Arsip untuk Februari, 2017


Pertama kali saya mendengar nama Jokowi ketika ada pemberitaan hangat mengenai mobil Esemka di Solo. Waktu itu Pak Jokowi masih menjabat sebagai walikota di sana. Jujur dan maaf pada Pak Jokowi, kesan pertama saya melihat Jokowi adalah beliau tidak ada kesan atau punya tampang sebagai pemimpin. Nggak cocok banget, sori ya Pak Jokowi, maafkan saya.

16832197_291102294640975_7119735565031267712_n

Namanya makin tenar ketika namanya disebut-sebut dan ternyata mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Ahok. Namanya terus tenar hingga memenangkan Pilkada DKI dengan menyingkirkan Fauzi Bowo alias Foke. Dua nama ini seolah menyedot perhatian media kemana pun mereka pergi dan beraktivitas. Dan hanya dalam waktu 2 tahun, setelah rumor sana-sini, Jokowi langsung mencalonkan diri menjadi Presiden dan ternyata juga menang setelah menyingkirkan Prabowo-Hatta.

Jujur, saya juga kurang sreg waktu itu. Kenapa Jokowi seperti kutu loncat? Jabatan walikota Solo belum selesai, sudah jadi Gubernur DKI Jakarta. Belum juga selesai periode pertama, sudah langsung lompat jadi Presiden. Saya rasa ini sangat konyol waktu itu. Saya sempat berpikir Pak Jokowi seperti orang yang haus kekuasaan, ada peluang langsung lompat dan rebut.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru tahu bahwa Pak Jokowi bukan orang sembarangan. Kinerjanya telah membuka mata saya dan malah sekarang saya jadi bertanya-tanya apa saja yang sebenarnya dilakukan pemerintah dulu? Kenapa orang seperti Jokowi baru hadir sekarang, nggak dari dulu-dulu?

 Salah satu style yang saya sukai dari Pak Jokowi adalah slogan kerja, kerja dan kerja. Kalau kata orang tua saya, Pak Jokowi orangnya ligat dan tidak lamban kayak siput. Ini terlihat dari banyaknya infrastruktur dan proyek-proyek yang sedang dibangun dan sudah selesai. Kalau saya sebutkan satu per satu mungkin bisa dijadikan novel utuh. Salah satunya adalah pembangunan jalan seperti Trans Papua dan Trans Sumatera, perluasan dan pembangunan bandara, pelabuhan, proyek pembangkit listrik. Dan yang lebih hebatnya, untuk pertama kalinya sejak Jokowi memimpin, daerah luar Jawa mendapat perhatian khusus, tidak lagi mendapat diskriminasi seperti anak tiri yang terbuang. Lihat saja Papua yang sekian tahun tidak begitu dipedulikan. Hanya Jokowi yang benar-benar menaruh perhatian. Jokowi tidak lagi melulu fokus pada Jawa-sentris. Dan yang lebih hebat lagi, beberapa proyek mangkrak warisan pemerintah dulu, juga dikebut dan diselesaikan.

Kekaguman saya makin bertambah saat Jokowi menunjuk Menteri yang benar-benar kapabel dan kredibel, dan yang tidak sesuai harapan langsung di-reshuffle. Yang paling memorable bagi saya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang secara background juga tidak cocok, tapi siapa sangka dia mampu menjadi salah satu menteri terbaik di Indonesia. Terkenal akan ketegasannya dalam menindak pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia sampai-sampai dibuatkan meme dengan tagline pamungkas ‘Tenggelamkan!”. Hasilnya Indonesia sempat meraih nomor satu dalam pemberantasan illegal fishing.

Dan hanya di zaman Jokowi, pariwisata Indonesia benar-benar diperhatikan dan dibahas serius. Ini yang membuat saya salut. Bagaimana tidak, dari semua negara tetangga ASEAN, Indonesia adalah negara terluas, tapi kunjungan turis asing kalah telah Malaysia, Thailand bahkan Singapore yang luasnya hanya seupil pada peta. Malaysia mampu mendatangkan 24 juta turis, Thailand 32 juta Turis, Singapore 15 juta turis, sedangkan Indonesia tahun 2016 hanya kedatangan 12 juta turis. Halo, apa saja kerjaan pemerintah dulu? Potensi keindahan alam dan budaya sangat tak terbatas, tapi tak dimaksimalkan dengan baik. Negara tetangga sudah sadar akan potensi pariwisata dalam menggenjot devisa negara sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Tapi kenapa baru Jokowi yang menyadari potensi dan promosi besar-besaran demi target 20 juta turis di tahun 2019.

Salah satu hal yang membuat tertawa lucu adalah candi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja. Candi ini dikunjungi 2,5 juta turis per tahun, bandingkan dengan candi Borobudur yang hanya dikunjungi 250 ribu turis per tahun. Kalah 10 kali lipat. Jelas nggak ada niat promosi dari pemerintah terdahulu. Kenapa tidak ada niat, tanya pada yang bersangkutan. Kawasan yang tidak lebih maju dari kota Indonesia, tapi bisa menang.

Jokowi memang kerempeng dan secara tampang kurang meyakinkan, tapi itu hanya kamuflase saja. Jokowi lebih dari apa yang terlihat dari luar. Kurus tapi sangat tegas dan tidak main-main, cepat dalam bekerja dan membangun. Dan yang terbaru adalah konflik RI dan Freeport yang memanas di mana Freeport mengancam akan menggugat pemerintah Indonesia ke Arbitrasi Internasional mengenai masalah Kontrak Karya yang diminta agar mengubahnya ke IUPK sebagai satu-satunya jalan agar Freeport dapat mengekspor konsentrat. Pemerintah tidak takut dengan ancaman dan gugatan Freeport ke Arbitrase Internasional dan siap untuk menghadapinya.

Jokowi juga terkenal jarang dan saya tidak pernah mendengar beliau mengeluh layaknya anak kecil apalagi mewek-mewek di media sosial mengenai betapa malang nasibnya, betapa sulitnya masalah yang dia hadapi. Saya tidak pernah dengar seperti itu. Bahkan dalam beberapa kesempatan, responnya malah santai dan tenang, mampu membawa diri dengan baik. Sisi lain yang menjadi nilai plus Jokowi adalah kesederhanaan. Tidak malu-malu membeli barang yang biasa-biasa saja.

Dan sebagai penutup, pada musim panas nanti, patung lilin Jokowi sudah siap dan akan dipajang di Madame Tussaud Hongkong berbarengan dengan patung Soekarno. Ini sudah menjadi bukti, bahwa Jokowi bukan orang yang pantas dikagumi. Tidak semua orang bisa menjadi objek patung lilin di sana. Bahkan sebelum dipastikan pembuatan patung lilinnya, Jokowi mengungguli Hillary Clinton dan Donald Trump mengenai siapa yang akan dibuatkan patung lilin. Luar biasa bukan?

Dulu mungkin saya tidak yakin, sekarang saya sangat yakin dengan kemampuan Pak Jokowi. Badan memang kerempeng, tapi nyali setara banteng, kinerja dan prestasi mentereng hanya dalam waktu 2 tahun lebih saja.

Don’t judge Jokowi by the appearance.

Bagaimana menurut Anda?

 

Iklan

DIAM SUDAH GAK MUSIM

Posted: Februari 22, 2017 in Kasih Tuhan

Banyak orang menyangka, kaum spesies dengkul pandai meributkan hal remeh temeh, disangkut pautkan dengan agama. Orang mengira itu disebabkan karena kebodohan belaka.
Bukan. Sesuatu yang tampaknya bodoh itu, menurut saya, memang sengaja disetting. Sengaja diproduksi. Tujuannya simpel. Untuk menciptakan kegaduhan terus menerus di masyarakat dan menjaring spesies dengkul lainnya. Mereka dijanjikan surga, padahal yang mau diciptakan adalah neraka.

Target besarnya untuk menciptakan konflik horisontal. Sebab konflik horisontal hanya bisa dibuat jika populasi spesies ini semakin banyak.

Penciptaan konflik horisontal itu dibarengi dengan terus menerus melemahkan negara. Segala isu diprosuksi untuk menciptakan ketidakpercayaan publik. Yang paling gampang adalah memperhadapkan negara dengan agama.
Kenapa perlu diciptakan konflik horisontal dan pelemahan peran negara?

Begini. Jika negara kuat, masyarakatnya kuat, akan tercipta sistem yang kokoh. Demokrasi berjalan, fungsi korektif menyehatkan dan ada keseimbangan kekuasaan.
Jika negara kuat dan masyarakatnya lemah, yang terjadi adalah otoritarian. Kita pernah merasakan di jaman Soeharto. Sementara jika negara lemah, masyarakat kuat, yang akan terjadi adalah chaos.

Nah, jika negara lemah dan masyarakatnya juga lemah, yang akan terjadi adalah intervensi asing. Kondisi seperti ini terjadi di Suriah, Libya, Irak, Yaman, juga berbagai negara Afrika.

Coba lihat kondisi kita sekarang, kegiatan melemahkan fungsi negara terus menerus dilakukan. Masyarakat diajarkan anarkis. Hanya karena fatwa MUI ormas bisa melakukan sweeping ke mall atau menekan aparat. Desain uang dan banyak soal remeh temeh lainnya dipermasalahkan.

Salah satu ciri negara yang melemah adalah berkuasanya gerombolan sipil bergaya militer di masyarakat. Lihat saja. Laskar-laskar, organsasi kedaerahan, dan kelompok agama para militer saat ini. Pada beberapa kasus justru ulahnya mengalahkan polisi. Sweeping dan pembubaran kegiatan agama, sudah sering kita dengar. Juga demonstrasi untuk menekan sistem hukum.

Organisasi yang jelas-jelas tujuannya merusak NKRI tumbuh dan makin membesar. Mereka bahkan bisa teriak-teriak hendak menggantikan Pancasila dengan khilafah di jalanan umum.

Semua kebijakan negara dibenturkan dengan isu agama. Spesies dengkul yang otaknya dimakan tikus, melahap semua ini dan menganggap sebagai perjuangan agama. Mirip publik Libya diawal kehancurannya.

Bagaimana dengan usaha pelemahan masyarakat? Itu dilakukan dengan mengkondisikan konflik horisontal. Sama juga, modalnya adalah isu agama dan rasial.

Nah, coba perhatikan. Seberapa gampang kini masyarakat menuding kafir dan sesat kepada orang lain. Makin enteng bukan? Bukan saja kepada mereka yang berbeda agama, tapi juga yang seagama. Pada siapapun yang berbeda maunya berantem terus.

Sedangkan konflik rasial terus dihembuskan dengan menciptakan permusuhan pada etnis Tionghoa. Yang paling bodoh mereka menyamakan segala hal berbau RRC dengan WNI berdarah Tionghoa. Itu sama saja RRC sebagai sebuah negara, jelas berbeda dengan WNI etnis Tionghoa. Suriname yang warganya berdarah Jawa juga gak ada hubungannya dengan Indonesia. Cuma ada hubungan sejarah. Tidak lebih.

Mengapa kebencian pada etnis Tionghoa terus dihembuskan? Selain menciptakan konflik horisontal juga usaha melumpuhan ekonomi kita.

Harus diakui, akibat kebijakan Orba, saudara-saudara kita etnis Tionghoa menempati posisi ekonomi cukup baik. Selama ini, karena trauma dengan kerusuhan 1998, orang-orang kaya lebih memilih menyimpan asetnya di luar negeri. Aset-aset inilah yang ingin ditarik kembali oleh Presiden Jokowi dengan program tax amnesty.

Langkah itu akan terhambat jika para pemilik aset besar itu, tidak merasa nyaman dengan kondisi Indonesia.
Bayangkan jika ketidaknyamanan ini terus terpelihara. Bukan hanya aset dari luar ogah masuk, justru malah duit di dalam negeri akan kabur ke luar.

Ini berakibat akan semakin beratnya ekonomi nasional. Rakyat susah. Lalu muncul ketidakpuasan pada pemerintah. Nah masalah ekonomi, konflik agama dan rasial merupakan paduan yang pas untuk memporakporandakan bangsa.

Dari semua usaha itu, kita lihat tampaknya seperti ada sekelompok orang yang sedang membangun landasan untuk mendaratnya kekuatan asing disini. Polanya sama dengan Suriah atau Libya. Ada orang yang hendak mengundang perampok masuk ke dalam rumah dan merampas harta benda kita.

Jika itu terjadi, siapakah yang paling menderita? Seluruh rakyat Indonesia. Termasuk spesies dengkul itu juga. Termasuk anak cucu keturunan mereka.

Sekarang mereka seolah bangga, seperti sedang memperjuangkan agamanya. Bergaya mau mencium bau surga. Padahal yang dilakukannya cuma merusak masa depan anak cucunya sendiri. Cuma menghadirkan neraka di negerinya sendiri.

Untuk menyelamatkan masa depan anak kita, tidak ada cara lain selain mengurangi populasi spesies dengkul ini dan menjaga jangan sampai terjadi konflik horisontal. Sambil terus memperkuat peran negara.

Jangan diam. Indonesia membutuhkanmu. Anak cucumu berharap besar padamu.
Dulu orang mengira diam itu emas. Sekarang diam sudah gak musim.
#EkoKuntadi #