Pastor Katolik Belanda Lakukan Pelecehan Seksual di Gereja

Posted: Februari 27, 2011 in Warning

DI TENGAH skandal pelecehan seksual di negara-negara tetangga dan di Amerika Serikat, Gereja Katolik-Roma di Belanda tenang-tenang saja. Padahal mereka juga bersalah.

Hasil penelitian radio Nederland dan NRC Handelsblad: pastor-pastor Belanda juga melakukan pelecehan seksual pada bocah laki-laki.

“Kau kotor, kau salah. Kau telah melakukan sesuatu yang dilarang.”
“Saya tahu pastor itu bersalah dan ia akan mendapat balasannya. Ya, saya tahu itu.”

Dua korban pelecehan seksual di gereja Katolik-Roma di Belanda. Keduanya dilecehkan oleh pastor-pastor dari biara yang sama: Huize Don Rua, sebuah seminari kecil di ‘s-Heerenberg, di dekat perbatasan Jerman. Biara tersebut didirikan oleh pastor aliran Don Bosco, anggota ordo Salesian.

Bagi Janne Geraets (57) kisah bermula ketika ia berusia 12 tahun, pada tahun 1964. Ia tinggal di biara karena ingin menjadi misionaris. Tengah malam ia terbaring di tempat tidur, tenggoroknya bengkak akibat demam. Para pastor baru saja selesai berpesta.

“Waktu itu saya dibangunkan oleh pastor. Ia membawa saya ke ruang perawatan. Ia bilang, ia punya obat untuk sakit tenggorok saya. Saya diberi obat hisap, pastor berdiri di depan saya. Tiba-tiba ia membuka celananya, menarik erat tangan saya, dan mendorong tangan saya masuk ke dalam celananya.”

Pelecehan Seks Besar-besaran

 

Janne Geraets mengaku dilecehkan selama dua tahun oleh pastor tersebut. Menurutnya juga, ia bukan satu-satunya korban. Setidaknya, sekitar sepuluh bocah laki-laki “punya hubungan” dengan pastor. Banyak pastor terlibat. Bertahun-tahun lalu Geraets meninggalkan gereja katolik.

Seorang pastor, dari seminari yang sama, juga punya korban di luar biara. Pastor Van D. mengajar Bahasa Inggris di sekolah menengah di Doetinchem, daerah yang tidak jauh dari biara. Ia ikut dalam liburan musim dingin pada Desember 1970. Ketika salah satu siswa, Leonie Bloch (16), terkilir dalam kecelakaan ski, Pastor Van D. membopong gadis itu bersama seorang guru.

“Keduanya menyilangkan tangan, dan saya duduk di atasnya. Saya tidak tahu bagaimana pastor itu bisa melakukannya, tapi ia memasukkan tangannya ke celana saya, ke celana dalam saya. Dengan sangat mudah. Maksud saya, ia sama sekali tidak ragu. Seolah ia sudah sering melakukannya. Tapi saya tidak tahu itu.”

Waktu itu Leonie tidak berani mengatakan apa pun pada siapa pun. Bertahun-tahun kemudian ia baru berani menceritakan hal itu pada orangtuanya.

Dari dua mantan pejabat ordo Salesian Belanda -seorang sejarawan dan seorang mantan kepala biara- Radio Nederland dan NRC Handelsblad mendapat pernyataan bahwa pelecehan seksual dibicarakan di dalam ordo. Pada reuni mantan siswa seminari, kepala provinsial (pejabat tertinggi dalam sebuah ordo) menyatakan penyesalannya.


Mengundurkan diri
Bungkamnya korban dalam waktu lama, seperti yang terjadi pada Janne en Leonie, adalah salah satu alasan mengapa skala pelecehan seksual di gereja Katolik Belanda tidak diketahui. Sayangnya, ketika seseorang melaporkan sebuah insiden, bukan berarti hal itu akan langsung ditindaklanjuti. Hal seperti itulah yang kita lihat di Lembaga Pengaduan Katolik Hulp&Recht. Sekitar 300 laporan pelecehan seksual masuk sejak lembaga ini didirikan pada 1995. Dua tahun lalu, komisi yang menangani pengaduan tersebut mengundurkan diri. Mereka tidak puas atas sikap uskup Belanda menghadapi kasus pelecehan seksual.

“Kami tadinya berharap, laporan ini akan diperhatikan oleh para uskup. Kebijakan akan muncul untuk mengatasi hal ini. Tindakan pro-aktif. Tapi sering kali, laporan malah sia-sia dan kami cuma bisa berharap kalau laporan yang kami berikan akan ditangani dengan baik,” kata Yvo van Kuijck, ketua komisi yang mengundurkan diri.


Prosedur Berbelit
Van Kuijck menyatakan, karena khawatir dituntut, para uskup sering mengutip aturan-aturan yuridis yang menakutkan korban. Para uskup sebenarnya tidak tahu bagaimana mereka harus menghadapi korban, atau apa yang harus dilakukan jika mereka diseret ke pengadilan. Pada banyak kasus, pendeta yang melakukan pelecehan biasanya dipindahkan ke paroki lain. Di tempat baru mereka bisa kembali “beroperasi”. Ketika komisi pengaduan mengkritik atau memberikan saran, para uskup acuh tak acuh, kata Van Kuijck.

Masalah Lama
Salah satu pengajar di biara Don Rua di ‘s-Heerenberg pada periode saat Janne Geraets dilecehkan, adalah uskup Ad van Luyn (74). Pada tahun 70-an ia menjabat sebagai kepala provinsial ordo Salesian – jabatan tertinggi dalam ordo. Sekarang ia adalah uskup Rotterdam dan sejak 2008 menjabat sebagai Kepala Konferensi Uskup Belanda.

Uskup Van Luyn tak mau berbicara mengenai “masalah lama”. Lewat juru bicaranya ia memberitahu bahwa “hal-hal yang berkaitan dengan jemaat berada di bawah tanggung jawab pengurus saat ini, bahkan jika mereka berhubungan dengan pengurus lama.”

Pastor Herman Spronck, yang sekarang adalah pejabat Salesian tertinggi di Belanda, mengaku tidak mengetahui pelecehan seksual di ‘s-Heerenberg. Ia tidak menentang penelitian yang mungkin akan dilakukan, ia juga menekankan bahwa pelecehan seksual tidak sesuai dengan sumpah yang telah dibuat oleh pastor-pastor Don Bosco. “Di Don Bosco kesucian remaja adalah titik teratas dalam sistem pendidikan

 

sumber : klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s