Arsip untuk Mei, 2012

Dzat

Posted: Mei 20, 2012 in ISLAM, Khazanah, sharing n completed, Warning

Ternyata tidak sedikit umat Kristen yang tidak, atau belum, memahami konsep ketuhanan dalam Islam masih “terperangkap” dalam ruang berfikir sempit yang mengira bahwa Allah (atau eksistensi-Nya) yang sering “digambarkan” oleh umat Muslim dengan sebutan “DZAT” adalah sama dengan berbagai dzat yang diciptakan oleh Allah sendiri.

Sebagian dari mereka memang benar-benar bertanya, namun sebagian lagi menjadikannya sebagai olok-olok, bahkan ada yang menuntut untuk “diperlihatkan” wujud Allah sebagai bukti bahwa Allah yang disembah oleh umat Islam itu ada!

Meski kaget, tapi kita tentunya tidak boleh serta merta menyalahkan mereka, sebab semua itu adalah akibat dari ajaran Kristen yang selama hidupnya membatasi mereka untuk menemukan hakikat Tuhan dengan menggunakan akal budinya sendiri-sendiri. Tidak sama denga  umat Muslim, pengenalan mereka kepada Tuhan adalah urusan gereja, sedangkan jemaat cukup mengimani saja.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”  (QS. Ali Imran[3]:190-191)

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. 

(QS. Yunus[10]:101)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”  (Q.S. Shaad[38]:27)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-sekali engkau berfikir tentang Dzat Allah ” [Hadits hasan, Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah]

Kata dzat yang disandarkan pada Allah kita jumpai pada sabda Nabi saw, “Tafakkaruu fi khalkillah walaa tafakkarua fi dzatihi” atau “Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, tapi jangan berpikir mengenai Dzat-Nya.” (atau dzat Sang Pencipta).

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala ini:

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas[112]:4)

”Tidak sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”  (QS. As-Syuuraa[26]:11)

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”  (QS. Al-An’Aam[6]:103)

Dengan demikian, maka setiap kali kita menyebut Dzat Allah, tidak berarti bahwa dzat yang dimaksud adalah dzat yang sama dengan berbagai dzat ciptaan-Nya sendiri seperti zat cair, zat padat, zat gas, atau zat-zat lain yang menyerupai itu. Sama hal nya dengan ketika kita berkata bahwa Allah Maha Mendengar. Ini juga tidak bisa diartikan sesederhana sebagaimana makhluk ciptaan-Nya mendengar dengan bantuan panca indera telinga.

Perhatikanlah pula Firman Allah subhanahu wata’ala ini:

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.”  (QS. Al-Baqarah[2]:269)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”  (QS. Ali-Imran[3]:190)

Jika dalam tiga firman sebelumnya Allah menyiratkan bahwa mustahil panca indera manusia akan mampu mencapai eksistensi-Nya, maka pada dua firman berikutnya (ada puluhan banyaknya yang serupa), Allah menyiratkan kepada kita bahwa manusia, bila mau merendah dan berfikir, niscaya akan mampu mencapai eksistensi-Nya melalui perantara akal.

Rasulullah saw berpesan, “Tafakkaruu fi khalkillah walaa tafakkarua fi dzatihi”

Sabda beliau ini menyiratkan bahwa berfikir tentang ciptaan Allah, walau bagaimanapun, akan menyadarkan kita bahwa Allah itu ada, dan eksistensi-Nya sangat nyata. Namun Rasulullah saw juga mengingatkan; cukuplah sampai di situ saja! Jangan coba-coba untuk berpikir lebih jauh, misalnya tentang bagaimana kira-kira Dzat Allah, atau sosok Allah itu sendiri.

Mengapa demikian? Pertama, karena Allah sendiri sudah mengingatkan kita (Lihat lagi QS. Al-An’Aam [6] :103 di atas) dan Rasulullah saw juga sudah tegas-tegas melarangnya (perhatikan sabda beliau tadi, begitu juga makna yang terkandung dalam QS. Yunus[10]:101 di atas).

Tentang larangan ini tentu Rasulullah saw adalah manusia yang paling mengetahui apa alasannya. Sebab beliau sendiri pernah “bertemu” dengan Allah ketika melakukan perjalanan malam yang kita kenal dengan sebutan Isra’ Mi’raj itu. Ini sekaligus juga menjelaskan bahwa prasangka sebagian umat Kristen yang mengatakan bahwa Rasulullah saw “tidak tahu” bagaimana sesungguhnya dzat Allah itu adalah pendapat yang sangat keliru!

Sedangkan alasan yang kedua adalah, walau bagaimanapun kita paksakan, pada kenyataannya seluruh kemampuan panca indera kita yang sangat terbatas ini pasti tidak akan pernah mampu melihat dzat atau wujud Allah!

Sifat Allah adalah mutlak (absolute). Tidak mungkin dibatasi oleh apa pun, apalagi oleh alam pikiran manusia. Sementara sifat manusia sendiri serba sangat terbatas. Untuk membuktikan betapa kecilnya kita dibandingkan dengan betapa Maha Besarnya Allah, salahsatu contoh yang saya pikir sangat mudah untuk difahami misalnya adalah begini:

————————————————————————————————————————-

Kita yang sangat kecil ini hidup, berdiri, berjalan, tidur dlsb di atas permukaan bumi yang kita yakini betul bahwa wujudnya ada dan nyata. Tapi jika kemudian ada orang yang bertanya, Dapatkah anda melihat wujud bumi ini seutuhnya dari tempat anda sekarang berdiri?Kira-kira apa jawaban anda?

————————————————————————————————————————–

Padahal bumi hanya salahsatu dari bermilyar-milyar ciptaan Allah yang bertebaran di seluruh jagad raya ini. Dapatkah kita, dari tempat berdiri sekarang ini misalnya, melihat benda-benda langit yang konon katanya ada yang ukurannya berlipat-lipat kali lebih besar dari bumi?

Jika anda katakan “Dapat”, maka dapat pula dipastikan bahwa anda pasti sedang berdusta. Sedangkan jika anda katakan “Tidak,” dan memang demikianlah adanya, lalu bagaimana mungkin kita coba mengandalkan panca indera yang sangat terbatas ini untuk melihat Dzat Allah yang sejatinya adalah Sang Pencipta seluruh benda, atau wujud-wujud lain di alam semesta yang jelas-jelas tidak mampu kita lihat itu?

————————————————————————————————————————–

Jadi, gampangnya begini: sedangkan untuk melihat ciptaan-Nya saja kita sudah tidak sanggup, apalagi untuk melihat sang Penciptanya sendiri?

————————————————————————————————————————–

Maka pengetahuan kita tentang Dzat Allah dengan sendirinya tidak akan mungkin melampaui pengetahuan yang sudah diajarkan oleh Allah sendiri kepada kita seperti misalnya bagaimana sifat-sifat-Nya, bagaimana harus menyebut nama-Nya, apa yang dikehendaki-Nya, apa yang tidak disukai-Nya, dan lain-lain tentang Allah sebagaimana yang sejak awal peradaban manusia telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul-Nya kepada umat manusia. Baik itu melalui wahyu Allah yang diturunkan langsung kepada mereka, maupun yang diturunkan melalui kitab-kitab wahyu Allah seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

Adapun bagi umat Muslim, tentu saja pengenalan kepada Allah menjadi seperti apa yang diajarkan di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Dan dari sinilah umat Muslim menjadi faham betul bahwa konsep Ketuhanan Allah dalam Islam sudah sangat mapan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan, terutama bagi orang-orang yang berpikir dengan menggunakan akalnya secara paripurna.

Jadi, jika kita tetap memaksakan diri juga untuk “mewujudkan” sosok Allah dalam pikiran kita, maka seperti sudah dijelaskan di atas, bagaimanapun bentuk pewujudan itu, PASTI SALAH! Sebab, bukankah selama ini pengetahuan kita tentang bentuk atau wujud selalu berdasarkan pada persepsi yang bersandar pada segala sesuatu yang pernah kita lihat? Sedangkan dari seluruh ajaran Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw (termasuk Nabi Isa) sampai kepada Nabi Muhammad sendiri tentang wujud Allah, kita belajar bahwa semuanya bermuara pada satu persamaan yang hakiki yaitu: Allah sama sekali tidak serupa dengan apa pun yang dapat dibayangkan oleh akal dan dicapai oleh panca indera manusia. Allah kita MAHA GHAIB!

Perhatikan juga ini:

“Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya!” (Ayub 22:12)

“Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,” (Yohanes 5:37)

“Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” (Lukas 8:10)

Itu sebabnya mengapa ketika ajaran para Nabi dan Rasul Allah sebelum Nabi Muhammad saw tentang eksistensi Allah “dibenturkan” pada konsep Trinitas yang TIDAK PERNAH diajarkan oleh Nabi Isa as (Yesus) sendiri, maka turunlah peringatan Allah melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an seperti berikut ini:

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisaa[4]:171)


Vatikan pada hari Sabtu kemarin (19/5) mengecam terbitnya sebuah buku baru berasal dari dokumen internal yang bocor yang menjelaskan adanya perebutan kekuasaan di dalam Tahta Suci, dugaan korupsi, salah pengelolaan keuangan di kalangan para pejabat Tahta Suci Vatikan dan memperingatkan bahwa mereka akan mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang bertanggung jawab atas masalah ini.

Selain itu, Paus Benediktus XVI sendiri telah membentuk komisi khusus untuk menjelaskan apa yang disebut skandal “Vatileaks” karena ia sangat terpukul dengan “ketidaksetiaan” yang ditunjukkan oleh mereka yang membocorkan berbagai catatan rahasia internal Vatikan, kata Monsignor Angelo Becciu, wakil sekretaris Negara Vatikan, kepada surat kabar Vatikan L’Osservatore Romano.

Buku berjudul “His Holiness” diluncurkan Sabtu kemarin yang memuat skandal kriminal Vatikan, disusun oleh wartawan Italia Gianluigi Nuzzi, telah semakin menambah panas skandal di internal Vatikan. Menurut sekretaris pribadi Paus, mereproduksi surat dan memo rahasia dari dan ke Benediktus merupakan pelanggaran terhadap hak privasi Paus.

Juru bicara Vatikan Federico Lombardi mengatakan dalam sebuah pernyataan hari Sabtu kemarin bahwa buku itu sebuah “buku fitnah”. Dia mengatakan Tahta Suci akan melakukan langkah hukum terhadap pelaku yang “mencuri” dokumen-dokumen rahasia tersebut, yang menerima serta yang menerbitkannya. Dia memperingatkan Tahta Suci akan melakukan kerjasama internasional dalam upaya pencarian keadilan.

Sebelumnya Vatikan disibukkan dengan terbongkarnya ribuan skandal seks anak-anak di banyak gereja-gereja Katolik di seluruh dunia khususnya di Eropa

Warning zionis

Posted: Mei 20, 2012 in ISLAM, Khazanah, sharing n completed

Perhatikan gambar ini

Taukah symbol apa pada gambar yang kanan?
Horus adalah sosok dewa yang berhubungan dengan matahari. Ia merupakan putra dari Isis dan Osiris. Mata Horus merupakan simbol mistik dari kekuatan gelap yang bermakna ‘Maha Tahu’ dan ‘Maha Melihat’. Biasanya ia dilukis dalam hieroglips (Tulisan Mesir kuno) di dinding-dinding Piramid.Osiris adalah sang raja sekaligus hakim kematian. Ia suami dan juga abang dari Isis. Ia juga merupakan sosok dewa senior tertinggi dalam kepercayaan Mesir kuno.

Biasanya, Osiris sering digambarkan sebagai figur laki-laki dengan janggut menghiasi dagu dan dibungkus seperti mumi. Di atas kepalanya bertengger sebuah mahkota yang dikenal dengan nama ‘Mahkota Atef’. Biarpun ia pernah mati dalam peperangan, tapi toh ia bisa dihidupkan kembali oleh putranya, Horus. Isis adalah dewi kesuburan dan ibu dari Horus. Selain di Mesir, ia dikenal juga sebagai salah satu dewa dalam legenda-legenda Yunani dan kekaisaran Romawi.

Untuk yang sudah terbiasa dengan artikel tentang konspirasi akhir jaman, istilah dajjal, freemasonry, illuminati, luciferian, tahun 2012, angka 666, piramida, New World Order dan lain sebagainya tentulah bukan hal yang asing lagi.

Tapi bagi yang sama sekali awam, istilah tadi terdengar sangat asing sehingga jangankan berharap untuk mengetahui lebih lanjut, bahkan untuk tertarikpun belum tentu.
Itu baru istilah, belum lagi simbol-simbol yg digunakan oleh kelompok dajjal, banyak dari kita tidak mengetahuinya sehingga tak terpikirkan harus bersikap bagaimana. Padahal simbol-simbol itu banyak bertebaran disekeliling kita.

Lambang bintang terbalik, gambar kepala kambing, salib (yg mirip salib), jangka dan penggaris siku, pilar kembar, lantai hitam putih, tanduk setan, tangan metal (salut to setan), bentuk piramida, mata satu, bintang daud (bendera israel), dan sebagainya. Itu adalah lambang-lambang yang menjadi ciri kelompok rahasia. Mereka adalah Freemason, Illuminati, Luciferian dan lain-lain.

Kalau seseorang menggunakan salah satu atau lebih lambang tadi, maka ada dua kemungkinan. Pertama sebagai identitas anggota kelompok rahasia tertentu. Kedua karena ketidak tahuan maka dia hanya ikut-ikutan saja.


Untuk kemungkinan pertama, maka jelas orang seperti ini wajib diwaspadai dan dicurigai sebagai membawa misi atau agenda satanisme dalam setiap pembicaraannya. Sedangkan untuk kemungkinan kedua, dia adalah orang yang tidak tahu konspirasi, hanya fanatik pada tokoh tertentu yg memakai lambang tersebut lantas ikut-ikutan. Tapi orang semacam ini harus diingatkan bahwa lambang itu berbahaya. Lambang itu tidak dibuat asal-asalan, melainkan sudah dipikirkan masak-masak oleh para pengemban agenda dajjal bersama “sang master” (iblis). Maka golongan jin yang turut membantu agenda dajjal itu sangat suka dengan lambang-lambang tersebut. Itulah sebabnya para dukun (cenayang) sering memakai simbol-simbol yang khusus dibuat untuk keperluan memanggil jin (mereka menyebutnya arwah / spirit).


Category: Kabbalah

LAMBANG RAHASIA KAUM SATANIS

Untuk yang sudah terbiasa dengan artikel tentang konspirasi akhir jaman, istilah dajjal, freemasonry, illuminati, luciferian, tahun 2012, angka 666, piramida, New World Order dan lain sebagainya tentulah bukan hal yang asing lagi.

Tapi bagi yang sama sekali awam, istilah tadi terdengar sangat asing sehingga jangankan berharap untuk mengetahui lebih lanjut, bahkan untuk tertarikpun belum tentu.
Itu baru istilah, belum lagi simbol-simbol yg digunakan oleh kelompok dajjal, banyak dari kita tidak mengetahuinya sehingga tak terpikirkan harus bersikap bagaimana. Padahal simbol-simbol itu banyak bertebaran disekeliling kita.

Lambang bintang terbalik, gambar kepala kambing, salib (yg mirip salib), jangka dan penggaris siku, pilar kembar, lantai hitam putih, tanduk setan, tangan metal (salut to setan), bentuk piramida, mata satu, bintang daud (bendera israel), dan sebagainya. Itu adalah lambang-lambang yang menjadi ciri kelompok rahasia. Mereka adalah Freemason, Illuminati, Luciferian dan lain-lain.

Kalau seseorang menggunakan salah satu atau lebih lambang tadi, maka ada dua kemungkinan. Pertama sebagai identitas anggota kelompok rahasia tertentu. Kedua karena ketidak tahuan maka dia hanya ikut-ikutan saja.

Untuk kemungkinan pertama, maka jelas orang seperti ini wajib diwaspadai dan dicurigai sebagai membawa misi atau agenda satanisme dalam setiap pembicaraannya. Sedangkan untuk kemungkinan kedua, dia adalah orang yang tidak tahu konspirasi, hanya fanatik pada tokoh tertentu yg memakai lambang tersebut lantas ikut-ikutan. Tapi orang semacam ini harus diingatkan bahwa lambang itu berbahaya. Lambang itu tidak dibuat asal-asalan, melainkan sudah dipikirkan masak-masak oleh para pengemban agenda dajjal bersama “sang master” (iblis). Maka golongan jin yang turut membantu agenda dajjal itu sangat suka dengan lambang-lambang tersebut. Itulah sebabnya para dukun (cenayang) sering memakai simbol-simbol yang khusus dibuat untuk keperluan memanggil jin (mereka menyebutnya arwah / spirit).

Para pengemban agenda dajjal (disebut juga agenda New World Order / Tatanan Dunia Baru) selalu berusaha keras, bagaimana caranya supaya lambang-lambang satanis itu bisa nampak tersebar diseluruh dunia dalam segala bentuknya, baik secara terang-terangan maupun secara terselubung (disamarkan). Dan memang lambang / simbol itu kini sudah masuk dalam kehidupan manusia. Sulit dihindari bahwa banyak barang kebutuhan manusia sudah disusupi simbol-simbol satanis seperti diatas.

itu cuma sedikit contoh bagaimana proses ajaran satanisme telah membentuk kebudayaan modern, menjadi landasan dari kebudayaan pop kita saat ini, dan media apa saja yang digunakan oleh para satanis dan sekutu-sekutu shaitan untuk menyesatkan umat manusia.

Kalian mungkin akan terkejut dengan bukti-bukti dan fakta yang terlewatkan oleh pengamatan kita, yang selama ini berada tepat dihadapan mata. Atau bahkan kita tidak mengetahui dan menyadari dari mana faham-faham dan filosofi yang dianut kebudayaan kita ini berasal, lalu kita mengikutinya dengan membabi-buta tanpa pemahaman yang mendalam, terperosok kedalam tipu muslihat shaitan.

Agenda besar shaitan ini bertujuan untuk mewujudkan “Tatanan Dunia Baru” (New World Order), puncak satanisme sepanjang sejarah kehidupan ini, menyambut fir’aun terakhir..dajjal-the antichrist..

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan