SUKU YAHUDI TERDAHULU DI SEKITAR MADINAH

Posted: Mei 4, 2011 in ISLAM, Khazanah, sharing n completed

Banyak rabi (pendeta) Yahudi yang dengan jelas mengenal tanda-tanda phisik dan tanda lainnya mengenai kedatangan Nabi Muhammad SAW karena telah diuraikan didalam perjanjian lama (Taurat) dengan jelas. Sebagian dari suku Yahudi telah berimigrasi dari Syria ke Madinah untuk menantikan Nabi Muhammad SAW dan dengan bangga akan menjadi para pengikutnya. Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, bangsa Yahudi mengenali beliau tetapi menolak untuk menerima beliau sebagai Nabi, karena beliau kebetulan seorang keturunan Ismail AS dan bukan Ishak AS.


Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendirikan suatu perkampungan kecil Islam disana. Ia mengadakan perjanjian atau persetujuan dengan suku-suku Yahudi yang berkuasa terdekat. Beberapa pasal dari perjanjian ini adalah sebagai berikut:

1. Yahudi tidak akan berperang melawan kaum Muslim.
2. Yahudi tidak akan membantu kelompok manapun yang menyerang kaum Muslim.
3. Bila ada kelompok yang meyerang Yahudi, kaum Muslim akan membantu Yahudi.

Suku-suku Yahudi ini telah mendirikan komunitas mereka sekitar dua setengah kilometer dari Madinah dekat dengan masyarakat Quba. Mereka kuat dan kaya serta memiliki banyak perkebunan. Mereka telah membangun banyak benteng untuk pelindungan. Reruntuhan kuil dan perbentengan mereka dapat dilihat sampai sekarangpun.

Petunjuk Mengunjungi Reruntuhan Mereka

Dari Masjid Nabawi menuju kearah Selatan melalui jalan Qurban yang juga dikenal sebagai jalan Amir Abdul Muhsin. Melewati lampu persimpangan jalan yang pertama dekat Masjid Jum’at. Juga melewati lampu persimpangan jalan yang kedua, yang mana merupakan jalan Hijrah menuju kearah Masjid Quba. Terus jalan melalui jalan Qurban sampai anda sampai pada lampu persimpangan jalan yang ketiga. Ini merupakan persimpangan jalan lingkar tengah dengan jalan Qurban. Jika anda belok ke kanan pada persimpangan ini, anda akan melihat reruntuhan Bani Nadir.

Selanjutnya, jika anda melanjutkan perjalanan melalui jalan Qurban hingga anda menemui jalan lingkar Madinah yang kedua anda akan melewati sebuah gunung hitam yang terletak diluar jalan lingkar yang kedua ini. Gunung ini disebut gunung Bani Quraizhah. Sebuah suku Yahudi yang disebut Bani Quraizhah menempati area antara Rumah Sakit Madinah dan gunung Gunung Bani Quraizhah. Ringkasan sejarah dari suku-suku Yahudi ini juga akan diuraikan di dalam buku ini.

Bani Nadir

Pemimpin Bani Nadir adalah Kaab bin Ashraf. Ia dan sukunya selalu sibuk menghasut dan membantu musuh Islam. Ia secara terbuka bertindak melawan perjanjian antara bangsa Yahudi dan kaum Muslim. Sebagai contoh, Kaab bin Ashraf pergi ke Makkah dengan sebuah tim delegasi yang terdiri dari empat puluh orang setelah Peperangan Uhud. Ia menghasut para pemimpin Quraizhah melawan kaum Muslim. Para penyembah berhala bertanya kepadanya, “Apakah agama kaum Muslim lebih baik daripada milik kami?” Walaupun Kaab bin Ashraf adalah dari masyarakat yang terpelajar. Ia berkata kepada penyembah berhala, “Agamamu lebih baik dibandingkan kaum Muslim”. An Nisa 51.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.

Itulah mengapa Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an bahwa Yahudi menjual bahkan agama mereka untuk keuntungan duniawi yang kecil.

Penyembah berhala dan delegasi Kaab bin Ashraf menempelkan dada mereka ke dinding Ka’bah dan bersumpah bahwa mereka akan terus memerangi kaum Muslim meskipun hanya satu orang saja dari mereka yang tinggal.
Konspirasi (Persekongkolan) ini disampaikan kepada Nabi SAW oleh Jibril AS. Karenanya Nabi SAW memerintahkan salah seorang dari Sahabatnya untuk membunuh Kaab bin Ashraf. Muhammad Bin Muslima AS telah memenuhi tugas ini. Contoh kedua berikut bahkan lebih mengerikan. Sekali waktu Nabi SAW mengunjungi Bani Nadir. Mereka telah memutuskan bahwa ini adalah suatu kesempatan untuk membunuh beliau. Mereka meminta Nabi SAW untuk duduk dibawah bayangan sebuah dinding. Telah direncanakan untuk menjatuhkan sebuah batu besar dari puncak dinding untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memberitahukan Nabi SAW tentang rencana mereka. Segera Nabi SAW meninggalkan mereka sehingga beliau selamat dari rencana pembunuhan tersebut.

Nabi SAW memberitahukan Bani Nadir bahwa Bani Nadir telah melanggar perjanjian antara mereka. Nabi SAW mengatakan kepada mereka, “Aku memberimu sepuluh hari untuk meninggalkan tempat ini. Pergilah kemanapun kamu suka.” Kepala dari orang munafik, Abdullah bin Matuhi, berkata kepada mereka, “Jangan tinggalkan tempat ini. Aku akan membantu kamu dengan dua ribu orang pengikutku.” Sebagai hasilnya Bani Nadir menahan diri mereka untuk tinggal di dalam benteng dan menantang Nabi SAW.

Nabi SAW dan para Sahabatnya segera mengepung benteng Bani Nadir tersebut. Kaum munafik tidak datang untuk membantu Bani Nadir. Allah SWT telah memberi contoh mereka didalam Al Hasyr 16.

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam”.

Beberapa orang Sahabat mengasapi mereka untuk mengganggu Bani Nadir. Akhirnya Bani Nadir putus asa dan menyetujui untuk meninggalkan tempat tersebut. Nabi SAW mengijinkan mereka untuk mebawa sebanyak mungkin barang kepunyaan mereka. Beberapa diantara mereka pergi ke Syria dan yang lainnya berdiam di Khaibar. Mereka membawa bahkan jendela dan daun pintu rumah mereka karena ketamakan duniawi mereka. Ada pelajaran didalamnya bagi orang-orang yang berwawasan. Al Hasyr 2.

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.

Kita perlu mengambil point-point berikut sebagai bahan renungan.

Ketika Bani Nadir melanggar perjanjian berulang kali Nabi SAW tidak memerintahkan untuk membunuh mereka. Beliau hanya meminta mereka untuk meninggalkan kota ini supaya tidak melihat kejahatan mereka lagi.
Nabi SAW memberi mereka sepuluh hari untuk mempersiapkan kepindahan mereka ini.
Nabi SAW mengijinkan mereka untuk membawa sebanyak mungkin barang mereka.

Mereka hanya diasapi untuk mengganggu mereka dan untuk memaksa mereka keluar dari benteng itu. Bagaimanapun, benteng tidaklah dibakar sebagaimana negara-negara modern melakukannya.
Ini menunjukkan bagaimana kaum Muslim menghormati hak azasi manusia bahkan musuh paling jahat sekalipun. Ini secara mutlak bertolak belakang dengan hak azasi manusia yang dipahami oleh negara-negara modern.

Bani Quraizhah

Bani Quraizhah adalah suku Yahudi yang kaya dan kuat kuat lainnya yang menetap dekat Madinah dan dengan penuh keinginan menantikan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengenal saatnya, tempat dan ciri-ciri Nabi dari Taurat. Mereka biasa membual kepada orang lain bahwa mereka akan menjadi yang pertama untuk mengikuti Nabi ini dan dengan dukungan beliau mereka akan mampu memukul jatuh semua musuh mereka. Ketika Nabi Muhammad SAW datang dengan petunjuk, mereka dengan santai menolaknya dan menentang Nabi SAW mati-matian. Al Baqarah 89.

Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Nabi Muhammad SAW telah mengadakan suatu perjanjian dengan Bani Quraizhah seperti disebutkan sebelumnya. Pemimpin Bani Nadir, Hai bin Akhtab, pergi ke pemimpin Bani Quraizhah, Kaab bin Asad dan mencoba untuk mencari dukungannya dalam Peperangan Ahzab. Setelah beberapa penolakan Bani Quraizhah akhirnya bergabung dalam Ahzab. Ini melanggar perjanjian mereka yang sangat dikhawatirkan dan disesalkan Nabi SAW karena Bani Quraizhah bisa saja menyerang anak-anak dan kaum wanita di Madinah selagi kaum laki-laki sedang didalam medan perang Ahzab. Al Qur’an menyebutkan ini bahwa musuh datang dari atas kamu dan dari bawah kamu. Di atas berarti Bani Quraizhah dan di bawah berarti kelompok lain yang berkumpul didalam medan perang itu. Al Ahzab 10.

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu,

Dengan bantuan Allah SWT kaum Muslim menang dalam Peperangan Ahzab dan mereka kembali ke Madinah. Penaklukan ini terjadi pada bulan Zul Qada tahun kelima Hijrah.

Seperti disebutkan didalam Bukhari dan diriwayatkan oleh Aisyah RA, Nabi SAW baru saja tiba rumah dan mandi. Jibril AS datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Kamu sudah menanggalkan senjatamu sementara kita para malaikat masih dalam seragam perang. Maka kamu harus ikut dengan kami untuk menyerang dan menghukum Bani Quraizhah.”

Lokasi pertemuan Nabi SAW dan Jibril AS ini ditandai dengan jendela pada dinding timur Masjid dengan ayat berikut tertulis diatasnya. Al Ahzab 56.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Perlu dicatat bahwa dengan adanya berbagai perluasan Masjid Nabi, karenanya jendela yang ada di dinding timur Masjid ini telah dipindahkan sedikit kearah timur.

Nabi SAW mengumumkan kepada para pengikutnya untuk sampai di wilayah Bani Quraizhah sebelum Shalat Ashar. Para pengikut yang kelelahan dan letih dengan bersemangat mematuhi Nabi SAW. Bani Quraizhah melindungi diri didalam benteng yang mereka hormati. Menurut Ibnu Hasham, pengepungan ini bertahan sampai dua puluh lima hari. Sepanjang pengepungan, pemimpin Bani Quraizhah, Kaab bin Asad, mengajukan tiga proposal berikut kepada kaumnya:

Kalian semua harus menerima Islam dan mengikuti Muhammad SAW. Aku yakin didalam lubuk hati kalian yang paling dalam mengetahui bahwa dia berada dalam jalan yang benar. Tidak ada yang baru. Ini tertulis dengan jelas didalam kitabmu. Jika kalian mengikuti usulan ini, kalian tidak hanya akan melindungi keluarga dan kekayaan kalian tetapi juga akan selamat dihari Pengadilan nanti. Sebagai alternatif, kamu membunuh anak-anak dan isterimu dengan tangan milikmu sendiri dan kemudian berperang melawan kaum Muslim sekuat tenaga sampai akhir hayatmu. Yang ketiga, menyerang kaum Muslim pada hari Sabtu. Kaum Muslim mengetahui bahwa terlarang bagi kita untuk berperang pada setiap hari Sabtu. Karenanya kamu menangkap mereka selagi tidak mengetahui dan tidak mempersiapkan diri. Kaum Yahudi berkata kepada pemimpin mereka, “Kita tidak akan menerima proposal yang pertama bagaimanapun keadaannya karena kita tidak ingin mengikuti kitab manapun selain dari Taurat. Yang kedua mengapa kita membunuh anak-anak dan isteri kita yang tidak bersalah? Proposal ketiga adalah bertentangan dengan Taurat dan agama kita. Karenanya tak satupun dari proposal tersebut bisa kami terima.”
Sementara itu Allah SWT juga menanamkan rasa takut kedalam hati mereka. Semua Yahudi keluar dari benteng dibawah pengaruh rasa takutan ini dan membiarkan nasib mereka didalam tangan Nabi SAW. Al Ahzab 26 – 27.

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.

Perlu dicatat bahwa didalam ayat di atas Allah SWT tidak hanya mengingatkan kaum Muslim tentang Bantuan, Kemudahan dan BarakatNya, tetapi juga mengabarkan berita gembira tentang penaklukan dimasa depan.
Nabi SAW memberi hak Saad bin Maaz RA untuk memutuskan nasib Bani Quraizhah. Kaum Yahudi selalu sangat cerdik. Mereka meminta Nabi SAW untuk menggantikan Saad bin Maaz RA dengan Abu Lubabah RA. Mereka lebih mengharapkan simpati dari Abu Lubabah RA karena ia memiliki beberapa barang didalam area itu. Nabi SAW menyetujuinya.

Kaum Yahudi mulai bertangisan ketika mereka bertemu Abu Lubabah RA. Mereka menanyainya, “Bagaimana nasib kami jika kami keluar dari benteng ini?” Abu Lubabah RA menaruh jarinya pada kerongkongannya menunjukkan bahwa mereka akan dibunuh.” Abu Lubabah RA tiba-tiba menyadari bahwa itu merupakan rahasia Nabi SAW, yang mana ia telah membocorkannya. Ia kembali ke Masjid Nabi dan mengikat dirinya sendiri diatas sebatang pohon karena malu telah membocorkan rahasia. Nabi SAW mengajarkan dan berkata, “Jika ia datang kepadaku secara langsung, aku pasti berdoa untuknya. Sekarang ia harus menunggu hingga Allah SWT menerima tobatnya.”
Abu Lubabah RA terikat sendirian disana selama tujuh hari hingga Allah SWT menerima tobatnya. Ada pilar didalam Masjid Nabi dilokasi ini dan biasanya dikenal sebagai pilar Abu Lubaba atau pilar tobat. Al Qur’an menerangkan situasi ini didalam Al Anfal 27 – 28.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Akhirnya Saad bin Maaz RA memberi putusannya tentang Bani Quraizhah. Ia berkata, “Kaum laki-laki harus dibunuh dan anak-anak serta kaum wanita harus dipenjarakan.”

Bani Quraizhah menghargai ini karena mereka telah melanggar janji dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan kaum Muslim dengan membantu musuh baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Mereka juga menyediakan banyak senjata dan perlengkapan perang kepada musuh Islam. Sekarang kaum Muslim memperoleh harta rampasan dari suku Yahudi yang kaya ini seperti disebutkan didalam surat Al Ahzab ayat 26 – 27 diatas.
Nabi SAW membagi-bagikannya kepada yang ikut dalam peperangan tersebut. klik


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s