Arsip untuk Maret 25, 2011


Dari masa-kemasa semua  Para penginjil yang membutakan diri terhadap keabsahan Amanat Agung, mengajarkan Iman Kristiani tentang: Firman adalah Tuhan, kemudian Firman itu menjadi manusia bernama Yesus, dan Yesus itu adalah Firman yang Hidup. Dapatkah pengajaran ini dipercaya sebagai ajaran Tuhan?

Doktrin ini berdasarkan pada Yohanes 1:1-18 yang berbunyi:

(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. (3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. (4) Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. (5) Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (6) Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; (7) ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. (8) Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. (9) Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. (10) Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. (11) Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (12) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (13) Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (15) Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (16) Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; (17) Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (18) Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Ayat-ayat Yohanes 1:1-14 berasal dari hymne Platonis yang diperkenalkan oleh Philo dari Alexandria ini. Bunyi kalimat pertama adalah:

“Pada mulanya adalah Logos (firman), Logos (firman) itu bersama dengan Tuhan, dan Logos (firman) itu berasal dari Tuhan.”

Penyalin Kitab Yohanes kemudian mengadopsi hymne ini dan menempatkannya sebagai pembukaan Injil Yohanes, lalu merubah kalimat: “Logos itu berasal dari Tuhan” menjadi “Firman itu adalah Tuhan.”

Pencaplokan ajaran Platonis oleh penyalin Injil Yohanes ini, dijelaskan oleh bapa gereja Santo Agustinus dalam bukunya The Confession of St. Augustine di bawah sub judul ‘Kitab Suci dan Filsafat Penyembah Berhala’ sebagai berikut:

“…Book of the Platonis that had been translated ou of Greek into Latin. In then I read, not indeed in these words but much the same thought, enforced by many varied arguments that: In the beginning was the word, and the word was with God and the word was God. All things were made by him, and without gim nothing was made.”

“… Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Di dalamnya saya baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya sama, didukung dengan berbagai argumen bahwa: Pada mulanya adalah firman, dan firman itu bersama Tuhan, dan firman itu adalah (dari) dari Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan.”

Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal. 203, memperkuat pendapat bahwa Yohanes 1:1-18 bukanlah bagian Injil Yohanes, melainkan karya lepas yang kemudian dimasukkan menjadi pembuka kitab Yohanes tersebut:

“John 1:1-18; “The prologue is a hymn, formally poetic in style – perhap originally an independent composition and only later adapted and edited to serve as an overture to the Gospel.”

“Yohanes 1:1-18; pembukaan ini merupakan hymne berbentuk syair – mungkin berasal dari karya bebas, yang kemudian baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai pembuka Injil.”

Para penginjil juga memperkenalkan konsep ketuhanan Trinitas yang ternyata sama sekali tidak akan pernah kita temukan dalam Alkitab, kecuali pada surat kiriman Yohanes pertama 5:6-8 yang ayat-ayatnya juga diakui palsu oleh pihak Gereja sendiri.

Ayat tersebut berbunyi:

(6) Inilah dia yang datang dengan air dan darah, Yesus Kristus. Ia tidak datang dengan air saja, melainkan dengan air dan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.

(7) Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

(8) Dan Ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Pada edisi Indonesia, sebelum mendapat kritikan, kalimat mulai dari kata “di sorga” pada ayat 7 sampai kata “di bumi” pada ayat 8, tidak diberi tanda kurung. Tetapi setelah mendapat kritikan tajam dari kalangan gereja sendiri, kalimat tersebut diberi kurung sebagai tanda bahwa ayat itu merupakan tambahan belaka.

Edisi Indonesia ini bisa dibandingkan dengan The Holy Bible New International Version yang berbunyi:

(6) This is the one who came by water and blood – Jesus Christ. He did not come by water only, but by water and blood. And it is the spirit who testifies, because the spirit is the truth.

(8) The spirit, the water and blood. And three are in agreements.

(7) For there are three that testify.

Kasus pemalsuan ayat ini mendapat tanggapan dari para tokoh gereja sendiri seperti Dr.G.C. Van Niftrik dan D.S. B.J. Boland dengan mengatakan:

“Di dalam Alkitab tidak diketemukan suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata “Tritunggal” atau pun ayat-ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut, mungkin terdapat dalam I Yahya (Yohanes) 5:6-8. Tetapi sebagian besar dari ayat itu agaknya belum tertera dalam naskah aslinya. Bagian itu setidak-tidaknya harus diberi kurung.”

Begitu pula Jerry Falwell, tokoh Kristen radikal terkemuka di Amerika Serikat ini mengatakan:

“The rest of verse 7 and the first nine words of verse 8 are not original, and are not to be considered as a part of the words of God.”

“Kalimat terakhir pada ayat 7 dan sembilan kata pertama pada ayat 8 tidak asli, dan tidak bisa dianggap sebagai firman Tuhan.”

Benarkah Alkitab Inspirasi Tuhan?

Doktrin Kristiani lainnya adalah bahwa para penulis Alkitab –terutama kitab Injil– dalam menulis ayat-ayat berdasarkan inspirasi (ilham) dan bimbingan dari Roh Kudus. Sehingga apa yang ditulis oleh mereka itu pasti benar tanpa kesalahan. Begitu pula bapa-bapa gereja atau orang-orang suci Kristiani memiliki otoritas atas bimbingan dan inspirasi dari Roh Kudus untuk menulis tambahan ayat-ayat pada Alkitab. Dengan demikian tambahan tersebut dianggap sah dan suci.

Tetapi kepercayaan penulisan Alkitab berdasarkan atas inspirasi dari Roh Kudus ini dibantah sendiri oleh penulis Injil Lukas yang berbunyi:

“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” (Lukas 1:1-4)

Pada ayat ini disebutkan, Lukas menulis kitab ini berdasarkan atas cerita yang telah didengarnya dari orang lain, bukan berdasarkan atas inspirasi dari Roh Kudus.

Jika dalam penulisan Injil, para penulisnya mendapatkan bimbingan dari Roh Kudus, mengapa kita menemukan banyak sekali kesalahan dan pertentangan dalam Alkitab, terutama pada Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku ini.

Hal ini membuktikan bahwa penulisan Alkitab dan tambahan ayat-ayatnya bukan berdasarkan atas inspirasi atau bimbingan dari Roh Kudus, melainkan atas dasar kemauan orang-orang Gereja sendiri. Padahal umat Kristen percaya bahwa Yesus pernah memperingatkan mereka:

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Matius 15:9)

Dengan demikian, Amanat Agung yang katanya berasal dari Yesus itu adalah Amanat Palsu. Semua ajaran yang disampaikan oleh para penginjil seperti doktrin Yesus adalah Firman Hidup, Trinitas, penulisan Alkitab berdasar inspirasi Roh Kudus, adalah bohong besar.

Allah berfirman dalam al-Qur’an:

“Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis (ayat-ayat) dengan tangan mereka, kemudian mereka mengatakan bahwa (ayat-ayat) ini berasal dari Allah, untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit dari perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan-tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari perbuatan mereka sendiri.” (Qs. Al-Baqarah 79)

Lebih detilnya, buku “Dokumen Pemalsuan Alkitab” yang ditulis oleh Molyadi Samuel AM mengungkap pemalsuan Alkitab (Bibel) dan membuktikan bahwa Alkitab yang disucikan oleh umat Kristen ini bukanlah dari Tuhan, melainkan hanyalah tulisan manusia tanpa bimbingan dari Roh Kudus, sehingga banyak ditemukan kesalahan.

(Disarikan dari Kata Pengantar buku “Dokumen Pemalsuan Alkitab, Menyambut Kristenisasi Berwajah Islam” karya Molyadi Samuel AM., Victory Press Surabaya, Cetakan III,  hlm. vii-xiii). klik


Sebuah Studi Perkirakan Jumlah Umat Islam 2,2 Miliar Tahun 2030

DUNIA (voa-islam.com): Menurut sebuah studi yang dirilis hari Kamis bahwa jumlah kaum Muslimin diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar jiwa pada tahun 2030, dibandingkan dengan 1,6 miliar pada tahun 2010 yaitu mewakili 26,4 persen dari penduduk dunia, dibandingkan dengan 23,4 persen saat ini, sementara dalam tahun 1990,nisbat mereka belum melebihi 20 persen .

Menurut penelitian, populasi Pakistan,yang mayoritas Muslim, akan melebihi penduduk Indonesia, yang merupakan negara muslim terbesar di dunia, dan akan melebihi jumlah penduduknya 256 juta orang, menurut yang dikutip situs CNN dalam bahasa Arab dari Forum agama dan kehidupan publik “Bio”.

Studi yang membawa judul (masa depan populasi Muslim di dunia) memperkirakan jumlah Muslim di Amerika Serikat akan melebihi 6,2 juta Muslim, membuat jumlah Muslim kira-kira sama dengan jumlah orang Yahudi atau pengikut Gereja Episkopal di Amerika Serikat sekarang.

Sementara jumlah penduduk Afghanistan akan meningkat tajam, hampir 50 juta orang, menjadi negara Islam kesembilan dalam hal populasi.

Dan jumlah Muslim di dalam “Israel” – wilayah-wilayah yang diduduki pada tahun 1948 – akan meningkat menjadi seperempat dari penduduk, karena pada tahun 2030 jumlah umat Muslim akan menjadi 2,1 juta atau 23,2 persen dari populasi “Israel” tidak termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza, dibandingkan dengan 1,3 juta, atau sekitar 17,7 per persen pada tahun 2010. Sementara tingkat kelahiran Palestina merupakan yang tertinggi di dunia.

Diperkirakan bahwa Nigeria, yang telah mengalami kekerasan sektarian antara Muslim dan Kristen yang telah menewaskan ribuan orang selama dekade terakhir, akan menjadi sebuah negara dengan mayoritas Muslim pada tahun 2030.

Dan jumlah Muslim di Prancis akan meningkat mencapai 6,9 juta, atau 10,3 persen dari populasi dari sebelumnya 4,7 juta atau 7,5 persen dan di Inggris menjadi 5,2 juta atau 8,2 persen dari sebelumnya 2,9 juta, sementara di Jerman menjadi 5,5 juta atau 7,1 persen dari sebelumnya 4,1 juta atau lima persen, menunjukkan bahwa proporsi umat Muslim di Eropa akan naik pada tahun 2030, sampai dengan 8 persen dari total penduduk di benua tua tersebut.

Menurut penelitian, sekitar 60 persen dari umat Islam dunia tinggal di Asia dan Pasifik pada tahun 2030 dan 20 persen di Timur Tengah dan 17,6 persen di negara-negara selatan Sahara terbesar di Afrika dan 2,6 persen di Eropa dan 0,5 persen di Amerika.

Studi ini menunjukkan bahwa kaum Sunni akan terus mewakili mayoritas Muslim, atau sekitar 87-90 persen, sedangkan jumlah Syi’ah dapat berkurang dengan penurunan relatif angka kelahiran di Iran, di mana sekitar sepertiga Syi’ah di seluruh dunia.

Menurut laporan tersebut, meningkatnya jumlah populasi Muslim di dunia disebabkan oleh tingkat kelahiran tinggi,yang merupakan tertinggi di antara populasi dunia. Meskipun peningkatan jumlah kalangan umat Islam adalah yang tertinggi di dunia, namun bahwa proporsi kenaikan ini lebih rendah dari sebelumnya yang mengalami penurunan lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menurut penelitian tersebut.

klik


alt

Jakarta (SI ONLINE)-Aneh bila ada yang mengklaim sebagai pengikut Presiden Sukarno, apalagi mengatakan sebagai ‘anak ideologis’ proklamator RI itu, ternyata dalam kasus Ahmadiyah mereka menjadi pembelanya. Pasalnya, Bung Karno sendiri terbukti orang yang anti Ahmadiyah.  Bahkan, di masa pemerintahannyalah Penetapan Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama dikeluarkan.

Pengakuan Bung Karno itu tertulis dalam bukunya, Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1, halaman 345 dengan judul: TIDAK PERCAYA BAHWA MIRZA GULAM AHMAD ADALAH NABI.  Surat itu ditulis saat ia berada di Endeh tertanggal 23 Nopember 1936. Bung Karno membantah adanya kabar yang mengatakan bahwa dirinya adalah pengikut Ahmadiyah dan telah mendirikan cabang Ahmadiyah. Berikut beberapa cuplikannya:

“Beberapa hari yang lalu saya mendapat surat “vlieg-post” Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa dari seorang kawan di Bandung, bahwa “Pemandangan” telah memuat satu entrefilet bahwa saya telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes. Walaupun “Pemandangan” yang memuat kabar itu belum tiba ditangan saya, dus belum saya baca sendiri – kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang – oleh karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percayai, segeralah saya minta kepadanya membantah labar dari tuan-tuan punya reporter itu.”

“Saya bukan anggauta Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi “buat bagian Celebes”! Sedang pelesir kesebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! .”

Bung Karno juga menolak keyakinan yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) adalah Nabi. “Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid.” Presiden pertama RI itu bahkan menolak ‘pengeramatan’ ahmadiyah terhadap MGA dan kecintaan mereka terhadap imperialisme Inggris.

Di akhir tulisannya, Bung Karno mengatakan, “Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini buat memberitahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang Ahmadiyah”

klik


Selembar foto yang diperkirakan berusia 150 tahun ditemukan di sebuah loteng di North Carolina. Foto ini merekam anak laki-laki muda berkulit hitam bernama John. Ia bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian compang-camping. Ia terlihat duduk disebelah lelaki muda berkulit hitam lainnya yang belum diketahui identitasnya.
Ahli seni sejarah, Will Stapp, percaya ini merupakan foto pada masa perang sipil yang sangat jarang ditemukan. Mereka kemungkinan adalah budak berkulit hitam yang belum mendapatkan emansipasi pada waktu itu. ‘Ini adalah bagian dari sejarah Amerika saat masa sulit dan menyedihkan,” ujarnya. Foto dua lelaki muda berkulit hitam itu adalah korban sejarah Amerika kala itu.
Pada April, foto itu ditemukan telah dijual di Charlotte. Foto ini juga disertai dengan dokumen yang menjelaskan John dijual dengan harga 1.150 dolar. Harga ini bukan jumlah yang kecil di tahun 1854 untuk seorang budak.
Keya Morgan katanya membayar 30 ribu untuk album foto termasuk foto anak-anak muda dan beberapa foto keluarga. Ia juga membayar 20 ribu dolar untuk dokumen penjualannya. Morgan mengatakan, sebuah potret anak-anak yang menjadi budak sangat jarang ditemukan dan termasuk langka. ‘Saya membeli banyak barang sepanjang waktu, tetapi ini (foto budak) mengejutkan saya,’ kata dia.
Yang membuat foto ini lebih menarik adalah adalah beberapa ahli seni mengatakan foto itu diciptakan oleh studio fotografi Mathew Brady, seorang fotografer terkenal abad ke-19. Ia dikenal sering memotret tokoh-tokoh sejarah seperti Presiden Abraham Lincoln dan Konfederasi Jenderal Robert E Lee.
Stapp mengatakan foto itu mungkin tidak diambil oleh Brady sendiri tapi oleh Timothy O’Sullivan, salah satu pekerja magang studio fotografi Brady. O’Sullivan mengambil banyak foto yang menggambarkan kekacauan akibat Perang Sipil. Pada 1862, O’Sullivan terkenal sering memotret sekelompok budak yang pertama dibebaskan setelah Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi.
Harold Holzer, seorang penulis buku-buku tentang Lincoln mengatakan fototersebut beredar di North Carolina untuk menggalang dukungan agar persatuan tercapai saat perang saudara terjadi. Holzer bekerja sebagai administrator diMetropolitan Museum of Art. Ia mengatakan, sebagian besar fotomenggambarkan budak dewasa yang telah dipukuli atau dicambuk.
Oleh karena itu, lanjutnya, foto dua anak laki-laki itu lebih ‘halus’. Hal itu juga mungkin menjadi alasan mengapa foto itu tidak banyak beredar dan tidak dipublikasikan untuk waktu yang begitu lama. ‘Bagi saya, itu seperti gambar bergerak dan menakjubkan,’ tutur dia.
Ron Soodalter, seorang penulis dan anggota dewan direksi di Abraham LincolnInstitute di Washington DC, mengatakan foto itu menggambarkan realitas perbudakan. ‘Saya pikir gambar ini menunjukkan bahwa institusi perbudakan tebang pilih,” kata Soodalter yang telah menulis beberapa buku tentang perbudakan modern dan bersejarah.
republika.co.id

 


Kita sering mendengar bahwa Latta dan Uzza adalah nama berhala yang disembahorang kafir Quraisy. Tetapi tahukah anda siapa sebenarnya Latta Dan Uzza?
Ternyata, mereka adalah orang-orangsholih semasa hidupnya, namun setelah meninggal, orang-orang kemudian memuliakan kuburnya, tidak cukup dengan pergi ke kuburnya atau dengan alasan efisiensi dibuatlah Gambarnya.
Seiring dengan berlalunya waktu dan bertambahnya teknologi, digantilah Gambar tersebut dengan Sebuah Patung yang mirip dengannya dan demikian seterusnya sampai pada puncaknya menjadikan kedudukan mereka melebihi Rosulullah Muhammad sawm bahkan setara dengan Allah SWT dengan menjadikan mereka sebagai tempat bersandar dan tempat meminta pertolongan. Astaghfirullahal ‘Adziem
Hal ini disebutkan dalam Kitab Tauhid Bab 21:
Berlebih-Lebihan Terhadap Kubur Orang-Orang Soleh Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan Selain Allah,
Dan berikut nukilannya:
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanadnya dari sufyan dari Mansur dari Mujahid, berkaitan dengan ayat: “Jelaskan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah) Al Latta dan Al Uzza” (QS. An Najm, 19)
Ia (Mujahid) berkata: “Al Latta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung (dengan air atau minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburnya.
Demikian pula penafsiran Ibnu Abbas r.a. sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Jauza’: ” Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jamaah haji.”
Ini sama dengan asal muasal kesyirikan yakni penyembahan terhadap patungorang-orang sholih yang hidup pada jaman Nabi Nuh alaihissalam:
َقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا. ﴿نوح: ٢۳﴾
Dan mereka berkata: “Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.” (Nuh: 23)
Di dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut:
Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi Nuh, lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada saat itu belum disembah. Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah.” (*)
Bagaimana dengan kondisi manusia dalam memperlakukan kuburan orang-orang sholih mereka??
Mungkin saja anda termasuk, atau minimal membiarkan ?

sumber : klik


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?“.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan.
Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,”Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak.Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Gambar memang mewakili ribuan kata dan jutaan makna, namun bagaimana jika dari gambar timbul bencana yang tidak mungkin bisa dibaca makhluk berakal tetapi tidak menggunakan akalnya? sungguh sebuahMALAPETAKA.
Visualisasi dengan kartun, lukisan, animasi dsb selain akan membuat banyak versi yang membingungkan, juga berdampak pada otentikasi dari objek yang digambarkan. Hanya bahasa, yang mampu memberikan kebebasan bagi kita untuk berimajinasi seperti apa fisik baginda Nabi‘Alaihissholaatu wa sallaam.
Berikut apa yag dituturkan oleh Ummu Ma’bad Al Khuza’iyah hadapan suaminya, saat beliau SAW lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral bicara, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat”
Bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakan sedang-sedang, mata yang memandang tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi.
Seakan-akan satu dahan di antara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tigaorang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika dia berbicara mereka menyimak perkataannya, jika dia memberikan perintah mereka segera melaksanakannya perintahnya.
Dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak memberengut dan tidak pula orang yang diremehkan.”
Sumber lain adalah dari Shahabat Ali RA:
“Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan.”
Telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya”.
Kemudian dia (Ali) berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.