Arsip untuk Februari 13, 2012


SELAMA ini banyak tokoh  yang menggembar-gemborkan bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah terletak pada masalah madzhab. Ini pula yang dimuat oleh Harian Republika, Kamis (09/02/2012) dalam sebuah tulisan (Iklan terselubung) dengan judul, “MELAWAN POLITIK ADU DOMBA DENGAN PERSATUAN UMMAT).

Benarkah Sunni Syiah hanya berbeda masalah madhzab?

Untuk menjawab hal ini tentu kita perlu menilisik keyakinan kaum Syiah terhadap beberapa persoalan. Keyakinan mereka inilah yang dipersoalkan oleh jumhur ulama.

Di antara keyakinan sentral yang dikritisi oleh para ulama adalah masalah Imamiyah.

Ulama Sunni sepakat bahwa masalah Imamah terkait dengan keduniaan. Ia bukan bagian dari persoalan yang penting dalam urusan hukum Islam, sehingga ia bersifat fardhu kifayah.

Dalam hal ini Imam Al-Mawardzi berkata; “Apabila telah pasti kewajiban adanya sebuah imammah, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah, sebagaimana hukum jihad dan menuntut ilmu.” [Abu Al-Hasan Ali Ibnu Muhammad  Habib Al-Mawardi,  Ahkamu Al-Sultaniyah wa Al-Wilayatu Ad-Dhiniyah, Al Firdaus, Beirut, 1989  M,  Jild. 1 hal. 4]

Berdasar hal ini Sunni berpendapat bahwa proses menangani dan membentuk Imamah terletak kepada umat. Pemilihan seseorang Imam dilakukan oleh dewan pemilihan (ahl al-ikhtiyar/ahlul aqdi wal halli) dan ditentukan para kandidat pemimpin. Orang-orang yang menjabat dalam dewan pemilihan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu, pertama, adil yang mencakup segala aspeknya. Kedua, memiliki ilmu pengetahuan yang bisa dipergunakan untuk mengetahui siapa yang betul-betul berhak untuk menjabat sebagai pemimpin sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Ketiga, memiliki pandangan yang luas dan kebijaksanaan agar betul-betul bisa memiliki siapa yang paling layak untuk menjabat sebagai pemimpin, yang paling memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengatur kemaslahatan umat. Karena itulah, pemimpin yang baik adalah seorang warga negara setempat yang betul-betul mengenal karakter dan kondisi negaranya.

Sedang Syiah Itsna Asy’ariyah memahami istilah Imamah atau yang juga disebut wilayah sebagai bagian dari ushuluddin, atau salah satu rukun dari rukun agama.

Mereka meyakini Imamah sebagai ajaran primer dalam teologi dan ideologi, serta berposisi sebagai doktrin sentral yang mutlak diyakini penganutnya. Karena itu Imamah di kalangan Syiah sudah menjadi doktrin dan bagian dari rukun iman dan Islam yang penting.

Dalam al-Kafi, al-Kulaini menulis riwayat yang diafiliasikan kepada Abu Ja’far sebagai berikut; “Islam didasari atas lima perkara yaitu shalat, zakat, haji, jihad dan wilayah. Tidak ada suatu pun yang diserukan sebagaimana diserukan wilayah.” [Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi, al-Kafi, Darul Kutub al-Islamiyyah, Teheran,  juz 2 hal. 18]

Imamah menurut Syiah adalah pengakuan terhadap kepemimpinan Ali bin Thalib dan keturunannya. Sebagaimana dikutip Muhammad Jawad al-Amili dalam “Miftakhul Karomati fi Syarh Qowaid Al-A’lamah”, Mu’asasah Nasrul Islam  Juz 2 hal.80, mengatakan:

“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.”

Al-Kulaini dalam kitabnya juga menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut: “Dari Abi Ja’far berkata:“…Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” [Al-Kulaini Furu’ al-Kafi, 1/34]

Berdasar pemahaman ini,  Syiah mendudukkan Imamah pada urutan ke tiga dari rukun iman. Bahkan ajaran ini merupakan bagian paling mendasar yang seakan melebihi doktrin tauhid. Bangunan teologi mereka seluruhnya diperkuat dengan konsep ini.

Konsekwensi dari pemahaman ini yaitu amal setiap muslim akan sia-sia jika menolak wilayah atau Imamah Ahlul Bait. Segala amal perbuatannya tidak akan diterima Allah meskipun ia bersujud hingga patah tulang lehernya, jika tidak meyakini keimamamahan Imam Ali dan Ahlul Bait.

Dalam hal ini Al Kulaini menisbahkan sebuah riwayat dari Imam Ali Bin Thalib yang berkata:

“Tidak ada kebaikan di dunia kecuali satu dari dua orang, yaitu  seseorang yang selalu bertambah kebaikannya setiap hari dan seseorang yang menjelang kematiannya bertobat. Dan dimatikan dalam keadaan bertobat. Demi Allah sekiranya ia sujud hingga patah tulang lehernya, tidak akan diterima amalnya kecuali mengakui wilayah ahlul bait. [Al-Kulaini, Furu’u  Al Kafi, Juz VIII, hal.128]

Atas dasar inilah kemudian Syiah tidak segan untuk mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan Imam-imam keturunannya. Al-Majlisi mengutip perkataan Al-Mufid dalam kitab Al-Masail yang menjelaskan tentang kesepakatan kaum Syi’ah dalam mengkafirkan umat Islam yang mengingkari Imam :

“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para Imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.”

Al-Majlisi menukil kitab “Kanzul karaji” hal 112, yang berbunyi:

“Siapa yg mengingkari mereka (Imam 12) atau meragukan mereka, atau mengingkari salah satu diantara mereka atau meragukan, atau membantu musuh-musuh mereka, atau salah satu diantara musuh-musuh mereka, maka dia adalah orang yang sesat lagi celaka, bahkan orang yang kafir.”

Sikap mereka seperti itu karena keyakinan terhadap Imamah merupakan sesuatu yang mutlak sehingga barangsiapa yang mengingkarinya berarti kafir dan darahnya halal untuk dibunuh.

Model keyakinan seperti ini menjadi sumber epistemologi yang penting dalam bangunan keyakinan Syiah. Menurut mereka, siapapun yang beriman kepada Allah namun tidak beriman terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para Imam keturunan beliau, maka hukumnya sama dengan musyrik.

Ini karena menurut mereka, Allah yang menetapkan dan memilih para Imam, sehingga iman kepada para Imam adalah sebuah keharusan. Karena itu barangsiapa yang tidak mengakui Imamah maka matinya dalam kondisi jahiliyah. Dalam hal ini al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi mengatakan:

“Barang siapa mati tidak mengetahui imam zamannya maka matinya mati jahiliyah.” [Al Kulaini, Al Kafi Juz I hal. 377]

Doktrin ini oleh al-Kulaini diakui berada di atas nubuwwah yang disebut sebagai “perjanjian yang mereka tetapkan dengan para Nabi”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis kitab Al Basha’ir.

“Kami mendengar dari Al Hasan bin ‘Ali bin An-Nu’man, ia mendengar dari Yahya bin Abu Zakariya bin ‘Amr Az Zayyat yang mengatakan: “Aku mendengar dari ayahku dan ia mendengar dari Muhammad bin Sama’ah yang mendengar dari Faidh bin Abi Syaibah, berasal dari Muhammad bin Muslim yang mengatakan, bahwasanya ia mendengar Abu Ja’far berkata: Allah tabaraka wata’ala telah menetapkan perjanjian dengan para Nabi mengenai wilayah (keimaman)’Ali dan telah pula mengambil janji dari para Nabi tentang wilayah (keimaman) Ali itu.” [Muhammad Abu Ja’far Ibnu Hasan Ibnu Faruh As-Shofar Al-Qumi,  Basha’irud Darajat, Mansurat Maktabah Ayatullah Al-Udmah Al-Murasinajafi, cet. Iran Lama, 1928 H  Bab IX, Jld II, hal. 73].

Demikian juga para Malaikat menurut Syiah juga telah mengambil janji atas wilayah. Penulis Al Basha’ir mengemukakan sebagai berikut:

“Kami mendengar dari Ahmad bin Muhammad yang mendengar dari Al Hasan bin ‘Ali bin Fadhdhal, ia mendengar dari Muhammad bin Fudhail yagn mendengar dari Abush Shabah Al Kinaniy, bahwasanya Abu Ja’far berkata: “Demi Allah, di langit terdapat tujuh puluh jenis malaikat. Seandainya semua penduduk bumi berkumpul kemudian menghitung jumlah malaikat dari masing-masing jenis, mereka tidak akan dapat menghitungnya. Semua malaikat itu mempercayai wilayah (keimaman) kami.” [Basha’irud Darajat, Bab IV, Jilid II, hal. 87].

BERDASARKAN riwayat ini Khomaini dalam Hukumah al-Islamiyah, mengatakan bahwa para Imam memiliki maqam (derajat) yang tidak bisa dicapai oleh para malaikat dan para Nabi yang diutus:

“Sesungguhnya Imam mempunyai kedudukan yang terpuji, derajat yang mulia dan kepemimpian mendunia, di mana seisi alam ini tunduk di bawah wilayah dan kekuasaannya. Dan termasuk hal yang aksiomatis adalah bahwa para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabin atau pun nabi yang diutus…”   [Khumaini, Al Hukumah al-Islamiyah. Durus Faqih, Iran 1389 H, hal. 52]

Bahkan dalam sebuah riwayat, semua mahluk juga mengambil janji mengenai Imamah. Al-Majlisi mencantumkan bab dengan judul: Bab bahwa Imam-imam itu lebih utama daripada para Nabi dan semua makhluk. Para Nabi, Malaikat dan semua makhluk diambil janji setianya untuk Imam-imam, dan bahwasanya diantara para Nabi bisa menjadi Ulul ‘Azmi karena mereka mencintai Imam-imam.  [Bihar Al-Anwar, 26/267]

Wilayah (keimaman) juga tidak hanya ditetapkan sebagai perjanjian dengan para Nabi dan Malaikat, tetapi juga diyakini sebagai amanat yang Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) tawarkan kepada langit dan bumi. Dalam hal ini Ibnu Babawaih berkata:

“Seandainya tidak ada mereka (para imam) maka Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi, tidak pula surga dan neraka, Adam dan Hawa, juga Malaikat.” [Abu Ja’far Muhammad ibn Babawaih al-Qummy, I’tiqadat, Tahqiq oleh I’shom Abdu Sayid, Mukmatarah Al-Alami Alfiyah Syaikh Mufid, Iran,  hal. 93]

Dari berbagai riwayat tersebut, Syiah meyakini bahwa imamah merupakan bentuk konsep kepemimpinan yang mutlak di bawah otoritas Tuhan dengan menganugerahkan kekuasaan secara genealogis kepada utusan pembawa risalah-Nya sebagai pengejawantahan kekuasaan Allah dalam persoalan manusia.

Secara eksplisit juga diriwayatkan berita yang dinisbakan kepada Abu Ja’far bahwa imam-imam Syi’ah adalah wali perintah Allah, pembawa ilmu Allah dan penyimpan wahyu Allah. [Al-Kulaini, Ushul Al Kafi juz 1 hal 192]

Seseorang yang mengenal Allah namun tidak mengenal Imam, berarti imannya tidak sempurna. Hal ini dikemukakan dalam sebuah riwayat berasal dari Jabir yang mengatakan:

“Aku mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Orang yang mengenal Allah dan bersembah sujud kepada-Nya hanyalah orang yang mengenal Allah dan mengenal Imam-Nya dari kalangan kami Ahlul Bait. Barang siapa yang tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Imam dari kalangan kami Ahlul Bait, sesungguhnya orang itu bersembah sujud kepada selain Allah. Itu merupakan kesesatan.”  [dalam Al Kafi, Kitab al Hujjah, Bab Mengenal Imam, hal. 181, Jilid I, cet. Teheran]

Pandangan tersebut didasarkan pada argumen bahwa Imamah bagi Syiah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi mencakup urusan ukhrawi. Ia tidak bisa dilahirkan dari musyawarah seperti halnya khalifah dalam Sunni. Sebab Imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dali-dalil syara’ dan dalil itu yang menentukan keterangkatan para Imam. Bahkan Allah tak akan mengutus seorang Nabi pun kecuali karenanya.  Allah yang menentukan orang yang akan memegang jabatan Imamah, dan Nabi pun berwasiat kepada orang yang dimaksud sebelum beliau wafat.

Konsekwensi dari hal ini yaitu semua keagamaan tidak sah tanpa melalui pintu para Imam. Kalau ada ajaran agama yang tidak melalui para Imam,  berarti ajaran tersebut tertolak. Nah, bagaimana seseorang masih mengatakan antara Syiah dan Sunni bedanya kecil, bahkan masih ada yang mengatakan perbedaan mahzab?.*

Penulis adalah peneliti Inpas (Institute Pemikiran dan Peradaban Islam) Surabaya. Sumber : Klik


Agar Umat Manusia tidak mendapatkan kerugian menjalani kehidupan di dunia ini Umat manusia sudah diberikan petunjuk oleh Allah,Sang Pencipta Alam semesta raya melalui Mulut Manusia pilihanNya,yaitu Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassalam. dan dengan menurunkan Petunjuk bagi Umat manusia, melalui Manusia PilihanNya adalah Bukti KASIH SAYANG Allah Subhana wa ta’ala kepada MakhlukNya dan dan salah satu petunjuk bagi umat manusia tersebut adalah :

وَٱلْعَصْرِ

Demi masa

.إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Maka sebagai umat manusia yang tidak menginginkan kerugian dalam menjalani kehidupan ini,maka kita harus senantiasa berusaha menjadi hamba hambaNya yang BERIMAN,dan senantiasa beramal Shaleh. selain itu kita tidak berpikir kepada kepentingan diri sendiri semata, tetapi juga punya kepedulian terhadap orang lain.

dan bentuk kepedulian tersebut adalah dengan tidak pernah bosan untuk saling menasehat menasehati akan kebenaran dan Kesabaran.dan itu adalah BUKTI adanya RASA KASIH SAYANGnya kepada saudara saudara lainnya

dan tulisan ini dibuat adalah salah satu upaya untuk melaksanakan Petunjuk Allah tersebut, dan ini Terkait dengan Fenomena yang terjadi di masyarakat ketika memasuki bulan kedua dalam Kalender yang merujuk pada peredaran bulan matahari, yang kini dinamai dengan Bulan Februari.

sebuah fenomena ada sebagian dari umat manusia yang menjadikan tanggal 14 Februari sebagai hari KASIH SAYANG, yang hari tersebut dinamai dengan HARI VALENTINE.bahkan bisa jadi hari tersebut adalah hari hari yang sangat ditunggu oleh sebagian para remaja dari berbagai belahan dunia.untuk menyikapi hal ini,maka bagi orang orang yang tidak menginginkan kerugian dalam kehidupan dunia dan ingin senantiasa termasuk golongan orang yang beriman,maka kita harus senantiasa ingat PETUNJUK ALLAH bagi Umat manusia ini :

Qs Al Isra 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

karena tidak ingin termasuk orang orang yang merugi di dunia dan akhirat,maka hal yang wajar kalau kita perlu mengetahui latar belakang penentuan tanggal 14 Februari sebagai Hari Kasih sayang dan Nama VALENTINE sebagai sebutan HARI KASIH SAYANG TERSEBUTmaka untuk hal ini penulis mencoba menelusuri dari berbagai informasi yang terkait dengan penetapan 14 Februari sebagai hari kasih sayang.

Dari Budaya PAGAN dirubah menjadi HARI RAYA GEREJA

Pesta St. Valentinus pertama kali diputuskan pada 496 oleh Paus Gelasius I, yang juga memasukkan Santo George di antara mereka “…yang namanya secara benar dihormati manusia tetapi di mana perbuatan mereka hanya diketahui oleh Tuhan.” Dibuatnya pesta ini kemungkinan merupakan sebuah usaha untuk mengungguli hari raya pra-Kristen, Lupercalia yang masih diperingati di Roma pada abad ke-5The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut:  

Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentines Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:

  • seorang pastur di Roma
  • seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • seorang martir di provinsi Romawi Africa.

Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus.

Tradisi Kirim Kartu Valentine

tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan Santo Valentine.

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.

Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!

Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Seperti dikatakan oleh Paus Gelasius I, sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini. Banyak legenda yang mengelilingi mereka sebenarnya diciptakan pada akhir Abad Pertengahan di Inggris dan Perancis, di mana pesta perayaan pada tanggal 14 Februari diasosiasikan dengan cinta. Sentimen semacam ini tidak ada sama sekali di kitab Legenda Emas Jacobus de Voragine, yang disusun pada kurang lebih tahun 1260 dan merupakan salah satu buku yang paling banyak dibaca pada akhir Abad Pertengahan. Buku ini sangatlah lengkap dalam memberi informasi setiap santo dan santa untuk setiap hari pada tahun kalender gerejawi sebagai ilham homili setiap misa. Di vita (riwayat hidup) St Valentinus yang sangat singkat, tertulis bahwa ia menolak untuk menangkal Yesus Kristus di depan “Kaisar Claudius” pada tahun 280. Sebelum kepalanya dipenggal, Valentinus mengembalikan penglihatan dan pendengaran sipir penjaranya. Lalu Jacobus mereka-mereka etimologi nama “Valentinus,” sebagai “sesuatu yang mengandung keberanian (Latin: valor)”, namun tidak ada tanda-tanda hati dan pesan-pesan yang ditanda tangani yang “diberi oleh Valentine-mu,” seperti kadangkala disugestikan dalam karya-karya modern kesucian sentimental

 Hari Valentine tidak ada Hubungannya dengan Kehidupan Santo

Dalami situs  http://www.cogwriter.com, artikel yang berjudul Should Christians Observe Valentine’s Day? yang mengutip tulisan dari The old World Book Encyclopedia (Valentine’s Day. Volume 19. 1966, pp.205-206) ,yang secara jelas menyebut kalau Hari Valentine tidak ada kaitannya dengan kehidupan para Santo.

The old World Book Encyclopedia (Valentine’s Day. Volume 19. 1966, pp.205-206) states,

…the customs of the day have nothing to do with the lives of the saints. They probably come from an ancient Roman festival called Lupercalia which took place every February 15. The festival honored Juno, the Roman goddess of women and marriage, and Pan, the god of nature…The Romans celebrated their feast of Lupercalia as a lovers’ festival for young people. Young men and women chose partners for the festival by drawing names from a box…After the spread of Christianity, churchmen tried to give Christian meaning to the pagan festival. In 496, Pope Gelasius changed the Lupercalia festival of February 15 to Saint Valentine’s Day February 14. But the sentimental meaning of the old festival has remained to the present time. Historians disagree about the identity of St. Valentine”. Furthermore it also states, “LUPERCALIA…was celebrated on February 15 in honor of Faunus, a rural Italian god. Faunus was later identified with Pan, the god of herds and fertility…Priests…ran around striking all the women the met (Lupercalia. Volume 12. 1966, p.456).

Hari raya Valentine  ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja.

Justru penghapusan hari raya Valentine dari kalender gerejawi pada tahun 1969, bisa kita maknai kalau kalangan Gereja MERAGUKAN KEVALIDAN SOSOK St VALENTINUS, dan menempatkan St Valentinus hanyalah sekedar TOKOH LEGENDA semata.

Kejelasan Cerita tentang St Valentinus simpang siur (sekedar tokoh Legenda atau Tokoh sejarah), tapi ada Klaim tentang Jenazahnya?

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Mengenal Sekilas tentang Hari Raya Lupercalia

 

hari raya Lupercalia , yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.

Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan Juno Februata.Juno JUNO adalah ratu dari Sorga dan istri Jupiter (Zeus) … Orang-orang Yunani kuno menyebutnya HERA (World Book Encyclopedia Juno., Volume 11 tahun 1966,. Pp.162-163).

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

dan tentang Persembahan untuk Ratu di Sorga dalam Al kitab ,yaitu Kitab Yeremia ada kecaman terhadap tindakan yang melakukan Persembahan untuk Ratu di Sorga

Yer 7:18-207:17 Tiadakah engkau melihat apa yang dilakukan mereka di kota-kota Yehuda dan di jalan-jalan Yerusalem?

7:18 Anak-anak memungut kayu bakar, bapa-bapa menyalakan api dan perempuan-perempuan meremas adonan untuk membuat penganan persembahan bagi ratu sorga, dan orang mempersembahkan korban curahan kepada allah lain dengan maksud menyakiti hati-Ku.

7:19 Hati-Kukah sebenarnya yang mereka sakiti, demikianlah firman TUHAN, bukankah hati mereka sendiri, sehingga mereka menjadi malu?

7:20 Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguhnya, murka-Ku dan kehangatan amarah-Ku akan tercurah ke tempat ini, ke atas manusia, ke atas hewan, ke atas pohon-pohonan di padang dan ke atas hasil tanah; amarah itu akan menyala-nyala dengan tidak padam-padam.”

 

SIAPA YANG KINI MEMANFAATKAN HARI VALENTINE?

Gereja mengadopsi HARI RAYA PAGAN menjadi HARI RAYA GEREJA, tentu saja tindakan tersebut punya tujuan agar mendapatkan keuntungan besar untuk kepentingan mereka, dan Keuntungan Apalagi selain upaya agar PARA PENYEMBAH PAGAN menjadi Jemaatnya?Setelah Gereja menghapus Hari Valentine sebagai bagian Hari raya gereja, siapa lagi yang memanfaatkan 14 Februari sebagai hari kasih sayang, demi meraup keuntungan besar untuk kepentingan mereka.

Perayaan pada 14 Februari  di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

selain itu kalau kita lihat perkembangan perayaan valentine dari beberapa negara di atas cenderung mengajak untuk bersifat konsumtif. Kiranya pantas bagi kita untuk melemparkan tuduhan pada para pemilik modal bahwa merekalah yang menyebarkan virus valentine dengan tujuan agar produk mereka laris manis di pasaran.

Valentine adalah tangan panjang dari marketing para kapitalis. Tuduhan di atas bukannya tanpa alasan. Kita semua tahu bahwa para kapitalis selalu menghalalkan segala cara demi suksesnya pemasaran hasil produksi. Sebagai sample, di swalayan-swalayan dapat kita temukan segala pernak-pernik berwarna pink maupun makanan yang identik dengan valentine pada hari-hari menjelang 14 Februari.

Setelah mengetahui mengenai hal ini,Bahwa Hari Valentine adalah bersumber pada BUDAYA Penyembah berhala yang kemudian di adopsi sebagai HARI RAYA GEREJA,yang harinya merujuk diklaim hari kematian seorang Santo tetapi pada kenyataannya tahun 1969 Hari raya Valentine  ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja.

dan Kemudian dengan mengatasnakan CINTA ataupun KASIH SAYANG,dimanfaatkan oleh para KAPITALIS dan Orang orang yang memperturutkan Hawa Nafsu,orang orang yang ingin meraup keuntungan besar demi kepentingan mereka/kelompoknya 

Mana yang lebih pantas,Hari Valentine itu hari KASIH SAYANG atau HARI PEMBODOHAN UMAT MANUSIA? 

dalam hal ini Penulis membuat Analogi :

Peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah tanggal 17 Agustus, dan penentuan tersebut merujuk pada FAKTA SEJARAH BANGSA,yaitu MERUJUK PADA PEMBACAAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN yang dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945atau Peringatan Hari Kartini pada tanggal 21 April,penentuan tersebut merujuk pada KELAHIRAN RA KARTINI,yang lahir pada 21 April 1879Tetapi apa jadinya kalau JIKA suatu saat Pemimpin Negeri ini membuat keputusan hari PERINGATAN untuk BANGSA merujuk pada KEMATIAN TOKOH , yang TOKOH TERSEBUT tidak jelas Tokoh yang mana yang dimaksud, hingga kemudian ada 3 kemungkinan tentang Tokoh tersebut, tetapi kemudian ada KLAIM TENTANG JENAZAHNYA dan disimpan ditempat SPESIAL.sang PEMIMPIN tersebut juga tidak mengenal BETUL Tokoh yang dijadikan Rujukan HARI PERINGATAN TERSEBUT, setelah RATUSAN TAHUN penetapan Hari peringatan baru ada tulisan tulisan tentang sang Tokoh terkait hari peringatan, sekaligus banyak beredar LEGENDA tang SANG TOKOH. dan beberapa ratus tahun kemudian “HARI PERINGATAN SANG TOKOH” sudah tidak dihapus oleh NEGARA,dasar penghapusannya adalah KETIDAK JELASAN SANG TOKOH TERSEBUT.Maka HARI PERINGATAN yang Merujuk pada Kematian SANG TOKOH adalah PERINGATAN UNTUK MENCERAHKAN BANGSA INI atau PEMBODOHAN TERHADAP BANGSA INI?

 

LALU BAGAIMANA SIKAP KITA?

sebagai orang mukmin,yang tidak berharap mendapatkan kerugian di Dunia maupun di Akhirat maka

1. Tidak akan ikut ikutan Budaya Orang kafir dan Orang orang yang memperturutkan hawa nafsunyasebagaimana pesan  

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  :

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

2. Menebar Rasa Kasih Sayang kepada umat manusia,dimana saja dan kapan saja (tidak harus menunggu atau mengkhususkan,pada tanggal 14 Februari)

Qs Maryam 96

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَـٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang

Qs Asy Syura:23

ذَٰلِكَ ٱلَّذِى يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ۗ قُل لَّآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا ٱلْمَوَدَّةَ فِى ٱلْقُرْبَىٰ ۗ وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةًۭ نَّزِدْ لَهُۥ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ شَكُورٌ

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri .

dan salah satu Upaya MENEBAR KASIH SAYANG ADALAH SALING MENGINGATKAN AKAN KEBENARAN DAN KESABARAN atau Amar Ma’ruf nahi Munkar .Dan sekali lagi Tulisan ini adalah didorong oleh rasa Kasih sayang terhadap sesama,sama sekali bukan dikarenakan oleh kebencian terhadap suatu kaum.kalau sekiranya ada yang kami sampaikan kesalahan ataupun kurang tepat,karena biar bagaimanapun penulis hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan,maka Penulis membuka pintu selebar lebarnya akan masukan agar bisa memperbaikinya.

DAN KALAU SEKIRANYA TULISAN INI BISA BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN, MAKA TULISAN INI BEBAS UNTUK DISEBAR LUASKAN, sebagai wujud rasa kasih sayang yang ada di hati kita.

Wassalam. Klik


Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik yang dilemparkan seorang yang mengaku atheis kepada seorang aktivis JIL dalam sebuah diskusi panel dimarkas JIL di Utan Kayu ketika membahas tulisan seorang Iaones Rahmat yang berjudul “Alkitab 80% fiksi 20% fakta”. “Apakah anda percaya bahwa Al-Qur’an adalah wahyu??”. Aktivis JIL tersebut menjawab bahwa dia tidak percaya bahwa Al-Qur’an adalah wahyu, Al-Qur’an hanyalah karangan Muhammad. Jawaban ini dimaklumi keluar dari seorang yang tidak percaya/mengakui adanya Tuhan (atheis) yg berlabel Islam Liberal. Jawaban aktivis JIL ini langsung direnspons oleh penanya dengan berkata kepada Ulil sang dedengkot JIL. “Lil, seharusnya JIL dirubah menjadi Jaringan Atheis Liberal aja!!” perkataan itu sangat penulis setujui karena label “Jaringan Islam Liberal” adalah sebuah bentuk pembodohan yang dilakukan oleh para atheis. Semua orang Islam mengakui bahwa Al-Qur’an adalah wahyu.

Pertanyaan yang hampir serupa juga pernah ditanyakan moderator Katolisitas (Inggrid dan stefanus) kepada penulis ketika akan berdiskusi mengenai ayat Alkitab disitus katolisitas. “Apakah anda percaya bahwa Alkitab itu wahyu atau bukan, kalau wahyu maka haruslah anda percaya keseluruhan tidak sebagian-bagian, kalau bukan maka untuk apa anda membahas sesuatu yang tidak anda percayai sebagai wahyu??” dari sini penulis tidak memberikan jawaban lugas seperti aktivis JIL, penulis hanya mengatakan bahwa sebuah kitab suci (alkitab) itu dikatakan sebagai wahyu atau bukan adalah tergantung dari yang mempercayainya karena pastinya semua penganut agama meyakini bahwa kitab suci mereka adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan.

Sebuah kitab suci bisa dikatakan sebagai benar-benar wahyu ternyata hanya mempunyai satu parameter yang tidak universal yaitu “percaya”. Kenapa hanya “percaya” yang menjadi parameternya?? Karena memang belum pernah ada manusia yang hidup yang pernah benar-benar bisa menghadirkan Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam semesta ini untuk memberi kesaksian kepada seluruh manusia mana dari kitab suci yang ada didunia ini yg benar-benar merupakan firmanNya. Lalu bagaimana cara kita mengetahui secara pasti apakah kitab suci yg kita miliki sekarang ini adalah benar-benar wahyu??

Maka tentu saja kita akan menemukan jawabannya setelah kita mati. Yang bisa kita lakukan sekarang ini hanyalah melihat dan meneliti kandungan dari kitab suci yang kita miliki, apakah kitab suci kita menjabarkan tentang pemahaman keTuhanan dengan benar?? Apakah kitab suci kita sudah terbebas dari ajaran-ajaran pemberhalaan? yaitu ajaran mematerikan Tuhan (menyembah Tuhan yg berinkarnasi menjadi bentuk-bentuk materi seperti manusia, matahari, dewa, bulan, dsb)??? Kalau “tidak” berarti kitab suci anda sudah salah dalam mengajarkan faham keTuhanan dan sudah pasti itu bukan wahyu Tuhan. Kalo “iya” berarti kitab suci kita sudah benar dalam mengajarkan faham Ketuhanan, apakah nantinya itu wahyu atau bukan maka tinggal kita kembalikan kepada Tuhan nanti. klik