Archive for the ‘Filsafat’ Category


Pertama kali saya mendengar nama Jokowi ketika ada pemberitaan hangat mengenai mobil Esemka di Solo. Waktu itu Pak Jokowi masih menjabat sebagai walikota di sana. Jujur dan maaf pada Pak Jokowi, kesan pertama saya melihat Jokowi adalah beliau tidak ada kesan atau punya tampang sebagai pemimpin. Nggak cocok banget, sori ya Pak Jokowi, maafkan saya.

16832197_291102294640975_7119735565031267712_n

Namanya makin tenar ketika namanya disebut-sebut dan ternyata mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Ahok. Namanya terus tenar hingga memenangkan Pilkada DKI dengan menyingkirkan Fauzi Bowo alias Foke. Dua nama ini seolah menyedot perhatian media kemana pun mereka pergi dan beraktivitas. Dan hanya dalam waktu 2 tahun, setelah rumor sana-sini, Jokowi langsung mencalonkan diri menjadi Presiden dan ternyata juga menang setelah menyingkirkan Prabowo-Hatta.

Jujur, saya juga kurang sreg waktu itu. Kenapa Jokowi seperti kutu loncat? Jabatan walikota Solo belum selesai, sudah jadi Gubernur DKI Jakarta. Belum juga selesai periode pertama, sudah langsung lompat jadi Presiden. Saya rasa ini sangat konyol waktu itu. Saya sempat berpikir Pak Jokowi seperti orang yang haus kekuasaan, ada peluang langsung lompat dan rebut.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa Pak Jokowi bukan orang sembarangan. Kinerjanya telah membuka mata saya dan malah sekarang saya jadi bertanya-tanya apa saja yang sebenarnya dilakukan pemerintah dulu? Kenapa orang seperti Jokowi baru hadir sekarang, nggak dari dulu-dulu?

 Salah satu style yang saya sukai dari Pak Jokowi adalah slogan kerja, kerja dan kerja. Kalau kata orang tua saya, Pak Jokowi orangnya ligat dan tidak lamban kayak siput. Ini terlihat dari banyaknya infrastruktur dan proyek-proyek yang sedang dibangun dan sudah selesai. Kalau saya sebutkan satu per satu mungkin bisa dijadikan novel utuh. Salah satunya adalah pembangunan jalan seperti Trans Papua dan Trans Sumatera, perluasan dan pembangunan bandara, pelabuhan, proyek pembangkit listrik. Dan yang lebih hebatnya, untuk pertama kalinya sejak Jokowi memimpin, daerah luar Jawa mendapat perhatian khusus, tidak lagi mendapat diskriminasi seperti anak tiri yang terbuang. Lihat saja Papua yang sekian tahun tidak begitu dipedulikan. Hanya Jokowi yang benar-benar menaruh perhatian. Jokowi tidak lagi melulu fokus pada Jawa-sentris. Dan yang lebih hebat lagi, beberapa proyek mangkrak warisan pemerintah dulu, juga dikebut dan diselesaikan.

Kekaguman saya makin bertambah saat Jokowi menunjuk Menteri yang benar-benar kapabel dan kredibel, dan yang tidak sesuai harapan langsung di-reshuffle. Yang paling memorable bagi saya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang secara background juga tidak cocok, tapi siapa sangka dia mampu menjadi salah satu menteri terbaik di Indonesia. Terkenal akan ketegasannya dalam menindak pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia sampai-sampai dibuatkan meme dengan tagline pamungkas ‘Tenggelamkan!”. Hasilnya Indonesia sempat meraih nomor satu dalam pemberantasan illegal fishing.

Dan hanya di zaman Jokowi, pariwisata Indonesia benar-benar diperhatikan dan dibahas serius. Ini yang membuat saya salut. Bagaimana tidak, dari semua negara tetangga ASEAN, Indonesia adalah negara terluas, tapi kunjungan turis asing kalah telah Malaysia, Thailand bahkan Singapore yang luasnya hanya seupil pada peta. Malaysia mampu mendatangkan 24 juta turis, Thailand 32 juta Turis, Singapore 15 juta turis, sedangkan Indonesia tahun 2016 hanya kedatangan 12 juta turis. Halo, apa saja kerjaan pemerintah dulu? Potensi keindahan alam dan budaya sangat tak terbatas, tapi tak dimaksimalkan dengan baik. Negara tetangga sudah sadar akan potensi pariwisata dalam menggenjot devisa negara sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Tapi kenapa baru Jokowi yang menyadari potensi dan promosi besar-besaran demi target 20 juta turis di tahun 2019.

Salah satu hal yang membuat tertawa lucu adalah candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja. Candi ini dikunjungi 2,5 juta turis per tahun, bandingkan dengan candi Borobudur yang hanya dikunjungi 250 ribu turis per tahun. Kalah 10 kali lipat. Jelas nggak ada niat promosi dari pemerintah terdahulu. Kenapa tidak ada niat, tanya pada yang bersangkutan. Kawasan yang tidak lebih maju dari kota Indonesia, tapi bisa menang.

Jokowi memang kerempeng dan secara tampang kurang meyakinkan, tapi itu hanya kamuflase saja. Jokowi lebih dari apa yang terlihat dari luar. Kurus tapi sangat tegas dan tidak main-main, cepat dalam bekerja dan membangun. Dan yang terbaru adalah konflik RI dan Freeport yang memanas di mana Freeport mengancam akan menggugat pemerintah Indonesia ke Arbitrasi Internasional mengenai masalah Kontrak Karya yang diminta agar mengubahnya ke IUPK sebagai satu-satunya jalan agar Freeport dapat mengekspor konsentrat. Pemerintah tidak takut dengan ancaman dan gugatan Freeport ke Arbitrase Internasional dan siap untuk menghadapinya.

Jokowi juga terkenal jarang dan saya tidak pernah mendengar beliau mengeluh layaknya anak kecil apalagi mewek-mewek di media sosial mengenai betapa malang nasibnya, betapa sulitnya masalah yang dia hadapi. Saya tidak pernah dengar seperti itu. Bahkan dalam beberapa kesempatan, responnya malah santai dan tenang, mampu membawa diri dengan baik. Sisi lain yang menjadi nilai plus Jokowi adalah kesederhanaan. Tidak malu-malu membeli barang yang biasa-biasa saja.

Dan sebagai penutup, pada musim panas nanti, patung lilin Jokowi sudah siap dan akan dipajang di Madame Tussaud Hongkong berbarengan dengan patung Soekarno. Ini sudah menjadi bukti, bahwa Jokowi bukan orang yang pantas dikagumi. Tidak semua orang bisa menjadi objek patung lilin di sana. Bahkan sebelum dipastikan pembuatan patung lilinnya, Jokowi mengungguli Hillary Clinton dan Donald Trump mengenai siapa yang akan dibuatkan patung lilin. Luar biasa bukan?

Dulu mungkin saya tidak yakin, sekarang saya sangat yakin dengan kemampuan Pak Jokowi. Badan memang kerempeng, tapi nyali setara banteng, kinerja dan prestasi mentereng hanya dalam waktu 2 tahun lebih saja.

Don’t judge Jokowi by the appearance.

Bagaimana menurut Anda?

 


Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah memiliki perbedaan yang jauh, sehingga jangan sekali-kali mencoba untuk mempersamakannya. Ilmu Tasawuf itu erat kaitannya dengan ilmu tarekat dan ilmu syariat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Mempelajari tasawuf tanpa syariat itu jelas tidak dibenarkan.

Untuk mempelajari tasawuf, harus mempelajari ilmu syariat dulu. Syariat sudah mengatur dan menjadi dasar. Kalau dipelihara dengan baik akan berbuah tarekat. Pakaian di antara tarekat tersebut adalah tasawuf. Ia mengatur bagaimana menjaga perbuatan, iman, amal dan Islam. Yaitu untuk mengantisipasi datangnya penyakit penyebab rusaknya amal, itulah yang disebut tasawuf. Maka itu inti tasawuf adalah akhlak dan adab atau sopan santun.

Ada orang yang diberi kelebihan oleh Allah (Swt) berupa ahlak dan adab. Ia memiliki kemampuan weruh sak durunge winarah, atau waskita, yaitu tahu sebelum kejadian. Bagi orang yang tahu, tidak akan berani berbicara sembarangan. Ia merasa malu kepada Allah karena mendahului kehendak-Nya.

16195194_1237850319634075_5273792581127415184_n

Orang yang mencapai tingkatan tasawuf yang berakhlak dan beradab, akan mempergunakan tasawuf untuk menjaga diri dari perbuatan yang tidak menguntungkan. Seperti bagaimana membersihkan riya’, atau bagaimana cara mem-bawa wudu yang maknannya bukan sekadar untuk menja-lankan shalat tapi di luar shalat. Tapi bisakah wudu itu, setelah menyucikan secara lahiriah, juga membuat suci batin. Ini hakikat wudu dalam dunia tasawuf.

Sedangkan ilmu hikmah berbeda.

Ilmu hikmah, asal dia mengetahui ilmu tauhid itu sudah cukup. Yaitu mempelajari fatwa ulama khususnya dan Baginda Nabi Muhammad (saw). Ulama yang mengetahui rahasia ayat, doa dan sebagainya sehingga bisa mengobati orang, berani tirakatnya, harus puasa sekian kali dan sebagainya, siapa pun asal siap mentalnya, bisa mempelajari ilmu hikmah itu. Untuk mem-beri pengobatan atau pertolongan itu, dengan jalur ilmu hikmah. Seperti supaya dagangannya laris, dan sebagainya, itu bisa dicapai oleh siapa pun. Ia mengetahui, membaca ini atau itu, bisa dipakai untuk jimat. Kalau ditaruh di toko, Allah (Swt) akan membukakan rezeki yang lebih banyak, dan orang yang membeli juga banyak— sebab ada doa yang mengandung pengabulan hajat tersebut. Itulah ilmu hikmah, yang terkait dengan rahasia ilmu Al-Qur’an untuk diman-faatkan manusia.

Bisa saja ilmu hikmah terkait dengan karomah. Tapi sebenarnya karamah itu dikhususkan bagi waliyullah atas kedekatan seseorang di sisi Allah dan Rasul-Nya. Sekali lagi saya tekankan, karamah bukan tujuan para wali. Tapi Allah (Swt) memberikannya. Jadi, mau diberi karamah apa pun, kalau Allah (Swt) memberi, sekaNpun tidak masuk akal bagi manusia, itu sangat mungkin terjadi. Karena Allah (Swt) tidak pernah terikat oleh akal manusia. Para wali mem-pergunakan karomahnya bila terdesak. Sekalipun mampu, namun karena malu, mereka tidak sembarangan menggu-nakan. Apalagi karena itu bukan tujuan. Mereka tidak membangga-banggakan karomahnya. Sewaktu-waktu bila terdesak dan sangat diperlukan, baru itu keluar.

Orang yang menjalankan ilmu hikmah diberikan karomah karena karomahnya ayat-ayat Allah swt, yaitu yang memiliki kandungan asrar (rahasia) luar biasa. Karena itu Allah swt. menurunkan karomah. Tapi hakikatnya bukan karomah si pelaku ilmu hikmah, melainkan karena pribadinya bertawasul kemudian mendapat karomah dari ayat-ayat tersebut. Sedangkan para wali tidak. Karomah yang mereka miliki langsung dari Allah swt, yang disebabkan karena penghambaannya kepada Allah. Demikian perbedaan Ilmu Tasawuf dan Ilmu Hikmah yang dikutip dari buku Nasihat Spiritual ala Habib Luthfi.


Hari ini Rizieq diperiksa Polda Jawa Barat dalam kasus dugaan penghinaan terhadap Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan dasar negara, Pancasila. Sungguh sangat disayangkan, seorang pimpinan ormas yang mengklaim pembela Islam, malah dilaporkan karena diduga melecehkan Pancasila. Padahal dalam sejarahnya, ulama Indonesia tidak pernah melecehkan Pancasila.

Menerima Pancasila

Sejak dulu, ulama Indonesia telah mengakui Pancasila sebagai falsafah/dasar negara Indonesia. Bahkan ulama Indonesia adalah bagian dari mereka yang merumuskan Pancasila. Hal ini karena Pancasila merupakan konsensus bagi pelbagai arus ideologi politik, keragaman agama dan suku di negeri ini. Para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai pondasi bagi prosedur demokrasi yang meniscayakan kompetisi, pergulatan, dan perdebatan.

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi keislaman terbesar yang memainkan peran-peran masyarakat sipil yang mengakui Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Keduanya secara vertikal melakukan kontrol terhadap negara, tetapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat secara horizontal. Peran kedua ormas ini sangat membantu terciptanya masyarakat Indonesia yang damai dengan berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila.

Faktanya, NU sudah lama memutuskan bahwa Pancasila final sebagai ideologi negara Indonesia. Keputusan tersebut termaktub pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo 1984, bahwa Pancasila adalah ideologi negara. Para ulama NU memandang Pancasila sebagai falsafah yang memperkuat bangsa Indonesia.

Jika falsafah (Pancasila) bangsa goyah, maka goyah pula negara dan bangsa Indonesia. Ideologi dan kelompok anti Pancasila seperti Hizbut tahrir dan FPI merupakan ancaman nyata bagi keutuhan bangsa dan negara. Begitu juga Muhammadiyah yang menerima Pancasila sebagai ideologi negara setelah terbitnya Undang-undang nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi kemasyarakatan.

Menurut ulama Muhammadiyah, Negara Pancasila adalah “Daarul ‘Ahdi Was Syahadah” yang artinya negara Pancasila sebagai konsensus nasional (daar al’ahdi) dan tempat kesaksian (daar al-syahaadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (daar as salaam) menuju kehidupan yang maju berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT.

Bahkan pada level kemasyarakatan, organisasi-organisasi Islam Washatiyah (moderat) di Indonesia yang umumnya berdiri jauh sebelum kemerdekan Republik Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, al-Washliyah, Perti, Mathla’ul Anwar, PUI, Persis, Nahdlatul Watan, al-Khairat, dan lain-lain telah lama berkomitmen setia kepada Pancasila sebagai common platform dan dasar negara RI sekaligus landasan utama pluralisme masyarakat di negara bangsa Indonesia.

Semua organisasi ini -–di tengah perubahan politik Indonesia—  mengambil “jalan tengah” tidak hanya dalam pemahaman dan praksis keagamaannya, tetapi juga dalam sikap sosial, budaya dan politiknya.

Berkat kehadiran ormas ini Indonesia mampu tegak berdiri kokoh dari ancaman kelompok-kelompok radikal dan fundamental yang menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Para ulama Indonesia berpegang teguh pada adagium hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

Ulama-ulama Indonesia menyadari bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, kebhinekaan telah menjadi potret yang menonjol dari negeri ini. Bahkan J.S. Furnival, sosiolog terkemuka, mengatakan bahwa saat orang-orang Eropa sedang menghadapi berbagai macam persoalan dengan kebhinekaan, terutama pada tahun 30-an dan 40-an, Indonesia telah menjelma sebagai bangsa yang mampu menerima kebhinekaan.

Maka dari itu, peneguhan Pancasila sebagai ideologi negara sangat penting. Sama pentingnya dengan komitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan konstutusi negara. Sebagaimana pidato Megawati dalam ulang tahun ke-44 PDI-P yang mengatakan bahwa Pancasila menjadi rumah besar kebangsaan dan tempat bernaung keberagaman Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

Penista Pancasila

Sungguh sangat disayangkan jika ada individu atau komunitas yang mengklaim ulama tetapi menghina dan melecehkan Pancasila. Padahal, ulama adalah sosok panutan bagi umat yang tidak pernah sedikitpun menolak, apalagi menghina Pancasila.

Namun kini banyak individu maupun kelompok yang mengklaim dirinya ulama, namun tingkahnya bertolak belakang dengan keulamaan seseorang. Hal ini bisa kita lihat dari tindakan-tindakannya yang kerap membuat resah masyarakat.

Kelompok-kelompok ini kerap membuat perpecahan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia dengan membangun opini melalui isu yang berkaitan dengan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA). Bahkan mereka kerap membuat keonaran dan kekerasan yang jelas-jelas meresahkan masyarakat. Berulang kali tindakan kekerasannya mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kelompok radikal benar-benar menyebarluaskan permusuhan dan kebencian dengan melontarkan pernyataan dengan kata-kata kotor, seperti “bego”, “harus dibunuh”, “disalib”, “dipotong tangannya” dll. Perkataan dan tindakan ini tidak sedikitpun mencerminkan dirinya sebagai komunitas para ulama.

Padahal menurut Ibnu Katsir, ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan ilmu agama, dan pengetahuan yang dimilikinya diimplementasikan ke dalam hati, ucapan dan tingkat lakunya yang ramah dan lembut. Mereka dalam kesehariannya berdakwah dengan jalan damai, santun dan senantiasa menebar rahmat bagi siapapun.

Ulama mencerminkan kandungan ajaran dalam al-Quran sehingga tidak mungkin bertindak dengan aksi-aksi kekerasan. Karena perilaku kekerasan adalah simbol kebiadaban. Jika ada ulama yang berkata kotor, berperilaku anarkis dan menghina Pancasila, maka patut dipertanyan kredibilitasnya sebagai seorang ulama.

Tindakan Rizieq yang diduga menghina Pancasila adalah cerminan dari leluasanya kelompok radikal menebar kebencian dan merusak persatuan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah jangan pernah bermain-main dengan individu ataupun kelompok anti Pancasila. Sebelum nasi menjadi bubur, pemerintah dan aparat penegak hukum mesti menindak tegas perusak persatuan bangsa. – qureta


Anonim ~ Bulan begitu terang, kabarnya malam ini disebut supermoon, bersama beberapa teman kami menikmati malam itu di atas gunung Kendet di Tuban. Di kejauhan tampak seorang yg mendatangi kami. Saya menduga dia adalah penduduk asli desa ini. 

Wajahnya ditutupi oleh selembar sarung yg dikalungkan di lehernya. Kami mempersilahkan dia duduk dan menyuguginya secangkir kopi. 

Setelah beberapa lama kami bertanya identitas dirinya. Betapa terkejutnya kami saat ia memperkenalkan diri sambil menampakkan mukanya yg sangat buruk dan menyeramkan..

“Aku adalah iblis”…kata orang itu.

Beberapa dari kami spontan berkata, “laknatullah.. jiancook koe!”, kopi yg diminum temanku spontan nyemprot ke wajah orang itu.. pergi kau dari sini..!!, 

“Hai tenanglah… ada apa teman? Mana keramahan kalian, apa begini cara kalian melayani tamu.. kemana minggatnya sopan santun kalian”… kata iblis.

Suasana memanas kami berdiri bersiap jika sewaktu-waktu dia menyerang kami. Jelas setiap anak Adam adalah musuhnya. Dan dendamnya kepada Adam pasti akan dilampiaskan juga pada kami.
“Kau ini iblis, sumber kejahatan.. kami tak sudi berteman denganmu, kedatanganmu saja sudah merusak suasana ngopi kami”.. kata temanku
“Terserah apa katamu”, bantah iblis.. “Aku datang hanya ingin menikmati bulan purnama bersama kalian.. lagipula bukit ini juga bukan milik kalian,  kalian tidak berhak mengusirku..”
“Dengar kau iblis terkutuk, jangan kau uji kesabaran kami, bukit ini juga bukan milikmu, malam ini kami lah yg lebih dulu menempati bukit ini”…kali ini suara temanku meninggi
“Hahahaha… kalian manusia2 naif, apa kalian tahu, bukit ini sudah aku tempati sejak ribuan tahun lalu sebelum kalian lahir?!, kini tiba2 bukit ini jadi milik kalian, dan lalu   kalian juga ingin mengusirku.. 
“Apa buktinya kalau bukit ini sudah kau tempati ribuan tahun lalu hai iblis terkutuk”.. “bukit ini telah…
“Cukup, hentikan topik tentang bukit, ambil bukit ini untuk kalian,.. sergah iblis memotong ucapanku, “Hai, anak muda, kenapa kalian selalu mengutukku?” Katanya kalian manusia beradab, bisakah kita bicara seperti manusia baik2?!”, 
“Kau sudah tahu jawaban kami.. sebaiknya cepatlah pergi dari sini, kami tak bisa menerimamu, kami tak mau berteman denganmu”..kata kawanku.
“Kenapa kalian anggap aku ini buruk dan rendah, tolonglah, jangan angkuh pakai sok2an gitu,  jangan sok suci lah kalian..kata iblis.
“Hahaha.. kau menasihati kami tentang keangkuhan?.. lalu siapa yg yg dulu membanggakan diri dan merendahkan Adam, kau anggap dirimu lebih keren dari Adam hanya gara2 terbuat dari api ha? Bukankah kau si sok suci yg congkak blis.. kau juga yg menjerumuskan banyak orang ke kubang dosa”
“Itu salah manusia tauuu.. mereka sendiri yg mengikutiku, manusialah yg sering mendatangiku, mereka yg mau berteman denganku, mereka yg meminta nasehat2ku.. kalian para manusia ini aneh, aku dianggap musuh tapi dimintai nasehat. Jadi jangan salahkan aku jika aku menyesatkan musuhku”..
“Lagi pula bukankah aku hanya sekali berbuat dosa?…yaitu saat tidak mau bersujud kepada Adam. 
 “Hanya tak mau sujud pada Adam katamu?.. Kaulah biang kerok yg membuat anak2 Adam tersesat”..

“Aku kira kalian para manusia sering punya masalah dengan bahasa, apakah sama PELAKU dan PEMBISIK?”, kata iblis..
“Apa maksudmu?”… kata temanku
Iblis berkata, “Begini saja, mari kita berhitung. SIAPA YG LEBIH BESAR DOSANYA, MANUSIA ATAU AKU?”.
“Siapa yg pertama kali menumpahkan darah?”.. manusia atau iblis?”
“Bukankah putra Adam yg bernama Qabil adalah manusia pertama yg membunuh Habil?”.. aku akan tunjukan dosa2 manusia yg lain”.
“Saudara2 yusuf juga sangat bersemangat memisahkan anak kecil dari ayahnya Nabi Ya’kub.. Yusuf saat itu dimasukan ke sebuah sumur di sebuah lembah sahara yg sangat sepi sendirian, mereka bermaksud melenyapkan Yusuf”
Apa yg dilakukan manusia kepada Nabi Zakaria, ia menyerukan keadilan dan kesetaraan, tetapi kalian menjadikan ia sebagai musuh dan menyingkirkannya”
“Lalu Nabi Yahya, apa kesalahanya sehingga ia disembelih oleh manusia2 rakus yg takut terganggu kepentingan kotornya akan ajaran2 revolusioner dari Tuhannya?”
“Kemudian Isa putra Maryam, apa yg dilakukan manusia terhadapnya?” Bukankah manusia yg merencanakan sedemikian rupa untuk menyalip dan membunuhnya?”
“Saya tak habis pikir, apa kekurangan mereka?.. kalian manusia memang makhluk yg suka bertengkar dan menumpahkan darah antar sesama”.
“Saat mereka semua tiada, Tuhan masih berbaik hati mengirimkan Nabi terakhir yg paling sempurna ilmunya, paling baik akhlaknya, dan telah diberitakan oleh nabi2 sebelumnya akan kedatangannya. akal mana yg dapat menolak pesonanya, ia sempurna dari segala sisi.. dialah Muhammad sang Nabi, tapi kalian tidak membuatnya tenang, kalian malah rutin kobarkan perang saat ia menyampaikan risalahnya”..
“Hindun wanita Bani umayyah yg juga aktif memeranginya bahkan tega membelah jasad jenazah dan memakan jantung Hamzah pamannya”.
“Lalu manusia juga membunuh Ali dalam mihrab masjid saat shalat, bukankah pembunuhnya lebih layak dikutuk daripada aku. Pertama ia membunuh saudara Nabi sebaik-baik manusia, kedua ia membunuh Ali di dalam masjid, ketiga ia membunuh saat menjalankan shalat dan itu terjadi di bulan Ramadhan”.. tidak sampai disitu saja, manusia lainya juga meracuni putra Ali yg juga cucu Nabi bernama Hasan”. 
“Setelah keduanya tiada, cucu Nabi yg lain apa kau biarkan hidup tenang?”
“30.000 tentara muslim mengepung cucu Nabi yg lain bernama Husen, kafilah Husen hanya 100 an orang, Kalian bantai mereka setelah sebelumnya kalian kepung beberapa hari sampai tidak meminum setetes air pun selama 3 hari”.
“Saat Husen meminta air untuk seorang bayi yg seandainya diberi minum pun ia akan tetap mati, apa kalian berikan air?.. bukan air yg didapat, tapi justeru malah anak panah yg kalian kirim yg menancap di lehernya.
“Ribuan peristiwa tragis itu pelakunya MANUSIA, bukan AKU dan bukan juga dari bangsaku!”.
“Ah sudahlah, itu kan dulu.. duluu sekali. Ini tahun 2016 MEN. Mari kita lupakan itu”.. bantah kawanku.
Iblis berkata, tragedi itu tidak mengenal zaman dan tempat itu diingat kawan… taoi baiklah kita bicara sebatas yg kalian ingat.
“Seluruh ras Israel di dunia didatangkan ke Palestina untuk menduduki dan membuat pemerintahan Israel raya, penduduk asli Yahudi, kristen dan Islam yg sebelumnya hidup damai berdampingan diusir, dibunuhi dan ditindas sampai tahun sekarang”.
“Kalian tahu apa yg terjadi dengan Afghanistan?”…. hanya gara2 mencari seekor tikus Osama bin Laden juga kalian bakar lumbungnya, kalian porakporandakan negaranya,  kalian duduki dan tindas rakyatnya. Belum lagi Irak, Suriah, Lebanon, Libya dan yg baru2 ini Yaman. Ribuan orang mati, dan jutaan manusia menderita”.
“Saya tahu rencana busuk kalian yg merencanakan kehancuran negara Indonesia, Dulu kalian turunkan Soekarno, lalu Soeharto, kemudian Gus Dur dan sekarang kalian juga cari2 alasan untuk menurunkan Jokowi.. siapa pelakunya, siapa yg mendanainya.. aku atau makhluk munafik bernama manusia?!
“Itu semua karena bisikanmu, kaulah konsultan busuk politik manusia”…kata kawanku
“Kalian merasa pintar kan?!”.. oke, katakanlah semua ini adalah hasil hasutanku, katakanlah aku penasehat politik imperium barat yg mengincar negara kalian. Tetapi, masuk akalkah manusia meminta nasehat dan petunjuk dari makhluk yang dimusuhi?… sekali lagi, manusialah yg salah jika ia memelas minta nasehatku”..
“Kau kira aku suka berkumpul sama manusia2 tumpul akal kayak kalian ini”.. 
“Begini bliss.. semua peristiwa yg kau sebutkan itu bukan manusia seperti kami pelakunya”, kawanku mencoba membantahnya, tetapi iblis itu segera menyanggahnya.
“Diam kamu.. kau kira bisa lolos begitu saja dari kesalahan?!,  jangan coba2 cuci tangan.. jika kau kutuk aku karena memberi bisikan, maka, kutuklah diri kalian juga karena mendiamkan dan atau menyetujui kezaliman”. 
“Pembunuh onta Nabi Sholeh itu hanya satu orang, tetapi Tuhan memberi azab kepada semua orang di kota itu, TAHU KENAPA?… karena mereka bersetuju dengan pembunuhnya.. mereka cuek, diam atas peristiwa tersebut, padahal mereka tahu betul bahwa onta itu mukjizat yg dapat mendekatkan mereka dengan Tuhan, dan merekatkan hubungan mereka antar sesama. Jadi onta itu simbol tauhid dan persatuan macam garuda”
“Jadi, selain pelakunya langsung, ternyata Tuhan juga menetapkan dosa kepada kalian yg tidak terlibat secara langsung”.. 
“Saat “Tragedi Samarinda” kemarin, gereja yang di bom melukai anak2, kalian anggap itu hanya sebagai peristiwa biasa. Aku tahu kalian diam dan pura2 tidak tahu… dan kamu… iyaa kamu,  ustadz yg biasa ngomong sedekah itu loo, bukankah kamu yg kemarin mewek2 di medsos untuk sesuatu yg nggak penting, mana tangisanmu untuk setiap tragedi di negeri ini.. ternyata kau ini sama dengan aku, tapi kenapa kau selalu mengutukku?”
Kau juga… loh loh kok malah nengok kebelakang, kamu itu lo yg pakai sorban dan baju putih.. dari tadi kau ini plongaaa plongo.. kau ini jangankan berempati pada korban, kau malah menganggap “Tragedi Samarinda” itu sebagai pengalihan isu, seakan pengeboman itu diinginkan dan direncanakan oleh pihak korban”. Untuk persoalan ini aku kira kalian lebih layak jadi guruku” 
“Bagiku, kalian sama saja dengan umat Nabi Sholeh yg durhaka, diamnya kalian sama biadabnya dengan pelaku kejahatan yg pantas diazab di dunia sebelum di akhirat”.
Sebelum pergi aku ingin memberi nasehat pada kalian “JANGAN MELEMPARI RUMAH ORANG JIKA RUMAH KALIAN TERBUAT DARI KACA“… Kadang Gajah di pelupuk mata tak tampak justeru semut di seberang lautanlah yg tampak
Jadi, sebelum kau mengutuk aku, sebaiknya kutuklah diri kalian 100 kali”…

“Oiya.. kopi kalian kurang kental, kurang pahit, kurang manis dan yg pasti juga kurang enak cuk”…

Muhassabah

Posted: Juni 25, 2016 in Filsafat, Kasih Tuhan, sharing n completed

MetroIslam.com – Waktu itu saya iseng-iseng buka Group FB. Group FB ini tujuannya mempertemukan Aswaja dan Wahabi dengan model diskusi di dunia maya. Sejak saya menjadi member group ini, banyak argumentase-argumentasi berdasarkan dalil dan nas serta ijtihad para ulama sedangkan dari kalangan yang mengaku dirinya Wahabi, juga demikian. Baik yang pro dan kontra.

Perdebatan itu, dalam islam, tak dapat dihindari. Mengingat zaman saat ini adalah zaman yang jauh sekali dari zaman rasulullah dan banyak fitnah-fitnah kepada ulama` madzhab dan ashabnya.
Hal itu disebabkan perbedaan pendapat yang beraneka ragam dalam merespon alqur`an dan hadist, juga perbedaan cara pandang dalam menafsirkan alqur`an dan hadist. Artinya, dalam tulisan ini, saya tak akan membahas tentang perbedaan-perbedaan tersebut, agar tak menimbulkan polemik dan kecendrungan secara pribadi dan prinsip.
Tulisan ini berawal dari postingan salah satu admin berinisial AA yang secara dramatis melakukan perubahan yang besebrangan dengan pemahaman sebelumnya terhadap Syari`at Islam. AA seolah-olah menyesal telah mengikuti pemahaman lamanya itu. Dalam menjejaki islam dengan pemahaman lamanya itu, hati dan akalnya berkecamuk tiap harinya. Itulah proses awal, AA hijrah ke pemahaman Aswaja dan atau NU.
Berikut pengakuannya.
MENGAPA KIRIMAN SAYA YANG INI DI HAPUS, ,?
Sahabatku dan saudaraku Salafi yg saya cintai karena allah.
Mari kita bicara jujur, dan akui baik dengan lisan ataupun hanya dengan hati mari BICARA JUJUR DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH.
Saya hanya ingin sentuh hati sahabat salafi,
Dari hal yg paling kecil dulu,
Masalah SOMBONG YANG TERSEMBUNYI
Saya sewaktu masih ngotot dgn salafi , atau jika teman aswaja bilang wahabi,
Dimanapun saya sedang berjalan dalam kerumunan orang banyak, (luar dr salafi) jujur walau tanpa dgn ucapan, ada rasa Bahwa saya yg paling Suci, murni dan benar Pemahannya di banding org yg saya lalui ini..dlm hati saya mereka adalah org yg doyan bid,ah, mereka adalah org yg bodoh, dan mereka adalah org yg kotor, dan dlm hati saya Sayalah yg paling murni aqidahnya..karena dlm hal pakaianpun saya yg paling syar’i dibanding yg lain..
Perasa,an itu stiap hari dan setiap saat selalu timbul, dimanapun dan saat kapanpun , Perasa,an su’udzon terhadap sesama sperti begitu lekat dgn saya..
Saya berfikir Apakah perasa,an seperti ini adalah hidayyah,
Perasa,an ini selalu menghantui saya, jauh dari ketawadhu’an, jauh dari rasa saling menghormati,
Saya hanya lembut pada saat saya mengajak org untuk ikut pemahaman saya, saya begitu gigih jika ada yg mau,
Namun jika ajakan saya ditolak ada rasa kesal dan benci, dan saya merasa org tersebut telah sesat..
Saya gundah dgn perasa,an tersebut, padahal jelas tidak ada paksaan dlm islam. Tidak ada …!
Saya kmudian ngobrol dgn org toriqoh, yg selama ini saya cap sesat..lalu beliau berkata, ” Abu Sampaikan wahyunya sajja masalah dia iman atau tidak itu urusan allah, hanya allah yg bisa memberikan hidayah, manusia tidak akam mampu memberikan hidayah..
Subhanallah sungguh lembut hati org org toriqoh..saya semakin tertarik, dan ingim mengenal lbih dalm masalah toriqoh..
Sahabatku salafi, tanyakan pada hati dan diri kita, apakah kesombongan sprti saya diatas berlaku juga pada diri sahabat..??
Demi allah jawab dgn hati nurani..??
Mengapa semakin dlm kita masuk ke salafi mengapa pandangan kita sllu buruk kpd saudara muslim yg lain…Demi allah itu adalah penyakit hati, SOMBONG, TAKABUR, RIYA, UJUB, DAN DENGKI, ingin dipandang yg paling murni, Sehingga yg dikedepankan bukan akhlak namun Sudut pandang yg berbeda..
Ilmu tanpa akhlaq akan hancur..
Tanya pada dirikita apakah dihati kita ada rasa sombong ,memandang yg berbeda faham sebagai org yg tersesat…apa ini akhlaq rosul….?????
Mari sahabat mari kita berfikir dgn hati yg kernih dan lapang..
Kiyai kiyai yg kita anggap penyesat umat , lihat akhlanya..??
Jauh dgn kita, mereka tawadhu, mereka jauh lbih hebat keilmuannya tp mereka tidak congkak dan tidak sombong..
Sahabatku Saya keluar dari salafi wahabi, maafkanlah.
Demikian postingan AA yang saya copy tanpa ada editan sedikitpun, baik dari segi tulisan maupun titik dan koma tulisan tersebut. Dari situ saya menyimpulkan, bahwa penyakit hati saat ini kurang diperhatikan oleh banyak kalangan. Kita ketahui bersama, bahwa pengakit hati adalah pemakan pahala ibadah kita. Apalagi sifat-sifat yang telah saudar AA sebutkan di atas tadi. Sehingga, jika itu telah luput dari perhatian kita semua, Islam Rahmatan Lil `alamin, hilang dari stigma masyarakat nasional dan internasional. Ya. Walau memang ada campur tangan asing dan politik di sana, tapi secara garis besar, penyakit hati yang tak segera diobati.
Mengenai itu, tak perlulah saya cantumkan banyak nas dan hadist dalam tulisan ini, mengingat penyakit hati telah dimaklumi (banyak telah diketahui) oleh seluruh muslim. Riya`, `Ujub, Takabbur, dan Dengki, memberi banyak dampak buruk pada diri sendiri dan orang lain. Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkadang, kita sadar bahwa itu salah tapi kita lupa untuk membenahinya.
Untuk itulah, sadarnya AA menurut saya tak terlambat. Saya tertegun akan hidayah yg ia dapat. Mudah-mudahan, semua kita segera mendapatkan hidayah yang sama. Yaitu disembuhkan dari penyakit hati dan dijauhkan darinya. Sehingga, islam rahmatan lil`alamin tak hanya bergaung dalam pidato dan khotbah saja, tetapi akan terus berkibar dalam kehidupan sehari-hari kita. Wallahu`alam Bis-sowab…


Aziz Anwar Fahrudin – Dalam tiga minggu terakhir, mayoritas status di beranda Facebook-ku adalah soal LGBT. Iya, Facebook yang barangkali kamu buka rutin seperti minum obat (tiga kali sehari) atau waktu salat (lima kali sehari) itu; yang, tentu kamu sudah tahu, dibikin oleh Mark Zuckerberg, yang lahir di keluarga Yahudi dan kini ateis itu, yang terang-terangan mendukung LGBT dan karena itu berpotensi dilarang kalau-kalau Facebook masuk dalam kategori “mempropagandakan LGBT”. (Jadi, mulailah membayangkan hidup tanpa Facebook.)

Rata-rata orang pada memperdebatkan apakah homoseksualitas itu persoalan nature atau nurture; given atau socially constructed; bawaan atau penyimpangan; normal atau penyakit; dan seterusnya, dan seterusnya. Karena soal ini sudah banyak—atau mungkin sudah terlalu banyak—yang membahas, dan lagipula latar studiku bukan biologi, neurologi, psikologi, antropologi dan disiplin sains yang terkait, aku serahkan saja soal itu kepada para saintis—yang benar-benar saintis, tentu saja, yang memahami betul dasar filsafat sains, dan bukan saintis dadakan. Aku berharap para saintis yang benar-benar saintis itu menulis secara argumentatif dan populer, demi membantu para awam seperti aku ini untuk membedakan sains yang sejati dari yang pseudo-sains; biar tak mudah tertipu oleh sesuatu yang tampaknya saintifik padahal sejatinya selubung emosi dan kebencian (baik oleh yang pro- maupun anti-LGBT).

Anyhow, yang sebenarnya agak kurang mendapat pembahasan justru adalah bagaimana Islam—lebih persisnya hukum Islam, atau lebih tepatnya lagi fikih—menyikapi homoseksualitas. Orang-orang tampak menerima begitu saja pernyataan “homoseksualitas itu haram atau dilarang agama”. Maka di poin ini, perkenankanlah diriku, manusia yang fana ini, untuk ikut bicara.

Tapi sebelum lanjut, biar pikiranmu bisa lebih kalem dan tak keburu emosi, aku harap kamu tarik nafas dulu; seduh kopi kalau ada. Tenang, penjelasan fikih yang aku uraikan berikut sepenuhnya berdasar pada fikih klasik.

Jadi begini….

Pernyataan “homoseksualitas itu haram” itu maksudnya apa? Maksudku, yang haram itu orientasi seksualnya, perasaaanya, atau tindakannya? Kalau tindakannya, yang mana yang haram: pegangan tangan, pelukan, cipokan, oral sex, gesek-gesekan kelamin, petting, atau anal sex? Ini persoalan mendasar dan falsafi bila status “haram” itu dimaksudkan sebagai kategori hukum-fikih. Bahasa hukum sebisa mungkin terang-benderang, jelas definisinya, dan tak boleh ambigu.

Aku berupaya membuka-buka literatur fikih klasik, dan mencari-cari apa hukum homoseksualitas. Hal pertama yang hendak kutahu tentu saja apa istilah yang persis ekuivalen dalam fikih klasik dengan makna yang diacu oleh kata “homoseksualitas”. Subhanallah, sampai sekarang belum ketemu (atau jangan-jangan malah tidak ada) istilah homoseksualitas di fikih klasik. Istilah bahasa Arab-modern untuk homoseksualitas adalah “al-jinsiyyah al-mitsliyyah”; untuk gay: “mitsliy”; untuk lesbian: “mitsliyyah”; untuk biseksual: “muzdawij”; untuk transgender: “mughayir”. Aku belum nemu istilah-istilah semacam ini di fikih klasik. Bahkan istilah heteroseksualitas sendiri, yang bahasa Arab modernnya adalah “al-jinsiyyah al-ghayriyyah”, juga tak kutemukan secara persis dan literal di fikih klasik.

(Bagi kamu yang pernah baca-baca filsafat posstrukturalisme atau posmodernisme, ketiadaan istilah yang ekuivalen ini adalah problem krusial. Ketiadaan ini sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa dalam fikih klasik, homoseksualitas belum menjadi “issue”. Status ontologis dari homo/heteroseksualitas, yakni sebagai “orientasi seksual” (bahasa Arab modern: “al-tawajjuh al-jinsiy” atau “al-muyul al-jinsiyyah”), belum menjadi bagian “discourse”. Ingatlah satu adagium dalam posstrukturalisme: “il n’y a pas de hors-texte” (there is nothing outside the text). Apalagi istilah homoseksualitas itu sendiri baru muncul dan mulai populer di pertengahan abad 19.)

Lalu bagaimana mendapatkan hukum-fikih untuk homoseksualitas? Fatwa-fatwa modern berupaya mencari padanannya dengan istilah yang sudah ada di fikih klasik, yang sebenarnya tidak ekuivalen dan karena itu problematis, yaitu “liwath” (yang diderivasi dari nama “Luth”); dan homoseks kadang disebut dengan istilah peyoratif “luthiy”. (Aku agak hairan dengan derivasi ini; bukankah istilah demikian malah menggunakan nama Nabi Luth untuk perbutan yang dinyatakan dosa?) Barangkali karena inilah, di pikiran banyak Muslim, begitu terdengar kata homoseksualitas, yang terbenak pertama kali adalah bayangan menjijikkan tentang sodomi atau anal sex, dan sejenak lupa bahwa homo bukan hanya gay tapi juga lesbian.

Homoseksualitas dengan liwath tentu saja bukan padanan yang tepat, dan karena itu problematis. Definisi liwath dalam fikih klasik adalah “ityan ad-dzakar fid-dubur” atau memasukkan penis ke dalam lubang dubur, alias anal sex. Ada istilah yang mengarah pada lesbianisme, yaitu “sihaq”, tapi definisinya ambigu, yaitu “fi’lun-nisa’i ba’dhuhunna biba’dhin” (terjemah literal: perbuatan perempuan dengan perempuan), tanpa ada spesifikasi mendetil apa yang dimaksud “perbuatan” di situ. Makna leksikal dari sihaq adalah “ad-dalk” atau memijit-meremas (massage), entah persisnya meremas bagian mana.

Apa hukuman liwath dalam fikih klasik? Menurut mayoritas para faqih klasik: hukuman mati, dan sama statusnya dengan zina. Menurut mazhab Hanafi, bukan zina, dan tidak dihukum mati, tapi tetap berdosa dan harus dihukum ta’zir. Bukan zina karena, menurut mazhab Hanafi, tidak ada penetrasi penis ke vagina dan tidak memungkinkan pembuahan dan menghasilan keturunan—salah satu maqashid atau tujuan syariat pengharaman zina adalah untuk menjaga keturunan (hifzhun-nasl). Mengikuti epistemologi mazhab Hanafi, hadis yang menerangkan hukuman mati untuk tindakan liwath itu hadis ahad, dan hadis ahad tidak bisa jadi landasan untuk hukuman sekeras hukuman mati. Ini terasa kejam? Sekilas ya, tapi pada level praksis sebenarnya prosedur untuk membuktikan zina atau liwath sulit terpenuhi, yaitu adanya empat saksi yang melihat secara ‘live’ masuknya penis ke dalam vagina/dubur. Karena hukumannya keras, orang yang menuduh orang lain telah berzina/berliwath (istilah teknis untuk menuduh zina: “qadzaf”) hukumannya juga keras, yaitu 80 cambukan. Lebih detil soal ini, juga relevansi dan kontekstualisasinya untuk zaman ini, perlu pembahasan lain yang lebih panjang. Tapi izinkanku untuk sedikit berkata: Karena sulitnya prosedur pembuktian zina/liwath ini, amat sangat jarang sekali hukuman cambuk/rajam terjadi; dan ini membuatku curiga, jangan-jangan di negara mayoritas Muslim yang agak sering melakukan hukuman cambuk/rajam ada banyak tukang ngintip….

Oke, tarik nafas dulu. Sruput kopinya, dan mari kembali lagi ke soal homoseksualitas.

Membedakan homoseksualitas dari anal sex itu penting, karena keduanya memang tidak identik. Status ontologis dari yang pertama adalah orientasi seksual; sedang yang kedua adalah tindakan seksual. Ini sama dengan heteroseksualitas dan zina; yang pertama adalah orientasi seksual, sedangkan yang kedua—bila ia dimaksudkan dalam pengertian fikih yang ada hukuman hadd-nya—adalah tindakan memasukkan penis (lebih persisnya: sampai hilang hasyafah atau ‘helm’-nya) ke vagina perempuan di luar ikatan pernikahan atau perbudakan. Di samping itu, anal sex bisa dilakukan bukan hanya oleh homo tapi juga hetero; jadi homo tidak niscaya identik dengan anal sex. Lebih jauh, tindakan adalah sebuah pilihan, sementara orientasi seksual… well, soal ini aku tak tahu persis apakah ia muncul begitu saja seperti perasaan jatuh-bangun cinta atau merupakan pilihan.

Yang jelas, pada dasarnya yang menjadi wilayah hukum-fikih adalah tindakan. Dalam pelajaran mula ushulul-fiqh biasanya diterangkan bahwa domain fikih (maudhu’ al-fiqh) adalah “af’al al-mukallafin” atau tindakan orang-orang mukallaf (orang yang baligh dan berakal). Lebih persis lagi, tindakan yang dilakukan itu adalah yang berdasarkan kesadaran, pilihan (ikhtiyari), dan tidak terpaksa (ghayru mukrah). Ini sebenarnya sama belaka dengan dasar filsafat etika: perbuatan yang bisa dimintai pertanggungjawaban dan bisa dihakimi ethical/unethical adalah perbutan yang dilakukan secara sadar dan merupakan pilihan atau tidak terpaksa.

Sejauh yang kutahu, fikih tidak (atau belum?) mengatur orientasi seksual. Yang diatur adalah manifestasi tindakan dari orientasi seksual itu. Kalaupun ada hal batin yang diurus fikih (misalnya, “niat”), itu untuk menentukan apakah suatu perbuatan adalah ritual atau bukan; bernilai ibadah atau tidak—selain bahwa niat juga merupakan tindakan-batin yang bersifat pilihan. Ditambah lagi bila kamu menyebut homoseksualitas sebagai penyakit, ini semakin jauh dari domain fikih. Per definisi, penyakit tidak bisa dihukumi halal-haram. Kamu tak bisa mengatakan, misalnya, pusing, lumpuh, epilepsi, autis, atau gila adalah haram. Apa hukumnya penyakit? Ya disembuhkan—ini tentu kalau ada obatnya dan bisa disembuhkan. Menyatakan penyakit itu haram adalah sama dengan keluar dari domain fikih, kalau bukan malah berarti mengagresi wilayah yang menjadi otoritas disiplin ilmu lain.

Jadi yang haram dari homoseksualitas apa? Perasaan suka sesama jenisnya? Well, aku tidak tahu apakah ada hukum-fikih untuk perasaan, dan apakah perasaan macam itu adalah suatu hal yang lahir dari kesadaran dan pilihan sehingga bisa disebut “tindakan”. Kuduga kuat tidak ada pendapat ulama di fikih klasik yang menyoal hukum perasaan. Kalau ada dan barangkali kamu pernah baca di literatur fikih klasik, tolong aku dikasih tahu. Salah satu pertanyaan yang bisa menjadi bahan ilhaq untuk kasus ini bisa dimulai, misalnya, dengan mencari apa kata fikih klasik tentang hukum “perasaan saling mencintai antara lelaki dan perempuan yang belum menikah”. Dicatat ya, “hukum perasaan cinta”, dan ini nanti bisa melebar ke hukum marah, hukum benci, hukum sedih, hukum bahagia, dan seterusnya, dan seterunya. Juga, karena ini bahasa hukum, tentu saja harus jelas definisinya.

Atau yang haram dari homoseksualitas adalah isi pikirannya?

Tentang ini, kamu tahu, banyak lelaki heteroseksual yang ketika melihat wanita cantik bisa berimajinasi sangat liar. Bukan hanya berimajinasi bahkan, tapi dibincangkan bersama para lelaki saat berkerumun ngomong jorok dan mesum, dan membincangkan para wanita bak “benda”, seolah-olah wanita adalah alat pemuas libido. Tapi, dengan adanya “tindakan” mesum para hetero seperti ini tidak serta merta berarti heteroseksualitas per se itu haram, bukan? Sekali lagi, hal ini karena orientasi seksual, apalagi kalau disebut penyakit, tak bisa dijatuhi status haram.

Tapi sebenarnya adakah hukum-fikih bagi tindakan berpikir mesum? Dalil eksplisit dari al-Quran dan hadis belum pernah kutemukan. Tapi beberapa pendapat faqih klasik, memang ada, meski kadang ada yang pas, kadang ada yang tampak memaksakan dan meng-gathuk-gathuk-kan. Kukasih contoh: apa hukum bagi suami-istri yang sedang berhubungan badan tapi membayangkan dirinya sedang begituan dengan wanita/lelaki lain? Bagi kamu yang tahu bahasa Arab bisa membaca, misalnya, ini: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=15558 (di fatwa ini, karena tak ada dasar teks eksplisit dari nash, maka muncullah beragam pandangan dari yang mengharamkan sampai yang menyatakan jawaz alias tak apa-apa).

Atau yang haram dari homoseksualitas adalah berciumannya?

Hukum berciuman tentulah ada, dan relatif tak sulit untuk dicari, dan secara umum menyangkut hubungan hetero, bahkan sampai pada tata aturan ciuman suami-istri. Bagaimana dengan homo (gay dan lesbian)? Pendapat eksplisit dalam fikih klasik, kuduga kuat, tidak ada, karena istilah untuk gay dan lesbian sebagai kategori orientasi seksual itu sendiri memang belum ada (sekali lagi, kalau kamu menemukan, harap aku dikasih tahu). Pun kalau ada, kemungkinan besar ia akan di-ilhaq-kan dengan contoh-contoh kasus hukum bagi hetero yang berciuman dan status hukumnya akan dinilai dari dugaan ada-tidaknya berahi (mazhinnah asy-syahwah).

Uraian ini bisa diteruskan sampai detil untuk tiap tindakan, dan bisa membuat tulisan ini panjang. Kucukupkan langsung dengan menyatakan bahwa batas terakhir untuk jatuh dalam dosa besar bagi heteroseks adalah zina sedang bagi homoseks—yang sebenarnya juga berlaku bagi heteroseks—adalah liwath. (Baidewei, kalau stiker gay berciuman di salah satu medsos itu dianggap mempropagandakan homoseksualitas (yang dibayangkan identik dengan liwath); boleh tak kalau lagu-lagu atau film-film bertema pacaran dianggap mempropagandakan zina dan karena itu harus dilarang?) Dalam literatur fikih klasik, zina dan liwath masuk dalam daftar dosa besar (sering disebut al-kaba’ir atau kadang al-mubiqat). Ada bahasan dan perbedaan pendapat tentang mana dari kedua tindakan itu yang lebih besar dosanya. Bila yang dijadikan parameter al-Quran, cukup indikatif bahwa zina berada satu tingkat di atas liwath: zina ada istilahnya dalam al-Quran; liwath ada meski dalam bentuk derivasinya; homoseksualitas tidak ada [apa istilah untuk homoseks dalam al-Quran?]; hukuman zina disebut eksplisit dalam al-Quran; hukuman liwath tidak ada dalam al-Quran.

Jadi, begitulah, kalau kamu mau bicara tentang homoseksualitas dalam perspektif fikih dan hendak menjatuhkan status halal-haram. [Tarik nafas dulu…]

Uraian fikih di atas, seperti sudah kukatakan di atas, sepenuhnya bersandar pada fikih klasik-konservatif. Untuk menentukan keharaman dengan tegas, apalagi untuk persoalan interaksi sosial, memerlukan dalil yang eksplisit, kalau perlu memakai kata “jangan”; semakin eksplisit atau tidak ambigu dan semakin termaktub di rujukan level teratas dan dengan otentisitas tertinggi, akan semakin kokoh.

Tentu saja ada perspektif dari kubu reformis, progresif, liberal, atau apapun itu namanya: mulai dari reinterpretasi terhadap kisah kaum Nabi Luth (yang dipahami lebih sebagai kecaman terhadap pemerkosaan dan/atau pelecehan terhadap malaikat yang bertamu ke Nabi Luth, bukan pada orientasi seksual), adanya hint dalam al-Quran yang indikatif terhadap pengakuan eksistensi homoseksual, yaitu dengan frase “ghayr ulil-irbah minar-rijal”, sampai pada peninjauan pada praksis “Islam-historis” di masa abad pertengahan. Melihat sejarah seksualitas dalam Islam dalam hal ini bisa memperkaya perspektif: kamu bisa memulainya dengan riset tentang perbudakan amrad, ghulam, ghilman, ‘skandal’ di istana kekhilafahan, syair-syair Arab yang kadang vulgar menyampaikan homoerotisme, sampai pada bagaimana ketika Islam berjumpa dengan budaya yang memiliki identitas gender bukan biner (laki-perempuan) tapi bisa tiga bahkan lima, seperti di kawasan Afrika Baratlaut, Asia Selatan, atau bahkan di Nusantara, seperti tradisi Bugis (bissu, calabai, calalai), misalnya.

Namun demikian, hal-hal yang terakhir ini memerlukan uraian panjang dan bisa didiskusikan lain kali kalau ada waktu. Begitu.

elbowisblack.wordpress.com


MOJOK.CO ~ Saudaraku, pernahkah kamu merasa menjelaskan identitas keagamaan menjadi sama repotnya seperti menjelaskan orientasi seksual yang tidak berterima di masa kini?

Untuk kamu ketahui, saya cukup sering direpotkan dengan pertanyaan bernada “Kamu Islam apa?”.

Kali pertama saya disodori pertanyaan begituan secara intens adalah ketika saya ngaji pluralitas agama di Amerika. Sengaja saya katakan Pluralitas Agama, meskipun secara tertulis programnya bernama Pluralisme Agama.

image

Pertama, selain karena perbedaan persepsi di sana dan di sini, saya bosan selalu di sangka muslimah korban cuci otak Amerika kader sekularis-pluralis-liberalis. Kedua, saya sudah tidak lagi berbangga dengan identitas US Alumni untuk program itu.

Saya yang culun ini memang sempat merasa hebat bisa mempelajari toleransi dan pluralitas keagamaan langsung di Amerika. Padahal kalau mau keliling Nusantara, begitu banyak situs kebhinekaan yang bisa dipelajari. “Ngaji toleransi kok di Amrik,” kata kawan-kawan meledek.

Saudaraku, hampir seminggu ini saya hidup bersama puluhan santri pilihan se-Jogja Solo dalam rangka workshop menulis. Saya ikut sebagai panitia kegiatan setelah mendapat tawaran dari Kyai Anick HT. Tema workshop tersebut adalah Islam dan Kekerasan, dengan menonjolkan peran #SantriAdalahKoentji untuk menebarkan Islam rahmatan lil alamin melalui tulisan.

“Gue banget nih!” pikir saya seketika usai membaca TOR. Maka dengan berbekal semangat belajar dan mencari jodoh, saya pun berangkat ke Solo. Dan karena 99,99% peserta dan panitia berlatar belakang Nahdliyin, saya merasa akan aman dari pertanyaan “Kamu Islam apa?”.

Tetapi, sialnya, justru ketika menjadi 0,01% yang bukan Nahdliyin itulah pertanyaan annoying di atas terus muncul.

Sebagai satu-satunya panitia sekaligus peserta yang bukan santri (kecuali Pesantren Kilat bisa menjadikan saya santri), selalu ada dahi-dahi yang mengernyit ketika saya menyebut “Alumni UNS” dalam perkenalan, tanpa identitas ponpes tertentu.

Untungnya kita sama-sama membaca Mojok, sehingga kecanggungan itu bisa dipersatukan dengan membicarakan Mbak Kalis Mardiasih, yang menjadikan identitas “Alumni UNS saja” tidak terlalu salah untuk menjadi bagian kegiatan ini (meskipun Mbak Kalis belum menjadi alumni sih—mari kita mendoakannya).

Tetapi tentu saja Mbak Kalis tidak serta merta menyatukan kita begitu saja, sebab dalam waktu yang lain, pembahasan jilbab a’la Mbak Kalis justru menjadikan kita kembali berjarak.

Saudaraku, sungguh sebenarnya saya merasa terganggu ketika kalian membahas “para wahabi yang sibuk mengurusi jilbab panjang atau busana syar’i hanya untuk jualan baju”. Saya memang berjilbab lebar dan jualan gamis, tetapi apakah itu lantas menjadikan saya bagian dari Wahabi—yang dalam bahasan kalian diasosiasikan dengan Islam yang tidak rahmatan lil alamin?

Apakah pernah saya ribut-ribut soal para santriwati yang ukuran jilbabnya tidak selebar saya? Atau para santri yang celananya tidak di atas mata kaki? Atau pada penggunaan rok versus celana? Pernahkah saya menjadi menyebalkan dengan obrolan tampilan visual yang begitu-begitu saja?

Justru saya sedih, ketika pada pagi hari saya hendak senam menggunakan celana training berlapis rok, ada yang mempertanyakan kenapa saya berpenampilan demikian. “Pakai celana saja lah, kan mau olahraga,” katamu karena kita hanya akan melakukan Senam Pinguin yang geje itu. Tapi dia tentu tak pernah tahu betapa saya sudah terbiasa menggunakan rok sekalipun untuk memanjat pohon rambutan di samping rumah.

Saya juga sedih ketika para santri dan santriwati boleh saling mengatupkan tangan ketika bersalam-salaman sambil bersholawat, namun ketika tiba pada giliran saya kamu berujar, “Kan kamu bukan santri, jadi boleh salaman.” Sementara jika saya memilih tidak bersalaman, saya justru dibandingkan dengan anak Kyai yang mau bersalaman.

Cobalah kalian mengerti, ada manusia-manusia yang begitu mudah baper hanya karena disalami atau ditatap begitu dalam. Daripada saya baper dan menyusahkan hidup kalian, biarlah saya tidak bersalaman. Toh kita masih bisa Senam Pinguin bersama kan?

“Dari nama WhatsApp-nya, kukira dia mbak-mbak hijaber gaul modis, ternyata modis syar’i,” katamu kecewa. Mungkin dalam hati kalian mengira saya Wahabi karena jilbab lebar dan gamis longgar, sebelum saya mulai jualan memperkenalkan nilai-nilai perdamaian yang saya tuangkan dalam desain gamis.

Uh, betapa tabayyun bukanlah hanya untuk portal berita hoax.

Saya jadi takut, jangan-jangan kalau saya hadir sebagai muslimah bercadar, kalian juga akan langsung menjaga jarak dengan saya?

Ketika biasanya kalian para santri menjadi minoritas di antara girlband hijab, kalian tentu risih ketika mereka mempertanyakan tampilan kalian yang dilabeli “tidak syar’i, pemahaman kurang”, dsb. Padahal bisa jadi jumlah kitab yang kalian baca jauh lebih banyak dari mereka.

Tetapi, memang begitulah mentalitas mayoritas: sesuatu yang berbeda dari narasi mereka juga sudah pasti “perlu disesuaikan”.

Jujur saja, Saudaraku, dalam hal mentalitas mayoritas tadi, kalian  sama menyebalkannya dengan para girlband hijab itu.

Oh ya, dari tadi saya terus menyebut kalian Saudaraku, padahal belum tentu saya diterima sebagai Saudara kalian,  sebab saya kan bukan santri, juga bukan Nahdliyin.

Sungguh saya tak tahu, salahkah saya yang merasa begitu takdzim pada kepemimpinan Sang Kyai dengan juga mengagumi Sang Pencerah? Salahkah saya yang bergetar hatinya ketika mendengar sholawat Gus Dur dan juga menikmati puisi-puisi Rumi? Salahkah saya yang menyukai pemikiran Gus Mus sekaligus mengagumi keluasan pandang Salim A. Fillah? Begitu berdosakah saya yang sejak kecil ber-qasidah dengan lagu-lagu Haddad Alwi–yang katanya Syiah–lalu ketika besar menjalin pertemanan rumpi syahdu dengan Ukhti Fatimah Zahrah yang berbangga sebagai Ahmadi?

Saudaraku, tidak bisakah kita tetap bersaudara, sekalipun saya hanya menyebut identitas saya sebagai Islam saja, bukan Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam PKS Tarbiyah, Islam HTI, Islam Sufi, Islam Sunni, Islam Syiah, atau Islam Ahmadi?

elbowisblack.wordpress.com