Arsip untuk Februari 12, 2011


KENAPA YESUS ?

Apakah Yesus masih relevan sekarang ini?

Banyak orang berpandangan Kristus menghendaki kita jadi orang religius. Mereka pikir Yesus datang dan mengambil semua kesenangan hidup, dan memberi kita aturan-aturan, yang tidak mungkin dijalankan, hidup. Mereka bersedia menyebut Dia pemimpin besar dari masa lalu, tapi mengatakan Dia tidak relevan dengan kehidupan masa kini.

Josh McDowell adalah mahasiswa yang diajarkan bahwa Yesus cuma salah satu pemimpin religius yang menetapkan aturan hidup, yang tidak mungkin dijalankan. Dia pikir Yesus sama sekali tidak relevan dalam hidupnya.

Kemudian, satu hari, pada saat makan siang seorang mahasiswi duduk disebelah Mc Dowell dengan senyuman lebar. Merasa tertarik, dia bertanya kenapa dia begitu bahagia. Jawaban langsungnya adalah,, “Yesus Kristus!

Yesus Kristus? pikir McDowell, yang balik mengatakan

“Oh, demi Tuhan, jangan beri saya sampah itu. Saya muak dengan agama; saya muak dengan gereja; saya muak dengan Alkitab. Jangan beri saya sampah tentang agama.”

Tapi tanpa terganggu rekan mahasiswi itu dengan tenang menjelaskannya,

“Tuan, saya tidak katakan agama, saya katakan Yesus Kristus.”

McDowell kaget. Dia tidak pernah memandang Yesus lebih dari sekedar tokoh agama, dan tidak ingin jadi bagian dari kemunafikan religius. Namun perempuan Kristen, yang gembira ini, berbicara tentang Yesus sebagai seseorang yang membawa arti kehidupan kepadanya.

Kristus mengklaim akan menjawab semua pertanyaan mendalam mengenai eksistensi kita. Pada satu saat, kita semua akan mempertanyakan apa arti kehidupan itu. Apakah anda pernah melihat ke langit, yang gelap gulita, dan merenungkan siapa yang menaruh bintang-bintang itu di sana? Atau apakah anda pernah melihat matahari terbenam dan berpikir tentang pertanyaan terbesar dalam hidup:

  • “Siapa saya?”
  • “Kenapa saya ada di sini?”
  • “Kemana saya pergi setelah meninggal?”

Meski para filsuf dan pemimpin agama lain menawarkan jawaban tentang arti kehidupan, hanya Yesus Kristus membuktikan kredensial-Nya ( apa yang dikatakanNya) dengan bangkit dari kematian. Skeptis seperti McDowell, yang pada awalnya mengejek kebangkitan Yesus , telah menemukan bahwa ada bukti, yang banyak, bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Yesus menawarkan hidup dengan arti yang sebenarnya. Dia mengatakan hidup lebih besar dari mengumpulkan harta, bersenang-senang, sukses, dan berakhir di kuburan. Kendati begitu, masih banyak orang mencoba menemukan arti kehidupan dalam ketenaran dan kesuksesan, bahkan juga bintang-bintang terbesar..

Madonna mencoba menjawab pertanyaan, “Kenapa saya di sini?” dengan menjadi seorang penyanyi terkenal (diva), mengakui, “Bertahun-tahun lalu saya pernah berpikir bahwa ketenaran, kekayaan, dan penerimaan publik akan memberikan kebahagiaan bagi saya. Tapi satu hari kamu akan bangun dan menyadari bukan hal seperti itu. Saya masih merasa kurang. Saya ingin tahu arti kebenaran dan kebahagiaan sejati dan bagaimana saya menemukannya.”[1]

Yang lain sudah menyerah untuk menemukan arti kehidupan itu, Kurt Cobain, vokalis Nirvana, grup band grunge asal Seattle, putus asa pada usia 27 tahun dan bunuh diri. Kartunis era Jazz, Ralp Barton, juga menemukan hidup tanpa arti, dan meninggalkan pesan bunuh dirinya, “Saya punya beberapa kesukaran, banyak teman, sukses hebat; saya sudah berpindah dari satu isteri ke isteri yang lain, dan dari rumah ke rumah, mengunjungi negara-negara di dunia, tapi saya muak dengan upaya menemukan alat-alah untuk mengisi 24 jam sehari”[2]

Pascal, filsuf besar Perancis percaya kekosongan hati yang kita semua alami hanya bisa diisi oleh Allah. Dia mengatakan, “Allah membentuk ruang vakum di hati setiap orang yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus”[3] Jika Pascal benar, maka kita akan berharap Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang identitas kita dan arti kehidupan, tapi juga memberi kita harapan akan kehidupan setelah kematian.

Apakah ada arti kehidupan, tanpa Allah? Tidak menurut ateis Bertrand Russell, yang menulis,”Sampai anda berasumsi adanya allh, pertanyaan tujuan hidup itu tidak ada artinya.” Russell sediri menyerah dengan menyatakan akan “membusuk” di kuburnya. Dalam bukunya, Why I am not a Christian(Kenapa saya bukan orang Kristen), Russell membantah semua yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan, termasuk janjiNya akan kehidupan kekal.

Tapi jika Yesus benar-benar mengalahkan kematian seperti klaim para saksi mata, (Lihat “Did Jesus Rise from the Dead?”) maka dia sendiri akan dapat memberi tahu kami apa yang hidup adalah semua tentang, dan menjawab, “Di mana saya pergi?” Untuk memahami bagaimana kata-kata Yesus, kehidupan, dan kematian dapat membentuk identitas kita, memberi kita makna dalam hidup, dan memberikan harapan untuk masa depan, kita perlu memahami apa yang dikatakannya tentang Tuhan, tentang kami, dan tentang dirinya sendiri.

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Allah Itu Relasional

Banyak orang berpendapat Allah lebih sebagai sebuah kekuatan bukan satu pribadi, yang bisa kita kenal dan bergaul denganNya. Allah yang disebutkan Yesus bukanlah kekuatan impersonal di Star Wars, yang kebaikannya bisa diukur dalam voltase. Dia juga bukan sosok besar menakutkan di angkasa, yang senang membuat hidup kita sengsara.

Sebaliknya, Allah itu relasional seperti kita, tapi lebih dalam lagi. Dia berpikir, Dia mendengar. Dia berkomunikasi dalam bahasa yang kita pahami. Yesus menjelaskan kepada kita dan memperlihatkan Allah itu seperti apa. Menurut Yesus, Allah tahu setiap kita dengan sangat baik dan personal, dan terus memikirkan kita.

Allah Itu Kasih

Dan Yesus mengatakan kepada kita, Allah itu kasih. Yesus mendemonstrasikan kasih Allah kemanapun Dia pergi, ketika Dia menyembuhkan orang sakit dan menolong yang disakiti dan miskin.

Kasih Allah sangat berbeda secara radikal dengan (kasih) kita, karena tidak berdasarkan ketertarikan atau penampilan. Kasih (Allah) itu secara total mengorbankan diri dan tidak mementingkan diri. Yesus membandingkan kasih Allah dengan kasih bapa/ayah yang sempurna. Ayah yang baik menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya, berkorban untuk mereka, dan memberikan (kebutuhan) mereka. Tapi untuk kepentingan terbaik mereka, dia juga mendisiplinkan mereka.

Yesus mengilustrasikan hati kasih Allah dengan cerita tentang seorang anak, yang memberontak, dan menolak nasehat ayahnya mengenai kehidupan dan apa yang penting. Kesombongan dan keinginan-diri, anak itu berhenti bekerja dan “hidup semaunya”. Daripada menunggu sampai ayahnya membagi warisan, dia mulai memaksa ayahnya untuk memberikan warisan itu kepadanya.

Dalam cerita Yesus, ayahnya memberi permintaan anaknya. Tapi keadaan buruk menimpa anaknya. Setelah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, anak pemberontak itu terpaksa bekerja di peternakan babi. Ketika dia begitu lapar bahkan makanan babi kelihatan enak (diceritakan dia memakan makanan babi). Putus asa dan tidak yakin ayahnya akan menerimanya kembali, dia membereskan tasnya dan pulang ke rumah.

Yesus menceritakaan kepada kita bukan saja sang ayah menyambutnya, tapi dia lari memeluknya. Dan kemudian secara radikal total dalam kasihnya, sang ayah menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak.

Ini sangat menarik, kendati ayahnya sangat mengasihi putranya, dia tidak mengejarnya. Dia membiarkan sang anak, yang dikasihinya, merasakan kesakitan dan penderitaan karena konsekuensi pilihan pemberontakannya. Dengan cara yang sama, ayat-ayat Alkitab mengajarkan kasih Allah tidak pernah mengkompromikan tentang apa yang terbaik untuk kita. Kasih iatu akan membiarkan kita menderita atas pilihan-pilihan salah kita.

Yesus juga mengajarkan Allah tidak akan pernah mengkompromikan karakterNya. Karakter adalah siapa kita adanya. Itu adalah esensi kita, dimana berasal pikiran-pikiran dan tindakan kita berasal. Jadi seperti apa Allah — esensinya?

Allah Itu Suci

Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya.

Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya.

Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia. Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat. Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita?

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah

Jika anda membaca seluruh Perjanjian Baru, anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya.

Bintang rock band Irlandia, U2, Bono menegaskan dalam sebuah wawancara,” Konsep mengejutkan bahwa Allah pencipta alam semesta mungkin mencari teman, hubungan sungguh-sungguh dengan manusia….”[5] Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus, Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mataNya, kita spesial (khusus).

Kebebasan Memilih

Dalam sebuah film, Stepford Wives, lemah, terbaring, orang serakah dan pembunuh ini telah menciptakan robot-robot penurut dan patuh untuk menggantikan isteri-isteri mereka, yang bebas, dan mereka nilai sebagai ancaman. Kendati laki-laki diharapkan mencintai isteri-isteri mereka, mereka menggantikannya dengan mainan untuk memaksakan kepatuhan.

Allah bisa membuat kita seperti itu —- manusia robot (iPeople) diprogram untuk mengasihi dan mematuhi Dia, program puji-pujian dimasukkan kepada kita seperti “screensaver”. Tapi akibatnya kasih karena terpaksa kita tidak ada artinya. Allah ingin kita mengasihi Dia dengan bebas. Dalam hubungan sebenarnya, kita ingin seseorang mencintai kita apa adanya, bukan karena paksaan — kita lebih suka tambatan jiwa daripada pengantin, yang dipesan sebelumnya. Søren Kierkegaard menyimpulkan dilema dalam kisah ini.

Andaikan ada seorang raja yang mencintai pelayan sederhananya. Raja itu tidak seperti raja-raja lain. Semua pejabat negara gemetar dihadapan kuasanya ….. dan tetap saja raja, yang sangat kuat ini, meleleh karena cinta terhadap pelayan sederhana itu. Bagaimana dia menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Dalam cara yang tidak biasa, dia terikat oleh “wibawa raja”.  Jika dia membawaya ke istana dan memahkotai dia dengan permata … dia pasti tidak akan menolak — tidak seorangpun berani menolak dia. Tapi apakakh dia mencintainya? Tentu saja dia akan mengatakan dia mencintainya, tapi apakah sungguh-sungguh?[6]

Anda lihat masalahnya. Ini masalah yang lebih sederhana: bagaimana anda putus dengan pacar, yang sudah tahu segalanya? (“Ini tidak berhasil buat kita, tapi saya rasa kamu sudah tahu.”) Namun untuk memungkinkan saling mencintai, Allah menciptakan manusia dengan kapasitas unik: kehendak bebas.

Pemberongakan Melawan Hukum Moral Allah

C.S. Lewis menjelaskan meski kit secara internal diprogram dengan keinginan untuk mengetahui Allah, kita memberontak atas itu sejak saat kita lahir.[7] Lewis juga memulai penelitiannya dengan motifnya sendiri, dimana dia menemukan bahwa dia secara instink tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Lewis heran darimana rasa salah dan benar ini datangnya. Kita semua mengalami rasa salah dan benar ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorban nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, kita di dalam hati telah diprogram dengan hukum moral, yang membuat seorang mantan ateis mencapai kesimpulan pasti ada “pemberi hukum” moral.

Sebenarnya, menurut Yesus dan Alkitab, Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi.. Dan bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, kita juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah. Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah:

“Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Dosa, karena itu, tidak hanya melakukan kesalahan ketika kita melanggar hukum, tapi juga kegagalan kita melakukan apa yang benar.

Allah membuat alam semesta dengan hukum-hukum yang mengatur segalanya. Hukum-hukum ini tidak bisa dihindarkan dan tidak berubah. Ketika Einstein menemukan formula E=MC2 dia membuka misteri energi nuklir. Campur bahan-bahan yang tepat dengan kondisi tertentu dan tenaga sangat besar dilepaskan. Alkitab mengatakan kepada kita hukum moral Allah tidak berubah karena keluar dari esensi karakterNya.

Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam. Alkitab menyebut ini sebagai ketidak-patuhan, dosa, yang berarti “tidak kena sasaran”, seperti seorang pemanah yang gagal mengenai sasarannya. Jadi dosa kita telah mematahkan hubungan, yang sudah dikehendaki, Allah dengan kita. Memakai ilustrasi pemanah, sebagai contoh, kita telah gagal mengenai sasaran yang sebenarnya merupakan tujuan penciptaan kita.

Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), indvidu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakt lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual) Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi.

Dan kita sudah putus. Seperti disimpulkan Kayne West, “Dan saya tidak berpikir bahwa saya tidak bisa melakukan apapun untuk membenarkan kesalahan saya….. saya ingin berbicara dengan Allah tapi saya takut karena kita sudah lama tidak saling berbicara.” Diambil dari lirik lagu West yang berbicara mengenai perpisahan yang dibawa oleh dosa dalam kehidupan kita. Dan menurut Alkitab, perpisahan ini lebih dari sekedar lirik di sebuah lagi rap. Itu punya konsekuensi mematikan.

Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah

Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2). Dalam ayat Alkitab, “perpisahan” berarti kematian spiritual. Dan kematian spiritual berarti terpisah sepenuhnya dari cahaya dan kehidupan Allah.

“Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita?

Kenapa Dia tidak melihat bahwa rencanaNya sudah gagal total?” Tentu saja, Allah maha tahu akan menyadari bahwa kita akan memberontak dan berdosa. Kenyatannya, kegagalan kita membuat rencanaNya jadi sangat mengejutkan. Hal ini membawa kita pada alasan Allah datang ke Bumi dalam bentuk manusia. Dan bahkan lebih menakjubkan —- alasan yang harus dicatat karena kematiannya.

Solusi Sempurna Allah

Selama tiga tahun kehidupan pelayananNya, Yesus mengajarkan kita bagaimana untuk hidup dan melakukan banyak mujizat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Tapi Dia menyatakan misi utamanya adalah menyelamatkan kita dari dosa kita.

Yesus memproklamirkan Dia adalah Mesias, yang sudah dijanjikan dan akan mengangkat beban kesalahan kita. Nabi Yesaya telah menulis mengenai Mesias 700 tahun sebelumnya, memberi kita beberapa tanda atas identitasnya. Namun tanda yang paling sukar dipahami adalah Mesias adalah manusia sekaligus Allah!

” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, …. dan namanya disebut orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” (Yesaya) 9:5)

Penulis Ray Stedman menuliskan janji Allah atas Mesias,”Sejak permulaan Perjanjian Lama, ada rasa akan harapan dan eskpektasi, seperti suara langkah kaki yang mendekat: seseorang datang!…. Harapan itu meningkat sepanjang catatan nabi ke nabi yang memproklamirkan tanda-tanda menjanjikan: ada yang datang!”[8]

Para nabi telah menyatakan Mesias akan jadi korban dosa sempurna bagi Allah, memuaskan keadilanNya. Manusia sempurna ini akan memenuhi kualifikasi untuk mati bagi kita. (Yesaya 53:6)

Menurut para penulis Perjanjian Baru, satu-satunya alasan Yesus pantas mati untuk kita adalah karena, sebagai Allah, Dia menjalani hidup sempurna secara moral dan tidak berdosa.

Sukar untuk mengerti bagaimana kematian Yesus itu menebus dosa-dosa kita. Mungkin analogi yudisial akan memperjelas bagaimana Yesus menyelesaikan dilema dari Allah, yang sempurna kasihNya dan keadilanNya.

Bayangkan memasuki ruang sidang, bersalah karena pembunuhan (anda punya isu serius disini) Ketika anda mendekati meja, anda menyadari bahwa hakim itu ayah anda. Karena tahu dia mengasihi anda, anda langsung mulai memohon,”Pak, bebaskan saya!”

Dia menjawab,”Aku mengasihi mu, nak, tapi saya hakim. Saya tidak bisa membebaskanmu begitu saja.”

Dia terbelah. Akhirnya, dia mengetuk palu dan menyatakan anda bersalah. Keadilan tidak bisa dikompromikan, paling tidak oleh seorang hakim. Tapi karena dia mengasihi anda, dia turun dari kursi, membuka jubahnya, dan menawarkan diri untuk membayar denda untuk anda. Pada kenyataannya, dia menggantikan anda di kursi listrik.

Inilah gambar yang dilukis di Perjanjian Baru. Allah turun memasuki sejarah manusia, dalam bentuk manusia Yesus Kristus, dan duduk di kursi listrik (baca: salib) menggantikan kita, untuk kita. Yesus bukanlah pihak ketiga kambing hitam, mengambil dosa kita, tapi Dia adalah Allah sendiri. Lebih jelas lagi, Allah punya dua pilihan: menghakimi dosa kita atau mengambil alih hukuman itu kepada diriNya sendiri. Dalam Kristus, Dia memilih yang terakhir.

Meski Bon, dari U2, tidak berkehandak jadi teolog, dia secara akurat mengatakan alasan kematian Yesus,

“Maksud kematian Kristus adalah Kristus mengambil dosa-dosa dunia, sehingga apa yang kita lakukan tidak kembali lagi kepada kita, dan sifat dosa kita tidak menghasilkan kematian pasti. Inilah alasan utamanya. Hal ini seharusnya membuat kita rendah hati. Bukan pekerjaan baik yang membuat kita bisa melewati gerbang Surga”[9]

Dan Yesus menegaskan hanya Dia, satu-satunya, yang bisa membawa kita kepada Allah, dikatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes14:6)

Tapi banyak yang berargumentasi klaim Yesus bahwa Dia adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu terlalu sempit, disebutkan ada banyak jalan menuju Allah. Mereka, yang percaya bahwa semua agama sama, menolak bahwa kita punya masalah dosa. Mereka tidak menerima perkataan Yesus dengan serius. Mereka mengatakan kasih Allah akan menerima kita semua, apapun yang sudah kita buat.

Mungkin Hitler pantas diadili, menurut pandangan mereka, tapi bukan mereka atau yang lain yang “hidup layak”. Ini sama saja mengatakan Allah memberikan nilai, dan semua yang dapat D- atau lebih baik akan masuk (surga). Tapi ini menelurkan dilema.

Seperti sudah kita lihat, dosa bertentangan dengan karakter suci Allah. Jadi kita telah menghina (menyinggung) Pencipta kita, dan mengasihi kita sampai mengorbankan AnakNya bagi kita. Pemberontakan kita sama seperti meludahi mukaNya. Tidak ada kebaikan, agama, meditasi, atau Karma bisa membayar hutang dosa kita, yang telah terjadi.

Menurut teolog R. C. Sproul, hanya Yesus sendiri satu-satunya yang mampu membayar hutang itu. Dia menulis,

“Musa jadi perantara hukum; Muhammad bisa mengangkat pedang; Buddha bisa memberikan konsultasi personal; Konfusius menawarkan kalimat-kalimat kebajikan; tapi tidak satupun orang ini punya kualifikasi untuk jadi penebus dosa dunia. . Hanya Kristus satu-satunya yang pantas mendapat pujian tidak terbatas dan pelayanan.”[10]

Pemberian Yang Tidak Semestinya

Istilah Alkitab untuk menggambarkan pengampunan gratis Allah melalui pengorbanan kematian Yesus adalah anugerah. Dimaafkan menyelamatkan kita dari apa yang seharusnya kita terima, anugerah dari Allah memberi kita apa yang seharusnya tidak pantas kita terima. Mari kita tinjau sebentar bagaimana apa yang Kristus lakukan terhadap kita yang tidak bisa kita sendiri lakukan:

  • Allah mengasihi kita dan menciptakan kita untuk berhubungan denganNya.[11]
  • Kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak hubungan itu.[12]
  • Dosa dan pemberontakan kita terhadap Allah dan hukumNya telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Dia.[13]
  • Meski kita pantas dihukum selama-lamanya, Allah telah membayar lunas hutang kita dengan kematian Yesus menggantikan kita, memungkinkan kita hidup selama-lamanya bersama Dia.[14]

Bono memberi kita perperktifnya atas anugerah.

“Anugerah melampaui akal dan logika. Kasih mengiterupsi, jika anda suka istilah ini, konsekuensi tindakan anda, dimana dalam kasus saya benar-benar berita baik, karena saya melakukan banyak hal-hal bodoh… Saya akan mendapat masalah besar jika Karma pada akhirnya jadi hakim saya…. itu tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saya, tapi saya berpegang pada Anugerah. Saya memegang (janji) bahwa Yesus menanggung dosa saya di Kayu Salib, karena saya tahu siapa saya, dan saya berharap saya tidak harus bergantung pada ke-religius-an saya sendiri.”[15]

Sekarang, kita punya gambaran rencana Allah selama ini. Tapi masih ada satu hal yang belum lengkap. Menurut Yesus dan para penulis Perjanjian Baru, setiap dari kita, secara individu, harus menjawab pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Yesus kepada kita. Dia tidak akan memaksa kita menerimanya.

Anda Sendiri Memilih Akhirnya

Kita terus membuat pilihan-pilihan …… apa yang akan dipakai, apa yang akan dimakan, karir, pasangan perkawinan, dan seterusnya. Hl yang sama juga terjadi pada hubungan dengan Allah. Penulis Ravi Zacharias menulis,

“Pesan Yesus mengungkap bahwa setiap orang…. dyang atang untuk mencari Allah bukan karena kebajikan kelahiran, tetapi oleh kesadaran pilihan untuk mempersilakan Dia masuk dan hukum-hukumNya mengatur hidupnya.”[16]

Pilihan-pilihan kita sering dipengaruhi orang lain. Namun dalam beberpa hal, kita diberi nasehat yang salah. Pada 11 September 2001, 600 orang tak bersalah pecaya pada nasehat yang salah, dan menderita konsekuensinya. Kisah nyatanya seperti ini,

Seseorang, yang sedang ada di lantai 92 di tower selatan World Trade Center, baru saja mendengar sebuah jet menambarak tower utara. Kaget karena ledakan, dia menelepon polisi dan meminta instruksi apa yang harus diperbuat. “Kita perlu tahu apakah kita harus keluar dari sini, karena kita tahu ada ledakan,” tanyanya di saluran darurat.

Suara di ujung lainnya menasehati dia untuk tidak keluar gedung. “Saya akan menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya”

“Baiklah, ” sang penelepon menjawab. “Jangan keluar gedung.” Kemudian dia menutup telepon itu.

Beberapa saat setelah pukul 09.00, sebuah jet lain menabrak lantai 80 di tower selatan. Hampir 600 orang dilantai atas tower selatan meninggal. Kegagalan evakuasi dari gedung merupakan salah satu tragedi terbesar hari itu.[17]

Ke 600 orang tewas karena mereka menggantungkan diri pada informasi yang salah, kendati diberikan oleh orang yang mencoba menolong. Tragedi tidak akan terjadi jika ke 600 korban diberi informasi yang benar.

Kesadaran pilihan kita terhadap Yesus sangatlah jauh lebih penting daripada menghadapi korban-korban 9/11, yang salah informasi. Taruhannya Keabadian. Kita bisa memiih satu dari tiga respon berbeda. Kita bisa tidak memperdulikan Dia. Kita bisa menolak Dia. Atau, kita bisa menerima Dia.

Alasan kenapa banyak orang hidup dengan tidak mempedulikan Allah adalah mereka juga terlalu sibuk mendesakkan agendanya sendiri. Chuck Colson seperti itu. Pada usia 39 tahun, Colson menempati kantor disebelah kantor presiden Amerika Serikat. Dia adalah “orang tangguh” Gedung Putih era Nixon, “pembunuh bayaran” yang akan mengambil keputusan-keputusan sulit. Pada tahun 1972, skandal Watergate menghancurkan reputasinya dan dunianya terpecah-belah. Belakangan dia menulis,

“Saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini dan itu, saya mencapai tujuan, saya sukses dan saya tidak memberi Allah kehormatan (atas semua keberhasilan itu), tidak pernah berterima kasih kepadaNya atas pemberian Dia kepada saya. Saya tidak pernah berpikir ada pribadi “tak terhitung superioritasnya” dibandingkan saya, atau jika penah berpikir tentang ke-maha kuasa-an Allah, saya tidak menghubungkannya dengan kehidupan saya.”[18]

Banyak orang sama dengan Colson. Cukup udah untuk terperangkap dalam kecepatan kehidupan dan hanya punya sedikit atau tidak ada waktu untuk Allah. Kendati begitu, tidak mempedulikan tawaran anugerah Allah akan pengampunan punya konsekuensi mengerikan. Hutang dosa kita tetap tidak terbayar.

Dalam kasus-kasus kriminal, hanya sedikit sekali yang memperoleh pengampunan penuh (pembebasan). George Burdick, 1915, editor kota New York Tribune, menolak memberitahukan sumber beritanya dan melanggar hukum. President Woodrow Wilson mengumumkan pengampunan penuh terhadap Burdick atas semua kesalahan “diperbuat atau mungkin diperbuatnya”. Apa yang membuat kasus Burdick bersejarah adalah dia menolak pengampunan itu. Keputusannya membuat kasus masuk Makamah Agung, yang akhirnya mendukung Burdick, menyatakan pengampunan presiden tidak bisa dipaksakan kepada siapapun.

Ketika menolak pengampunan penuh Kristus, orang-orang memberi berbagai alasan. Banyak yang mengatakan kurang bukti, tapi seperti Bertrand Russell dan skeptis lain, mereka tidak cukp tertarik untuk sungguh-sungguh melakukan investigasi. Yang lain menolak melihat lebih jauh dari beberapa orang Kristen munafik yang mereka kenal, menunjuknya sebagai perilaku tidak punya belas kasihan atau inkonsisten sebagai alasan. Dan yang lain masih tetap menolak Kristus karena mereka menyalahkan Allah atas pengalaman sedih atau tragis yang mereka derita.

Namun, Zacharias, yang berdebat dengan banyak intelektual di ratusan kampus universitas, percaya alasan utama kebanyakan orang menolak Allah adalah moral. Dia menulis,

“Seseorang menolak Allah bukan karena tuntutan intelektual juga buka karena kelangkaan bukti. Seseorang menolak Allah karena perlawanan motal menolak mengakui kebutuhannya akan Allah.[19]

Keinginan kebebasan moral telah menjauhkan CS Lewis dari Allah disebagian besar masa mahasiswanya. Setelah pencarian kan kebenaran membawanya kepada Allah, Lewis menjelaskan bagaimana menerima Kristus melibatkan lebih dari persetujuan intelektual atas fakta-fakta. Dia menulis,

“Orang yang jatuh bukanlah hanya karena mahluk tidak sempurna yang membutuhkan perbaikan: dia pemberontak yang harus menyerahkan senjatanya. Menerahkan senjata, menyerah, mengatakan anda minta ampun, menyadari bahwa anda berada pada jalan yang salah dan siap memulai hidup baru lagi…. itulah yang disebut orang Kristen sebagai lahir baru.”[20]

Lahir baru adalah kata yang berarti cara berpikir yang secara dramatis berbalik arah.. Itulah yang terjadi terhadap mantan “pembunuh bayaran” Nixon. Setelah Watergate terbuka, Colson mulai memikirkan tentang hidup secara berbeda. Merasa dia tidak punya tujuan (tak tahu apa yang harus dilakukan), dia mulai membaca buku KeKristenan Biasa (Mere Christianity), ditulis oleh Lewis, yang diberikan seorang teman kepadanya. Dilatih sebagai pengacara, Colson mengambil buku tulis dan menuliskan semua argumen-argumen Lewis. Colson mengingat,

“Saya tahu waktunya sudah tiba bagi saya. . Apakah saya akan menerima Yesus Kristus tanpa syarat sebagai Tuhan aas hidup saya. Itu seperti sebuah gerbang untuk saya. Tidak ada jalan untuk melangkah memutarinya. Saya masuk atau saya tetap diluar. Satu ‘mungkin’ atau ‘saya butuh tambahan waktu’ sama dengan memperolok diri sendiri.”

Setelah pergulatan di dalam hati, mantan pembantu presiden Amerika Serikat ini akhirnya menyadari Yesus Kristus pantas memperoleh kesetiaan total darinya. Dia menulis,

“Kemudian, pada Jumat pagi, ketika saya duduk sendirian melihat ke laut yang saya cintai, kalimat yang saya tidak pasti bisa saya pahami atau katakan meluncur begitu saja dari bibir saya, “Tuhan Yesus, saya percaya Engkau”. Saya terima Engkau. Mohon masuklah dalam hidup saya. Saya berkomitmen kepadaMu.”[21]

Colson menemukan bahwa pertanyaannya, “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” dan “Kemana saya pergi?” semua terjawab dalam hubungan personal dengan Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena diadalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan (Efesus 1:11 )

Ketika kita memasuki hubungan personal dengan Yesus Kristus, Dia mengisi kekosongan dalam hati kita, memberi kita kedamaian, dan memuaskan keinginan kita akan arti kehidupan dan harapan. Dan kita tidak lagi membutuhkan stimultan sementara untuk mengisi kita. Ketika Dia masuk kedalam kita, Dia juga memuaskan keinginan paling dalam dan kebutuhan akan kasih dan kedamaian sejati.

Dan hal paling menakjubkan adalah Allah sendiri datang sebagai manusia untuk membayar seluruh hutang kita. Karena itu, kita tidak lagi ditindas hukuman dosa. Paulus menulisnya dengan jelas kepada jemaat Roma, ketika ditulisnya,

“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya.” (Kolose 1:21b-22a ).

Jadi Allah melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Kita dibebaskan dari dosa oleh pengorbanan Yesus sampai mati. Ini seperti pembunuh massal datang kepada hakim dan diberikan pengampunan penuh dan menyeluruh. Dia tidak pantas menerima pengampunan itu, dan juga kita. Pemberian kehidupan abadi Allah sepenuhnya gratis —- dan dibagi-bagikan (kepada siapa yang mau). Tapi meski pengampunan ditawarkan kepada kita, tetap tergantung kepada kita untuk menerimanya (atau tidak). Pilihan ada pada anda.

Apakah anda ada pada titik dalam hidup dimana anda akan menerima tawaran gratis Allah?

Mungkin seperti Madonna, Bono, Lewis, dan Colson, hidup anda juga kosong. Tidak satupun yang telah anda coba bisa memuaskan kekosongan (jiwa) yang anda rasakan. Allah bisa mengisi kekosongan itu dan mengubah anda dalam sekejab. Dia telah menciptakan anda agar anda mempunyai hidup yang membanjir dengan arti dan tujuan. Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10b)

Atau mungkin semua berjalan baik-baik dalam hidup anda, tetapi anda tidak bisa istirahat dan tidak ada kedamaian. Anda menyadari anda telah melanggar hukum-hukum Allah dan terpisah dari kasihNya dan pengampunanNya. Anda takut akan penghakiman Allah. Yesus mengatakan, “Saya pergi dengan memberi kamu berkat — kedamaian pikiran dan hati. Dan kedamaian yang saya beri tidak sama dengan yang diberikan dunia.”

Jadi kapanpun anda lelah akan kekosongan hidup atau terusik oleh ketiadaan perdamaian dengan Pencipta anda, jawabannya ada dalam Yesus Kristus.

Ketika anda percaya dalam Yesus Kristus, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa anda — di masa lalu, sekarang, dan masa depan dan menjadikan anda anak-anakNya. Dan sebagai anak yang dikasihiNya, Dia memberi anda tujuan dan arti kehidupan di Bumi dan menjanjikan kehidupan abadi bersamaNya.

Firman Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya (Yohanes 1:12)

Pengampunan dosa, tujuan hidup, dan kehidupan abadi semuanya untuk anda jika anda memintanya. Anda bisa mengundang Kristus memasuki hidup anda sekarang ini dengan iman melalui doa. Berdoa adalah berbiacara dengan Allah. Allah tahu hati anda dan tidak terlalu memperhatikan kata-kata anda karena Dia melihat sikap hati anda. Dubawah ini ada saran doa:

“Ya Allah, saya ingin mengenal Mu secara pribadi dan hidup abadi bersamaMu. Terima kasih, Tuhan Yesus, karena mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya. Saya buka pintu kehidupan saya dan menerima Engkau sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ambil hidup saya dan ubah saya, jadikan saya orang yang Engkau kehendaki.”

Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati anda? Jika ya, berdoalah seperti saran di atas dalam bahasa anda sendiri.

Jika anda sudah meminta Yesus Kristus masuk dalam hidup anda, kami mendorong anda untuk mulai membaca Firman (Alkitab) dan bergabung dengan yang lain yang juga ingin hidup untuk Dia.

Sangat penting bagi anda untuk belajar rahasia-rahasia kehidupan indah yang Allah rencanakan bagi anda. Di bawah ada Studi Alkitab yang akan membantu anda menghubungkan potongan-potongan rencana indahNya bagi anda dan bagi pertumbuhan iman anda.

Jika anda masih ada pertanyaan mengenai apa yang perlu untuk mengenal Yesus Kristus dan memiliki kehidupan abadi, klik disini untuk melihat presentasi video

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Ada Konspirasi Da Vinci?

“Senyum Mona Lisa” menginvestigasi teori besar dunia tentang konspirasi Yesus Kristus. Yesus dan Maria Magdalena menikah? Apakah (Kaisar) Constantine memerintahkan penghancuran catatan yang sebenarnya mengenai Yesus Kristus dan menciptakan Dia sebagai ALLAH yang dipuja orang Kristen sekarang?

 

ENDNOTES

1.   O: The Oprah Magazine, “Oprah talks to Madonna,” (January, 2004), 120.

2.   Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1981), 1.

3.   Quoted in William R. Bright, Jesus and the Intellectual (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1968), 33.

4.   Quoted in Rick Warren, The Purpose Driven Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2002), 17.

5.   Quoted in Michka Assayas, Bono in Conversation (New York: Riverhead Books,  2005), 203.

6.   Soren Kierkegarrd, Philosophical Fragments, trans. Howard V. Hong and Edna H. Hong (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1985), 26-28.

7.   C. S. Lewis, Mere Christianity (San Francisco: Harper, 2001), 160.

8.   Ray C. Stedman, God’s Loving Word (Grand Rapids, MI: Discovery House, 1993), 50.

9.   Quoted in Assayas, 204.

10. R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1982), 44.

11. New Testament, John 3:16

12. Ibid., John 1:12

13. Old Testament, Isaiah 59:2

14. New Testament, Romans 5:8

15. Assayas, Ibid.

16. Ravi Zacharias, Jesus among Other Gods (Nashville: Word, 2000), 158.

17. Martha T. Moore and Dennis Cauchon, “Delay Meant Death on 9/11,” USA Today, Sept. 3, 2002, 1A.

18. Charles W. Colson, Born Again (Old Tappan, NJ: Chosen, 1976), 114.

19. Ravi Zacharias, A Shattered Visage: The Real Face of Atheism (Grand Rapids, MI: Baker, 2004), 155.

20. Lewis, 56.

21. Colson, 129

 

Sumber : klik


Kita semua ingin tahu apa yang terjadi setelah kita mati. Ketika orang yang kita cintai meninggal, kita ingin sekali melihat mereka kembali pada giliran kita (meninggal) nantinya. Apakah kita akan punya reuni menggembirakan dengan mereka yang kita cintai atau kematian adalah akhir dari seluruh kesadaran?

Yesus mengajarkan bahwa hidup tidak berakhir setelah tubuh kita mati. Dia membuat klaim mengejutkan ini, “Akulah kebangkitan dan hidup. Mereka, yang percaya kepadaKu, meskipun mereka mati sama seperti semua orang, akan hidup kembali.” Menurut para saksi mata, yang sangat dekat denganNya, Yesus kemudian memperlihatkan kuasa atas kematian dengan bangkit dari kematian setelah disalibkan dan dikubur selama tiga hari. Inilah kepercayaan yang memberikan harapan kepada orang Kristen selama hampir 2000 tahun.

Namun sebagian orang tidak punya harapan setelah kematian. Filsuf ateis, Bertrand Russell, menulis,”Saya percaya bahwa ketika saya meninggal saya akan membusuk dan tidak ada dari kesadaran saya yang akan bertahan.”[1]  Russell jelas tidak percaya pada perkataan Yesus.

Para pengikut Yesus menulis Dia menampakkan diri hidup setelah penyaliban dan penguburanNya. Mereka juga menjelaskan tidak hanya melihat Dia, tapi juga makan bersama-sama dengan Dia, menyentuhNya, dan bersama-sama dengan Dia selama 40 hari.

Jadi, apa ini hanyalah cerita yang bertumbuh dengan berjalannya waktu atau berdasarkan bukti kuat? Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah mendasar bagi KeKristenan. Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, hal itu akan memberi pengesahan atas segala hal yang dikatakanNya mengenai diriNya, mengenai arti kehidupan, dan mengenai tujuan kita setelah kematian.

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian maka hanya Dia sendiri yang punya jawaban mengenai kehidupan dan apa yang menanti kita setelah kita meninggal. Disisi lain, jika kebangkitan Yesus tidak benar, maka KeKristenan akan didasarkan pada kebohongan. Teolog R. C. Sproul menyebutnya seperti ini,

“Klaim kebangkitan vital bagi KeKristenan. Jika Kristus dibangkitkan dari kematian oleh Allah, maka Dia punya mandat dan sertifikat yang tidak dimiliki oleh pemimpin agama manapun. Buddha meninggal. Muhammad meninggal. Musa meninggal. Konfusius meninggal. Tapi menurut …KeKristenan, Kristus hidup.”[2]

Banyak para kritikus telah mencoba membantah kebangkitan. Josh McDowell adalah salah satu kritikus yang melakukan riset bukti-bukti kebangkitan, lebih dari 700 jam. McDowell menyatakan mengenai pentingnya kebangkitan,

“Saya sudah mencapai kesimpulan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah yang paling aneh, kejam, kebohongan tidak berhati nurani yang pernah dilakukan terhadap pikiran manusia atau ini adalah fakta paling menakjubkan dalam sejarah.”[3]

Jadi, apakah kebangkitan Yesus adalah fakta fantastis atau mitos paling keji? Untuk mengetahuinya, kita harus melihat bukti sejarah dan mengambil kesimpulan kita sendiri. Mari kita lihat apa yang ditemukan para kritikus bagi dirinya sendiri.

Sinis Dan Kritis

Tidak semua orang siap untuk meneliti bukti-bukti dengan adil dan terbuka. Bertrand Russell mengakui pandangannya terhadap Yesus “tidak berkaitan” dengan fakta sejarah.[4] Sejarahwan Joseph Campbell, tanpa menyebut adanya bukti, dengan tenang menyatakan kepada pirsawan televisi PBS bahwa kebangkitan Yesus bukanlah kejadian nyata.[5] Para ahli lain, seperti John Dominic Crossan dari Seminar Yesus setuju dengannya.[6] Tidak satupun dari orang-orang yang sinis ini memberikan bukti atas pandangan mereka.

Kritis yang sebenarnya, berlawanan dengan sinisme, tertarik dengan bukti-bukti. Dalam editorial majalah Skeptic berjudul “Apa itu Skeptis (Kritis)?” sebuah defenisi diberikan,”Skeptisme (Kritis) adalah penerapan pemikiran yang masuk akal pada setiap dan semua ide — tidak ada sapi suci yang dikecualikan. Dengan kata lain … kritis (skeptis) tidak ingin memasuki sebuah investigasi yang menutup diri dari kemungkinan fenomena itu nyata atau klaim itu mungkin benar. Ketika kita katakan kita kritis s, kita artikan bahwa kita harus melihat bukti yang meyakinkan sebelum kita percaya”[7]

Tidak seperti Russell dan Crossan, banyak kritikus yang sungguh-sungguh telah menginvestigasi bukti-bukti kebangkitan Yesus. Dalam artikel ini kita akan mendengar dari banyak dari mereka dan melihat bagaimana mereka menganalisa bukti yang mungkin jadi pertanyaan paling penting dalam sejarah manusia: apakah benar Yesus bangkit dari kematian?

Bernubuat Untuk Dirinya Sendiri.

Sebelum kematiannya, Yesus mengatakan kepada para muridnya bahwa dia akan dikhianati, ditangkap, dan disalib, dan Dia akan bangkit tiga hari kemudian. Sebuah rencana yang aneh! Ada apa dibelakang ini? Yesus bukan penghibur yang bersedia melakukan pertunjukan atas pesanan orang lain; tapi, Dia berjanji bahwa kematianNya dan kebangkitanNya akan memberi bukti kepada orang-orang (jika hati dan pikirannya terbuka) bahwa Dia adalah benar-benar Mesias.

Ahli Alkitab Wilbur Smith mencatat tentang Yesus,

“Ketika Dia mengatakan Dia akan bangkit kembali dari kematian, pada tiga hari setelah Dia disalibkan, Dia mengatakan sesuatu yang hanya orang bodoh berani mengatakannya, jika Dia mengharapkan pemujaan lebih lama dari para murid —- kecuali Dia benar-benar yakin bahwa Dia akan bangkit. Tidak ada pendiri agama dunia manapun yang diketahui manusia pernah berani mengatakan hal semacam itu.[8]

Dengan kata lain, karena Yesus sudah dengan jelas mengatakan kepada para muridnya bahwa Dia akan bangkit lagi setelah kematianNya, maka kegagalan memenuhi janji itu akan membuat diriNya menjadi sekedar seorang penipu. Tapi kita sudah terlalu jauh analisanya. Bagaimanan Yesus meninggal sebelum Dia (jika bena) bangkit kembali?

Kematian Yang Mengerikan Dan Kemudian. . . ?

Anda tahu apa yang terjadi pada jam-jam terakhir kehidupan Yesus di dunia, mirip jika anda telah menonton film yang dibuat oleh Mel Gibson (bintang Brave Hart dan jagoan jalanan) Jika anda tidak melihat bagian dari “The Passion of the Christ” karena anda menutup mata anda (akan lebih mudah mensyuting film itu dengan filter merah di kamera), coba membaca halaman-halaman Injil di Perjanjian Baru untuk mengetahui apa yang anda tidak lihat itu.

Seperti yang sudah diprediksi Yesus, Dia dikhianati oleh salah satu muridnya, Yudas Iskariot, dan ditangkap. Dalam sebuah pengadilan, yang sudah diatur sebelumnya, oleh Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, Dia terbukti bersalah karena pengkhianatan dan dihukum mati disalib kayu. Sebelum dipaku di salib, Yesus secara brutal disiksa dengan cambuk Romawi, yang pada tiap cambukan maka mata cambuk akan masuk sampai ke tulang dan kait-kait besinya akan merobek daging. Dia dipukuli berkali-kali, ditendangi, dan diludahi.

Kemudian, dengan paku besar algojo Romawi memaku tangan dan kaki Yesus. Akhirnya,mereka mendirikan salib di sebuah lubang di tanah diantara dua penjahat, yang juga disalib.

Yesus tergantung disalib selama sekitar enam jam. Kemudian, pada pukul 3.00 sore — sama persis dengan pengorbanan (pemotongan) domba Paskah sebagai penebus dosa (ada sedikit simbolisme disini, bagaimana menurut anda?) — Yesus berteriak, “Sudah selesai” (dalam bahasa Aramaic) dan mati. Tiba-tiba langit jadi gelap dan terjadi gempa bumi.[9]

Pilatus ingin memverifikasi bahwa Yesus benar-benar mati sebelum tubuhNya dikuburkan. Karena itu, seorang prajurit Romawi menusuk perut Yesus dengan tombak. Campuran darah dan air yang keluar memberi indikasi jelas bahwa Yesus sudah mati. Jenazah Yesus kemudian diturunkan dari salib dan dikuburkan di kubur Yusuf dari Arimatea. Prajurit Romawi menyegel kuburan dan menjaganya selama 24 jam.

Sementara, murid-murid Yesus syok. Dr. J. P. Moreland Menjelaskan bagaimana syok dan kebingungan melanda mereka setelah kematian Yesus di kayu salib. “Mereka tidak lagi punya kepercayaan bahwa Yesus telah dikirim oleh Allah. Mereka juga telah diajarkan bahwa Allah tidak akan membiarkan MesiasNya mati. Jadi mereka tercerai berai. Seluruh gerakan Yesus sudah terhenti. ”[10]

Semua harapan lenyap. Roma dan pemimpin Yahudi telah menang —- atau memang tampaknya seperti itu

Sesuatu Terjadi

Tapi itu bukan akhirnya. Gerakan Yesus tidak lenyap (kelihatannya) dan nyatanya KeKristenan ada hari ini sebagai agama terbesar dunia. Karena itu, kita harus tahu apa yang terjadi setelah jenazah Yesus diturunkan dari salib dan dibaringkan di kuburan.

Dalam artikel di harian New York Times, Peter Steinfels menuliskan peristiwa yang terjadi selama tiga hari setelah kematian Yesus,”Beberapa saat setelah Yesus di eksekusi, para pengikutNya tiba-tiba berubah dari kelompok orang yang takut dan bersembunyi menjadi pembawa pesan mengenai Yesus yang hidup dan kedatangan kerajaanNya, berkotbah dengan taruhan nyawa, dan akhirnya mengubah kekaisaran. Sesuatu terjadi. … Tapi pastinya apa?”[11] Itulah pertanyaan yang harus kita jawab melalui investigas atas fakta-fakta.

Hanya ada lima kemungkinan penjelasan atas kemungkinan kebangkitan Yesus, seperti terlihat di Perjanjian Baru:

  1. Yesus tidak benar-benar mati di atas kayu salib.
  2. “Kebangkitan” adalah konspirasi.
  3. Para murid berhalusinasi.
  4. Catatan mengenai itu hanya legenda.
  5. Itu benar-benar terjadi.

Mari kita telaah opini-opini itu dan melihat yang mana yang paling cocok dengan fakta-fakta.

Apakah Yesus Mati?

“Marley benar-benar sudah mati lebih dari sebuah paku pintu, mengenai hal itu sudah tidak diragukan lagi.” Tulis Charles Dickens dalam A Christmas Carol, pengarang tidak ingin siapapun salah sangka atas karakter supranatural yang akan muncul menggantikannya. Dengan cara sama, sebelum kita mengambil peran CSI dan merangkai bukti-bukti kebangkitan, kita harus memastikan bahwa, pada kenyataannya, ada sebuah mayat. Apalagi, kadang-kadang surat kabar melaporkan ada “jenazah” di kamar mayat yang ditemukan bergetar dan akhirnya bangun lagi. Apakah hal seperti itu telah terjadi terhadap Yesus?

Beberapa telah mengira Yesus tetap hidup setelah penyaliban dan dipulihkan oleh udara dingin dan lembab di kuburan– “Wah, berapa lama saya tidak sadarkan diri?” Tapi teori ini tidak cocok dengan bukti medis. Dalam artikel di majalah Journal of the American Medical Association dijelaskan kenapa hal seperti itu disebut sebagai “teori pingsan/mati suri” tidak bisa diterima,”Sudah jelas, bobot bukti historis dan medis mengindikasikan Yesus sudah mati. … Tombak, yang ditusuk diantara rusuk kananNya, kemungkinan tidak hanya merobek paru-paru kanan, tapi juga menembus membran selimut jantung dan jantung dan memastikan kematianNya”[12] Tapi skeptisme terhadap kesimpulan ini tetap ada apalagi kasus ini sudah dingin selama 2000 tahun. Karena itu, kita membutuhkan opini kedua.

Satu tempat untuk menemukannya adalah laporan-laporan dari sejarahwan non-Kristen, yang ada pada saat Yesus hidup. Tiga sejarahwan ini mencatat kematian Yesus.

  • Lucian (120 SM – 180 sesudah masehi. menyebutkan Yesus sebagai penyaliban seorang filsuf.[13]
  • Josephus ( tahun 37– 100.) menulis, “Pada saat itu tampaknya Yesus, seorang bijaksana, karena perbuatan luar biasaNya . Ketika Pilatus menghukumNya disalib, pemimpin kita, menuduh Dia, mereka yang mengasihi Dia tidak berbuat apa-apa”[14]
  • Tacitus (tahun 56–120.) menulis, “Kristus, namaNya dari tempatNya berasal, menderita hukuman ekstrim …. ditangan penguasa kita, Pontius Pilatus.[15]

Ini seperti masuk ke ruang arsip dan menemukan satu hari di musim panas pada abad pertama, The Jerusalem Post memuat berita halaman depan dengan cerita Yesus di salib dan mati. Bukan hasil kerja detektif yang jelek, dan cukup konklusif.

Nyatanya, tidak ada catatan sejarah dari orang Kristen, Romawi, atau Yahudi yang mempertanyakan apakah Yesus mati atau penguburannya. Bahkan Crossan, yang skeptis atas kebangkitan, sepakat bahwa Yesus benar-benar hidup dan mati. “Dia disalibkan adalah meyakinkan secara kesejarahan.16 Dibawah cahaya bukti seperti itu, kita tampaknya punya dasar kuat untuk menyingkirkan satu dari lima opini itu. Yesus benar-benar mati, “mengenai itu tidak diragukan lagi.”

Mengenai Kubur Kosong

Tidak ada sejarahwan serius yang sungguh meragukan kematian Yesus ketika Dia diturunkan dari salib. Namun, banyak yang mempertanyakan bagaimana tubuh Yesus lenyap dari kuburan. Jurnalis Inggris, Dr. Frank Morison. sebelumnya berpikir kebangkitan itu mitos atau penipuan, dan dia mulai melakukan riset untuk menulis buku menentangnya.[17] Buku itu jadi terkenal tapi dengan alasan yang berbeda dari maksud sebelumnya, seperti yang akan kita lihat.

Morison memulainya dengan mencoba memecahkan kasus kubur yang kosong. Kubur itu milik anggota Dewan Sanhedrin, Yusuf dari Arimatea. Pada masa itu, masuk anggota dewan sama dengan bintang rock. Semua orang tahu siapa anggota dewan. Yusuf pastilah orang, yang hidup dimasa itu. Kalau tidak, para pemimpin Yahudi akan mengungkap cerita itu sebagai penipuan dalam upaya mereka membantah telah terjadi kebangkitan. Juga, kubur Yusuf sudah dikenal baik lokasinya dan dengan mudah diidentifikasi, jadi setiap pemikiran bahwa Yesus “hilang di pekuburan” harus disingkirkan.

Morison heran kenapa para musuh Yesus membiarkan “mitos kubur kosong” ada jika itu tidak benar. Penemuan jenazah Yesus akan langsung membunuh seluruh rencana itu.

Dan apa yang dikenal sejarah sebagai musuh-musuh Yesus adalah mereka yang menuduh murid-murid Yesus mencuri mayatNya, sebuah tuduhan yang datang dari kepercayaan bahwa kubur itu sudah kosong.

Dr. Paul L. Maier, dosen sejarah kuno di Universitas Western Michigan, juga memberi pendapat yang sama, “Jika semua bukti diteliti dengan hati-hati dan adil, maka itu sungguh-sungguh bisa dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa kubur dimana Yesus ditempatkan benar kosong pada pagi hari pertama Paskah. Dan tidak ada sedikitpun bukti yang ditemukan …. yang membantah pernyataan itu.”[18]

Para pemimpin Yahudi kaget, dan menuduh para murid mencuri mayat Yesus. Tapi penguasa Romawi sudah menugaskan penjagaan 24 jam di kubur dengan sebuah unit penjaga terlatih (4 – 12 prajurit). Morison bertanya,”Bagaimana profesional-profesional ini membiarkan mayat Yesus dicuri? Tidak mungkin bagi siapapun untuk menyelinap dibelakang penjaga Romawi dan menggeser batu seberat dua ton. Namun batu itu bergeser dan tubuh Yesus hilang.

Jika tubuh Yesus ditemukan di satu tempat, para musuhnya akan langsung mengekspos kebangkitan itu sebagai penipuan. Tom Anderson, mantan ketua California Trial Lawyers Association, menyimpulkan kuatnya argumen ini,

“Kejadian itu terpublikasi dengan baik, apa anda pikir akan cukup masuk akal jika satu sejarahwan, satu saksi mata, satu penentang (Yesus) akan mencatat, untuk sepanjang masa, bahwa dia telah melihat jenazah Yesus? … Ke-diam-an sejarah begitu menulikan, ketika mencari testimoni menentang kebangkitan.”[19]

Jadi, tanpa ada bukti jenazah, dan diketahui kubur itu benar-benar kosong, Morison menerima ada bukti kuat tubuh Yesus telah hilang dari kubur.

Perampokan Kuburan?

Morison meneruskan investigasinya, dia mulai meneliti motif-motif para pengikut Yesus. Mungkin apa yang diperkirakan kebangkitan hanyalah pencurian mayat. Tapi jika begitu, bagaimana dengan semua laporan mengenai kehadiran Yesus yang sudah bangkit. Sejarahwan Paul Johnson, di bukunya History of the Jews, menulis, ”Apa yang penting bukanlah kondisi kematianNya tapi fakta Dia telah secara luas dan dipercayai dengan kuat, oleh lingkaran orang yang meluas, telah bangkit kembali.[20]

Kubur itu benar-benar kosong. Tetapi bukanlah hanya ketiadaan tubuh yang menyemangati pengikut Yesus (terutama jika merekalah yang mencuriNya.). Sesuatu yang luar biasa pastilah telah terjadi, bagi para pengikut Yesus yang tidak lagi berduka, tidak lagi bersembunyi, dan mulai, dengan tanpa takut, memproklamasikan bahwa mereka telah melihat Yesus hidup.

Catatan para saksi mata melaporkan Yesus tiba-tiba muncul dihadapan para pengkikutNya, pertama-tama perempuan. Morison heran kenapa para konspirator menjadikan perempuan sebagai pusat rencana mereka. Pada abad pertama, perempuan tidak punya hak apapun, milik pribadi, atau status. Jika rencana (konspirasi) itu ingin berhasil, Morison berpikir akan masuk akal jika para konspirator menggambarkan laki-laki, bukan perempuan, sebagai yang pertama melihat Yesus hidup. Namun kita dengar perempuan menyentuh Dia, berbicara dengan Dia, dan yang pertama menemukan kubur kosong.

Belakangan, menurut catatan saksi mata, semua murid melihat Yesus lebih dari 10 kali pada peristiwa berbeda. mereka menulis Dia memperlihatkan tangan dan kakinya dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh menyentuhNya. Dan Dia dilaporkan makan bersama mereka dan kemudian muncul hidup kepada lebih dari 500 pengikut di satu peristiwa.

Ahli hukum John Warwick Montgomery menjelaskan, “Pada tahun 56 (Rasul Paulus menulis lebih dari 500 orang telah melihat Yesus bangkit dan sebagian besar dari mereka masih hidup (1 Korintus 15:6) Orang Kristen mula-mula akan melewati batas kredibilitas jika merekayasa cerita seperti itu dan berkhotbah diantara mereka yang mungkin dengan mudah membantahnya dengan mempertunjukkan jenazah Yesus.”[21]

Ahli Alkitab Geisler dan Turek setuju. “Jika kebangkitan tidak terjadi, kenapa Rasul Paulus memberi begitu banyak daftar saksi mata? Dia bisa langsung kehilangan semua kredibilitasnya dihadapan pembaca Korintus dengan berbohong sedemikian terangnya.[22]

Petrus, dihadapan kerumunan orang di Kaisarea, mengatakan kenapa dia dan para murid lain sangat yakin Yesus hidup.

Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.

(Kisah Para Rasul 10:39-41)

Ahli Alkitab Inggris, Michael Green, mengatakan, “Penampakkan Yesus adalah otentik sama seperti yang lain di era kuno itu. … Tidak ada keraguan rasional bahwa hal-hal itu telah terjadi.”[23]

Konsisten sampai Akhir

Seakan-akan laporan saksi mata tidak cukup untuk menjawab tantangan skeptisme Morison, dia juga kaget oleh perilaku para murid. Fakta historis telah membingungkan sejarahwan, psikolog, dan juga para kritikus bahwa ke 11 mantan pengecut itu tiba-tiba bersedia menderita dipermalukan, disiksa, dan dibunuh. Semua murid Yesus, kecuali satu, mati sebagai martir. Apakah mereka telah melakukan banyak hal hanya untuk kebohongan, mengetahui bahwa merekalah yang mengambil tubuh itu?

Para martir Islam pada 11 September telah membuktikan bahwa ada orang yang bersedia mati untuk perjuangan, yang salah, yang mereka percayai. Tapi untuk bersedia mati martir demi sebuah kebohongan adalah gila. Seperti ditulis Paul Little, “Orang bersedia mati demi apa yang mereka percaya itu benar, kendati sebenarnya salah. Mereka tidak akan bersedia mati bagi apa yang mereka tahu itu kebohongan.”[24] Para murid Yesus berperilaku konsisten dengan keyakinan asli mereka bahwa pemimpin mereka hidup.

Tidak tersedia penjelasan, yang cukup, untuk menjelaskan kenapa para murid bersedia mati untuk kebohongan yang diketahui. Tapi bahkan jika mereka semua berkonspirasi berbohong mengenai kebangkitan Yesus, bagaimana mereka mampu memelihara konspirasi itu selama puluhan tahun tanpa ada salah satu dari mereka menjual informasi itu, demi uang atau jabatan? Moreland menulis,”Mereka yang berbohong demi memperoleh keuntungan pribadi tidak akan kompak bersama-sama demikian sangat lama.”[25]

Mantan “orang bertopi” dari pemerinthan (Presiden Amerika Richard) Nixon, Chuck Colson, yang terlibat dalam skandal Watergate, menjelaskan betapa sukarnya bagi beberapa orang untuk mempertahankan kebohongan dalam jangka waktu lama.

“Saya tahu kebangkitan itu fakta, dan Watergage sudah membuktikannya untuk saya. Bagaimana? Karena ada 12 orang bersaksi mereka telah melihat Yesus bangkit dari kematian, dan mereka memproklamirkan kebenaran itu selama 40 tahun, tidak sekalipun membantahnya. Setiap orang telah dipukuli, disiksa, dilempari batu dan dipenjarakan. Mereka tidak akan bertahan jika itu tidak benar. Watergate melibatkan 12 orang paling berkuasa di dunia — dan mereka tidak mampu bertahan berbohong selama tiga minggu. Anda katakan kepada saya ke 12 rasul telah berbohong selama 40 tahun? Sangat tidak mungkin.”[26]

Sesuatu terjadi sehingga mengubah segalanya bagi laki-laki dan perempuan itu. Morison mengakui, “Siapapun yang menghadapi masalah itu cepat atau lambat akan berhadapan dengan fakta yang tidak bisa dijelaskan. … Ini fakta … bahwa ada keyakinan mendalam muncul dari kelompok kecil orang — perubahan yang terikat dengan fakta bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.”[27]

Apakah Murid-Murid Berhalusinasi?

Ada orang-orang yang masih berpikir mereka melihat Elvis, gemuk dan berambut abu-abu, mampir di Dunkin Donuts. Dan yang lain percaya malam sebelumnya mereka bersama-sama mahluk luar angkasa di kapal induknya dan jadi bahan percobaan, yang tidak bisa diungkapkan. Kadang-kadang ada orang tertentu yang bisa “melihat” hal-hal yang ingin mereka lihat, hal-hal yang tidak benar-benar ada di sana. Dan itulah kenapa orang mengklaim murid-murid begitu tertekan karena penyaliban dan mereka sangat ingin melihat Yesus hidup telah menyebabkan halusinasi massal. Mungkinkah?

Psikolog Gary Collins, mantan ketua American Association of Christian Counselor, ditanya mengenai kemungkinan halusinasi ada dibelakang perubahan radikal perilaku para murid. Collins menjawab,”Halusinasi terjadi hanya pada individu. Oleh karena sifat alamiahnya, hanya satu orang bisa melihat sebuah halusinasi pada satu waktu. Mereka pasti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat oleh sekelompok orang.[28]

Halusinasi bahkan bukan kemungkinan paling kecil, menurut psikolog Thomas J. Thorburn. “Sama sekali tidak meyakinkan bahwa ….. lima ratus orang, dengan kondisi pikiran baik …. mengalami semua jenis pengalaman indra — visual, pendengaran, sentuhan — dan semua …. pengalaman-pengalaman itu seluruhnya disebabkan oleh …… halusinasi”[29]

Apalagi, dalam psikologi halusinasi, seseorang perlu ada dalam kerangka berpikir dimana mereka sangat ingin melihat seseorang sehingga orang itu terbentuk dalam pikiran mereka. Dua pemimpin utama gereja mula-mula (purba), Yakobus dan Paulus, keduanya berhadapan dengan Yesus, yang sudah bangkit, tanpa pernah berharap, atau mengharapkan kesenangan. Rasul Paulus, nyatanya pernah memimpin penindasan terhadap orang Kristen, dan pertobatannya masih tetap tidak terjelaskan kecuali oleh testimoninya sendiri bahwa Yesus menampakkan diri untuknya.

Dari Kebohongan Sampai Legenda

Sejumlah kritikus, yang tidak yakin, melabelkan cerita kebangkitan sebagai legenda yang dimulai oleh satu atau lebih orang berbohong atau merasa mereka melihat Yesus bangkit. Selama perjalanan waktu, legenda tumbuh dan berbunga-bunga ketika diteruskan berkeliling. Pada teori ini, kebangkitan Yesus disamakan dengan meja bundar Raja Arthur, George Washington kecil yang tidak bisa berbohong, dan janji bahwa Jaminan Sosial akan tersedia ketika kita membutuhkannya.

Tapi ada tiga masalah besar dengan teori ini.

  1. Legenda jarang berkembang ketika masih banyak saksi mata hidup, yang bisa membantahnya. Sejarahwan Romawi dan Yunani kuno, AN Sherwin-White, berargumen bahwa berita kebangkitan tersebar telalu dini dan terlalu cepat untuk bisa disebut sebagai legenda.[30]
  2. Legenda berkembang melalui tradisi oral dan tidak melalui dokumen-dokumen bersejarah yang bisa di verifikasi. Apalagi Injil ditulis di dalam jangka waktu tiga dekade setelah kebangkitan.[31]
  3. Teori legenda tidak cukup untuk menjelaskan fakta akan adanya kubur kosong atau keyakinan historis, yang bisa di verifikasi, para rasul bahwa Yesus hidup.[32]

Kenapa Kekristenan Menang

Morison kaget dengan fakta sebuah gerakan kecil, yang tidak signifikan, mampu bertahan terhadap tekanan keras penguasa Yahudi, juga oleh kekuatan besar Roma. Kenapa mereka menang menghadapi semua pihak yang menentangnya?

Dia menulis, “Dalam waktu dua puluh tahun, klaim para petani Galilea ini telah menggoyang kekuasaan Yahudi. … Dalam kurang dari lima puluh tahun, gerakan itu sudah mulai mengancam kedamaian Kekaisaran Romawi. Ketika kita sudah mengatakan apa yang bisa dikatakan … kita berdiri dihadapan misteri terbesar. Kenapa mereka menang?”[33]

Berdasarkan semua pemikiran, KeKristenan seharusnya mati di salib ketika para murid lari ketakutan. Tapi para rasul terus membangun gerakan KeKristenan, yang terus tumbuh.

J. N. D. Anderson menulis, “Pikirkan psikologi absurditas sebuah kelompok kecil orang kalah, yang pengecut, bersembunyi di ruang atas, satu hari, dan beberapa hari kemudian berubah jadi kelompok yang tidak ada satupun penindasan bisa membungkamnya — dan kemudian mencoba melabel perubahan dramatis ini tidak lebih meyakinkan daripada sebuah rekayasa menyedihkan. … Ini dengan jelas tidak masuk akal.”[34]

Banyak pakar percaya (dalam perkataan komentator jaman kuno) bahwa, “darah martir adalah bibit gereja”. Sejarahwan Will Durant mengamati, “Kaisar dan Kristus telah bertemu di arena dan Kristus menang.”[35]

Kesimpulan Mengejutkan

Dengan mitos, halusinasi, dan otopsi asal-asalan tersingkirkan, dengan bukti-bukti meyakinkan terhadap kubur kosong, dengan banyaknya saksi mata penampakkanNya, dan dengan transformasi (perubahan) yang tidak terjelaskan dan dampaknya terhadap dunia oleh mereka yang mengklaim telah melihatNya, Morison jadi yakin bahwa keyakinan biasnya pada kebangkitan Yesus salah. Dia mulai menulis buku yang berbeda —berjudul Who Moved the Stone?—untuk merinci kesimpulan-kesimpulan barunya. Morison hanya mengikuti jejak bukti-bukti, petunjuk demi petunjuk, sampai kebenaran kasus itu menjadi jelas baginya. Kejutannya adalah bukti-bukti itu telah membawanya menjadi percaya terhadap kebangkitan.

Di bab pertama bukunya, “Buku yang Menolak untuk Ditulis”, mantan kritikus (skeptis) ini menjelaskan bagaimana bukti-bukti meyakinkan Dia bahwa kebangkitan Yesus adalah kejadian nyata historis. “Itu seperti seseorang berjalan menembus hutan mengikuti jalur, yang dikenal dan sering dilewati, dan keluar dengan tiba-tiba ditempat yang dia tidak harapkan.”[36]

Morison tidak sendirian. Tak terhitung banyaknya para kritikus lain setelah meneliti bukti-bukti kebangkitan Yesus, menerimanya sebagai fakta menakjubkan dalam sejarah manusia. Namun kebangkitan Yesus Kristus mengangkat pertanyaan: Fakta bahwa Yesus mengalahkan kematian, apa hubungannya dengan kehidupan saya? Jawaban pertanyaan itu merupakan isi seluruh Perjanjian Baru KeKristenan

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca jawaban yang mengejutkan di “Kenapa Yesus”

Klik disini untuk membaca “Kenapa Yesus” dan temukan apa yang Yesus katakan mengenai kehidupan setelah kematian.

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia.

ENDNOTES

1. Paul Edwards, “Great Minds: Bertrand Russell,” Free Inquiry, December 2004/January 2005, 46.

2. R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1982), 44.

3. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s ††††Life, 1999), 203.

4. Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian (New York: Simon & Schuster, 1957), 16.

5. Joseph Campbell, an interview with Bill Moyers, Joseph Campbell and the Power of Myth, PBS TV special, 1988.

6. Michael J. Wilkins and J. P. Moreland, eds, Jesus Under Fire (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1995), 2.

7. “What Is a Skeptic?” editorial in Skeptic, vol 11, no. 2), 5.

8. Wilbur M. Smith, A Great Certainty in This Hour of World Crises (Wheaton, ILL: Van Kampen Press, 1951), 10, 11

9. Historian Will Durant reported, “About the middle of this first century a pagan named Thallus … argued that the abnormal darkness alleged to have accompanied the death of Christ was a purely natural phenomenon and coincidence; the argument took the existence of Christ for granted. The denial of that existence never seems to have occurred even to the bitterest gentile or Jewish opponents of nascent Christianity.” Will Durant, Caesar and Christ, vol. 3 of The Story of Civilization (New York: Simon & Schuster, 1972), 555.

10. Quoted in J. P. Moreland interview, Lee Strobel, The Case for Christ (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1998), 246.

11. Peter Steinfels, “Jesus Died—And Then What Happened?” New York Times, April 3, 1988, E9.

12. William D. Edwards, M.D., et al., “On the Physical Death of Jesus Christ,” Journal of the American Medical Association 255:11, March 21, 1986.

13. Lucian, Peregrinus Proteus.

14. Josephus, Flavius, Antiquities of the Jews, 18. 63, 64. [Although portions of Josephus’ comments about Jesus have been disputed, this reference to Pilate condemning him to the cross is deemed authentic by most scholars.]

15. Tacitus, Annals, 15, 44. In Great Books of the Western World, ed. By Robert Maynard Hutchins, Vol. 15, The Annals and The Histories by Cornelius Tacitus (Chicago: William Benton, 1952).

16. Gary R. Habermas and Michael R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Grand Rapids, MI: Kregel, 2004), 49.

17. Frank Morison, Who Moved the Stone? (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1958), 9.

18. Paul L. Maier, Independent Press Telegram, Long Beach, CA: April 21, 1973.

19. Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1981), 66.

20. Paul Johnson, A History of the Jews (New York: Harper & Row, 1988), 130.

21. John W. Montgomery, History and Christianity (Downers Grove, ILL: InterVarsity Press, 1971), 78.

22. Norman L. Geisler and Frank Turek, I Don’t Have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton, IL: Crossway, 2004), 243.

23. Michael Green, The Empty Cross of Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1984), 97, quoted in John Ankerberg and John Weldon, Knowing the Truth about the Resurrection (Eugene, OR: Harvest House), 22.

24. Paul Little, Know Why You Believe (Wheaton, IL: Victor, 1967), 44.

25. J. P. Moreland, Scaling the Secular City, (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 2000), 172.

26. Charles Colson, “The Paradox of Power,” Power to Change, http://www.powertochange.ie/changed/index_Leaders.

27. Morison, 104.

28. Gary Collins quoted in Strobel, 238.

29. Thomas James Thorburn, The Resurrection Narratives and Modern Criticism (London: Kegan Paul, Trench, Trubner & Co., Ltd., 1910.), 158, 159.

30. Sherwin-White, Roman Society, 190.

31. Habermas and Licona, 85.

32. Habermas and Licona, 87.

33. Morison, 115.

34. J. N. D. Anderson, “The Resurrection of Jesus Christ,” Christianity Today, 12. April, 1968.

35. Durant, Caesar and Christ, 652.

36. Morison, 9.

Sumber : klik


JALAN KENABIAN:

Apakah Yesus itu Mesias?

Bukti apa yang ada sehingga Yesus benar-benar seperti yang diklamNya? Bagaimana kita tahu Dia bukanlah semacam penipu? Mari kita lihat beberapa penipu ternama dan kita lihat apakah julukan itu sesuai dengan Yesus, atau apa ada bukti-bukti yang mendukung klaimNya.

Ferdinand Waldo Demara Jr. diberi julukan, penipu besar. Demara menyamar jadi psikolog, dosen, dekan, guru sekolah, dan sipir penjara. Bahkan dia pernah melakukan operasi-operasi, berpura-pura jadi dokter.

Beberapa yang lain mengatakan Frank Abagnale adalah penipu/penyamar yang lebih hebat lagi. Pada usia 16 sampai 21 tahun, Abagnale adalah penipu terbesar saat itu. Dia berhasil memperoleh $2.5 juta dengan cek palsu diseluruh 50 negara bagian Amerika dan di 26 negara lain. Dia juga berhasil menyamar sebagai pilot pesawat, pengacara, dosen, dan dokter sebelum berhasil ditangkap oleh Polisi Prancis.

Jika cerita ini cukup akrab dengan anda, mungkin karena anda telah menonton film, yang dibuat tahun 2002, berjudul Catch Me If You Can, Abagnale diperani oleh Leonardo DiCaprio ( yang sukses sebagai aktor di film Titanic).

Bagaimana melampaui aksi Abagmale sebagai penipu paling tersohor? Yah, jika Yesus Kristus bukanlah Mesias, seperti klaimNya, maka Dia tidak punya pesaing. Kita tidak membicarakan ribuan orang yang berhasil ditipu, pada kasus Abagnale. Jika Yesus Kristus adalah penipu, maka aksiNya telah berhasil menipu miliaran orang dan mengubah sejarah selama 2.000 tahun terakhir ini.

Jadi, apakah Yesus adalah Mesias palsi, yang berhasil menipu para ahli agama terkemuka. Apa mungkin dia dibesarkan oleh orang tuanya atau mentor, yang tidak diungkapkan, untuk menjadi raja Israel, yang telah lama dijanjikan dan dicari?

Pada kenyataannya, jika Yesus seorang penipu, Dia bukanlah orang pertama dalam sejarah Israel yang berbohong bahwa dia adalah Mesias. Selama ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus dan sesudahnya, banyak orang mengklaim dirinya Mesias, yang belakangan terbukti hanyalah kebohongan atau orang gila biasa.

Nubuat Yahudi kuno telah sangat jelas memprediksi pemerintahan seorang raja, dimasa depan, yang akan memberi kedamaian Israel dan jadi Penyelamatnya. Harapan ini menyelimuti negeri dan menumbuhkan harapan dan aspirasi orang Yahudi. Dalam suasana seperti Israel, seseorang, yang kualifikasinya kurang, bisakah didorong untuk atau dicetak sesuai dengan (kriteria) Mesias? Untuk menjawab pertanyaan ini ada di nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama mengenai Mesias.

Perantara Allah

Menurut kitab-kitab suci, Allah orang Yahudi berbicara kepada umatnya melalui nabi-nabi, laki-laki dan perempuan yang mendengarkan Allah dan mungkin atau mungkin tidak bagian dari kalangan religius (pekerja di rumah ibadah). Pesan nabi sebagian untuk masa itu dan yang lain untuk masa depan. Apapun pesannya, mereka berperan memproklamirkan pernyataan Allah kepada umatNya.

Secara umum, menjadi nabi sama dengan bekerja di pengepakan daging, yang merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Bahkan jika mereka mengatakan kebenaran, nabi-nabi mungkin dibunuh atau dimasukkan penjara oleh orang-orang yang tidak senang atas perkataan mereka. (Banyak raja membenci kabar buruk.) Menurut catatan sejarah, Nabi Elisa digergaji jadi dua.

Jadi pertimbangkan dilema seorang nabi: pasti mati jika dia terbukti salah dan kemunkinan juga mati jika dia benar. Nabi, yang sebenarnya/asli, tidak ingin menyinggung Allah, dan hanya sedikit yang ingin digergaji jadi dua.

Jadi kebanyakan nabi menunggu sampai mereka sungguh-sungguh yakin bahwa Allah sudah berbicara, atau mereka lebih suka diam. Raja-raja akan gemetar mendengar kata-kata mereka. Pesan nabi, yang benar, tidak pernah salah.

Sekarang pertanyaannya: bagaimana akurasi nabi jaman Aliktab dibandingkan dengan paranormal masa kini?

Nabi Vs Paranormal?

Untuk mempertimbagkan apakah akurasi paranormal masa kini mendekati akurasi nabi-nabi Alkitab, kita bisa mengambil Jean Dixon sebagai studi kasus. Paranormal Amerika ini tampaknya punya kemampuan khusus untuk memperkirakan kejadian-kejadian masa depan. Tapi berdasarkan analisa reputasinya, tampaknya tidak bisa dijamin.

Conothnya, Dixon punya visi bahwa pada 5 Februari 1962 seorang anak lahir di Timur Tengah, yang akan mengubah dunia pada tahun 2000. Orang ini akan menciptakan satu agama dunia dan membawa perdamaian abadi. Dia melihat salib membesar diatas orang itu sampai seluruhnya meliputi bumi. Menurut Dixon, anak ini keturunan Ratu Mesir Nefertiti.[1]

Dimana orang ini? Apa anda melihatnya? Dan bagaimana dengan perdamaian abadi dunia?

Nyatanya, pencarian melelahkan prediksinya memberi dua hasil fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Tingkat akurasinya sama dengan siapapun yang memperkirakan masa depan, dan pemenuhan ramalannya, yang paling luas dipublikasikan, adalah ramalan-ramalan yang secara sengaja dibuat kabur sehingga sejumlah kejadian bisa disebut sebagai pemenuhannya.

Bahkan ramalan-ramalan, yang paling dipublikasikan, dari Nostradamus sering salah mesipun ramalannya juga kabur, yang sebenarnya sukar dibantah.[2] Contohnya, ini salah satu perkiraan Nostradamus:

“Ambil Dewi Bulan, untuk Harinya dan Gerakannya: seorang pengelana yang panik dan menyaksikan Hukum Para Dewa, dalam kebangkitan wilayah besar di Dunia atas kehendak Dewa (Seseorang Menghendakinya).[3]

Disebutkan ini mengenai kematian Putri Diana. (Anda mungkin berpendapat Margaret Thatcher.) Ramalan-ramalan semacam ini melihat sama seperti melihat sebuah gambaran sesuatu di awan. Tapi tetap ada yang memaksakan bahwa ini adalah bukti pemenuhan ramalan Nostradamus. Sangat diragukan, tapi sukar dibantah.

Dan itulah secara umum rekam kerja dari paranormal. Ketika “The People’s Almanac” meriset ramalan-ramalan 25 paranormal terkenal, 92 persen ramalan terbukti salah. Sisa 8 persen dipertanyakan dan bisa dijelaskan hanya karena kebetulan atau karena pengetahuan umum dari situasi.[4] Dalam percobaan dengan paranormal terkemuka dunia, tingkat akurasi mereka ada disekitar 11 persen, yang mungkin tidak begitu buruk kecuali ternyata orang biasa yang membuat perkiraan random mengenai masa depan juga punya presentase yang sama. Hal ini tidaklah berarti menolak semua perkiraan masa depan, tapi sudah pasti bisa menjelaskan kenapa paranormal tidak menang lotre.

Perbedaan antara paranormal dengan nabi tampaknya lebih karena jenisnya bukan tingkatannya. Nabi membuat deklarasi khusus mengenai kejadian di masa depan dalam hubungannya dengan pengungkapan rencana Allah dan melalukannya dengan akurasi penuh. Peramal lebih seperti pedagang, memberikan gambaran kabur masa depan kepada pasar yang membayar pelayannya. Mereka menawarkan informasi sensional, tapi dengan rekam jejak jelek.

Nubuat Religius Dalam Perspektif

Nubuatan bisa seperti mistis, metafisik, dan —tidak ada kata lebih baik— menyeramkan. Nubuat memperlihatkan gambaran mengejutkan seperti berhubungan dengan orang yang sudah mati dan dunia lain. Dalam film Star War ada ramalan tentang seseorang yang akan memabawa keseimbangan Kekuatan (Force). Film Lord of the Rings berkisah tentang tema disekitar ramalan. Tapi itu semua dunia imajinasi.

Di dunia nyata, dikatakan jika seseorang tahu satu menit saja di masa depan dia akan menguasai dunia. Pikirkan hal ini. Satu menit tahu pasti apa yang akan keluar di kasino Trump. Anda akan jadi orang terkaya di dunia dan Donald (Trump) akan jadi petugas pos.

Tapi di dunia agama, ramalan punya fungsi penting. Nubuat jadi jalan kepastian untuk mengetahui apakan seseorang datang dari Allah atau bukan, karena Allah Mahatahu pasti tahu masa depan. Pada poin ini nubuatan di Perjanjian Lama menjadi unik, karena sebagian besar buku suci dari agamam lain menghindari nubuatan prediksi masa depan. Contohnya, kitab suci Book of Mormon dan Hindu Veda mengklaim diinspirasi oleh Yang Mahakuasa, tidak ada cara untuk mengkonfirmasi klaim mereka; anda hanya dibiarkan dengan, “Ya, itu tampaknya yang mungkin dikatakan oleh Allah.”

Ahli Alkitab Wolbur Smith membandingkan nubuatan Alkitab dengan buku sejarah lain, mengatakan, “Alkitab adalah satu-satunya buku yang pernah diproduksi oleh manusia, atau kelompok manusia, dimana banyak nubuatan berkaitan dengan negara-negara individu, kepada Israel, kepada semua orang di dunia, kepada kota-kota tertentu, dan kepada seseorang yang akan datang yang akan jadi Mesias.”[5] Jadi Alkitab mendasarkan klaim-klaimnya sedemikian rupa sehingga Alkitab itu bisa diterima atau ditolak.

Jika anda memasukkan tingkat akurasi kedalam perspektif harian, anda akan melihat betapa menakjubkannya. Contohnya, akan jadi mujizat jika pada tahun 1910 anda sudah memperkirakan seseorang bernama George Bush akan memenangkan pemilihan umum tahun 2000. Tapi bayangkan anda juga mengikutkan rincian ini dalam prediksi anda:

  • Kandidat yang mengumpulkan suara total terbanyak akan kalah.
  • Semua jaringan televisi akan mengumumkan pemenangnya dan kemudian mereka semua menasik pernyataan itu.
  • Satu negara bagian (Florida) akan menentukan hasil pemilihan
  • Amerika. Makamah Agung akhirnya yang memutuskan siapa pemenangnya.

Ketika itu semua terjadi, akan ada gereja-gereja dengan nama anda dan kartun-kartun dengan wajah mirip anda. Tapi kan anda tidak melakukannya, jadi semuanya tidak ada. Betapa sukarnya (atau tidak mungkin) pada tahun 1910 untuk secara akurat memperkirakan peristiwa-peristiwa yang berurutan semacam itu, disisi lain makin sangat sulit bagi Yesus, atau siapapun, untuk memenuhi semua nubuatan Yahudi bagi Mesias. Di dalam Perjanjian Lama, ditulis ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus, ada 61 nubuatan khusus dan hampir 300 referensi mengenai Mesias.[6]

Berdasarkan syarat Yahudi bahwa nubuatan harus 100 persen akurasinya, Mesias, yang asli, Israel harus memenuhi semuanya atau dia bukan Mesias. Jadi pertanyaannya adalah apakah Yesus terbukti atau jadi penipu terbesar dunia, dalam memenuhi semua nubuatan Perjanjian Lama.

Apa Hasilnya?

Mari kita lihat dua nubuat khusus tentang Mesias di Perjanjian Lama.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum-kaum Yehuda. dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”(Mikha 5:1)

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14)

Sekarang, sebelum mempertimbangkan 59 nubuatan lainnya, anda perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri seberapa banyak orang yang masuk kategori ini untuk berpotensi jadi Mesias disepenjang sejarah, yang lahir dari seorang perempuan perawan di kota Bethlehem. “Baiklah, lihat, ada tetangga saya George, tapi tidak; dia lahir di Brooklyn.” Dalam kasus 61 nubuatan rinci dipenuhi oleh satu orang, kita berbiacara tentang kemungkinannya sangat mungkin tidak mungkin.

Ketika ilmuwan forensik menemukan profil DNA cocok, kemungkian salah orang adalah kurang dari satu berbanding beberapa miliar (sebenarnya hanya ingin mengingatkan saja bahwa ada kemungkinan salah betapapun kecilnya). Tampaknya kita punya kemunkinan yang sama, dan banyak angka nol, dalam menilai satu orang memenuhi semua nubuatan itu.

Profesor Peter Stoner, ahli matematika, memberi 600 muridnya soal matematika probabilitas yang akan menentukan kemungkinan satu orang memenuhi delapan nubuatan khusus. (Ini tidak sama dengan melemparkan koin delapan kali berturut-turur dan menghitung kepala yang muncul) Pertama para murid harus menghitung kemungkinan satu orang memenuhi semua kondiri satu nubuatan, seperti dikhianati teman demi 30 keping perak. Kemudian para murid memperlihatkan perkiraan terbaik mereka akan kemungkinan seseorang memenuhi delapan nubuatan secara keseluruhan.

Para murid menghitung kemungkinan satu orang memenuhi seluruh delapan nubuatan adalah satu berbanding sepuluh pangkat 21.(1021)  Untuk menggambarkan angka itu, Stoner memberikan contoh, “Pertama-tama, selimuti seluruh Bumi dengan koin dolar setinggi 120 kaki. Kedua, tandai satu dari koin dolar itu dan secara random menguburnya. Ketiga, minta seseorang mengelilingi dunia untuk mencari dan menemukan koin dolar yang sudah ditandai sambil matanya ditutup.[7]

Orang bisa melakukan hal-hal menakjubkan dengan angka (terutama dengan nama keluarga dan semacamnya), jadi cukup penting dicatat bahwa upaya Stoner diteliti oleh American Scientific Association, yang menyatakan, “Analisa matematika berdasarkan prinsip probabilitas yang bisa diandalkan dan Profesor Stoner telah menerapkan prinsip-prinsip ini dengan tepat dan meyakinkan.”[8]

Dengan perkenalan itu, mari kita tambahkan enam prediksi kepada dua yang sudah dipertimbangkan sehingga total delapan seperti Profesor Stoner.

Nubuat: Mesias akan berasal dari garis keturunan Raja Daud.Yeremia 23:5

tahun 600 SM.

Pemenuhan: “Yesus … anak Daud ….”Lukas 3:23, 31

tahun 4 SM

Nubuat: Mesias akan dikhianati dengan bayaran 30 keping perak.Zacharias 11:13

tahun 487 SM.

Pemenuhan: “Mereka memberi dia tiga puluh keping perak.”Matius 26:15

tahun 30

Nubuat: Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk.Mazmur 22:16

tahun 1000 SM.

Pemenuhan: “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di sebelah kiriNya.”Lukas 23:33

tahun 30

Nubuat: Orang akan mengundi untuk mendapakan jubah Mesias.Mazmur 22:18

tahun 1000 SM.

Pemenuhan: “Prajurit-prajurit …. dan jubahNya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain, “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.”Yohanes 19:23-24

tahun 30

Nubuat: Mesias akan datang menaiki keledai.Zacharias 9:9

tahun 500 SM.

Pemenuhan: “Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mreka dan Yesuspun naik ke atasnya.”Matius 21:7

tahun 30

Nubuat: Seorang utusan akan dikirim untuk mengumumkan kedatangan Mesias.Maleakhi 3:1

tahun 500 SM.

Pemenuhan: Yohanes menjawab mereka, katanya,”Aku membaptis dengan air; tetapi ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”Yohanes 1:26

Tahun 27.

Ke delapan nubuatan, yang kita teliti mengenai Mesias ditulis oleh orang-orang dengan waktu dan tempat berbeda antara 500 sampai 1.000 tahun sebelum Yesus lahir. Jadi tidak ada kesempatan untuk melakukan kolusi diantara mereka. catat juga kehususannya. Ini bukan jenis prediksi Nostradamus –”Ketika bulan berubah jadi hijau, biji lima akan jatuh dan tertutupi di pinggir jalan”

Diluar Kontrolnya

Bayangkan memenangkan lotre Powerball hanya dengan satu tiket, diantara puluhan juta tiket yang terjual. Sekarang, bayangkan berhasil memenangkan lotre seperti itu ratusan kali. Apa yang anda pikirkan? Benar, “Itu dicurangi!”

Dan selama bertahun-tahun klaim yang sama dikeluarkan oleh orang skeptis mengenai pemenuhan nubuatan Perjanjian Lama oleh Yesus. Mereka mengakui Yesus memenuhi nubuatan mesianik tapi menuduh Dia hidup dengan cara tertentu untuk dengan sengaja memenuhinya. Kelihatan seperti alasan yang cukup masuk akal, tapi bukan tanpa keraguan.

Lihat kondisi empat saja nubuatan mesias:

  • Dia keturunan Daud (Yeremia 23:5).
  • Dia akan lahir di Betlehem (Mikha 5:2).
  • Dia akan lari (mengungsi) ke Mesir (Hosea 11:1).
  • Dia akan tinggal di Nazareth (Yesaya 11:1).[9]

Sekarang, bagaimana Yesus bisa memenuhi nubuatan itu? Dia dan orang tuanya tidak punya kontrol atas nenek moyangNya. Kelahiran Yesus di Betlehem adalah dikarenakan adanya sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Orang tuanya pindah ke Mesir karena dipicu oleh penindasan Raja Herodes. Dan ketika Herodes mati, orang tua Yesus langsung memutuskan untuk kembali pulang ke Nazareth.

Bahkan jika pada usia muda seorang peniru Yesus membaca nubuat-nubuat yang secara tidak sengaja dipenuhi dan memutuskan untuk terus memenuhi seluruhnya (sama seperti seseorang memutuskan untuk menembak bulan dalam permainan kartu Heart), dia tidak mungkin menang. Pertimbangkan beberapa faktor dalam nubuat-nubuat yang sudah kita lihat: Mesias akan dikhianati dengan 30 keping perak; Dia akan dibunuh dengan cara disalib; dan orang akan mengundi jubahNya. Semua nubuatan ini terpenuhi oleh Yesus, lalu kontrol seperti apa yang dimiliki untuk memenuhi setiap nubuatan itu?

Para ahli Alkitab menjelaskan kepada kita sekitar 300 referensi dengan 61 nubuatan khusus Mesias dipenuhi oleh Yesus Kristus. Kemungkinan seseorang memenuhi begitu banyak nubuatan akan ada diluar semua kemungkinan matematis. Hal itu tidak akan pernah terjadi, tidak perduli berapa banyak waktu didedikasikan. Seorang matematikawan memperkirakan ketidak-mungkinan itu seperti, “satu banding satu miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar, miliar.”[10]

Bertrand Russell, ateis, ditanya, dipublikasikan majalah Look, bukti apa yang akan membuatnya percaya pada Allah. Russell menjawab,”Jika saya mendengar suara dari surga dan (suara) itu memprediksi rankaian peristiwa dan itu terjadi, maka saya pikir saya harus percaya ada semacam pribadi supernatural.”

Ahli Alkitab Norman Geisler merespon skeptisme Russell, “Saya aakn katakan, tuan Russell, sudah ada suara dari sorga; (suara) itu sudah memprediksi banyak hal; dan kita sudah melihatnya terjadi, tanpa bisa dibantah.” Geisler menyatakan secara tidak langsung bahwa pada kenyatannya hanya Pribadi transenden di luar waktu yang bisa secara akurat memperkirakan kejadian masa depan

Bukti Di Dalam Toples

Kita melihat bukti pemenuhan nubuat mesianik Yesus dari semua arah, tapi belum yang satu ini. Bagaimana jika orang Kristen yang mnulis kopi kitab Yesaya dan buku-buku nabi lain di Perjanjian Lama mengubahnya untuk disesuaikan dengan kehidupan Yesus?

Inilah pertanyaan banyak ahli dan skeptis tanyakan. Tampaknya mungkin, kendati sekilas agak diragukan. Jawaban ini akan mencegah kita menjadikan Yesus sebagai penipu, yang kemungkinannya sangat kecil, dan hal itu akan menjelaskan akurasi menakjubkan pemenuhanNya atas nubuatan. Jadi, bagaimana kita tahu buku-buku nabi di Perjanjian Lama, seperti Yesaya, Daniel, dan Mikha, ditulis ratusan tahun sebelum Yesus lahir? Dan jika memang benar, bagaimana kita tahu orang Kristen tidak mengubah teksnya dikemudian hari?

Selama 1.900 tahun, banyak skeptis memegang teguh teori, berdasarkan ketidak-mampuan manusia memprediksi masa depan. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang melenyapkan antusiasme terhadap konspirasi semacam itu. Sesuatu yang disebut Gulungan Laut Mati.

Setengah abad silam, penemuan Gulungan Laut Mati memberi para ahli Alkitab kopi-kopi buku-buku Perjanjian Lama yang jauh lebih tua dari yang selama ini diketahui. Tes-tes ekstensif membuktikan banyak dari kopi-kopi ini dibuat sebelum Yesus Kristus hidup. Dan mereka benar-benar identik dengan teks-teks Alkitab yang sudah kita gunakan selama ini.

Akibatnya, bahkan para ahli yang menolak Yesus sebagai Mesias menerima manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama bertarik sebelum kelahiranNya dan karena itu bisa disimpulkan nubuat-nubuat mengenai Mesias yang ada didalamnya tidak diubah untuk disesuaikan dengan Yesus.

Jika prediksi-prediksi dipenuhi begitu akurat melalui kehidupan Yesus, tampaknya akan logis untuk merenungkan kenapa semua orang di Israel tidak bisa melihat itu. Tapi ketika salib didirikan, tidak semua orang melihatnya. Seperti dikatakan Yohanes tentang Yesus, ” Tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yohanes 1:11) Kenapa ?

Dengan pertimbangkan sejarah perjuangan Israel, tidak sukar untuk membaca informasi (nubuat-nubuat) Mesias sebagai pejuang kemerdekaan politik. Bisa dipahami bagaimana orang Yahudi abad pertama mungkin berpikir, bagaimana mungkin Mesias telah datang dan Israel masih tetap ditindas dibawah penjajahan Romawi?

Pada saat Yesus memenuhi nubuatan mesianik, Dia melakukannya dengan cara yang tidak diperkirakan oleh seorangpun. Dia mengobarkan revolusi moral dan spiritual, bukan politik, mencapai tujuan-tujuanNya melalui pengorbanan-diri dan melayani dengan rendah hati, menyembuhkan, dan mengajar. Sementara isu, Israel sedang menunggu Musa atau Yoshua lain, yang akan memimpin mereka untuk menaklukkan untuk memperoleh kembali kerajaan mereka, yang hilang.

Tentu saja, banyak orang Yahudi , pada masa Yesus, tidak mengakui Dia sebagai Mesias — seluruh pondasi gereja Kristen adalah orang Yahudi. Namun bukan mayoritasnya. Dan tidaklah sukar untuk mengerti kenapa.

Agar lebih baik memahami salah-paham orang Yahudi abad pertama, pertimbangkanlah nubuat yang ditulis 700 tahun sebelum Yesus lahir oleh nabi Yesaya. Apakah ini merujuk pada Yesus?

“Kita sekalian sesat seperti domba. masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya. seperti anak domba yang dibawa kepembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup dan karena pemberontakan umatKu dia kena tulah. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sekalipiun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik”.

“Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut. . . Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melhat terang dan menjadi puas; dan hambaKu itu, sebagai orang.” (Bagian dari Yesaya 53:6-11)

Ketika Yesus tergantung di salib, sebagian orang dan bisa dipahami mungkin telah berpikir, bagaimana bisa ini Mesias? Pada saat yang sama, orang lain mungkin merenung, siapa selain Yesus yang dikatakan Yesaya?

Tidak Mungkin Penipu

Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar Yesus memenuhi begitu banyak nubuatan yang ditulis ratusan tahun sebelum kelahirannya? Leonardo DiCaprio … Maksud saya, Frank Abagnale mungkin peniru yang bagus, tapi bahkan dia tertangkap ketika dia sudah cukup umur untuk minum bir secara legal.

Yesus tidak kelihatan lebih hebat dari Frank Abagnale. Dia ada di kategori berbeda. Tidak ada peniru yang bisa memenuhi begitu banyak nubuatan Yahudi.

Dan apa artinya? Dua kesimpulan muncul: Pertama, hanya Pribadi transenden yang mampu mengatur semua peristiwa. Dan kedua, itu membuat semua klaim Yesus kredibel dan pantas dipertimbangkan dengan serius.

Dalam Injil Yohanes, Yesus membuat klaim, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” Bukti-bukti melimpah tampaknya memberi indikasi bahwa tanda tangan di cek itu bukan palsu.

Apakah Yesus Benar-Benar Bangkit Dari Kematian?

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Yang Yesus Katakan Setelah Kita Mati?

Jika Yesus benar-benar bangkit dari kematian, maka Dia seharusnya tahu ada apa setelah kematian itu. Apa yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan dan masa depan kita? Apakah ada banyak jalan ke ALLAH atau klaim hanya Yesus satu-satunya jalan? Baca dan mulai menjawab “Kenapa Yesus?”

Bisakah Yesus Memberi Arti Pada Kehidupan?

“Kenapa Yesus?” meneliti pertanyaan Yesus relevan atau tidak sekarang ini. Bisakah Yesus menjawab pertanyaan besar kehidupan, “Siapa saya!?” “Kenapa saya disini?” dan, “Kemana saya pergi?” Penutupan gereja-gereja dan penyaliban telah menuntun sebagian orang percaya Dia tidak bisa, dan Yesus telah meninggalkan kita untuk menghadapi dunia yang tidak bisa dikontrol. Tapi Yesus telah membuat pernyataan mengenai kehidupan dan tujuan kita ada disini di dunia, yang perlu diteliti sebelum kita menyebutnya sebagai tidak peduli atau tidak mampu. Artikel ini meneliti misteri kenapa Yesus datang di dunia

Endnotes

1. Terence Hines, Pseudoscience and the Paranormal (Buffalo, NY: Prometheus Books, 2003), 193.

2. Josh McDowell, The New Evidence That Demands a Verdict (San Bernardino, CA: Here’s Life Publishers, 1999), 194.

3. Prediction 3, Quatrain 2, 28.

4. McDowell, Ibid.

5. Quoted in McDowell, 12-13.

6. McDowell, 164-193.

7. Peter W. Stoner, Science Speaks (Chicago: Moody Press, 1958), 97-110.

8. Stoner, 5.

9. The Hebrew word netzer, appearing in Isaiah 11:1, is believed by many to refer to Nazareth, Jesus’ hometown.

10. Lee Strobel, The Case for Faith

 

Sumber :  http://y-jesus.com/jesus_believe_god_1.php