Apakah Yesus masih relevan sekarang?

Posted: Februari 12, 2011 in Siapakah YESUS f**ckhrist

KENAPA YESUS ?

Apakah Yesus masih relevan sekarang ini?

Banyak orang berpandangan Kristus menghendaki kita jadi orang religius. Mereka pikir Yesus datang dan mengambil semua kesenangan hidup, dan memberi kita aturan-aturan, yang tidak mungkin dijalankan, hidup. Mereka bersedia menyebut Dia pemimpin besar dari masa lalu, tapi mengatakan Dia tidak relevan dengan kehidupan masa kini.

Josh McDowell adalah mahasiswa yang diajarkan bahwa Yesus cuma salah satu pemimpin religius yang menetapkan aturan hidup, yang tidak mungkin dijalankan. Dia pikir Yesus sama sekali tidak relevan dalam hidupnya.

Kemudian, satu hari, pada saat makan siang seorang mahasiswi duduk disebelah Mc Dowell dengan senyuman lebar. Merasa tertarik, dia bertanya kenapa dia begitu bahagia. Jawaban langsungnya adalah,, “Yesus Kristus!

Yesus Kristus? pikir McDowell, yang balik mengatakan

“Oh, demi Tuhan, jangan beri saya sampah itu. Saya muak dengan agama; saya muak dengan gereja; saya muak dengan Alkitab. Jangan beri saya sampah tentang agama.”

Tapi tanpa terganggu rekan mahasiswi itu dengan tenang menjelaskannya,

“Tuan, saya tidak katakan agama, saya katakan Yesus Kristus.”

McDowell kaget. Dia tidak pernah memandang Yesus lebih dari sekedar tokoh agama, dan tidak ingin jadi bagian dari kemunafikan religius. Namun perempuan Kristen, yang gembira ini, berbicara tentang Yesus sebagai seseorang yang membawa arti kehidupan kepadanya.

Kristus mengklaim akan menjawab semua pertanyaan mendalam mengenai eksistensi kita. Pada satu saat, kita semua akan mempertanyakan apa arti kehidupan itu. Apakah anda pernah melihat ke langit, yang gelap gulita, dan merenungkan siapa yang menaruh bintang-bintang itu di sana? Atau apakah anda pernah melihat matahari terbenam dan berpikir tentang pertanyaan terbesar dalam hidup:

  • “Siapa saya?”
  • “Kenapa saya ada di sini?”
  • “Kemana saya pergi setelah meninggal?”

Meski para filsuf dan pemimpin agama lain menawarkan jawaban tentang arti kehidupan, hanya Yesus Kristus membuktikan kredensial-Nya ( apa yang dikatakanNya) dengan bangkit dari kematian. Skeptis seperti McDowell, yang pada awalnya mengejek kebangkitan Yesus , telah menemukan bahwa ada bukti, yang banyak, bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Yesus menawarkan hidup dengan arti yang sebenarnya. Dia mengatakan hidup lebih besar dari mengumpulkan harta, bersenang-senang, sukses, dan berakhir di kuburan. Kendati begitu, masih banyak orang mencoba menemukan arti kehidupan dalam ketenaran dan kesuksesan, bahkan juga bintang-bintang terbesar..

Madonna mencoba menjawab pertanyaan, “Kenapa saya di sini?” dengan menjadi seorang penyanyi terkenal (diva), mengakui, “Bertahun-tahun lalu saya pernah berpikir bahwa ketenaran, kekayaan, dan penerimaan publik akan memberikan kebahagiaan bagi saya. Tapi satu hari kamu akan bangun dan menyadari bukan hal seperti itu. Saya masih merasa kurang. Saya ingin tahu arti kebenaran dan kebahagiaan sejati dan bagaimana saya menemukannya.”[1]

Yang lain sudah menyerah untuk menemukan arti kehidupan itu, Kurt Cobain, vokalis Nirvana, grup band grunge asal Seattle, putus asa pada usia 27 tahun dan bunuh diri. Kartunis era Jazz, Ralp Barton, juga menemukan hidup tanpa arti, dan meninggalkan pesan bunuh dirinya, “Saya punya beberapa kesukaran, banyak teman, sukses hebat; saya sudah berpindah dari satu isteri ke isteri yang lain, dan dari rumah ke rumah, mengunjungi negara-negara di dunia, tapi saya muak dengan upaya menemukan alat-alah untuk mengisi 24 jam sehari”[2]

Pascal, filsuf besar Perancis percaya kekosongan hati yang kita semua alami hanya bisa diisi oleh Allah. Dia mengatakan, “Allah membentuk ruang vakum di hati setiap orang yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus”[3] Jika Pascal benar, maka kita akan berharap Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang identitas kita dan arti kehidupan, tapi juga memberi kita harapan akan kehidupan setelah kematian.

Apakah ada arti kehidupan, tanpa Allah? Tidak menurut ateis Bertrand Russell, yang menulis,”Sampai anda berasumsi adanya allh, pertanyaan tujuan hidup itu tidak ada artinya.” Russell sediri menyerah dengan menyatakan akan “membusuk” di kuburnya. Dalam bukunya, Why I am not a Christian(Kenapa saya bukan orang Kristen), Russell membantah semua yang Yesus katakan mengenai arti kehidupan, termasuk janjiNya akan kehidupan kekal.

Tapi jika Yesus benar-benar mengalahkan kematian seperti klaim para saksi mata, (Lihat “Did Jesus Rise from the Dead?”) maka dia sendiri akan dapat memberi tahu kami apa yang hidup adalah semua tentang, dan menjawab, “Di mana saya pergi?” Untuk memahami bagaimana kata-kata Yesus, kehidupan, dan kematian dapat membentuk identitas kita, memberi kita makna dalam hidup, dan memberikan harapan untuk masa depan, kita perlu memahami apa yang dikatakannya tentang Tuhan, tentang kami, dan tentang dirinya sendiri.

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Allah Itu Relasional

Banyak orang berpendapat Allah lebih sebagai sebuah kekuatan bukan satu pribadi, yang bisa kita kenal dan bergaul denganNya. Allah yang disebutkan Yesus bukanlah kekuatan impersonal di Star Wars, yang kebaikannya bisa diukur dalam voltase. Dia juga bukan sosok besar menakutkan di angkasa, yang senang membuat hidup kita sengsara.

Sebaliknya, Allah itu relasional seperti kita, tapi lebih dalam lagi. Dia berpikir, Dia mendengar. Dia berkomunikasi dalam bahasa yang kita pahami. Yesus menjelaskan kepada kita dan memperlihatkan Allah itu seperti apa. Menurut Yesus, Allah tahu setiap kita dengan sangat baik dan personal, dan terus memikirkan kita.

Allah Itu Kasih

Dan Yesus mengatakan kepada kita, Allah itu kasih. Yesus mendemonstrasikan kasih Allah kemanapun Dia pergi, ketika Dia menyembuhkan orang sakit dan menolong yang disakiti dan miskin.

Kasih Allah sangat berbeda secara radikal dengan (kasih) kita, karena tidak berdasarkan ketertarikan atau penampilan. Kasih (Allah) itu secara total mengorbankan diri dan tidak mementingkan diri. Yesus membandingkan kasih Allah dengan kasih bapa/ayah yang sempurna. Ayah yang baik menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya, berkorban untuk mereka, dan memberikan (kebutuhan) mereka. Tapi untuk kepentingan terbaik mereka, dia juga mendisiplinkan mereka.

Yesus mengilustrasikan hati kasih Allah dengan cerita tentang seorang anak, yang memberontak, dan menolak nasehat ayahnya mengenai kehidupan dan apa yang penting. Kesombongan dan keinginan-diri, anak itu berhenti bekerja dan “hidup semaunya”. Daripada menunggu sampai ayahnya membagi warisan, dia mulai memaksa ayahnya untuk memberikan warisan itu kepadanya.

Dalam cerita Yesus, ayahnya memberi permintaan anaknya. Tapi keadaan buruk menimpa anaknya. Setelah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, anak pemberontak itu terpaksa bekerja di peternakan babi. Ketika dia begitu lapar bahkan makanan babi kelihatan enak (diceritakan dia memakan makanan babi). Putus asa dan tidak yakin ayahnya akan menerimanya kembali, dia membereskan tasnya dan pulang ke rumah.

Yesus menceritakaan kepada kita bukan saja sang ayah menyambutnya, tapi dia lari memeluknya. Dan kemudian secara radikal total dalam kasihnya, sang ayah menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan kembalinya si anak.

Ini sangat menarik, kendati ayahnya sangat mengasihi putranya, dia tidak mengejarnya. Dia membiarkan sang anak, yang dikasihinya, merasakan kesakitan dan penderitaan karena konsekuensi pilihan pemberontakannya. Dengan cara yang sama, ayat-ayat Alkitab mengajarkan kasih Allah tidak pernah mengkompromikan tentang apa yang terbaik untuk kita. Kasih iatu akan membiarkan kita menderita atas pilihan-pilihan salah kita.

Yesus juga mengajarkan Allah tidak akan pernah mengkompromikan karakterNya. Karakter adalah siapa kita adanya. Itu adalah esensi kita, dimana berasal pikiran-pikiran dan tindakan kita berasal. Jadi seperti apa Allah — esensinya?

Allah Itu Suci

Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya.

Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya.

Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia. Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat. Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita?

Apa yang Yesus katakan tentang Allah?

Diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah

Jika anda membaca seluruh Perjanjian Baru, anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya.

Bintang rock band Irlandia, U2, Bono menegaskan dalam sebuah wawancara,” Konsep mengejutkan bahwa Allah pencipta alam semesta mungkin mencari teman, hubungan sungguh-sungguh dengan manusia….”[5] Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus, Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mataNya, kita spesial (khusus).

Kebebasan Memilih

Dalam sebuah film, Stepford Wives, lemah, terbaring, orang serakah dan pembunuh ini telah menciptakan robot-robot penurut dan patuh untuk menggantikan isteri-isteri mereka, yang bebas, dan mereka nilai sebagai ancaman. Kendati laki-laki diharapkan mencintai isteri-isteri mereka, mereka menggantikannya dengan mainan untuk memaksakan kepatuhan.

Allah bisa membuat kita seperti itu —- manusia robot (iPeople) diprogram untuk mengasihi dan mematuhi Dia, program puji-pujian dimasukkan kepada kita seperti “screensaver”. Tapi akibatnya kasih karena terpaksa kita tidak ada artinya. Allah ingin kita mengasihi Dia dengan bebas. Dalam hubungan sebenarnya, kita ingin seseorang mencintai kita apa adanya, bukan karena paksaan — kita lebih suka tambatan jiwa daripada pengantin, yang dipesan sebelumnya. Søren Kierkegaard menyimpulkan dilema dalam kisah ini.

Andaikan ada seorang raja yang mencintai pelayan sederhananya. Raja itu tidak seperti raja-raja lain. Semua pejabat negara gemetar dihadapan kuasanya ….. dan tetap saja raja, yang sangat kuat ini, meleleh karena cinta terhadap pelayan sederhana itu. Bagaimana dia menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Dalam cara yang tidak biasa, dia terikat oleh “wibawa raja”.  Jika dia membawaya ke istana dan memahkotai dia dengan permata … dia pasti tidak akan menolak — tidak seorangpun berani menolak dia. Tapi apakakh dia mencintainya? Tentu saja dia akan mengatakan dia mencintainya, tapi apakah sungguh-sungguh?[6]

Anda lihat masalahnya. Ini masalah yang lebih sederhana: bagaimana anda putus dengan pacar, yang sudah tahu segalanya? (“Ini tidak berhasil buat kita, tapi saya rasa kamu sudah tahu.”) Namun untuk memungkinkan saling mencintai, Allah menciptakan manusia dengan kapasitas unik: kehendak bebas.

Pemberongakan Melawan Hukum Moral Allah

C.S. Lewis menjelaskan meski kit secara internal diprogram dengan keinginan untuk mengetahui Allah, kita memberontak atas itu sejak saat kita lahir.[7] Lewis juga memulai penelitiannya dengan motifnya sendiri, dimana dia menemukan bahwa dia secara instink tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Lewis heran darimana rasa salah dan benar ini datangnya. Kita semua mengalami rasa salah dan benar ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorban nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, kita di dalam hati telah diprogram dengan hukum moral, yang membuat seorang mantan ateis mencapai kesimpulan pasti ada “pemberi hukum” moral.

Sebenarnya, menurut Yesus dan Alkitab, Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi.. Dan bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, kita juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah. Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah:

“Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri. Dosa, karena itu, tidak hanya melakukan kesalahan ketika kita melanggar hukum, tapi juga kegagalan kita melakukan apa yang benar.

Allah membuat alam semesta dengan hukum-hukum yang mengatur segalanya. Hukum-hukum ini tidak bisa dihindarkan dan tidak berubah. Ketika Einstein menemukan formula E=MC2 dia membuka misteri energi nuklir. Campur bahan-bahan yang tepat dengan kondisi tertentu dan tenaga sangat besar dilepaskan. Alkitab mengatakan kepada kita hukum moral Allah tidak berubah karena keluar dari esensi karakterNya.

Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam. Alkitab menyebut ini sebagai ketidak-patuhan, dosa, yang berarti “tidak kena sasaran”, seperti seorang pemanah yang gagal mengenai sasarannya. Jadi dosa kita telah mematahkan hubungan, yang sudah dikehendaki, Allah dengan kita. Memakai ilustrasi pemanah, sebagai contoh, kita telah gagal mengenai sasaran yang sebenarnya merupakan tujuan penciptaan kita.

Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), indvidu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakt lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual) Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi.

Dan kita sudah putus. Seperti disimpulkan Kayne West, “Dan saya tidak berpikir bahwa saya tidak bisa melakukan apapun untuk membenarkan kesalahan saya….. saya ingin berbicara dengan Allah tapi saya takut karena kita sudah lama tidak saling berbicara.” Diambil dari lirik lagu West yang berbicara mengenai perpisahan yang dibawa oleh dosa dalam kehidupan kita. Dan menurut Alkitab, perpisahan ini lebih dari sekedar lirik di sebuah lagi rap. Itu punya konsekuensi mematikan.

Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah

Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2). Dalam ayat Alkitab, “perpisahan” berarti kematian spiritual. Dan kematian spiritual berarti terpisah sepenuhnya dari cahaya dan kehidupan Allah.

“Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita?

Kenapa Dia tidak melihat bahwa rencanaNya sudah gagal total?” Tentu saja, Allah maha tahu akan menyadari bahwa kita akan memberontak dan berdosa. Kenyatannya, kegagalan kita membuat rencanaNya jadi sangat mengejutkan. Hal ini membawa kita pada alasan Allah datang ke Bumi dalam bentuk manusia. Dan bahkan lebih menakjubkan —- alasan yang harus dicatat karena kematiannya.

Solusi Sempurna Allah

Selama tiga tahun kehidupan pelayananNya, Yesus mengajarkan kita bagaimana untuk hidup dan melakukan banyak mujizat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Tapi Dia menyatakan misi utamanya adalah menyelamatkan kita dari dosa kita.

Yesus memproklamirkan Dia adalah Mesias, yang sudah dijanjikan dan akan mengangkat beban kesalahan kita. Nabi Yesaya telah menulis mengenai Mesias 700 tahun sebelumnya, memberi kita beberapa tanda atas identitasnya. Namun tanda yang paling sukar dipahami adalah Mesias adalah manusia sekaligus Allah!

” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, …. dan namanya disebut orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” (Yesaya) 9:5)

Penulis Ray Stedman menuliskan janji Allah atas Mesias,”Sejak permulaan Perjanjian Lama, ada rasa akan harapan dan eskpektasi, seperti suara langkah kaki yang mendekat: seseorang datang!…. Harapan itu meningkat sepanjang catatan nabi ke nabi yang memproklamirkan tanda-tanda menjanjikan: ada yang datang!”[8]

Para nabi telah menyatakan Mesias akan jadi korban dosa sempurna bagi Allah, memuaskan keadilanNya. Manusia sempurna ini akan memenuhi kualifikasi untuk mati bagi kita. (Yesaya 53:6)

Menurut para penulis Perjanjian Baru, satu-satunya alasan Yesus pantas mati untuk kita adalah karena, sebagai Allah, Dia menjalani hidup sempurna secara moral dan tidak berdosa.

Sukar untuk mengerti bagaimana kematian Yesus itu menebus dosa-dosa kita. Mungkin analogi yudisial akan memperjelas bagaimana Yesus menyelesaikan dilema dari Allah, yang sempurna kasihNya dan keadilanNya.

Bayangkan memasuki ruang sidang, bersalah karena pembunuhan (anda punya isu serius disini) Ketika anda mendekati meja, anda menyadari bahwa hakim itu ayah anda. Karena tahu dia mengasihi anda, anda langsung mulai memohon,”Pak, bebaskan saya!”

Dia menjawab,”Aku mengasihi mu, nak, tapi saya hakim. Saya tidak bisa membebaskanmu begitu saja.”

Dia terbelah. Akhirnya, dia mengetuk palu dan menyatakan anda bersalah. Keadilan tidak bisa dikompromikan, paling tidak oleh seorang hakim. Tapi karena dia mengasihi anda, dia turun dari kursi, membuka jubahnya, dan menawarkan diri untuk membayar denda untuk anda. Pada kenyataannya, dia menggantikan anda di kursi listrik.

Inilah gambar yang dilukis di Perjanjian Baru. Allah turun memasuki sejarah manusia, dalam bentuk manusia Yesus Kristus, dan duduk di kursi listrik (baca: salib) menggantikan kita, untuk kita. Yesus bukanlah pihak ketiga kambing hitam, mengambil dosa kita, tapi Dia adalah Allah sendiri. Lebih jelas lagi, Allah punya dua pilihan: menghakimi dosa kita atau mengambil alih hukuman itu kepada diriNya sendiri. Dalam Kristus, Dia memilih yang terakhir.

Meski Bon, dari U2, tidak berkehandak jadi teolog, dia secara akurat mengatakan alasan kematian Yesus,

“Maksud kematian Kristus adalah Kristus mengambil dosa-dosa dunia, sehingga apa yang kita lakukan tidak kembali lagi kepada kita, dan sifat dosa kita tidak menghasilkan kematian pasti. Inilah alasan utamanya. Hal ini seharusnya membuat kita rendah hati. Bukan pekerjaan baik yang membuat kita bisa melewati gerbang Surga”[9]

Dan Yesus menegaskan hanya Dia, satu-satunya, yang bisa membawa kita kepada Allah, dikatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorangpun bisa datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes14:6)

Tapi banyak yang berargumentasi klaim Yesus bahwa Dia adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu terlalu sempit, disebutkan ada banyak jalan menuju Allah. Mereka, yang percaya bahwa semua agama sama, menolak bahwa kita punya masalah dosa. Mereka tidak menerima perkataan Yesus dengan serius. Mereka mengatakan kasih Allah akan menerima kita semua, apapun yang sudah kita buat.

Mungkin Hitler pantas diadili, menurut pandangan mereka, tapi bukan mereka atau yang lain yang “hidup layak”. Ini sama saja mengatakan Allah memberikan nilai, dan semua yang dapat D- atau lebih baik akan masuk (surga). Tapi ini menelurkan dilema.

Seperti sudah kita lihat, dosa bertentangan dengan karakter suci Allah. Jadi kita telah menghina (menyinggung) Pencipta kita, dan mengasihi kita sampai mengorbankan AnakNya bagi kita. Pemberontakan kita sama seperti meludahi mukaNya. Tidak ada kebaikan, agama, meditasi, atau Karma bisa membayar hutang dosa kita, yang telah terjadi.

Menurut teolog R. C. Sproul, hanya Yesus sendiri satu-satunya yang mampu membayar hutang itu. Dia menulis,

“Musa jadi perantara hukum; Muhammad bisa mengangkat pedang; Buddha bisa memberikan konsultasi personal; Konfusius menawarkan kalimat-kalimat kebajikan; tapi tidak satupun orang ini punya kualifikasi untuk jadi penebus dosa dunia. . Hanya Kristus satu-satunya yang pantas mendapat pujian tidak terbatas dan pelayanan.”[10]

Pemberian Yang Tidak Semestinya

Istilah Alkitab untuk menggambarkan pengampunan gratis Allah melalui pengorbanan kematian Yesus adalah anugerah. Dimaafkan menyelamatkan kita dari apa yang seharusnya kita terima, anugerah dari Allah memberi kita apa yang seharusnya tidak pantas kita terima. Mari kita tinjau sebentar bagaimana apa yang Kristus lakukan terhadap kita yang tidak bisa kita sendiri lakukan:

  • Allah mengasihi kita dan menciptakan kita untuk berhubungan denganNya.[11]
  • Kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak hubungan itu.[12]
  • Dosa dan pemberontakan kita terhadap Allah dan hukumNya telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Dia.[13]
  • Meski kita pantas dihukum selama-lamanya, Allah telah membayar lunas hutang kita dengan kematian Yesus menggantikan kita, memungkinkan kita hidup selama-lamanya bersama Dia.[14]

Bono memberi kita perperktifnya atas anugerah.

“Anugerah melampaui akal dan logika. Kasih mengiterupsi, jika anda suka istilah ini, konsekuensi tindakan anda, dimana dalam kasus saya benar-benar berita baik, karena saya melakukan banyak hal-hal bodoh… Saya akan mendapat masalah besar jika Karma pada akhirnya jadi hakim saya…. itu tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saya, tapi saya berpegang pada Anugerah. Saya memegang (janji) bahwa Yesus menanggung dosa saya di Kayu Salib, karena saya tahu siapa saya, dan saya berharap saya tidak harus bergantung pada ke-religius-an saya sendiri.”[15]

Sekarang, kita punya gambaran rencana Allah selama ini. Tapi masih ada satu hal yang belum lengkap. Menurut Yesus dan para penulis Perjanjian Baru, setiap dari kita, secara individu, harus menjawab pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Yesus kepada kita. Dia tidak akan memaksa kita menerimanya.

Anda Sendiri Memilih Akhirnya

Kita terus membuat pilihan-pilihan …… apa yang akan dipakai, apa yang akan dimakan, karir, pasangan perkawinan, dan seterusnya. Hl yang sama juga terjadi pada hubungan dengan Allah. Penulis Ravi Zacharias menulis,

“Pesan Yesus mengungkap bahwa setiap orang…. dyang atang untuk mencari Allah bukan karena kebajikan kelahiran, tetapi oleh kesadaran pilihan untuk mempersilakan Dia masuk dan hukum-hukumNya mengatur hidupnya.”[16]

Pilihan-pilihan kita sering dipengaruhi orang lain. Namun dalam beberpa hal, kita diberi nasehat yang salah. Pada 11 September 2001, 600 orang tak bersalah pecaya pada nasehat yang salah, dan menderita konsekuensinya. Kisah nyatanya seperti ini,

Seseorang, yang sedang ada di lantai 92 di tower selatan World Trade Center, baru saja mendengar sebuah jet menambarak tower utara. Kaget karena ledakan, dia menelepon polisi dan meminta instruksi apa yang harus diperbuat. “Kita perlu tahu apakah kita harus keluar dari sini, karena kita tahu ada ledakan,” tanyanya di saluran darurat.

Suara di ujung lainnya menasehati dia untuk tidak keluar gedung. “Saya akan menunggu sampai ada pemberitahuan berikutnya”

“Baiklah, ” sang penelepon menjawab. “Jangan keluar gedung.” Kemudian dia menutup telepon itu.

Beberapa saat setelah pukul 09.00, sebuah jet lain menabrak lantai 80 di tower selatan. Hampir 600 orang dilantai atas tower selatan meninggal. Kegagalan evakuasi dari gedung merupakan salah satu tragedi terbesar hari itu.[17]

Ke 600 orang tewas karena mereka menggantungkan diri pada informasi yang salah, kendati diberikan oleh orang yang mencoba menolong. Tragedi tidak akan terjadi jika ke 600 korban diberi informasi yang benar.

Kesadaran pilihan kita terhadap Yesus sangatlah jauh lebih penting daripada menghadapi korban-korban 9/11, yang salah informasi. Taruhannya Keabadian. Kita bisa memiih satu dari tiga respon berbeda. Kita bisa tidak memperdulikan Dia. Kita bisa menolak Dia. Atau, kita bisa menerima Dia.

Alasan kenapa banyak orang hidup dengan tidak mempedulikan Allah adalah mereka juga terlalu sibuk mendesakkan agendanya sendiri. Chuck Colson seperti itu. Pada usia 39 tahun, Colson menempati kantor disebelah kantor presiden Amerika Serikat. Dia adalah “orang tangguh” Gedung Putih era Nixon, “pembunuh bayaran” yang akan mengambil keputusan-keputusan sulit. Pada tahun 1972, skandal Watergate menghancurkan reputasinya dan dunianya terpecah-belah. Belakangan dia menulis,

“Saya hanya memikirkan diri sendiri. Saya melakukan ini dan itu, saya mencapai tujuan, saya sukses dan saya tidak memberi Allah kehormatan (atas semua keberhasilan itu), tidak pernah berterima kasih kepadaNya atas pemberian Dia kepada saya. Saya tidak pernah berpikir ada pribadi “tak terhitung superioritasnya” dibandingkan saya, atau jika penah berpikir tentang ke-maha kuasa-an Allah, saya tidak menghubungkannya dengan kehidupan saya.”[18]

Banyak orang sama dengan Colson. Cukup udah untuk terperangkap dalam kecepatan kehidupan dan hanya punya sedikit atau tidak ada waktu untuk Allah. Kendati begitu, tidak mempedulikan tawaran anugerah Allah akan pengampunan punya konsekuensi mengerikan. Hutang dosa kita tetap tidak terbayar.

Dalam kasus-kasus kriminal, hanya sedikit sekali yang memperoleh pengampunan penuh (pembebasan). George Burdick, 1915, editor kota New York Tribune, menolak memberitahukan sumber beritanya dan melanggar hukum. President Woodrow Wilson mengumumkan pengampunan penuh terhadap Burdick atas semua kesalahan “diperbuat atau mungkin diperbuatnya”. Apa yang membuat kasus Burdick bersejarah adalah dia menolak pengampunan itu. Keputusannya membuat kasus masuk Makamah Agung, yang akhirnya mendukung Burdick, menyatakan pengampunan presiden tidak bisa dipaksakan kepada siapapun.

Ketika menolak pengampunan penuh Kristus, orang-orang memberi berbagai alasan. Banyak yang mengatakan kurang bukti, tapi seperti Bertrand Russell dan skeptis lain, mereka tidak cukp tertarik untuk sungguh-sungguh melakukan investigasi. Yang lain menolak melihat lebih jauh dari beberapa orang Kristen munafik yang mereka kenal, menunjuknya sebagai perilaku tidak punya belas kasihan atau inkonsisten sebagai alasan. Dan yang lain masih tetap menolak Kristus karena mereka menyalahkan Allah atas pengalaman sedih atau tragis yang mereka derita.

Namun, Zacharias, yang berdebat dengan banyak intelektual di ratusan kampus universitas, percaya alasan utama kebanyakan orang menolak Allah adalah moral. Dia menulis,

“Seseorang menolak Allah bukan karena tuntutan intelektual juga buka karena kelangkaan bukti. Seseorang menolak Allah karena perlawanan motal menolak mengakui kebutuhannya akan Allah.[19]

Keinginan kebebasan moral telah menjauhkan CS Lewis dari Allah disebagian besar masa mahasiswanya. Setelah pencarian kan kebenaran membawanya kepada Allah, Lewis menjelaskan bagaimana menerima Kristus melibatkan lebih dari persetujuan intelektual atas fakta-fakta. Dia menulis,

“Orang yang jatuh bukanlah hanya karena mahluk tidak sempurna yang membutuhkan perbaikan: dia pemberontak yang harus menyerahkan senjatanya. Menerahkan senjata, menyerah, mengatakan anda minta ampun, menyadari bahwa anda berada pada jalan yang salah dan siap memulai hidup baru lagi…. itulah yang disebut orang Kristen sebagai lahir baru.”[20]

Lahir baru adalah kata yang berarti cara berpikir yang secara dramatis berbalik arah.. Itulah yang terjadi terhadap mantan “pembunuh bayaran” Nixon. Setelah Watergate terbuka, Colson mulai memikirkan tentang hidup secara berbeda. Merasa dia tidak punya tujuan (tak tahu apa yang harus dilakukan), dia mulai membaca buku KeKristenan Biasa (Mere Christianity), ditulis oleh Lewis, yang diberikan seorang teman kepadanya. Dilatih sebagai pengacara, Colson mengambil buku tulis dan menuliskan semua argumen-argumen Lewis. Colson mengingat,

“Saya tahu waktunya sudah tiba bagi saya. . Apakah saya akan menerima Yesus Kristus tanpa syarat sebagai Tuhan aas hidup saya. Itu seperti sebuah gerbang untuk saya. Tidak ada jalan untuk melangkah memutarinya. Saya masuk atau saya tetap diluar. Satu ‘mungkin’ atau ‘saya butuh tambahan waktu’ sama dengan memperolok diri sendiri.”

Setelah pergulatan di dalam hati, mantan pembantu presiden Amerika Serikat ini akhirnya menyadari Yesus Kristus pantas memperoleh kesetiaan total darinya. Dia menulis,

“Kemudian, pada Jumat pagi, ketika saya duduk sendirian melihat ke laut yang saya cintai, kalimat yang saya tidak pasti bisa saya pahami atau katakan meluncur begitu saja dari bibir saya, “Tuhan Yesus, saya percaya Engkau”. Saya terima Engkau. Mohon masuklah dalam hidup saya. Saya berkomitmen kepadaMu.”[21]

Colson menemukan bahwa pertanyaannya, “Siapa saya?” “Kenapa saya ada di sini?” dan “Kemana saya pergi?” semua terjawab dalam hubungan personal dengan Yesus Kristus. Rasul Paulus menulis, “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena diadalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan (Efesus 1:11 )

Ketika kita memasuki hubungan personal dengan Yesus Kristus, Dia mengisi kekosongan dalam hati kita, memberi kita kedamaian, dan memuaskan keinginan kita akan arti kehidupan dan harapan. Dan kita tidak lagi membutuhkan stimultan sementara untuk mengisi kita. Ketika Dia masuk kedalam kita, Dia juga memuaskan keinginan paling dalam dan kebutuhan akan kasih dan kedamaian sejati.

Dan hal paling menakjubkan adalah Allah sendiri datang sebagai manusia untuk membayar seluruh hutang kita. Karena itu, kita tidak lagi ditindas hukuman dosa. Paulus menulisnya dengan jelas kepada jemaat Roma, ketika ditulisnya,

“Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya.” (Kolose 1:21b-22a ).

Jadi Allah melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Kita dibebaskan dari dosa oleh pengorbanan Yesus sampai mati. Ini seperti pembunuh massal datang kepada hakim dan diberikan pengampunan penuh dan menyeluruh. Dia tidak pantas menerima pengampunan itu, dan juga kita. Pemberian kehidupan abadi Allah sepenuhnya gratis —- dan dibagi-bagikan (kepada siapa yang mau). Tapi meski pengampunan ditawarkan kepada kita, tetap tergantung kepada kita untuk menerimanya (atau tidak). Pilihan ada pada anda.

Apakah anda ada pada titik dalam hidup dimana anda akan menerima tawaran gratis Allah?

Mungkin seperti Madonna, Bono, Lewis, dan Colson, hidup anda juga kosong. Tidak satupun yang telah anda coba bisa memuaskan kekosongan (jiwa) yang anda rasakan. Allah bisa mengisi kekosongan itu dan mengubah anda dalam sekejab. Dia telah menciptakan anda agar anda mempunyai hidup yang membanjir dengan arti dan tujuan. Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10b)

Atau mungkin semua berjalan baik-baik dalam hidup anda, tetapi anda tidak bisa istirahat dan tidak ada kedamaian. Anda menyadari anda telah melanggar hukum-hukum Allah dan terpisah dari kasihNya dan pengampunanNya. Anda takut akan penghakiman Allah. Yesus mengatakan, “Saya pergi dengan memberi kamu berkat — kedamaian pikiran dan hati. Dan kedamaian yang saya beri tidak sama dengan yang diberikan dunia.”

Jadi kapanpun anda lelah akan kekosongan hidup atau terusik oleh ketiadaan perdamaian dengan Pencipta anda, jawabannya ada dalam Yesus Kristus.

Ketika anda percaya dalam Yesus Kristus, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa anda — di masa lalu, sekarang, dan masa depan dan menjadikan anda anak-anakNya. Dan sebagai anak yang dikasihiNya, Dia memberi anda tujuan dan arti kehidupan di Bumi dan menjanjikan kehidupan abadi bersamaNya.

Firman Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya (Yohanes 1:12)

Pengampunan dosa, tujuan hidup, dan kehidupan abadi semuanya untuk anda jika anda memintanya. Anda bisa mengundang Kristus memasuki hidup anda sekarang ini dengan iman melalui doa. Berdoa adalah berbiacara dengan Allah. Allah tahu hati anda dan tidak terlalu memperhatikan kata-kata anda karena Dia melihat sikap hati anda. Dubawah ini ada saran doa:

“Ya Allah, saya ingin mengenal Mu secara pribadi dan hidup abadi bersamaMu. Terima kasih, Tuhan Yesus, karena mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya. Saya buka pintu kehidupan saya dan menerima Engkau sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ambil hidup saya dan ubah saya, jadikan saya orang yang Engkau kehendaki.”

Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati anda? Jika ya, berdoalah seperti saran di atas dalam bahasa anda sendiri.

Jika anda sudah meminta Yesus Kristus masuk dalam hidup anda, kami mendorong anda untuk mulai membaca Firman (Alkitab) dan bergabung dengan yang lain yang juga ingin hidup untuk Dia.

Sangat penting bagi anda untuk belajar rahasia-rahasia kehidupan indah yang Allah rencanakan bagi anda. Di bawah ada Studi Alkitab yang akan membantu anda menghubungkan potongan-potongan rencana indahNya bagi anda dan bagi pertumbuhan iman anda.

Jika anda masih ada pertanyaan mengenai apa yang perlu untuk mengenal Yesus Kristus dan memiliki kehidupan abadi, klik disini untuk melihat presentasi video

Pertanyaan terbesar masa kini adalah, “Siapa sebenarnya Yesus Kristus? Apakah dia hanya seorang luar biasa, atau dia ALLAH dalam daging, seperti dipercayai oleh para muridNya Paulus, Johannes, dan yang lainnya.

Para saksi mata, bagi Yesus Kristus, berbicara dan bertindak sepertinya mereka percaya Dia bangkit secara fisik dari kematian setelah penyalibannya. Jika mereka salah maka KeKristenan didirikan diatas kebohongan. Tapi jika mereka benar, mujizat seperti itu secara memperkuat semua yang Yesus katakan mengenai ALLAH, diriNya, dan kita.

Tapi apakah kita percaya pada kebangkitan Yesus hanya dengan iman saja, tapi apakah ada bukti historis yang kuat? Beberapa ahli skeptis mulai meneliti catatan historis untuk membuktikan bahwa catatan kebangkitan itu salah. Apa yang mereka temukan?

Apa Ada Konspirasi Da Vinci?

“Senyum Mona Lisa” menginvestigasi teori besar dunia tentang konspirasi Yesus Kristus. Yesus dan Maria Magdalena menikah? Apakah (Kaisar) Constantine memerintahkan penghancuran catatan yang sebenarnya mengenai Yesus Kristus dan menciptakan Dia sebagai ALLAH yang dipuja orang Kristen sekarang?

 

ENDNOTES

1.   O: The Oprah Magazine, “Oprah talks to Madonna,” (January, 2004), 120.

2.   Quoted in Josh McDowell, The Resurrection Factor (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1981), 1.

3.   Quoted in William R. Bright, Jesus and the Intellectual (San Bernardino, CA: Here’s Life Publ., 1968), 33.

4.   Quoted in Rick Warren, The Purpose Driven Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2002), 17.

5.   Quoted in Michka Assayas, Bono in Conversation (New York: Riverhead Books,  2005), 203.

6.   Soren Kierkegarrd, Philosophical Fragments, trans. Howard V. Hong and Edna H. Hong (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1985), 26-28.

7.   C. S. Lewis, Mere Christianity (San Francisco: Harper, 2001), 160.

8.   Ray C. Stedman, God’s Loving Word (Grand Rapids, MI: Discovery House, 1993), 50.

9.   Quoted in Assayas, 204.

10. R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids, MI: Lamplighter, 1982), 44.

11. New Testament, John 3:16

12. Ibid., John 1:12

13. Old Testament, Isaiah 59:2

14. New Testament, Romans 5:8

15. Assayas, Ibid.

16. Ravi Zacharias, Jesus among Other Gods (Nashville: Word, 2000), 158.

17. Martha T. Moore and Dennis Cauchon, “Delay Meant Death on 9/11,” USA Today, Sept. 3, 2002, 1A.

18. Charles W. Colson, Born Again (Old Tappan, NJ: Chosen, 1976), 114.

19. Ravi Zacharias, A Shattered Visage: The Real Face of Atheism (Grand Rapids, MI: Baker, 2004), 155.

20. Lewis, 56.

21. Colson, 129

 

Sumber : klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s