Arsip untuk Maret 29, 2011


(Studi Kasus “Amoralitas” Dawud)


Al Quran memiliki fungsi sebagai mushadiq terhadap kitab-kitab yang ada sebelumnya. Kedudukannya adalah sebagai korektor sekaligus pelanjut bagi kitab-kitab sebelumnya yang telah habis masa berlakunya dan diubah-ubah oleh tangan –tangan manusia. Al Quran datang guna membersihkan nama para Nabi yang tercemari oleh semangat “penipuan” dan rasa fanatisme suatu bangsa. Boleh dikatakan sebagian besar isi dari Al Quran adalah bersifat kritik dan peringatan terhadap sifat-sifat suatu bangsa yang jahat di mata Allah.

Berbagai upaya menyudutkan Islam dengan menggunakan sejumlah logika menyesatkan seringkali terjadi. Para ulama dan tokoh muslim telah banyak yang memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut. Namun selalu saja tuduhan tersebut diulang-ulang seolah-olah hal itu adalah sebuah kebenaran yang nyata. Bahkan mengesankan bahwa kajian mereka terhadap Islam tidak pernah berkembang dan ‘perbendaharaan’ tuduhan mereka memang hanya ‘itu-itu saja’. Penyakit yang timbul akibat melemahnya kreatifitas dan inisiatif atau bahkan pembelaan diri yang lahir dari “keputus asaan”.

Sebut saja misalnya tokoh misterius yang menggunakan nama pena John Gilchrist. Tokoh ini berusaha mengulang-ulang tuduhan orentalis pada era awal dalam memandang Islam. Pemikiran dari “John Gilchrist” sendiri agaknya tidak mewakili pendapat satu orang, namun representasi dari sebuah kelompok yang berusaha merumuskan “serangan yang mengancam” terhadap ajaran Islam. Gilchrist selalu diposisikan sebagai aktor pembela Kristen yang berusaha menjawab semua pertanyaan yang ditujukan terhadap kekristenan. Akan tetapi boleh dikatakan bahwa hampir semua jawaban tersebut hanya sekedar bersifat apologetik dan bahkan sophist. Sebut saja misalnya ketika menghadapi pertanyaan Ahmed Deedat tentang “dilema perzinaan Daud”, Gilchrist justru melarikan diri dari permasalahan dan balik menuduh Al Quran sebagai memiliki dilema yang sama.

Tanggapan penulis ini bukan dimaksudkan bahwa tulisan-tulisan John Gilchrist tersebut memiliki kualitas yang bagus. Karyanya telah diwarnai dengan sejumlah kekacauan ilmiah seperti pemotongan ayat, pemalsuan matan hadits, dan sejumlah kecurangan lainnya. Boleh dikatakan tulisan ini hanya mengkungkapkan salah satu modus ‘penyelewengan’ penafsiran Al Quran bagi kepentingan missi penginjilan. Modus ini merupakan salah satu metode yang selalu diulang-ulang dari waktu-ke waktu sehingga penting bagi setiap muslim untuk memahaminya. Jadi tulisan ini lebih merupakan jawaban atas syubhuhat yang dikeluarkannya, mengingat karya tersebut telah disebarkan secara masif di kalangan kaum muslimin yang masih awam. Penulis sendiri mendapatkan buku ini dari seorang petani yang pergi ke kota untuk menjual hasil buminya. Secara kebetulan dia berpapasan dengan serombongan anak-anak muda yang membagikan buku tersebut kepada semua orang yang ditemui.

Perlu dipahami sebelumnya bahwa pengertian, kedudukan, dan penghargaan terhadap pribadi “Nabi” dalam Islam dan Kristen adalah berbeda. Islam menempatkan nabi sebagai sosok teladan yang terbimbing dan harus mendapatkan penghormatan yang selayaknya sebagai utusan Allah. Sedangkan dalam kekristenan kata “Nabi” digunakan untuk menyebut abdi (penyembah) Dewa Baal, nabi orang Israel, lembaga yang dibuat oleh para dukun dan tukang sihir, pegawai Dawud, dan lain sebagainya.[1]

DAWUD DIPERTANYAKAN

Nabi Dawud adalah seorang rasul yang dimuliakan dalam Islam. Termasuk diantara 25 Nabi dan Rasul yang diberitakan dalam Al Quran. Kedudukannya sebagai nabi dan rasul mendapatkan penghormatan yang selayaknya dari umat Islam.

Ada pun Surat Shad, 38 : 21-25 yng dipermasalahkan oleh John Gilcrist adalah sebagai berikut :

 

21. Dan Adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

22. Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut Karena kedatangan) mereka. mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah Keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.

23. Sesungguhnya saudaraku Ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan Aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan Aku dalam perdebatan”.

24. Daud berkata: “Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

25. Maka kami ampuni baginya kesalahannya itu. dan Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali yang baik.

 

KISAH “PERZINAAN” DAWUD

Berawal dari Ahmed Deedat yang berupaya mempersoalkan sejumlah perilaku seksual yang tidak mendidik dan diungkapkan secara vulgar dalam Bible beserta konsekuensi moralitasnya.[2] Upaya yang dilakukan oleh Ahmed Deedat tersebut nyatanya telah menimbulkan sejumlah reaksi di kalangan Kristen. Umumnya sikap dunia Kristen terhadap Ahmed Deedat adalah beragam mulai dari geram hingga segan. Sejumlah pembelaan pun mulai dari apalogetik hingga sophist bermunculan, tidak terkecuali di dalamnya berwujud dukungan. Dalam kondisi demikian, muncul sosok misterius bernama John Gilchrist, yang tidak pernah diketahui identitas aslinya, ikut tampil dalam memberikan pembelaan. Namun cara pembelaannya bukannya dilakukan secara wajar, ksatria, dan apa adanya. Justru Gilchrist bersikap membela diri dengan menyalahkan pihak lain. Hal ini dapat digali dalam buku Gilchrist berjudul ”The Textual History of the Quran and The Bible” yang berusaha menjawab berbagai pertanyaan Ahmed Deedat dalam tulisannya yang berjudul “Is the Bible God’s Word ?”.

John Gilchrist justru menuduh Ahmed Deedat terlalu membesar-besarkan masalah. Bible, menurut Gilchrist, hanya melukiskan keadaan manusia secara “apa adanya”. Penggambaran manusia dari terbaik sampai yang terburuk secara detail, dalam pandangan Gilchrist justru menunjukkan kesempurnaan Tuhan dalam kemampuan-Nya mengungkapkan dosa-dosa manusia.[3] Buku Gilcrist tersebut memang diusahakan untuk merumuskan jawaban dari sejumlah pernyataan yang dilontarkan oleh Ahmed Deedat. Akan tetapi jawaban-jawaban tersebut boleh dikatakan tidak ‘mampu’ mengcover semua permasalahan. Bahkan semua jawaban yang ada pun tidak lebih sekedar jawaban dengan “logika buatan”.

Nampak bahwa Gilchrist hanya berfikir sebatas ”pembelaan diri” yang mampu dilakukannya. Upaya defensif yang tidak mempertimbangkan kekhawatiran akan dampak negatif penggambaran seksualitas Bible bagi pembacanya. Padahal fakta-fakta seksual dalam kitab tersebut teramat jelas dan vulgar, meski sebagian bersifat metafor. Sehingga sangat dikhawatirkan pengaruhnya bagi nilai peradaban dan moralitas, terutama jika dibaca oleh anak-anak.[4] Hal inilah mungkin yang mendasari George Bernard Shaw untuk berpendapat bahwa Bible adalah ”Buku paling berbahaya di dunia. Jagalah agar tetap tertutup rapat dan terkunci. Jauhkan Bible dari jangkauan anak-anak”. Senada dengan Shaw, jurnal The Plain Truth, sebuah Majalah Kristen, edisi Oktober 1977 menyatakan ”Membacakan cerita dari Bible kepada anak-anak bisa membuka kesempatan untuk mendiskusikan moral seks. Suatu kitab Bible yang belum dibersihkan pasti mendapat rating X dari badan sensor’.[5] Pernyataan satir yang secara jelas, tegas, dan tepat menggambarkan kondisi sebuah kitab suci dari penganutnya sendiri.

Pada bagian lain, Gilchrist juga menanggapi ayat II Samuel 11 yang menggambarkan bahwa Daud telah berzina dengan perempuan bersuami bernama Batsyeba dan mengatur pembunuhan suaminya yaitu Uria. Gilchrist lantas membuat pararelisasi bahwa substansi II Samuel tersebut sejalan dengan Al Quran Surat Shaad ayat 21 sampai 25. Ayat yang dimaksud berkisah tentang dua orang yang meminta keadilan kepada Dawud; salah seorang yang memiliki 99 kambing betina menginginkan satu-satunya kambing betina milik pihak lain menjadi miliknya. Dawud memutuskan bahwa pemilik 99 kambing sebagai pihak yang salah karena menginginkan sesuatu yang bukan haknya. Daud kemudian tahu bahwa Allah mengujinya melalui peristiwa tersebut, Daud pun bersujud dan bertaubat sehingga Allah kemudian mengampuninya.[6]

Gilchrist mempersoalkan mengapa Allah harus menguji Daud untuk membuatnya bertaubat dan diampuni. Menurutnya, taubat dan ampunan bagi daud menandakan bahwa Daud telah berdosa. Dosa Daud tersebut timbul karena Daud telah berzina dengan Batsyeba. Hanya saja, menurut Gilchrist, Al-Quran tidak menceritakan kisah tersebut meski mengakuinya secara tidak langsung.[7]

Ungkapan Gilchrist tersebut jelas mengada-ada. Prof. DR. Hamka menjelaskan bahwa penyebab taubat yang dilakukan oleh Daud dan ampunan Allah terhadap beliau telah secara jelas terdapat dalam Al Quran itu sendiri. Dalam ayat 21 Surah Shaad tersebut digambarkan bahwa ada dua orang yang berperkara memanjat pagar mihrab untuk menemui Dawud. Menurut Prof. DR. Hamka, kedatangan kedua orang yang berperkara secara tidak sewajarnya yaitu tanpa memberikan berita sebelumnya dan tidak melalui pintu biasanya tersebut, telah membuat Nabi Dawud berprasangka bahwa keduanya memiliki niatan jahat. Lantas setelah Nabi Dawud memahami bahwa peristiwa tersebut merupakan ujian maka bersujudlah ia atas lepasnya ujian dalam mengadili kedua pihak berperkara dan bertaubat atas purbasangka yang dimilikinya sebelumnya.[8] Bahkan Tengku Muh. Hasbi Ash Shiddieqy secara tegas menolak riwayat-riwayat israiliyat yang secara substansial merendahkan kedudukan Nabi termasuk kisah perzinaan Dawud sebagaimana termaktub dalam Perjanjian Lama tersebut.[9] Umumnya sejumlah penafsiran terkait ayat tersebut, juga memberikan jawaban bahwa penyebab Dawud bersujud dan bertaubat telah ada jawabannya dalam Al Quran itu sendiri, bukannya berada dalam Perjanjian Lama sebagaimana anggapan John Gilchrist.

Sikap para penulis Kristen terhadap pornografi dalam Perjanjian lama cukup beragam. Denis Green, pendeta dan dosen sebuah seminari di Malang, misalnya mengungkapkan bahwa ayat-ayat ”panas” dalam Kidung Agung merupakan gambaran tentang cinta kasih manusia antara lelaki dan perempuan. Tubuh manusia yang digambarkan secara erotis dianggapnya sebagai karya terbaik Tuhan agar manusia dapat menikmatinya dalam pernikahan.[10] Dr. C. Groenen menyikapi permasalahan ‘ayat-ayat vulgar’ tersebut secara dingin pula. Dikatakan bahwa Daud adalah seorang yang saleh namun lemah, kurang tegas, dan dapat dipermainkan. Daud adalah raja yang berbudi luhur dan berkuasa akan tetapi bukannya tanpa noda. Pengungkapan perzinaan secara vulgar tersebut tidak lebih dari sekedar upaya “Tuhan” untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Hikmahnya, kesalahan Daud tersebut harus ditebus dengan konflik berdarah-darah dari keturunan Daud itu sendiri. “Oleh karena itu pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya oleh karena engkau telah menghina Aku” (2 Samuel 12: 9-10).[11] Salah satu wujud ajaran bahwa bukan hanya dosa yang dapat diwariskan namun juga meliputi hukuman dan kutukan.

Akademisi seperti Dr. J. Blommendaal bahkan menerima kisah dalam II Samuel 11 tentang perzinahan antara Dawud dan Batsyeba serta konspirasi Daud untuk membunuh Uria di atas dengan mengesankan sebuah “keterpaksaan”. Dikatakan bahwa “Ada hubungan erat antara cerita-cerita ini dengan fasal-fasal sebelumnya sebab Mefibosyeth, Yoab, Abyatar, dan Yonatan juga disebut-sebut di dalam fasal-fasal sebelum II Sam 11, sehingga terpaksa kita mengakui kesatuan sejarah ini dengan cerita-cerita sebelumnya”.[12] Lain halnya dengan buku A Dictionary of the Bible yang menyoroti bahwa Daud memiliki kejanggalan perilakunya yang secara diametral bersifat kontradiktif, di satu sisi merupakan icon standar moral yang tinggi dan pada sisi yang lain merupakan sosok “pendosa besar”. Kehidupan Daud ini diungkapkan dengan cara sebagai berikut : “The great sins of his life, his adultery with Batsheba and murder of Uriah, are perhaps but the common crimes of an oriental despot; but so far as we can judge, they were not common to Israel, and David as well as his subjects knew of a higher moral standard.”[13]

Dengan demikian telah jelas bahwa upaya paralelisasi cerita Bible dan kisah Al-Qur’an tidak lebih sebagai usaha defensif yang menyedihkan. Bahkan lebih menampakkan sikap putus asa atas substansi kitab suci miliknya dengan menuduhkan kitab suci agama lain memiliki ”derajad pornografi” juga.

 

LOGIKA BAGI DERAJAD ALQURAN DAN BIBLE

Penalaran yang digunakan oleh John Gilchrist dalam “membedah” Al Quran, didasarkan pada pemikiran bahwa Bible adalah sudah benar dari awal. Sehingga layak menjadi ukuran bagi sebuah persoalan yang datang kemudian. Logika yang digunakan adalah kitab yang datang terlebih dahulu menjadi penguji bagi yang datang kemudian. Hal ini sama dengan logika yang digunakan oleh Robert Morey bahwa The Old Tests The New yaitu otoritas yang terdahulu digunakan untuk mengukur otoritas yang lebih baru.[14] Melalui Penalaran ini, baik Gilchrist maupun Morey seolah menempatkan dirinya dalam posisi yang mirip dengan keberadaan Mahkamah Konstitusi di Indonesia yang menggunakan UUD 1945 sebagai sumber dan penguji bagi peraturan perundang-undangan yang berada di bawahnya. Dari kenampakannya logika ini seolah-olah memang kuat. Namun jika ditinjau secara mendalam, pada hakikatnya, logika tersebut sebenarnya tidak berdasar, terutama dalam kasus antara Al Quran dan Bible. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, jika Undang-undang yang telah diuji ternyata tidak bertentangan dengan UUD 1945, maka UU tersebut akan digunakan sebagai bahan acuan dan memiliki konsekuensi hukum bagi setiap warga negara. Sedangkan dalam kasus pengujian dengan Bible, hal ini tidak diberlakukan. Sejak awal, pengujinya tidak berinisiatif menggunakan Al Quran sebagai sumber kebenaran sekalipun telah terbukti. Bahkan seandainya pun terdapat kebenaran dalam Al Quran maka akan dimunculkan sejumlah dalih untuk menolak kebenaran itu dengan argumen – argumen semacam kebetulan belaka, hasil pinjaman dari konsep lain, berakar dari budaya Yunani, mengadopsi dari Bible, dan sebagainya.

Alasan kedua yang tidak kalah urgennya adalah terkait dengan derajad sumber yang dikaji. Keberatan utama muslim adalah terkait dengan keabshan sumber yang berasal dari Bible ketika disejajarkan dengan nash Al Quran. Standar kebenaran sumber dalam Islam yang paling utama adalah mengandalkan sumber dari khabar shadiq. Khabar shadiq ini pun memiliki tingkatan-tingkatan, dimana yang tertinggi adalah mutawatir. Sedangkan derajad Al Quran adalah dari khabar shadiq yang mutawatir. Sedangkan hadits memiliki derajad yang berbeda-beda. Sebagiannya juga mencapai derajad khabar shadiq yang mutawatir tersebut. Lawan dari khabar shadiq adalah khabar kadzib (berita dusta). Beberapa hadits sengaja diciptakan oleh orang-orang belakangan sehingga menempati kedudukan sebagai khabar kadzib sebab tidak berasal dari perkataan Rasulullah dan memiliki konsekuensi hukum tersendiri yang tidak sesuai dengan Al Quran dan As shunnah. Seringkali kalangan muslim menyebut khabar ini sebagai “hadits palsu” yang maknanya, bukan hadits dalam arti sebenarnya.

Beberapa tokoh seringkali membandingkan bahwa cerita-cerita Bible dari segi periwayatannya memiliki karakteristik yang sama dan sederajad dengan Hadits. Dr. Maurice Bucaille, misalnya, menyatakan bahwa Bible memiliki persamaan dengan Hadits, sebab keduanya berisi kisah-kisah tentang Nabi dan orang shalih berserta ajarannya. Perjanjian Baru juga mirip dengan hadits sebab ditulis oleh orang-orang beberapa puluh tahun setelah wafatnya Isa.[15] Pendapat Dr. Bucaille ini sudah tentu terlalu berlebihan, sebab hadits jelas tidak bisa dibandingkan dengan Bible. Beberapa penulis muslim juga sering memberikan perbandingan antara ayat-ayat Bible dan hadits. Dikatakan bahwa Bible setara dengan hadits maudlu’ (hadits palsu), kalaupun mungkin hanya akan mencapai derajad hadits dha’if (hadits lemah).[16] Sebagian ulama berpendapat, dalam kasus hadits yang lemah karena perawinya sudah tua sehingga terkendala dengan hafalan yang menurun karena usia, derajadnya bisa menjadi hadits hasan (baik) jika terdapat kondisi bahwa terdapat perawi lain yang memiliki kondisi sama yang juga meriwayatkan hadits yang sama. Sehingga hadits tersebut dikenal sebagai hadits hasan li ghairihi artinya hadits tersebut bernilai baik karena ditopang dan dikuatkan oleh keberadaan hadits yang lain. Akan tetapi ayat-ayat Bible tidak akan pernah dapat mencapai tingkatan derajad yang demikian. Sebab sejak awal memang tidak memiliki tradisi pengujian keshahihan yang terpercaya.

Hadits memiliki sistem verifikasi validitas yang sangat ketat. Sebenarnya, hadits palsu bahkan derajadnya adalah lebih tinggi dari Bible, sebab hadits palsu (hadits maudlu’) terkadang masih memiliki sejumlah informasi yang menyebutkan jalur periwayatan tertentu yang bisa dirunut beserta pengenalan terhadap jalur-jalur tersebut. Sedangkan Bible termasuk bagian Perjanjian Barunya sama sekali tidak memiliki metode telaah yang bersifat demikian. Sebut saja misalnya Pentateuckh, kebanyakan umat Kristiani menganggap kelima kitab tersebut merupakan karya dari Musa. Akan tetapi tidak ada satu pun jalur periwayatan yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa Pentateuch memang benar-benar merupakan karya Musa. Justru jika dianggap sebagai karya Musa, maka Pentateuch menyisakan sejumlah kejanggalan. Diantaranya adalah cerita tentang kematian Musa sendiri yang tidak mungkin dikisahkan oleh Musa secara pribadi.[17]

Contoh lainnya, sebut saja ayat yang seringkali digunakan sebagai dasar paham trinitas yaitu Surat Kiriman Yohanes Pertama (I Yohannes) Pasal 5 ayat 6-8 yang berbunyi :

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.[18]

Penggunaan tanda kurung dalam kedua ayat tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa ayat tersebut palsu. Artinya ayat tersebut baru ditambahkan kemudian pada era-era terakhir. Hal ini bisa dibuktikan dengan melakukan perbandingan versi Bible yang lain, misalnya The Holy Bible Contemporary English Version yang berbunyi :

5:6 Water and blood came out from the side of Jesus Christ. It wasn’t just water, but water and blood. The Spirit tells about this, because the Spirit is truthful.

5:7 In fact, there are three who tell about it.

5:8 They are the Spirit, the water, and the blood, and they all agree.[19]

 

The Holy Bible Contemporary English Version ini bukannya satu-satunya versi yang memiliki perbedaan dengan Bible yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Versi tanpa penambahan, juga bisa dibaca dalam The Holy Bible New International Version[20] dan The Holy Bible Today’s English Version[21]. Lantas, mengapa terdapat versi yang berbeda dalam ayat-ayat yang dianggap sebagai dalil tentang trinitas tersebut ? Tokoh Gereja yaitu Dr. G. C. Van Niftrik dan D. S. B. J. Boland menyatakan :

 

“Di dalam Alkitab tidak diketemukan suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata “tritunggal” ataupun ayat-ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut, mungkin terdapat dalam I Yahya (I Yohanes) 5 : 6-8. Tetapi sebagian besar ayat ini agaknya belum tertera dalam naskah aslinya. Bagian itu setidak-tidaknya harus diberi kurung.“[22]

 

Dari tulisan kedua tokoh gereja di atas dapat diketahui bahwa tambahan kalimat “Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” yang menunjuk kepada 3 (tiga) oknum trinitas, sebenarnya adalah suatu bentuk pengubahan dan penambahan terhadap kitab yang dianggap suci atau dengan kata lain adalah pemalsuan teks kitab. Hal ini sudah tentu dilakukan oleh para penginjil dari era belakangan yang memerlukan “dalil” tegas bagi apa yang mereka percayai, sebuah dalil buatan. Terkait ayat di atas tokoh Kristen terkemuka Amerika, Jerry Falwell, bahkan secara terbuka dan terang-terangan mengungkapkan bahwa ayat 7 dan 8 dari I Yohanes adalah tidak original dan bukan wahyu (firman Tuhan). Hal ini diungkapkan sebagai berikut :

 

“The rest of verse 7 and the first nine words of verse 8 are not original, and are not to be considered as a part of the words of God.”[23]

 

Akademisi Kristen seperti Dr. C. Groenen bahkan mengungkapkan secara tegas bahwa nash-nash yang dianggap sebagai dasar teologis dogma trinitas justru merupakan tambahan dari era belakangan. Nash tambahan tersebut sengaja dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru karena perdebatan seputar ketuhanan tritunggal mengalami masa-masa yang kritis dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Maka kemudian dibuatlah nash “Trinitas” yang dimasukkan ke dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Nash ini baru muncul pada abad IV di Spanyol. Nash tentang trinitas itu lazim disebut dengan nama “Comma Johanneum”. Salah satu nashnya adalah I Yohanes 5 : 7. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. C. Groenen sebagai berikut :

 

“ Di zaman umat Kristen berdebat-debat mengenai Allah Tritunggal, sangat terasa bahwa dalam Perjanjian baru tidak ditemukan suatu nas yang jelas mengungkapkan dogma itu, sehingga mudah dapat dipindahkan ke dalam alam pikiran filsafat dan teologi Yunani. Maka suatu nas “trinitas” yang jelas dibuat dan dimasukkan ke dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Nas itu lazimnya disebut “Comma Johanneum” (1 Yoh 5 : 7 menurut Vlg.). Sejak abad IV nas itu mulai muncul, mula-mula di daerah Spanyol. Nas itu menyusup ke dalam naskah-naskah terjemahan Latin (Vlg. Naskah-naskah terjemahan Latin yang paling tua belum memuat 1 Yoh 5:7). Akhirnya diterjemahkan ke dalam naskah-naskah Yunani. Tetapi naskah-naskah yang memuat 1 Yoh 5:7 semua dari masa belakangan.”[24]

 

Dalam catatan kakinya, Dr. C. Groenen menambahkan bahwa hanya ada 3 (tiga) naskah Yunani yang memuat teks I Yohanes 5:7. Teks itu pun baru dibuat selama abad XIV dan XVI M. Congregatio S. Officili pada tanggal 13 Januari 1897 pernah mempertahankan ayat I Yohanes 5:7 sebagai asli. Tetapi keputusan tersebut dicabut kembali pada tanggal 2 Juni 1927.[25] Namun belakangan ini Perjanjian Baru, termasuk yang beredar di Indonesia, memuat kembali penambahan teks I Yohannes 5: 7 yang sebelumnya pernah dihapuskan dari gereja. Hal ini sudah tentu karena gereja membutuhkan dalil tersebut sebagai legitimasi atau sebenarnya justifikasi keyakinan yang dimilikinya, walaupun hakikatnya bisa dibuktikan hanya merupakan dalil buatan dan hasil perumusan semata. Perlu ditegaskan bahwa doktrin trinitas merupakan jantung utama paham Kristianitas. Namun ternyata ajaran tersebut hanya merupakan paham yang didukung oleh ayat-ayat “buatan” pada masa-masa kemudian. Selain itu banyak ayat-ayat lain dalam Bible yang telah dibuktikan oleh teolog sebagai ayat-ayat tambahan yang sepenuhnya “baru”.

Oleh karena itu salah apabila Bible hendak didudukkan sama atau bahkan sederajad dengan hadits apalagi dengan Al Quran. Maka keberatan kaum muslimin terkait penggunaaan metode pengujian sebagaimana yang diungkapkan Gilchrist dan Morey adalah Al Quran tidak seharusnya diuji dengan kitab yang derajadnya jauh berada di bawah hadits palsu. Sedangkan hadits palsu, dalam Islam, sudah jelas ditolak penggunaannya. Apalagi yang kualitasnya berada di bawahnya. Karena itulah maka logika pengujian Al Quran dengan Bible ini gagal memberikan solusi dan dinilai lemah sebagai metodologi pengujian.

BERAWAL DARI PROBLEMA HISTORIS

Sebenarnya, usaha destruktif sebagaimana dilakukan baik oleh Morey maupun tokoh misterius semacam Gilchrist, tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kekristenan sendiri. Teori yang diimajinasikan Barat bahwa Islam banyak berhutang dari kekristenan bukan merupakan barang baru. Dalam perjalanan sejarah, Kristen bukan merupakan ajaran agama yang telah final sejak awal. Dr. Harun Hadiwiyono, seorang akademisi Kristen misalnya, sejak awal membedakan gambaran antara istilah “iman Kristen” dan “agama Kristen”. Iman Kristen, menurutnya adalah sesuatu yang tidak berubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh hal apa pun. Sedangkan agama Kristen dapat dipengaruhi oleh adat-istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia yang memeluknya. Sehingga sangat memungkinkan bahwa agama Kristen mengandung peraturan-peraturan buatan manusia, yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan yang dinyatakan dalam iman Kristen.[26] Dalam hal ini Kristen tidak memiliki konsep tsawabit dan mutaghayirat, ushul dan furu’, atau mahdhah dan ghairu mahdhah sebagaimana yang dimiliki oleh Islam. Oleh karena itu hal-hal yang terkait dengan apa yang diistilahkan oleh Dr. Harun Hadiwiyono sebagai “iman Kristen”, sebenarnya bisa saja berubah sebab tidak memiliki patokan dan pedoman secara pasti. Para teolog dan sejumlah ilmuwan di Barat telah meletakkan sejumlah teori dan bukti bahwa Kristen dalam perkembangan awalnya banyak mengambil konsep dari ajaran agama paganisme yang berkembang sebelumnya dan pada perkembangan selanjutnya banyak meminjam konsep dari budaya-budaya dimana kekristenan berkembang. Boleh dikatakan bahwa kekristenan merupakan residu akhir dari sebuah perjalanan tambal sulam dalam pembentukan konsep mendasarnya.

Sebut saja Lynn Picknett dan Clive Prince, peneliti tentang okultisme dan sejarah agama, menyebutkan bahwa salah satu sakramen yang dikembangkan gereja hingga hari ini yaitu pembaptisan merupakan unsur pinjaman yang diambil oleh Kristen dari ajaran okultisme di Mesir. Pembaptisan sebagai simbol pembaruan spiritual dan transformasi batin, memiliki ciri has yang hidup dan berkembang dalam dunia Helenistik dimana Yesus hidup. Tradisi ini memiliki tradisi panjang yang berakar kuat dalam ajaran pagan berupa penyembahan dan kultus terhadap Isis di Mesir Kuno. Penting dicatat bahwa ritual pembaptisan ini awalnya dilakukan di Sungai Nil didahului dengan penyesalan dan pengakuan dosa di hadapan imam.[27] Menariknya para pemuja Isis ini memiliki simbol berupa salib yang belakangan ini biasa dikenal sebagai “salib okultis” yaitu bentuk salib dengan bagian atas atau kepala berupa lingkaran. Padahal sakramen pembaptisan merupakan upacara pokok kekristenan yang dipercaya sebagai syarat diberikannya berkat-berkat Tuhan.[28] Ritual pembaptisan jelas tidak akan dapat ditemukan dalam kehidupan keagamaan bangsa Israel. Perjanjian Baru menggambarkan bahwa seolah-olah Yohannes adalah salah satu penganut ritus kuno Mesir yang melakukan pembaptisan dan Yesus adalah salah satu muridnya (pengikut) yang sedang mendapatkan prosesi pemberkatan.[29] Dr. C. Groenen OFM ketika membahas tentang salah satu dalil bagi pembaptisan yaitu Matius 28 ayat 19 yang berbunyi “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”[30] mengungkapkan bahwa ayat ini bukan ucapan atau perintah Yesus dalam makna sebenarnya (secara historis), tetapi merupakan ayat yang ditambahkan kemudian dan diambil dari tradisi upacara pembaptisan yang dilakukan oleh jemaat Kristen Palestina dan Siria. Upacara tersebut lantas dimasukkan ke dalam redaksi terakhir Matius.[31] Artinya ayat tentang baptisan sendiri sebenarnya tidak dikenal sebagai sakramen kekristenan awal dan baru ditambahkan kemudian berdasarkan tradisi pemeluk agama yang telah sedikit banyak bersentuhan dengan paganisme, yaitu ketika bangsa Israel di Palestina pernah bersentuhan dengan peadaban Mesir Kuno maupun peradapan Helennis.

Sejarah panjang kekristenan ini pulalah yang telah secara intensif mempengaruhi pola pikir Barat dalam memandang Islam. Sejak awal Barat telah mewarisi sebuah dugaan yang dalam jangka panjang telah berakumulasi dan berkulminasi menciptakan imajinasi yang seolah menjadi gambaran sebuah kebenaran. Islam, dalam gambaran imajinasi ini, dianggap telah banyak meminjam konsep dari kekristenan maupun tradisi Yahudi. Seandainya pun tidak, maka Islam tetap harus ditempatkan sebagai “pesakitan” yang memiliki problema yang sama. Seandainya Islam telah meminjam dari Kristen, maka sebenarnya harus ada banyak bukti yang dikeluarkan oleh mereka. Terlalu banyak pertanyaan yang harus mereka jawab dan buktikan. Padahal kesamaan sebuah ide atau cerita tidak selalu merupakan hasil dari proses pinjam meminjam. Bible juga tidak pernah berbicara tentang kosmos, tiga kegelapan kandungan, penyaliban Yesus adalah semu, kesalahan Trinitas, dan sebagainya.[32] Tentu Islam tidak mengambil hal-hal tersebut dari ajaran sebelumnya.

Bahkan terdapat indikasi kuat bahwa Bible justru pernah mengalami pengeditan dengan melibatkan dan meminjam konsep-konsep yang berasal dari Al Quran. Sejarah telah mencatat bahwa pada tahun 382 M, Paus Gregorius XII memerintahkan Anibra untuk mengedit ulang kitab Hexapla dan Vulgata karya Santo Jerome yang dalam Bahasa Latin disebut Eusebius Hieronymus (328 – 420 M), dengan memasukkan ayat-ayat Al Quran, terutama ayat-ayat yang berhubungan dengan gambaran eskatologis dalam ilmu teologi Antiokia dan tertera dalam Perjanjian Lama. Hal ini kemudian baru diterima secara resmi oleh gereja pada tanggal 13 Desember 1545.[33] Adapun ayat-ayat yang dijiplak tersebut antara lain Al Fatihah ayat 6 ditiru dalam Mazmur 27 : 11, Al Anbiya’ ayat 105 dijiplak dalam Mazmur 37 : 29, Surah An Nahl ayat 10 dicontek guna ditempatkan pada Mazmur 104 ayat 10 dan Mazmur 104 ayat 14, Surah Al A’raf ayat 179 ditiru dalam Yeremia 5 ayat 21, dan lain sebagainya sampai berjumlah sedikitnya 13 (tiga belas) point.[34] Lantas, mengapa orang-orang seperti Morey maupun Gilchrist serta tokoh-tokoh lainnya justru menuduh bahwa Islam banyak meminjam konsep dari agama yang menjadi keyakinan mereka ?. Itu merupakan hal biasa, sebuah pelarian dan semacam pre-emptive attack yang lahir dari sejenis perasaan bersalah. (***)

FOOTNOTE


[1] Selengkapnya baca Dr. C. Groenen OFM. Pengantar ke dalam Perjanjian Lama. Cetakan I. Edisi 2. (Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1992). Hal. 232-233

[2] Ahmed Deedat. The Choice: Dialog Islam – Kristen. (Terj.). (Al-Kautsar, Jakarta, 2001). Hal 386.

[3] John Gilchrist. The Textual History of the Quran and the Bible. (Ind. : Sejarah Naskah Al-Qur;an dan Al-Kitab). (Jalan Al Rahmat, Jakarta, 1996). Hal. 68-69.

[4] Wahyudi, SA. Sex in the Bible. (Bina Ilmu, Surabaya, 2004). Hal. 77.

[5] Ahmed Deedat, Opcit. Hal 281 dan 287.

[6] John Gilchrist. Opcit. Hal 70

[7] John Gilchrist. Opcit. Hal 71 – 73

[8] Prof. DR. Hamka. Tafsir Al Azhar Juz XXIII. (Pustaka Islam, Surabaya, 1976). Hal. 234-235

[9] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Tafsir Al Quranul Majid An Nuur juz 23. Cet. II. (Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000). Hal. 3506

[10] Denis Green. Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama. (Gandum Mas, Malang, 1984). Hal. 144

[11] Dr. C. Groenen OFM. Pengantar ……. Opcit. Hal. 152

[12] Dr. J. Blommendaal. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Cetakan IV. (PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988). Hal. 81

[13] James Hastings (ed.). A Dictionary of the Bible. Vol. 1. (T&T Clark, Edinburg, 1910). Hal. 572

[14] Robert Morey. Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal. 5

[15] Dr. Maurice Bucaille. La Bible le Coran et la Science. (Editions Seghers, Paris, 1976). Edisi Indonesia : Bible, Qur-an, dan Sains Modern. Terjemah oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Cetakan II. (Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1979). Hal. 17

[16] Lihat misalnya Masyhud SM. Al Qur’an Mengajak Kristen Jujur Beragama. Dalam Majalah Modus Vol. 1 No. 8 Th. II/ 2004. hal. 28

[17] Lihat pembahasannya secara lengkap dalam Dr. Maurice Bucaille. Opcit. Hal. 35-41

[18] I Yohanes 5 : 7-8. Alkitab Terjemahan Baru. (Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1974)

[19] I John : 6-8. The Holy Bible Contemporary English Version. (ABS, 1995)

[20] Lihat New York International Bible Society. The Holy Bible New International Version. (Zondervan Bible Publishers – Grand Rapids, Michigan, 1981). Hal. 926

[21] Lihat. The Holy Bible Today’s English Version : New Testament. (ABS, 1992)

[22] DR. G. C. Van Niftrik dan D. S. B. J. Boland. Dogmatika Masa Kini. (BPK, Jakarta, 1967). Hal. 418

[23] Jerry Falwell. Liberty Bible Commentary. (Thomas Nelson Publisher-Nashvhille Camden, New York, 1983). Hal. 2638 dalam Masyhud SM. Al Quran Mengajak … Opcit. Hal. 25. Artinya : “ Kalimat terakhir ayat 7 dan sembilan kata pertama pada ayat 8 adalah tidak asli (orisinal) dan tidak bisa dianggap sebagai wahyu (firman Tuhan)”.

[24] Dr. C. Groenen OFM. “He Dynamis Tou Pneumatos” Kitab Suci Tentang Roh Kudus dan Hubungannya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. (Lembaga Biblika Indonesia – Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982). Hal. 64

[25] U. Lebreton. Histoire du dogme de la Trinite I: Les Origines du dogme de la Trinite. Hal. 645-647; W. Thiele. Beobachtungen zum Comma Joanneum. ZNT 50 (1959). Hal. 61-63 dalam Dr. C. Groenen OFM. “He Dynamis Tou … Ibid. Hal. 64

[26] Dr. Harun Hadiwiyono. Kebatinan dan Injil. Cetakan IV. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1982). Hal. 163

[27] Lynn Picknett dan Clive Prince. The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ. Edisi Indonesia : The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006). Hal. 491-492

[28] Howard M. Gering. Ensiklopedia Alkitab. Cetakan II. (Toko Buku Immanuel, Jakarta, 1970). Hal. 402

[29] Beberapa pakar telah membuat analisa bahwa Yesus merupakan salah satu murid atau pengikut Yohanes yang kemudian mendirikan mahzabnya sendiri. Pendirian mahzab ini sebenarnya merupakan wujud “pemberontakan” yang dilakukan oleh Yesus kepada gurunya. Sebagian pakar lagi melihat bahwa juru selamat yang lebih memenuhi nubuat adalah Yohannes, bukan Yesus. Selengkapnya baca Lynn Picknett dan Clive Prince. The Templar Opcit. Hal. 544-581

[30] Matius 28 : 19. Alkitab Terjemahan Baru. (Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1974)

[31] Dr. C. Groenen OFM. “He Dynamis … Opcit. Hal. 64

[32] Terkait dengan tuduhan bahwa Al Quran telah meminjam banyak konsep dari Yahudi, Nashrani, dan dari kebudayaan lainnya telah dijawab oleh sejumlah pakar. Di antaranya Dr. Syauqi Abu Khalil. Al Islam fi Qafshi Al Ittiham. Cetakan V. (Dar al Fikr, Damaskus, 2002). Lihat juga misalnya Dr. Jabal Muhammad Buaben. Image of the Prophet Muhammad in the West : A Study of Muir, Margoliouth, and Watt. (The Islamic Foundation, Leicester, 1997).

[33] KH. Bahaudin Mudhary. Dialog Masalah Kebenaran Bibel. (Pustaka Da’i, Jakarta, 2005). Hal. 72. Juga Artikel berjudul Ayat-ayat Al Quran Dijiplak Alkitab. Dalam Majalah Modus Vol. II No. 3 Th. II / 2005. Hal. 4

[34] KH. Bahaudin Mudhary. Opcit Hal. 73-78. Juga Artikel Ayat-ayat Al Qur’an Dijiplak … Opcit. Hal. 5-7

 

Sumber : klik


MANIPULASI MITOLOGI AJI SAKA VERSI TOKOH KRISTEN ORTHODOKS SYIRIA (KOS)

PENDAHULUAN

Berbagai usaha telah dilakukan oleh sejumlah tokoh Kristen dalam usahanya untuk mendekati kebudayaan Jawa. Upaya ini merupakan salah satu usaha untuk mencari titik temu antara Jawa dan Kristen. Simpul-simpul yang dianggap sebagai “benang merah” pertemuan kedua entitas tersebut akan dianggap sebagai entry point bagi para misionaris untuk merumuskan penginjilan bagi orang Jawa. Jadi upaya-upaya tersebut bukannya murni pendekatan yang bersifat akademis, melainkan berbalut misi dan kepentingan penyebaran agama kepada umat yang telah beragama.

Di kalangan orientalis misalnya kita menemukan nama Hendrik Kraemer (1888-1965). Ia memperoleh gelar doktor tahun 1921 atas dasar studi teks Islam berbahasa Jawa. Tahun yang sama dikirim oleh Perkumpulan Bibel Belanda yang bergerak untuk misi penginjilan ke Jawa. Ia juga bertugas merevisi terjemahan Bible Bahasa Jawa, mempelajari kecenderungan intelektual muda di Indonesia terutama Jawa, dan mengamati perkembangan Islam.[1] Di Jawa Kraemer sengaja berusaha memisahkan antara ‘Kejawen’ dan Islam serta menentang eksistensi Islam melalui kuliah-kuliah yang diberikannya. Di satu pihak ia melakukan pembelaan terhadap “Jawa” dengan memisahkan konsep-konsep “Jawa” tersebut sebagai entitas yang bebas dari Islam. Bukan perasaan simpati terhadap ‘Kejawen’ yang membawanya kepada pilihan ini, melainkan didorong oleh sulitnya menundukkan Muslimin yang lebih ortodoks kepada misi penginjilan. Kraemer menggambarkan kesulitan ini sebagai berikut:” Islam sebagai problem bagi misi: tidak ada agama selain Islam yang untuknya misi bekerja banting tulang tanpa hasil dan padanya misi menggarukkan jarinya sampai berdarah dan koyak”.[2]

Philip Van Akkeren, orientalis dan misionaris yang lain, juga bergerak dalam kancah yang sama. Ia berupaya menarik kesimpulan bahwa pandangan Jawa sangat menekankan adanya konsep mesianisme. Manusia Jawa, menurut Van Akkeren, memiliki pengharapan yang besar terhadap manifestasi keselamatan yang ditawarkan oleh sosok “ratu adil”. Konsep ratu adil ini kemudian dihubungkan dengan konsep Yesus sebagai Juru Selamat. Konklusinya, Jawa menurut Van Akkeren membutuhkan pertemuan dengan ajaran Kristen. Untuk membuktikan teorinya itu Van Akkeren berargumentasi dengan bentuk pemujaan para petani Jawa era lampau terhadap tokoh Dewi Sri dan Bambang Sadhana yang dikenali sebagai pasangan pelindung padi. Melalui ritus pemujaan Sri-Sadana ini, Van Akkeren menilai bahwa penanaman padi bagi orang Jawa merupakan sebuah ritual ibadah keagamaan, satu bentuk persekutuan, sekaligus persatuan antara sosok ilahi dan sosok manusiawi yang dianggapnya sejajar dengan kehidupan Yesus.[3] Rupanya Van Akkeren melupakan bahwa konsep Sri-Sadana lebih lebih merupakan representasi pandangan yang bersifat mirip dengan hieros-gamos, bukan seperti kehidupan Yesus yang melakukan praktik celibasy sebagaimana konsep Kristen. Keduanya adalah konsep yang sama sekali sangat berbeda secara diametral. Sehingga wacana titik temu antara Jawa dan Kristen yang hendak ketengahkan kepada pembaca, sebenarnya tidak lebih dari sekedar mengada-ada.

Belakangan ini terdapat juga tokoh Kristen yang berusaha menghidupkan kembali teori “perjumpaan” tersebut. Tokoh tersebut adalah Bambang Noorsena, tokoh Kanisah Orthodoks Syiria atau juga dikenal sebagai Kristen Orthodoks Syria (KOS). Buku Bambang Noorsena tersebut rupanya juga sangat bergantung pada pemikiran orientalis Philips Van Akkeren, bukan sekedar sebagai referensi namun menjadi bagian dari kerangka utama pembahasannya. Ia memulai bukunya “Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” dengan pernyataan bahwa iman Kristen seharusnya selalu dihayati dalam konteks pengalaman budaya yang konkret. Injil, menurut Noorsena, juga bukan disampaikan di tempat yang hampa budaya. Konklusinya, selalu ada interaksi antara iman dan kebudayaan.[4]

Pendapat Bambang Noorsena ini sejalan dengan pandangan DR. Harun Hadiwijono, akademisi Kristen, ketika berusaha merumuskan perbedaan definisi antara iman Kristen dan agama Kristen. Menurut Hadiwijono, interaksi iman Kristen dan jawaban manusia terhadap iman itu dalam lingkup adat istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia akan menghasilkan apa yang disebut sebagai Agama Kristen. Dengan demikian, Harun Hadiwijono menyimpulkan bahwa Agama Kristen sangat dipengaruhi oleh adat istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia,[5] terutama sepanjang perjalanan sejarah pembentukan ajarannya.

Pandangan Noorsena bahwa Injil bukan disampaikan dalam suatu tempat yang hampa budaya, juga ada benarnya jika dirujukkan pada sejarah pembentukan kitab Injil. Injil telah mengalami sejarah yang cukup panjang hingga proses pengumpulannya. Kitab ini baru ditulis dan dihimpun pada masa jauh setelah kehidupan Yesus. Bahkan boleh dikatakan bahwa baru ditulis setelah jamaah Kristen mula-mula muncul. Karangan-karangan yang membentuk Perjanjian Baru tidak serta merta dikenal dan diterima umat Kristen sebagai kitab suci.[6]

Penulis karangan-karangan dalam Injil tersebut umumnya tidak pernah diketahui secara pasti identitasnya. Maka tidak mengherankan jika Bambang Noorsena mengungkapkan “proses kebingungan” para ahli tentang Perjanjian Baru, misal pernyataan dalam footnote bukunya bahwa Surat Ibrani awalnya diduga ditulis oleh Rasul Paulus, tetapi para ahli pada masa sekarang ini telah meninggalkan pendapat itu dan menyetujui bahwa surat ini ditulis oleh orang lain yang mempunyai latar belakang Yahudi.[7] Dengan mencermati proses penulisan dan pengumpulan serta penetapannya sebagai kitab suci maka tidak ragu lagi bahwa Injil merupakan kitab yang tidak bisa tidak sulit dilepaskan dari suatu kebudayaan yang melingkupinya.

Contoh lain yang membuktikan hal ini terkait pemunculan dalil trinitas dalam Perjanjian Baru, kitab umat Kristen. DR. C. Groenen OFM, seorang teolog Kristen (Katholik), mengungkapkan bahwa dalil mengenai trinitas merupakan ayat-ayat yang ditambahkan kemudian pada abad IV M setelah umat Kristen mengalami perdebatan panjang seputar eksistensi trinitas.[8] Jadi merupakan sebuah hal yang baru dan bukannya final sejak masa Yesus. Dengan demikian hal ini juga membuktikan bahwa Agama Kristen merupakan agama sejarah yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan lama, termasuk dalam diskursus pembentukan basic ketuhanannya. Oleh karena itulah maka juga dapat disebut sebagai agama budaya.

Bermula dari cara pandang bahwa iman dan pekabaran Injil harus bersentuhan dengan persoalan kebudayaan inilah, rupanya Bambang Noorsena bermaksud mengkaji persoalan kejawen dalam perjumpaannya dengan iman Kristen. Sejumlah konsepsi hidup orang Jawa hendak dikaji dengan menggunakan cara pandang Kristiani yang menjadi keyakinannya. Diharapkan hasil kajiannya tersebut akan menjadi sebuah rekomendasi bagi penginjilan di tanah Jawa. Termasuk bahwa manusia Jawa sebenarnya mengharapkan kedatangan sosok mesianis ratu adil, yang dalam bahasa Noorsena hanya bisa dipenuhi dengan kedatangan Yesus.[9] Terkait hal ini nampaknya Bambang Noorsena sangat bergantung pada ide dari Van Akkeren.

Tulisan ini akan mencoba mengupas salah satu pandangan Bambang Noorsena terutama terkait dengan salah satu mitologi yang dianggap sebagai “identitas Jawa” yaitu tentang kisah Aji Saka. Dalam tulisan ini akan diungkapkan upaya manipulatif yang dilakukan oleh tokoh KOS tersebut dalam upayanya untuk menemukan “perjumpaan” antara Kejawen dan Kristen. Tentu saja, apa yang akan penulis bahas hanya terbatas sebagai sebuah bentuk pencermatan dan apresiasi terhadap suatu karya sastra belaka. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan hal ini akan bermanfaat untuk menelusur jati diri Jawa yang sesungguhnya yaitu Islam.

MANIPULASI AJI SAKA VERSI TOKOH KOS

Dalam kajian Sejarah, pengenalan terhadap tulisan seringkali dianggap menandai dimulainya era Sejarah. Dengan kata lain awal sejarah ditandai dengan adanya tulisan. Babak baru pengenalan aksara Jawa seringkali dihubungkan dengan legenda tentang Aji Saka. Dalam cerita oral yang berkembang di masyarakat Aji Saka digambarkan merupakan sosok pendatang yang berasal dari India dan kemudian menciptakan aksara Jawa. Tokoh Aji Saka sendiri dalam sejumlah cerita babad kemudian digambarkan seolah-olah merupakan sosok historis yang menghasung nilai-nilai Jawa. Terkait mitologi Aji Saka ini, rupanya Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria juga hendak mengambil peran untuk menunjukkan bahwa Kejawen dan Kristen memiliki titik temu pada tokoh Aji Saka. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Ortodoks Syria, menyebutkan bahwa Aji Saka pernah berpindah agama menjadi Kristen. Menurut Noorsena, Ranggawarsita, seorang pujangga Jawa dalam karyanya Serat Paramayoga, telah menempatkan Aji Saka sebagai umat Yesus Kristus sehingga mencapai kesempurnaan budi.[10] Nampaknya Noorsena menilai bahwa kisah Aji Saka tersebut merupakan salah satu wujud atau bukti bahwa Kristen dan Kejawen memiliki sebuah titik temu.

Dalam kisah “Aji Saka” diceritakan bahwa Kerajaan Medang Kamulan di Pulau Jawa pernah diperintah oleh seorang raja lalim bernama Prabu Dewata Cengkar. Raja ini memiliki kegemaran memakan daging manusia dengan mencampurkannya ke dalam masakan yang dihidangkan. Kegemaran Sang Raja tersebut sudah tentu berefek buruk kepada rakyatnya yang perlahan-lahan menyusut akibat dimangsa olehnya. Sampai kemudian datanglah seorang pemuda dari India bernama Aji Saka yang diiringkan oleh 2 (dua) orang pembantunya yaitu Dora dan Sembada. Sebelum sampai di tanah Jawa, ketiga orang tersebut sempat singgah di Pulau Majeti. Syahdan salah satu dari pembantunya tersebut kemudian disuruh tinggal di Pulau Majeti dan diberi tugas untuk menjaga keris milik Aji Saka. Keris yang ditinggalkan harus dijaga dan dirawat dengan benar dan tidak boleh diserahkan kepada siapa pun selain kepada Aji Saka, pemiliknya sendiri. Maka berangkatlah kemudian Aji Saka ke Tanah Jawa hanya dengan disertai salah satu ajudannya. Sesampainya di Medang Kamulan, sang Aji Saka kemudian berurusan dengan raja Jawa, Prabu Dewata Cengkar. Tersebutlah bahwa kemudian Dewata Cengkar berhasil dikalahkan dan Aji Saka menggantikannya sebagai raja Jawa di Medang Kamulan.

Kisah tidak hanya berhenti sampai di sini. Aji Saka kemudian mengutus pembantunya untuk mengambil keris yang dititipkan kepada pembantunya yang lain di Pulau Majeti. Rupanya Aji Saka telah lupa akan perintahnya bahwa keris tersebut harus dirinya sendiri yang mengambilnya. Akibatnya kedua pembantunya kemudian terlibat sengketa yang berujung kepada tewasnya kedua belah pihak. Aji Saka kemudian memperingati tewasnya kedua orang pembantu dekatnya dengan menciptakan aksara Jawa yang terdiri dari 20 aksara sebagai berikut:

Ha na ca ra ka              = ada utusan

Da ta sa wa la               = mereka bertengkar

Pa da ja ya nya = sama-sama kuatnya

Ma ga ba tha nga          = akhirnya mati (menjadi bangkai)

Kisah Aji Saka di atas bagi sebagian besar kalangan orang Jawa sering dianggap sebagai salah satu unsur dalam pembentukan identitas orang Jawa. Kisah ini telah melegenda bagi masyarakat Jawa dan sering dianggap sebagai kisah historis. Dalam hal ini mitos Aji Saka ditempatkan sebagai penjelasan adanya proses Indianisasi di Tanah Jawa dan sekaligus pembudayaan orang Jawa dengan mengenal bentuk tulisan baru. Pada perkembangan selanjutnya kisah Aji Saka ini seolah telah menjadi jiwa Jawa itu sendiri.

Kenyataan bahwa kisah Aji Saka telah merasuk menjadi bagian dari jati diri Jawa, hakikatnya merupakan sebuah bentuk keanehan dan penyimpangan. Menurut DR. Andrik Purwasito, kisah Aji Saka ini sebenarnya merupakan produk imajinatif karya Pemerintah Kolonial Belanda. Dalam cerita ini dapat dijelaskan sejumlah kepentingan bersifat hegemonik dari penjajahan atas bangsa Indonesia. Dalam penelitiannya yang telah dibukukan “Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana” menjelaskan bahwa melalui wacana Aji Saka, Belanda tidak saja berhasil menjelaskan terjadinya Indianisasi (faktor India) yang telah merasuk ke dalam kebudayaan Jawa. Melainkan juga berhasil membangun dunia imajiner bangsa Indonesia. Publikasi dunia imaji India tersebut terus dilakukan oleh para peneliti Belanda, dengan menempatkan India sebagai bangsa superior berhadap-hadapan dengan bangsa Jawa yang inferior. Wacana Aji Saka dikembangkan oleh Belanda dengan menempatkan penduduk pribumi di Nusantara sebagai bangsa terjajah, primitif, biadab, dan tidak berbudaya berhadapan dengan India yang telah memiliki budaya lebih tinggi.[11] Andrik Purwasito menegaskan bahwa wacana ini sebenarnya tidak lebih dari sekedar dunia imajiner belaka.

Pada perkembangan selanjutnya cerita tentang tokoh Aji Saka tersebut mengalami rancang ulang sehingga tidak lagi menjadi sosok India yang ‘menjajah’ Jawa. Jawa sendiri menjadi lebih sukar untuk ditaklukkan kepentingan Belanda yang bersifat hegemonik tersebut. Sejumlah karya sastra telah menghidupkan Aji Saka dalam kepentingan-kepentingan yang lebih baru. Dengan mencermati pendapat DR. Andrik Purwasito lebih lanjut terhadap proses masuknya Aji Saka ke dalam kancah kesusastraan Jawa, maka fenomena masuknya Aji Saka menjadi Kristen adalah hal yang wajar. Sebab, awalnya sosok “Aji Saka” merupakan alat hegemoni Belanda yang dalam segi spriritualitas merupakan perwujudan adari apa yang disebut Bambang Noorsena sebagai Kristen Londo.[12] Boleh dikatakan bahwa sebenarnya Aji Saka adalah seorang “Kristen” yang menyaru atau menyamar sebagai orang “India” dengan misi untuk ‘membudayakan’ Jawa atau dengan kata lain merupakan proses penaklukan.

Namun demikian, perubahan terhadap kisah Aji Saka selanjutnya tidak selalu memperlihatkan sikap yang demikian lagi. Kisah Nabi Isa yang ada dalam serat karya Ranggawarsita lebih banyak dibentuk oleh inspirasi konsep-konsep dari Islam, bukannya dari Kristen. Oleh karena itu konsep yang digunakan dalam menggambarkan Nabi Isa juga merupakan konsep Islam, bukan konsep Kristen. Bahkan Noorsena sendiri nampaknya, dengan mengutip pendapat Van Akkeren, mengakui bahwa Aji Saka, dalam cerita tersebut, akhirnya justru masuk Islam dan menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad saw.[13]

Jika diamati dalam buku Philip Van Akkeren, yang dikutip oleh Bambang Noorsena, tersebut justru menyebutkan bahwa dalam karya Ranggawarsita diceritakan bahwa ketika Aji Saka berguru pada Ngusman Ngaji, sang guru tersebut berpesan kepada Aji Saka (nama lainnya dalam cerita: Jaka Sengkala) agar selalu melayani Tuhan dengan jalan mengabdi dan mengikuti ajaran Nabi Terakhir yang akan dilahirkan di Makkah, yaitu Nabi Muhammad saw, bukan menjadi pengikut atau sahabat Nabi Isa. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan Van Akkeren sebagai berikut:

“One day Sengkala asks his spiritual leader to become one of the closer companions of the prophet Isa, in order to increase the peace in his heart. The priest answers: ‘This is cannot allow, because then you would have to devote yourself entirely to the service of the Lord, but that is not your vocation. Providence has intended a long cereer for you. It is intended that you shall populate the long island of Java which lies to the south-east of India. Do not forget my prophecy. Later there will be another prophet from God, the last one, who shall be unequalled, namely Muhammad, the Mesengger of God, who has been given the Light of the world and who will be created in Mecca. You will be his close companion (sahabat).’”[14]

(“Suatu hari Sengkala (=Aji Saka) meminta pemimpin spiritualnya untuk menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi Isa, untuk meningkatkan kedamaian dalam hatinya. Sang Imam menjawab: ‘Hal ini tidak dapat kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya bagi pelayanan Tuhan, tetapi itu bukan panggilanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir yang panjang. Telah ditentukan bahwa engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, yang terletak di sebelah tenggara India. Jangan engkau melupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”).

Dengan demikian, perjalanan Jaka Sengkala atau Aji Saka tersebut bersentuhan dengan Dewa Wisnu, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad, sebenarnya merupakan sebuah kronologi yang diciptakan oleh Ranggawarsita untuk menunjukkan perjalanan hidup Aji Saka sampai pada akhirnya memeluk agama Islam. Pencarian ilmunya yang dilakukan dengan Nabi Isa, bukan menunjukkan bahwa Aji Saka adalah seorang Kristen. Sebab penggambaran sosok Nabi Isa yang digunakan dalam cerita tersebut secara kuat lebih banyak terinspirasi oleh konsep Islam.

Pernyataan Philip Van Akkeren yang kemudian dikutip oleh Noorsena bahwa Ranggawarsita menyisihkan simpati yang besar bagi Kristus[15] (dalam hal ini berhubungan dengan konsep kekristenan) adalah statemen yang menyesatkan. Statemen tersebut didasarkan pada kedekatan hubungan yang terjalin antara Isa dengan Aji Saka. Jika diamati kronologis kisah pertemuan antara Nabi Isa dan Aji Saka dalam karya sastra itu terjadi sebelum masa kelahiran Nabi Muhammad. Jadi, mau tidak mau dia harus bersentuhan dulu dengan ajaran Nabi Isa, salah seorang rasul dalam ajaran Islam, sambil menanti masa kedatangan nabi akhir zaman (Muhammad saw) sebagaimana pesan yang sudah diterima dari gurunya (Ngusman Ngaji). Ranggawarsita sendiri bahkan menggambarkan bahwa Nabi Isa ternyata tidak memiliki kekuatan supernatural yang cukup ampuh. Diceritakan bahwa suatu ketika murid-murid Nabi Isa mendesak beliau untuk membuat burung merpati dari tanah liat yang mengandung gas beracun. Merpati itu kemudian memanggil para Dewa di India untuk menghadap Nabi Isa. Para dewa kemudian menyerang merpati itu namun kalah karena sang merpati digambarkan menggunakan gas beracun yang dimilikinya. Para Dewa yang kalah kemudian melarikan diri ke Jawa. Merpati itu kemudian mengejar para Dewa. Namun pengejaran sang merpati kemudian berakhir karena “ciptaan Isa” tersebut bisa ditembak jatuh oleh Dewa Wisnu di atas pulau Sumatra. Lantas digambarkan bahwa kemudian para Dewa kembali ke India lagi.[16]

Harus dipahami pula bahwa mitologi Aji Saka dalam versi Ranggawarsita tersebut bukan merupakan akhir dari seluruh kisah. R. Tanaya, misalnya seorang pujangga Jawa yang juga banyak memperkenalkan ulang karya-karya Ranggawarsita, justru mengubah versi Aji Saka bukan lagi berasal dari India melainkan tokoh cerita yang berasal dari Arab yang sebelumnya bernama Jaka Sengkala. Hadirnya versi ini menunjukkan bahwa wacana Aji Saka merupakan bagian dari proses transfomasi penting dalam rangka pembudayaan Jawa. Dalam proses pembudayaan tersebut diceritakan bahwa sebelumnya seorang Sultan dari Timur Tengah bernama Sultan Algabah menerima petunjuk agar membudayakan bumi Jawa. Maka sang sultan kemudian mengutus Aji Saka atau Jaka Sengkala untuk memimpin rombongan beranggotakan 20.000 orang. Namun rombongan tersebut kemudian banyak yang mati akibat wabah penyakit dan hanya tersisa beberapa ratus orang saja yang kemudian kembali ke negara asalnya. Maka kemudian Aji Saka diceritakan memimpin kembali ekspedisi kedua yang didampingi oleh Patih Amiru Syamsu. Misi kedua ini nampaknya berhasil. Kemudian Sultan Algabah melanjutkan dengan ekspedisi ketiga untuk membudayakan Jawa di bawah pimpinan Said Jamhur Muharram yang langsung menuju ke Kediri, Jawa Timur.[17] DR. Ismail Hamid, pakar sastra di University Kebangsaan Malaysia, menggarisbawahi bahwa dalam Serat Aji Saka Angajawi bahkan diperoleh gambaran tentang Aji Saka sebagai pengikut Nabi Muhammad saw yang datang dari Makkah dan berangkat ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Agama Islam.[18]

Keberadaan cerita  di atas menunjukkan bahwa proses-proses untuk menghegemoni Jawa dengan memperkenalkan mitos syarat kepentingan, sebagaimana dilakukan oleh Belanda, tidak selalu akan berhasil. Justru dalam karya sastra Jawa kemudian muncul sebuah ‘perlawanan’ dari dalam. Wujud perlawanan tersebut menempatkan Arab yang identik dengan Islam sebagai simbol pembudayaan tanah Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sudah sedemikian lekat di hati orang Jawa. Cerita Aji Saka yang pada awalnya digunakan sebagai alat untuk mengukuhkan teori Indianisasi, pada akhirnya justru mengalami Jawanisasi. Proses Jawanisasi yang berlangsung tersebut tidak lain adalah proses Islamisasi. Sehingga tidak salah jika diungkapkan bahwa jiwa Jawa adalah Islam.

Pengungkapan mitologi yang dilakukan oleh Bambang Noorsena bukan saja tidak mendapatkan jalan keluar yang sesuai dengan harapannya, namun juga kurang lengkap dan tidak tuntas. Bambang Noorsena hanya berhenti pada kisah mitosnya saja, sebab hal itu dimungkinkan memberikan “keuntungan” dengan pendekatan yang dilakukannya. Padahal inti sebenarnya dari mitos tersebut justru terletak pada Aksara Jawa yang dalam mitologi tersebut dianggap sebagai ciptaan sang Aji Saka. Di atas telah disebutkan bahwa Aksara Jawa “yang diciptakan” Aji Saka berjumlah 20 buah, karena disesuaikan dengan kerangka mitologi yang diciptakan. Namun menurut Zoetmulder yang dikutip oleh Hadiwaratama, jika dihitung sebenarnya aksara Jawa jumlahnya lebih dari 50 buah.[19]

Diantara aksara yang berjumlah lebih dari 50 buah tersebut terdapat kumpulan huruf yang disebut sebagai Aksara Rekan. Aksara Rekan yaitu huruf yang digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari Bahasa Arab. Huruf yang disebut Aksara Rekan tersebut antara lain adalah kha, dza, fa, za, dan gha.[20] Dengan menggunakan huruf-huruf tersebut maka aksara Jawa dapat dengan mudah digunakan untuk menuliskan istilah-istilah yang berasal dari konsep Islam seperti khabar, faham, zakat, dzikir, ghanimah, dan lain sebagainya.

Penyesuaian yang dilakukan Aksara Jawa untuk bisa menerima sejumlah pelafalan yang ada dalam huruf Arab ini menunjukkan, bahwa manusia Jawa pada dasarnya bisa dan siap menerima Islam lengkap dengan sejumlah terminologi yang dimilikinya. Kalangan orientalis penganut “teori pengaruh” yang menganggap bahwa Islam di Jawa telah mengalami “penundukan” oleh konsep–konsep Jawa pra-Islam, tentu akan mengalami kebuntuan ketika menghadapi fenomena ini. Bambang Noorsena juga tidak bisa menyatakan bahwa hal ini merupakan bukti bahwa  Islam ketika berada di Jawa sebelumnya telah terpengaruh oleh ajaran Hindhu dan Budha. Jelas-jelas, perkembangan aksara Jawa ini menunjukkan proses keberterimaan Jawa terhadap Islam.

Jika teori Aji Saka di atas masih hendak dipaksakan sebagai titik temu antara Kejawen dan Kristen, maka mestinya juga terjadi sebuah konsekuensi logis terhadap aksara Jawa. Misalnya saja, aksara Jawa kemudian bisa secara tepat digunakan untuk menuliskan sejumlah istilah-istilah dari Barat atau nama-nama yang berhubungan dengan ajaran Kristen. Sebut saja misalnya kata-kata Christ, Xaverius, Ximenes, Jehovah, Vatican, dan lain sebagainya ternyata tidak dapat ditulis dengan tepat dalam aksara Jawa. Seandainya tetap dipaksakan ditulis sekalipun, maka kata-kata tersebut hurufnya akan “ditundukkan” dan luluh mengikuti aturan penulisan Aksara Jawa. Lebih jelasnya, kedatangan Kristen di nusantara sama sekali tidak mampu dan tidak bisa memperkaya Aksara Jawa, sebagaimana kedatangan Islam. Hal ini seperti mengingatkan kepada pernyataan Mark R. Woodward, bahwa kekristenan hanya memainkan peran kecil dalam kehidupan keagamaan di Jawa dan praktik-praktik yang dilakukan cenderung mendekati kesyirikan.[21] Jadi, upaya yang dilakukan oleh Bambang Noorsena untuk mengambil benang merah antara kisah Aji Saka sebagai titik pertemuan antara Jawa dan Kristen, hakikatnya hanyalah sebuah fenomena “mengaku-aku” sebagaimana yang sering kita jumpai ada dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu terdapat juga kenyataan bahwa sebagian orang Jawa pada masa lalu  juga memiliki aksara yang lain yaitu Huruf Pegon. Huruf Pegon ini merupakan sejumlah karakter huruf Arab yang telah disesuaikan sehingga bisa digunakan untuk menulis dalam Bahasa Jawa. Hal ini juga menunjukkan penerimaan yang lain orang Jawa dalam proses Islamisasi yang terjadi. Fenomena Huruf Pegon ini sebenarnya bukan sekedar terjadi di Jawa saja melainkan berbagai tempat di nusantara. Dalam kebudayaan Melayu penyesuaian huruf Arab dengan bahasa setempat menghasilkan apa yang disebut sebagai tulisan Jawi. Kata Jawi ini merupakan sebutan yang biasanya diberikan oleh orang Arab kepada penduduk di kepulauan nusantara.[22]

Aji Saka berubah menjadi cerita Islam dan keberterimaan Aksara Jawa terhadap lafal dari huruf Arab merupakan isyarat bahwa meskipun entitas Jawa terlihat sinkretis namun tidak bisa melepaskan Islam. Agama ini merupakan jiwa Jawa yang sebenarnya.

MANIPULASI DAN MANIPULASI

Apa yang diklaim oleh Bambang Noorsena sebagai titik temu antara Kristen dan Kejawen dalam kisah mitologi Aji Saka di atas, sebenarnya adalah bentuk hasil pertemuan antara Islam dan Jawa. Keberadaan Islam di tanah Jawa telah berperan mengajarkan dan memperkenalkan kisah-kisah tentang para Nabi dan Rasul, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Kisah inilah yang kemudian diolah oleh Ranggawarsita untuk menghasilkan karya-karyanya, termasuk Serat Paramayoga yang menceritakan tentang Nabi Isa. Jadi, kisah dalam Serat tersebut sebenarnya lebih tepat diambil berdasarkan inspirasi dari konsep Islam, bukannya Kristen. Oleh karena itu tulisan Bambang Noorsena tersebut bisa dianggap sebagai karya yang mengada-ada belaka sekaligus memaksakan data agar sesuai dengan kehendaknya.

Membaca karya Noorsena tersebut memang memerlukan kehati-hatian. Sebab Bambang Noorsena bukan sekedar melakukan manipulasi melalui serangkaian argumentasinya. Dalam beberapa tempat ia juga “mengakali” sumber referensi yang digunakan. Sebut saja misalnya ungkapan Noorsena ketika menilai karya B.M. Schuurman yang berjudul “Pambijake Kekeraning Ngaurip”, ia menulis: “Meskipun dalam karya dogmatiknya ini Schuurman cukup mengkritisi Kawruh Jawa, tetapi dengan mengambil Layang Dewa Ruci, ia telah menemukan kunci untuk memasuki “pandangan dunia Jawa”. Di sini, pengijilan Kristen menapaki jalan yang sama yang pernah ditempuh dakwah Islam sebelumnya.”[23]

Dalam tulisannya, Bambang Noorsena menyatakan bahwa Schuurman telah menemukan kunci untuk masuk ke dalam alam pikiran Jawa dengan menggunakan Layang Dewa Ruci. Padahal dalam halaman 194 hingga 195 dari bukunya yang berjudul “Pambijake Kekeraning Ngaurip”, B. M. Schuurman justru mengungkapkan bahwa isi Layang Dewa Ruci tersebut sangat tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang menekankan pokok ajarannya pada dosa warisan.[24] Perlu diketahui halaman yang penulis sebutkan tersebut merupakan satu-satunya tempat yang membahas tentang Layang Dewa Ruci dalam karya Schuurman. Dengan demikian hal ini merupakan sebuah bentuk pemalsuan sumber rujukan atau referensi.

Membaca tulisan Bambang Noorsena memang harus diperlakukan sebagaimana mencermati karya-karya orientalis. Sebab meskipun Noorsena dianggap mengembangkan wacana Kristen Timur, dalam hal ini kekristenan Syiria, namun kerangka berfikir dan metodologi yang dimilikinya sepenuhnya mewakili entitas worldview Barat yang parsial, spekulatif, dan dikotomis. Hal yang harus diperhatikan juga dalam membaca karya Noorsena, maupun produk orientalis, pembaca harus memiliki buku yang digunakan sebagai rujukan oleh mereka. Hal ini sebagai sebuah antisipasi agar pembaca tidak diarahkan pada klaim yang sarat kepentingan dan manipulasi sumber referensi.

Lepas dari klaim, manipulasi, dan metodologi terapan yang kurang diperhatikan dalam karya “Menyongsong Ratu Adil: Perjumpaan Kristen dan Kejawen”, karya Bambang Noorsena tersebut tetap harus dihargai, sebab Noorsena hanya mencoba melaksanakan ajaran agamanya secara murni dan konsekwen. Ia nampaknya hanya menjalankan ajaran bahwa : “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat”.[25] Oleh karena itu ketika berhadapan dengan orang Jawa, juga harus nampak “njawani”. Demikian juga: “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?”.[26]


FOOTNOTE


[1] Karel Steenbrink. Dutch Colonialism and Islam in Indonesia: Conflict and Contact 1596-1950. Edisi Indonesia: Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942).  Penterjemah oleh Drs. Suryan A. Jamrah, MA. (Penerbit Mizan, Bandung, 1995). Hal. 162

 

[2] Karel Steenbrink. Kawan dalam pertikaian. Hal 164

[3] Lihat Philip Van Akkeren. Sri and Christ : A Study of Indigenous Church in East Java. (Lutterworth Press, London, 1969). Hal. 17-22

[4] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 1

[5] DR. Harun Hadiwijono. Kebatinan dan Injil. Cetakan IV. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1982). Hal. 163

[6] Lihat DR. C. Groenen. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru. Cetakan II. (Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1986). Hal. 19-26. Ayat-ayat Perjanjian Baru sendiri menunjukkan bahwa nama “Kristen” telah dikenal sebelum penulisan karangan-karangan yang kemudian menjadi bagian dari kitab tersebut. Ayat yang dimaksud menceritakan tentang keberadaan Jamaah Kristen awal, antara lain dapat dicermati dalam Kis. 11: 26, 26: 28; Rm. 16:7; dan 1 Ptr. 4:16. Penyebutan nama Kristen ini menunjukkan bahwa karangan-karangan tersebut baru ditulis pada masa setelah keberadaan Jamaah Kristen, pada masa setelah kehidupan Yesus.

[7] Lihat Footnote Bambang Norsena. Menyongsong … Opcit. Hal. 10. Footnote Bambang Noorsena ini sejalan dengan tulisan Dr. C. Groenen, pakar Teologi. Groenen meriwayatkan bahwa awalnya Ibrani yang tidak diketahui identitas pengarangnya ini memang tidak dianggap sebagai kitab suci. Surat Ibrani ini hanya dianggap sebagai karya sastra atau prosa yang berwibawa saja, bukan bagian dari bacaan suci. Baru sekitar tahun 200 M, Patenus, seorang pujangga gereja di Alexandria mengakui bahwa Ibrani merupakan kitab suci karangan Paulus. Dasar yang digunakan oleh Patenus dalam penetapan tidak jelas hingga hari ini. Sekitar 225 M, Origenes menyebutkan bahwa hanya Tuhan saja yang mengetahui penulis Ibrani. Namun meskipun demikian sampai tahun ini, Ibrani belum pasti apakah dianggap masuk sebagai kitab suci atau tidak. Hingga tahun 330 M, umat Kristen kawasan timur menerimanya sebagai kitab suci karangan Paulus. Namun demikian sampai sekitar 400 M, Hieronimus masih mengetahui bahwa orang-orang Roma tidak bersedia menganggap Ibrani sebagai kitab suci dan karangan Paulus. Hieronimus sendiri menerimanya sebagai kitab suci meskipun meragukannya sebagai karangan Paulus. Kemudian baru pada abad kelima, Ibrani diterima umum sebagai kitab suci karya Paulus. Namun keyakinan ini mulai diragukan dengan datangnya era Reformasi pada abad keenam belas. Tradisi yang menganggap Ibrani sebagai karangan Paulus ternyata sangat lemah dan tidak didukung oleh karangan itu sendiri. Karangan ini sebenarnya lebih dekat pada tradisi Yohanes dibandingkan tradisi Paulus. Mengingat kehalusan bahasa dan kemahiran mengarang bias dipastikan penulisnya sangat menguasai dan hidup dalam kebudayaan Yunani. Penulis Ibrani juga diyakini sangat menguasai Perjanjian Lama dalam Bahasa Yunani, sehingga disimpulkan bahwa ia pastilah seorang Kristen keturunan Yahudi. Selengkapnya baca Dr. C. Groenen, OFM. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru … Ibid. Hal. 318-322

[8] Di zaman umat Kristen berdebat-debat mengenai Allah Tritunggal, sangat terasa bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ditemukan suatu nas yang jelas mengungkapkan dogma itu, sehingga mudah dapat dipindahkan dalam alam pikiran filsafat dan teologi Yunani. Maka suatu nas “trinitas” yang jelas dibuat dan dimasukkan ke dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Nas itu ialah yang lazim disebut “Comma Johanneum” (1 Yoh 5:7 menurut Vlg.). Sejak abad IV nas itu muncul, mula-mula di daerah negeri Spanyol. Nas itu menyusup ke dalam naskah-naskah terjemahan Latin (Vlg. Naskah-naskah terjemahan Latin yang paling tua belum memuat 1 Yoh 5:7). Akhirnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani dan disisipkan juga ke dalam naskah-naskah Yunani. Tetapi naskah-naskah yang memuat 1 Yoh 5:7 semua dari zaman belakangan. Lihat DR. C. Groenen, OFM. “He Dynamis Tou Pneumatos” : Kitab Suci tentang Roh Kudus dan Hubungannya dengan Allah Bapa dan Anak Allah. (Lembaga Biblika Indonesia-Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982). Hal. 64

[9] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 328

[10] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 209

[11] DR. Andrik Purwasito, DEA. Imajeri India: Studi Tanda dalam Wacana. (Pustaka Cakra, Surakarta, 2002). Hal. 38-39

[12] Lihat Bambang Noorsena. Menyongsong Ibid. Hal. 43

[13] Bambang Noorsena. Menyongsong ….Ibid. Hal. 210

[14] Philip Van Akkeren. Sri and Christ : A Study of Indigenous Church in East Java. (Lutterworth Press, London,1970). Hal. 46

[15] Lihat Philip Van Akkeren. Sri and … Ibid. Hal. 48. Dikutip oleh Bambang Noorsena. Menyongsong … Opcit. Hal. 210

[16] Lihat Philip Van Akkeren. Sri and  … Ibid. Hal. 47

[17] Lihat pembahasan lebih lanjut dalam DR. Andrik Purwasito, DEA. Imajeri …. Hal. 51-52

[18] Lihat DR. Ismail Hamid. Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam. (Penerbit Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1989). Hal. 19

[19] Hadiwaratama. Yektosipun Aksara Carakan. Dalam Majalah SASMITA No. 7 Tahun II-April 2008. Hal. 39

[20] Lihat T. Hadisoebroto.  Aksara Djawa : Tatanan Panulise Basa Djawa Nganggo Aksara Djawa lan Latin. (NV. Penerbit Pantjawarna, Surakarta, 1956). Hal. 29

[21] Mark R. Woodward. Islam in Opcit. Hal. 129

[22] Lihat Syed Muhammad Naguib Al-Attas. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. (Penerbit University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972). Hal. 40-43

[23] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 5

[24] Lihat tulisan DR. B. M. Schuurman. Pambijake Kekeraning Ngaurip. Cetakan III. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1968). Hal. 194-195. Pengutipan di atas telah disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan sebagai berikut (Pengutipan di atas telah disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan) :

Yen miturut rasa Jawa Kuna pernahing kalakuane manungso karo Karsaning Pangeran iku diumpamakake kaya dene wayang ana ing astane dalang. Umpama ing layang Dewa Ruci asurasa mangkene:

“Lir wayang sarireku/ saking dalang polahing ringgit/ minangka panggung jagad/ kelir badanipun/ amolah lamun pinolah/ sapolahe kumedep lawan ningali/ tumindak saking dalang/ Kang Amisesa (benere: kawisesa) amisesa sami/ datan antara pamoring karsa/ jer tanpa rupa-rupane/ wus ana ing sireku”

Dadi terang yen miturut rasa iku, dosa ora ana, awit apa kang dilakoni dening manungsa, iku Pangeran Allah kang nglampahi uga.

…..

Mulane pada diawas, sing sapa nderek marang Gusti Yesus, iku wis ora bisa ngrojongi ing penganggep iku mau. Awit yen nderek marang Gusti Yesus kang dadi pratanda wiwitan, iya iku panalangsa lan prihatin ing ati ana ing pangayunane Pangeran Allah, karana panggawe- panggawene kang wis dilakoni wiwit cilik mula, ora mung kang cara lair dalah cara batin uga. Mula banjur duwe atur marang pangeran  kayadene prabu Dawud ing Ms 51:5 mangkene: Awitdene kawula ngarosaken ing panerak kawula saha dosa kawula tansah wonten ngajeng kawula.”

[25] I Korintus 9: 20

[26] Roma 3 : 7

 

sumber : klik


Di antara keunggulan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya. Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat.

Barat juga telah memunculkan sejumlah karya tulis yang menunjukkan kecemasan yang sama. Di antaranya adalah karya Robert Morey bertitle “ Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion”. Dari judulnya saja telah nampak sebuah wajah “ketakutan”. Hatta buku tersebut dikemas dengan “bergaya” sebagai karya tulis ilmiah, namun senyatanya isinya tidak seilmiah kemasannya. Motif kebencian dan islamophobia sedemikian menyeruak dan nampak berpengaruh terhadap obyektifitas kajian, tentu saja jika Barat masih mau berfikir tentang subyektif, obyektif, atau pun netralitas. Tidak mengherankan jika sejumlah kalangan muslim meminta buku tersebut dibredel dari peredaran. Namun menurut hemat penulis tindakan demikian kurang bijaksana. Justru buku tersebut merupakan sebuah simbol, asset, dan bukti monumental “kebencian” Barat yang katanya humanis. Fungsinya sebagai salah satu pijakan untuk melihat salah satu struktur dan pola pikir Barat dalam melihat Islam. Pada giliran selajutnya membalikkan keadaan dan akan semakin nampak keunggulan konsep Islam di antara yang lain.

Dalam salah satu tulisannya, Morey mempermasalahkan posisi Maryam dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 73-75 dan 116. Al Quran, dalam pandangan Morey, mengandung kesalahan kosep dalam mengungkapkan doktrin trinitas Kristen. Muhammad, tulis Morey, secara keliru menganggap bahwa umat Nashrani menyembah 3 (tiga) tuhan yaitu : Bapa, Ibu (Maryam), dan Anak (Isa).[1] Guna memperkuat argumentasinya, Morey juga mengutip pendapat Richard Bell dan Encyclopaedia Britanica yang menegaskan bahwa Al Quran memiliki kesalahan konsep tentang trinitas dan Muhammad sebagai penulis Al Quran kurang memahami hal tersebut.[2] Morey menambahkan bahwa umat Kristiani tidak pernah mengimani tiga Tuhan dan Maria bukan merupakan salah satu oknum dalam ketuhanan Trinitas sebagaimana konsep dalam Al Quran. Morey sendiri nampaknya telah menjadi sedemikian yakin dengan argumentasinya yang didukung oleh sejumlah ‘kebingungan’ penulis dari kalangan Islam tentang tafsir ayat tersebut.

Lantas, benarkah Al Quran telah salah ketika menyebutkan bahwa Maryam pernah disembah sebagai tuhan ?

 

FAKTA YANG DILUPAKAN

Ayat al Quran yang dipermasalahkan oleh Robert Morey adalah Surat Al Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut :

73. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

74. Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

75. Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).

 

Juga ayat dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 116 sebagai berikut :

 

116. Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

 

Permasalahan pertama yang akan penulis bahas terkit dengan konsep penyembahan terhadap Maryam dalam dunia Kristen. Robert Morey secara tegas telah menolak posisi Maryam sebagai salah Tuhan dan satu satu oknum ketuhanan trinitas. Nampak bahwa Morey telah mempersulit dirinya sendiri pada tahap awal dengan menempatkan realsi antara penuhanan Maryam dengan keanggotaannya sebagi salah satu oknum trinitas.

Senada dengan Morey, Geoffrey Parrinder menyatakan bahwa ayat Al Quran Surat Al Maidah ayat 116 adalah sulit dipahami dalam kekristenan. Menurut Parrinder pada abad V, Nestorius, seorang bangsawan Konstantinopel, telah memprotes penggunaan gelar ”ibu Tuhan” (theotokos, god-bearer) yang berkembang dan diterapkan kepada Maryam. Nestorius menyatakan, seharusnya digunakan kata ’ibu manusia’ Yesus (anthropotokos); ibu Kristus (cristo-tokos). Nestorius juga tidak bersedia mengakui penggunaan frase seperti itu yang berarti bahwa ”Tuhan telah dilahirkan” dan ”Tuhan telah mengalami penderitaan” sebagaimana banyak digunakan pada hari ini. Nestorius mengajarkan bahwa Yesus adalah organ bejana dan kuil bagi anak Tuhan. Karena pemahaman inilah maka gereja Nestorian akhirnya terpisah.[3]

Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, nampaknya juga memberikan pengakuan bahwa bentuk pseudotrinity yang terdiri dari Allah, Isa, dan Maryam adalah sebuah realitas yang pernah terjadi. Namun Noorsena membatasi bahwa reaksi Al Quran yang kerap kali krisi terhadap sejumlah keyakinan Kristen, tidak semua didasarkan atas kekristenan yang orthodoks. Penilaian Islam tentang Kristen, menurut Noorsena, tidak ditujukan pada kekristenan yang lurus dan benar, namun lebih ditujukan kepada praktik-praktik sekte-sekte Kristen yang sesat dan menyimpang (heterodoks).[4] Hakikatnya, Noorsena mengakui bahwa praktik penuhanan terhadap pribadi Maryam bukanlah sebuah omong kosong, namun merupakan fakta historis.

Sebagai sebuah realitas historis, sisa-sisa penyembahan terhadap Maryam masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Polandia, bahkan Inggris Raya dan Perancis Selatan, menurut survey yang dilakukan oleh Ean Begg pada tahun 1985, masih ditemukan patung bunda Maria yang berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan black virgin atau Black Madonna.[5] Patung tersebut sengaja dibuat untuk dipuja atau disembah sebagai tuhan. Bahkan patun-patung tersebut selalu diasosiasikan dengan sejumlah situs pemujaan kaum pagan dari masa yang jauh lebih kuno.[6] Ditengarai bahwa penyembahan terhadap pribadi Maria merupakan hasil proses adopsi dan perkembangan dari pemujaan terhadap sejumlah dewi pagan yang memiliki kisah kehidupan sama persis dengan kisah Yesus dan Ibunya, Maria.

Dalam kebudayaan paganisme dikenal Bacchus (Dionysius) yaitu dewa matahari Yunani yang lahir dari kandungan seorang perawan bernama Demeter yang mengandung dari benih Dewa Jupiter tanpa hubungan badan. Bacchus lahir pada tanggal 25 Desember dan terbunuh untuk menebus dosa manusia. Dikisahkan pula bahwa Bacchus kemudian bangkit kembali dari kematiannya.[7]

Bangsa Mesir juga mengenal Osiris, dewa matahari yang lahir pada 25 Desember dari kandungan seorang perawan yang disebut ’Perawan Dunia’. Osiris memiliki 12 orang murid. Salah satu muridnya yang bernama Typhone berkhianat hingga menyebabkan kematian Osiris. Setelah bersemayam selama tiga hari dalam kuburnya, Osiris bangkit kembali dari kematiannya. Ia diyakini sebagai inkarnasi Tuhan dan merupakan salah satu dari oknum trinitas 3 Dewa di Mesir.[8]

Demikian juga dalam cerita mithologi yang lain tersebutlah Mithra yang lahir pada tanggal 25 Desember. Memiliki pemujaan yang dilakukan setiap hari Minggu. Mithra adalah seorang juru selamat yang menebus dosa manusia. Dia tidak disalib namun mengurbankan lembu suci yang darahnya mensucikan dan menebus dosa manusia. Lembu itu tidak lain adalah inkarnasi dari sang Mithra sendiri. Perayaan Mithra biasanya ditandai dengan keberadaan pohon terang.

Penyembahan terhadap sosok ibu Tuhan umumnya terjadi dalam kepercayaan pagan yang dsebutkan di atas. Masing-masing wilayah penyembah paganisme memiliki Tuhan Ibu dan Anak. Di Jerman, Hertha disembah sebagai ibu suci dengan anak dipangkuannya. Di Scandinavia, Disa disembah sebagai tuhan ibu dengan anak dipangkuannya juga. Sedangkan di Romawi purba, Venus atau Fortuna juga dipuja sebagi tuhan Ibu bersama Jupiter anaknya.[9]

Ralph Edward Woodrow dalam buku Babylon Mysteri Religion mengutip buku Frazer, The Golden Bought Volume 1 Halaman 356 menjelaskan fakta bahwa penyembahan terhadap Tuhan Ibu dan Tuhan Anak telah menyebar dan merasuk kepada masyarakat kerjaan Romawi dan sekitarnya. Hal tersebut iungkapkan oleh Woodrow sebagi berikut:

The Worship of Great Mother … very popular under the Roman Empire, unscriptions prove that the two (the mother and the child) receive divine honors, … not only in Italy and especially at Rome, but also in the provinces, particularly in Arican, Spain, Portugal, France, Germany, and Bulgaria”.[10]

Akibatnya bisa dipastikan, penyembahan Tuhan Ibu dalam Kristen tidak dapat dihindari setelah para penyembah berhala dari Romawi, Yunani, Babilonia, dan Mesir memeluk ajaran Kristen. Dalam agama barunya tersebut para mantan penyembah berhala tidak mendapatkan penylurn yang sesuai dengan semangat penyembahan Tuhan Ibu. Padahal mereka belum dapat sepenuhnnya meninggalkan ajaran paganisme. Woodrow menulis bahwa kompromi pun terjadi, pihak gereja mencarikn padnan terhadap figure ibu yang disembah oleh kaum mantan kaum pagan dalam khazanah kekristenan. Tuhan Ibu yang dimaksud tidak lain adalah Maria, Ibu Yesus.

One of the best example of such a carry over from paganism may be seen in the way the worship o the great mother continued – only in a slightly different form and with a new name. You see many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess, they could greatly increase their numbers … but who could replace the great mother of paganism ? Mary, of course was the most logical person for them to choose … little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transferred to Marry”.[11]

Maka tidak mengherankan pasca munculnya kritik Nestorius yang menolak istilah “bunda Tuhan”, gereja justru mengukuhkan posisi Maria sebagai Theotokos atau Ibu Tuhan dalam Konsili Efesus tahun 431 M. Salah satu butir yang dihasilkan dalam konsili tersebut adalah sebagai berikut : “Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur adukkan, kami mengaku bahwa anak dara kudus adalah theotokos (bunda Allah), karena Allah Firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada diri-Nya bait yang diambil daripadanya (Maria)”.[12]

Berdasarkan informasi Ibnu Patrick, seorang sejarawan dan padri Kristen, menjelang Konsili Nicea 325 M dari jumlah peserta keseluruhan 2.048 orang terdapat sebagian peserta dari mahzab Mariamites dan Remitim yang berpendapat bahwa Yesus dan Ibunya adalah 2 (dua) Tuhan selain Bapa.[13] Selain itu terdapat aliran Ebionit yang secara jelas juga memuja Maria sebagai Tuhan Ibu. Penganut aliran Ebionit dikenal sebagai aliran yang para penganutnya menggunakan bulu domba sebagai pakaian. Bulu domba tersebut dikenakan agar mereka dapat hidup dalam kesederhanaan. Dalam hal ini tradisi mereka mengenakan kulit domba sebagai pakaian mirip dengan tradisi kaum sufi generasi awal dalam Islam yang menutamakan kezuhudan. Gambaran tentang cara berpakain kaum Ebionit ini dapat kita lihat kemiripannya dengan kisah Perjanjian Baru dalam Ibrani 11: 37.

Tentang apakah penyembahan terhadap Maria adalah bentuk Kekristenan heterodoks yang menyimpang maka biar waktu yang akan menentukan. Sebab sejumlah pertarungan keyakinan yang medasar dalam dunia Kristen bahkan belum selesai hingga hari ini. Sebut saja pertarungan antara kaum Trinitarian dan Unitarian. Satu pihak mengakui trinitas dengan sejumlah argumentasinya dan dipihak lain menolaknya dan menganggap bahwa Yesus hanya seorang nabi dan bukan Tuhan. Sedangkan bagi seorang penganut Kristen, terkait masalah penyembahan dan Ketuhanan Maria tentu akan lebih menguntungkan jika hal ini terhapus saja dari ingatan sejarah. Masalah trinitas yang diakui mayoritas dunia Kristen hari ini juga bukan tanpa cacat sejarah. Konsili Nicea pada 325 Masehi, menurut informasi Ibnu Patrick, dihadiri oleh 2.048 orang peserta yang terdiri diri para uskup. 318 (tiga ratus delapan belas) orang diketahui sebagai pendukung konsep ketuhanan Yesus. Sedangkan 700 (tujuh ratus) orang uskup merupakan pendukung Arius yang menolak hakikat ketuhanan Yesus, dan sisanya memiliki sejumlah kepercayaan yang berbeda termasuk yang mempercayai Ketuhanan Maria. Namun, anehnya berkat prakarsa Kaisar Konstantin, hanya pendapat 318 orang (pendukung ketuhanan Yesus) tersebut yang kemudian dimenangkan. Jelas kaisar Konstantin telah emerankan agnda politik pribainya dengan sukses.

Lantas dimana letak kesalahan atau miskonsepsi Al Quran tentang trinitas Kristen ? Al Quran jelas dalam ayat tersebut tidak membahas tentang trinitas. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari upaya Robert Morey dalam menyudutkan Islam. Namun jawaban atas pertanyaan ”apakah Al Quran telah salah ?” jawabannya adalah ”Tidak !”. Justru kehebatan Al Quran adalah mampu memberikan isyarat bagi pengungkapan kebenaran sejarah, dimana dunia pun telah berusaha secara maksimal untuk melupakannya.

 

PENUTUP

Tuduhan Robert Morey bahwa Al Quran memiliki kesalahan konsepsi tentang trinitas terbukti tidak benar. Konsep Trinitas dalam dunia Kristen sendiri mengalami perkembangan dari masa ke masa termasuk bersentuhan dengan sejumlah peradaban dan kepercayaan lainnya. Kebenaran lain yang terungkap justru teletak pada ketidakbenaran pemahaman Morey terhadap sejarah agamanya sendiri. Sehingga bukunya ”Islamic Invasion” sering diwarnai dengan pemahaman yang tidak berdasar. Sebuah pemikiran yang hanya lahir didasarkan pada kebencian fanatis yang menutup semua bentuk akal waras.


[1] Robert Morey. Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal 185

[2] Robert Morey. Ibid. Hal. 186

[3] Geoffrey Parrinder. Yesus dalam Quran. (Terj. oleh Ali Masrur, ett. all). (Bintang Cemerlang, Yogyakarta, 2002). Hal. 88

[4] Bambang Noorsena. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Cetakan IX. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001). Hal. 6-7

[5] Burton L. Mack. The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins. (Element Books, Shaftesbury, 1994). Hal. 51 dalam Lynn Picknet and Clive Prince. The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ. Edisi Indonesia : The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (Serambi, Jakarta, 2006). Hal. 121

[6] Lynn Picknett dan Clive Prince. Ibid. Hal. 33

[7] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Kristen dan Agama Berhala. (Modus Vol. 1 No. 9 Th. II/2004). Hal. 46

[8] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Ibid. Hal. 46

[9] Tim Redaksi. Tuhan Ibu dan Ibu Tuhan. (Modus Vol. 1 No. 5/Th. II/ 2004). Hal. 25

[10] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 26

[11] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 28

[12] Tony Lane. The Lion Concise Book of Christian Thought. (Lion Publishing, England, 1984). Edisi Indonesia : Runtut Pijar Pemikiran Kristiani. Terjemah oleh Conny Corputy. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 47

[13] Prof. Sjech Abuzahrah. Muhadlarat fi an Nasrabiyah. Edisi Indonesia: Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1969). Hal. 140. Juga DR. Rauf Syalabi. Ya ahl al Kitab Ta’alaw ila kalimat sawa’. Edisi Indonesia: Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. (Pustaka Alkautsar, Jakarta, 2001). Hal. 127

 

Sumber  klik