Arsip untuk Juni, 2015


image

Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya. Bukan ajarannya, melainkan penampilan kesejarahan itu sendiri, meliputi kelembagaannya.

Mula-mula seorang nabi membawa risalah (pesan agama, bertumpu pada tauhid) bernama Muhammad, memimpin masyarakat muslim pertama. Lalu empat pengganti (khalifah) meneruskan kepemimpinannya berturut-turut. Pergolakan hebat akhirnya berujung pada sistem pemerintahan monarki.

Begitu banyak perkembangan terjadi. Sekarang ada sekian republik dan sekian kerajaan mengajukan klaim sebagai ‘negara Islam’. Ironisnya dengan ideologi politik yang bukan saja saling berbeda melainkan saling bertentangan dan masing-masing menyatakan diri sebagai ‘ideologi Islam’. Kalau di bidang politik terjadi ‘pemekaran’ serba beragam, walau sangat sporadis, seperti itu, apalagi di bidang-bidang lain.

Hukum agama masa awal Islam kemudian berkembang menjadi fiqh, yurisprudensi karya korps ulama pejabat pemerintah (qadi, mufti, dan hakim) dan ulama ‘non-korpri’. Kekayaan sangat beragam itu lalu disistematisasikan ke dalam beberapa buah mazhab fiqh, masing-masing dengan metodologi dan pemikiran hukum (legal theory) tersendiri.

Terkemudian lagi muncul pula deretan pembaharuan yang radikal, setengah radikal, dan sama sekali tidak radikal. Pembaharuan demi pembaharuan dilancarkan, semuanya mengajukan klaim memperbaiki fiqh dan menegakkan ‘hukum agama yang sebenarnya’, dinamakan Syari’ah. Padahal kaum pengikut fiqh dari berbagai mazhab itu juga menamai anutan mereka sebagai syari’ah.

Kalau di bidang politik—termasuk doktrin kenegaraan—dan hukum saja sudah begitu kacau-balau keadaannya, apalagi dibidang-bidang lain; pendidikan, budaya kemasyarakatan, dan seterusnya. Tampak sepintas lalu bahwa kaum muslimin terlibat dalam sengketa di semua aspek kehidupan, tanpa terputus-putus. Dan ini lalu dijadikan kambing hitam atas melemahnya posisi dan kekuatan masyarakat Islam .

Dengan sendirinya lalu muncul kedambaan akan pemulihan posisi dan kekuatan melalui pencarian paham yang menyatu dalam Islam, mengenai seluruh aspek kehidupan. Dibantu oleh komunikasi semakin lancar antara bangsa-bangsa muslim semenjak abad yang lalu, dan kekuatan petrodollar negara-negara Arab kaya minyak, kebutuhan akan ‘penyatuan’ pandangan itu akhirnya menampilkan diri dalam kecenderungan sangat kuat untuk menyeragamkan pandangan. Tampillah dengan demikian sosok tubuh  baru: formalisme Islam. Masjid beratap genteng, yang sarat  dengan simbolisasi lokalnya sendiri negeri kita, dituntut untuk ‘dikubahkan’. Budaya Wali Songo yang serba ‘Jawa’, Saudati Aceh, Tabut Pariaman, dan lain-lain didesak ke pinggiran oleh kasidah berbahasa Arab dan juga MTQ yang berbahasa Arab: bahkan ikat kepala lokal (udeng atau iket di Jawa ) harus mengalah  kepada sorban ‘merah putih’ model Yasser Arafat.

Begitu juga hukum agama, harus diseragamkan dan diformalkan: harus ada sumber pengambilan formalnya, Al-Quran dan Hadist, padahal dahulu cukup dengan apa kata kiai. Pandangan kenegaraan dan ideologi politik tidak kalah dituntut harus ‘universal’; yang benar hanyalah paham Sayyid Qutb, Abul A’l Al Maududi atau Khomeini. Pendapat lain, yang sarat dengan latar belakang lokal masing-masing, mutlak dinyatakn salah.

Lalu, dalam keadaan demikian, tidakkah  kehidupan kaum muslimin tercabut dari akar-akar budaya lokalnya? Tidakkah ia terlepas dari kerangka kesejarahan masing-masing tempat? Di Mesir, Suriah, Irak, dan Aljazair, Islam ‘dibuat’ menentang nasionalisme Arab—yang juga masing-masing bersimpang-siur warna ideologinya.

Di India ia menolak wewenang mayoritas penduduk yang beragama Hindu untuk menentukan bentuk kenegaraan yang diambil. Di Arab Saudi bahkan menumpas keinginan membaca buku-buku filsafat dan melarang penyimakan literatur tentang sosialisme. Di negeri kita sayup-sayup suara terdengar untuk menghadapkan Islam dengan Pancasila secara konfrontatif—yang sama bodohnya dengan upaya sementara pihak untuk menghadapkan  Pancasila dengan Islam.

Anehkah kalau terbetik di hati adanya keinginan sederhana: bagaimana melestarikan akar budaya-budaya lokal yang telah memiliki Islam di negeri ini? Ketika orang-orang Kristen meninggalkan pola Gereja kota kecil katedral ‘serba Gothik’ di kota-kota besar dan gereja kota kecil model Eropa, dan mencoba menggali Aritektur asli kita sebagai pola baru bangunan gereja, layakkah kaum muslimin lalu ‘berkubah’ model Timur Tengah dan India? Ketika Ekspresi kerohanian umat Hindu menemukan vitalitasnya pada gending tradisional Bali, dapatkah kaum muslimin ‘berkasidahan Arab’ dan melupakan ‘pujian’ berbahasa lokal tiap akan melakukan sembahyang?

Juga mengapa harus menggunakan kata ‘shalat’, kalau kata ‘sembahyang’ juga tidak kalah benarnya? Mengapakah harus ‘dimushalakan’, padahal dahulu toh cukup langgar atau surau? Belum lagi ulang tahun, yang  baru terasa ‘sreg’ kalau dijadikan ‘milad’. Dahulu tuan guru atau kiai sekarang harus ustadz dan syekh, baru terasa berwibawa. Bukankah  ini pertanda Islam  tercabut dari lokalitas yang yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini?

Kesemua kenyataan di atas membawakan tuntutan untuk membalik arus perjalanan Islam di negeri kita, dari formalisme berbentuk ‘Arabisasi total’ menjadi kesadaran akan perlunya dipupuk kembali akar-akar budaya lokal dan kerangka kesejarahan kita sendiri, dalam mengembangkan kehidupan beragama Islam di negeri ini. Penulis menggunakan istilah ‘pribumisasi Islam’, karena kesulitan mencari kata lain. ‘Domestikasi Islam terasa berbau politik, yaitu penjinakan sikap dan pengebirian pendirian.

Yang ‘dipribumikan’ adalah manifestasi kehidupan Islam belaka. Bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Tidak diperlukan ‘Quran Batak’ dan Hadits Jawa’. Islam tetap Islam, dimana saja berada. Namun tidak berarti semua harus disamakan ‘bentuk-luar’nya. Salahkah kalau Islam ‘dipribumikan’ sebagai manifestasi kehidupan?

Klik


image

Oleh : Muhidin M Dahlan – Mojok.Co

Komunis itu gak ber-Tuhan, kan? Kalau gak bertuhan, gak mungkin ikut puasa Ramadan dan pasti emoh dengan idul fitri.

Sabar. Jangan asal nyamber. Mesti tabayyun. Sebelum ke soal menu Ramadan dalam keluarga Kuminis, kita selesaikan dulu habluminallah ini. Kalau ini gak selesai, sukar kamu saya ajak beranjak ke penganan puasa atau kue lebaran.

Paragraf Antitesis: Konstitusional. Yang bilang kuminis di Indonesia itu gak ber-Tuhan dan gak Pancasilais adalah mereka yang belum baca transkrip lengkap Sidang Konstituante 1956-1957, yang diadakan di Gedung Merdeka, Braga, Bandung.

Di gedung yang saat ini dikenal dengan Museum KAA itu, kaum kuminis yang finis urutan ke-4 Pemilu 1955 berdebat keras soal sila pertama. Usulan kuminis: Kebebasan Beragama bagi Para Pemeluknya. Dalam penjelasannya, kuminis berpandangan keyakinan-keyakinan pribumi yang sudah berurat akar dengan pohon-pohon dan bebatuan mesti mendapat perlindungan konstitusional yang sama dari negara. Lawan kerasnya adalah Masyumi—dengan kertas harga mati: “Syariat” dan “7 Kata” yang itu.

Setelah berdebat berlarut-larut, kuminis mengendur. Ikut syariat Masyumi? Gak! Balik berjibaku bersama PNI yang sedari awal kukuh dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dari situ, partai kuminis boleh dibilang menjadi front pembela “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Artinya, kuminis tidak anti Ramadan, tidak anti puasa; juga tidak anti kepada mereka yang menjalankan keyakinannnya dengan tak mengganggu keyakinan yang lain.

Jika politisi Masyumi, Darul Islam, PII, HMI dimaki-maki kuminis, itu bukan karena kaum marxis ini sentimen pada golongan Islam, ulama, penceramah kultum Ramadan, amil zakat, tapi karena melawan kebijakan pemerintahan Sukarno yang termaktub dalam “Manifesto Politik”. Bukan soal akidah dan teologi, tapi gesekan politik di lapangan amal (rebutan konstituen dan lomba program di akar rumput).

Kayaknya, teguran Sukarno sukses meredam agresivitas kuminis ini ketika menulis Di Bawah Bendera Revolusi  Jilid I (1959: 20-21):

“Tak pantaslah kaum Marxis itu bermusuhan dan berbenturan dengan pergerakan Islam jang sungguh-sungguh. Tak pantas mereka memerangi pergerakan, jang, sebagaimana sudah kita uraikan diatas, dengan sterang-terangnja bersikap anti-kapitalisme; tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan jang dengan sikapnja anti-riba dan anti-bunga dengan seterang-terangnja jalah anti-meerwaarde pula; dan tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan jang dengan seterang-terangnja mengedjar kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, dengan seterang-terangnja mengedjar nationale autonomie; oleh karena taktik Marxisme-baru terhadap agama agama adalah berlainan dengan taktik Marxisme-dulu. Marxisme-baru adalah berlainan dengan Marxisme dari tahun 1847, jang dalam ‘Manifes Komunis’ mengatakan, bahwa agama itu harus di-‘abschaffen’ atau dilepaskan adanja”.

Posisi kuminis di soal mereka ber-Tuhan atau nggak sudah klir, kan? Kalau belum, kembali lagi ke paragraf “Antitesis”. Bagi kamu yang sudah agak dong, kita lanjutkan ke contoh-contoh menu penganan pasca magrib yang ditawarkan mamah-mamah kuminis maupun mamah yang bersimpati pada ideologi gerakan kuminis.

Di tahun 1960, hari pertama Ramadan jatuh pada 28 Februari dan satu syawal (Lebaran) pada 29 Maret. Sebagai pengkliping koran, saya agak jengkel juga, kok Ramadan di koran resmi kuminis macam Harian Rakjat atau di majalah Gerwani Api Kartini sepi-sepi saja menyambut Ramadan. Gak ada ramai-ramai debat macam jumlah rakaat terawih, perang pernyataan penentuan awal dan akhir Ramadan, sahur on the road, d.l.l.d.s.b. Mungkin kuminis ini belum juga move on dari butir konstitusi perjuangannya yang kandas: “Kebebasan dalam Beragama”.

Namun betap girangnya saya ketika pada 16 Maret, atau saat malam Nuzulul Quran, mamah-mamah kuminis mengeluarkan resep di koran untuk dijadikan panduan santap keluarga kuminis yang berada di bawah naungan komisariat-komisariat di desa; baik yang berpuasa maupun yang tidak terikat pada kewajiban itu.

Mamah-mamah kuminis ini rajin mengeluarkan resep dapur agar keluarga kuminis punya menu makanan yang terukur, sehat, dan insya Allah harganya terjangkau.

Dalam keluarga kuminis, makan masakan di rumah lebih afdol ketimbang jajan di restoran. Makan di restoran adalah caranya borjuis. Adatnya rakyat, ya makan di dapur keluarga sendiri.

Mengapa?

Karena umumnya keluarga kuminis itu keluarga besar, anak banyak, keluarga jauh ikut, atau kamerad-kamerad muda banyak numpang di rumah kamerad yang lebih senior. Makan di restoran? Cashflow rakyat bisa rempong.

Keluarga Politbiro macam M.H. Lukman yang berjumlah 17 mulut sudah mempraktikan itu bertahun-tahun sebelum keluarga teladan itu disapu. Bahkan si mamah, sesibuk apa pun, mesti belanja sendiri ke pasar. Karena di tangan sang mamah kuminis itulah gizi rakyat mesti dicocokkan dengan bajet.

Biar dikata sudah jadi aktivis, mamah-mamah kuminis senantiasa ingat dapurnya. Dapur mamah kuminis itu politik. Karena mamah kuminis-lah yang menjaga agar apa yang masuk di lambung dan melahirkan energi gerak anti-imperialisma dan anti-kapitalisma betul-betul makanan halal rakyat.

Ini menu mamah kuminis untuk berbuka puasa. Berbukalah dengan yang marxis-marxis manis-manis dan bikin hangat lambung. Mamah kuminis kasih ke kamu resep bikin Poding Tape (sekalian untuk penganan Lebaran) dan Skoteng supaya tidak mudah tumbang dihantam angin dingin selagi itikaf di serambi masjid atau sedang ngaji; atau sambil lembur kerjaan untuk Rakyat.

PODING TAPE

Bahan: 1 ons tepung terigu; 1 ons gula halus; 1 ons mentega; 1 sendok teh panili; 1 butir telur ayam; 1 mangkok tape singkong (ubi kayu).

Membuatnya: Tape dibuang uratnya terus dilumatkan. Gula, mentega, kuning telur, dan panili dikocok. Kalau sudah kembang, masukkan tape dan putih telur yang sudah dikocok juga. Aduklah semuanya sampai rata. Lalu bakar dalam pembakaran yang cukup panasnya. Kalau sudah masak, angkat!

SKOTENG

Bahannya: Biji delima dimasak (dari tepung kanji) secukupnya; Roti dipotong kecil-kecil 1 piring; Kacang hijau direbus kering 1 cangkir; Jahe sebesar empu kaki; 1 helai daun pandan; 1 helai daun jeruk perut.

Membuatnya: Biji delima dimasak didalam air yang mendidih, kemudian dikeluarkan dan dikeringkan. Masaklah lima mangkok air dengan satu mangkok gula pasir beserta daun pandan, daun jeruk purut, dan jahe. Minum selagi panas, campurkanlah dua sendok makan roti, biji delima kacang hijau untuk satu mangkok sekoteng.

Jika kamu mencoba resep penganan sederhana itu, dan naudzubillah, kok setelah disajikan di meja, penganan ala mamah kuminis itu berubah bentuk/rasa jadi beling, paku, silet, artinya kamu telah menelan habis agitprop yang bekerja puluhan tahun selama ini; mamah-mamah kuminis itu jelmaan kuntilanak laknat.

Salam katastrofi mendunia, Kanda Taufiq(k) Gaffar! Komunisma, narkoba, ndasma.


Keyakinan Lukman Sardi Bukan Urusan Kita
Oleh ARMAN DHANI // 21 JUNI 2015

image

Di Purwodadi, saya punya seorang bibi yang beragama Katolik. Ibu bilang, jika ada rezeki, ingin sekali diantar ke kota itu menemui adiknya.

Kakek saya menikah dua kali, dan bibi saya ini adalah anak dari istri keduanya. Tapi sejak kecil bibi diasuh dan dirawat oleh ibu. Kata ibu, ia punya ikatan emosional yang jauh lebih kuat dengan bibi ini daripada saudara-saudaranya yang lain.

Saat ramadan tiba, bibi biasanya mengirimkan paket untuk ibu. Kadang isinya mukena, kadang kain. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain absurd. Seorang Katolik mengirimkan barang-barang yang berkaitan identik dengan ritus Islam.

Di bulan puasa inilah, bibi dan ibu paling sering berhubungan. Mungkin karena waktu kerja yang lebih lowong, atau nuansa liburan yang lebih santai, atau kenangan keduanya tentang Ramadan di masa kecil.

Saat almarhum kakek menjelang maut, bibi mengirimkan banyak sekali peralatan kesehatan. Ia seorang perawat, dan punya akses terhadap teknologi kesehatan. Semua barang itu dikirim dari Purwodadi ke Bima, tempat kakek terbaring sakit. Tentu alat-alatnya mahal dan biaya pengirimannya tidak murah. Tapi peralatan itu ditolak oleh saudara-saudara ibu. Konon karena bibi sudah jadi Katolik, semua barang yang diberikan olehnya adalah haram.

Maka ketika Lukman Sardi berganti agama lantas dicaci-maki, ya, saya tidak kaget. Biasa saja. Dulu Asmirandah pindah agama juga banyak yang bilang sebaiknya dihukum mati saja. Alasannya? Hadits Nabi yang berbunyi; man baddala dinahu faqtuluhu (barangsiapa pindah agama, maka bunuhlah!).

Selain hadits itu ternyata dla’if (lemah), apakah benar Islam ini sedemikian muram dan mengerikan—sampai-sampai yang pindah agama mesti dibunuh?

Saya bukan ahli fiqih, maka sebaiknya pertanyaan itu kita tanyakan kepada tokoh-tokoh yang punya keilmuan mumpuni. Orang-orang yang sudah membaca ribuan kitab, hafal ratusan ribu hadits dan memiliki penguasaan Bahasa Arab par excelence. Tentu saja mereka adalah orang-orang seperti Kakanda Jonru, Kyai Hafidz Ary dan Tuanku Imam Felix Siauw. Mereka adalah para pembela Islam garda depan yang keilmuannya paling tinggi, jauh melampaui Gus Mus atau bahkan Prof. Quraish Shihab sekalipun.

Saya pikir, perpindahan keyakinan tidak semestinya diakhiri dengan eksekusi. Apakah saya berlebihan? Oh tidak, kejadian semacam ini kerap terjadi. Bahkan majalah-majalah religius rajin sekali merayakan perpindahan agama—seperti sebuah kemenangan atas perang. Seseorang yang berganti agama akan dimanfaatkan tiap-tiap kelompok untuk menunjukan dominasinya, seolah kebenaran itu hanya miliknya, dan dengan adanya seseorang berganti agama, maka agama terakhir menjadi semakin terafirmasi kebenarannya.

Lho, memilih klub sepak bola pun perlu keimanan. Kadang mereka yang pindah mendukung klub lain akan diperlakukan sebagai paria. Dinista, dianggap pengkhianat, dan dihujat. Sementara bagi klub baru, si mualaf tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Ia bisa saja dituduh mata-mata, glory hunter, orang genit dan tidak punya kesetiaan. Untunglah hal demikin tidak pernah terjadi pada klub sebesar segurem Manchester United, klub yang melahirkan para pendukung yang teguh tauhidnya taklid buta.

Tapi cukup soal sepak bola. Lantas kenapa kalau seseorang pindah agama?

Dengan Lukman Sardi pindah agama, apakah angka kemiskinan dan pengangguran akan bertambah? Indonesia akan masuk jurang krisis ekonomi? Atau tiba-tiba beras hilang dari pasar? Saya kira tidak.

Perpindahan keyakinan Lukman Sardi tidak akan berpengaruh apapun bagi kemaslahatan rakyat banyak. Tapi korupsi, kekerasan terhadap minoritas, dan pengrusakan hutan, semuanya punya pengaruh besar untuk kehidupan berbangsa kita.

Lagipula saya percaya, ada hal-hal yang tak bisa kita paksakan hanya karena ia terasa benar. Dan firman Tuhan: “Tidak ada paksaan dalam agama”, lebih dari cukup bagi saya untuk tidak usil dengan kepercayaan orang lain.

Keyakinan sendiri seharusnya lebih penting daripada keyakinan orang lain. Sehingga kita tidak perlu meributkan, mengecam, atau mengglorifikasi perpindahan agama seseorang. Tidak juga dalam kasus Lukman Sardi.

Kecuali jika Anda tidak cukup percaya diri, lemah akal, dan takut bahwa keyakinan yang Anda miliki salah. Itu tentu akan melahirkan paranoia, bahwa agama Anda bisa rusak hanya karena ada orang lain yang pindah agama.

Berkeyakinan semestinya adalah pilihan masing-masing, kesunyian masing-masing. Itupun jika Anda cukup berani menghadapi perbedaan.

Mojok.Co


Mumpung Ramadhan
Oleh : Gus Candra Malik*
image

Sujiwo Tejo seolah menggugat: apa enaknya berpuasa bareng-bareng? “Aku berpuasa, kau, dan dia, juga mereka, pun kalian, kita semua berpuasa pada hari dan bulan yang sama,” ujarnya. Yang Sujiwo Tejo maksud adalah berpuasa di Bulan Suci Ramadhan. Lalu, yang semakin tidak ia mengerti, orang-orang bangun dan makan sahur pada jam-jam yang nyaris serentak. Dan lebih absurd lagi, Tejo bilang: lalu kita mengadakan acara berbuka puasa bersama.

“Aku lebih suka berpuasa seorang diri. Orang-orang tetap makan dan minum, dan aku tidak. Bahkan, ketika itu aku berada di antara mereka. Ini puasa yang asyik,” kata dalang yang juga pemain saksofon dan komposer itu, dalam majelis Suluk Maleman di Rumah Adab Mulia Indonesia, di Pati, Jawa Tengah, 13 Juni malam lalu. Baginya, dan bagi orang-orang yang merasakan hal yang sama, Bulan Suci Ramadhan justru menjelma bulan makan-minum teratur. Bulan konsumtif, bulan ketika grafik inflasi meningkat hingga lebaran.

Sujiwo Tejo yang ke mana-mana kini suka melantangkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an di luar pakem Qira’atul Sab’ah ini lebih suka jika bahkan tidak ada yang tahu dirinya sedang berpuasa. Atau berpuasa dengan godaan yang komplit: aneka santapan boleh tetap di meja makan, warung-warung leluasa buka, kehidupan malam dibiarkan apa adanya, dan orang-orang tak perlu tiba-tiba berakting diri mereka beriman.

Tidak hanya itu. Sujiwo Tejo menaruh kecurigaan: jangan-jangan berpuasa di luar Ramadhan lebih baik dari berpuasa di Bulan Suci yang penuh berkah ini. Ya, Allah memang berjanji akan memberi rahmat pada sepuluh hari pertama, ampunan pada sepuluh hari kedua, dan perlindungan dari api neraka pada sepuluh hari ketiga. Belum termasuk anugerah Lailatul Qadar yang bahkan nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Sujiwo Tejo, yang musikus dan penulis itu, memang terbiasa dengan ritme. Tak ayal, ia menduga Bulan Suci Ramadhan semacam interval atau spasi atau jeda dari sebelas bulan lainnya dalam satu tahun berjalan. Tapi, pandangannya itu sesungguhnya segendang-seperiangan dengan petuah para kiai. Yakni jadikan ibadah di Bulan Suci Ramadhan serupa latihan yang keras sebelum kita benar-benar berlaga sebelas bulan ke depan.

Namun, apa jadinya jika orang-orang yang berpuasa di Bulan Suci Ramadhan menuntut untuk dihormati oleh orang-orang yang tidak berpuasa? Sebelas bulan ke depan, apa jadinya jika giliran mereka yang tidak berpuasa? Akankah mereka menghormati orang lain yang berpuasa? Ataukah egosentris ini cuma di Bulan Suci Ramadhan? Bukankah saling menghormati lebih baik daripada saling tidak menghormati?

Tentu, tema obrolan meluas jika lantas mulai membanding-bandingkan. Hari Raya Nyepi di Bali, misalnya, berlaku secara umum bagi siapa pun. Tak hanya umat Hindu, siapa pun yang pada hari itu berada di Pulau Dewata diwajibkan untuk patigeni atau tidak menyalakan pelita. Bali gelap gulita. Bahkan bandar udara internasional Ngurah Rai sampai ditutup. Tapi hanya sehari, bayangkan jika itu berlangsung satu bulan penuh.

Bayangkan jika warung, resto, kafe, dan tempat makan-minum lainnya, serta toko-toko sembako, ditutup total satu bulan penuh. Bayangkan Bulan Suci Ramadhan benar-benar menjelma bulan untuk merasakan lapar dan dahaga. Kita makan-minum seadanya. Bukan justru jadwal makan menjadi teratur, menu menjadi lengkap, dan yang tidak ada pada sebelas bulan lainnya menjadi harus ada di Bulan Suci Ramadhan.

Jika berpuasa Ramadhan dimaknai sebagai menahan lapar dan haus, maka kita akan memperlihatkan wujud asli setelah adzan maghrib berkumandang. Kita melahap apa pun demi membayar rasa lapar dan haus seharian. Semacam balas dendam. Bulan Suci Ramadhan menjelma sebagai bulan aji mumpung. Mumpung Ramadhan, ini harus ada, itu harus tersedia. Toh cuma sebulan dalam setahun. Tidak sepanjang tahun.

Berpuasa seharusnya lebih tentang menahan makan-minum — tentu juga menahan hawa nafsu lain, termasuk hubungan badan suami-istri. Bukan menahan lapar dan dahaga. Sebab, kita justru diminta merasakan lapar dahaga yang dialami fakir miskin dan anak yatim piatu. Jika tidak begitu, wajar jika tingkat konsumsi justru naik — bahkan paling tinggi dalam setahun — di bulan yang semestinya paling hemat ini.

Bulan Suci Ramadhan juga bukan cuma mengenai kewajiban berpuasa. Banyak sunnah lainnya. Dua di antaranya ialah sahur dan berbuka puasa. Maka, tidak perlu mencemooh mereka yang masih sebatas ikut-ikutan sahur dan berbuka puasa. Tidak/ belum mendapat pahala dari ibadah wajib, setidaknya mendapat pahala melalui ibadah sunnah. Semoga Allah kemudian memberinya hidayah dan kekuatan untuk berpuasa penuh.

Alangkah indah jika kita jadikan Bulan Suci Ramadhan sebagai bulan bahagia. Akur, rukun, damai. Tidak memaksakan kehendak antara yang satu dan yang lain. Tidak memaki, tidak pula merusak. Tidak merazia, tidak pula menghardik. Dalam Hadits Qudsi, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,”Puasa itu perisai. Jika sedang berpuasa, jangan kalian mengucapkan kata-kata kotor dan jangan pula berbuat bodoh.”

Masih dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari itu, diserukan,”Jika ada yang mencela dan mengganggu, ucapkan: saya sedang berpuasa.” Kalimatnya sungguh jelas, yaitu: “Saya sedang berpuasa.” Tidak perlu kita tambah-tambahi menjadi kalimat baru, yaitu: “Hormati saya yang sedang berpuasa.” Sebab, puasa bukanlah untuk mencari penghormatan dari sesama manusia.

Terlebih, dalam Hadits Qudsi lainnya yang juga diriwayatkan oleh Bukhari, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,”Seluruh amal anak Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya, puasa itu untukKu dan Aku akan membalasnya.” Jadi, puasa wajib di Bulan Suci Ramadhan maupun puasa sunnah di sebelas bulan lainnya, tidak perlu menjadikan kita merasa lebih benar dan suci dari orang lain. []

*Candra Malik adalah praktisi Tasawuf yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan.

Dipublikasikan di Koran Tempo edisi 18 Juni 2015

https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Malik


image

Kalau Ente termasuk orang yang memiliki enam jari tangan—lantaran ketambahan satu lagi berupa gajet, dan saking nggak bisanya hidup tanpa gajet kecuali saat cebok—pasti nggak asing dengan tren terbaru di kalangan generasi muslim kita: haram-mengharamkan, sesat-menyesatkan, hingga kafir-mengkafirkan. Mulai urusan yang-yangan alias pacaran, tahun baru, valentine, ulang tahun, selfie, parfum, hingga natalan.

Puncak despotisme wacana ini terwakili oleh pekikan: bid’ah, liberal, sesat, kafir, dan ahlu-n-naar. Inilah gaya beragama generasi muslim internet; alumni dari pesantren akun-akun, dari akun yang beneran riil orangnya, sampai yang sekadar diadmini oleh orang-orang yang nyaplok label keislaman, seperti SabdaRasul, TeladanRasul, atau Qur’anHadits. Kelak, bila followernya banyak, bikinlah buku, niscaya bestseller.

Coba tanya ke seseorang yang nulis status haram hukumnya bagi muslimah memakai parfum: “Itu kata siapa, ya?” Niscaya ia akan menjawab: “Kata akun SabdaRasul.”

Lalu tanyakan lagi, “Emangnya itu siapa?”

“Nggak tau Ane. Ya anonimlah.”

“Ooo, berarti alumnus Pesantren Anonim? Baiklah…”

Sanad ilmu! Ini dia biang kerok penyebab generasi serba-haram ini menelan serbuan pandangan, label-melabeli, pengkotakan hingga pesudo-fatwa, dengan hanya berdasarkan celoteh sebuah akun—yang tentu saja tidak tuntas dan detail dalam menjelaskan.

Ya, memang sih, tidak semua anak muda masa kini bertahun-tahun ngendon di pesantren beneran. Sebagian besar mencukupkan diri dengan nyantri pada akun-akun itu, pada Mbah Google, lalu merasa diri sudah punya bekal memadai untuk berdakwah ke mana-mana, seolah-olah sudah paling sip keislamannya lantas mengkafir-kafirkan yang berbeda.

Baiklah, buat yang belum sempat nyantri atau kuliah Islamic Studies secara intensif, Antum cuma butuh sedikit kebijaksanaan ini saja agar tidak menjadi bagian dari generasi serba-sesat yang memualkan itu:

Bedakan Islam dengan Pandangan Orang Islam

Syariat itu teks Al-Quran dan Hadits. Sementara fiqh, sebagai panduan praktis pelaksanaan keduanya, adalah pandangan para ulama, kiai, akademisi, atau siapa pun tentangnya.

Pandangan seseorang bahwa parfum itu haram, misalnya, tidak perlu diyakini sebagai “kebenaran syariat” itu sendiri. Tetapi letakkan ia secara proporsional sebagai pandangan “orang Islam” tentang hukum parfum. Karena ia sekadar pandangan, boleh diamini boleh tidak. Kayak Ente boleh setuju atau mecucu sama saya. Sah-sah saja.

Lha wong mazhab besar aja ada empat itu, lho. Kitabnya tebal-tebal kayak bantal, dari zaman dulu hurufnya gundul semua pula. Kalau beneran mau belajar, mulai dari itu. Gali sampai ke akar-akarnya. Susah? Ya memang susah, makanya jangan mudah mengkafirkan. Kok ya Ente malah fanatik buta sama kultwit Felix Siauw, atau postingan tak berkonteks ala Arrahmah-Online? Logis dikitlah, Bro.

Muhammad Abduh, tokoh pembaharu Islam dari Mesir, pernah berkata: “Islam itu satu hal dan orang Islam itu hal lain.”  Kalau kata Nurcholis Madjid: “Agama itu jangan disamakan dengan pandangan orang terhadap agama.”

Cari perbandingan pendapat 

Kalau Ente gak mampu belajar langsung dari kitab yang tulisannya Arab gundul itu, cobalah sedikit berusaha dengan mencari perbandingan pendapat. Follow sebanyak mungkin akun yang direkomendasikan orang, dengan harapan Ente akan mendapatkan informasi berimbang tentang hukum dan posisi suatu hal.

Nah, dari situ Ente baru bisa menilai sendiri.

Biasanya, level ekstrem pandangan seseorang selalu berbanding lurus dengan level kedunguannya. Semakin esktrem, semakin dangkal pengetahuannya. Kalau dia tahunya hijab syar’i itu modelnya kayak daster Arab saja, dia pasti akan bersikap esktrem melihat muslimah lain yang memakai hijab tidak sama dengannya. Kemudian dengan gampang dia mengkafirkan, padahal itu hanya pandangan sepihak belaka.

Berlakulah adil pada dalil

Di zaman Rasul, memang ndak ada valentine. Wajar ndak ada hadits tentangnya. Dan sekarang, sambil merem Antum mengharamkan valentine secara mutlak atas dasar hadits “tasyabuh” (menyerupai). “Itu produk Barat, budaya kaum kafir, haram bagi umat Islam meniru orang kafir!”

Ndyasmu ambyar, Akhiy!

Mbok ya adil sama dalil, seadil-adilnya. Teriak-teriak tasyabuh haram kok di Facebook. Dikira Facebook itu bikinan Syaikh Abdul Zukerberg dari Arab Saudi apa? Ini benar-benar split personality lho: sakit jiwa, ngambil enaknya dan enggan enegnya.

Jika meyakini konteks tasyabuh sesempit itu hukumnya, matiin dong semua akun Ente. Jangan berperilaku kayak jomblo putus asa yang lari ke bemper pemaknaan dalil dangkal dengan nulis status: yang-yangan itu haram mutlak tanpa pengecualian! Eh, tapi tiap malam malah ngepoin foto-foto Duo Srigala sambil berharap kelak dapat pasangan kayak mereka. Dua sekaligus!

Pahami konteks

Pahami selalu bahwa semua penafsir yang bertampang seperti Felix Siauw, atau Iqbal Daryono sekalipun, tidak sepi dari kepentingan. Nggak ada satu penafsir pun yang steril dari background; dari latar ilmu, kultur, hingga kepentingan—baik yang ideologis maupun bisnis.

Mau sampai Ente yakin jodoh Ente sudah keburu wafat dalam kandungan ibunya—sebab tak kunjung hadir, Mas Felix tetap akan ngomong bahwa khilafah Islamiyah (Negara Islam) itu wajib hukumnya. Mau disodorin bukti historis Piagam Madinah pasal 25-35 yang jelas-jelas Nabi Muhammad melindungi kaum Yahudi di Madinah, ya tetap akan ditolaknya. Mau diberitahu bahwa kitab klasik al-Ahkam al-Sulthaniyyah karangan Abu Hasan Ali al-Mawardi itu pesanan politis Khalifah Al-Qadir Billah untuk meredam kelompok Buwayhid yang merongrong imperium Abbasiyah, plus bantahan Imam al-Juwayni—guru Imam Ghazali yang bergelar Imam Haramain—ya Mas Felix tetap akan teriak-teriak khilafah. Diajak diskusi kitab al-Siyasah al-Syar’iyyah Ibnu Taimiyah yang tidak mewajibkan khilafah legal-formal, juga, tetap saja beliaunya akan keukueh.

Di situ kadang saya merasa wakwaw.

Ya, harap maklum. Mas Felix kan kader populer Hizbut Tahrir Indonesia, yang we-know-lah-nggih-cen-ngoten.

Lantaran aslinya ini hanya wacana alias pandangan menurut A atau B tentang sebuah syariat, yang jelas-jelas ndak ada yang tahu yang manakah yang disetujui Gusti Allah, mbok ya kalem saja to. Ndak usah garang begitu, ngafir-ngafirin orang yang ndak sama denganmu secara fiqh atau bahkan agama. Jangan sampailah Ente jadi orang yang mati-matian berteriak isi kaleng berlabel onta itu pasti halal, padahal isinya ternyata minyak babi. Teliti dulu semua kulit dan isi, baru deh ambil yang cocok bin kontekstual di sini.

Kan kasihan Ente juga, yang dibela apa—cuma kata satu akun yang nggak jelas sanad ilmunya—tapi gaya militan Ente udah kayak prajurit ISIS yang kabarnya dijanjiin surga beserta 70 bidadarinya. Monggo, sana berangkat ke Suriah kalau Ente yakin itu jalan jihad menuju surgaNya.

Sak karepmu, wis, di sana. Tapi tolong, jangan pernah kembali lagi ke sini, sebab di sini ndak sama dengan di sana.

——————————–
@mojokdotco: https://twitter.com/mojokdotco/status/607902154595004417?s=09