Kita dan Protokol Zion : Institusi Pendidikan bagaikan Aquarium

Posted: Februari 10, 2011 in Khazanah, sharing n completed

protocol
Oleh: Noorul Ummay Hidayantie

Sistem pendidikan, sebuah bagian penting dalam fase kehidupan manusia. Baik pendidikan dalam arti formal, maupun pendidikan dalam arti nonformal. Pendidikan nonformal atau pendidikan yang berhubungan dengan kehidupan dimaknai berbeda bagi tiap orang, Lain halnya dengan pendidikan formal, yang biasanya diidentikkan dengan sistem pendidikan institusional di lembaga-lembaga pendidikan yang kita kenal selama ini.

Institusi pendidikan negeri dan swasta. Apa perbedaannya? Pendidikan di lembaga pemerintah dikenal lebih ketat dalam peraturan dan kurikulum. Dari segi biaya, lembaga pemerintah lebih murah karena mendapatkan subsidi langsung (zaman kiwari disebut BOS, yang juga menjadi sasaran korupsi) dari Departemen Pendidikan Nasional sebagai pemegang keputusan atas seluruh sekolah atau perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mulai dari kurikulum pembelajaran, pengajar/pendidik, hingga anggaran pendidikan. Pendidikan swasta sangat tergantung kepada pemilik institusi tersebut. Maka belajar di sekolah atau perguruan swasta, kita harus rela untuk mengeluarkan uang lebih, dengan jaminan ‘keleluasaan’ atau ‘hak’. Kurikulum pembelajaran dan pengajar/pendidik masih disesuaikan dengan Departemen Pendidikan Nasional.

Anda mungkin juga dapat menyebutkan perbedaan konseptual yang lainnya antara institusi pendidikan negeri dan swasta. Namun bagaimana setelah kehadiran istilah privatisasi lembaga pendidikan pemerintah? Istilah ini yang kemudian dianggap sama dengan komersialisasi. Sama seperti beberapa perusahaan milik negara yang sahamnya dibeli oleh orang perorang. Yang paling menjadi pertaruhan adalah keterjangkauan biaya pendidikan bagi mereka yang dikategorikan masyarakat menengah ke bawah. Pendidikan kenudian seakan hanya ditujukan bagi mereka yang mampu memberikan ‘jaminan’ besar. Aturan-aturan khas institusi pemerintah yang ketat, mulai luntur seiring dengan waktu dan kebutuhan lembaga untuk mendapatkan lebih.

Kehadiran era reformasi memang mendorong berbagai reaksi dari elemen-elemen masyarakat … termasuk pendidikan. Institusi bertransformasi menjadi lebih komersial. Di saat yang sama, muncul ide kebebasan di kalangan siswa/mahasiswa. Mekanisme pembelajaran seperti penugasan dan absensi menjadi lebih longgar, karena ‘jaminan’ pembayaran biaya pendidikan. Menurut pola pikir sebagian mereka, selama tidak menunggak biaya kuliah, penugasan pun bisa diatur (pengalaman pribadi rekan penulis yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi ternama di Indonesia).

Dari segi kurikulum pengajaran, dominasi kurikulum wajib (pelajaran umum) tak mampu dihindari. Kita melihat di sekolah-sekolah negeri, pelajaran yang berbau ‘agama’ tidak mendapat porsi yang memadai. Terlebih di perguruan tinggi, pengajaran agama dianggap hanya ada di wilayah privat sehingga tidak semestinya lagi diajarkan di wilayah formal. Dengan kenyataan ini, kita telah dapat menebak output apa yang dihasilkan melalui pendidikan formal. Religiusitas telah jauh tergeser oleh sekularisme.

Apa yang terungkap di atas merupakan dampak dalam sisi institusi atau formal. Di sisi lain, ada yang juga tak mampu dipisahkan dari fenomena pendidikan kita saat ini. Cara ‘perubahan nilai’ tidak formal yaitu melalui budaya modern dan paham-paham alternatif yang siap menampung gejolak idealisme generasi muda.

Salahkah pernyataan bahwa pergaulan yang terjadi melalui institusi pendidikan kini lekat dengan proses difusi budaya modern yang destruktif? Bagaimana kita melihat kenyataan bahwa institusi pendidikan telah menjadi bagian dari ajang persaingan eksistensi diri dari para siswa? Mungkin jika saya salah, tidak banyak orang tua yang kebingungan mencari sekolah yang ‘aman’ bagi putera-puterinya agar tidak terjerumus ke dalam budaya destruktif seperti narkoba, sex bebas, dan tindakan-tindakan kriminalitas. ‘Perubahan nilai’ dalam bentuk lain menyasar mereka yang berada di perguruan tinggi. Institusi pendidikan ini seakan menjadi kawah candradimuka untuk membentuk pola pikir para calon cendekiawan negeri ini melalui jalur gerakan-gerakan mahasiswa atau kelompok pemikiran. Mereka dapat saja memilih berhaluan ekstrimis, moderat, demokratis, liberal, kiri (komunis), atau cenderung pada agama yang dikelompok-kelompokkan.

Menarik apa yang dinyatakan oleh Henry Makow Ph.D dalam tulisannya berjudul How University Betrays Students menjelaskan bahwa: “Universitas modern tidak diabdikan untuk kebenaran, akan tetapi justru sebaliknya. Represif femanism tidak terkendali di kampus tapi sebenarnya ini hanya merupakan gejala dari masalah yang jauh lebih mendalam. “Budaya” Barat Modern didasarkan pada asumsi yang bersifat menipu dari “Pencerahan,” gerakan intelektual yang berasal dari abad ke-18. Hal ini pada gilirannya merupakan hasil dari program Illuminati dalam rangka menciptakan sebuah tatanan dunia baru yang bersifat (sekuler) dengan menyangkal eksistensi Tuhan dan hukum-hukum spiritual-Nya. Dalam prakteknya berarti mahasiswa Sosial mempelajari kumpulan pemikiran atheis yang disajikan seolah-olah Dewa mereka. Profesor mereka yang bertindak sebagai imam agung. Seperti orang tuli yang menyelaraskan nada piano, mereka mencoba untuk menjelaskan kondisi manusia namun tanpa merujuk kepada Sang Pencipta, Rancangan atau Ketuhanan. Mereka menggambarkan manusia sebagai hewan yang menyedihkan dalam sebuah dunia yang a-moral, dilukiskan dengan perjuangan tanpa belas kasihan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Mereka memuliakan “kebebasan” manusia dimana dengan hal tersebut berarti kebebasan untuk menolak Hukum-hukum Tuhan, dan menuruti hawa nafsu binatang dengan menciptakan serta menjauhkan fungsi kepribadian perorangan.1)

Illuminati adalah sebuah perkumpulan rahasia penyembah Lucifer yang sangat powerful yang dewasa ini sedang mengendalikan dunia melalui cengkraman kekuasaan ekonomi ribawi dan politik sekuler atheis, pemikirannya berasal dari Babilonia, Yahudi Kabbalah, Ksatria Templar, Freemasonry dan perkumpulan rahasia sejenisnya yang didedikasikan kepada penyembahan kepada Setan dan kekuasaan mutlak. Illuminisme adalah doktrin Luciferian. (Komunisme adalah produk lain dari Illuminisme. Semua Pemimpin Komunis adalah Freemason.) Toga yang dipakai oleh lulusan universitas adalah lambang Freemasonry. Baju (Gaun) Hitam melambangkan okultisme. Mahasiswa Sosial tanpa menyadarinya sedang dilantik menjadi seorang pengikut Lucifer/pemuja Komunis. Tokoh utama Illuminati adalah keluarga Rothschild dari Inggris.

Proses difusi budaya modern yang destruktif ternyata tidak terjadi secara alami namun berjalan sesuai dengan skenario yang telah digariskan oleh para penggagas perubahan nilai yang bisa kita temukan dalam The Protocols of the Elders of Zion” yang notabene merupakan Rencana Induk Illuminati yang bertujuan:2)
  1. Menguasai Dunia
  2. Menghapuskan Bentuk Kerajaan
  3. Menghapuskan Kepemilikan Pribadi
  4. Menghapuskan Warisan
  5. Menghapuskan Patriotisme
  6. Menghapuskan Konsep Agama yang Menyembah Tuhan menjadi Pemujaan Terhadap “akal” – Rasionalisme.
  7. Pembentukan Tata Dunia Baru

Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, kita temukan pada Protokol Illuminati dalam merancang perubahan nilai yang disesuaikan dengan arah dan tujuan Illuminati a.l. sbb:

marx

Jangan anggap sejenak pun bahwa pernyataan ini hanyalah kata-kata kosong; camkan baik-baik keberhasilan yang telah kita buat dalam Darwinisme, Marxisme, dan Nietzsche-isme. Bagi kita orang-orang Yahudi, bagaimanapun juga, haruslah secara gamblang memahami dahsyatnya pengaruh merusak dari arahan ini pada pikiran orang-orang goyim. Protokol no. 2

darwin

Kita telah membodohi, mencekoki, dan merusak para pemuda dari kalangan goyim dengan membina mereka dalam prinsip-prinsip dan teori-teori yang kita ketahui sebagai sesuatu yang salah, walaupun oleh kita jugalah hal itu telah ditanamkan pada mereka. Protokol No.9

plato

Agar dapat melakukan penghancuran semua kekuatan kolektif kecuali kekuatan kita, kita harus mengebiri tahap pertama dari kolektivisme, yaitu universitas, dengan mendidik ulang mereka ke suatu arah yang baru. Para pejabat kampus dan profesor-profesornya akan disiapkan untuk tugas mereka melalui program-program kegiatan rahasia yang rinci yang dengannya mereka tidak akan menyimpang, bahkan secuil pun, dengan imunitas terhadap hukuman kita. Mereka akan diangkat dengan pertimbangan khusus dan akan ditempatkan sedemikian rupa hingga sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Protokol  no.16


montesquieu

Sebagai contoh, Anda dapat menelisik latar belakang para pencetus teori yang dijadikan materi pendidikan seperti Montesquieu, dengan teori Trias Politica, Darwin dengan Teori Evolusi, Karl Marx dengan Komunisme atau Plato filosof Yunani, seorang Kabalis dengan Republik-nya.

Sudahkan kita mengetahui siapa sebenarnya para pelopor yang mendobrak sistem feodal di Perancis dan memulai Revolusi Besar, mereka adalah Montesquieu, Voltaire, J.J. Rousseau, Diderot si pemuka materialisme, dan para Ensiklopedis yang berada di sekeliling mereka. Mereka semua orang-orang Mason, dan revolusi Perancis sendiri direkayasa oleh Illuminati.

Ide-ide materialistik dan anti-agama yang kian berkembang pada masa seusai Revolusi Perancis itu mencapai puncaknya pada abad ke-19. Bila kita amati pemimpin-pemimipin pergerakan ini, lagi-lagi kita jumpai freemasonry.

Di samping itu, perlu diperhatikan juga, terdapat banyak orang Yahudi di antara tokoh-tokoh itu. Ini menunjukkan, orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan para mason berusaha sekeras-kerasnya untuk melemahkan agama-agama samawi seperti Nashrani dan Islam; mereka menganut pandangan keduniaan yang materialis, yang menyediakan tujuan yang sama, dengan landasan filosofis.

Bukan tanpa alasan dan bukti jika fenomena yang terjadi saat ini benar-benar memiliki dasar cetak biru sejak ratusan tahun yang lalu. Protokol Zion dirancang oleh mereka yang tidak membutuhkan keberadaan tuhan (karena telah digantikan oleh iblis), pelaku dalam dan luar (useful idiots, shills, dan morons) merencanakan dan mengeksekusi strategi di lapangan sesuai dengan bidangnya, kemudian terbentuk sebuah sistem pendidikan dilengkapi aspek pendukungnya. Sistem pendidikan ini yang lalu menjerat para ‘korban’ dan mengarahkan mereka dengan pola pikir yang diharapkan.

Perhatikan apa yang dikatakan oleh Samuel Zwemmer, seorang orientalis Yahudi pada tahun 1935, sbb:

“Tugas kita adalah mengeluarkan kaum muslimin dari Islam. Membuat mereka mengekor pada pengajaran, kekuasaan, dan pemikiran kita. Dalam masalah ini kita telah berhasil dengan gemilang. Kita melihat bahwa setiap orang yang lulus dari lembaga-lembaga pendidikan – bukan saja lembaga-lembaga pendidikan missionaris, tetapi lembaga-lembaga pendidikan umum baik negeri maupun swasta – yang menganut kurikulum yang telah kita susun dan telah kita tatarkan kepada ahli-ahli pendidikan, mereka telah keluar dari Islam dalam perilakunya, walaupun namanya tetap muslim. Mereka kemudian masuk dalam orbit politik kita tanpa terasa atau menjadi orang yang tidak membahayakan bagi eksistensi kita. Sungguh, ini keberhasilan kita yang tidak ada bandingnya.”

Jadi sangat jelas sekali bahwa pendidikan mengabdi kepada tujuan Illuminati dan keberhasilan mereka dalam mensekulerkan pola pikir umat Islam seperti yang digambarkan oleh Samuel Zwemmer sampai dengan hari ini sudah berlangsung selama 75 tahunan, artinya semakin banyak umat Islam yang melaksanakan program mereka, baik disadari maupun tidak. Mengapa demikian?, salah satu sebabnya adalah al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam sudah tidak lagi dijadikan sumber rujukan oleh mayoritas umat Islam dan hal ini memang sudah dinubuatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaimana umat Islam menyepelekan al-Qur’an seperti diabadikan dalam al-Quran sbb:

“Berkatalah Rasul: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.[QS al-Furqan 25:30]

Tokoh Illuminati di Amerika Serikat adalah keluarga Rockefeller dan mereka menganggap manusia sebagai hewan piaraan. Hal ini terkandung dalam “Occasional Paper # 1” Dana Pendidikan Umum:

“Dalam mimpi kita, kita memiliki sumber daya yang tak terbatas dan orang-orang yang menyerahkan diri dengan kepatuhan yang sempurna sebagai hasil cetakan tangan-tangan kita. Konvensi pendidikan saat ini yang menurunkan nilai-nilai moral mahasiswa berasal dari pikiran kita, dan tidak terhalangi oleh tradisi, … ” (“The Rockefeller Empire” in Josephson, “The Strange Death of FDR” 1948, p. 69)2)

Dengan kata lain, para pengikut Illuminati telah mempengaruhi manusia dengan ilusi bahwa mereka sedang membangun nilai-nilai idaman berdasarkan akal, padahal sebenarnya mereka sedang membangun tirani neo-feodal. Ini adalah esensi dari “globalisasi” serta prinsip di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Walaupun mereka sudah berhasil mensekulerkan umat Islam sebagaina dinyatakan oleh Samuel Zwemmer di atas dan memang realitas dewasa ini membuktikan kata-katanya, namun sadarilah bahwa agama Islam satu-satunya yang belum berhasil dikebiri, dua agama samawi sebelumnya, baik agama Yahudi maupun Nashrani sudah sepenuhnya dikendalikan oleh tipu muslihat Illuminati. Oleh karena itu tidak berlebihan bila Francis Fukuyama, tokoh penting dalam neokonservatisme dan think thank dalam the Project for the New American Century [PNAC] menjelaskan bahwa: … kita berada di “Akhir Sejarah – End of History”. Yaitu, kita telah mencapai puncak dari kemajuan intelektual manusia. Kita tidak bisa maju lebih jauh, dan “demokrasi liberal” gaya Barat merupakan produk akhir. Namun, salah satu benteng Abad Pertengahan mencegah langkah terakhir kita untuk maju ke depan: yaitu Islam “militan”. Oleh karena itu, menurut Samuel Huntington, sebagaimana untuk pertama kalinya diterbitkan dalam majalah Foreign Affairs Dewan Hubungan Luar Negeri – the Council on Foreign Relations, sebuah kelompok rahasia garis depan dan elusif Illuminati, Barat menuju konfrontasi yang tak terhindarkan dengan Islam, atau Clash of Civilizations.4)

Dunia pendidikan dengan cetak biru pasal-pasal Protokol Zion bagaikan sebuah akuarium. Terlihat indah, namun sesungguhnya apa yang berada dalam isinya tidak pernah mampu berpindah ke tempat lain. Ketika kita menuju sisi yang lain, ternyata sisi tersebut hanyalah dinding akuarium yang menghalangi kita untuk benar-benar bebas. Para pelajar dan mahasiswa yang rajin, ternyata menjadi komoditas pendidikan sekuler. Pengajar dan cendekiawan yang ahli di bidangnya ternyata justru menyebarluaskan teori-teori untuk membentuk pola pikir sesuai dengan tujuan mereka. Sementara para aktivis pemuda yang mempertahankan idealismenya, ternyata tengah melawan Tuhannya sendiri.

Memang sulit untuk kita keluar dari akuarium raksasa ini ketika telah berada di dalamnya. Namun bukan berarti kita hanya mampu pasrah. Tetap berpikir kritis mengenai apa saja yang didapatkan melalui institusi pendidikan. Kita pun justru dapat menggunakan ‘ilmu’ mereka untuk memahami sepak-terjang dan tipu-daya konspirasi Illuminati penyembah setan untuk memberikan perlawanan semampu mungkin. Pelajari arus namun jangan ikuti ke mana ‘mesin pencuci’ berputar. Atau menjadi ikan di akuarium yang terkadang bisa melompat ke luar daripada terus terperangkap di dalamnya.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan bersama peringatan Allah Azza wa Jalla dalam kaitan permasalahan di atas berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS al-Mai’dah 5:54]

Wallahu’alam

Referensi:

  1. Digital Qur’an Version 3.1
  2. Henry Makow Ph.D,  “Bagaimana Universitas Mengkhianati Mahasiswa”
  3. Protokol Zion menurut versi Doc Marquis yang judul lengkapnya The [decoded] Illuminati’s Protocols of the Learned Elders of Zion menyebutkan bahwa ayat-ayat di dalamnya telah ‘didekode’. Salah satunya adalah kata Yahudi yang terdapat di dalam protokol sebenarnya yang dimaksud adalah Illuminati.
  4. William G. Carr, “Yahudi Menggenggam Dunia”,
  5. David Livingstone, “Terrorism and the Illuminati, a Three Thousand Year History”
  6. Harun Yahya, “Mengenal Allah Lewat Akal”
  7. Akhirzaman.com
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s