga. Termasuk anak cucu keturunan mereka.

Sekarang mereka seolah bangga, seperti sedang memperjuangkan agamanya. Bergaya mau mencium bau surga. Padahal yang dilakukannya cuma merusak masa depan anak cucunya sendiri. Cuma menghadirkan neraka di negerinya sendiri.

Untuk menyelamatkan masa depan anak kita, tidak ada cara lain selain mengurangi populasi spesies dengkul ini dan menjaga jangan sampai terjadi konflik horisontal. Sambil terus memperkuat peran negara.

Jangan diam. Indonesia membutuhkanmu. Anak cucumu berharap besar padamu.
Dulu orang mengira diam itu emas. Sekarang diam sudah gak musim.
#EkoKuntadi #


Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah memiliki perbedaan yang jauh, sehingga jangan sekali-kali mencoba untuk mempersamakannya. Ilmu Tasawuf itu erat kaitannya dengan ilmu tarekat dan ilmu syariat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Mempelajari tasawuf tanpa syariat itu jelas tidak dibenarkan.

Untuk mempelajari tasawuf, harus mempelajari ilmu syariat dulu. Syariat sudah mengatur dan menjadi dasar. Kalau dipelihara dengan baik akan berbuah tarekat. Pakaian di antara tarekat tersebut adalah tasawuf. Ia mengatur bagaimana menjaga perbuatan, iman, amal dan Islam. Yaitu untuk mengantisipasi datangnya penyakit penyebab rusaknya amal, itulah yang disebut tasawuf. Maka itu inti tasawuf adalah akhlak dan adab atau sopan santun.

Ada orang yang diberi kelebihan oleh Allah (Swt) berupa ahlak dan adab. Ia memiliki kemampuan weruh sak durunge winarah, atau waskita, yaitu tahu sebelum kejadian. Bagi orang yang tahu, tidak akan berani berbicara sembarangan. Ia merasa malu kepada Allah karena mendahului kehendak-Nya.

16195194_1237850319634075_5273792581127415184_n

Orang yang mencapai tingkatan tasawuf yang berakhlak dan beradab, akan mempergunakan tasawuf untuk menjaga diri dari perbuatan yang tidak menguntungkan. Seperti bagaimana membersihkan riya’, atau bagaimana cara mem-bawa wudu yang maknannya bukan sekadar untuk menja-lankan shalat tapi di luar shalat. Tapi bisakah wudu itu, setelah menyucikan secara lahiriah, juga membuat suci batin. Ini hakikat wudu dalam dunia tasawuf.

Sedangkan ilmu hikmah berbeda.

Ilmu hikmah, asal dia mengetahui ilmu tauhid itu sudah cukup. Yaitu mempelajari fatwa ulama khususnya dan Baginda Nabi Muhammad (saw). Ulama yang mengetahui rahasia ayat, doa dan sebagainya sehingga bisa mengobati orang, berani tirakatnya, harus puasa sekian kali dan sebagainya, siapa pun asal siap mentalnya, bisa mempelajari ilmu hikmah itu. Untuk mem-beri pengobatan atau pertolongan itu, dengan jalur ilmu hikmah. Seperti supaya dagangannya laris, dan sebagainya, itu bisa dicapai oleh siapa pun. Ia mengetahui, membaca ini atau itu, bisa dipakai untuk jimat. Kalau ditaruh di toko, Allah (Swt) akan membukakan rezeki yang lebih banyak, dan orang yang membeli juga banyak— sebab ada doa yang mengandung pengabulan hajat tersebut. Itulah ilmu hikmah, yang terkait dengan rahasia ilmu Al-Qur’an untuk diman-faatkan manusia.

Bisa saja ilmu hikmah terkait dengan karomah. Tapi sebenarnya karamah itu dikhususkan bagi waliyullah atas kedekatan seseorang di sisi Allah dan Rasul-Nya. Sekali lagi saya tekankan, karamah bukan tujuan para wali. Tapi Allah (Swt) memberikannya. Jadi, mau diberi karamah apa pun, kalau Allah (Swt) memberi, sekaNpun tidak masuk akal bagi manusia, itu sangat mungkin terjadi. Karena Allah (Swt) tidak pernah terikat oleh akal manusia. Para wali mem-pergunakan karomahnya bila terdesak. Sekalipun mampu, namun karena malu, mereka tidak sembarangan menggu-nakan. Apalagi karena itu bukan tujuan. Mereka tidak membangga-banggakan karomahnya. Sewaktu-waktu bila terdesak dan sangat diperlukan, baru itu keluar.

Orang yang menjalankan ilmu hikmah diberikan karomah karena karomahnya ayat-ayat Allah swt, yaitu yang memiliki kandungan asrar (rahasia) luar biasa. Karena itu Allah swt. menurunkan karomah. Tapi hakikatnya bukan karomah si pelaku ilmu hikmah, melainkan karena pribadinya bertawasul kemudian mendapat karomah dari ayat-ayat tersebut. Sedangkan para wali tidak. Karomah yang mereka miliki langsung dari Allah swt, yang disebabkan karena penghambaannya kepada Allah. Demikian perbedaan Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah yang dikutip dari buku Nasihat Spiritual ala Habib Luthfi.


Upaya Terselubung Islam “Anyaran” Dirikan Khalifah Daulah Islamiyah:
1. Siapa di Indonesia yg tak kenal @NahdlatulOelama dan Muhammadiyah? Di atas kertas, merekalah dua organisasi Islam terbesar di RI.
2. Sekitar 85 juta umat Islam di Indonesia adalah NU, dan 50 juta Muhammadiyah. Artinya, sekitar 65 % seluruh penduduk muslim Indonesia.
3. Ini jumlah yg besar, tp dlm kenyataannya, tampaknya 135 juta anggota NU dan Muhammadiyah hanya sebatas besar di angka statistik semata.
4. Buktinya? Lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah tidak bsa lagi memegang kepemimpinan ummat.
5. Ummat justru dikendalikan oleh pergerakan Islam Trans-Nasional yg di Indonesia telah menjelma dlm wujud Islam “anyaran/baru”.
6. Mereka adalah penerus gagasan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tharir yg ingin mendirikan Khalifah Daulah Islamiayah.
7. Pelan2, mereka terus menggerus kepemimpinan NU dan Muhammadiyah yg masih setia dengan Pancasila dan NKRI.
8. Knp itu bisa terjadi? Krn kelompok Islam “anyaran” itu justru dibiarkan tumbuh subur di era SBY (2004-2014).
9. Dlm 10 th itu,kelompok Islam Trans-Nasional banyak dapatkan ruang hidup,dapatkan subsidi dan juga difasilitasi utk tumbuh.
10.Dengan cara itu, kelompok Islam Trans-Nasional makin besar.Mereka mulai motong kaki NU dan Muhammadiyah di Mesjid, pengajian, dan sekolah.
11. Awalnya Islam Trans-Nasional hanyalah kelompok kecil yg mulai hadir pd era tahun 1970-an.
12. Di era Orde Baru mereka masih tiarap, tapi setelah reformasi mereka mulai unjuk gigi.
13. Melihat tren ini, SBY justru membiarkan kelompok ini utk bergerak dan mengakomodasi mereka utk memperkuat kekuasannya.
14.Akhirnya, kelompok trans nasional tumbuh, bantuan asing dari timur tengah, dana Wahabi mengalir deras bersamaan dengan fasilitasi dari SBY.
15. Selama 10 tahun cukup untuk mereka membesar dengan dana asing yang tidak ber-seri (sangat banyak)
16. Mari kita lihat satu-persatu para Islam Trans-Nasional yg mulai membuat NU dan Muhammadiyah gigit jari.
17. Pertama, Ikhwanul Muslimin atau yang sering dikenal dengan nama Moslem Brotherhood kalau di luar negeri.
18. Didirikan di Mesir pada Maret 1928, saat ini mereka menyebar di 70 negara dengan menggunakan methode Halaqah.
19. Gerakan Ikwan terbelah mjd dua arus utama: Ikhwan Tarbiyah yg menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera.
20. Serta Ikhwan Jihad yg gunakan kekerasan yg jadi embrio Jamatul Muslimin, Jama’ah Islamiayah dan Jamaah Jihad yg berujung pd Al Qaeda.
21. Di Indonesia, Ikhwanul Muslimin dideklarasikan tahun 1994, lebih banyak gerak di kelompok Tarbiyah SMA dan Perguruan Tinggi (LMD/ LDK).
22. Setelah reformasi, mereka berubah bentuk jadi Komite Aksi Muslim Indonesia, lalu berubah jadi Partai keadilan dan selanjutnya jadi PKS.
23. Tujuan utama Ikhwan Tarbiyah yaitu membentuk Daulah Islamiyah dengan cara non kekerasan.
24. Mereka manfaatkan instrumen demokrasi dg dirikan partai dan merebut kursi di Parlemen untuk wujudkan cita2 Daulah Islamiyah.
25. Mereka turut bentuk jaringan Ikhwan Tarbiyah seluruh dunia, yaitu The International Forum for Islamic Parliaments (IFIP).
26. IFIP pernah adakan pertemuan di Indonesia tahun 2007 di Jakarta, bahkan Jakarta ditetapkan sbg Sekretariat IFIP.
27. Waktu itu SBY dengan bangga membuka acara IFIP di Jakarta m.tempo.co/read/news/2007… 
28. Sedangkan Ikhwan Jihadi atau Ikhwan sayap radikal muncul di Indonesia setelah dipicu oleh perang Afghanistan.
29. Dan gerakan ini menemukan bahan baku pada aktivis Darul Islam Indonesia (DII). Kelompok ini jg dirikan Jammaah islamiyah (JI) pada 1991.
30. Tujuan utamanya: Mendirikan Khilafah Islamiyah dengan menggunakan metode kekerasan allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/09/
31. Kedua, adalah Hizbut Tahrir yg menolak konsep demokrasi dan menekankan tentang paham kekhalifahan.
32. HTI jelas tidak menerima NKRI dan Pancasila HTI jg tidak mau hormat bendera merah Putih muslimedianews.com/2014/08/ustadz…
33. Metode perjuangan HTI adalah kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan.
34. Gerakan HT di Indonesia berawal dari aktivis masjid kampus Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor yg disebarkan melalui halaqah2.
35. Kader-kadernya HTI aktif melakukan sosialisasi dan kaderisasi dengan memanfaatkan Masjid2.
36. Sejalan dengan gerakan Tarbiyah, mereka juga lakukan kaderisasi ke sekolah dan kampus-kampus, selain mengajak ke pengajian HT Indonesia.
37. Karakter dari HTI : angkat isu struktural dan global, bahaya kapitalisme, dominasi USA serta sistem ekonomi dan politik alternatif.
38. Jawaban mereka (HTI) hanya satu: ganti NKRI dengan sistem Khalifah,Bagi mereka Khalifah adalah harga mati!!!
39. Ketiga adalah gerakan Salafi Dakwah dan Salafi Sururi yg berkembang dengan bantuan dana pemerintah Arab Saudi.
40. Awalnya mereka adalah alumni Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)Perkembangan mereka berbasis pesantren.

41. Keempat adalah Syiah yg berkembang setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menyebarnyanya alumnus Qum.
42. Di Indonesia muncul dua organsiasi Syiah: pertama, Lembaga Komunikasi Ahlul Bait yg merupakan wadah alumni Al Qum.
43. Organisasi kedua tergabung dalam IJABI yg lebih berkiblat ke Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah.
44. Pengikut Syiah keturunan Arab lakukan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri)Jaringan Syiah yg kuat ditemukan di Jatim dan Pekalongan.
45. Di era SBY, perkembangan Syiah dianggap ancaman ol kelompok Sunni termasuk Tarbiyah dan HTI krn Iran sangat mengganggu kepentingan Arab Saudi.
46. Inilah yg membuat kelompok Wahabi justru menyerang kelompok Syiah dan Ahmaddiyah.
47. Skali lg demi dukungan, menyingkirkan NU dan Muhammadiyah, maka jaringan SBY fasilitasi konflik Sunni-Syiah ini.
48. Kelima adalah Jamaah Tablig juga masuk kategori gerakan trans-nasional.
49. Jamaah Tablig ini berpusat di perkotaan dan bersifat non-politis. Anggotanya kurang lebih 20.000 orang.
50. Dlm 10 tahun di era SBY, gerakan Islam Trans-Nasional banyak menggerogoti basis2 organisasi massa.
51. Masjid2 NU dan Muhammadiyah mulai dikuasai oleh Ikhwan dan HTI. Jemaah Tabliq menggerogoti beberapa basis penting NU di perkotaan.
52. Sedangkan gerakan Salafi mengambil jemaah @NahdlatulOelama puritan dg pendekatan pesantren.
53.jadi strategi kuasai Mesjid dr kelompok Trans-Nasional relatif berhasil Dengan cara itu mereka menguasai Marbot,takmir sampai pendakwah.
54. Aktivitas mesjid digunakan untuk halaqah para Ikhwan dan HTI.
55. Selain itu para Ikhwan Tarbiyah (PKS) dan HTI aktif juga bergerak di sekolah dan perguruan tinggi.
56. Mereka masuk melalui dua cara: pertama, melakukan kaderisasi yg sangat agresif di forum Kerohanian Islam (Rohis).
57. Kader2 mereka aktif mendekati pelajar dan mahasiswa dengan pendekatan emosional, empati dalam Liqo.
58. Dan selanjutnya mengajak bergabung dlm Halaqah Jaringan kaderisasi seperti bergerak berjenjang dalam model sel-sel kecil.
59. Tentu ini mengherankan karena model kerja sel kecil ini awal muasalnya diciptakan oleh komunis internasional.
60. Pdhl kita tahu, kelompok Islam Trans-Nasional gaungkan anti-komunis, tapi cara penguatan jaringan ala komunis ternyata mereka pakai juga.
61. Dg kaderisasi di perguruan tinggi, gerakan Tarbiyah pelan2 masuk ke sektor negara jadi PNS, anggota TNI, Polri dan profesional.
62. Di era SBY mereka juga menikmati fasilitasi beasiswa dan tugas belajar ke luar negeri.
63. Di luar negeri mereka aktif membangun jaringan dan semakin terbentuk setelah kembali ke tanah air Joxzin Jogja.
64. Mereka kemudian mulai menguasai Mesjid kementerian/BUMN dengan pendakwah dari kader Tarbiyah dan HTI.
65. Dakwah lain yg dikembangkan adlh melalui media dan medsos Kelompok ini aktif mengisi acara dakwah di TV maupun radio @RRI TVRI Nasional.
66. Di era SBY mereka diberi ruang gerak karena SBY mengangkat Menteri Kominfo yang kader PKS @tifsembiring.
67. Dengan penguasaan kementerian Kominfo oleh Tarbiyah, mereka mengendalikan media resmi seperti TVRI, RRI dan Antara.
68. Dan menempatkan kader mereka di posisi eselon 1 sampai 3 untuk jaga kontrol internet dan medsos.
69. Mereka juga agresif menyediakan jasa Ustad-Ustad untuk mengisi pengajian-pengajian komunitas Islam.
70. TV yg memerlukan penceramah agama juga disediakan oleh mereka secara gratis Dan juga melakukan dakwah melalui pengajian di radio2.
71. Di media sosial mereka juga berjaya Pendekatan pada generasi muda dilakukan melalui media sosial baik WA Groups, BBM maupun SMS.
72. Hal ini membuat metode dakwah dari @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah menjadi ketinggalan kereta.
73. Bahkan para Islam Trans-Nasional sudah membentuk pasukan dunia maya (cyber army) di medsos.
74. yg bukan hy sebarkan dakwah ala Tarbiyah dan HTI tapi jg sebarkan fitnah dg bungkus dalih agama untuk mulai serang kelompok lawan mereka.
75. Kelompok Trans nasional terutama Ikhwan dan HTI mulai ubah strategi dg membuat aliansi strategis antar kelompok Islam dg berbagai nama.
76. Bisa menggunakan Forum Umat Islam (FUI) ataupun Front-front Aksi yg bersifat taktis seperti GNPF-MUI.
77. Dengan cara itu, mereka tidak terkungkung oleh dominasi kepemimpinan @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah.
78. Upaya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah juga dilakukan SBY dengan membentuk Majelis Dzikir Nurussalam.
79. Dg bentuk kelompok ini, SBY ingin punya kendali langsung atas massa Islam tanpa harus bernegoisasi dg NU dan Muhammadiyah.
80. Cara ini jg berkembang sejalan dg tren maraknya Habib dirikan kelompok Dzikir yg pengikutnya ribuan.
81. Kegiatannya sekilas hanya berdizikir, namun dengan acara itu, bisa jadi ajang baru untuk melakukan konsolidasi massa terutama anak2 muda.
82. Alasan itu yg melatar belakangi SBY memobilisasi Majelis Dzikir Nurussalam yg dipimpin oleh Utun Tarunadjaja pada thn 2000.
83. Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam disebut sebagai mesin politik dan mesin uang tim sukses SBY nasional.inilah.com/read/detail/25.
84. Kelompok Trans-Nasional melanjutkan aksinya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah.
85.Dengan cara merebut kepengurusan organisasi fatwa seperti Majelis Ulama Indonesia.
86. Dengan menancapkan pengaruh di MUI maka mereka bisa memberikan legitimasi pada aksi yg dipakai dengan bekal fatwa MUI.
87.Mereka memanfaatkan kelengahan NU dan Muhammadiyah pasca berpulangnya KH Sahal Mahfud.
88.Dien Syamsudin dan KH Mahruf Amin yg menggantikan Sahal Mahfud justru lebih bersikap oportunis pada kelompok Trans-Nasional.
89.Dua orang pengganti Sahal ini dikenal punya nafsu politik yg tinggi dan sptnya rela meninggalkan Muhammadiyah dan NU demi posisi politik.
90.Dengan penguasaan MUI ditambah dengan terbentuknya Front aksi, maka kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam.
91.kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam dari NU dan Muhammadiyah, serta bisa kendalikan agenda politik keumatan.
92.Ini yg jelaskan knapa kelompok Trans-Nasional setir ummat utk kep. politik ideologi, yakni terwujudnya Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan.
93. Berbagai cara mereka gunakan untuk menguji kepemimpian mereka (kelompok islam trans-nasional).
94.Mulai safari Maulid Nabi ke berbagai daerah, salat subuh berjamaah sampai dengan pengumpulan dana untuk bergerak.
95.Terakhir ada upaya untuk kumpulkan dana untuk danai kelompok teroris di Suriah cnnindonesia.com/nasional/2016.
96.Demi persatuan aksi Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan, para Islam Trans-Nasional terpaksa mau terima Rizieq sebagai pemimpin gerakan.
97.Walaupun kelompok islam trans-nasional ini tahu, bahwa Rizieq FPI dibesarkan oleh elit tentara.
98.Tapi mereka tahu jg tahu kelemahan Rizieq yg mudah dibeli oleh elit politik dan punya sejumlah “cacat” yg bs stiap saat utk disingkirkan.
99.@syihabrizieq didorong-dorong masuk perangkap makar Setelah itu gantian kelompok Ikhwan dan HTI yg akan memimpin.
100.Kelompok islam trans-nasional sudah siap mengganti Pancasila dan NKRI dengan Negara Khalifah Daulah Islamiyah.
101.Sekali lagi, kepemimpinan NU dan @muhammadiyah semakin jauh disisihkan secara sistematis.
102.Entah apakah NU dan Muhammadiyah merasa “tertampar” dengan berbagai aksi Islam Trans-Nasional belakangan.
103.Atau mungkin NU dan Muhammadiyah msh blm sadari ini? Mereka masih mrasa posisinya aman walau nyatanya sdh berdiri di atas batang lidi?
104. Ketika kepemimpinan NU dan Muhammadiyah jatuh, maka jatuh pula NKRI dan sangat mudah digantikan dg Negara Khilafah Daulah Islamiyah.
105. Semoga kita Indonesia masih bisa berharap munculnya kembali kepemimpinan ummat Islam di tangan Nu dan Muhammadiyah demi tegaknya NKRI.
Terimakasih semua saudara sebangsa setanah Air. JANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI KERAGAMAN DALAM BALUTAN NKRI. kita harus jeli membaca berita dan kita harus bersatu melawan penghianat negara.


Hari ini Rizieq diperiksa Polda Jawa Barat dalam kasus dugaan penghinaan terhadap Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan dasar negara, Pancasila. Sungguh sangat disayangkan, seorang pimpinan ormas yang mengklaim pembela Islam, malah dilaporkan karena diduga melecehkan Pancasila. Padahal dalam sejarahnya, ulama Indonesia tidak pernah melecehkan Pancasila.

Menerima Pancasila

Sejak dulu, ulama Indonesia telah mengakui Pancasila sebagai falsafah/dasar negara Indonesia. Bahkan ulama Indonesia adalah bagian dari mereka yang merumuskan Pancasila. Hal ini karena Pancasila merupakan konsensus bagi pelbagai arus ideologi politik, keragaman agama dan suku di negeri ini. Para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai pondasi bagi prosedur demokrasi yang meniscayakan kompetisi, pergulatan, dan perdebatan.

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi keislaman terbesar yang memainkan peran-peran masyarakat sipil yang mengakui Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Keduanya secara vertikal melakukan kontrol terhadap negara, tetapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat secara horizontal. Peran kedua ormas ini sangat membantu terciptanya masyarakat Indonesia yang damai dengan berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila.

Faktanya, NU sudah lama memutuskan bahwa Pancasila final sebagai ideologi negara Indonesia. Keputusan tersebut termaktub pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo 1984, bahwa Pancasila adalah ideologi negara. Para ulama NU memandang Pancasila sebagai falsafah yang memperkuat bangsa Indonesia.

Jika falsafah (Pancasila) bangsa goyah, maka goyah pula negara dan bangsa Indonesia. Ideologi dan kelompok anti Pancasila seperti Hizbut tahrir dan FPI merupakan ancaman nyata bagi keutuhan bangsa dan negara. Begitu juga Muhammadiyah yang menerima Pancasila sebagai ideologi negara setelah terbitnya Undang-undang nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi kemasyarakatan.

Menurut ulama Muhammadiyah, Negara Pancasila adalah “Daarul ‘Ahdi Was Syahadah” yang artinya negara Pancasila sebagai konsensus nasional (daar al’ahdi) dan tempat kesaksian (daar al-syahaadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (daar as salaam) menuju kehidupan yang maju berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT.

Bahkan pada level kemasyarakatan, organisasi-organisasi Islam Washatiyah (moderat) di Indonesia yang umumnya berdiri jauh sebelum kemerdekan Republik Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, al-Washliyah, Perti, Mathla’ul Anwar, PUI, Persis, Nahdlatul Watan, al-Khairat, dan lain-lain telah lama berkomitmen setia kepada Pancasila sebagai common platform dan dasar negara RI sekaligus landasan utama pluralisme masyarakat di negara bangsa Indonesia.

Semua organisasi ini -–di tengah perubahan politik Indonesia—  mengambil “jalan tengah” tidak hanya dalam pemahaman dan praksis keagamaannya, tetapi juga dalam sikap sosial, budaya dan politiknya.

Berkat kehadiran ormas ini Indonesia mampu tegak berdiri kokoh dari ancaman kelompok-kelompok radikal dan fundamental yang menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Para ulama Indonesia berpegang teguh pada adagium hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

Ulama-ulama Indonesia menyadari bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, kebhinekaan telah menjadi potret yang menonjol dari negeri ini. Bahkan J.S. Furnival, sosiolog terkemuka, mengatakan bahwa saat orang-orang Eropa sedang menghadapi berbagai macam persoalan dengan kebhinekaan, terutama pada tahun 30-an dan 40-an, Indonesia telah menjelma sebagai bangsa yang mampu menerima kebhinekaan.

Maka dari itu, peneguhan Pancasila sebagai ideologi negara sangat penting. Sama pentingnya dengan komitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan konstutusi negara. Sebagaimana pidato Megawati dalam ulang tahun ke-44 PDI-P yang mengatakan bahwa Pancasila menjadi rumah besar kebangsaan dan tempat bernaung keberagaman Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

Penista Pancasila

Sungguh sangat disayangkan jika ada individu atau komunitas yang mengklaim ulama tetapi menghina dan melecehkan Pancasila. Padahal, ulama adalah sosok panutan bagi umat yang tidak pernah sedikitpun menolak, apalagi menghina Pancasila.

Namun kini banyak individu maupun kelompok yang mengklaim dirinya ulama, namun tingkahnya bertolak belakang dengan keulamaan seseorang. Hal ini bisa kita lihat dari tindakan-tindakannya yang kerap membuat resah masyarakat.

Kelompok-kelompok ini kerap membuat perpecahan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia dengan membangun opini melalui isu yang berkaitan dengan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA). Bahkan mereka kerap membuat keonaran dan kekerasan yang jelas-jelas meresahkan masyarakat. Berulang kali tindakan kekerasannya mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kelompok radikal benar-benar menyebarluaskan permusuhan dan kebencian dengan melontarkan pernyataan dengan kata-kata kotor, seperti “bego”, “harus dibunuh”, “disalib”, “dipotong tangannya” dll. Perkataan dan tindakan ini tidak sedikitpun mencerminkan dirinya sebagai komunitas para ulama.

Padahal menurut Ibnu Katsir, ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan ilmu agama, dan pengetahuan yang dimilikinya diimplementasikan ke dalam hati, ucapan dan tingkat lakunya yang ramah dan lembut. Mereka dalam kesehariannya berdakwah dengan jalan damai, santun dan senantiasa menebar rahmat bagi siapapun.

Ulama mencerminkan kandungan ajaran dalam al-Quran sehingga tidak mungkin bertindak dengan aksi-aksi kekerasan. Karena perilaku kekerasan adalah simbol kebiadaban. Jika ada ulama yang berkata kotor, berperilaku anarkis dan menghina Pancasila, maka patut dipertanyan kredibilitasnya sebagai seorang ulama.

Tindakan Rizieq yang diduga menghina Pancasila adalah cerminan dari leluasanya kelompok radikal menebar kebencian dan merusak persatuan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah jangan pernah bermain-main dengan individu ataupun kelompok anti Pancasila. Sebelum nasi menjadi bubur, pemerintah dan aparat penegak hukum mesti menindak tegas perusak persatuan bangsa. – qureta