Arsip untuk Februari 2, 2011

Keberagaman

Posted: Februari 2, 2011 in sharing n completed

Dibawah ini adalah beberapa pengertian faham / aliran-aliran yang yang muncul setelah Rosulullah SAW Wafat, untuk bro n sist fahami, mungkin hingga sekarang 2011 masih ada yang muncul lagi…

1. kaum Khawarij dengan pemimpinnya Abdullah bin Abdul Wahab ar-Rasabi yang muncul di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a. yang berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, sehingga ciri khas mereka mudah menuduh orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan ajarannya sebagai kafir. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib pun dicap kafir karena dianggap berdosa besar mau menerima tawaran tahkim/perdamaian yang diajukan oleh pemberontak Muawiyyah r.a.

2. Kaum Syi’ah, lebih-lebih setelah munculnya sekte syi’ah Rafidah dan Ghulat. Tokoh pendiri Syi’ah adalah Abdullah bin Saba seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan menyebarkan ajaran Wishoya, bahwa kepemimpinan setelah Nabi adalah lewat wasiat Nabi saw. Dan yang mendapatkan wasiat adalah Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Abu Bakar, Umar dan Utsman termasuk perampok jabatan.

3. Aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh seorang tabi’in yang bernama Wasil bin Atho’, ciri ajaran ini adalah menafsirkan al-Qur’an dan kebenaran agama ukurannya adalah akal manusia, bahkan mereka berpendapat demi sebuah keadilan Allah harus menciptakan al-manzilah bainal manzilataini, yakni satu tempat di antara surga dan neraka sebagai tempat bagi orang-orang gila.

4. Faham Qodariyyah yang pendirinya adalah Ma’bad al-Juhaini dan Gailan ad-Damsyqi keduanya murid Wasil bin Atho’ dan keduanya dijatuhi hukuman mati oleh gubernur Irak dan Damaskus karena menyebarkan ajaran sesat (bid’ah), ciri ajarannya adalah manusia berkuasa penuh atas dunia ini, karena tugas Allah telah selesai dengan diciptakannya dunia, dan bertugas lagi nanti ketika kiamat datang. Karena menurut mereka semua yang dilakukan oleh manusia adalah kehendak manusia sendiri tanpa ada campur tangan Allah.

5. aliran Mujassimah atau kaum Hasyawiyyah ciri aliran ini adalah menganggap Allah mempunyai jisim sebagaimana mahluknya yang diawali dengan menafsirkan al-Qur’an secara lafdzy dan tidak menerima ta’wil, sehingga sehingga mengartikan yadullah adalah Tangan Allah. (Lihat Ibnu Hajar al-’Asqolani dalam Fathul Baari Juz XX hal. 494) … bahkan mereka sanggup mengatakan, bahwa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan ‘Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui ‘Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut. [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]

6. Ajaran-ajaran para Pembaharu Agama Islam. Ajaran-ajaran para Pembaharu agama Islam ini dimulai dari Ibnu Taimiyyah (661-728 H / 1263-1328 M atau abad ke 7 – 8 H / 13 – 14 M, yakni 700 tahun setelah Nabi Wafat atau 500 tahun dari masa Imam Syafi’i). Beliau mengaku penganut madzhab Hanbali, tapi anehnya beliau justru menjadi orang pertama yang menentang sistem madzhab. Pemikirannya lalu dilanjutkan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziy. Aliran ini kemudian dikenal dengan nama aliran salafi-salafiyah yang mengaku memurnikan ajaran kembali ke al-Qur’an dan Hadits, tetapi disisi lain mereka justru mengingkari banyak hadits-hadits Shahih (inkarus sunnah). Mereka ingin memberantas bid’ah tetapi pemahaman tentang bid’ahnya melenceng dari makna bid’ah yang dikehendaki Rasulullah saw, yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama salaf Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mereka juga membangkitkan kembali penafsiran al-Qur’an-Sunnah secara lafdzy. Golongan Salafi ini percaya bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami masalah tersebut.
Dengan adanya keyakinan bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an dan Sunnah hanya memiliki makna secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah swt.. (seperti Allah swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Mereka juga mengatakan terdapat kursi yang sangat besar didalam ‘Arsy dimana Allah swt duduk (sehingga Dia membutuhkan ruangan atau tempat untuk duduk) diatasnya. Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini telah membuat banyak fitnah diantara ummat Islam, dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Madzhab yang lain.
Munculnya Muhammad bin Abdul Wahab di abad ke 12 H / 18 M, lahir di Ayibah lembah Najed (1115-1201 H/ 1703-1787 M) yang mengaku sebagai penerus ajaran Salafi Ibnu Taimiyyah dan kemudian mendirikan madzhab Wahabi. Ia pun mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah karena meneruskan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal yang diterjemahkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi sebagaimana pendahulunya, Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya pun layaknya kaum Khawarij yang mudah mengkafirkan para ulama yang tidak sejalan dengan dia, bahkan sesama madzhab Hanbali pun ia mengkafirkanya. Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan pemikiran sektenya:

Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syeikh Sulaiman bin Sahim seorang tokoh madzhab Hanbali, Muhamad Abdul Wahhab menuliskan: ‘Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan !….engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini !…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 31).

Dalam sebuah surat yang dilayangkan untuk Ibnu Isa yang telah melakukan argumentasi terhadap pemikirannya. Muhammad Abdul Wahhab menvonis sesat para pakar fikih secara keseluruhan. Muhamad Abdul Wahhab menyatakan: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”. Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai ‘Fikih’ dan itu yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai perbuatan syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah ini.” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59).

Berkaitan dengan Fakhrur Razi pengarang kitab Tafsir al-Kabir, seorang ulama’ yang bermadzhab Syafi’i Asy’ary. Dalam karyanya tersebut, Fakhrur Razi menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan fungsi gugusan bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk berkaitan dengan bidang pertanian. Namun Muhammad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak layak, tanpa didasari ilmu yang cukup. Muhamad Abdul Wahhab mengatakan: “Sesungguhnya Razi tersebut telah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 355).

Dari berbagai pernyataan di atas maka janganlah kita heran jika Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya pun mengkafirkan para pakar teologi (mutakallimin) Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 53), bahkan ia mengaku-ngaku bahwa kesesatan para pakar teologi tadi merupakan konsensus ijma’ para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi.

Tokoh lain penerus faham salafi Ibnu Taimiyyah adalah muncul pada abad ke 19 di Afghanistan yang bernama Jamaluddin al-Afghani (1838-1898). Ajarannya diteruskan oleh muridnya dari Mesir di abad ke 19 – 20 M yang bernama Muhammad Abduh (1949-1905). Pemikiran Muhammad Abduh menyebar ke berbagai penjuru dunia lewat tulisannya yang dimuat dalam majalah al-Manar. Setelah beliau wafat pada tahun 1905, majalah al-Manar diteruskan oleh muridnya yang bernama Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935). Kumpulan tulisan Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla ini kemudian dibukukan menjadi Tafsir al-Manar..

Tokoh ulama Wahabi yang menjadi rujukan dan panutan saat ini adalah Muhammad Nashiruddin al-Bani seorang dosen Ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah yang lahir pada tahun 1915 dan wafat 1 Oktober 1989. Ia dipuja-puja kaum Wahabi-Salafi bahkan dianggap lebih alim dari Imam Bukhori, karena ia men-Tahrij / mengomentari beberapa haditsnya Imam Bukhori (194 – 256 H).

Kemudian dalam perkembangannya, aliran Salafi-Wahabi pun terpecah dalam banyak faksi (kelompok) dengan karakteristiknya masing-masing, tergantung pada imam mana yang diikutinya
Ajaran Salafi-Wahabi Masuk ke Indonesia
Ajaran Salafi-Wahabi ini masuk ke Indonesia mulanya dibawa oleh,
1.Seorang tokoh besar agama Islam asal Yogyakarta yang bernama Darwis yang aktif dan rutin mengikuti pemikiran Muhammad Abduh-M. Rasyid Ridla lewat majalah al-Manar dan ajaran Wahabi. Ia kemudian dikenal dengan nama KH. Ahmad Dahlan yang pada 18 Nopember 1912 mendirikan organisasi keagamaan Muhammadiyyah.
2.Syaikh Ahmad Soorkati (1872-1943) asal Sudan yang kalah bersaing dalam Jami’at al-Khair di negaranya, kemudian hijrah ke Indonesia, lalu pada tahun 1914 di Betawi mendirikan organisasi al-Irsyad.
3.Di Bandung pun muncul A. Hasan yang juga dikenal sebagai Hasan Bandung atau Hasan Bangil, penerus organisasi PERSIS (Persatuan Islam) yang didirikan pada 1923 oleh KH. Zamzam Palembang.
4.HOS. Cokroaminoto dengan PSII (Persatuan Syarikat Islam Indonesia).

Apa yang Menyebabkan Aliran “Islam Baru” Dapat Menyebar dengan Cepat?
Muhammad bin Abdul Wahab pernah menguji-coba ajaranya kepada penduduk Bashrah, tetapi karena mereka adalah penganut fanatik ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka usahanya bagaikan menabrak batu karang. Kemudian Muhammad bin Abdul Wahhab menetap di Diriyah dan Pangeran Muhammad ibn Saud (dari Diriyah Najed) setuju untuk saling dukung-mendukung dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Keluarga / Klan Saud dan pasukan/lasykar Wahabi berkembang menjadi dominan di semenanjung Arabia, pertama menundukan Najed, lalu memperluas kekuasaan mereka ke pantai timur dari Kuwait sampai Oman. Orang Saudi juga membawa tanah tinggi ‘Asir dibawah kedaulatan mereka dan pasukan Wahhabi mereka mengadakan serangan di Irak dan Suriah, memuncak pada perampokan kota suci Shi’ah, Karbala tahun 1801.
Pada tahun 1802, pasukan Saudi-lasykar Wahhabi merebut kota Hijaz (Jeddah, Makkah, Madinah dan sekitarnya) dibawah kekuasaan mereka. Hal ini menyebabkan kemarahan Daulah Utsmaniyah Turki, yang telah menguasai kota suci sejak tahun 1517, dan membuat Daulah Utsmaniyah bergerak. Tugas untuk menghancurkan Wahhabi diberikan oleh Daulah Utsmaniyah Turki kepada raja muda kuat Mesir, Muhammad Ali Pasha. Muhammad Ali mengirim pasukannya ke Hijaz melalui laut dan merebutnya kembali. Anaknya, Ibrahim Pasha, lalu memimpin pasukan Utsmaniyah ke jantung Najed, merebut kota ke kota. Akhirnya, Ibrahim mencapai ibukota Saudi, Diriyah dan menyerangnya untuk beberapa bulan sampai kota itu menyerah pada musim dingin tahun 1818. Ibrahim lalu membawa banyak anggota klan Al Saud dan Ibn Abd Al-Wahhab ke Mesir dan ibukota Utsmaniyah, Istanbul Turki, dan memerintahkan penghancuran Diriyah, yang reruntuhannya kini tidak pernah disentuh kembali. Pemimpin Saudi terakhir, Abdullah bin Saud dieksekusi di Ibukota Utsmaniyah, dan kepalanya dilempar ke air Bosphorus. Sejarah kerajaan Saudi Pertama berakhir, namun, Wahhabi dan klan Al -Saud hidup terus dan mendirikan kerajaan Saudi Kedua yang bertahan sampai tahun 1891.

Perselingkuhan agama – ambisi kekuasaan – kepentingan asing dimulai dari wilayah Najed. Ketika lasykar Wahhabi – klan al-Saud yang dipimpin Abdul Aziz Ibnu Sa’ud menyusun kekuatan kembali disertai dukungan persenjataan mesin dari sekutu lamanya, Inggris (antek Amerika). Maka awal tahun 1900-an mereka menyerang kembali kota Hijaz yang saat itu di pimpin raja Syarif Husain. Ketika itu Hijaz hanya dibantu oleh Daulah Utsmaniyyah Turki yang sudah mulai lemah, dan akhirnya pada tahun 1924 ketika kekuasaanya sudah mengecil raja Syarif Husain mengasingkan diri ke kepulauan Cyprus dan kekuasaanya diserahkan pada putranya yang bernama raja Syarif Ali. Raja Syarif Ali membuat kota-kota pertahanan baru, tapi lasykar wahabi-klan Ibnu Sa’ud dengan persenjataan canggih berhasil mengepung semua kota, hingga yang tersisa hanya pertahanan di pelabuhan Jeddah. Pada ahir 1925 ketika lasykar wahabi-klan Ibnu Sa’ud berhasil menguasai pelabuhan Jeddah, maka raja Syarif Ali menyerah pada pemberontak. Dari tahun 1925 inilah Hijaz dengan dua kota suci Makkah dan Madinah dikuasai oleh keluarga Sa’ud dan Wahabi. Dan akhirnya tepat tanggal 23 September tahun 1932, Hijaz berubah nama menjadi al-Mamlakah al-’Arabiyyah as-Sa’udiyyah (kerajaan Arab Sau’di), nisbat kepada nama leluhurnya yakni al-Sa’ud, dengan Ibukotanya Riyadh. Dan tahun 1943 muncullah ARAMCO (Arabian-American Company) yang mengksplorasi minyak Arab Saudi. Dari sejarah itulah, mengapa sampai saat ini Arab Saudi selalu tidak bisa bersuara selain seperti suara Amerika, sekalipun harus berbeda dengan negara-negara Islam lainnya.

Jatuhnya Hijaz ke tangan pemberontak pada 1925 tidak hanya berakibat perubahan pemeritahan, tapi juga merombak total praktek-praktek keagamaan di Hijaz dari yang semula Ahlussunnah wal Jamaah menjadi faham Wahabi. Seperti larangan bermadzhab, larangan ziarah ke makam-makam pahlwan Islam, larangan merokok, larangan berhaji dengan cara madzhab. Bahkan makam Rasulullah saw, sahabat dan tempat-tempat bersejarah pun berencana akan digusur karena dianggap sebagai biang / tempatnya kemusyrikan.
Ketika aliran Salafi-Wahabi berkembang di Dliriyyah maupun Najed itu belumlah membuat risau umat Islam dunia. Tetapi ketika mereka menguasai pusat Islam yakni dua kota suci di Hijaz, maka hal ini menimbulkan dampak yang luar biasa, termasuk dalam persebarannya ke seluruh dunia. Melihat perubahan ajaran yang terjadi di Hijaz, maka hampir semua umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di seluruh dunia memprotes rencana pemerintahan baru di Hijaz yang ingin memberlakukan asas tunggal, yakni madzhab Wahabi.

Kelahiran Nahdlotul Ulama
Protes luar biasa pun muncul di Indonesia, ketika bulan Januari 1926 ulama-ulama Ahlussunnah wal Jammah di Indonesia berkumpul di Surabaya untuk membahas perubahan ajaran di dua kota suci itu. Dari pertemuan tersebut lahirlah panita Komite Hijaz yang diberi mandat untuk mengahadap raja Ibnu Sa’ud guna menyampaikan masukan dari ulama-ulama Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia. Akan tetapi karena belum ada organisasi induk yang menaungi delegasi Komite Hijaz, maka pada tanggal 31 Januari 1926, ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah Indonesia kembali berkumpul dan membentuk organisasi Induk yang diberi nama Nahdlatul Ulama dengan Rois Akbar KH. Hasyim Asy’ari. Setelah terbentuk, komite Hijaz mengirimkan delegasi sebagai utusan NU menghadap Raja Saudi. Delegasi yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah ini mengajukan protes atas langkah kerajaan Saudi yang meminggirkan madzhab empat, menggusur petilasan sejarah Islam, melarang tawassul, melarang ziarah kubur dan lain-lainnya dengan alas an anti syirik dan bid’ah.
Kelahiran NU merupakan muara perjalanan panjang sejumlah ulama’ pondok pesantren di awal abad 20 yang berusaha mengorganisir diri dan berjuang melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah, sekaligus mengobarkan semangat nasionalisme melawan colonial Belanda.
Sesuai visinya, diharapkan NU menjadi wadah tatanan masyarakat yang sejahtera, berkeadilan dan demokratis bagi jutaan anggotanya. Hal ini diwujudkan dengan mengupayakan system kebijakan yang menjamin terwujudnya masyarakat sejahtera, melakukan pemberdayaan dan advokasi masyarakat serta menciptakan Ahlaqul Karimah.

Literasi :
Al-Milal wa al-Nihal, Al-Syahrastani, Ensiklopedia Bebas ; Wikipedia, Ensiklopedia Islam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Drs. Choirul Anam. Bisma Satu Surabaya, Resolusi Jihad dalam Peristiwa 10 November, M. Mas’ud Adnan, Jawa Pos, Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi / Wahabi, A. Sihabuddin



silahkan klik…bro n sist akan liat langsung wesite nya…..sebenarnya ini sudah lama diinformasikan, tapi pada kesempatan ini saya mengingatkan kembali, untuk berbagi kepada yang belum tahu…keep share

klik

Bahaya Faham Pluralisme Di Era Modern

Posted: Februari 2, 2011 in Khazanah


Kondisi dunia dewasa ini sangat sesuai dengan gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim, No. 4822)

Di era modern dewasa ini kita tidak bisa pungkiri bahwa yang sedang Allah سبحانه و تعالى beri giliran memimpin masyarakat dunia ialah masyarakat Barat atau biasa disebut The Western Civilization. Sedangkan masyarakat Barat terdiri dari masyarakat kaum Yahudi dan Nasrani. Merekalah yang mengarahkan masyarakat dunia –termasuk ummat Islam- mengikuti selera kebiasaan dan tradisi mereka. Ironisnya, tidak sedikit ummat Islam yang dijuluki sebagai Ahlul-Qur’an juga mengekor kepada apa saja yang ditawarkan oleh mereka. Seolah mereka tidak pernah memperoleh petunjuk dari Allah سبحانه و تعالى bagaimana seharusnya menata kehidupan pribadi dan sosial dalam kehidupan nyata. Padahal Al-Qur’an merupakan satu-satunya Kitabullah yang masih terpelihara keasliannya. Sedangkan Kitabullah yang diturunkan kepada Nabiyullah dari kalangan Bani Israel –yakni Taurat dan Injil– telah mengalami distorsi yang tidak bisa dibantah oleh para rabbi Yahudi dan pendeta/pastor Nasrani.

Akhirnya The Western Civilization yang memimpin dunia membuat berbagai bid’ah (hal-hal yang mengada-ada) dalam me-manage kepemimpinan mereka atas segenap ummat manusia dewasa ini. Di antara bid’ah tersebut ialah dikampanyekannya secara massif berbagai faham sesat produk akal (baca: hawa nafsu) manusia yang sudah barang tentu terputus dari landasan wahyu ilahi. Kita mengenal adanya berbagai faham seperti pluralisme, sekularisme, liberalisme, humanisme, materialisme, hedonisme, konsumerisme dan masih banyak lainnya.

Tulisan ini ingin menyoroti bahaya faham pluralisme yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan di seantero dunia. Tidak kurang seorang pemimpin negara adidaya Obama melazimkan dirinya untuk memberikan kuliah umum di salah satu kampus ternama ibukota negara berpenduduk muslim terbesar di dunia saat kunjungannya beberapa waktu yang lalu. Kalau kita perhatikan secara seksama, maka di antara pokok pikiran utama yang ingin dipromosikan melalui kuliah umum tersebut ialah faham pluralisme. Faham ini telah diterima oleh banyak sekali manusia yang ingin disebut modern, tanpa kecuali sebagian ummat Islam.

Pada tahap awal kampanye Pluralisme terasa manis bak madu. Ajaran ini menyuruh manusia modern agar “menghormati manusia lainnya apapun latar belakang keyakinan dan agamanya.” Sampai di sini tentunya kita tidak punya masalah dengan faham ini. Termasuk ajaran Islam-pun menganjurkan hal itu. Tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa faham Pluralisme tidak berhenti sampai di situ. Faham sesat ini menuntut agar manusia modern lebih jauh lagi mengembangkan keyakinannya, yaitu bahwa “semua agama sama” malah “semua agama baik”, bahkan “semua agama adalah benar”. Nah, sampai di sini tentunya seorang muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai Nabi dan Rasulullah harus secara tegas menolaknya. Mengapa? Sebab bila ia menerima keyakinan seperti ini, maka ia berada dalam bahaya besar. Ia terancam. Bukan terancam oleh sembarang fihak, tetapi terancam oleh Allah سبحانه و تعالى

Apakah ancaman Allah سبحانه و تعالى yang dimaksud? Di dalam ajaran Islam pelanggaran terhadap aturan Allah سبحانه و تعالى ada dua macam: pertama, sebuah pelanggaran yang menyebabkan pelakunya berdosa namun ia tetap dihukumi sebagai seorang yang beriman di mata Allah سبحانه و تعالى . Orang ini berarti telah melakukan suatu kemaksiatan dan tentunya dia harus memohon ampunan Allah سبحانه و تعالى atas dosanya tersebut. Lalu kedua, pelanggaran yang menyebabkan pelakunya tidak saja dicatat sebagai berdosa, tetapi bahkan dicatat sebagai terlibat dalam nawaqidhul-iman (pembatalan iman). Artinya, disebabkan pelanggaran tersebut Iman-Islamnya menjadi batal di mata Allah سبحانه و تعالى. Dengan kata lain ia telah menjadi murtad…! Wa na’udzubillahi min dzaalika…

Dalam kitab “Vonis Kafir”, Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid Lc menyebut adanya sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama. Ketika menerangkan Pembatal Keimanan nomor lima yang berjudul “Tidak Mengkafirkan Orang-orang Musyrik, atau Ragu Terhadap Kekafiran Mereka, atau Membenarkan Mazhab Mereka,” beliau menulis sebagai berikut:

Siapa saja yang meragukan kekafiran orang-orang kafir berarti ia telah meragukan ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an dihukumi kafir.

Di dalam kitabullah Al-Qur’anul Karim terdapat beberapa ayat yang jelas-jelas menolak pemahaman apalagi keyakinan bahwa “semua agama sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah benar”. Di antaranya sebagai berikut:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [3] : 85)

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (QS. Al-Hijr [15] : 2)

Tiga ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa di mata Allah سبحانه و تعالى tidaklah benar bahwa “semua agama sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah benar”. Hanya ada satu saja dien (agama/jalan hidup) yang Allah سبحانه و تعالى ridhai, yaitu ajaran Al-Islam. Allah سبحانه و تعالى tidak meridhai berbagai agama selain Al-Islam. Bahkan Allah سبحانه و تعالى telah memberi gambaran kelak di akhirat nanti dimana kaum kafir bakal menyesal dan menginginkan kalau seandainya mereka sewaktu di dunia termasuk ke dalam golongan kaum muslimin alias penganut ajaran Al-Islam. Tetapi tentunya keinginan tersebut telah terlambat. Sebuah penyesalan yang tiada berguna saat itu. Maka, janganlah hendaknya seorang yang mengaku beriman berfikir bahwa dirinya lebih berpengetahuan daripada Pencipta dirinya, Allah سبحانه و تعالى . Jika Allah سبحانه و تعالى sudah dengan tegas mendekritkan bahwa hanya Islamlah din yang diridhai di sisiNya, maka jangan lagi seorang muslim memiliki pendangan selain mengikuti apa yang Allah سبحانه و تعالى telah tegaskan itu. Bahkan dalam ayat lainnya Allah سبحانه و تعالى menggunakan istilah dinul-haq (agama yang benar) untuk menyebut agamaNya Islam ini.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan dinul-haq (agama yang benar/Al-Islam) untuk dimenangkan-Nya atas segala agama lainnya, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah [9] : 33)

Maka sudah sepatutnya seorang muslim bersyukur bahwa dirinya telah diberikan Allah سبحانه و تعالى hidayah kepada iman dan Islam. Dan untuk itu seorang muslim tidak dibenarkan untuk memberikan “cek kosong” setelah memperoleh nikmat iman dan Islam. Ia dituntut terus-menerus di dunia untuk membuktikan kejujuran pengakuannya sebagai seorang yang beriman. Oleh karenanya seorang yang mengaku beriman bakal dihadapkan oleh aneka fitnah (ujian) untuk mendeteksi kejujurannya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)

Di antara ujian tersebut adalah apa yang sedang dialami kaum muslimin di era modern penuh fitnah dewasa ini. Ia diuji dengan berbagai faham sesat yang sengaja dilansir oleh musuh-musuh Islam yang sedang memimpin dunia secara hegemonik. Salah satunya ialah faham Pluralisme yang sangat berbahaya ini. Barangsiapa yang begitu saja mengekor kepada the Western Civilization alias the Judeo-Christian Civilization (Peradaban yahudi-Nasrani), berarti ia telah merelakan dirinya masuk bersama mereka ke dalam lubang biawak di dunia dan jurang neraka di akhirat kelak nanti. Wa na’udzubillaahi min dzaalika.

اللهم إنا نعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

“Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari cobaan yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” klik


a memilih dipanggil Saffia kini. Nama sebenarnya, Karen Meek. Nama Saffia dilekatkan di depan namanya, kadang orang menulis di tengah namanya.
Bersama Eric, suaminya, Saffia bahu membahu bersyiar Islam di Lewisville, Texas. Keduanya juga aktif di Pusat Hubungan Islam-Amerika (CAIR). Di sela-sela kesibukannya sebagai staf sebuah restoran besar di kotanya, ia aktif mengikuti kajian Islam.

Selain keterlibatannya dengan CAIR, Saffia juga aktif dalam Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA). Ia pernah menjadi Ketua Konferensi Media untuk konferensi regional ISNA di Dallas.

Di kalangan kubu anti-Islam, ia dilihat sebagai ancaman. Sebuah surat kabar Amerika pernah menuliskan ulasan tentang dia. “Kebencian Meek terhadap Amerika Serikat menimbulkan ancaman terhadap keamanan negeri ini,” demikian ulas Globe News.

Media ini mengomentari sebuah artikel yang ditulis Saffia Oktober 2006 tentang bagaimana orang seharusnya tidak menyamaratakan Muslim. Dia menuliskan, “Jika Anda ingin kebenaran tentang apa inti ajaran Islam, silakan membaca Quran untuk diri sendiri. Council on American-Islamic Relations mengembangkan kampanye ‘Jelajahi Quran’ dan ‘Jelajahi Hidup Muhammad’ untuk menemukan sendiri kebenaran tentang Islam.”

Ia juga menuliskan tulisan lain bertajuk “Jangan percaya semua yang anda dengar tentang Muslim”. Dalam tulisan itu, ia menegaskan Islam tidak mengajarkan membenci orang Kristen atau Yahudi. “Sebaliknya, Alquran menyebut mereka yang Ahli Kitab,” tulis Saffia yang dimuat di Lufkin Daily News.

***

Namun siapa sangka, Saffia semula adalah seorang atheis. “Saya tumbuh dewasa dengan pola pikir bahwa agama adalah sesuatu yang bodoh,” ujarnya.

Ia selalu mentertawakan jika ada orang berkata tentang Tuhan. “Saya tidak percaya adanya Tuhan. Saya tidak memikirkan bagaimana dunia ini diciptakan, dan terus terang, saya tidak peduli,” ujarnya.

Berpacaran dengan Eric, ia merasa seide. Pemuda idamannya itu semula penganut Kristen Baptis, tapi kemudian menjadi seorang atheis.

Suatu saat, ia menyadari sang pacar berubah. “Saya pikir ia sudah mengalami cuci otak. Tiba-tiba saja ia berhenti minum minuman beralkohol,” ujarnya. Eric juga menolak jika disodori daging babi dan melakukan “ritual aneh” lima kali sehari.

Rupanya, tanpa sepengetahuannya, ia belajar tentang Islam. Ketika pernikahan keduanya berhitung mundur dalam hitungan pekan, Eric akhirnya mengaku: telah menjadi Muslim.

Saffia serasa tertampar. Namun pilihan yang diberikan Eric untuk mundur dari rencana menikahinya ditolak perempuan ini. Meski shock Karen tetap ingin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Eric.

Ia justru penasaran mengapa Eric memilih Islam. Ia diam-diam juga mempelajarinya. “Hanya untuk memahami Eric, tanpa niat ikut masuk agama itu,” ujarnya.

Namun wanita yang semula disapa Karen ini mengakui bahwa agama Islam memberikan penjelasan paling logis tentang Tuhan dan penciptaan alam semesta dan sulit bagi Saffia membantahnya.

Ia akhirnya menikah dengan Eric. Saffia masih terus mempelajari Islam dan untuk pertamakalinya ia mencoba menunaikan salat, saat suaminya bekerja di kantor. Ia belajar salat sendiri dari sebuah buku.

“Sampai pada titik ini, saya melakukan segala sesuatunya dengan diam-diam. Saya tidak cerita pada Eric. Saya tidak mau memeluk agama hanya karena suami saya memeluk sebuah agama. Saya ingin menemukan jalan saya sendiri,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, ia membulatkan tekad untuk mengikuti jejak suaminya memeluk agama Islam. Saffia pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.klik


Kita bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk seluruh alam. Maka siapa yang menyangka bahwa risalah Islam hanya untuk bangsa Arab saja dan bukan untuk bangsa yang lain, seperti dakwaan kelompok Nasrani dahulu dan kelompok Sekular pada zaman sekarang, maka dengan sebab perkataan ini dia telah keluar dari Islam. Alasannya, karena dia menentang nash yang cukup banyak tentang keuniversalan risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan keberadaannya sebagai utusan Allah untuk alam semesta.
Allah Ta’ala telah menjelaskan keuniversalan risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk semesta alam dalam firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Allah telah memerintahkan kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam agar memproklamirkan tujuan ini,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.” (QS. Al-A’raf: 158)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menguatkan makna ini dalam hadits tentang keistimewaan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

“Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada salah seorang nabi sebelumku: Aku ditolong dengan ketakutan (musuh) sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan suci maka di mana saja seseorang dari umatku mendapatkan waktu shalat hendaknya dia shalat (di situ), dihalalkan ghanimah untukku, nabi sebelumku khusus diutus kepada umatnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberi hak syafa’at.” (Muttafaq ‘alaih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa tak seorangpun dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang telah mendengar risalahnya lalu dia tidak beriman terhadapnya, kecuali dia menjadi penghuni neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorangpun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani yang pernah mendengar tentangku lalu dia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Ditarjamahkan oleh Badrul Tamam dari kitab Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi. Klik



Amina Mohammed, seorang asisten gigi 58 tahun di rumah sakit Administrasi Veteran di St Albans, telah menjadi Muslim selama lebih dari 20 tahun. Ia dilahirkan di Doris Gregory, dari pasangan Jamaika Amerika. Orang tuanya membesarkannya sebagai Lutheran. Namun dia bilang dia berhenti pergi ke gereja ketika ia berusia 16.

Dua tahun kemudian, ia memulai pencarian spiritual. Ia aktif dengan membaca tentang Buddhisme, Hindu, dan agama American Indian. Tetapi, katanya, tidak satupun dari mereka adalah apa yang ia cari. “Aku sangat kecewa,” katanya, “Aku tahu bahwa ada agama yang benar, tapi aku tidak menemukannya. Tapi aku percaya pada Tuhan. Aku menolak atheisme sejak awal,” ujarnya.
Di pertengahan usia 30-an tahun, setelah dua pernikahan gagal, ia yang membesarkan sendiri dua putrinya – yang kini 27 dan 33 – merasa sangat membutuhkan untuk bimbingan rohani. Dalam pencarian itu, ia bertemu Islam melalui beberapa literatur. “Ini adalah apa yang selalu aku cari selama ini,” katanya.

Selama sekitar tiga tahun ia belajar agama, ia mulai mengurangi kencan dan menutup kepalanya sesekali jika keluar rumah. Ia merasa nyaman dengan cara ini. “Rasa nyaman ini pula yang membuat aku yakin Islam adalah agama yang pas buatku,” katanya.

Lalu dia pergi ke sebuah masjid di Manhattan. Di sana, makin bulat tekadnya untuk berislam. “Aku melihat perempuan dari berbagai negara dan dari berbagai ras berdoa bersama,” katanya, “Saya pikir ini adalah bagaimana seharusnya di bumi.”

Ia kini berkarib dengan Sunni Rumsey Amatullah, seorang mualaf kulit putih. Amatullah, yang tinggal di St Albans, telah menikah dan bercerai tiga kali sejak ia masuk Islam. Suami pertamanya adalah dari Sudan, yang kedua adalah dari Mesir dan yang ketiga adalah Italia-Amerika, semua adalah Muslim. “Allah memberikan baik laki-laki dan perempuan hak untuk bercerai,” katanya.

Beda dengan Amina, Amatullah memilih Islam sebagai bentuk kritik atas budaya materialisme Barat. Islam sungguh otentik ,indah, tradisional, dan membumi.”

Saat menemukan Islam, ia mengaku seolah dipandu Allah. Direktur program pencegahan HIV di Iris House, sebuah organisasi kesehatan di Harlem, menyatakan masa lalunya sungguh kelam.

Dia bertobat setelah puas mereguk gaya hidup liar hedonistik selama beberapa tahun. “Saya menyebutnya kebangkitan rohani. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan saya adalah seperti Anda berada dalam kabut dan Anda tidak tahu Anda berada dalam kabut, dan kemudian membersihkan diri,” katanya.

Awal persinggungannya dengan Islam bagai sebuah tamparan. “Suami teman saya memberi saya Quran di awal usia saya 20-an tahun, karena dia pikir saya terlalu liar,” katanya.

Pada awalnya, Amatullah berkata, dia sedikit memperhatikan, tapi ia sangat terpengaruh ketika ia memulai menggali ke dalamnya.

Namun, butuh waktu sekitar lima tahun dan banyak kontemplasi, sebelum ia menjadi benar-benar tertarik dalam Islam. Dia mengaku terkesan dengan hak-hak perempuan dalam Islam.

“Bayangkan itu terjadi di abad ke tujuh Masehi, saat wanita dalam budaya lain hampir sebagian besar tak memiliki kuasa atas hidup mereka,” ujarnya.

Ia pun akhirnya bersyahadat.

Menjadi Muslim, katanya, adalah mengemban amanah menjadi rahmat bagi sesama. Ia menemukan ladangnya kini: memberi penyadaran pada generasi muda betapa meruginya pergaulan bebas, terutama bagi perempuan. klik



Segala puji hanyalah millik Allah, Dzat yang memiliki sifat yang sempurna lagi tinggi. Dialah yang memiliki nama yang maha agung lagi maha baik. Menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Dialah Ar-Rahman (Yang Maha pengasih) yang beristiwa di atas ‘Arsy.
Aku bersaksi tiada illah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam uluhiyyah, rububiyyah dan dalam pengaturan alam semesta. Tidak ada cacat sedikitpun dalam sifat-sifat-Nya dan tidak ada yang tertolak dalam ketetapan-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau lah orang yang sangat tunduk kepada Rabb-Nya, meminta tolong hanya kepada-Nya baik dalam perkara kecil maupun besar. Semoga shalawat Allah atasnya, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mengenal kebenaran (agama ini) dengan dalil. Semoga Allah mencurahkan keselamatan baginya.

Amma ba’du,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam seluruh sifat-sifatNya. Tidak ada satupun yang serupa dalam nama dan ketetapan-Nya.

Dialah Allah, Dzat dimana hati seorang hamba menyembah-Nya dengan kecintaan dan pengagungan.

Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dzat yang memiliki kasih sayang kepada hamba yang melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tidak ada satupun nikmat yang engkau dapatkan dan engkau rasakan kecuali semuanya berasal dari rahmat-Nya. Tidak ada bahaya yang bisa engkau hindari kecuali semata-mata karena pengaruh rahmat-Nya pula.

Dialah Al-mulk, pemilik seluruh alam baik yang diatas maupun segala sesuatu yang ada dibawah bumi. Tidak ada satupun benda yang bergerak kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Dan tidak ada satupun benda yang diam kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya.

Dialah Al-Quddus, Dzat yang suci dan jauh dari kekurangan dan aib. Dialah Allah yang telah menciptakan langit dengan segala sesuatu yang menghiasinya termasuk berbagai bintang dan bermacam-macam planet. Dia menciptakan bumi dengan segala sesuatu yang ada didalamnya baik lelautan, pepohonan, gunung-gunung, berbagai kebaikan dan kehidupan yang cukup. Dan Allah mencitapkan semua itu dan segala sesuatu diantara langit dan bumi dalam enam hari sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Dan tidaklah Allah tertimpa rasa letih dan kecapekan.

Dialah Al-Qawiy Al-Qahhar (Yang Maha Kuat dan Maha Mengalahkan) Tidak ada satupun makhluk (yang tercipta) kecuali atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Dan tidak ada satupun kerajaan kecuali tunduk dan hina dihadapan keagungan dan kekuasaan-Nya.

Dialah Al-’Alim, Dzat yang mengetahui semua rahasia dan segala sesuatu yang tersembunyi. Dialah Dzat yang mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan lautan, tidak ada satupun daun yang gugur kecuali atas pengetahuan-Nya. Begitu juga tidak ada satupun bijian yang tumbuh dikegelapan bumi, yang basah maupun yang kering kecuali semua telah tertulis di kitab-Nya yang jelas (lauhul mafhfudz). Dan Dialah Dzat yang mengetahui janin yang dikandung oleh seorang wanita dan yang dilahirkannya. Dialah Dzat yang mengetahui keragu-raguan dalam hati seorang hamba sebelum ia mengungkapkannya. Dzat yang Maha dekat dan menjadi saksi atas semua yang terjadi pada diri seorang hamba. Tidak ada satupun benda dilangit dan dibumi yang jauh dari (pegilmuan) Rabb mu baik yang besarnya sebiji zarrah ataupun yang lebih dari itu.

Dialah Al-’Aliyul A’la, Yang Maha Tinggi baik Dzat dan sifat-sifat-Nya. Tingginya dzat Allah karena Dia berada diatas ‘Arsy-Nya yang tinggi dan tingginya sifat Allah karena tidak ada satupun makhluk yang menyerupai-nya.

Dialah Al-Jabbar, Dzat yang Maha Perkasa, yang memberi kekuatan (bagi yang kalah) dan mencukupi yang lemah dan Dzat yang mampu menyiksa dengan kekuasaan dan ketinggian-Nya.

Dialah Al-Ghafur, Dzat yang mengampuni dosa-dosa meski telah menggunung dan Dzat yang menutupi aib-aib meski tak terhingga jumlahnya. Dalam hadits qudsi dari Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,

“Wahai anak adam, jika engkau berdoa dan berharap (hanya) kepada-Ku maka akan Ku ampuni semua dosa-dosamu yang telah lalu dan Aku tidak peduli. Wahai anak adam, kalau senadainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa dan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa denganKu dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun (mati diatas tauhid) maka Aku akan memberi ampunan sebesar itu pula.”

Dialah Al-Khalaq Al-Qadir, Dzat yang menahan langit dan bumi dengan kekuatan-Nya agar tetap kokoh. Dan dialah dzat yang menahan langit agar tidak jatuh kebumi. Semua itu terjadi karena atas ijin-Nya.

Dialah Al-Hakim, (Yang Maha Bijaksana) baik dalam hukum dan ketetapan-Nya. Tidaklah Dia menciptakan segala seuatu dengan kesia-siaan dan tidaklah Allah mensyariatkan (suatu hukum) kepada hamba-Nya dengan bermain-main dan senda gurau, disamping itu, segala hukum hanya milik-Nya dari awal hingga akhir. Demikian itu, karena hukum itu hanya milik-Nya dari awal hingga akhir.

Dialah Al-Ghaniy, Dzat Yang Maha kaya yang tidak butuh kepada seluruh makhluk-Nya.

Dialah Al-Karim, Dzat Yang Maha Pemurah dengan limpahan pemberian dan anugrah-Nya. Dan tangan-Nya tidak pernah mengurangi jatah pemberian (kepada makhluk-Nya) siang dan malam.

Tidakkah engkau lihat apa yang Allah berikan sejak penciptaan langit dan bumi maka tidak ada yang berkurang sedikitpun apa yang ada di sisi kanan-Nya. Dimana ada pembatas cahaya, kalau seandainya saja Allah menyingkap cahaya tersebut sungguh kesucian wajah-Nya akan membakar setiap makhluk sejauh pandangan matanya.

akan menyengat karena inilah tujuan akhir penglihatan hamba (yaitu melihat wajah Allah kelak).

Dalam sebuah hadits Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai hambaKu kalau seandainya saja engkau semua berkumpul dari yang pertama sampai yang terakhir baik dari golongan manusia dan jin semuanya berdiri di satu tempat kemudian meminta dan memohon kepadaKu dan kemudian Aku kabulkan dari setiap permintaan maka itu semua tidaklah mengurangi sedikitpun apa yang ada di sisiKu kecuali hanya seperti berkurangnya air ketika pena dicelupkan ke dalam lautan.”

Dalam riwayat lain,

“Demikian itu dikarenakan Aku adalah Dzat Yang Maha Baik lagi Maha Kaya dan Maha Mulia. Aku berbuat sesuai dengan apa yang Aku kehendaki. pemberianKu adalah kalam dan adzabKu adalah kalam. Segala sesuatu jika saja Aku kehendaki (keberadaannya) maka cukuplah Aku katakan, ‘Kun fayakun’(jadilah! Maka terjadi).”

Wahai saudara-sadauraku…

Ini adalah penjelasan yang mudah (dipahami) tentang nama dan sifat Allah Ta’ala. Dan setiap nama Allah Ta’ala memiliki makna (yang bisa dipahami). Sesungguhnya nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas dengan jumlah tertentu dan di antara nama Allah ada 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga. Yang dimaksud ihsha’ (menghafal) disni adalah mengenal nama-nama Allah secara lafadz, makna dan beribadah kepada Allah dengan nama-nama tersebut.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan hanya milik Allah nama-nama yang terbaik (asmaul husna) maka berdoalah dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-namaNya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم

Semoga Allah memberkahiku dan engkau sekalian dalam Al-Qur’an Yang Agung. klik