Banggalah menjadi LIBERAL Bung!

Posted: Januari 3, 2017 in Kasih Tuhan
Tag:,

Qureta –Sejak lengsernya orde baru, kebebasan berpendapat sepenuhnya mendapatkan jaminan UUD 1945. Kini, kita bisa dengan bebas menyuarakan apa yang dalam pikiran. Kebebasan ini juga difasilitasi dengan banyaknya media untuk menulis mulai dari media sosial sampai media elektronik.

Menulis atau berbicara bisa dilakukan dengan amat mudah. Kebebasan ini tentu mengundang konsekuensi. Jika individu boleh mengemukakan apa saja yang mereka pikirkan, perbedaan dalam memandang suatu masalah niscaya akan terjadi.  Beda kepala, beda isi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sudahkah kita dewasa menyikapi perbedaan pendapat tersebut? Siapkah kita berargumen dengan sehat terhadap orang yang memiliki pandangan yang berbeda? Tampaknya kita belum siap sepenuhnya, khususnya jika bicara mengenai agama. Lumrah diketahui bahwa orang-orang Indonesia sangat fanatik membicarakan soal agama dan politik. Bukan begitu?

Membahas agama adalah membahas hal yang amat sensitif. Orang-orang konservatif tak bisa menerima sepenuhnya perbedaan dari apa yang mereka yakini. Tetapi di sisi lain, ada segelintir orang yang menghargai perbedaan penafsiran prinsip-prinsip beragama.

Bagi mereka, kitab suci bukan barang kaku yang hanya bisa ditafsirkan satu golongan saja. Mereka menolak penafsiran dimonopoli oleh pihak tertentu karena akan merusak pemikiran. Beberapa orang yang menjunjung tinggi kebebasan dalam beragama ini kemudian membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kelahiran JIL ini mengundang kontroversi. Orang-orang konservatif yang radikal menolak mentah-mentah paham JIL. Bagi orang-orang konservatif, JIL bisa menyesatkan umat Islam karena lebih mementingkan “kulit” ketimbang “isi” ajaran Islam. JIL dianggap menolak syariat dalam beragama. Intinya, JIL dilabeli sesat. Benarkah demikian? Padahal toleransi dan kerukunan tidak akan lahir tanpa pemikiran yang digagas oleh JIL.

Tetapi sayang, stigma negatif yang dilekatkan pada JIL membuat kata “liberal” menjadi kata kotor yang tabu diucapkan. Terlebih saat lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme adalah paham sesat.

Fatwa ini dipegang erat oleh kaum konservatif. Mereka melabeli orang-orang yang memiliki tafsir berbeda sebagai orang liberal yang membahayakan. Siapa sebenarnya yang berbahaya? Orang liberal yang menjunjung tinggi kebebasan dan toleran atau orang konservatif yang memaksa setiap orang harus sama dengannya?

Imam Ali as berkata “Seseorang cenderung menjadi musuh atas sesuatu yang tidak diketahuinya.” Orang-orang yang menyerang kaum liberal, sudahkah paham apa yang dimaksud dengan liberalisme? Dan sudahkah mereka mengkaji kadar “kesesatan” liberalisme?

Kebanyakan dari mereka hanya sekedar ikut-ikutan tanpa berpikir secara mendalam. Mereka hanya ikut berkoar tanpa mempertanyakan dimana letak kesesatan liberalisme. Jika mereka mengerti benar apa itu liberalisme, mereka tidak akan “alergi” dengan pemikiran ini.

Secara umum, liberalisme merupakan faham yang menghendaki adanya kebebasan kemerdekaan individu di segala bidang, baik dalam bidang politik, ekonomi maupun agama. Terdapat 3 hal yang paling mendasar dalam faham liberalisme yaitu kehidupan, kebebasan dan hak milik (lifeliberty dan property).

Dalam pandangan liberalisme, setiap orang memiliki hak yang sama dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan. Hasil yang diperoleh setiap individu akan sangat tergantung pada kemampuan masing-masing. Liberalisme juga menjamin kebebasan berpendapat, pemerintahan yang demokratis, dan hukum yang adil.

Liberalisme lahir pada abad ke-18 Perancis ketika kaum Borjuis menentang kaum bangsawan dan padri yang menguasai negara. Liberalisme lahir dari penentangan terhadap dogmatisme yang melekat di Perancis. Kaum borjuis dan rakyat jelata tidak mau menerima begitu saja negara dikuasai oleh bangsawan dan padri tanpa penjelasan yang meyakinkan. Setelah dilaksanakan di Perancis, barulah Liberalisme menyebar di negara-negara lain di Eropa.

Bisakah dibayangkan dunia tanpa liberalisme? Tak akan ada demokrasi, tidak akan ada kebebasan berpendapat dan akan banyak kaum tertindas. Bagaimana rasanya hidup dalam kungkungan dogma yang tidak bisa dibantah? Apa rasanya menjadi orang yang didiskriminasi dan tidak diberikan kesempatan yang sama?

Orang-orang yang melabeli liberalisme sebagai sebuah kesesatan mungkin tidak menyadari bahwa kebebasan mereka dalam berteriak saat ini adalah berkat tumbuhnya faham  liberalisme yang mereka kutuk. Bahkan kebebasan beragama yang mereka nikmati adalah hasil pemikiran liberal. Ironis!

Liberalisme memanusiakan manusia dan mengajak manusia kembali kepada fitrahnya untuk berpikir. Para liberalis adalah pemikir yang tak mau terkungkung dalam dogma dan mereka adalah pembawa perubahan. Itulah sebabnya tak perlu khawatir dicap liberal sebab liberalisme lahir dari kehendak dasar manusia untuk bebas dan berpikir.

Bukankah setiap manusia menghendaki kebebasan? Ia menolak untuk segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Sudahkah anda dicap sebagai liberal?  Jika ada yang mencap anda liberal, berbanggalah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s