Arsip untuk Februari 9, 2011



Chatting terkadang dipersepsikan sebagai kebiasan orang yang tidak punya pekerjaan dan hanya bermalas – malasan, namun siapa sangka berawal dari hal tersebut Musa , 16 tahun yang note bennya beragama yahudi bisa menemukan hidayah dari sana. berikut kisah selengkapnya . . Musa Caplan nama lengkapnya. Baru berusia 16 tahun. Sebelum memeluk Islam, Musa beragama Yahudi. Keluarganya bukanlah dari kalangan Yahudi tradisional (orthodok). Namun ia justru belajar agama dari penganut tradisional. “Aku belajar agama dari kelompok Yahudi Orthodok di sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi-red). Demikian pula pendidikan formal juga di sekolah orthodok,” tutur Musa. Tinggal di komunitas Yahudi Orthodok di Amerika Serikat, ia seakan ”putus” kontak dengan dunia luar. Otomatis kala itu Musa tidak punya teman non-Yahudi sama sekali. Melalui bantuan internetlah ia mendapatkanbanyak teman, terutama dari kalangan Islam. Dari diskusi online, ia justru mulai ragu dengan agamanya dan akhirnya bersyahadah via internet. Berikut kisahnya seperti dituturkan di di situs readingislam.com. Kenal Islam lewat internet “Belakangan, sejak kenal internet, aku jadi suka chating. Dari situlah bisa kenalan dengan berbagai macam kalangan, suku dan agama,” imbuhnya. Bahkan, e-mail Musa secara perlahan mulai terisi oleh teman-temannya yang beragama Islam. Sejak saat itulah ia mulai tertarik dan antusias mempelajari Islam. “Aku menaruh perhatian sangat spesial dengan Islam. Kami saling bertukar info tentang Tuhan, nabi, moral, dan nilai-nilai agama. Perlahan aku jadi tahu banyak tentang Islam. Ternyata Islam adalah agama yang penuh damai. Begitupun aku belum bisa menghilangkan imej buruk tentang Islam. Misal ketika kudengar ada serangan teroris, sama seperti yang lainnya, aku menuding Islam itu ekstrem.” aku Musa. Beruntungnya ia punya kenalan online beragama Islam. “Dialah yang telah membuka pintu Islam kepadaku.” Alhasil ia justru jadi banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah agama Islam mengajarkan hal itu (membunuh orang tak berdosa)? Katanya Nabi Muhammad adalah seorang pejuang besar dan tidak pernah membunuh orang tak berdosa. “Dari diskusi itu aku yakin Islam juga mengajarkan respek, damai, dan toleransi. Tidak pernah disebutkan untuk membunuh orang selain Islam. Dalam Al-Quran ada satu pelajaran yang sangat berharga dan dalam maknanya:”Membunuh seseorang, sama dengan merusak seluruh dunia.” Musa menyitir sebuah ayat Al-Quran. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Al-Ma’idah:32) Setelah yakin Islam bukan agama perang, Musa memutuskan untuk mempelajari Islam lebih mendalam. Ia justru menemukan keragu-raguan dalam agamanya sendiri. “Entah mengapa pandanganku sangat cocok dengan pandangan Islam. Aku bahkan menduga Kitab Perjanjian Lama, misalnya, telah banyak diubah. Diubah semata-mata untuk kepentingan materi.” “Hal menarik lainnya yang membawaku makin condong ke Islam adalah kebenaran ilmiah (scientific truth) yang ada dalam Al-Quran. Kandungan ilmiah Al-Quran luar biasa. Misal Quran menceritakan bagaimana kejadian manusia yang berawal dari sperma manusia. Asal mula kehifupan manusia sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran itu jauh sebelum ilmu pengetahuan ditemukan,” tukas Musa mantap. “Al-Quran juga menyatakan bagaimana gunung-gunung dibentuk dan berbicara tentang lapisan atmosfir! Ini semuanya hanya beberapa dari begitu banyaknya penemuan-penemuan ilmiah, yang telah ada dalam Al-Quran 1400-an tahun yang lalu jauh sebelum penemuan-penemuan ilmu pengetahuan saat ini. Inilah salah satu kunci atau faktor yang menghantarku menemukan kebenaran dalam kehidupan,” lanjutnya bersemangat. Musa menambahkan ada banyak website (situs) yang sangat bias dalam mengartikan ayat-ayat tertentu. Misalnya ayat-ayat tentang “perang”. Dikatakannya, kebanyakan situs-situs itu mengambil frase “perang”tersebut untuk membuat opini bahwa Islam agama suka perang. “Padahal tidak demikian. Dalam bahasa Arab, kata Islam berasal dari salama yang bermakna “damai atau selamat”. Aku sangat yakin Islam agama damai.” Tidak berani tinggalkan shalat Menilik usianya yang masih sangat muda dan tinggal di lingkungan kaum Yahudi, Musa menghadapi banyak tantangan. Terutama dari keluarganya. “Sungguh sangat sulit bagi mereka jika tahu aku telah berganti keyakinan. Jujur saja, keluarga dan sanak famili semua sayang padaku. Apa reaksi mereka kala mengetahui anak laki-laki kesayangannya telah masuk Islam? Karena itu, sementara waktu aku tak bisa leluasa memperlihatkan kehidupan Islam secara sempurna dalam kehidupan harian. Namun aku bersyukur kepada Allah, diberikan kekuatan hingga tetap bisa menunaikan shalat lima waktu dengan lancar. Khusus shalat saya berjuang untuk tidak meninggalkannya,” tutur Musa. Menariknya, tatacara amal ibadah dalam Islam, semisal shalat dipelajarinya melalui chatting dengan rekan muslim dan juga browsing di internet. “Paling kurang aku bisa tetap memelihara keyakinan pada Allah. Beberapa hal lain, secara fisik, lumayan sulit mengekspresikannya di khalayak ramai.” Musa belum berani memberitahukan kepada kedua orangtuanya bahwa sudah memeluk Islam. Karena itu pula ia belum berani keluar rumah guna mendatangi mesjid untuk shalat. Seperti disebutkan di atas, tempat tinggalnya adalah kawasan Yahudi Orthodoks dan mesjid yang ada letaknya pun sangat jauh dengan rumahnya. Karena usia yang masih sangat belia, Musa terkadang sulit mengendalikan emosinya. Misal kala berdebat sesuatu tentang Muslim, katakanlah tentang Timur Tengah, hatinya jadi mudah meletup. “Saat diskusi seluruh anggota keluarga sudah pasti mendukung Israel. Mereka tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Seperti bangsa Palestina, saya pikir seharusnya mereka memperlakukan rakyat disana secara baik. Ketika keluargaku bicara tentang situasi di sana, terutama saat mereka menyebut-nyebut “Tanah suci bangsa Yahudi” atau “Tanah Impian”, entah kenapa hatiku menolaknya dan bahkan ada rasa marah. Saya jadi gampang tersinggung.” aku Musa panjang lebar. Sulitnya bersyahadah di khalayak ramai “Aku belum mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan syahadah dengan disaksikan khalayak ramai. Meskipun begitu aku telah bersyahadah di hadapan yang Maha Menyaksikan, yakni Allah SWT. Nanti ketika umurku sudah cukup dan dianggap dewasa untuk bepergian sendirian, maka aku berniat untuk melangkah ke mesjid, insya Allah. Hal terpenting saat ini adalah meningkatkan kualitas diri (iman),” ujarnya. Diam-diam Musa bahkan mulai berdakwah dengan mengajak rekan-rekan sepermainannya untuk meninggalkan minum-minuman keras, nonton film porno, menjauhi obat-obatan terkarang dan juga menghilangkan kebiasaan mencuri. Namun tentu saja hal itu tidaklah mudah. Musa mencoba semampu yang ia bisa. “Semuanya demi dan untuk Allah. Aku berharap sepanjang waktu yang ada bisa mengerjakan apa yang Allah maui dari hamba-Nya.” Musa, uniknya, tidak mau disebut telah menemukan Islam atau masuk Islam ataupun telah mendapatkan cahaya terang selepas berada dalam kegelapan. Akan tetapi ia ingin dikatakan telah kembali kepada Islam. Semoga Allah menuntunnya kepada jalan yang benar sebagaimana Allah telah tuntun kita semua. Amiin. Dianggap sudah mati Peristiwa masuk Islamnya kalangan Yahudi memang sering bikin heboh. Kebanyakan komunitas dan terlebih keluarga si muallaf tidak bisa menerima hal itu. Seperti peristiwa kaburnya seorang gadis Yahudi baru-baru ini di Yaman. Terakhir diketahui sang gadis telah memeluk Islam. Kabarnya di sana peristiwa seperti itu telah puluhan kali terjadi. Untuk kasus seperti itu, maka pihak keluarga si muallaf Yahudi melakukan upacara kematian dan menganggap salah satu anggota keluarganya telah mati, karena keluar dari agama Yahudi. Maryam Jamilah, penulis buku Islam terkenal dan seorang muallaf Yahudi Amerika yang masuk Islam tahun 1961, pernah mengalami masa-masa sulit selepas berganti keyakinan. Diceritakan kala itu ia dianggap sudah tidak ada lagi oleh anggota keluarganya. “Keluarga saya menyusun opini bahwa saya sudah keluar (dari Yahudi). Saya diperingatkan, dengan memeluk Islam kehidupan saya akan sulit, Karena Islam bukan bagian dari Amerika. Dikatakan mereka, dengan ber-Islam maka saya akan diasingkan dari keluarga dan masyarakat,” kisah wanita yang punya nama asli Margaret Marcus itu sebagaimana disitir Islamreligion. “Jujur saja, pada masa itu saya belum begitu kuat menghadapi serangan dan tekanan seperti itu. Hingga jatuh sakit. Bahjan saya berencana berhenti dari kuliah. Selama dua tahun saya berada dalam perawatan medis khusus,” lanjutnya. Maryam mulai bersentuhan dengan Islam kala baru berumur sepuluh tahun. Satu ketika ia pernah berujar begini. “Delapan tahun di sekolah dasar, lalu empat tahun di sekolah menengah dan satu tahun di akademi. Saya belajar bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Latin dan Yunani, Aritmatika, Geometri, Aljabar, Biologi, Sejarah Eropa dan Amerika, Musik dan Seni, akan tetapi saya tidak pernah mengenal siapa Tuhan saya!” Begitulah

sumber : klik


Prophet Muhammad (peace be upon him–pbuh) decided to leave Mecca because the Meccan chiefs had taken action to kill him at his home. It was the year 622 C.E. As for the choice of migrating to Medina (known as Yathrib at that time), the decision was made easier by the second ‘Pledge of Aqaba’ made a year before on the occasion of the annual rites of pilgrimage. The pledge was made by seventy-three men and two women of Khazraj and Aws communities of Medina. They had accepted Islam and wanted to invite the Prophet to migrate to Medina. Their motivation for this move, apart from recognizing him as the Prophet, the trustworthy, and the best in conduct in Mecca, was to bring peace and security between the Khazraj and Aws. They were often at war with each other and the Battle of Bu’ath had shattered their strength completely. They desperately needed a leader who could be trusted by both communities and bring peace in Medina. As part of the pledge, they were to protect the Prophet as they would protect their women and children if he were attacked by the Meccans.

Among the people in Medina, there was a small community (three tribes) of Jews with Arab communities constituting the majority of the population. Because of war going on for several generations, the resources of the Arabs were depleted and their influence in Medina was dwindling. The Jews were traders and many of them used to lend money at exorbitant interest. The continuing wars boosted their economy and personal wealth.

The immediate result of the Prophet’s migration to Medina was peace and unity between the communities of Aws and Khazraj. The Prophet (pbuh), motivated by the general welfare of citizens of Medina, decided to offer his services to the remaining communities including the Jews. He had already laid down the basis for relationship between the Emigrants from Mecca (known as Muhajirin) and Medinites (known as the Ansar, the helpers).

The Treaty between Muslims, non-Muslim Arabs and Jews of Medina was put in writing and ratified by all parties. It has been preserved by the historians. The document referred Muhammad (pbuh) as the Prophet and Messenger of God but it was understood that the Jews did not have to recognize him as such for their own religious reasons. The major parts of the document were:

“In the Name of Allah (the One True God), the Compassionate, the Merciful. This is a document from Muhammad, the Prophet, governing the relation between the Believers from among the Qurayshites (i.e., emigrants from Mecca) and Yathribites (i.e., residents of Medina) and those who followed them ad joined them and strived with them. They form one and the same community as against the rest of men.
“No Believer shall oppose the client of another Believer. Whosoever is rebellious, or seeks to spread injustice, enmity or sedition among the Believers, the hand of every man shall be against him, even if he be a son of one of them. A Believer shall not kill a Believer in retaliation of an unbeliever, nor shall he help an unbeliever against a Believer.

“Whosoever among the Jews follows us shall have help and equality; they shall not be injured nor shall any enemy be aided against them… No separate peace will be made when the Believers are fighting in the way of Allah… The Believers shall avenge the blood of one another shed in the way of Allah… Whosoever kills a Believer wrongfully shall be liable to retaliation; all the Believers shall be against him as one man and they are bound to take action against him.

“The Jews shall contribute (to the cost of war) with the Believers so long as they are at war with a common enemy. The Jews of Banu Najjar, Banu al-Harith, Banu Sa’idah, Banu Jusham, Banu al-Aws, Banu Tha’labah, Jafnah, and Banu al-Shutaybah enjoy the same rights as Banu Aws.

“The Jews shall maintain their own religion and the Muslims theirs. Loyalty is a protection against treachery. The close friends of Jews are as themselves. None of them shall go out on a military expedition except with the permission of Muhammad, but he shall not be prevented from taking revenge for a wound.

“The Jews shall be responsible for their expenses and the Believers for theirs. Each, if attacked, shall come to the assistance of the other.

“The valley of Yathrib (Medina) shall be sacred and involiable for all that join this treaty. Strangers, under protection, shall be treated on the same ground as their protectors; but no stranger shall be taken under protection except with consent of his tribe… No woman shall be taken under protection without the consent of her family.

“Whatever the difference or dispute between the parties to this covenant remains unsolved shall be referred to Allah and to Muhammad, the Messenger of Allah. Allah is the Guarantor of the piety and goodness that is embodied in this covenant. Neither the Quraysh nor their allies shall be given protection.

“The contracting parties are bound to help one another against any attack on Yathrib. If they are called to cease hostilities and to enter into peace, they shall be bound to do so in the interest of peace; and if they make a similar demand on Muslims it must be carried out except when the war is against their religion.

“Allah approves the truth and goodwill of this covenant. This treaty shall not protect the unjust or the criminal. Whoever goes out to fight as well as whoever stays at home shall be safe and secure in this city unless he has perpetrated an injustice or committed a crime… Allah is the Protector of the good and God-fearing people.”

The first written constitution of a State ever promulgated by a sovereign in human history emanated from the Prophet of Islam. It was enacted from the first year of Hijrah (622 C.E.). The treaty stipulated a city state in Medina, allowing wide autonomy to communities. Private justice was to be banished. The head of the State had the perogative to decide who should participate in an expedition, the war and peace being indivisible. Social insurance was to be instituted.

The name Yathrib was changed to Medinat-un-Nabawi, meaning the ‘City of the Prophet’ soon after he migrated there. The use of only the first word in that name (i.e., Medina) became popular later.

History does not record much as to when first Jewish migration from north to Yathrib (Medina) began as their numbers remained small throughout their stay there. Among the major reasons for their settlements in Arabia were: the relative peace and security in north Arabia with orchards and gardens; the Arab trade route linking Yemen, Arabia, Syria and Iraq; and continuing tensions resulting from wars between the Romans and Persians in the area around the Holy Land. Some of the learned men among the Christians and Jews had also moved to this area based on their conviction that the advent of the final Prophet of God was near, who was to settle in this area. Bahira, the monk, and Salman, the Persian, were some of the people who moved to the caravan route to or near this area. Salman was told by his last Christian sage:

“He will be sent with the religion of Abraham and will come forth in Arabia where he will emigrate from his home to a place between two lava tracts, a country of palms. His Signs are manifest: he will eat of a gift but not if it is given as alms, and between his shoulders is the seal of prophesy.”
Yathrib was the only city fitting this description.

Salman (ra) was born ito a Zoroastrian family of Isfahan, Perisa. He became a Christian as a young boy and traveled to Syria in search of truth about God and associated himself with the Bishop of Mosul and after the Bishop’s death to several other Christian sages. On one of his travels to Gulf of ‘Aqaba, north of the Red Sea, he was sold to a Jew as a slave by his caravan leader. Salman (ra) was then sold again to a Jew of Banu Quraizah in Yathrib just before Prophet Muhammad’s migration.

After confirming these signs, Salman (ra) accepted Islam and, due to his sincerity and dedication to Islam, he was accepted by the Prophet as ‘one of the Prophet’s household.’ It was on his advice a trench was dug around Medina. The trench (in the ‘Battle of Ahzab’, also known as the ‘Battle of the Trench’) took the Meccan army by surprise and they and their confederates (Arabs and Jews) could not accomplish the plan of wiping out Islam and Muslims of Medina.

================================================

A research professor of the Apostleship of Prophet Muhammad

Dr. Islamul Haq, PhD, D.D. was a very high Hindu priest (Achariya Mahant Dr. Saroopji Maharaj). He studied 10 great religions of the world in their original form at the Oxford University of UK and received two doctorate degrees. He said that “the Holy Books of all great religions of the world, except Jainism and Buddhism, have the names ‘Allah’ and ‘Muhammad’ in them. Prophet Muhammad is the only prophet mentioned in most of the Holy Books of the world.”

The Vedanta of Atharva Veda says: “Assya illale mitra baruna raja….” Translation: “Just at that time, a personage by the name ‘Mohammad’ will appear with his followers in a desert country. O Lord of the desert, O Teacher of the world, Praise be to You. You know many ways to destroy the evils of the world. O the Holy One, I am Your servant; please let me have a place at Your feet.”

Zend Avesta, part one, translated by Max Muller, pg. 260: “O Spetame Zarathustra, I proclaim that Holy Ahmad will surely arrive. You will receive from him holy words, holy thoughts, righteous deeds, and pure religion.” In the Holy Qur’an, the second name of Muhammad is given as Ahmad (61:6).

Dasateer, translated by A.H. Vidyarthi, pg. 47: “When the Persians will forget their religion and will plunge into extreme moral degradation, a great holy man will arrive into the Arab land. His followers will defeat the Persians. Instead of worshipping ‘fire’ in their temples, they will then pray facing the temple built by Abraham. The followers of that great holy man will be like blessings to the people of the world.” Soon after Muhammad (peace be upon him) died, his followers did defeat the Persians. The Persians accepted Islam in great multitudes and started to pray facing the House of God, Ka’ba, built by Prophet Abraham (peace be upon him).

related info : klik



TEMANGGUNG – Ulah Pendeta Antonius Rechmon Bawengan ini sungguh keterlaluan dan biadab. Secara terang-terangan, pendeta berdarah Manado ini menyebarkan buku dan selebaran hujatan terhadap Islam.

Di kampung orang, pendeta kelahiran 58 tahun silam ini menyebarkan dua buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” dan buku “Saudara Perlukan Sponsor (3 Sponsor, 3 Agenda dan 3 Hasil)” yang penuh dengan pelecehan Islam, antara lain: menghina Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; Hajar Aswad adalah simbol dari –maaf– vagina; tugu Jamarat di Mina adalah simbol dari –maaf– kemaluan laki-laki; umat Islam yang shalat Jum’at di masjid sama dengan menyembah dewa Bulan karena di atas kubah masjid terdapat lambang bulan-bintang; Islam agama bengis dan kejam; dan masih banyak lagi hujatan lainnya. Yang lebih menyesatkan lagi, Pendeta Antonius menukil ayat-ayat Al-Qur’an dalam hujatan-hujatan tersebut.

Inilah kronologis kasus penodaan agama ini:

SABTU, 23 OKTOBER 2010

Pendeta Antonius menginap di rumah saudaranya di Dusun Kenalan, Desa/Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Ia hanya semalam menginap di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke Magelang. Namun waktu sehari tersebut digunakan untuk membagikan buku dan selebaran berisi tulisan yang menghina umat Islam.

Pagi hari pukul 08.00, Antonius menyebarkan dua buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” dan buku “Saudara Perlukan Sponsor (3 Sponsor, 3 Agenda dan 3 Hasil).” Modusnya, dua judul buku tersebut diletakkan begitu saja di halaman rumah warga setempat, termasuk di halaman rumah Bambang Suryoko.

Karena isi buku-buku itu meresahkan masyarakat, maka Bambang Suryoko didukung warga lain dan sejumlah organisasi kemasyarakatan melaporkan Pendeta Antonius ke polisi, yang ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.

….Di kampung orang, pendeta berdarah Manado ini menyebarkan buku Kristen yang menghina Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; umat Islam yang shalat menyembah dewa Bulan, dll….

SELASA, 26 OKTOBER 2010

Buntut dari tulisan yang memancing emosi umat Islam ini, Antonius ditahan di Polres Temanggung sejak 26 Oktober 2010. Pria yang KTP-nya tercatat sebagai warga Kelurahan Pondok Kopi, Duren Sawit Jaktim ini didakwa melakukan tindakan penistaan agama. Ia dijerat dengan ketentuan pasal 156 huruf a KUHP (primer), dan pasal 156 KUHP (subsider), dengan ancaman hukuman penjara selama 5 tahun.

KAMIS, 20 JANUARI 2011

Sidang di Pengadilan Negeri (PN) Temanggaung, Kamis (20/1/2011) berlangsung nyaris ricuh. Agenda dalam sidang yang dipimpin Dwi Dayanto SH itu mendengar keterangan tiga saksi, yaitu Fahrurazi, Ketua RT Dusun Kenalan Kecamatan Kranggan, dan dua warganya yakni Bambang Suryoko dan Agus Adi Cahyono.

Ribuan umat Islam Temanggung mendatangi pengadilan untuk menghadiri sidang kasus penistaan agama atas terdakwa Pendeta Antonius dengan agenda pemeriksaan saksi.

Pengunjung sidang menudingkan jari telunjuk ke arah terdakwa dan terus meneriakkan kalimat kecaman yang menyebut terdakwa merupakan teroris yang sebenarnya, sehingga harus dibunuh atau dihukum mati. Majelis hakim berulang kali mengetukkan palu meminta pengunjung sidang diam untuk mendengarkan keterangan para saksi.

Namun massa yang marah tidak menghiraukannya. Mereka terus saja mencaci dan meneriaki terdakwa. Bahkan saat polisi yang berjaga di ruangan sidang mencoba menenangkan kemarahan pengunjung, massa tetap tidak mengindahkannya dan terus berteriak.

Seusai persidangan, massa langsung berhamburan berusaha menyerang terdakwa. Saat terdakwa keluar ruang sidang, Antonius langsung disasar sejumlah massa. Antonius pun dipukuli sehingga wajah dan bahunya mengalami memar-memar. Namun polisi segera mengamankannya meninggalkan ruang sidang.

….Dalam buku Kristen yang disebarkan Pendeta Antonius, Hajar Aswad dilecehkan sebagai simbol vagina; tugu Jamarat di Mina dihina sebagai simbol dari kemaluan laki-laki….

Aksi kejar dan baku pukul berlanjut kala terdakwa dimasukkan ke mobil tahanan. Kalah jumlah personel, polisi berkali-kali mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Polisi berusaha membubarkan massa.

KAMIS, 27 JANUARI 2011

Pekan berikutnya, Kamis (27/1/2011) sidang lanjutan kembali digelar dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi, termasuk saksi ahli dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Untuk mengamankan jalannya sidang, kepolisian menerjunkan 1 SSK lengkap dengan 2 mobil Barracuda, water canon dan pasukan anti huru-hara (PHH).

Prosesi persidangan berlangsung lancar dan tanpa ada kericuhan apapun. Berkali-kali pekikan takbir bergema di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Kabupaten Temanggung. Ketertiban para pengunjung sidang yang terdiri dari berbagai elemen kaum muslimin masih terkendali.

Namun di saat sidang dinyatakan selesai dan akan dilanjutkan pekan depan, sontak massa berlarian menghampiri tersangka Pendeta Antonius yang secepat kilat dilindungi oleh aparat kepolisian. Massa menjadi beringas saat menyaksikan petugas menyelamatkan tersangka ke dalam mobil Barracuda. Mereka berlarian mengejar dan mengepung sekitar gedung pengadilan, namun petugas berhasil melarikan si penghujat itu.

Puluhan massa yang tidak sabar dan geram mendengar ulah pendeta penghujat itupun melampiaskan kemarahan mereka dengan melakukan sweeping di seluruh ruangan gedung pengadilan negeri Temanggung. Tak berhasil menemukan si penghujat, massa pun berbondong-bondong menuju ke Lembaga Pemasyarakatan Temanggung untuk mencari tersangka. Namun hasilnya nihil dan mereka pun melampiaskan kemarahan mereka dengan merusak deretan sepeda motor di depan LP Temanggung.

….Islam dituding sebagai agama bengis dan kejam. Yang lebih menyesatkan lagi, Pendeta Antonius menukil ayat-ayat Al-Qur’an dalam hujatan-hujatan tersebut….

SENIN, 8 FEBRUARI 2011

Sidang keempat digelar dengan agenda pembacaan tuntutan. Dalam tuntutan yang dibacakan Jaksa Siti Mahanim, terdakwa Antonius dituntut 5 tahun penjara dipotong masa tahanan. Jaksa berdalih, hukuman maksimal tersebut sesuai ancaman yang tertuang dalam Pasal 156 KUHP tentang penistaan agama.

Massa dari sejumlah ormas Islam merasa tuntutan tersebut sangat mengecewakan. Tuntutan jaksa itu dinilai tidak setimpal dengan penghujatan pendeta terhadap Allah, Nabi Muhammad dan syariat Islam. Maka lahirlah kerusuhan yang meluas hingga ke luar pengadilan. Akibat kerusuhan ini, dua orang aktivis Muslim terkapar akibat tembakan peluru karet polisi, beberapa unit sepeda motor dan satu unit mobil Dalmas milik Polres Temanggung dibakar massa. Selain itu beberapa fasilitas gereja di sekitar PN Temanggung jadi sasaran amuk massa.

Penghujatan agama yang dilakukan pendeta harus dibayar mahal dengan rusaknya fasilitas umum dan terkoyaknya hubungan antarumat beragama. Biang kerok kerusuhan antarumat beragama adalah Pendeta perovokator Antonius Richmon Bawengan

sumber : klik


Prophet Muhammad (peace be upon him) was commanded to follow the religion of Abraham. Had the religion of Abraham not known to him, we would not expect God to command him to follow it:

“Then we inspired you (O Muhammad) to follow the religion of Abraham, monotheism; never was he an idol-worshiper.” [16:123]
“These are some of the prophets whom God blessed. They were chosen from among the descendants of Adam, and the descendants of those whom We carried with Noah, and the descendants of Abraham and Israel, and from among those whom We guided and selected. When the revelations of the Most Gracious are recited to them, they fall prostrate, weeping.” [19:58]

“After them, He substituted generations who lost the Contact Prayers (Salat), and pursued their lusts. They will suffer the consequences.” [19:59]

Qur’an confirms that Salat was lost after some generations for the People of the Book (i.e., Jews and Christians). Losing it involved changing it in every aspect. The Salat as practiced today by most of the Jews and Christians is different than what was given to their prophets. Very few Jews and Christians have maintained the inherited Salat.

In a book entitled, “To Pray as a Jew”, I found a lengthy explanation of the Prayers as done by the ancient Jews and few of the contemporary Jews. In this book the author put diagrams showing the movement and positions during the prayer. One look at these illustrations is enough for Muslims to realize the similarity of the prayers of the Jews then and the Salat as practiced by the Muslims.


In his comment about these positions, the author wrote: “In most contemporary congregations very few people keep to the tradition of falling prostrate. Sometimes it is only the Prayer leader and the rabbi who does so. In more traditional congregations, however, some worshipers, men and women, will join the Prayer Leader and rabbi in the act of prostrating themselves. In Israeli synagogues, the practice is more widespread than in synagogues elsewhere. Since this is a position that we are unaccustomed to, one who has never done this before might very well demur. But once accomplished, the experience provides such a spiritual uplift that one looks forward to repeating it. Those willig to try this ancient ritual form on the rare occasions that call for it might welcome the following diagrams of the correct procedure.”
It is also interesting to learn from this book that the prayers of the Jews involve wash before the prayers (like Wuduu or ablution for Muslims) and the call for Prayers (like the Adhan for the Muslims).

Reference:

Title: To Pray as a Jew: a guide to the prayer book and the synagogue service.
Author: Donin, Hayim.
Publisher: New York: Basic Books, c1980.
Paging: xxii, 384 p. : ill.; 25cm.
Notes: Includes bibliographical references and indexes.

related info : klik


Sebagai pakar teologi, Pendeta Yahya Yopie Waloni sangat mengetahui teori-teori yang ada dalam agama Islam. Meskipun masih beragama Kristen, Yahya memandang teori apa pun yang ada di Islam sangat benar. Islam pun, mampu menceritakan peradaban dunia dari yang lalu sampai sekarang. Bahkan, agama Kristen diceritakan pula dalam Islam.

Namun, menurut pria kelahiran Manado tahun 1970 ini, yang paling membuatnya tunduk patuh hingga memutuskan untuk masuk Islam pada Oktober 2006 adalah Islam menunjuk satu individu yang sangat tepat untuk menyebarkan ajarannya. “Ada satu individu yang membuat saya tunduk dan patuh, dia buta huruf tapi bisa menyusun Alquran secara sistematis,” ujar pria yang mengganti namanya menjadi M Yahya Waloni setelah memeluk agama Islam itu kepada Republika.

Menurut suami dari Lusiana (33) yang mengganti namanya menjadi Mutmainnah setelah memeluk Islam itu, dirinya masuk agama islam karena dari sistematika teori Islam sudah benar. Sebagai akamdemisi, kata dia, dirinya pun berpikir orang yang sudah memili teori benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori yang benar. “Orang Islam yang sudah memiliki teori yang benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori benar. Jadi, saya mengakui Islam secara teori dan spiritual,” ujar Yahya.

Ketertarikan Yahya untuk masuk Islam, kata dia, sebenarnya sudah ada sejak kecil, saat berumur sekitar 14 tahun. Pada usia itu, dirinya sudah ke masjd karena tertarik melihat banyak orang islam menggunakan pakaian seperti yang digambarkan di agamanya yaitu baju ikhram. Selain itu, dirinya pun sangat tertarik dengan gendang yang suka dimainkan di masjid-masjid.

“Saya hanya berani ke masjid satu kali saja karena ketahuan dan dipukul sampai babak belur oleh bapak saya. Kalau nekad ke masjid lagi, saya takut bapak saya yang seorang tentara akan menggantung saya,” ujar pria yang memiliki hobi bermain gendang ini.

Namun, sambung pria yang pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004 ini, dari sekian kejadian yang mendorongnya untuk memeluk Islam adalah pengalaman spiritual yang dialaminya. “Suatu hari, saya bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lama kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli,” ia memulai kisahnya.

Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut dengan waktu pertemuan yang sama yaitu pukul 09.45 Wita. “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Dia baik sekali dengan saya,” ujar bapak dari Silvana (8 tahun, kini bernama Nur Hidayah), Sarah (7 tahun, menjadi Siti Sarah), dan Zakaria (4 tahun) ini.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, kata Yahya, dirinya berdialog panjang soal Islam. Anehnya, kata dia, si penjual ikan yang mengaku tidak lulus sekolah dasar (SD) itu sangat mahir dalam menceritakan soal Islam. Ia makin tertarik pada Islam.

Namun, sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana, salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). “Saat saya datangi kampungnya, tidak ada satupun warganya yang menjual ikan dengan bersepeda,” tambahnya.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Karena dipengaruhi oleh pendeta dan saudara-saudaranya. “Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. Jadi, kita memutuskan untuk bercerai,” katanya.

Namun, sambung dia, tidak lama setelah itu, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara, dia di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” kata Yahya.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah sadar, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” ujarnya.

Setelah diceritakan ke istrinya, kata dia, istrinya semakin tidak percaya dan ingin bercerai dengan Yahya. Namun, beberapa jam kemudian, istrinya menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan. Akhirnya istri saya yang mengajak segera masuk Islam,” katanya.

Akhirnya, kata Yahya, bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan H. A. Qomarun Shofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah, Yahya dan istrinya mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kekuatan saya, sekarang hanya shalat tahajud malam dan Dhuha pukul 08.00,” ujar mantan Rektor yang UKI Papua ini.


Yang kubaca, buku ini adalah cetakan pertama. Tebalnya 320 halaman, termasuk
lembar catatan di belakang. Halaman covernya cukup bagus, judulnya pun dicetak
dengan cetak timbul. Berawal dari seorang teman yang meminjamkan buku ini
padaku. ”Coba baca deh, isinya bagus .. .”

Sepintas aku lihat-lihat, buku ini khas dengan gaya bicara seorang pendeta.
Meletup-letup, bersemangat, bahkan aku bisa bayangkan sang penulis sedang
memberikan ceramahnya di depanku sambil mengacung-acungkan tangannya (seperti
pak SBY), Cuma bedanya dari SBY sang penulis melakukannya dengan nada suara
bersemangat dan meledak-ledak. Kira-kira seperti orang orasi.

Ada 7 bab dalam pembahasan ini. Yang terus terang, ini adalah sebenar-benarnya
buku yang pernah kubaca dan mampu ”menelanjangi” konsep keimanan kristen. Bukan
dengan membenturkannya dengan Islam, tapi membenturkannya dengan ayat-ayat
kitab sucinya sendiri (bibel). Aneh, begitu banyak kontradiksi dalam kitab suci
Injil ini (atau setidaknya, kitab suci yang orang-orang ”anggap” sebagai
injil). Ada yang bilang, ini bukan injil. Injil yang asli bukan seperti ini.
Tapi pada faktanya, kitab ini tetap dikenal sebagai injil. Meskipun, seperti
yang kubilang tadi banyak pertentangan, keanehan, ketidaklogisan dari kitab ini.

Konsep ketuhanan Kristen

”Benarkah Kristen ini adalah kelanjutan dari agama Yahudi?” Kalau ditilik dari
sejarah peristiwa pen-Tuhan-an Yesus, maka pikiran kita pasti akan kembali pada
peristiwa penyaliban yang dilakukan oleh Romawi kala itu. Ketika muncul
pertanyaan itu, jawabnya harusnya sederhana, ya .. atau tidak.

Jika Iya, bukankah seharusnya orang Arab dan Bani Israel memeluk Kristen?
Peristiwa tentang penyaliban Yesus ini terjadi di daerah Timur Tengah. Bahkan
dijelaskan di dalam alkitab, peristiwa penyaliban tersebut sangatlah
menggetarkan hati siapa saja yang melihat dan merasakannya. Dalam alkitab
dikatakan bahwa ketika Yesus disalib maka tanah terbelah, gempa bumi, dan
orang-orang mati bangkit (Lukas 23 : 44-49).

Logikanya sederhana, sekeras hati siapapun ketika sudah melihat dan merasakan
peristiwa ini pasti akan beriman. Peristiwa ini terjadi di Yerusalem di negeri
Yahudi. Jadi, seharusnya imannya orang Yahudi dan orang Kristen dewasa ini
pasti akan sama. Namun pada faktanya, Kristen menuhankan Yesus dan Yahudi
meng-Allahkan Yahwe, bukan Yesus.

Jika memang benar kata alkitab, bahwa dunia dan seisinya diciptakan oleh Tuhan
hanya dengar firman-Nya, apakah kemudian Tuhan kehilangan kekuatannya sehingga
untuk menyelamatkan manusia saja Dia harus turun ke bumi, disalib, dan mati
terlebih dahulu untuk menyelamatkan manusia?

Inti dari ajaran Kristen adalah ”penyelamatan” yang dilakukan oleh Tuhan Yesus
kepada umat manusia. Sehingga premis ”Yesus mati dahulu, barulah tiba
penyelamatan kepada semua manusia” adalah harga mati bagi keimanan Kristen
(Korintus 5:15, Roma 10:9, dsb; lihat Hal 34). Jika peristiwa penyaliban Yesus
sebagai akar keimanan Kristen terbantahkan, maka gugurlah batang dan daun
keimanan Kristen dan agama Kristen dewasa ini.

Inti dari keimanan Kristen adalah ”percaya saja!” maka akan selamat. Yesus
adalah juru selamat bagi dunia (Yohanes 3:16, Yohanes 14:6, Markus 16:16, dsb).
Yang terjadi adalah dogmatika atas nama Agama. Logika tertutup dan akal-budi
manusia ditekan. Karena, begitu mudahnya menemukan kontradiksi antara satu ayat
dengan ayat injil lainnya jika dogma telah terdobrak dan logika terbuka.

Jika ditilik lebih dalam, ayat-ayat tentang pen-Tuhan-an Yesus dan seputar
penyaliban Yesus ini berasal dari Paulus (yang dianggap sebagai Rasul Kristen).
Bahkan 99% ayat tentang pen-Tuhan-an Yesus berasal dari Paulus. Siapakah
Paulus?

Siapakah Paulus?

Boleh dibilang Paulus adalah tokoh paling terkenal dalam dunia Kristen. Bahkan
konon Michael Hart, pengarang buku 100 orang paling berpengaruh di dunia, cukup
ragu-ragu untuk meletakkan Paulus di bawah Yesus, mengingat begitu
berpengaruhnya ajaran Paulus dibanding Yesus. Aneh bukan?

Semua orang penganut Kristen pasti mengenal Paulus. Karena dalam ajaran
Kristen, Paulus adalah rasul yang cerdas, pintar, sabar, dan tegas. Yang entah
bagaimana, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang yang baik hati setelah
sebelumnya dia dikenal sebagai pembunuh dan penjahat. Injil mengatakan bahwa
Paulus awalnya adalah penganut Taurat yang fanatik. ”Tentang kegiatan aku
penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak
bercacat” (FILIPI 3 : 6). Namun di samping itu, sejak muda Paulus sangat
mengagumi budaya Yunani (helenisme) terutama pelajaran filsafatnya. Sehingga
dalam dirinya muncul dua pengaruh yang sangat kuat ini, penganut taurat dan
pengaruh filsafat helenisme.

Paulus sediri bukan orang Yerusalem dan bukan orang Nazareth, sehingga hal ini
membuktikan bahwa sejak muda Paulus tidak pernah berhubungan secara langsung
dengan Isa A.S. Dia bukanlah murid nabi ’Isa dan bukan pula pengikutnya baik di
Yerusalem dan di Nazareth.

Dengan demikian, wajar jika terjadi perbedaan yang sangat kontradiktif antara
ajaran Paulus dan ’Isa AS. Salah satunya tentang dosa warisan. ’Isa tidak
pernah membicarakan sama sekali tentang dosa warisan, sebaliknya ini adalah
ajaran Paulus. ”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh
satu orang dan oleh dosa itu juga maut. Demikianlan maut itu telah menjalar
kepada semua orang, karena semu orang telah berdosa” (ROMA 5 : 12). Contoh lain
adalah tentang konsep pengampunan. ’Isa mengajarkan pengampunan dari Tuhan bagi
orang yang bertobat melalui ucapan, sikap, dan perbuatan. Sedangkan Paulus
mengajarkan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa manusia semata-mata karena
pengorbanan atau penyaliban Yesus Kristus di kayu salib. Dsb.

Jika demikian, jika Paulus tidak pernah menjadi murid Yesus, jika predikat
”Rasul” adalah sesuatu yang tak pantas bagi Paulus, apakah tidak ada satu orang
pun yang mempertanyakan? Ternyata tidak. Injil pun memuat peristiwa ini ketika
orang-orang Korintus menanyakan perihal ini kepadanya sehingga membuat Paulus
semakin terdesak. Dalam Korintus 9 : 1 – 3 dikatakan :
1. ”Bukankah aku Rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat
Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku di dalam Tuhan?”
2. ”Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah Rasul, tetapi bagi kamu aku adalah
Rasul, sebab hidupmu dalam Tuhan adalah materai dari kerasulanku”
3. ”Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengkritik aku”.

”Bukankah aku Rasul? …. ” dari ayat ini saja kita sudah tahu bahwa Paulus
bukanlah seorang Rasul. Jika dia benar-benar Rasul, maka kalimat ini seharusnya
tidak boleh terucap dari mulutnya, sebab secara psikologis dan filosofis makna
kalimat ini menunjukkan kesombongan sekaligus perasaan khawatir bahwa
rahasianya sebagai Rasul palsu akan terbongkar.

Dari 27 kitab perjanjian baru Kristen, 14 kitab di antaranya adalah surat
Paulus. Rasul palsu itu. Sementara itu, seluruh kitab dalam perjanjian baru,
adalah karangan. Ada karangan Markus, Matius, Lukas, Yohanes, dll.

Jadi, setelah semua penjelasan di atas, menurut kita bagaimana kebenaran kitab
Injil sekarang? Tentu tidak logis, dan maksa banget kalau ada yang mengatakan
Injil berasal dari Tuhan.

Konsep Trinitas, dari siapa?

Sesungguhnya konsep Trinitas bukanlah konsep yang diajarkan oleh Yesus / ’Isa
AS. Konsep ’Isa adalah tauhid (pengesaan). Adapun konsep trinitas ada dan
diperkenalkan oleh Paulus. Perdebatan antara pendukung tauhid / unitarianisme
dengan pendukung trinitas tidak kunjung henti. Bahkan diwarnai dengan
pertumpahan darah pada abad I sampai abad ke IV.

Sehingga sejarah mencatat, pada tahun 325 Masehi, Kaisar Romawi Konstantin
mengundang para pendeta dari berbagai penjuru untuk berkumpul di Nicea (Italia)
dalam sebuah kongres. Kongres ini bertujuan untuk menentukan ajaran mana yang
akan dipegang dan dipertahankan. Apakah tauhid atau trinitas.

Setelah lama bersidang, di antara 2.048 pendeta yang hadir, 318 pendeta sepakat
menerima ajaran Paulus (trinitas) dan 1.730 lainnya tetap berpegang pada ajaran
Tauhid ’Isa. Dengan demikian, seharusnya tauhid-lah ajaran yang diakui dan
dipegang. Namun karena Konstantin sendiri adalah penganut paganisme, maka tak
heran, meskipun harus bertentangan dengan keputusan kongres, Konstantin
men-dekrit-kan ke seluruh dunia Kristen bahwa trinitas-lah yang harus dipegang.
Inilah tragedi dalam kepercayaan Nasrani yang amat menyedihkan. Sejak keputusan
itu, tokoh-tokoh Kristen yang masih mempertahankan ajaran unitarian ditangkap,
disiksa, dibunuh karena dianggap golongan sesat. Ketika Rasulullah datang dan
menyatakan diri sebagai utusan Allah, yang meneruskan misi Nabi Musa dan ’Isa,
mereka memeluk Islam secara massal. Di antaranya adalah raja Habasyah/Ethiopia
dan rakyatnya.

Dalam masa pasca kongres Nicea itu pula, ditetapkan :
1. Hari kelahiran Dewa Matahari dijadikan hari sabat Kristen, yaitu hari Minggu.
2. Tanggal kelahiran anak Dewa Matahari, 25 Desember, dijadikan hari kelahiran
Yesus.
3. Lambang Dewa Matahari, silang cahaya (salib), menjadi lambang Kristen.

Padahal aslinya, tidak ada yang tahu pasti kapan Yesus lahir.

Demikianlah, aqidah Kristen ini dibangun. Atas dasar imajinasi dan doktrin yang
terus menerus dihembuskan kepada para pengikutnya. Karena tanpa itu, akan mudah
sekali meragukan kebenaran ajaran Kristen lalu keluar dari Kristen, mengingat
sejarah lahirnya Kristen yang suram, sesuram masa depannya.

Allah SWT, berfirman :
”Sesungguhnya kamu akan menjumpai orang-orang yang paling memusuhi orang-orang
yang beriman, yaitu Yahudi dan orang-orang musyrik (trinitianisme, paganisme,
dan serupanya). Dan sesungguhnya kamu akan menjumpai orang yang paling dekat
persahabatannya dengan orang-orang yang beriman yaitu orang yang berkata :
”Kami adalah orang-orang Nasrani”. Yang demikian itu, disebabkan di antara
mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,
(juga) mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa
yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan
air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab
mereka sendiri) seraya berkata : ”Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an
dan kenabian Muhammad)”.” (Q.S Al-Maidah : 82-83)

Demikian resume sederhana terhadap buku yang luar biasa ini. Masih banyak ilmu
yang terkandung dalam buku tersebut jika kita membacanya sendiri dengan penuh
perhatian. Semoga buku ini menjadi amal sholeh bagi penulisnya, dan penambah
timbangan amal baik bagi penulis dan pembacanya. Semoga dengan ini akan membuka
cakrawala berpikir bagi orang-orang yang mau berpikir tentang kebenaran Islam.

untuk Ebook, sepertinya belum ada Om tante…tp ada rekaman suara, seperti MP3 dll, kalian bisa download gratis disini :

Part 1 >>>>>>>> klik

Part 2 >>>>>>>> klik

Part 3 >>>>>>>> klik

=========

sumber : klik


INDAHNYA ISLAM……

dibawah ini adalah bukti-bukti penjelasan dari beberapa salinan BIBEL yang isinya mengatakan bahwa Nabi ISA (Yesus) versi Kristen pun mengakui bahwa akan ada suatu masa datangnya Nabi Terakhir (Mesiah) yaitu Muhammad SAW..

====================================================

Isaiah 29:12 – Prophet Muhammad (peace be upon him) was unlettered. (Holy Qur’an, 96:1)

Isaiah 21:13-17 – Ishmael’s sons’ (Kedar and Tema) descendants settled in Arabia. Medina was called Tema in Biblical times–next year an army of 1,000 Meccans marched against the Muslims. With only 300 (poorly armed) men, the Muslims defeated the Meccans at the Battle of Badr.

Solomon 5:16 reads – “Cheeko mame tah kim vechulo Mohammadim”–meaning: “His speech is most sweet, and he is altogether desirable.” (‘Mohammad’ means ‘desirable’)

Deuteronomy 18:18 – Both Moses and Muhammad (peace be upon them both) had usual births, married and had children, and were forced to migrate [Moses to Median and Muhammad (p) to Medina]; they marched to battles against their enemies and won physical and moral victories in their lifetime; they were virtually kings, gave laws and scriptures, first rejected by their people and then accepted in the end; they were human beings with no divinity attributed to them by their followers, died a natural death and were buried in this earth. Similarities between Moses and Jesus (peace be upon them both) are: threat to life in early infancy, both were Jewish lettered Prophets, and both performed miracles.

John 14:15-16; 16:7-11 – The Holy Ghost was already present with Jesus (peace be upon him) when he was alive, and the Comforter’s arrival was conditioned upon Jesus’s departure.

John 16:12-14 – Jesus’s message (peace be upon him) was incomplete; therefore another Prophet was needed to guide mankind into all truth.

Acts 14:14; 11:24 – The Gospel of Barnabus didn’t get a place in the New Testament. Chapters 96 and 97 of his gospel read: “In the presence of a great multitude, the priest asked Prophet Jesus: ‘Art thou the Messiah of God whom we expect?’ Prophet Jesus answered: ‘It is true that God hath so promised, but indeed I am not he, for he is made before me and shall come after me.’ … Then said the priest: ‘How shall the Messiah be called, and what sign shall reveal his coming?’ Prophet Jesus answered: ‘The name of the Messiah is admirable, for God Himself gave him the name when He created his soul, and placed it in celestial splendour… Muhammad is his blessed name.'”

Libr :
Development of the Trinity in Light of History
Did Jesus (p) Deny Being God?
Holidays
How Jesus (p) Described the Glory of Prophet Muhammad (p) – Dr Ahmad Shafaat
Jesus (p) in Hadith and Muslim Traditions
Miracles of Jesus (p)
Muslims Criticize Portrayal Of “Jesus” In TV Ad
Refutation to Robert Morey’s Moon-god Myth – Shabir Ali
Sons of God
Submission in the Bible
Women in Islam Vs. the Judaeo-Christian Tradition – Dr. Sherif Abdel Azeem

sumber : klik


Ketua DPW Partai Bulan Bintang (PBB) Surabaya, Sudarno hadi, mengatakan, terjadinya kekerasan yang menimpa warga Ahmadiyah di Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten tidak lain karena sikap pemerintah sendiri. Sebab kasusnya dibiarkan berlarut-larut sejak dahulu. Hadi menilai, dengan belum dibubarkannya Ahmadiyah, berarti sama saja ingin memelihara konflik.

Lebih jelas, Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Jawa Timur ini mengatakan, Ahmadiyah bagi umat Islam merupakan penistaan dan pelecehan agama. Ahmadiyah mengaku Islam, padahal faktanya bukan Islam. Dan itu, kata Hadi termasuk pelanggaran HAM.

“Pelecehan agama juga termasuk pelanggaran HAM berat,” katanya kepada hidayatullah.com Selasa (8/2). Sayangnya, hal itu menurutnya jarang disinggung.

Karena itu, kata Hadi, hingga kapan pun, umat Islam tidak akan menerima keberadaan Ahmadiyah. Hadi menegaskan, solusi agar kejadian serupa tidak terulang hanya dengan membubarkan Ahmadiyah.

“Sumbernya dulu harus dibubarkan,” tegasnya. Maka, jika itu tidak dilakukan, selamanya konflik horizontal bisa terulang lagi.

Hadi menilai, SKB 3 menteri tidak cukup jadi patokan dan upaya untuk mencegah ternjadinya konflik. Sebab, katanya, SKB 3 menteri masih belum tegas dan rentan disalahtafsirkan. Karena itu, kata Hadi pemerintah harus tegas membubarkan Ahmadiyah.

Senada disampaikan Habib Haedar al-Habsy. Menurutnya, SKB 3 Menteri tidak akan efektif. Bahkan jika ditambah seratus menteri sekalipun.

“Solusinya hanya satu, bubarkan Ahmadiyah,” katanya kepada hidayatullah.com. Habib Haedar menilai, mustahil sebuah ajaran itu tidak disampaikan. Selama ada ajaran, maka katanya, pasti akan didakwahkan. Dan itu pasti akan terus menimbulkan konflik. *

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, Ahmadiyah sebaiknya menjadi agama sendiri yang berada di luar Islam sebab ajaran itu bermasalah karena mengatasnamakan Islam tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam(Republika, 7 Februari 2011).

Tentu kita memang perlu memahami kembali arti dari kalimat “Penodaan agama berbeda dengan kebebasan beragama” karena kekeliruan yang ada selama ini, akibat salah kaprahnya kita mendefenisikan Ahmadiyah dan tindakannya. HAM tentu hadir untuk semua Lapisan Masyarakat. Bukan hanya untuk para pengikut Ahmadiyah.

Tapi untuk Umat Muslim yang punya Hak untuk menjaga dan melindungi Kemurnian Agamanya. Surat Keputusan Bersama tiga Mentri harus segera di laksanakan, jangan lagi di undur-undur pelaksanaannya, karena terkesan negara selalu absen dalam urusan Ahmadiyah. Kita wajib melindungi pengikut Ahmadiyah karena mereka bagian dari Rakyat Indonesia, tapi kita perlu kembali Meluruskan apa dan siapa Ahmadiyah itu.

Liga Muslim Dunia melangsungkan konferensi tahunannya di Makkah Al-Mukarramma Saudi Arabia dari tanggal 14 s.d. 18 Rabbiul Awwal 1394 H (6 s.d. 10 April 1974) yang diikuti oleh 140 delegasi negara-negara Muslim dan organisasi Muslim dari seluruh dunia.

Dalam acara itu di lakukan Deklarasi Liga Muslim Dunia – Tahun 1974 yang isinya menyatakan bahwa Qadianiyah atau Ahmadiyah : adalah sebuah gerakan bawah tanah yang melawan Islam dan Muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah aliran Islam; yang berkedok sebagai Islam dan untuk kepentingan keduniaan berusaha menarik perhatian dan merencanakan untuk merusak fondamen Islam. Penyimpangan-penyimpangan nyata dari prinsip-prinsip dasar Islam adalah sebagai berikut (media-islam.or.id) :

1. Pendirinya mengaku dirinya sebagai nabi.
2. Mereka dengan sengaja menyimpangkan pengertian ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an.
3. Mereka menyatakan bahwa Jihad telah dihapus.

Pakistan, Malaysia dan Brunei Darussalam adalah negara yang melarang dengan Tegas ajaran-ajaran Ahmadiyah. Bahkan di pakistan parlemen telah mendeklarasikan pengikut Ahmadiyah sebagai non-muslim. Pada tahun 1974, pemerintah Pakistan merevisi konstitusinya tentang definisi Muslim, yaitu “orang yang meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.Penganut Ahmadiyah, baik Qadian maupun Lahore, dibolehkah menjalankan kepercayaannya di Pakistan, namun harus mengaku sebagai agama tersendiri di luar Islam(wikipedia.org)

Pesan damai akan tersampaikan manakala kita tidak melakukan penodaan agama. Indonesia adalah negara yang menghargai Kebebasan Beragama, tapi bukan berarti memberi kebebasan terhadap penodaan agama. Bukan hanya terjadi saat ini, generasi-generasi terdahulu juga pernah mengalami hal yang sama, yaitu munculnya nabi-nabi palsu.

Mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi dahulu menjadi catatan sejarah yang tak akan terlupakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada saat ini. Para ilmuan prancis mengatakan La Historie Se Pete (sejarah Akan selalu berulang). Tentu akan sangat bermanfaat buat orang-orang yang berfikir dan mengambil pelajaran. Akhir kata, Diam bukan Solusi, Kekerasan bukan Jawaban

JAI (Jemaat Ahmadiyah —Qadyan— Indonesia) dan GAI (Gerakan Ahmadiyah —Lahore— Indonesia); mereka sama-sama mengimani Tadzkirah (kitab suci Ahmadiyah, yang disebut kumpulan wahyu muqoddas —suci— yang diyakini sebagai wahyu dari Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad). Padahal inti kesesatannya yang sampai mereka dihukumi kafir adalah karena Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu kemudian dikumpulkan dalam bentuk kumpulan wahyu yang dinamai Tadzkirah itu. Dan segala kesesatan sampai Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi dan Rasul, bahkan mengaku kedudukannya sebagai anak Allah, atau bahkan MGA itu dari Allah, dan Allah itu dari MGA; semuanya ada di Tadzkirah, dan diyakini oleh Ahmadiyah Qadyan maupun Lahore. Itu adalah kemusyrikan yang nyata.

Ahmadiyah Lahore tidak mau menerima pemahaman bahwa kekhalifahan hanya dipegang oleh anak cucu Mirza Ghulam Ahmad. Maka sejak matinya Nuruddin Bairawi, Ahmadiyah pecah jadi dua, Qadyan dan Lahore. Basyiruddin memimpin JA (Jemaat Ahmadiyah) Qadyan sebagai Khalifah yang kedua menggantikan Nuruddin, sedang Muhammad Ali memimpin AL (Ahmadiyah Lahore).

Dari Basyiruddin dan selanjutnya seakan kekhalifahannya itu adalah kerajaan. Itulah perbedaannya antara Ahmadiyah Qadyan dan Lahore. Sebenarnya sama, hanya beda hal-hal yang seperti tersebut.

Keputusan Muktamar II Mujamma’ al-Fiqh al-Islami (Akademi Fiqih Islam) di Jeddah, Desember 1985 M tentang Aliran Qadiyaniyah, antara lain menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam karena mengingkari ajaran Islam yang qath’i dan disepakati oleh seluruh ulama Islam bahwa Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.Teks Keputusan tersebut adalah sebagai berikut:

إِنَّ مَاادَّعَاهُ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَد مِنَ النُّبُوَّةِ وّالرِّسَالَةِ وَنُزُوْلِ الْوَحْيِ عَلَيْهِ إِنْكَارٌ صَرِيْحٌ لِمَا ثَبَتَ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ ثُبُوْتًا قَطْعِيًّا يَقِيْنِيًّا مِنْ خَتْمِ الرِّسَالَةِ وَالنُّبُوَّةِ بِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّهُ لاَيَنْزِلُ وَحْيٌ عَلَى أَحَدٍ بَعْدَهُ، وَهذِهِ الدَّعْوَى مِنْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ تَجْعَلُهُ وَسَائِرَ مَنْ يُوَافِقُوْنَهُ عَلَيْهَا مُرْتَدِّيْنَ خَارِجِيْنَ عَنِ اْلإِسْلاَمِ، وَأَمَّا الَّلاهُوْرِيَّةُ فَإِنَّهُمْ كَالْقَادِيَانِيَّةِ فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ بِالرِّدَّةِ، بِالرَّغْمِ مِنْ وَصْفِهِمْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ بِأَنَّهُ ظِلٌّ وِبُرُوْزٌ لِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.

“Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang diembannya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terhadap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qath’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Islam, yaitu bahwa Muhammad Rasulullah adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorangpun setelah itu. Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pegikutnya menjadi murtad, keluar dari agama Islam. Aliran Qadyaniyah dan Aliran Lahoriyah adalah sama, meskipun aliran yang disebut terakhir (Lahoriyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah sebagai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Muhammad SAW”. (Keputusan Mujamma’ al-Fiqh al-Islami —Akademi Fiqih Islam— Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1985 M).

Beda Ahmadiyah Qadyan, Ahmadiyah Lahore, dan Islam

Menurut penelitian M Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam mengenai Ahmadiyah di Indonesia sebagai berikut:

Dari segi keorganisasian, Jemaat Ahmadiyah Indonesia memiliki dua kelompok yang berbeda dengan keyakinan (aqidah) yang berbeda pula. Pertama, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, kelompok ini biasa disebut dengan Ahmadiyah Qadiyan. Kedua, Gerakan Ahmadiyah Indonesia, biasa disebut Ahmadiyah Lahore.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Qadiyan)
Kelompok Jemaat ini memiliki keyakinan bahwa:

Mirza Ghulam Ahmad a.s itu seorang nabi dan rasul.
Mirza Ghulam Ahmad a.s menerima wahyu.
Wahyu-wahyu tersebut diturunkan kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad di India.
Menurut buku putih mereka, wahyu-wahyu tersebut ditulis Nabi Mirza dan terpencar dalam delapan puluh enam buku (Buku Putih, Kami Orang Islam, PB JAI, 1983, hal. 140-141).
Wahyu-wahyu yang terpencar itu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku bernama: Tadzkirah ya’ni wahyul muqoddas (Tadzkirah adalah: kumpulan wahyu-wahyu suci/sebuah kitab suci yaitu kitab suci Tadzkirah).
Mereka mempunyai kapling kuburan surga di Qadiyan (tempat kuburan nabi Mirza). Kelompok ini menjual sertifikat kuburan surga tersebut kepada jama’ahnya dengan mematok harga yang sangat mahal. (copian sertifikat kuburan surga di Rabwah, dari buku Ahmad Hariadi, Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qadiyani, Rabithah Alam Islami, Makkah Mukarramah, 1408H/1988M, hal, 64-65).
Qadiyan dan Rabwah bagi mereka adalah sebagai tempat suci.
Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore)
Kelompok Jemaat ini memiliki keyakinan bahwa:

Mirza Ghulam Ahmad a.s itu seorang mujaddid (pembaharu) Islam.
Mirza Ghulam Ahmad a.s muhaddats (orang yang berbicara dengan Allah secara langsung).
Mirza Ghulam Ahmad a.s menerima wahyu. Adapun wahyu yang diterima Mirza merupakan potongan-potongan dari ayat Al Qur’an. Penurunan ayat yang sepotong-sepotong itu bukan berarti membajak ayat Al Qur’an. Menurut keyakinan mereka “Itu bukan urusan Mirza Ghulam Ahmad, tetapi urusan Allah”. (PB GAI, Agustus 2002, hal. 13).
Seluruh wahyu-wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad itu adalah betul-betul wahyu yang datang dari Allah SWT.
Ahmadiyah berbeda jauh dengan Islam

Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhoi-Nya, bukan pendapat manusia, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang mengatakannya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali ‘Imran [3] : 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali ‘Imran [3] : 85).

Nabi Muhammad SAW menjelaskan secara gambling:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ».

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Dalam penerapan agama itu maka tidak ada pilihan lain lagi, apabila Allah dan rasul-Nya telah menentukan sesuatu.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nuur [24] : 51)

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلكِنْ رَّسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi; dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab [33]: 40)

وَأَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ، ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-An’am [6] : 153)

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ … (المائدة : 105)

“Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS. al-Ma’idah [5] : 105)

Hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam.; a.l.:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ، لاَنَبِيَّ بَعْدِيْ (رواه البخاري(

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Bukhari).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ، فَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِيْ وَلاَ نَبِيَّ

Rasulullah SAW bersabda: “Kerasulan dan kenabian telah terputus; karena itu, tidak ada rasul maupun nabi sesudahku” (HR. Tirmidzi)

Mengenai berbagai betapa sesatnya Ahmadiyah dan adanya kelompok-kelompok yang mengaku Islam namun justru membela aliran sesat Ahmadiyah dapat dibaca di buku Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, karya Hartono Ahmad Jaiz dkk, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta-Surabaya, 2008, atau cetakan edisi lux yang terbit di Saudi Arabia dan beredar di berbagai kota di sana.

Di antara kesesatan Ahmadiyah selain meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi adalah memalsu dan memlesetkan ayat. Contohnya, Ahmadiyah memelestkan ayat tabbat yadaa abi lahab. Lanjutannya bukan maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wamaa kasab, tetapi maa kaana lahuu an yadkhula fiihaa illaa khaaifaa (Dia tidak masuk ke dalamnya —neraka— kecuali dengan rasa takut).

Masih banyak ayat-ayat yang dipalsukan, dijelaskan dalam buku itu, di samping aliran-aliran sesat lainnya dengan aneka penyesatannya pula.

Seakan buku itu sebagai lanjutan dari buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia yang membincang berbagai corak aliran sesat.

Sumber : klik