Arsip untuk Februari 6, 2011


Tuhan Menjamin Kepalsuan Bibel (Jawaban untuk Kursus Kristenisasi Online)
Sebuah iklan kristenisasi berlabel “Kursus Ilmu Perbandingan Agama” di situs berita nasional, meresahkan para netter Muslim. Dalam iklan tersebut terpampang kalimat menggiurkan sbb: “Ilmu Perbandingan Agama. Tahukah Sdr. Siapakah Isa Al-Masih? Free Kursus Online dengan Sertifikat. http://www.######islam.com.”

Iklan tersebut meresahkan umat Islam, karena website yang menamakan diri komunitas “Isa&Islam” tersebut adalah murni pemurtadan/kristenisasi dengan membelok-belokkan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an. Parahnya, iklan kristenisasi itu terpampang dalam berita bertajuk “info haji.”

Sebetulnya, bagi orang yang paham agama, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari website pemurtadan itu. Namun situs itu berbahaya bagi orang awam yang jahil terhadap agamanya.

Semua materi yang diajarkan dalam kursus gratis ini dangkal dan mengelikan, hanya mengandalkan pelesetan kata yang tidak logis dan tidak ilmiah. Misalnya, untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, admin website mengutip surat Al-Fatihah 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Ayat ini diparalelkan dengan Injil Yohanes 14:6 bahwa satu-satunya jalan kebenaran itu hanyalah Yesus.

Ajaran seperti ini jelas penyesatan yang sangat dipaksakan. Padahal pengertian surat Al-Fatihah ayat 6 itu dijelaskan pada ayat berikutnya (ayat 7) bahwa jalan yang lurus itu bukan jalan orang yang dimurkai (Yahudi) dan juga bukan jalan orang yang sesat (Nasrani).

Dalam artikel berjudul “Apakah Benar Taurat Dan Injil Yang Sekarang Tidak Murni?” admin “Isa&Islam” menantang pembaca untuk membuktikan kepalsuan Bibel. Menurutnya, tuduhan pemalsuan dalam Taurat Bibel mustahil untuk dibuktikan:

“Kami kira sukar untuk membuktikan bahwa kitab Taurat dan Injil yang sekarang ada telah tercampur dengan tangan manusia. Memang sering terdengar suara semacam itu, tetapi di mana buktinya?… Jika benar kitab Taurat dan Injil hendak diubah oleh manusia, apakah mungkin Allah sendiri (yang telah mewahyukan kitab-kitab itu) akan tinggal diam begitu saja dan membiarkan Firman-Nya dirusak oleh tangan manusia? Rasanya tidak mungkin Allah yang Mahakuasa akan membiarkan itu terjadi!”

Kalimat itu membuktikan bahwa ia tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu?) fakta kepalsuan Bibel. Karena semua pakar bibliologi mengakui adanya penyisipan (insersi) ayat Trinitas 1 Yohanes 5:7 adalah palsu yang disisipkan secara bertahap. Tahap pertama ayat itu disisipkan sebagai catatan kaki pada abad keempat. Karena dianggap mendukung Trinitas, maka catatan kaki itu naik pangkat menjadi ayat 7 pada Bibel edisi 1550 dengan sebutan “Teks Yang Diterima” sebagai Authorized Version. Semua teolog mengakui kepalsuan ayat ini, tapi tidak malu-malu mengakuinya sebagai teks yang diterima. (baca Christology sebelumnya: Kuis Bibel Berhadiah Pesawat Boeing 747: Jawaban untuk Pendeta Budi Asali)

Untuk menutupi kepalsuan Bibel, admin Isa&Islam ‘mengambinghitamkan’ Tuhan dengan dalih “mustahil Tuhan membiarkan wahyu-Nya dipalsukan manusia.”

TIPUAN!! Berwajah Islam, ajarkan kekristenan.

Apologi ini jelas keliru besar. Adanya pemalsuan kitab-kitab terdahulu itu justru sesuai dengan firman Tuhan. Dalam banyak ayat, Allah telah menjamin terjadinya pemalsuan dalam kitab-kitab terdahulu:

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Qs. Al-Baqarah 75).

“Mereka (Ahli Kitab) suka mengubah kalimat-kalimat Allah daripada tempat-tempatnya dan mereka itu (sengaja) melupakan perkara-perkara yang telah diperingatkan (dinasihatkan) kepada mereka…” (Qs. Al-Ma’idah 13).

“Sebagian dari orang-orang Yahudi, mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya” (Qs. An-Nisa’ 46, baca juga: Al-Baqarah 7, Ali Imran 71).

Untuk menjaga kemurnian firman-Nya, Allah mewahyukan Al-Qur’an sebagai kitab suci pamungkas kepada penutup nabi dan rasul. Sebagai kitab suci pamungkas, Al-Qur’an diistimewakan dengan banyak kelebihan, antara lain: dijamin keasliannya (Qs. Al-Hijr 9); mudah dihafal, dipahami dan diamalkan (Qs. Al-Qamar 17); berlaku universal untuk seluruh alam (Qs. Al-Furqan 1); ajarannya sempurna atau mencakup seluruh aspek kehidupan (Qs. Al-An’am 38).

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguh nya Kami yang akan menjaganya” (Qs. al-Hijr 9).

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (Qs Al-Qamar 17).

Terhadap kitab-kitab terdahulu, Al-Qur’an berfungsi sebagai nasikh (penghapus), muhaimin (batu ujian kebenaran), mushaddiq (korektor) terhadap kitab-kitab sebelumnya (Qs. Al-Ma’idah 48, Al-Baqarah 23, 185).

LICIK!! Iklan kristenisasi berkedok Islam di situs berita nasional.

AHLI KITAB YANG MENGOTORI ALKITAB

Untuk membela otentisitas Bibel, admin Isa&Islam membabi buta berapologi memuji kejujuran orang Yahudi dan Kristen dalam menjaga keaslian Bibel, dengan kalimat berikut:

“Naskah-naskah tua dari kitab Taurat dan Injil seperti Codex Vaticanus dan Codex Alexandrius paling sedikit sudah ada sekitar 350 tahun sebelum Al-Quran ada, dan isinya tetap sama dengan Taurat & Injil yang sekarang.

Bagaimana mungkin mengubah Firman Allah mengingat orang Yahudi dan orang Kristen sangat gigih mempertahankan dan menjaganya karena yakin Firman ini adalah wahyu Allah? Lantas, untuk apa orang Kristen berusaha mengubah/merusak Kitab Suci-nya sendiri? Keuntungan apa yang akan didapat dari melakukan hal itu?”

….Inilah teologi asal gobleh yang tidak berdasar, tidak realistis dan bertentangan dengan fakta-fakta Bibel….

Inilah teologi asal-asalan (Betawi: asal gobleh) yang tidak berdasar, tidak realistis dan bertentangan dengan fakta-fakta Bibel:

Pertama, naskah asli Bibel sudah punah. Dalam sejarah imperium Yunani, disebutkan bahwa Raja Antiokhus IV dari kerajaan Seleucos berusaha membinasakan agama Yahudi dengan membakar seluruh catatan kitab sucinya, dan mengharuskan bangsa Yahudi mengikuti kebiasaan hidup Yunani. Karenanya, pada masa Origenes Adamantios (185-254) sudah tidak ada lagi teks asli Septuaginta, kecuali salinan-salinannya yang berlian-lainan. Perkembangan selanjutnya, salinan teks Septuaginta ini dirusak oleh penulis-penulis gereja Kristen dalam pertengkarannya dengan kaum Yahudi, akibat pemisahan diri jemaat Nasrani dari Jemaat Yahudi yang melahirkan agama Kristen.

“Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli Kitab Suci, sebab teks itu memang tidak ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan-salinan terdahulu, dan di antara bermacam-macam salinan yang kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan” (Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, , hal. 74).

….Dalam Bibel, Tuhan justru mengecam perilaku umat terdahulu yang buruk dan hobi memutarbalikkan kitab suci….

Kedua, dalam Bibel, Tuhan justru mengecam perilaku umat terdahulu yang buruk dan hobi memutarbalikkan kitab suci:

“Kataku: Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Mereka merobek kulit dari tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya” (Mikha 3: 1-2).

“Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus” (Mikha 3: 9).

Nabi Musa juga mencela bani Israel yang tegar tengkuk terhadap ajaran kitab suci dan degil terhadap Tuhan semasa Nabi Musa masih hidup: “Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap Tuhan, terlebih lagi nanti sesudah aku mati” (Ulangan 31: 27).

Bila admin Isa&Islam mempelajari sejarah imperium Yunani dan membaca ayat-ayat kedegilan Yahudi tersebut, seharusnya mereka malu membuka kursus penyesatan berkedok perbandingan agama gratis


Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Adil dalam segala ketentuan, peraturan dan takdir-Nya. Dengan keadilan yang mutlak, Dia tidak akan menilai dan memandang umat manusia berdasarkan penampilan lahiriah, melainkan berdasarkan ketakwaan dan amal shalih masing-masing hamba-Nya. Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Qs. Al-Hujurat 13).

Belakangan, jagat teologi diramaikan dengan munculnya para pendeta dan penginjil pro-Israel yang menjajakan teologi rasialis. Berbagai buku dan brosur mereka sebarkan secara gratis untuk menanamkan teologi pro-Israel dan anti-Arab, di antaranya: “Siapakah Yang Bernama Allah itu?” (27 halaman), “Kristus dan Kristen dalam Al-Qur’an” (76 halaman), “Yesus Bukan Allah Tetapi Eloim” (69 halaman), brosur “Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim” (6 halaman), brosur “Stop!! Siapakah yang bernama Allah itu?” (6 halaman), majalah Midrash Talmiddim edisi 3, dll.

Kesimpulan semua buku tersebut seperti koor yang mengajarkan fanatisme rasial kepada Israel dan kebencian teologis terhadap segala yang berbau Arab. Ide yang menonjol adalah mengganti seluruh istilah dari bahasa Arab dalam teologi Kristen, dengan istilah-istilah Israel (bahasa Ibrani). Misalnya: mengganti kata “Allah” dengan “Yahweh,” kata “Tuhan” diganti dengan “Adonai,” “Yesus Kristus” diganti dengan “Yeshua Hamasiah,” dll. Kristen Israel ini keukeuh dengan dalih bahwa Israel adalah rujukan iman Kristen.

Soal ide membuang seluruh istilah Arab dari kekristenan, kita tidak perlu ikut campur. Silahkan mereka berpolemik internal dengan lembaga resmi Katolik dan Protestan untuk merombak seluruh istilah yang sudah telanjur mereka pakai. Silakan mengganti nama kitab suci “Alkitab” atau “Bible” dengan istilah Ibrani. Ganti saja semua nama-nama surat dalam Bibel: Hakim-hakim, Pengkhotbah, Kisah Para Rasul, Kitab Wahyu, dll karena semuanya istilah Arab. Silahkan merombak seluruh istilah Arab dalam ribuan ayat, misalnya: silsilah, nabi, rasul, kudus, ilah, dll. Jangan lupa, nama agama “Kristen” juga harus diganti, karena ini bukan bahasa Ibrani, tapi istilah Yunani.

 

Untuk menopang teologi rasialisnya, mereka mengutip ayat-ayat Bibel dengan gaya “semau gue” secara parsial. Pada halaman 1 misalnya, mereka mengutip kitab Kejadian 17:18-19, lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak memperkenankan leluhur bangsa Arab, yaitu Nabi Ismail untuk hidup di hadapan-Nya. Ayat yang ditampilkan adalah sbb:

“Dan Abraham berkata kepada Tuhan: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak.” (Kej. 17:18-19).”

Kutipan tak utuh ini memberikan pengertian seolah-olah Ismail tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham) memohon kepada Tuhan agar Ismail anaknya diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, permohonan itu ditolak mentah-mentah dengan satu kata “Tidak!”

Kesimpulan bahwa Nabi Ismail adalah nabi yang tidak diberkati Tuhan ini ditonjolkan untuk menanamkan sikap kebencian anti Arab, karena Ismail adalah leluhur bangsa Arab, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Benarkah tuduhan pendeta rasialis itu, mari kita baca ayat selengkapnya satu perikop:

“Kemudian Allah berkata kepada Abraham, “Engkau jangan lagi memanggil istrimu Sarai; mulai sekarang namanya Sara. Aku akan memberkatinya dan ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan Kuberikan kepadamu. Ya, Aku akan memberkati Sara, dan ia akan menjadi ibu leluhur bangsa-bangsa. Di antara keturunannya akan ada raja-raja.” Lalu sujudlah Abraham, tetapi ia tertawa ketika berpikir, “Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sara melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?” Lalu berkatalah ia kepada Allah, “Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli waris saya.” Tetapi Allah berkata, “Tidak. Sara istrimu akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakannya Ishak…” (Kejadian 17:15-19, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Dengan membaca ayat secara utuh, jelaslah maksud ayat yang sesungguhnya adalah kisah tentang Nabi Ibrahim yang merasa ragu usianya (100 tahun) dan usia istrinya (90 tahun) untuk bisa melahirkan seorang bayi. Maka Ibrahim sudah merasa cukup dengan anak tunggal dari istri keduanya, Hagar, sebagai pewarisnya. Tuhan menjawabnya pernyataan optimis bahwa Ibrahim akan dikaruniai anak yang kedua, Ishak sebagai ahli warisnya juga di samping Ismail.

Pengertian ini sinkron dengan Alkitab tahun 1941: “Maka sembah Ibrahim kepada Allah: Ya Tuhan, biar apalah Ismail sahaja hidup di hadapan-Mu Maka firman Allah: Bahwa sesungguhnya Sarah, istrimu itu beranak kelak bagimu laki-laki seorang; hendaklah engkau namai akan dia Ishak.”

Ajaran rasialis pendeta ini kontradiktif dengan ayat Bibel yang menyatakan Tuhan tidak menilai dan membeda-bedakan orang berdasarkan jasad lahiriah, suku bangsa dan status sosial, kecuali menurut ketakwaan dan amal shalih:

“Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamal kan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:34-35).

Bila Tuhan menilai seseorang berdasarkan amal perbuatannya, maka siapapun yang bersalah akan menerima hukuman atas kesalahannya, tak peduli dari bangsa apa dia. Keputusan dan keadilan Tuhan tidak bisa disuap dengan ras Israel.

“Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang” (Kolose 3:25).

“Sebab Tuhan, Allah-mulah Allah segala ilah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap” (Ulangan 10:17).

Bila para Kristen rasialis itu tetap memaksakan kitab Kejadian sebagai legitimasi untuk mengklaim Nabi Ismail dan bangsa Arab keturunannya sebagai umat yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan, maka ayat-ayat Bibel di atas harus disensor.

….Tudingan Kristen Israel bahwa Nabi Ismail dan keturunannya (bangsa Arab) sebagai bangsa yang tidak diberkati Tuhan, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan….

Tudingan Kristen Israel bahwa Nabi Ismail dan keturunannya (bangsa Arab) sebagai bangsa yang tidak diberkati Tuhan, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bibel sendiri membantahnya dengan fakta-fakta sbb:

1. Allah menurunkan berkat-Nya kepada keturunan Ibrahim dari istrinya, Hagar:

“Allah berfirman: “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 17:20).

2. Tuhan berkenan menerima domba pengorbanan yang dipersembahkan oleh Kedar dan Nebayot.

“Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan pada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku” (Yesaya 60:7).

Padahal Kedar dan Nebayot itu menurut Bibel adalah anak kandung Nabi Ismail: “Abraham mempunyai dua anak laki-laki, yaitu Ishak dan Ismael. Inilah anak-anak Ismael: Nebayot, yang sulung, lalu Kedar, Adbeel, Mibsam” (I Tawarikh 1:28-29).

Jika Tuhan tidak memperkenankan Nabi Ismail dan seluruh keturunannya hidup di hadapan-Nya, mengapa Tuhan menerima pengorbanan domba putra kandung Nabi Ismail? Karena Tuhan berkenan menerima korban persembahan anak kandung Ismail, berarti Tuhan berkenan memberikan berkah-Nya kepada keturunan Nabi Ismail.

Jelaslah bahwa semua bangsa layak diberkati Tuhan jika beriman dan bertakwa kepada-Nya. Justru, yang tidak diperkenankan hidup di hadapan Tuhan adalah teologi rasialis Kristen Israel itu!!

ISRAEL SUMBER IMAN ATAU INSPIRATOR KEJAHATAN?

Para pendeta Kristen rasialis ingin berkiblat 100 persen kepada Israel, dengan satu apologi bahwa rujukan iman Kristen bukan dari Arab, tapi dari Israel.

“…Sebab nara sumber iman Nasrani bukan dari orang Timur Tengah Arab, tetapi dari orang Israel. Mzm 147:19-20, Yes 2:3, Rm 3:1-2.” (Siapakah Yang Bernama Allah itu, hlm. 15).

….Para pendeta rasialis ingin berkiblat 100 persen kepada Israel, dengan satu apologi bahwa rujukan iman Kristen adalah Israel. Keyakinan ini tidak sesuai dengan fakta-fakta Alkitabiah….

Keyakinan ini harus ditinjau ulang karena tidak sesuai dengan fakta-fakta Alkitabiah. Dalam Bibel, Nabi Musa menjuluki orang-orang Israel sebagai “orang degil” dan “tegar tengkuk” terhadap Tuhan (Ulangan 31: 27) dan “penentang Tuhan” (Ulangan 9: 24). Mikha menyebut bani Israel sebagai “orang yang muak ter hadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus,” karena para kepalanya memu tus kan hukum karena suap, dan para imamnya mem beri peng ajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang (Mikha 3: 9-11).

Dalam Perjanjian Baru, Yesus yang notabene diutus Tuhan khusus untuk bani Israel (Matius 10: 5-6), dan sering menunjukkan mukjizat kepada kaumnya, ternyata ditolak mentah-mentah. Bahkan sebagai balas budinya, mereka melakukan penganiayaan dan kekejian terhadap Yesus. Berbagai ayat Bibel mengisahkan Yesus dikhianati, ditangkap, disiksa, dicambuk, ditelanjangi, diludahi, disesah, diarak, dan disalib dengan cara keji sampai mati dengan tragisnya.

Tak heran jika Yesus mencerca mereka dengan panggilan “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!” (Matius 23:33) dan “angkatan yang jahat” (Matius 12:39).

Itulah tipologi bangsa yang menjadi rujukan iman para pendeta Kristen Israel.

 

sumber : klik


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat teragung kepada kita, hamba-hamba-Nya yang beriman. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada utusan Allah untuk semesta alam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Allah telah menutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas semua agama yang ada. Allah juga memerintahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendakwahkannya baik secara umum atau khusus. Umum maknanya, kepada semua kalangan, bangsa, dan pemeluk agama. Khusus, maknanya kepada ahli ktiab dari Yahudi dan Nasrani.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنِّي رَسُولُ اللَّهِ إلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ لا إلَهَ إلاَّ هُو يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.” (QS. Al-A’raf: 158)

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إلاَّ اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ فَإن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. Ali Imran: 64)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan utusan-Nya tadi agar berhati-hati terhadap segala usaha orang kafir dari kalangan ahli kitab dan musyrikin untuk menyesatkannya dari petunjuk yang dibawanya, baik secara umum ataupun khusus.

Allah berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.” (QS. Al-Kaafirun 1-6)

Allah memperingatkan secara khusus terhadap berbagai tipu daya dari Ahli Kitab,

وَأَنزَلْنَا إلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْـحَقِّ مُصَدِّقًا لِّـمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْواءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْـحَقِّ – – – وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إلَيْكَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. – – sampai – – Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Maidah: 48-49)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan perintah Tuhan-nya ini, beliau menyeru sanak keluarganya terdekat dan manusia secara umum. Bahkan, dalam keterangan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah menulis surat kepada penguasa Romawi dan Persia, kepada raja Najasyi dan segenap pungasa lalim lainnya. Isi surat beliau berisi dakwah agar menyembah kepada Allah semata dan mengakui beliau sebagai utusan Allah kepada mereka. Salah satu contohnya adalah surat beliau kepada Heraklius, penguasa Romawi:

“Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang). Surat ini dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul Allah, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Salam kesejahteraan tercurah pada orang yang mengikuti jalan yang lurus. Adapaun selanjutnya, aku benar-benar menyeru Anda memeluk Islam. Masuk Islam-lah, pasti Anda selamat. Allah pasti akan menganugerahi Anda pahala dua kali lipat. Namun kalau Anda menolak, maka Anda bertanggung jawab akan dosa orang-orang Arison. Dan :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Hai Ahli kitab! Mari kita datang pada persamaan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah sesuatu selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan Allah dengan apapun, juga kita tidak mengangkat di antara kita sebagai Tuhan selain Allah. Kemudian, jika mereka berpaling, maka katakan ‘persaksikanlah bahwa kami adalah Muslim.” (QS. Ali Imran: 64)

Jalan ini pula yang telah ditempuh para sahabat dan tabi’in. mereka menaklukkan hati musuh sebelum menjebol benteng mereka sehingga memasukkan mereka ke dalam Islam dengan berbondong-bondong. Kemudian para ulama salaf sesudah mereka mengikuti langkah-langkah mereka ini. Mereka hanya mengenal dakwah kepada Allah dengan hujjah dan argumentasi yang jelas. Jika musuh menolak, maka pedang dan kekuatanlah yang bertindak, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfal: 39). Mereka tidak mengenal metode baru dalam ber-Islam yang mengakui kebenaran agama lain dan berupaya mengadakan kegiatan keagamaan bersama-sama, seperti doa bersama, saling mengucapkan selamat atas hari besar antar umat beragama, dan saling menghadiri dan memeriahkannya.

Fenomena Doa Bersama Antar Lintas Agama

Prinsip Islam di atas tentu sangat berbeda dengan gerakan pluralisme yang sedang trend dan menjangkiti sebagian umat Islam. Bukannya mendakwahi pemeluk agama kufur untuk masuk Islam biar selamat di ahirat, malah bersama-sama dengan mereka melaksanakan ibadah bareng di gereja atau tempat lainnya. Pastinya, orang-orang kafir tersebut semakin terdukung dengan keyakinan agamanya.

Pada acara haul setahun meninggalnya ‘Bapak Pluralisme Indonesia’ KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada akhir Desember lalu, para tokoh berbagai agama menggelar doa bersama, tahlilan dan yasinan di Gereja GKJW Jombang. Acara doa bersama yang dihadiri oleh ratusan umat lintas agama Islam, Kristen, Budha, Hindu dan aliran kepercayaan itu mengambil tajuk ‘Gus Dur Memorial Lecture’.

Menurut penuturan Ketua Panitia Aan Anshori yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU), rangkaian acara tersebut diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Ketua Majelis Daerah (MD) GKJW Surabaya Barat, Pendeta Sunardi. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan doa secara maraton dari berbagai agama secara bergantian.

“Pertama pembacaan Yasin dan Tahlil disambung dengan doa dari agama Kristen, Hindu, Buddha dan Aliran kepercayaan. Semua ditujukan untuk Gus Dur,” kata Aan.

Sedangkan di Semarang, puluhan aktivis lintas agama dari NU, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu dan Ahmadiyah menggelar doa bersama dan peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur di Monumen Tugu Muda Semarang, Kamis malam (30/12/2010).

Selain doa yang dikirim untuk arwah Gusdur, juga diisi dengan lantunan shalawat dan orasi kemanusiaan yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan dari lintas agama.

Kebatilan Doa bersama Lintas Agama

Setiap muslim wajib meyakini bahwa agama Islam saja yang benar, yang diridhai dan di terima oleh Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang beragama selain Islam, maka seluruh amalnya tertolak dan pada hari kiamat tergolong sebagai orang-orang yang merugi.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19) Allah mengabarkan bahwa agama yang benar dan diterima oleh-Nya adalah Islam.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim. Dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien (agama) ini dengan seorang laki-laki yang fajir.” (Muttafaq ‘alaih)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menguatkan makna ini dengan sabdanya,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorangpun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani yang pernah mendengar tentangku lalu dia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Sedangkan amal kebaikan orang kafir tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun di akhriat. Allah berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al Taubah: 54)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Nuur: 39)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqaan: 23)

Dari Aisyah radliyallah ‘anha berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ya Rasulallah, Ibnu Jad’aan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, “Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan.” (HR. Muslim)

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir.”

Al Qadli ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Telah terjadi ijma’ bahwa amal-amal baik orang-orang kafir tidak memberikan manfaat bagi diri mereka, mereka juga tidak dibalas dengan diberi nikmat dan tidak pula diringankan adzab. Tetapi siksa sebagian mereka lebih dahsyat dari sebagian lainnya sesuai dengan kejahatan mereka.” (Syarh Shahih Muslim)

Sedangkan doa bersama yang dilakukan aktifis lintas agama pada acara peringatan setahun meninggalnya “Bapak Pluralisme Indonesia” KH. Abdurrahman Wahid sangat bertentangan dengan dengan prinsip dasar Islam di atas.

Doa bersama berarti mengakui kebenaran ajaran, ibadah, dan doa yang mereka panjatkan kepada tuhan yang mereka angkat selain Allah. Padahal dengan tegas Allah menyebutkan,

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

“Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Al-Ra’du: 14)

Doa bersama berarti mengakui kebenaran ajaran, ibadah, dan doa yang mereka panjatkan kepada tuhan yang mereka angkat selain Allah.

Teladan Nabi Ibrahim dalam Berislam

Seorang muslim seharusnya mencontoh dan mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam dalam memegang prinsip berislam. Beliau hidup pada masyarakat yang plural namun tidak lantas menjadi pluralism yang mengakui kebenaran keyakinan non-muslim. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dalam ayat di atas, degan tegas, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kaumnya yang beriman kepada beliau menyatakan kebatilan agama orang-orang kafir yang menyembah selain Allah. Beliau berlepas diri dari mereka, tuhan yang mereka sembah selain Allah, dan juga berlepas diri dari ibadah mereka. Beliau menyatakan ingkar beliau terhadap keyakinan mereka tersebut. Tidak cukup itu saja, beliau menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap mereka dengan kekafiran mereka tersebut sehingga mereka beriman kepada Allah semata.

Karena pentingnya prinsip berislam ini, Allah Ta’ala mengulang perintah meniti jejak beliau dan mencontohnya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian.” (QS. Al-Mumtahanah: 6)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di rahimahullaah, menyebutkan bahwa mengikuti contoh Nabi Ibrahim dan pengikutnya tersebut sangat berat kecuali bagi mereka yang berharap pahala dari Allah dan keselamatan pada hari akhir. Tentu sebaliknya, bagi orang yang tujuan hidupnya dunia dan tidak takut akan hari pembalasan, amat sangat berat mengikuti teladan yang baik dalam beriman dan bertauhid serta melaksanakan tuntutan-tuntutannya.

Ini sangat berbeda dengan kegiatan aktifis pluralism yang malah bersama-sama orang-orang kafir beribadah dan berdoa dengan ajaran agamanya masing-masing. Bukannya bara’ (berlepas diri dan benci) dengan orang kafir, ibadah mereka dan tuhan yang mereka sembah selain Allah, tapi malah mendukung, menyokong, dan meridhai yang mereka lakukan. Wal’yadhu billah (Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan ini)!.

Nabi Ibrahim dan pengikutnya berlepas diri dari orang kafir, tuhan yang mereka sembah selain Allah, dan juga berlepas diri dari ibadah mereka.

Beliau menyatakan ingkar beliau terhadap keyakinan mereka tersebut.

Tidak cukup itu saja, beliau menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap mereka dengan kekafiran mereka tersebut sehingga mereka beriman kepada Allah semata.

Doa Bersama Bentuk Sinkretisme

Sesungguhnya aktifitas doa bersama lintas agama muncul dari peradaban Barat yang mengesahkan aktivitas sinkretisme (percampuran akidah maupun syariat berbagai agama) yang didasarkan pada paham kufur pluralisme. Sebaliknya, Islam menolaknya. Sebab, antara yang hak dan yang batil serta antara keimanan dan kekufuran tidak dapat dipertemukan dan disatukan sampai kapan pun dan dengan alasan apa pun.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Seorang muslim tidak boleh mencampur adukkan antara hak dan batil, dalam hal ini doa kepada Allah dan doa kepada selain-Nya. Seharusnya dia menyampaikan ini hak dan itu batil agar orang yang mencari petunjuk mengetahuinya lalu mengikutinya. Sedangkan orang yang sebelumnya tersesat agar ia kembai ke jalan yang benar. Adapun penentang agar mereka mendapatkan bantahan dengan argument yang jelas.

Sementara kaum muslimin yang dalam kegiatan doa bersama pasti tidak akan menyatakan kebenaran agamanya dan kebatilan agama yang lain, walaupun dia mengetahuinya. Ini menurut penjelasan Syaikh al-Sa’di termasuk bentuk mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan sehingga keduanya tidak nampak perbedaannya. Juga termasuk menyembunyikan kebenaran yang diketahuinya karena tidak menjelaskan kepada orang-orang kafir tentang kesalahan keyakinan mereka.

Semoga kita diberikan pemahaman sesuai apa yang Rosulullah ajarkan…..

Wallahu Ta’ala a’lam.

Sumber : klik


CAP RADIKAL yang disematkan Setara Institute terhadap ulama dan pimpinan ormas Islam adalah makar dan pemutarbalikan fakta. Bukan hanya itu, LSM pengasong ideologi SEPILIS (sekularisme, pluralism dan liberalism) tersebut telah mencemarkan nama baik ulama dan pimpinan ormas Islam.

Patut digarisbawahi, selama ini, keberadaan ormas Islam berfungsi sebagai benteng penjaga moral dan akidah umat dari kemaksiatan, penyimpangan, dan kesesatan. Pekerjaan dakwah ini seharusnya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Negara.

Tapi apa yang terjadi, LSM-LSM komparador seperti Setara Institute justru membiarkan aliran sesat marak di mana-mana, mendukung kemaksiatan merajalela, dan menjadi pembela para peleceh Islam, dan satu hal lagi, anti dengan syariat Islam. Setara Institute dan konco-konconya juga menjadi agen Barat (terutama AS), dan mensupport sistem ekonomi neo-liberal (neolib). Ini menunjukkan LSM yang didirikan Abdurrahman Wahid ini turut berkontribusi menghancurkan moral bangsa. Setara Institute cs tidak peduli dengan dekadensi moral umat yang kian memprihatinkan.

Setara Institute jelas-jelas ingin memperkeruh suasana dengan mengadopsi strategi kolonial: melancarkan politik devide et impera (Politik adu domba) antar ormas Islam yang satu dengan ormas Islam lainnya. Termasuk mengompori para pimpinan ormas Islam. Jelas sekali, Setara Institute dan teman sejenisnya menjadi Tukang Kompor alias Provokator radikal. Tanpa disadari, HTI dijadikan narasumber oleh Setara Institute untuk menelanjangi FUI. Tujuannya bisa dipastikan untuk membenturkan sesame ormas Islam. Islamphobi telah melekat pada diri aktivis Setara dan partnernya.

….Setara Institute jelas-jelas ingin memperkeruh suasana dengan mengadopsi strategi kolonial: melancarkan politik devide et impera (Politik adu domba) antar ormas Islam yang satu dengan ormas Islam lainnya….

Dengan mengatasnamakan riset, Setara Institute melakukan penelitian berjudul “Radikalisme Agama di Jabotabek & Jawa Barat” – Implikasinya terhadap Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan. Riset yang dikarang-karang itu berkisah tentang radikalisme agama di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) serta Jawa Barat. Tujuannya, ingin menyajikan wajah-wajah organisasi Islam yang menurutnya, dianggap mengganggu jaminan kebebasan beragama/berkeyakinan.

Setara Institute adalah organisasi perhimpunan yang didirikan oleh 28 individu (termasuk Gus Dur di dalamnya) yang memiliki cita-cita mewujudkan masyarakat yang liberal, sekuler, dan plural. Salah satu perhatian utama LSM komparador ini adalah turut serta berkembangnya paham aliran sesat di Indonesia, membiarkan dan membela kemaksiatan merajalela di bumi ini. Atas nama toleransi, demokrasi dan HAM, NGO yang satu ini selalu usil dan mencari-cari celah memberi stigmatisasi kepada para ulama yang selama ini berjuang membela Islam.

Setara Institute dan partnernya sesama pengasong Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) sedemikian paranoid dengan banyaknya bermunculan ormas Islam yang ingin negeri ini aman, diberkahi dan terhindar dari musibah dan bencana.

Riset Ngawur

Ada lima bab yang dilaporkan dalam penelitian tendensiusnya itu, meliputi: Bab I (Pendahuluan), Bab II (Genealogi Islam Radikal), Bab III (Potret Radikalisme di Perkotaan), Bab IV (Ragam Wajah Satu Cita-cita), Bab V (Wajah Para Pembela Islam), Bab VI (Masa Depan Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan).

Dalam Bab II misalnya, Setara Institute menjabarkan Masyumi dan Darul Islam, Dari DDII ke Islam Transnasional dan Islam Radikal Lokal; Gelombang Radikalisasi Islam; Konteks Radikalisasi Islam di Jakarta dan Jawa Barat. Pada Bab IV, juga dipaparkan ihwal Aktor, Basis Massa, Rekruitmen Anggota, Dana, Aliran dan Doktrin Ajaran, Agenda Aksi, Strategi Dan Taktik, Dinamika Perpecahan.

Setara Institute dengan bernafsunya juga menelanjangi ormas Islam dan para pimpinannya yang selama ini giat membela Islam. Ormas Islam yang dibidik itu antara lain: FUI (Forum Umat Islam), FPI (Front Pembela Islam), GARIS (Gerakan Reformis Islam), FAPB (Front Anti Pemurtadan Bekasi), FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah) Cirebon, Tholiban. Termasuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

….Setara Institute dengan bernafsunya juga menelanjangi ormas Islam dan para pimpinannya yang selama ini giat membela Islam….

“Dengan mengenali organisasi-organisasi Islam radikal, diharapkan sejumlah langkah dapat dilakukan oleh Negara untuk menghapus intoleransi dan diskriminasi agama/keyakinan. Kami juga merekomendasi penelitian ini, agar Negara dapat menegakkan hukum bagi para pelaku kekerasan, intoleransi, dan diskriminasi dan melakukan deradikalisasi pandangan, prilaku dan orientasi keagamaan melalui kanal politik dan ekonomi,” kata Peneliti Setara Institute Ismail Hasani sewot.

Akidah Umat Tumbuh

Berbagai peristiwa yang dibeberkan Setara Institute dengan menggunakan bahasa “Kekerasan” sangat tidak tepat dan cenderung tendensius. Gelombang protes yang dilakukan masyarakat terhadap bermunculan aliran sesat, kemaksiatan, pelanggaran tempat ibadah non Muslim, sesungguhnya adalah telah tertanamnya tauhid dan akidah umat yang kuat. Di sisi lain, merupakan keberhasilan dakwah yang disampaikan para ulama dan peran serta Ormas Islam. Bersamaan dengan itu, kesadaran beragama umat tumbuh dan berkembang.

Harus diakui Pemerintah belum maksimal dalam menegakkan supremasi hukum. Sudah jelas aturan tentang SKB Tiga Menteri tentang rumah ibadah, namun pemerintah tidak bisa menindak para pelanggar yang menjadi rumah dan ruko sebagai tempat ibadah illegal. Siapa sesungguhnya yang melakukan pelanggaran? Jelas mereka dan para pendukungnya.

sumber klik


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat-nikmat-Nya. Dan tak satupun nikmat kecuali itu berasal dari-Nya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasululillah yang pernah mengatakan, “Kalau aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku tidak suka masih ada di rumahku lebih dari tiga hari, kecuali yang aku siapkan untuk membayar hutang”, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

Dengan menjadi kaya kita bisa berperan lebih untuk dien ini. Dengannya kita bisa mendapat limpahan pahala yang tak bisa diraih oleh orang-orang fakir dan miskin.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan kemiskinannya. Mereka berkata, “Orang-orang kaya pergi dengan membawa kedudukan yang tinggi dan kenikmatan abadi. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa melaksanakan haji, umrah, berjihad, dan bershadaqah.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang yang telah mendahului kalian dan jauh meninggalkan orang yang datang sesudah kalian. Tak seorangpun yang lebih mulia dari kalian kecuali yang ia melakukan seperti yang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiga pulah tiga kali setiap selesai shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, “Kaum Fuqara’ Muhajirin datang kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, ‘Saudara-saudara kami yang kaya mendengar apa yang telah kami kerjakan, lalu mereka juga melakukan amalan serupa?’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah,

ذَلِكَ فَضْلُ الله يُؤتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Maidah: 54)

Namun di sisi lain, banyak ayat yang menyebutkan tentang bahaya dunia. Banyak orang yang tergelincir karenanya. Oleh sebab itu Allah sering sekali mengingatkan agar jangan sampai terpedaya dengannya.

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)

Imam al-Bukhari dalam Shahihnya membuat bab “Al-Muktsiruun Hum al-Muqilluun” (Orang-orang yang banyak harta adalah mereka yang akan miskin pahala pada hari kiamat). Lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)

Lalu disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا

“Sesungguhnya orang yang banyak harta adalah yang miskin pahala pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kebaikan (harta) lalu ia membagikannya ke kanan, kiri, ke arah depan dan belakangnya, serta berbuat yang baik dengannya.” (HR. Bukhari dan Musim) hanya saja orang seperti ini jumlahnya sedikit.

“Sesungguhnya orang yang banyak harta adalah yang miskin pahala pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kebaikan (harta) lalu ia membagikannya ke kanan, kiri, ke arah depan dan belakangnya, serta berbuat yang baik dengannya.”

(al-Hadits)

Dan dalam riwayat Tirmidzi, disebutkan tentang keutamaan menjadi orang miskin yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa mereka akan masuk surga empat puluh tahun lebih dahulu sebelum orang-orang kaya mereka. (HR. al-Tirmidzi dari Anas bin Malik)

Sehingga disebutkan dalam riwayat yang sama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa agar dijadikan miskin dan dikumpulkan bersama orang-orang miskin,

اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, hidupkan aku sebagai orang miskin, dan matikan aku juga sebagai orang miskin, serta kumpulkan aku pada hari kiamat bersama-sama orang-orang miskin.” (HR. al-Tirmidzi dari Anas no. 2352 dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Khudri no. 4126)

Namun, hadits tersebut banyak dilemahkan oleh para ulama. Di antaranya Imam al-Tirmidzi, Ibnul Jauzi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan al-Hafidz Ibnul Hajar.

Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (6/56) mengatakan, “Adapun hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah wafatkan aku sebagai orang miskin . . .” itu adalah hadits dhaif. Tidak sah ditinjau dari sisi isnadnya, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan Abu Farwah al-Rahawi dan dia adalah dhaif sekali, wallahu a’lam.”

Aku (Ibnu Katsir) katakan, “Dalam isnadnya ada kelemahan dan dalam matannya ada keanehan, wallahu a’lam.” (Al-Bidayah: 6/57)

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullaah dalam al-Talkhis (3/109) setelah menyebutkan hadits tersebut mengomentari bahwa isnad yang diriwayatkan al-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id adalah lemah.

Ibnu Taimiyah rahimahullaah pernah ditanya mengenai hadits ini, lalu beliau menjelaskan bahwa hadits tersebut memang diriwayatkan, tapi dia dhaif tidak kuat. Maknanya: hidupkan aku dengan khusyu dan tawadhu, tapi lafadznya juga tidak kuat. (Lihat Majmu’ Fatawa: 18/357)

Dalam jawaban lain, “Hadits ini telah diriwayatkan al-Tirmidzi. Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi telah menyebutkannya dalam al-Maudhu’aat . . .” (Majmu’ Fatawa: 18/326)

Masih ada beberapa ulama lain yang mendhaifkannya seperti Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (6/196), al-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (4/427 , Ibnu Rajab al-Hambali, al-Bushiri dalam Misbah al-Zujajah (4/218), Ibnu Mulqin dalam al-Badrul Munir (7/367), dan Imam al-Sakhawi dalam Al-Maqashid al-Hasanah, hal. 154.

Dan kalaupun dikatakan shahih, maka maksud dengan miskin dalam hadits tersebut adalah tawadhu’ dan rendah hati, bukan sedikit harta. Karena terkadang ada orang sedikit harta tapi dia sombong dan angkuh, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahih,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan yang pada hari kiamat Allah tidak akan mengajak bicara, tidak menyucikan dan tidak mau melihat mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih. Yaitu orang tua yang berbuat zina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR.Muslim dan Nasai)

Orang yang berdoa dengan doa di atas seolah-olah meminta kepada Allah agar tidak dijadikan sebagai bagian dari orang-orang kejam lagi sombong dan tidak dihimpun bersama mereka pada hari kiamat. Dan kata miskin berasal dari maskanah yang diambil dari kata sukun. Dikatakan, “Tasakkana Al-Rajul Idha Laana” (seseorang menjadi sakanah apabila dia lemah lembut, tawadhu’, khusyu, dan rendah hati. (Lihat: Mukhtalaf al-Hadits, hal. 167)

Namun, kalau kita komparasikan dengan bagian akhir dari hadits tersebut maka makna-makna yang memalingkan dari miskin dan fakir akan tertolak. Yakni pertanyaan Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sebab beliau berdoa seperti itu. Beliau menjawab,

إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya mereka akan masuk surga empat puluh tahun lebih dahulu sebelum orang-orang kaya mereka. Wahai Aisyah, jangan engkau tolak (permintaan) orang miskin walau hanya dengan setengah biji kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang msikin dan dekatilah (muliakan) mereka, Maka dengan itu Allah akan mendekatkanmu kepada-Nya.” (HR. al-Tirmidzi dari Anas bin Malik)

Dari sini, sangat jelas bahwa maksud miskin dalam doa di atas adalah miskin harta, berdasarkan ujung dari hadits tersebut. Hanya saja isnadnya dhaif, sehingga tidak sah untuk dijadikan landasan argument, baik dengan dibawa kepada makna pertama ataupun yang kedua. (Lihat pernyataan Ibnul Hajar dalam Ikhtiyar al-Ula fi Syarh Hadits Ikhtisham al-Mala’ al-A’la, hal. 20)

Kesimpulan

Bahwa tidak dibenarkan berdoa kepada Allah supaya dijadikan sebagai orang miskin hingga meninggal dunia. Karena akibat kemiskinan banyak amal utama dalam Islam yang tidak bisa dikerjakan, seperti haji, umrah, shadaqah, membangun masjid, membebaskan budak, berjihad dengan harta, dan semisalnya. Banyak juga orang yang menggagalkan studinya hanya karena tak ada biaya.

Disebutkan dalam Shahihain, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk sa’ad bin Abi Waqqash, maka dia mengadu kepada beliau bahwa dia punya banyak harta dan hanya memiliki seorang ahli waris, yaitu putrinya semata wayang. Lalu dia ingin bershadaqah dengan 2/3 hartanya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membolehkannya. Lalu ia ingin menguranginya menjadi 1/2 hartanya, namun beliau tetap tidak mengizinkannya. Dan terakhir ia ingin bershadaqah dengan 1/3 hartanya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dan sepertiga itu sudah banyak.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya engkau meninggalkan keturunanmu dalam kondisi kaya itu lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin, menengadahkan tangan kepada manusia.”

Hanya saja kalau kaya jangan sampai tertipu dengan hartanya sehingga berbangga diri dan sombong, lupa akhirat dan pelit berinfak. Maka kalau begitu, kaya adalah buruk baginya. Namun, kalau dengan kaya ia meningkat ibadahnya, banyak amal kebaikannya, suka membantu sesama, gemar bershadaqah dan berinfak, maka kaya akan menjadikannya semakin mulia. Namun, orang seperti ini tidak banyak. Hanya mereka yang telah menjihadi (menundukkan) nafsunya yang akan bisa melakukannya. Wallahu Ta’ala a’lam.

oleh : Badrul Tamam . klik