Nicolas Sarkozy, Sekuler Perancis Phobia tanpa dasar

Posted: Maret 7, 2011 in ISLAM, Khazanah, sharing n completed

PARIS  – Satu lagi pemimpin Eropa yang mengumumkan kegagalan kebijakan multikultural. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertindak keras terhadap warga Muslim yang sholat di jalan-jalan Paris dan kota-kota lain di Perancis.

“Sebenarnya, dalam semua demokrasi kita, kita telah terlalu khawatir tentang identitas orang yang datang dan tidak cukup dengan identitas negara yang menerima orang itu. Jaman sudah berubah dan aku tahu bahwa ini akan mengejutkan. Karena itu ini harus berhenti. Jika kalian datang ke Perancis, kalian harus bisa melebur ke dalam satu komunitas yaitu komunitas nasional. Jika kalian tidak bisa menerimanya, maka kalian tidak diterima di Perancis,” ujar Sarkozy.

“Kompatriot Muslim kita harus bisa hidup dan mempraktikkan keyakinan mereka seperti orang lain. Di Perancis, kita tidak menginginkan orang-orang untuk berdoa dalam sikap pamer di jalan. Ibadah itu tidak menyinggung orang tapi kita tidak menginginkan penyebaran agama yang agresif,” ujarnya.

Sarkozy bukan pemimpin Eropa pertama yang berbicara terbuka tentang kegagalan politik integrasi Muslim di Eropa. Kanselir Angela Merkel berbagi sudut pandang yang serupa musim gugur tahun lalu. Perdana Menteri Inggris secara virtual mengulangi sudut pandang Merkel minggu lalu. Sekarang saatnya bagi presiden negara Eropa terbesar, Perancis, untuk bersuara.

Sampai saat ini, pernyataan keras semacam itu tentang Muslim Perancis bisa terdengar hanya dari pemimpin Front Nasional ekstrim kanan, Jean-Marie Le Pen, dan putrinya, Marine Le Pen. Marine terutama mengatakan bahwa pemandangan kaum Muslim yang sholat di jalan mengingatkannya pada pendudukan Hitler atas Perancis tahun 1940-1944. Terdapat hampir 20 tempat di negara itu, ujarnya, di mana kaum Muslim bisa menutup jalan-jalan untuk sholat.

Isu Muslim di Perancis mungkin lebih serius daripada di negara Eropa Barat lainnya. Jumlah kaum Muslim yang tinggal di Perancis diperkirakan antara dua hingga tujuh juta jiwa. Ini adalah komunitas Muslim terbesar di Dunia Lama. Imigran dari Aljazair, Tunisia, Maroko terutama berjumlah paling banyak di Inggris.

Setelah penduduk koloni Perancis ambil bagian dalam Perang Dunia I, beberapa dari mereka memutuskan untuk menetap di negara induk selama tahun 1920an. Setelah Perang Dunia II, Perancis menderita kekurangan pekerja. Selain itu, negara tersebut mulai merasa bersalah atas masa lalu kolonialnya. Otoritas Perancis memberikan penduduk bekas koloninya, termasuk yang beragama Islam,  untuk masuk ke negara tersebut.

Di tahun 1976, Perancis menyetujui hukum tentang reunifikasi keluarga. Di negara-negara Muslim, konsep ‘keluarga’ termasuk kerabat yang sangat jauh. Akibatnya, jutaan warga Aljazair, Maroko, dan Senegal mulai mengalir masuk. Mereka perlahan-lahan menetap di daerah pinggiran Paris, Marcel, Lyon, dan kota-kota besar lain. Beberapa dari daerah pinggiran itu kehilangan penampilan Eropa mereka sepenuhnya. Sampai tahun 1993, aliran masuk imigran tidak dibatasi samasekali

Presiden Nicolas Sarkozy, pemimpin dari republik sekuler Perancis, memuji warisan Kristen negara itu saat partai sayap kanannya mempertanyakan peran Islam di dalam masyarakat.

Pidato Sarkozy di kota Katolik, Puy-en-Velay, dilakukan satu bulan sebelum Perancis dijadwalkan memulai larangan pemakaian burka di tempat umum dan di tengah kontroversi identitas agama.

Pengkritik mengkritik presiden dan partai mayoritasnya, UMP, agar tidak  menimbulkan prasangka yang berbahaya dan mengancam identitas sekuler Perancis dengan menyerukan untuk sebuah debat nasional tentang agama.

Tapi Sarkozy, yang menerima tantangan berat dari ekstrim kanan dalam pemilihan presiden tahun depan, tetap tak bergeming, dan merangkul para pemilih Katolik dalam cara yang dirancang sedemikian rupa untuk menjengkelkan pengkritiknya dari sayap kiri.

“Agama Kristen meninggalkan kita warisan peradaban yang luar biasa. Sebagai seorang presiden sekuler, aku bisa mengatakan hal itu,” ujarnya, berbicara di sebuah kota yang selama ratusan tahun menjadi tempat singgah bagi peziarah yang akan menuju Santiago de Compostela. “Warisan ini datang bersama kewajiban, warisan ini adalah sebuah hak istimewa tapi memberikan kita sebuah tugas. Ia mewajibkan kita untuk meneruskannya ke generasi mendatang dan kita harus memeluknya tanpa ragu atau malu,” ujarnya.

Perayaan baru Sarkozy atas agama Kristen muncul saat kepemimpinan partainya, UMP, berusaha untuk memulai debat nasional tentang praktik agama dan terutama mengenai tempat lima juta kaum Muslim di Perancis.

Perdebatan tentang identitas nasional tahun lalu menimbulkan ketegangan politik dan membuat Perancis banyak dikritik, terutama karena itu berlangsung saat Sarkozy menarget warga asing kelahiran Gipsi Roma untuk diusir. Oposisi menuduh sang pemimpin menghasut perpecahan ras dalam upaya untuk memenangkan suara dari Front Nasional ekstrim kanan, yang sekarang mulai menguat di bawah kepemimpinan putri Jean-Marie Le Pen, Marine.

Sarkozy tampaknya akan kembali ke arena. Bulan lalu dia menyatakan bahwa multikulturalisme telah gagal dan bahwa dia ingin melihat dikembangkannya Islam Perancis, bukan Islam di Perancis. Sekarang, sekretaris jenderal UMP Jean-Francois Cope telah menyerukan untuk sebuah pertemuan pada tanggal 5 April untuk membahas praktik agama, terutama dari kaum Muslim.

Pada tanggal 11 April, sebuah hukum yang melarang pemakaian penutup wajah seperti niqab atau burka akan diberlakukan, memaksa segelintir minoritas wanita Muslim Perancis yang memakainya untuk melepasnya atau menjalani hukuman penjara dan denda

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s