Arsip untuk Mei 18, 2012


Ketuhanan Yesus Menurut Imam Al Ghazali. Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.
Imam al Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf’i). Al Ghazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.
Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah “Ihya `Ulumiddin” (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam. Dalam bukunya, Al Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru.
Kata al Ghazali dalam mukaddimah bukunya: “Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil” Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus. Al Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru.

Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal. Dalam pandangan al Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, “Ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan!”

Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: “Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka”. Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata “Bapa” dan “Anak”. Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia lah yang melakukan pekerjaanNya.”

Dalam melakukan kajiannya, Imam al Ghazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi. Di antara teks yang dikritisi oleh al Ghazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36;

“Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: “tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah ­ sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

 

Teks ini, menurut al Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus “aku dan Bapa adalah satu”. Al Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS “.. aku dan Bapa adalah satu” adalah makna metafora. Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: “Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya.”

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran. Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaskan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.


Sebelum Yesus lahir, wilayah Yerusalem dijajah oleh imperium Romawi yang menganut kepercayaan Politeisme. Karena sebagai penduduk yang terjajah, bangsa Yahudi Essenes yang masih taat berpegang pada hukum-hukum Taurat Musa, tidak mampu mengembangkan ajaran agamanya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Yahudi Farisi dan Saduki menggunakan agamanya hanya dalam bentuk formalitas saja, dan perilaku hidupnya selalu menyalahi hukum-hukum Taurat.

Ketika Yesus mendapat tugas menyampaikan risalah Tuhan, dia selalu memperingatkan penyelewengan Yahudi Farisi dan Saduki ini. Oleh karena itu dua kelompok ini sangat membenci Yesus dan berusaha membunuhnya.

Untuk melaksanakan niat jahat itu, mereka menghasut penjajah Romawi, dengan mengatakan bahwa Yesus adalah tokoh pemberontak yang ingin menjadi Raja Yahudi, sekaligus ingin membebaskan bangsanya dari pendudukan imperium Romawi. Karenanya, dengan bantuan kedua kelompok Yahudi itu pun tentara Romawi berusaha menangkap Yesus dan memusnahkan pengikutnya.[1]

Setelah Yesus tiada, murid-murid Yesus mulai menyebarkan ajarannya secara meluas ke tengah-tengah masyarakat yang sudah terpengaruh oleh kepercayaan politeisme. Sehingga kemudian lahirlah dua kelompok penganut Yesus. Pertama, yang betul-betul mengikuti ajaran Yesus secara murni, yakni mereka yang berkeyakinan bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan Yesus, kendati hidupnya dipenuhi dengan berbagai keajaiban, adalah seorang manusia pilihan yang menjadi utusan Allah. Kelompok ini dikenal dengan sebutan Kristen Unitarian.

Kedua, mengikuti ajaran Yesus yang diajarkan oleh murid-muridnya, tetapi masih sulit meninggalkan kepercayaan politeisme yang sudah mendarah daging pada diri mereka. Akhirnya mereka mengkultuskan Yesus sebagai penyelamatnya, bahkan mengangkat Yesus menjadi Tuhannya. Kelompok ini dipelopori oleh Paulus (Saulus) yang kemudian dikenal dengan sebutan Kristen Trinitas.

Proses lahirnya kepercayaan kelompok kedua ini sudah lama menjadi “masalah” di dalam sejarah perkembangan ajaran Yesus yang sampai kinipun masih dapat kita jumpai di berbagai penjuru dunia. Perjalanan kepercayaan Kristen Trinitas periode pertama mendapatkan tantangan hebat dari kelompok Kristen Unitarian. Namun karena dukungan dan pengaruh kuat imperium Romawi yang menganut kepercayaan politeisme, Kristen Trinitas dengan cepat menyebar luas ke berbagai wilayah, bahkan ke negara-negara taklukan tentara Romawi. Sementara itu, beribu-ribu penganut Unitarian pun telah diburu, ditangkapi, disiksa dan dibunuh. Adapun tokoh-tokoh Unitarian yang terkenal dalam sejarah kelam perkembangan ajaran Yesus ini di antaranya adalah:

IRANAEUS (130-200 M)
Ketika Iraneus lahir, agama Kristen yang berpusat di Antiokia telah menyebar ke Afrika Utara sampai ke Spanyol dan Perancis selatan. Uskup Lyon yang bernama Pothinus pernah menyuruh Iranaeus membawakan surat petisinya ke Paus Eleutherus (174-189 M) di Roma. Dalam petisi itu, Pothinus memohon agar Paus menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang menolak doktrin Trinitas. Disaat Iranaeus masih berada di Roma, dia mendengarkan berita pertikaian antar kelompok Kristen yang mengakibatkan Uskup Pothinus terbunuh. Setelah pulang ke Lyon, dia menjadi uskup menggantikan Pothinus.

Tahun 190 M, dia menulis surat kepada Paus Victor-I (189-198 M) untuk menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan. Kerusuhan antar kelompok terulang lagi, dan pada tahun 200 M, dia pun mati dibunuh oleh kelompok Trinitas yang dipelopori oleh Paus Victor.

Iranaeus meyakini bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa yang diutus oleh Tuhan. Dia melontarkan kritik tajam terhadap Paulus, dan menudingnya sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas penyusupan ajaran-ajaran politeisme dan filsafat Plato ke dalam ajaran Yesus. Dalam menyampaikan ajaran yang diyakininya, Iranaeus sering mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam Injil Barbanabas.[2]

TERTULIAN (160-220 M)
Tertulian berasal dari Kartago, kemudian dia menjadi tokoh Gereja Afrika. Dia adalah seorang Unitarian yang mengidentikkan Yesus dengan Meisah dalam agama Yahudi. Beliau menentang Paus Calixtus (217-222 M) yang mengajarkan bahwa dosa besar itu bisa diampuni setelah melakukan taubat secara kanonik. Di antara pernyataan Tertulian yang masih tersimpan sampai sekarang adalah:

Mayoritas manusia berpendapat bahwa Yesus adalah manusia biasa. Dialah yang mula-mula memperkenalkan istilah Trinitas dari bahasa latin sewaktu membahas doktrin yang dipandangnya aneh itu. Sebab istilah seperti itu tidak pernah dijumpai dalam kitab suci.

ORIGEN (185-254 M)
Origen lahir di Iskandariah Mesir. Ayahnya, Leonidas, mendirikan Pusat Pendidikan Teologi, dan menunjuk Clement sebagai kepala Sekolahnya. Gereja Paulus (Trinitas) sangat membenci Leonidas, karena menganut ajaran Unitarian yang disebarkan oleh murid-murid Yesus (Apostolic Christianity), dan menolak ajaran-ajaran Paulus. Oleh karena itu pada tahun 208 M pihak Gereja Paulus membunuhnya. Peristiwa itu sangat menggores di hati Origen, dan ia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk menuntut kematian ayahnya, namun dicegah oleh ibunya.

Gurunya, Clement, merasa terancam dan meninggalkan Iskandariah. Karena ayahnya terbunuh dan gurunya meninggalkan dia, Origen menggantikan Clement sebagai Kepala Sekolah Teologi. Dalam kedudukannya yang baru itu, dia terkenal sebagai cendekiawan yang berani. Kesalehan dan semangatnya yang tinggi diilhami oleh sebuah ayat yang termaktub dalam kitab Matius 19:12 yang berbunyi:

Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah mengerti.

Pada tahun 230 M Origen menjadi pengkhotbah di Palestina. Tetapi karena alasan yang tidak jelas, Uskup Demerius memecat dan membuangnya. Dia pergi ke Caesarea dan membangun pusat pendidikan yang sangat terkenal di kota itu. Akan tetapi Konsili Iskandaria tahun 250 M menjatuhkan kutukan kepada Origen. Karena menolak doktrin Trinitas, ia pun ditangkap dan menjalani penyiksaan hingga menemui ajalnya pada tahun 254 M. Origen mengajarkan keyakinannya bahwa Allah adalah Maha Agung dan Yesus adalah seorang hamba Allah yang derajatnya tidak sebanding dengan Allah yang mengutusnya.

Dia dikenal sebagai ahli sejarah gereja yang termashur. Sejak muda sampai akhir hayatnya terkenal keberaninnya. Memiliki sifat-sifat terpuji sebagai guru kebenaran dan sangat dicintai oleh murid-muridnya. Ilmu pengetahuannya sangat luas, yang tidak ada duanya di kalangan Kristen saat itu. Dia pernah menulis kurang lebih enam ratus risalah dan makalah.

DIODORUS
Diodorus adalah uskup di Tarsus, kota kelahiran Paulus. Dia termasuk salah satu tokoh Kristen Antiokia. Perpendapatnya yang terkenal adalah:

Bahwa alam semesta ini selalu dalam perubahan. Dan dalam proses perubahan itu pasti ada periode awalnya yang berasal dari yang Maha Abadi dan Maha tidak Berubah. Yang Maha Abadi itulah sang Pencipta, Yang Maha Kuasa. Diodorus menegaskan, Yesus berkodrat manusiawi, baik ruhani maupun jasmani, dan sama sekali tidak memiliki kodrat Ilahi.

LUCIUS (Wafat 312 M)
Di samping terkenal sebagai ahli teologi yang menguasai bahasa Ibrani dan Yunani, dia pun dikenal sebagai tokoh yang sangat taat kepada Allah. Dia berada di luar lingkungan Gereja sejak tahun 220 M sampai tahun 290 M. Kesalehan dan luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya mengundang kekaguman banyak orang. Dari perguruan di Antiokia yang dipimpinnyalah kemudian lahir aliran Arianisme yang dicetuskan oleh salahseorang muridnya yang bernama Arius.

Dalam memahami kitab sucinya, dia berpegang pada penafsiran dari segi tata bahasa beserta pengertiannya secara lahiriah dan kritis. Dia menentang penafsiran yang diambil dari pengertian simbolik dan allegoris.

Lucius berpendapat, adanya pertentangan paham yang sangat tajam di tubuh Gereja telah membuktikan bahwa orang-orang Kristen berpedoman pada ajaran yang bersumber dari tradisi tulisan dan mengesampingkan tradisi lisan. Padahal Yesus atau para muridnya tidak pernah mencatat ajaran Yesus. Sedangkan tradisi tulisan berasal dari orang-orang yang tidak pernah menjadi murid Yesus. Tragedi ini menunjukkan ajaran Yesus begitu cepat lenyap disebabkan kekacauan isi ajaran yang berkembang sampai penghujung abad ke-3 Masehi.

Lucius merevisi Septuaginta, yakni naskah Alkitab berbahasa Yunani. Dia membuang sekian banyak perubahan-perubahan yang disisipkan ke dalam Alkitab, ketika disalin ke dalam bahasa Yunani. Dia berkeyakinan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, melainkan hamba Allah. Namun karena tetap mempertahankan keyakinannya itu, maka dia pun ditangkap dan disiksa hingga menemui ajalnya pada tahun 312 M.

ARIUS (250-336 M)
Kehidupan Arius sangat erat kaitannya dengan Constantin, kaisar imperium Romawi. Sehingga kita tidak bisa memahami sejarah kehidupan salah satunya, tanpa memahami sosok satunya lagi. Kisah Constantin menaruh perhatiannya kepada gereja berawal dari kekhawatirannya terhadap posisinya di Roma. Kaisar ini merasa cemburu terhadap putra mahkota bernama Crispus. Putra ini sangat termashur, karena sosoknya yang menawan dan sikapnya yang ramah, disertai pula keberaniannya di medan pertempuran. Agar namanya tetap bertahan sebagai figur kaisar Romawi, dan tidak tenggelam oleh ketenaran nama putra mahkotanya, maka Constantin membunuh Crispus. Kematian Crispus menimbulkan duka rakyat Romawi. Dibalik pembunuhan itu, tersebar pula berita bahwa ibu tiri putra mahkota itu menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar, sehingga dia berniat untuk menghabisi Crispus. Akhirnya Constantin menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri itu dengan membenamkannya ke dalam air mendidih.

Para pendukung permaisuri yang mati itu bergabung dengan para pecinta putra mahkota untuk menuntut keadilan atas kematian kedua orang itu. Constantin dalam posisi tersudut dan meminta bantuan pendeta kuil Yupiter di Roma. Tetapi para pendeta itu mengatakan, tidak ada kebaktian atau korban yang bisa menghapus dosa pembunuhan yang telah dilakukannya. Suasana yang tegang di Roma membuatnya tidak tentram, sehingga Constantin pergi ke Bizantium.

Setibanya di sana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu sesuai dengan namanya, Constantinopel. Di tempat baru itulah dia melihat perkembangan Gereja Paulus sangat menakjubkan. Constantin mendapat pelajaran, bahwa bila dia mau bertobat dan mengakui dosanya di Gereja, maka dosa itu akan diampuni. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah dikotori lumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama dia berkuasa.

Setelah merasa terbebas dari beban dosa, dia pun mencurahkan pikirannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh imperiumnya. Dia melihat adanya kemungkinan memperalat gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya telah ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M). Berkat dukungan Constantin inilah perkembangan gereja semakin pesat dan kuat. Sebaliknya dia mendapatkan keuntungan yang besar, karena wilayah sekitar Laut Tengah dipenuhi oleh Gereja, yang pemeluknya dapat dimanfaatkan untuk mendukungnya di medan perang.

Bantuan pendeta merupakan faktor yang sangat penting untuk menyatukan Eropa dan Timur Tengah di bawah kekuasaan Constantin. Karena rasa terima kasih kepada Gereja di satu sisi, dan ingin menyudutkan para pendeta kuil Yupiter di Roma yang tidak bersedia membantunya, pada sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma untuk membangun greja yang besar dan megah di kota Roma. Dari posisi terjepit di kota itu, agama Kristen kemudian diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Constantin. Di samping itu ia juga membiayai pembangunan gereja yang besar dan megah di bukit Zion, Yerusalem.

Walaupun dia telah memberikan bantuan besar dan memeluk agama Kristen, tetapi dia belum pernah dibaptis, sebab pengaruh agama Paganisme yang menyembah dewa Yupiter dan dewa-dewi lainnya masih sangat dominan. Oleh karena itu Constantin bersikap menjaga keseimbangan. Adakalanya ia memperlihatkan diri seakan-akan sebagai pemuja dewa itu. Sikap seperti itu berlangsung cukup lama sampai meledaknya pertentangan di tubuh Kristen antara sekte Pauline Church (Gereja Paulus) yang menganut faham Trinitas dengan sekte Apostolic Church (Gereja Rasuli) yang menganut paham Unitarian.

Tokoh terkemuka sekte Unitarian waktu itu adalah Arius, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dibina oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi Gereja Rasuli yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan:

Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan olehnya, dan tentanglah ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Paulus.

Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang hingga kini tetap disinonimkan dengan sekte Unitarianisme, yakni aliran yang meyakini bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan Yesus adalah hamba dan utusan Allah.

Gereja Paulus menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui, Arius bukan hanya seorang ahli perencana saja, melainkan juga sebagai orang yang jujur dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Pada saat Tradisi Lisan (oral tradition) yang mempertahankan ajaran Yesus mulai lumpuh, dibarengi dengan pemahaman Tradisi Tulisan semakin menyimpang jauh, maka Arius tampil dengan segala keberanian dan kegigihannya mempertahankan ajaran Yesus yang telah disampaikan oleh murid-muridnya secara murni, sekaligus menentang persekutuan antara Gereja dengan Kaisar Constantin.

Arius adalah murid Lucian yang paling keras mengecam gereja Paulus. Oleh karenanya dia selalu diincar pembunuhan oleh pengikut-pengikut setia aliran Trinitas. Arius menyadari akan bahaya yang mengancam jiwanya. Walaupun riwayat hidup masa mudanya tidak begitu jelas, tetapi dia tercatat menjadi tokoh penting Gereja Becaulis Iskandariah.

Sampai pada masa Konsili Nicea tahun 325 M, perbedaan keyakinan di kalangan Kristen sangat beragam, karena kepercayaan di kalangan Kristen sendiri juga sangat beragam yang didasari oleh pilihan masing-masing individu. Sebelum gereja mendapatkan kebebasan dari imperium Romawi, perbedaan keyakinan itu menimbulkan banyak pertentangan sengit, yang pada akhirnya mengakibatkan pertikaian antar kelompok Kristen. Oleh karena itu acapkali terjadi peristiwa-peristiwa penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan gelap.

Ketika Constantin menjalin aliansi dengan Gereja, terjadilah perubahan dramatis. Meskipun waktu itu Constantin masih menjabat kepala negara yang penduduknya mayoritas menganut Paganisme, tetapi secara terbuka ia memberi dukungan kepada gereja, saat mana perbedaan antara Pauline Church dengan Apostolic Church nampaknya masih belum begitu tajam. Dengan demikian, agama Kristen memperoleh kedudukan baru di bawah naungan kaisar Romawi. Bagi kebanyakan orang, perkembangan Kristen seperti ini menimbulkan masalah politik. Sebagian orang yang dulunya menentang agama itu, berbalik mendukung karena mendapat tekanan dan intimidasi dari pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu mereka pun terpaksa memeluk agama Kristen, namun bukan karena panggilan hati nurani, melainkan karena tujuan-tujuan tertentu. Perubahan situasi itu sangat menguntungkan pihak Kristen. Gereja Paulus dan Gereja Rasuli masing-masing berkembang pesat hingga ke seluruh wilayah imperium Romawi, namun di sisi lain, menyebabkan pertentangan di antara kedua sekte itu semakin tajam di berbagai daerah.

Constantin yang pada waktu itu masih belum sepenuhnya memahami agama Kristen hanya ingin mendapatkan keuntungan politis bila ia berhasil menciptakan kesatuan gereja yang tunduk padanya dan berpusat di Roma, bukan Yerusalem. Ketika para jemaat gereja Rasuli (Apostolic Church) menolak untuk memenuhi keinginan kaisar itu, Constantin melakukan tekanan-tekanan terhadap mereka. Tetapi semua tekanan itu tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Para jemaat Gereja Rasuli yang menganut faham Unitarian itu tetap menolak untuk tunduk kepada Uskup Roma.

Pertentangan semakin tajam mengenai pokok-pokok keyakinan di dalam agama Kristen. Sementara itu doktrin Trinitas telah diterima sepenuhnya oleh beberapa kalangan penting dalam dunia Kristen. Sedangkan Donatus, Melitus, terutama Arius tetap bersikukuh menentang doktrin tersebut.

Lebih dari dua abad lamanya doktrin itu menjadi bahan perdebatan, tetapi tetap saja tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan dan penafsiran yang memuaskan. Dan karena banyak fihak yang menentangnya, semakin banyak pula yang membutuhkan penjelasan dan difinisi tentang dogma itu.

Pihak Gereja dituntut untuk memberikan difinisi yang jelas tentang kodrat kemanusiaan dan kodrat ketuhanan Yesus. Termasuk memberikan penjelasan mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan difinisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak problematika dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada Paus di Roma pun semakin menggunung.

Surat jawaban dari Paus ternyata tidak bisa memberikan kepuasan bagi semua pihak. Arius tampil mengajukan tantangannya kepada Paus untuk memberikan difinisi yang logis dan rasional mengenai doktrin Trinitas. Arius sendiri memberikan argumennya sebagai berikut:

Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Bapa (Allah) harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada anak (Yesus), harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu sang anak belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa anak (Yesus) itu dicipta oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Bapa (Allah) .

Kalangan Gereja Trinitas merasa terjungkal. Patriarch Alexander mengundang dewan gereja untuk mempersoalkan pendapat Arius itu. Sekitar seratus uskup dari Mesir dan Libya menghadiri undangan itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Arius. Untuk mempertahankan keyakinannya, Arius mengajukan argumentasi yang semakin sulit dibantah sebagai berikut:

Ada suatu masa, yang di dalam masa itu Yesus belum ada, sedang Allah bersifat Maha Dulu dan Maha Abadi. Karena Yesus adalah makhluk Allah, maka dia bersifat fana (tidak kekal), dan sudah tentu tidak memiliki sifat abadi. Karena Yesus itu makhluk, maka dia termasuk obyek bagi perubahan seperti makhluk berakal lainnya. Karena hanya Allah saja yang tidak berubah, maka Yesus bukanlah Tuhan.

Disamping menggunakan logika, dia pun mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membantah doktrin Trinistas seperti:

Jika Yesus sendiri telah mengatakan: Bapa lebih besar dari pada aku. (Matius 14:28), bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama? Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan sabda Yesus sendiri di dalam kitab suci.

Pendapat Arius ini tidak bisa dibantah oleh semua uskup yang hadir pada sidang itu. Tetapi Patriarch Alexander, dengan menggunakan kekuasaan jabatannya, akhirnya menjatuhkan vonis Hukuman “Pengucilan Gereja” terhadap Arius!

Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan itu, tumpahan darahnya menjadi halal. Dan pembunuhnya akan mendapatkan surga sebagai imbalan telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat! Tetapi Arius mempunyai banyak pengikut yang pengaruhnya juga sangat luas sehingga tidak dapat dianggap enteng oleh pihak Gereja Trinitas, apalagi para uskup Wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarch Alexander itu.

Pertentangan masalah keyakinan ini semakin memuncak. Alexander berada pada posisi yang terjepit, bahkan sangat kecewa karena para uskup wilayah timur mendukung Arius. Terutama Eusebius Nicomedia (wafat 342 M) sahabat Arius yang sangat berpengaruh di istana Constantinopel, dan Eusebius Caesarea (260-340 M) yang memberikan dukungan sangat besar kepada Arius. Dua orang ini dan Arius adalah murid Lucian, yang karena peritiwa pembunuhan gelap terhadap guru mereka, menjadikan hubungan ketiganya semakin erat.

Sampai sekarang kita masih dapat melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Constantinopel setelah dia dijatuhi hukuman pengucilan dari Alexander. Di antara surat-surat itu berbunyi:

Kami dihukum karena menyatakan bahwa Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan.

Meski demikian, catatan-catatan mengenai pertentangan keyakinan yang sangat tajam kala itu tidak banyak lagi ditemui sekarang ini. Sebab ratusan, bahkan mungkin ribuan, dokumen dan segala bentuk catatan yang dianggap “membahayakan” kepentingan ajaran Trinitas telah disita, dimusnahkan, atau disembunyikan. Surat-surat yang masih selamat, menunjukkan Arius tetap gigih mempertahankan ajaran Yesus yang murni, yang bebas dari perubahan, dan sama sekali tidak menghendaki perpecahan dalam Kristen.

Sedangkan kumpulan surat-surat Alexander memperlihatkan penggunaan bahasa yang tidak santun terhadap Arius dan para pendukungnya. Di antara surat-surat itu Alexander pernah menulis sebagai berikut:

Mereka sudah dikuasai iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita sundal.

Surat yang bernada kasar itu membangkitkan kemarahan Eusebius. Beliau mengundang uskup-uskup wilayah timur untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patrirrch Alexander mencabut hukuman yang dijatuhkannya kepada Arius.

Alexander bersedia mencabut vonisnya, asalkan Arius mau tunduk kepadanya. Syarat itu ditolak mentah-mentah oleh Arius, yang kemudian “hijrah” ke Palestina untuk membina jemaat Kristus di sana. Kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik Alexander pun mengirimkan surat kecaman terhadap Arius dan Eusebius dan menuduh Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan karena kepentingan ambisius.

Kaisar Constantin juga menyadari situasi internal Kristen yang semakin memburuk ini terpaksa turun tangan dengan mengirimkan surat kepada kedua belah pihak. Kaisar sangat mengharapkan kesatuan pendapat dalam agama. Hal itu diperlukan untuk menjamin stabilitas daerah yang dikuasainya. Karenanya ia meminta kedua belah fihak untuk segera melupakan masalah yang dipertentangkan.

Sementara itu terjadi persengketaan antara Constantin dengan saudara iparnya, Lucianus, yang menguasai wilayah Tracia. Dalam pertempuran tahun 324 M. Lucianus tewas. Dan karena dia termasuk pendukung Arius, kematiannya mengakibatkan posisi Arius mengalami kemunduran.

Sekalipun Constantin memenangkan peperangan, tetapi dia tidak mampu membendung kerusuhan yang melanda beberapa wilayah pendudukan Romawi. Kaisar tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kekacauan ini kecuali mengundang seluruh uskup untuk menyelesaikan persoalan rumit itu. Posisi dirinya yang masih menganut faham Paganisme sangat menguntungkannya. Sebab tidak termasuk pengikut salah satu sekte Kristen yang sedang bertikai itu dengan sendirinya ia berkesempatan menjadi pemimpin sidang dan penengah yang patut dianggap tidak memihak. Akhirnya Constantin direstui oleh para uskup untuk menjadi pemimpin sidang, karena memang tidak ada pihak yang menyetujui sekte lain mengambil posisi itu. Sidang para uskup tahun 325 Masehi yang dipimpin oleh Constantin itu terkenal sebagai Konsili Nicea.[3]

Peserta sidang gereja sedunia yang diadakan untuk pertama kali ini kebanyakan terdiri dari para uskup yang masih lugu, jujur dan berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya. Di saat itulah secara mendadak mereka harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menguasai filsafat Yunani. Sehingga mereka tidak bisa memahami ungkapan-ungkapan filosofis yang didengarnya.

Sebaliknya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan pendapatnya, apalagi harus menggunakan argumentasi-argumentasi yang menuntut logika. Oleh karena itu, pada akhirnya mereka harus memilih salah satu dari dua pilihan, bertahan pada keyakinannya secara diam-diam, atau menyetujui apa saja yang diputuskan oleh pemimpin sidang.

Wakil-wakil dari pihak Gereja Paulus (yang berusaha memaksakan Trinitas) ternyata mampu menunjukkan dua oknum, yakni Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus). Namun tidak berdaya untuk mencari dalil dari Alkitab bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan.

Para uskup didikan Lucian seperti Arius, dengan mudah menyudutkan pihak Gereja Paulus dari masalah satu ke persoalan yang lain dalam Trinitas. Pihak Unitarian mengakui bahwa di dalam Alkitab, Yesus memanggil Allah dengan kata “Bapa” dan menyebut dirinya dengan kata “Anak” tetapi mereka juga menunjukkan kepada lawannya sabda Yesus yang berbunyi:

“Dan janganlah kamu memanggil Bapa kepada seorang pun di dunia ini, karena satu saja Bapa kamu, yaitu yang ada di Sorga.” (Matius 23:9)

Dengan demikian, kata Arius, sosok “Anak” itu bukan hanya satu, bukan Yesus saja, melainkan berjuta-juta manusia!

Kelompok Trinitas tidak mampu mematahkan argumentasi para Unitarian, sebab kepercayaan terhadap doktrin Trinitas yang mereka yakini tidak berdasarkan pada kitab Injil. Dengan susah payah mereka berusaha membuktikan bahwa Bibel telah menyatakan Yesus itu bayangan Allah yang Maha Benar. Namun para Unitarian menjawab:

Kita sebagai manusia adalah bayangan dan kemegahan Tuhan. Jika dikatakan bahwa bayangan Allah adalah Tuhan, berarti seluruh manusia di muka bumi adalah Tuhan!

Perdebatan dalam sidang semakin meruncing, dan semua pihak merasa pesimis terhadap hasil sidang itu. Ujungnya, masing-masing pihak pun saling mengharapkan dukungan kaisar yang memegang keputusan akhir. Constantia adik kaisar Constantin adalah penganut faham Unitarian, memberitahu Eusebius Nicodemia bahwa kaisar ingin mempersatukan gereja, sebab perpecahan akan membahayakan kekaisaran. Jika tidak tercapai persetujuan dan kesamaan keyakinan, sangat mungkin kaisar akan kehilangan kesabaran dan menarik seluruh dukungannya kepada gereja, dan ini akan mengakibatkan kepentingan agama Kristen menjadi lebih memprihatinkan daripada sebelumnya.

Kendati Eusebius Nicodemia telah berupaya mengajak Arius dan para sahabatnya untuk berunding, namun tidak dicapai kesepakatan kecuali bahwa kelompok Unitarian semakin teguh mempertahankan keyakinan mereka menolak doktrin Trinitas. Hal ini, tentu saja, mereka sadari sebagai sebuah keputusan yang beresiko memposisikan Unitarian sendiri sebagai kelompok minoritas dalam proses pengambilan keputusan pada Konsili Nicea.

Sementara itu, pendukung Trinitas yang menyadari dukungan Constantin terhadap Gereja Paulus dapat menambah kekuasaan mereka, bahkan sekaligus dapat pula dimanfaatkan untuk mengakhiri pengaruh Gereja Rasuli (Unitarian) di Afrika Utara dengan cara-cara represif, (menggunakan kekuatan militer imperium Romawi), segera menentukan sikap. Gereja Paulus menyetujui perubahan-perubahan pada agama Kristen! Dan karena pemujaan kepada Dewa Matahari sudah menjadi tradisi bangsa Romawi kala itu, sedangkan kaisar dipandang sebagai perwujudan dari Dewa Matahari, maka gereja Paulus pun menyusun rumusan sebagai berikut:

  1. Hari Minggu (hari Dewa Matahari) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat bagi agama Kristen.
  2. Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus.
  3. Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambing agama Kristen.
  4. Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan patung Yesus.

Kaisar merasa puas, karena jurang perbedaan di antara pemeluk Kristen dan Pagan yang dianut oleh bangsa Romawi kala itu dengan sendirinya dapat diakhiri. Akhirnya Trinitas pun diterima dengan suara terbanyak sebagai keyakinan resmi dalam agama Kristen. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin ulang ke dalam tatanan bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity. Setelah perubahan pengertian keesaan Tuhan diterima oleh suara terbanyak, langkah perumusan ajaran Kristen selanjutnya pun semakin jauh menyimpang dari ajaran Yesus yang sebenarnya. [4] Rumusan Credo Nicea yang dikenal sampai saat ini adalah rumusan yang ditandatangani oleh peserta konsili yang ketika itu mendapatkan dukungan penuh dari kaisar Constantin. Sementara itu, karena Arius menolak mengakui keputusan konsili tersebut, maka diumumkanlah Anathema (kutukan) terhadap ajaran Arius sebagai berikut:

Bagi orang yang berkata: Ada jarak waktu di mana Yesus belum ada. Sebelum dilahirkan, Yesus tidak ada. Yesus diciptakan dari yang tidak ada. Anak (Yesus) berbeda zatnya dengan Allah. Yesus adalah obyek perubahan, maka Gereja Katolik menjatuhkan kutukan.

Setelah peserta konsili pulang ke daerahnya masing-masing, ternyata mereka terlibat kembali dalam perdebatan mengenai keputusan konsili itu. Pengikut Unitarian yang tetap menentang keputusan konsili pun mulai diburu dan ditangkapi. Mereka yang menolak “bertaubat” dan menerima doktrin Trinitas dijebloskan dan disiksa dalam penjara-penjara bawah tanah!

Arius sendiri sejak tahun 325 M telah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di pulau kecil sekitar selat Bosporus. Walau demikian, bukannya mereda, perdebatan dan pertikaian antara dua kelompok ini malah semakin meruncing di berbagai wilayah kekuasaan Romawi. Hanya Athanasius yang masih mematuhi keputusan tersebut, sedangkan para pendukungnya sendiri diliputi kebingungan menghadapi berkecamuknya berbagai pertentangan ini.

Sabinas, uskup tertua di Thracia mengatakan, yang hadir dalam konsili Nicea itu adalah orang dungu yang bodoh! Keputusan Konsili itu hanya disahkan oleh orang-orang tolol yang tidak memiliki pengetahuan dalam masalah yang mereka putuskan.

Tahun 328 M, hanya 3 tahun setelah Konsili Nicea, Patriarch Alexander meninggal. Terjadilah perebutan jabatan keuskupan Iskandariah. Athanasius dipilih dan ditasbihkan menjadi uskup di daerah itu. Pemilihan itu menimbulkan kecaman keras, karena dilakukan dengan cara-cara tidak jujur, intimidasi, dan tindakan-tindakan dalam bentuk kekerasan lainnya. Pengikut Arius pun melakukan perlawanan terhadap Athanasius.

Cosntantina, saudara kaisar Constantin, menentang pembunuhan terhadap orang Kristen Unitarian, terutama menentang pembuangan Eusebius Nicomedia. Dia tetap mempertahankan bahwa Arius adalah pemimpin agama Kristen yang benar. Alkhirnya, Constantina berhasil membebaskan Eusebius Nicomedia agar kembali ke istana. Kembalinya Eusebius ini merupakan pukulan telak bagi kelompok Athanasius. Sedangkan Kaisar Constantin tampak semakin condong kepada Arius.

Ketika mendapat laporan tentang kecaman masyarakat Kristen atas pemilihan Athanasius, kaisar memanggil uskup agar datang ke Constantinopel. Dengan berbagai alasan Athanasius tidak datang memenuhi panggilan itu. Pada tahun 335 M, ketika dilangsungkan konsili di kota Tyre untuk memperingati tiga puluh tahun pemerintahan kaisar Constantin, Athanasius diwajibkan menghadirinya. Dalam konsili itu, dia dituduh telah melakukan kezaliman di wilayah keuskupannya. Karena suasana sidang saat itu menyudutkan dirinya, maka dia segera keluar sebelum konsili sendiri menjatuhkan Hukum Kutukan kepada dirinya.

Para uskup kemudian melanjutkan sidang di Yerusalem dan mengukuhkan kutukan terhadap Athanasius serta menerima Arius kembali ke pangkuan gereja. Constantin mengundang Arius dan Eusebius ke Constantinopel. Perdamaian antara Arius dan kaisar terjalin baik, dan para uskup akhirnya menjatuhkan kutukan kepada Athanasius.

Arius diangkat menjadi Patriarch Constantinopel, tetapi jabatan itu tidak berlangsung lama, dia wafat secara mendadak pada tahun 336 M karena makanannya diberi racun. Pihak gereja menganggapnya sebagai suatu keajaiban, tetapi pihak istana mencurigai peristiwa itu. Kaisar membentuk komisi untuk menyelidikinya. Athanasius terbukti sebagai otak pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman!

Constantin yang perasaannya sangat terguncang atas kematian Arius itu, dibawah bimbingan adiknya, Constantina, akhirnya memeluk agama Kristen Unitarian dan dibaptis oleh Eusebius Nicomedia. Pada tahun 377 M, kaisar Romawi itu menutup mata dengan membawa keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan Yesus adalah anak manusia yang diutus oleh Tuhan.

Arius memiliki peranan penting dalam sejarah Kristen. Bukan hanya karena jasanya berhasil mengajak kaisar Constantin memeluk agama yang diajarkan oleh Yesus, tetapi juga karena mewakili orang-orang yang tabah dan gigih mempertahankan kemurnian ajaran Yesus itu sendiri. Pada saat ajaran Yesus tercampur aduk dengan kepercayaan-kepercayaan pagan dan politeisme, sehingga ajaran Kristen yang asli dan yang palsu semakin kabur, maka Arius dengan segala keberanian dan ketabahan hatinya, tampil mempertahankan kemurnian akidah Yesus. **

Pada hakikatnya agama wahyu (samawi) yang dibawa oleh Yesus mengajarkan Tauhid, atau keesaan Tuhan. Tetapi perkembangan berikutnya telah menyeret banyak pengikut-pengikutnya ke dalam kemerosotan Tauhid yang menyebabkan mereka secara sadar, atau tidak sadar, melanggar berbagai ajaran Yesus. Kondisi keimanan mereka semakin memburuk, dan pada akhirnya membawa mereka semakin jauh terperosok ke dalam keyakinan Politeisme yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Kisah di atas semakin meyakinkan kita bahwa Islam telah mengajarkan kepada pengikutnya untuk berpegang teguh pada agama Tauhid, agama yang tegas-tegas menyatakan bahwa tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah, agama yang mengakui para Nabi dan Rasul sejak Adam, Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, dan seterusnya – hingga Muhammad, adalah utusan Allah. Mereka diutus untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia, agar manusia mengenal jalan lurus yang diridhai-Nya untuk, pada saatnya nanti, kembali dengan selamat kepada-Nya!

Wallahualam Bissawab.klik


Satu hal yang sangat mencengangkan dalam perjalanan gerakan Zionis internasional Hanya dalam tempo 50 tahun, Israel berdiri di bumi Palestina.
Tahun ini, usia gerakan Zionisme Internasional hampir melewati seratus tahun, terhitung dari Konferensi Yahudi Internasional pertama yang berlangsung di kota Bassel, Swiss, Agustus 1897. Konferensi yang diprakarsai oleh Theodore Hertzl ini, melahirkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah negara yang akan menyatukan bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sejak semula pergerakan Zionis telah bergerak dengan rapi dan sistematis.

Sebagai realisasi keinginan untuk mendirikan negara nasional Zionis, konferensi meletakkan dua agenda besarnya; menyusun agenda Zionis yang dikenal dengan Agenda Basl. Dan mendirikan organisasi Zionis internasional untuk mewujudkan agenda Basl yaitu mendirikan negara nasional Yahudi di Palestina yang dijamin oleh undang-undang publik.

Untuk itu perlu disusun beberapa langkah berikut ini:

  1. Menggalang dan mengembangkan pemukiman Yahudi di Palestina dan mendirikan perumahan-perumahan.
  2. Koordinasi Yahudi internasional dan legalisasi hubungan yang mengikat mereka dengan organisasi dan institusi Zionis.
  3. Menyebarkan spirit nasionalisme, mengembangkan rasa dan kesadaran nasional Yahudi internasional.
  4. Mengambil langkah-langkah semestinya untuk mendapatkan dukungan dan persetujuan negara-negara asing berkenaan dengan konsep negara nasional Yahudi di Palestina. (Samir Syathara, 100 tahun Konferensi Basl, al Mujtama, 1267, 16/9/1997)
  5. Menguasai dunia dengan menundukkan bangsa non-Yahudi yang dalam terminologinya mereka sebut sebagai Goyim (kafir).

Dengan pemikiran itulah, Zionisme internasional kemudian melanjutkan program yang bergerak secara simultan melalui tiga jalur. Jalur politik yang dieksekusi oleh gerakan Zionis internasional, jalur agama melalui Rabi-rabi Yahudi. Dan yang terakhir, melalui jalur sosial kemanusiaan yaitu gerakan Freemasonry internasional. Ketiga jalur perjuangan Yahudi di atas tidak lepas dari kaidah dokumen 24 yang biasa disebut dengan Protokolat Yahudi atau dikenal dengan The Protocol of Learned Elders of Zion.” Buku kecil ini ditemukan tahun 1905 di Rusia yang dianggap sebagai `grand strategy’ (strategi besar) kaum Yahudi untuk menghancurkan dunia dan Islam. Yang dikenal dengan “Tatanan Dunia Baru”.

Gerakan Zionis internasional

Peristiwa penggempuran yang dilakukan oleh militer Zionis terhadap wilayah otoritas Palestina akhir-akhir ini terutama di Ramallah, Nablus, Bethlehem dan Jenin benar-benar membuat semua orang skeptis. Ada apa dengan dunia? Mengapa slogan HAM, keadilan, demokrasi dan humanisme yang kerap didengungkan negara Barat tidak sesuai dengan kejadian yang dialami di Palestina? Jawabannya sangat jelas;

 

Bahwa Barat, sangat tuli dengan tragedi kemanusiaan di Palestina, sebab hampir seluruh institusi vitalnya sudah jatuh ke tangan gerakan Zionis melalui jalur politik, ekonomi dan intelijen. Termasuk diantaranya; CIA, FBI, Kongres, bahkan Federal Reservenya!

 

Perhatikanlah pemilik saham di Federal Reserve – bank yang dianggap paling besar sedunia – ini. Sunarsip, dalam artikelnya di Republika (16/4/2002), “Memotong Jalur Ekonomi Zionisme”, menyebutkan bagaimana kuatnya `cengkraman kuku’ ekonomi Zionis di AS adalah dominasinya atas;
  1. Rochschlid Bank of London,
  2. Rothschilds bank of Berlin,
  3. Israel Moses Seif Bank of Italy,
  4. Warburg Bank of Hamburg,
  5. Warburg Bank of Amsterdam,
  6. Lazard Brothers of Paris,
  7. Lehman Brothers of New York,
  8. Kuhn and Loeb Bank of New York,
  9. Chase Manhattan Bank of New York,
  10. Goldman-Sachs of New York.

Semua bank di atas adalah milik Yahudi. Harap tahu saja, nama Rotshchilds, adalah nama seorang konglomerat Yahudi pertama, Amschell Mayer Rochschlid yang tinggal di Jerman.

Dengan menguasai bank sentral Amerika tersebut, maka dengan leluasa mereka dapat menguasai perekonomian Amerika keseluruhan dan bahkan dapat mengokohkan rezim dollar sebagai alat tukar semua transaksi internasional.

Dominasi dan monopoli mereka dalam sektor kapital menjadi bagian dari apa yang disebut dalam Protokolat ke 14-nya: “Perbedaan ini, adalah perbedaan antara bangsa Goyim (Non-Yahudi) dan kita dalam kemampuan berpikir dan berargumentasi dapat dengan jelas dilihat dari ketentuan terseleksi kita sebagai bangsa pilihan, selaku manusia berkelas atas. Ini jauh berbeda dengan kaum Goyim yang semata-mata berpikir secara insting dan kehewanan. Mereka mengamati tapi tidak meramalkan hal ke depan. Mereka tidak menemukan hal baru apapun (kecuali mungkin hal-hal material). Dari sini jelas bahwa alam itu sendiri telah mentakdirkan kita semua untuk memimpin dan memandu dunia.” (Henry Ford, ‘The international Jew and the protocols of the elders of Zion, Global Publisher, Johannesburg, hal.138).

Dominasi Yahudi tidak hanya di Amerika, tapi di Inggris, Belgia, Prancis, Jerman, Swiss sampai Eropa Timur. (Lihat majalah al Mujtama’, no.1200, 21/5/1996)

Tipu daya gerakan Zionis juga dilakukan dengan cara penyebaran peradaban dan budaya-budaya sesat. Diantaranya adalah penyebaran minuman dan makanan yang memabukkan.

Baginya, membudayakan minuman keras di tengah masyarakat Goyim —terutama masyarakat Muslim sama halnya menciptakan generasi bodoh yang mudah diperalat. Ini sesuai dikutip dalam Protokolat I yang berbunyi;

“…masyarakat Goyim terbuai dengan minuman-minuman keras; generasi muda mereka tumbuh dungu dengan hal-hal klasik dan membuat kebejatan moral. Dan hal ini dipromosikan oleh agen-agen khusus kita baik oleh guru, pembantu, guru privat wanita di rumah-rumah orang kaya sampai pegawai kantoran.” (Protokolat I, Henry, hal. 178)

Hal serupa juga dilakukan melalui media massa. Henry Ford, dalam Protokolat II mengatakan bahwa hampir dipastikan Yahudi menguasai seluruh jaringan media massa di New York dan di seluruh ibukota negara-negara Eropa. Jaringan raksasa media itu juga merambah ke Indonesia. Cara dominasi seperti ini dilakukan terutama bila perusahaan yang bersangkutan membutuhkan investor dan dana segar. Secara cepat pula, para investor dunia yang kebanyakan Yahudi akan segera turun tangan.

Karena bagi Zionis, seperti kutip Ford, menguasai media massa, sama halnya menyuarakan aspirasi mereka.

“Di tangan negara sekarang ini ada suatu kekuatan besar yang menciptakan gerakan pemikiran di tengah masyarakat dan itu adalah pers. Bagian yang diperankan oleh pers adalah untuk terus membuat tuntutan-tuntutan kita bagaikan hal niscaya, menyuarakan keluaran masyarakat, mengekspresikan dan menciptakan ketidakpuasan. Dan berkat pers, kemenangan kebebasan berbicara berinkarnasi kembali. Tapi negara-negara Non-Yahudi tidak mengetahui bagaimana memanfaatkan kekuatan ini; dan hal itu telah jatuh ke tangan kita.” (Protokolat II)

Kebebasan dan Persamaan Hak

Semangat kebebasan, dan persamaan adalah gerakan Yahudi dan Zionisme pada Goyim (non-Yahudi). Sehingga menjadi simbol pemberontakan terhadap tiran di mana-mana. Tanpa disadari, kampanye simbol-simbol ini telah ikut mempropagandakan missi Zionis. Kehancuran semua paham dan ideologi dunia adalah tujuan bagi berkembangnya ideologi Zionis.

“Mengakhiri kedamaian, ketentraman, solidaritas dan menghancurkan seluruh fondasi negara-negara Non-Yahudi di mana-mana – sebagaimana Anda akan lihat nanti adalah satu hal yang akan membantu kemenangan kita).” (Protokolat I, hal.178)

Untuk hal seperti itu, Zionis bisa berkawan dengan bahkan menyusup dalam faham-faham lain yang sedang popular di dunia. Gerakan-gerakan sosialis, dengan mengesankan membela kaum buruh, kelompok miskin kota, pejuang kaum tertindas, adalah sasaran kaum Zionis pada masyarakat Goyim. Walau banyak tidak dipercaya, gerakan halus seperti ini terus berkembang pesat. Bahkan kalau perlu bergabung dengan Komunispun. Ini diakui seperti dalam Protokolat III.

“Kita muncul seolah-olah penyelamat para kaum buruh dari ketertindasan. Di saat kita usulkan kepadanya untuk masuk jajaran pasukan kita kaums sosialis, anarkis dan komunis yaitu mereka yang selalu mendapat `dukungan’ sesuai dengan aturan main yang bernuansa persaudaraan semu —yaitu solidaritas seluruh manusia dari gerakan Freemasonry kita”. (Protokolat III, hal.183)

Tirani Riba
Tirani dan penjajahan ekonomi, adalah salah satu diantara prioritas utama kaum Yahudi. Tirani ekonomi yang paling sering dikampanyekan itu adalah sistem riba yang kemudian menjadi fondasi kokoh Zionis dalam menjerat negara-negara Goyim agar tunduk dan dapat memperbudak mereka. Berbagai lembaga keuangan internasional seperti IMF.

Dalam Protokolat (XX, hal. 244), secara jujur kaum Zionis mengaku;

“Apa yang benar-benar prinsipil adalah hutang, khususnya hutang luar negeri. Hutang adalah persoalan peraturan transaksi pemerintah yang memuat prosentase obligasi sesuai dengan jumlah pokok pinjaman. Bila pinjaman dikenakan 5%, jadi dalam tempo 20 tahun negara akan membayar riba (bunga) dengan jumlah yang sama dengan yang dipinjam. Dalam waktu 40 tahun akan membayar jumlah dua kali lipat. Dan 60 tahun akan tiga kali lipat, sementara hutang pokok tetap sebagai hutang yang belum dibayar.” Cara-cara seperti inilah yang digunakan Zionis —terutama terhadap negara-negara miskin agar mudah bergantung dan dikendalikan. Termasuk dalam kasus Indonesia.

 

Gerakan Freemasonry
Protokolat Yahudi yang tidak kalah adalah gerakan Freemasonry-nya, gerakan tertua Yahudi yang ada sejak zaman nabi-nabi dahulu. Tujuannya meratakan jalan persaudaraan berdasarkan asas-asas freemasonry pada seluruh keanggotaannya, melakukan propaganda lisan atau tulisan dalam menyeru kebaikan dan kemakmuran, menyerukan kerja sama dalam semua kebaikan dengan tidak membedakan ras, bangsa, suku dan agama. Freemasonry lah yang mempelopori kawin antar agama agar tercipta persatuan di antara semua pengikut agama sehingga tidak ada lagi egoisme dalam agama. (“Kabut-kabut Freemasonry Melanda Dunia Islam”, A.D.El Marzdedeq, Al Huda, hal.36). Gerakan ini punya prinsip-prinsip yang disebut dengan khoms kanon; Humanisme (internasionalisme), demokrasi, sosialisme, monotheisme dan nasionalisme.

 

Ada 10 agenda dalam gerakan Freemasonry, di antaranya adalah Shada; yaitu mendirikan agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia. Karena itu, jangan heran bila di Amerika, misalnya berbagai aliran Kristen seperti gereja Setan, Mormon, Advent, Gereja Anak Tuhan dan sejenisnya. Di India lahirlah Islam Ahmadiyah yang dibawa oleh Mirz Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Al Mahdi dan mendakwakan diri sebagai nabi akhir zaman. Kemudian muncul gerakan “Protestan” yang tampil sebagai gerakan reformasi agama dengan misi bermuatan konsep Ibrani. Gerakan ini menekankan keimanan pada Perjanjian Lama yaitu Taurat dan ditindaklanjuti dengan mengimani kebangkitan kembali Isa di Palestina. Kemudian gerakan Puritanisme di abad ke 17 di Inggris yang merupakan gerakan ekstrim Protestan atau yang terkadang disebut dengan Judaizing. Pada tahun 1621 terbit buku pertama yang mengangkat soal pemukiman Yahudi di Palestina dengan judul “Kembalinya Yahudi” yang dikarang oleh pengacara Sir Henry Finish. Kemudian disusul oleh dukungan tokoh-tokoh Eropa lainnya seperti Martin Luther (1483-1546), Isaac Newton (1643-1778) dan lain-lain.

Pengakuan kaum Yahudi terbukti seperti dikutip dalam Protokolat XVII (hal. 32), “Kemerdekaan kesadaran telah dideklarasikan di mana-mana, jadi sekarang hanya dalam hitungan tahun yang memisahkan kita dari satu masa kehancuran agama Kristen secara total. Adapun hal yang berkenaan dengan agama lain kita masih tidak terlalu kesulitan menangani mereka, tapi itu masih terlalu primatur untuk diperbincangkan sekarang”.

Onan yang bertujuan mengekang pertambahan keturunan Goyim atau non-Yahudi dan menyuburkan perempuan-perempuan Yahudi.

Plotisme yang bertujuan untuk mendidik alim ulama Plotis yang faham agamanya terapung dan mengambang, alim ulama plotis disebarkan ke berbagai lembaga pendidikan Islam dan mengangkat alim ulama plotis sebagai anggota kehormatan Freemasonry. Para intelektual plotis ini didukung untuk membuat pergerakan yang dapat mendangkalkan keyakinan pada agama Islam. Dan mengkader tokoh-tokoh seperti ini ke universitas-universitas kenamaan di Barat. Hal ini sesuai dengan Protokolat IV (We shall destroy God). Di Indonesia sendiri, produk Plotis ini kita kenal dengan sebutan JIL atau Jaringan Islam Liberal.

“…inilah alasannya mengapa kita mau tak mau harus melemahkan semua iman (agama), guna menghancurkan dasar-dasar ke-Tuhanan bangsa Non-Yahudi otak dan spirit atau lahir dan batin, menggantikannya dengan kalkulasi aritmatika dan kebutuhan-kebutuhan material”. (Henry, hal. 188)

Sungguh apa yang dapat diangkat di atas adalah bagian kejujuran dari 24 The Protocol Elders of Zion untuk mendominasi dunia yang sebagian besar telah termanifestasikan dalam penggalan sejarah hidup manusia modern.

Maka tidak berlebihan jika seorang kenamaan Amerika dan pendiri perusahaan mobil FORD, Henry Ford berkesimpulan dalam wawancaranya yang dimuat di New York World (17/2/1921) mengatakan, “The only statement I care to make about the Protocols is that they fit in with what is going on. They are sixteen years old. And they have fitted the world situation up to this time. They fit it now.” (Satu-satunya pernyataan yang perlu saya sampaikan tentang Protokolat-protokolat Yahudi bahwa hal itu sesuai dengan apa yang terjadi dewasa ini).

Usia perjalanan gerakan kaum Yahudi di dunia hampir mencapai enam puluh tahun dan masih sejalan dengan realita dan situasi hingga kini. Tapi, kebanyakan di antara kita justru mengingkarinya. Wallahu a’lam bishshawaab. klik