Arsip untuk April, 2011


“Yang pasti sebelum John Heik perubahan yang sama pernah terjadi pada gereja Katolik di abad pertengahan, dimana gereja pada zaman tersebut mempunyai keyakinan bahwa hanya orang-orang yang dibaptis gereja saja yang akan menjadi ahli surga, hatta Nabi Musa As, dan Nabi Ibrahim As, bukanlah ahli surga , dan mereka bertempat di suatu tempat yang bernama “Limpu” yang tidak terdapat kenikmatan dan kesengsaraan, kemudian Nabi Isa As. pada hari kiamat memasukkan mereka ke dalam surga. Gereja Katolik kemudian melakukan perubahan tentang pandangan dan tata-cara pembaptisan dengan mencukupkan penyiraman air di atas kepala.”

 


Pluralisme agama merupakan suatu konsep dan pemikiran yang masuk dalam pembahasan teologi baru (kalâm jadîd). Istilah ini sebagaimana istilah-istilah lainnya yang terdapat dalam politik, etika dan moral, psikologi, sosiologi, filsafat dan teologi adalah terhitung istilah-istilah impor dari dunia Barat.

Kata pluralisme sendiri derivasinya dari bahasa Latin “pluralis” yang artinya kecenderungan pada banyak.

Pluralisme agama sebagai suatu perspektif teologi dalam wacana kejamakan agama-agama untuk pertama kalinya terungkap dalam dunia Kristen melalui John Heik (1922-1982). [2] Ia adalah seorang uskup dari suatu firkah kristen yang terdapat di Inggris. Ia banyak bergaul dan bekerja sama dengan orang-orang yang bukan Kristen seperti orang Islam, Hindu, dan Yahudi.

Hubungan dan kerjasama tersebut melahirkan suatu pandangan baru tentang agama-agama dan mazhab-mazhab. Pada akhirnya John Heik mengkritisi ajaran Kristen tentang pembaptisan, pengaruh gereja (pastor)  memberi keselamatan pada jamaah, dan keyakinan-keyakinan Kristen lainnya, dan yang paling penting serta paling sentral dari kritik dia adalah keyakinan menitisnya ((hulul) Tuhan (tajassud uluhiyyat)  pada diri Nabi Isa As. John Heik berkata: ” Saya sampai pada kesimpulan  bahwa bentuk keyakinan terhadap hulul dan atau tajassud lahut (alam di atas nasut, dunia) pada nasut (dunia) yakni hulul-nya Tuhan pada diri Isa Masih As. , sebagai suatu bentuk metaphor, majazi, dan atau legenda, bukan sebagai suatu proposisi berbentuk satu hakikat  murni”. [3]

Yang pasti sebelum John Heik perubahan yang sama pernah terjadi pada gereja Katolik di abad pertengahan, dimana gereja pada zaman tersebut mempunyai keyakinan bahwa hanya orang-orang yang dibaptis gereja saja yang akan menjadi ahli surga, hatta Nabi Musa As, dan Nabi Ibrahim As, bukanlah ahli surga , dan mereka bertempat di suatu tempat yang bernama “Limpu” yang tidak terdapat kenikmatan dan kesengsaraan, kemudian Nabi Isa As. pada hari kiamat memasukkan mereka ke dalam surga. Gereja Katolik kemudian melakukan perubahan tentang pandangan dan tata-cara pembaptisan dengan mencukupkan penyiraman air di atas kepala.

Toleransi dalam masalah agama yang dilakukan oleh gereja katolik sampai tataran memandang pengikut agama lain yang dalam kehidupannya bersih dan bermoral baik, meskipun mereka tidak menerima ajaran agama nasrani tetapi mereka bisa dianggap sebagai pengikut Nabi Isa Masih As, masih dipandang tidak cukup oleh John Heik, sebab pandangan ini masih menjadikan agama Kristen sebagai tolok ukur penerimaan agama-agama. Berasaskan tinjauan ini dia mengungkapkan suatu pandangan tentang kebenaran dan keselamatan semua agama-agama dan pangikut mereka sebagai pluralisme agama-agama.

Beberapa Terma Pluralisme dalam agama

Terma pluralisme dalam agama minimal mempunyai tiga penggunaan yang berbeda:

1.Hidup berdampingan dan toleransi

Pengertian pluralisme dalam hal ini idem dito dengan toleransi, yakni hidup berdampingan secara toleran untuk menghindari pertentangan dan peperangan di antara penganut-penganut agama yang berbeda. Dalam defenisi ini, kejamakan atau kebhinekaan diterima sebagai realitas kemasyarakatan, yakni pengikut masing-masing agama dan mazhab disamping memiliki keyakinan bahwa hanya ajaran dan jalan mereka saja yang benar serta penyelamat, akan tetapi menerima dalam pergaulan kemasyarakatan  pengikut agama dan mazhab lain, serta memiliki sikap saling menghargai, saling menghormati dan saling toleran.

2.Menyebarnya bagian-bagian hakikat  pada agama yang bermacam-macam

Pluralisme dalam bentuk satu agama yang datang dari Tuhan (hakikat agama adalah satu) namun  memiliki wajah dan rupa yang beragam. Perbedaan tidaklah pada substansi agama tapi dalam pemahaman agama. Sejumlah orang memahami perkara Tuhan dalam suatu bentuk maka mereka menjadi penganut Yahudi, sejumlah lainnya memahami dalam bentuk lain maka menjadi pengikut Nasrani, dan sejumlah lain berikutnya memahami dalam bentuk lain juga maka mereka menjadi orang-orang Islam.[4] Dan demikian pula pengikut agama-agama lain seperti agama Hindu, agama Budha, dan agama Majusi, mereka memahami perkara Tuhan dalam bentuk lain sehingga mereka berkeyakinan pada agama Hindu, agama Budha, atau agama Majusi. Menurut pandangan ini setiap nabi atau ilmuan memahami dan menjelaskan satu bentuk dari hakikat, dan dari sisi inilah muncul sebagian berpandangan tauhid, sebagian trinitas, dan sebagian lagi berpandangan politeisme. Tidak ada seorang pun berhak melebihkan satu pemahaman di atas pemahaman lainnya, sebab sesuai dengan pandangan ini, kita tidak mempunyai satu jalan lurus (mustaqim) dan bersifat mutlak, tetapi kita mempunyai jalan-jalan lurus (mustaqim) yang semuanya mengandung kebenaran.

3. Kebenaran pada semua agama-agama

Hakikat mutlak, keselamatan dan kebahagiaan akhirat tidak terbatas pada satu agama dan pengikut satu syari’at, tetapi hakikat mutlak adalah sama di antara semua pengikut agama dan syari’at. Agama dan syari’at yang bermacam-macam pada hakikatnya manifestasi dari hak mutlak, dan sebagai hasilnya, semua penganut agama dan syariat  menemukan petunjuk dan keselamatan.

Tiga bentuk teori penjelasan terhadap kejamakan agama

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri adalah terdapat agama dan syari’at  yang berbeda-beda serta bermacam-macam. Sebab itu kita membutuhkan penjelasan yang sempurna terhadap realitas tersebut supaya dapat menyikapi secara benar dalam hubungan dengan keragaman serta perbedaan yang ada. Dalam hal ini ada tiga bentuk penjelasan serta jawaban dari realitas kejamakan agama-agama:

1. Eksklusivisme

Para pengikut pandangan ini berkeyakinan bahwa kebenaran, keselamatan, kebebasan, kesempurnaan, serta apa saja yang menjadi tujuan akhir dari pada agama, terbatas hanya pada satu agama khusus, atau hanya bisa didapatkan lewat satu agama khusus. Dan adapun agama-agama yang lain meskipun mengandung sebagian hakikat kebenaran tetapi dibanding dengan agama yang hak, semua itu adalah batil. Oleh sebab itu menurut mazhab eksklusivis para pengikut agama-agama lain, meskipun mereka taat beragama, dan dari tinjauan akhlak mereka adalah orang-orang yang berakhlak baik, tetapi mereka tetap tidak akan bisa memperoleh keselamatan lewat agama mereka sendiri.

2. Pluralisme

Pandangan pluralisme merupakan tafsiran dari keragaman dan kejamakan agama-agama dari sudut kebenaran dan keselamatan para penganut agama yang bermacam-macam. Menurut pandangan ini meskipun hakikat dan realitas itu hanya satu, tetapi disaat hakikat tersebut tersentuh dengan pemikiran dan pengalaman keagamaan manusia (religius experience), ia mendapatkan warna dan keragaman. Oleh sebab itu,  lantaran semua agama-agama memperoleh bahagian dari hakikat, maka dalam hal keselamatan (salvation) semuanya bersekutu dan bersyarikat.

3. Inklusivisme

Dari satu segi pandangan inklusivisme seperti pandangan eksklusivisme, dalam pengertian pemikiran ini juga berkeyakinan bahwa hanya terdapat satu agama yang hak dan hanya agama itu yang dapat menyelamatkan umat manusia (kebenaran pada agama ini bersifat mutlak). Agama-agama lain juga mempunyai kebenaran, tetapi tidak sama dan tidak sesempurna dengan kebenaran agama yang hak (kebenaran pada agama-agama bersifat relatif).

Dan dari satu segi pandangan ini juga seperti pandangan pluralisme, yakni mereka berkeyakinan bahwa berkat inayah dan taufik Tuhan dalam bentuk manifestasiNya dalam berbagai dimensi pada agama-agama, setiap orang bisa memperoleh keselamatan  hatta jika orang tersebut tidak pernah mendengarkan prinsip keyakinan agama hak dan tidak mengetahuinya.

Landasan Pemikiran dan Teologis Pluralisme Agama

Pluralisme agama mempunyai landasan pemikiran epistemologis, dan teologis. Bagian epistemologis menitik-beratkan pada pembuktian kebenaran untuk semua agama-agama, sedangkan bagian teologis lebih banyak mengarah pada pengakuan keselamatan dan kebahagiaan para pengikut dari semua agama-agama. Demikian pula pluralisme agama dengan menggunakan konsep kesatuan substansi agama-agama, kejamakan hakikat, pemisahan noumen dengan phenomen, relativisme pengetahuan, pengalaman agama, kesetaraan argumen, gradasi dan keberadaan  batin hakikat, memaklumatkan kesamaan agama-agama dan mazhab-mazhab dalam meraih hakikat, hidayah serta keselamatan.

Berikut ini landasan paling penting dalam pluralisme agama:

1. Landasan epistemologis

a. Hermeunetik merupakan landasan epistemologi yang paling penting dari pluralisme agama. Orang-orang yang berdalil dengan ini berkata: Kita dalam tataran pemahaman (penetapan atau afirmasi) mengarah pada kejamakan makna-makna, dan antara derajattsubut (realitas) dan itsbât (penetapan, pembuktian) terdapat suatu hubungan. Keragaman dan kejamakan makna-makna ini mengungkapkan suatu struktur yang zatnya tidak tertentu, dan mendapatkan jalan lewat peristiwa makna-makna yang bermacam-macam. Dan ini menjelaskan bahwa  kita dalam alam teks dan simbol secara esensi dan realitas mengarah pada ketiadaan ketentuan. Alam makna secara esensi adalah alam pluralis dan tidak mempunyai makna sesungguhnya, sebab itu bisa mempunyai makna-makna yang jamak, serta teks secara esensi merupakan suatu perkara ambiguitas dan dapat meliputi beberapa makna. [5]

b. Landasan epistemologi yang juga sangat kuat mempengaruhi pluralisme agama datang dari pemikiran Immanuel Kant, yakni pemisahan noumen dengan phenomen, serta terdapatnya jurang pemisah yang dalam antara pengetahuan dan realitas. Pandangan ini kemudian menyebabkan pemisahan agama dengan pengetahuan agama, serta menafikan parameter kebenaran dan kesalahan dari  proposisi-proposisi agama.

2. Landasan teologis

Terdapat beberapa landasan teologis dalam hal ini, dan yang paling penting adalah pengalaman agama, dimana menurut pandangan ini pengalaman agama yakni pengalaman seseorang dalam  berhadapan suatau hakikat dari hakikat agama (seperti hakikat Tuhan, malaikat, dll)   yang pada umumnya memberi pengaruh akhlak dan emosi. Agama-agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul (alahimus salam), juga merupakan hasil dari pengalaman agama mereka, sebab itu agama tersebut berbeda-beda sesuai hasil dari pengalaman agama mereka.

Landasan teologis lainnya yang juga sangat berpengaruh adalah pemisahan inti dari kulit, substansi agama dari aksidennya. Menurut pandangan ini yang substansi dalam agama dekat pada Tuhan, dan atau proposisi akhlak yang terdapat pada ajaran agama, serta pengalaman agama, bukan proposisi hukum dan syari’at yang sifatnya intrinsik dan eksoterik, oleh sebab itu semua agama-agama memiliki substansi yang sama dan yang berbeda hanyalah aksidennya.

Apa yang menjadi landasan pluralisme agama di atas pada dasarnya tidak dapat kita terima dan benarkan sehingga meruntuhkan keyakinan kita akan kebenaran agama islam dan mensejajarkan agama ini dengan agama-agama lainnya dalam kebenaran teoritis dan praktis. Adapun pandangan hermeunetik itu sendiri  sangat beragam dan banyak, dan pandangan yang dapat diterima adalah yang mengakui suatu landasan kaidah (bahasa dan akal) dalam penafsiran suatu teks sehingga makna yang diperoleh adalah makna yang sebenarnya, bukan makna yang ada dalam benak pemikiran setiap dari orang. Sebagai ilustrasi bagaimana menurut anda jika suatu teks kedokteran berada di depan seorang dokter, fisikan, sejarawan, budayawan, antropolog, seniman, dan orang umum lainnya, apakah makna yang terpahami mereka yang berbeda-beda itu semuanya adalah sama? Atau makna yang dipahami oleh seorang dokter yang benar? Tentu anda sepakat dalam konteks ini bahwa teks kedokteran itu sendiri memiliki makna sebenarnya (sebab jika tidak demikian maka teks tersebut tidak dapat mengantarkan seorang dokter untuk mengetahui jenis dan macam penyakit yang menimpa tubuh manusia), dan orang yang dapat menangkap makna sebenarnya dari teks itu adalah orang yang mengerti dan memahami  bidang ilmu tersebut. Dan andaikan makna yang berbeda-beda tersebut dihubungkan dengan pengobatan terhadap seorang pasiaen, maka yang bisa disaksikan adalah kesalahan menangkap makna dan mengantisipasi penyakit yang bisa malah meracuni tubuh si pasien bukan mengobatinya. Demikian pula dalam disiplin agama, para ulama agama (dan di atas semua mereka adalah para nabi dan para maksum As) yang kapabel dalam mengerti dan memahami makna dari pada kitab suci, sehingga mereka dapat memberikan terapi yang tepat terhadap aspek kehidupan beragama pada tataran individu dan masyarakat.

Pemisahan antara noumen dan phenomen tidak berarti semua agama harus sama dari segi kebenaran, sebab kalaupun benar bahwa manusia tidak dapat menjangkau hakikat daripada agama (Tuhan), ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat menjangkau manifestasi daripada Tuhan. Para nabi dan rasul As secara gradasi sejarah membawa pesan Tuhan untuk umat manusia, dan mereka adalah manusia-manusia dari segi pencerapan manifestasi Tuhan mempunyai maqam yang sangat tinggi dan dekat dengan Tuhan, sebagaimana pengakuan dan pembuktian mereka semua lewat mukjizat yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Dan yang paling sempurna diantara mereka semua adalah pembawa risalah terakhir  dan agama terakhir, yakni rasulullah Muhammad  Saw dengan pembuktian mukjizatnya kitab suci al-Qur’an.

Adapun mengenai pengalaman agama para nabi yang menjadi salah satu landasan teologis pluralisme agama, di sini terjadi kesalahan pandangan dengan menyamakan pengalaman wahyu dengan pengalaman agama. Pengalaman wahyu bukanlah pengalaman agama, dan bukan pula pengalaman irfan dalam pengertian teoritis kedua pengalaman terakhir tersebut. Tetapi pengalaman wahyu adalah suatu pengalaman dalam pengertian yang lebih spesifik, dan terbatas pada nabi-nabi Tuhan yang membawa risalah agama Tuhan.

Inti agama pada dasarnya tak dapat dibatasi dengan pengetahuan luar manusia (sebagaimana batasan agama itu sendiri tidak dapat ditentukan oleh manusia), sebab sebagaimana dalam ajaran agama itu sendiri antara berbagai dimensi yang terdapat didalamnya, baik hukum syar’i, aqidah, akhlak, irfan, dan lainnya, semuanya memiliki hubungan yang sangat kuat antara satu sama lainnya. Yakni dalam agama berpegang pada satu dimensi dengan melepaskan dimensi lainnya akan tetap dicela oleh Tuhan, dan bahkan untuk mendapatkan kedekatan pada Tuhan, semua dimensi-dimensi agama haruslah benar secara teoritis dan praktis (aqidah dan amal). Oleh sebab itu menganalogikan ajaran agama dengan inti dan kulit adalah analogi yang salah, tetapi penganalogian yang mungkin lebih tepat adalah penganalogian pohon, yang mana pohon memiliki akar, batang, dahan, ranting, serta daun, dan kesemuanya itu mempunyai peran untuk pertumbuhan yang baik dan kelangsungan hidup dari pohon.

Cendekiawan Islam dan Pluralisme Agama

Pada masa awal Islam terdapat dialog antara kaum muslimin dengan penganut agama-agama lainnya, dan pada masa itu pula terjadi pertentangan antara pengikut agama baru ini dengan pengikut agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Metode Al-qur’an dalam hal ini pertama mengajak para penganut agama tersebut untuk menerima agama islam, dan pada tahap berikutnya mengajak mereka untuk kembali pada konsep yang sama  yang dimiliki (keyakinan pada Tuhan dan atau tauhid), dan pada tahap akhir mengajak mereka dalam kehidupan toleran yang sesuai dengan syarat-syarat kehidupan masa tersebut. Di masa Imam Ridha As, yakni masa kekuasaan Ma’mun, Imam Ridha As pernah diundang oleh penguasa dalam rangka dialog dengan ulama-ulama Yahudi, Nasrani dan Majusi, dan peristiwa dialog antara agama tersebut berjalan dengan baik serta tercatat dalam sejarah islam.

Ilmuan Islam yang menyentuh pembahasan  pluralisme agama  terhitung sedikit, dan yang terhitung awal dalam hal ini Muhammad Ghazali yang memiliki semacam kegalauan tentang keselamatan atau kesesatan para pengikut agama dan mazhab yang berbeda-beda yang  kebanyakan membentuk masyarakat beragama. Ia dalam kitab al-Munqidzu mina dhalâl menggambarkan perbedaan dalam agama-agama dan mazhab-mazhab ibarat lautan yang dalam yang kebanyakan dari mereka tenggelam kedasar, namun setiap firqah dari mereka tetap mengklaim hanya dia yang akan mendapatkan keselamatan. Imam Ghazali juga dalam karya lainnya punya pandangan jika pengikut Masehi  akan memperoleh  rahmat Tuhan dan ma’dzur (dimaafkan). Dan dalam pembahasan tersebut juga dia membawakan  hadits Nabi Saw tentang kebanyakan pengikut agama-agama dalam keadaan sesat, tetapi hadits tersebut dia berikan tafsiran.[6]

Ikhwân as-Shafa juga termasuk pendahulu yang punya gagasan tentang pluralisme agama, dan salah satu bentuk pandangan  mereka dalam masalah ini  keyakinan mereka bahwa tidak ada satupun agama yang kosong dari kebenaran. [7] (ibid)

Allamah Thaba-thabai Ra dan muridnya Murtadha Muthahari Ra termasuk orang yang punya pandangan dalam menyentuh pembahasan tersebut di zaman sekarang ini. Allamah Thaba-thabai berkata:” Islam menjadi hak orang-orang yang aqidah benar dan materi agama bagi mereka belum terjelaskan, atau sudah dijelaskan tapi belum terpahami, bagi mereka sangat mungkin memperoleh toleransi, dan mereka itu disebut orang-orang mustadh’afiin. [8]

Syahid Muthahari dalam menghadapi pertanyaan:”Apakah agama selain Islam diterima? Dan atau agama yang diterima terbatas pada Islam? Ia berkata: “Apakah sesuatu harus bahwa seseorang memiliki satu agama, dan maksimalnya bahwa agama itu memiliki hubungan dengan salah satu dari nabi-nabi utusan, dan tidak ada perbedaan diantara agama-agama langit tersebut? Seperti Muslim, Masehi, Yahudi, dan bahkan Majusi? Ataukah dalam setiap zaman agama hak tidak lebih dari satu? [9]

Dan Syahid Muthahari dalam buku Keadilan Ilahi untuk memecahkan masalah orang-orang yang dalam hidupnya senantiasa mencari hak dan beramal baik, tetapi tidak sampai menemukan agama islam  membagi islamnya seseorang dengan dua bahagian;

1. Islam fitri

2. Islam tasyri’i.

Dan menurut beliau orang seperti Descartes adalah seorang Islam (baca; Muslim) fitri, sebab dia senantiasa taslim (menerima) pada argumen benar dan taslim pada kebaikan.

Sebuah Isyarat  bentuk Pluralisme dalam bidang Fiqih

Didalam fiqih Islam (khususnya fiqih Syi’ah) disebabkan ketiadaan para maksum As di tengah-tengah umat Islam, maka suatu hal yang wajar menerima pluralisme dalam wilayah terbatas dari hukum-hukum fiqih yang tidak desisif (yaqini) dan tidak fundamental (dharuri). Dalam konteks ini tidak satu pun mujtahid mengatakan bahwa apa yang mereka dapatkan dan yang mereka fatwakan sebagai hukum waqi’i (hukum yang sebenarnya), tetapi mereka mengatakan apa yang didapatkan bagi mereka adalah hujjah, dan dalam pengamalan mempunyai sandaran (sanad) hukum. Oleh sebab itu dari segi ini para fuqaha Syi’ah mendapat julukan “mukhthi’ah“, yakni mereka punya keyakinan bahwa jika sampai pada  waqi’i, maka waqi’i (realitas sebenarnya) dan hukum waqi’i menjadi berlaku dan mendapat ganjaran, dan jika salah serta mendapatkan hukum non-waqi’i (sedangkan mereka telah bersungguh-sungguh dalam usaha mendapatkan yang sebenarnya), maka hukum seperti ini adalah ma’dzur bagi mereka.

Eksklusivisme dalam Islam

Agama Islam tidak menerima dakwaan kebenaran agama-agama lain, “Mereka berkata tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani, itu adalah angan-angan mereka, katakanlah datangkan argument kamu jika kamu adalah orang-orang benar”(Qs al-Baqarah [2]:111), tetapi Islam dari sisi kebenaran mempunyai pandangan eksklusif, “Sesungguhnya agama disisi Tuhan hanyalah Islam…” (Qs. al-Imran [3]:19), “Dan barang siapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang rugi” (Qs. al-Imran [3]:85). Tetapi mungkin saja sebagian orang dapat menemukan dan menggunakan sebagian ayat-ayat suci al-Qur’an untuk pembuktian pluralisme agama, seperti ayat dalam surah al-Kafirun. Namun  al-Qur’an dalam hal ini tidak mungkin sama sekali membenarkan pluralisme agama-agama (pembahasan ayat dari surah al-Kafirun akan menyusul). [10]

Agama Islam yang merupakan paling akhir agama Tuhan juga adalah satu-satunya jalan keselamatan dan jalan mustaqim, ayat : “Tunjukilah kami jalan mustaqim, jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang dimurkai dan bukan juga jalan orang-orang sesat” (Qs. al-Fatihah [2]: 5-7). Dalam ayat-ayat ini sifat afirmasi dan negasi kedua-duanya disebutkan, yakni jalan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat Tuhan adalah jalan afirmatif, dan jalan orang-orang yang dimurkai serta jalan orang-orang sesat adalah jalan negatif. Dan dalam surah an-Nisa ayat 69 berkenan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat, Tuhan berkata:”Dan barang siapa mentaati Allah dan rasulNya, maka mereka bersama orang-orang yang Allah telah beri nikmat terhadap mereka, dari nabi-nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh, dan mereka adalah sebaik-baiknya teman”. Sebaliknya dalam surah al-Maidahayat 60 berkenan dengan orang-orang yang dimurkai (orang yahudi), Tuhan berfirman:”Orang yang Allah telah melaknatnya dan murka atasnya dan menjadikan di antara mereka kera dan babi”, dan begitu pula di surah yang sama ayat 77 tentang orang-orang sesat (orang Nasrani), Tuhan berkata:”….sungguh mereka telah sesat sebelumnya dan menyesatkan kebanyakan serta mereka benar-benar telah sesat dari jalan benar”.

Dalam surah al-Fatihah kata “Shirath-Mustaqim” datang dalam bentuk ma’rifah (dikenal), dan huruf alif serta lam dalam kata tersebut bukan untuk jins atau umum, tetapi untuk‘ahd (janji), yakni shirath-mustaqim yang dijanjikan, itulah shirath-tauhid jalan pengesaan dan penyembahan pada Tuhan, sebagaimana pada ayat lainnya Tuhan berkata:”Dan sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia, inilah Shirath-mustaqim” (Qs. Maryam [19]:36). Dan shirath-mustaqim yang dijanjikan ini adalah jalan para nabi As, shiddiqin (orang-orang benar), syuhada (jamak: syahid) dan orang-orang saleh, seperti Tuhan berfirman tentang Nabi Musa As dan Nabi Harun As:“Kami memberi petunjuk pada keduanya shirth-mustaqim” (Qs. as-Shaffat [37]:118). Oleh sebab itu seluruh nabi dan rasul As membawa satu jalan, dan jalan itu shirath-mustaqim tauhid murni yang tidak lebih dari satu.

Surah al-Kâfirun dan pluralisme agama

Mungkin ada orang dengan bersandarkan surah al-Kâfirun menetapkan pluralisme agama dalam agama Islam, sebab dalam surah ini Tuhan berfirman:”Katakanlah wahai orang-orang kafir tidak akan aku sembah apa yang kamu sembah, dan tidak kamu sembah apa yang aku sembah, dan selamanya tidak aku sembah apa yang kamu sembah, dan tidak pula kamu sembah apa yang aku sembah, bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku” (Qs. al-Kafirun [109]:1-6). Menurut orang yang menetapkan pluralisme agama, makna dari ayat-ayat ini menjelaskan bahwa agama islam untuk orang-orang islam adalah agama terpilih, dan agama-agama selain islam untuk orang-orang non-Islam adalah tetap terhitung terhormat dan mulia, serta setiap orang bisa tetap dalam agama atau ideologi khusus yang dalam batasan masing-masing adalah benar. Tetapi makna yang benar dari ayat-ayat tersebut adalah kebalikan dari pandangan di atas, sebab surah ini bertujuan menolak pandangan pluralisme  agama dalam agama, bukan menetapkannya. Yakni al-Qur’an lewat penjelasan Nabi Saw tidak mengatakan  agama kamu dan agama saya adalah sama-sama hak, sehingga pluralisme agama adalah benar, tetapi menafikan pandangan dari pluralisme agama. Salah satu dalil dari itu, surah al-Kafirun diturunkan berkenan peristiwa orang-orang musyrik Mekkah menawarkan dan mengusulkan pada Nabi Saw bahwa satu tahun Nabi Saw dan kaum Muslimin menyembah berhala-berhala mereka, dan satu tahun berikutnya mereka menyembah Tuhan islam, dan tahun ketiga Nabi Saw menyembah berhala-berhala (tuhan-tuhan) mereka, serta pada tahun keempat mereka yang akan menyembah Tuhan kaum Muslimin. Bentuk tawaran dan usulan ini pada hakikatnya suatu bentuk pluralisme, tetapi Tuhan menjelaskan pada rasulNya  hak jika bercampur dengan batil  maka kehilangan esensi dan hakikatnya, hak harus dalam kemurniannya dan jangan sampai kebatilan mendapat jalan masuk di dalamnya. [11]

Jadi pada dasarnya dari sisi hak dan kebenaran,  agama islam tidak menerima agama-agama lain, dan jika hanya karena main-main dan sandiwara menerima kebenaran agama islam, maka lebih baik  tidak menerimanya, sebab beragama bukan perkara mudah, tetapi berkenan dengan kesempurnaan insaniah, keselamatan, dan kebahagiaan akhirat.  Kesimpulannya surah al-Kafirun bukan mengafirmasikan pluralisme agama, tetapi malah sebaliknya menegasikannya.

Kebenaran dan masalah kebahagiaan akhirat

Apakah hanya orang-orang Muslim atau pengikut agama Islam yang akan masuk surga? Atau pengikut agama-agama lain juga akan mendapatkan keselamatan akhirat dan mendapat ganjaran kebahagiaan surga? Dalam pembahasan sebelumnya diuraikan bahwa agama Islam dari sisi kebenaran dan hak mempunyai pandangan eksklusivisme. Dan ini adalah sesuatu yang benar, yakni diantara agama-agama yang ada hanya satu dari mereka yang hak, dan yang lainnya dimurkai Tuhan atau menyesatkan. Tetapi perlu diketahui dimensi kebenaran bukanlah dimensi keselamatan, meskipun kebenaran itu sendiri korelasinya adalah keselamatan. Dan  jika seseorang dengan pengetahuan dan sengaja mengingkari kebenaran agama hak serta tidak bertaubat, maka layak baginya azab dan siksaan Tuhan di akhirat. Namun melazimkan hal sebaliknya tidaklah benar, yakni tidaklah demikian bahwa hanya orang-orang yang memeluk agama hak dan beramal sesuai tuntunan serta syari’atnya yang akan selamat, tetapi orang-orang yang tidak mendapat kebebasan dan tidak menjangkau pengajaran agama hak, dan kalaupun menjangkau tidak sanggup memahami, seperti anak-anak, orang gila, laki-laki dan perempuan yang lemah pikirannya, mereka ini meskipun tidak beragama hak tidak akan masuk neraka. (Qs. an-Nisa [4]:97-99) Allamah Thabathabai berkenan orang-orang mustadh’afin berkata:”…kemudian dikecualikan dari itu orang-orang mustadh’afin, dan diterima permohonan maaf serta udzur dari mereka yang disebabkan kelemahan…” [12]

Menurut pandangan filosof islam seperti Ibnu Sina dan Mullah Shadra kebanyakan orang-orang yang tidak meyakini kebenaran (agama hak) adalah orang-orang “qâshir” bukan “muqashshir“, dan orang-orang seperti ini jika tidak mengenal Tuhan secara hak tidak akan diazab, meskipun juga tidak akan masuk surga. [13] Jadi orang-orang yang hanya akan mendapat siksa adalah orang-orang muqashshir, yakni orang-orang yang mendapat kebebasan, keluasan serta mampu menjangkau pengajaran kebenaran tetapi secara sengaja tidak menghiraukan itu semua. Allah Swt berfirman:“Dan tidaklah Kami hancurkan suatu qaryah (wilayah) kecuali baginya pengingat (pada kebenaran) dan Kami tidaklah dzalim” (Qs. as-Syu’araa [26]:28-29), yakni orang-orang yang tertimpa azab Tuhan adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendapatkan hujjah yang sempurna tentang kebenaran perkara Tuhan. Oleh sebab itu kita bisa simpulkan bahwa dimensi keselamatan dan kebahagiaan akhirat dalam Islam  tidaklah totalitas  masalah kebenaran, dalam pengertian dimensi keselamatan lebih luas dari dimensi keyakinan dan beragama hak.

“Dan dengan Rahmat-Mu yang keluasannya meliputi segala sesuatu”. [14]

 


[1] . Penulis adalah santri program S2, jurusan Filsafat & Irfan, di Univeristas Imâm Khomeini Ra , Qum

[2]. Kalâm-e Jadid, Abdul Husain Khusrapanah,  hal. 163 .

[3] . Maudu wa Baths darbare Pluralisme Dini , hal.32

[4] . Pluralisme Dini dar bute Naqd, hal.41)

[5] . Pluralisme Adyân , hal.62)

[6] . Bar-rasi-e dar Pluralisme, hal.18)

[7] . Ibid.,

[8] . Tulu’e Syi’ah, Allamah Thaba-thaba’i, hal.8

[9] . Majmu’-e ?tsâr jilid.1 hal.267

[10] . Din Syinâsi , Ayatullah Jawadi Amuli, hal.222

[11] . Ibid.,

[12] . Tafsir al-Mizân, jilid 5, hal.51

[13] . Din Syinâsi , Ayatullah Jawadi Amuli, hal.94

[14] . salah satu penggalan doa Kuma’il.

sumber : klik

 

Iklan

WillyNews, Unik. Itulah judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewisdengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.
“Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yangpaling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)
Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.
Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’. Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.
Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa. Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya, John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.
Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III. Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904. Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan. Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.
Sergius III sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia. Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.
Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi kepausan dari tahun 886-950 Masehi: “Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.
Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Inquisisi adalah salah satu dari institusiKristen yang paling jahat (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, McMillan London Limited, 1991).
Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris.
Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.
Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja.
Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya.
Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks Buku-Buku Terlarang sampai hampir 200 tahun.
Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.
Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya, menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.
Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.
Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.
Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.
Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”.
Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.
Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep tidak mungkin salah dari Gereja (infallible)………………………