Karateristik Bani Israel Menurut Taurat

Posted: Februari 10, 2011 in Khazanah, sharing n completed

Part II

Bagian Kedua

4. Kekerasan dan Kebiadaban

Yahua adalah Tuhan para tentara dan Tuhan peperangan. Tuhannya orang-orang lsrail adalah Tuhan yang keras hati, zalim, dan buas. Sebagaimana yang digambarkan oleh kitab Taurat mereka. Kekerasan hati, kezaliman, dan kebuasan itu telah menanamkan benih kekerasan, sifat menakutkan, kekejaman, dan kebiadaban dalam diri-diri mereka. Tldak mengapa bagi penulis apabila kebusukan ini menimpa hidung para pembaca dan membuat diri mereka mual dan ingin muntah karenanya. Merupakan suatu kewajiban ilmiah bagi penulis untuk menyelesaikan penelitiannya, walaupun mendalami dan mencapai akar-akarnya sulit dan berbahaya.

Kita mulai perjalanan dengan Tuhan Musa pemegang Taurat ini dan kita akan menelusuri bekas yang diakibatkan kekerasan dari kekejaman yang telah Dia rencanakan untuk bangsa pilihan-Nya, yaitu bangsa Israil. Kita akan mendapatkan bahwa Dia memerintahkan untuk membunuh siapa saja yang memakan roti beragi pada waktu-waktu diharamkannya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya. Pada hari pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan di antara Israil …. Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu sebab setiap orang yang memakan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jamaah orang Israil”

Selain itu, Yahua juga telah melakukan berbagai kekejaman dan penindasan tenhadap bangsa Mesir. Disebutkan dalam kitab mereka bahwa Musa berkata, “Pada waktu tengah malam Aku berjalan di tengah-tengah Mesir. Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, dan anak sulung Fir’aun yang duduk di tahtanya sampai kepada anak sulung budak perempuan yang menghadapi batu kilangan, juga segala anak sulung hewan.”

Sebelum mereka rnasuk ke negeri Palestina, mereka terlebih dahulu melakukan pengorbanan demi mendapatkan keridhaan Yahua yang telah marah terhadap bangsa pilihan-Nya yang sangat mencintai emas dan bersujud kepada-Nya serta tidak mau menyembah-Nya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Baiklah, kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian kemari melalui perkemahan itu dan pintu gerbang ke pintu gerbang dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya, temannya, dan tetangganya. Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa dan pada hari itu, tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu. Kemudian, berkatalah Musa, ‘Baktikanlah dirimu mulai hari ini kepada Tuhan. Masing-masing dengan membayarkan jiwa anaknya laki-laki dan saudaranya yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini.”

Setelah hawa nafsu Yahua terpenuhi, sambil menikmati pemandangan bangsa-Nya yang saling membunuh, Ia mengarahkan keingmnan-Nya kepada bangsa pilihan-Nya yaitu sebuah gambaran rencana pembantaian baru dan peperangan yang menakutkan. Untuk menjanjikan kepada bangsa yang dicintai-Nya sebuah tanah tanpa penghuni dari bangsa suatu kaum, tanpa perlawanan dan tanpa adanya kerusuhan dari penghuni aslinya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Apabila Tuhan Allahmu telah membawa engkau ke dalam negeri, kemana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, tujuh bangsa yang lebih banyak dan lebih küat daripadamu. Tuhan Allahmu telah menyerahkan mereka kepadamu sehingga engkau memukul kalah mereka, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali.’

Apabila engkau mendekati satu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya. Setelah Tuhan Allahmu menyerahkannya kedalam tanganmu, maka haruslah membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan, dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kamu rampas bagimu sendiri. Jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan Allahmu, boleh kau pergunakan. Demikian harus kau lakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dan tempatmu, yang tidak termasuk kota bangsa-bangsa di sini (Palestina). Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milikmu. Janganlah kau biankan hidup apa pun yang bernapas, melainkan kau tumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan Allahmu.”

Terkejutlah penduduk Midian yang merupakan bangsa Palestina karena serangan secara tiba-tiba bagaikan binatang liar yang menyerang mangsa, yang dilakukan kaum Yahudi. Mereka terkejut oleh keberanian Yahudi dalam medan tempur ketika membunuh, membantai, menawan, merampas, dan merampok tanpa adanya peringatan terlebih dahulu. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tuhan berfirman kepada Musa, ‘Lakukanlah pembalasan orang Israil kepada orang Midian. Kemudian, engkau akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu. Berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa, lalu membunuh semua laki-laki mereka. Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, mereka pun membunuh raja-raja Midian …. Israil menawan perempuan-perempuan dan anak-anak Midian, juga segala hewan, segala ternak, dan segenap kekayaan mereka dijarah. Segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar.”

Kemudian, Musa versi Taurat marah terhadap pemimpin-pemimpin pasukannya yang telah membiarkan wanita dan anak-anak hidup. Dia lalu mengusir mereka ke tanah gersang, dia memerintahkan para tentaranya untuk menyucikan diri mereka dari najis setelah mereka menyembelih wanita dan anak-anak itu. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan Musa berkata kepada mereka, ‘Kamu biarkankah semua perempuan hidup? Sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh .” Setelah itu, kelompok Yahudi tersebut merangkak untuk menyerang Raja Hesybon yang bernama Simon secara tiba-tiba. Juga membantai Raja yang bernama Auj, Raja Basan di sebelah selatan tanah Kanaan, serta membantai semua penduduk kedua kerajaan itu, sebagaimana yang telah diperintahkan Yahua. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tetapi Tuhan Allah kita menyerahkan ia kepada kita sehingga kita mengalahkan dia dengan anak-anaknya dan seluruh tentaranya. Pada waktu itu kita merebut segala kotanya dan menumpas penduduk setiap kota : laki-laki, perempuan, serta anak-anak. Tidak ada seorang pun yang kita biarkan. Hanya hewan kita rampas bagi kita sendiri, seperti juga jarahan dan kota-kota yang telah kita rebut.

Dan Tuhan Allah kita menyerahkan juga Og, Raja Basari, beserta seluruh tentaranya ke dalam tangan kita dan kita mengalahkan dia sehingga tidak seorang pun luput. Pada waktu itu kita merebut segala kotanya. Tidak ada kota yang tidak kita rampas dari mereka. Enam puluh kota … semuanya itu adalah kota berkubu, dengan tembok yang tinggi-tinggi, dengan pintu.-pintu gerbang dan palang-palangnya, lain daripada itu sangat banyak kota yang tidak berkubu. Kita menumpas seluruh penduduknya seperti yang kita lakukan terhadap Sihon, Raja Hesybon, dengan menumpas penduduk setiap kota : laki-laki, perempuan, dan anak-anak.”

Setelah itu, Yosua bin Nuun menerima bendera, yaitu bendera Yahua setelah Musa mati, ketika Ia dan pasukan Yahudi tiba di pinggiran tanah Kanaan. Yosua menampakkan kepahlawanannya dengan melakukan pembantaian besar-besaran. Disebutkan dalam kitab mereka, “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang ada di kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba, dan keledai … dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar mereka dengan api. Hanya emas, perak, barang-barang tembaga, dan besi ditaruh mereka di dalam perbendaharaan Rumah Tuhan. …” Tuhannya orang-orang Yahudi terus melanjutkan pembantalan dan pemusnahan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Yosua, ‘Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai sebab aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu. Maka Yosua mengacungkan lembing yang ada di tangannya ke arah kota itu…. Orang-orang Israil yang lain dan dalam kota menyerbu orang-orang Ai sehingga terjepit di tengah-tengah orang-orang Israil. Orang-orang Ai dibunuh sehingga tak seorang pun dan mereka yang dibiarkan terlepas atau luput. Tetapi Raja Ai ditangkap hidup-hidup dan dihadapkan kepada Yosua. Segera sesudah orang Israil selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka, maka seluruh Israil kembali ke Ai dan memukul kota itu dengan mata pedang. Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan ada dua belas ribu orang, semuanya adalah orang Ai. Dan Yosua tidak menarik tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk kota Ai ditumpasnya. Hanya binatang ternak dan barang-barang kota itu dijarah oleh orang Israil, sesuai dengan firman Tuhan yang diperintahkannya kepada Yosua.” Setelah Yosua membakar kota Ai dan menghancurkannya, Ia membunuh Raja Ai yang sudah disanderanya. Kemudian, menggantung mayatnya di atas piritu gerbang kota.

Kemudlian, Yosua melanjutkan pembantaian dan penumpasan besar-besaran terhadap seluruh binatang ternak Perbuatannya ini mendapat ridha dati Raabul Junud, yaitu Yahua. Disebutkan dalam kitab mereka, “Pada hari itu Yosua merebut Makeda dan kota itu dipukulnya dengan mata pedang, juga rajanya. Kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya. Tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos. Kemudian, Yosua dengan seluruh Israil berjalan terus dari Makeda ke Ubna, lalu memerangi Libna…. Yosua memukul kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya. Tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos. Rajanya itu diperlakukannya seperti diperlakukannya Raja Yerikho.”

Setelah menumpas Ubna, Yosua dengan seluruh Israil berjalan terus menuju Lakhis, Ajion, Hebron , dan Dubair. Kemudian, mereka menumpas semuanya beserta raja-raja mereka, sebagaimana dia juga menumpas Raja Hazor dan se}uruh rakyatnya serta semua raja-raja yang bekerja sama dengannya, kecuali Syihon dan Aksyaf. Setelah itu, Yosua membawa Hazor dan seluruh rakyatnya dan membunuh mereka semua dengan mata pedang. Telah dipaparkan secara terperinci dalam asfar Yosua tentang peperangan yang dahsyat dan terus-rnenerus dengan menyebutnya sebagal sebuah pembantaian. Dia membantai setiap yang bernyawa serta raja-raja mereka dan rakyatnya, baik dari kalangan kaum wanita, laki-laki, anak-anak, dan orang tua. Pembantaian dan penyembelihan ini terus berlanjut. Terkadang dilakukan oleh bani Israil di bagian utara; terkadang dilakukan juga oleh bani Benyamin di bagian selatan. Terkadang juga dilakukan oleh kedua bani Yahudi ini secara bersamaan terhadap bangsa Kanaan. Seorang bernama Abimelekh melakukan penipuan terhadap saudara-saudara ibunya dan membuat kesepakatan dengan mereka agar dirinya dijadikan sebagai raja. Kemudian, ia ikut serta membunuh saudara-saudaranya. Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal sebanyak 70 orang di atas satu batu. Akan tetapi, Yotarn, anak bungsu Yerubaal masih hidup karena Ia menyembunyikan diri.

Watak dan sifat pembunuh serta nafsu untuk membantai dan membinasakan yang ada pada diri orang-orang Yahudi Gilead disalurkan dengan menyembelih terhadap 42.000 orang dari suku Efraim hanya karena ketidakmampuan mereka dalam melafalkan huruf syin, mereka rnenyebutnya siin. Disebutkan dalam kitab mereka, “Untuk menghadapi suku Efraim itu, maka orang-orang Gilead menduduki tempat-.tempat penyeberangan Sungai Yordan. Apabila dari suku Efraim ada yang lari dan berkata, ‘Biarkanlah aku menyeberang’, maka orang Gilead berkata kepadanya, ‘Orang Efraimkah engkau?’ Dan jika Ia rnenjawab, ‘Bukan’, maka mereka berkata kepadanya, ‘Coba katakan dulu, ‘Syibolet.’ Jika ia berkata, ‘Sibolet’, berarti tidak dapat mengucapkannya dengan tepat. Kemudian, mereka menangkap dia dan menyembelihnya dekat tempat-tempat penyeberangan Sungal Yordan itu. Pada waktu itu tewaslah dan suku Efraim 42.000 orang.”

Dia juga membunuh berpuluh-puluh ribu orang untuk menjalankan syariat Tuhan-Nya (Yahua) yang telah ditanamkan-Nya pada diri-diri bangsa pillhan-Nya. Suatu yang sangat gampang dan mudah sekali untuk memenuhi kehausan Yahua meminum darah. Disebutkan dalam kitab mereka, Juga bani Benyamin maju menyerang dari Gibea dan menggugurkan ke bumi 22.000 orang dari antara orang Israil pada hari itu. Kemudian, pergilah orang-orang Israil …. Bani Benyamin juga menyerang dari Gibea dan menggugurkan ke bumi 22.000 orang dari antara orang Israil pada hari itu.”

Ketika kemarahan Yahua terhadap Israil telah mereda, Segera ia memerintahkan Israil untuk rnenumpas bani Benyamin. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tuhan membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israil. Pada hari itu orang- orang Israil memusnahkan suku Benyamin 25.100 orang, semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang…. Jadi, larilah mereka dari depan orang-orang Israil itu ke arah padang gunun, tetapi pertempunan itu tidak dapat dihindari. Lalu, orang-orang dari kota-kota menghabisi mereka di tengah-tengahnya. Mereka mengepung suku Benyamin itu, mengejarnya dengan tak henti-hentinya … sampai di depan Gibea, di sebelah timur. Dan bani Benyamin tewas 18.000 orang, semuanya orang-orang gagah perkasa…. Orang-orang Israil kembali kepada bani Benyamin dan memukul mereka dengan mata pedang, baik manusia, hewan, dan segala sesuatu yang terdapat di sana . Juga segala kota yang terdapat di sana mereka musnahkan dengan api.”

Tatkala Yahudi Yabesh tidak hadir menziarahi Yahua dalam pertemuan perkemahan jamaah itu, mereka diberikan ganjaran pembantaian. Disebutikan dalam kitab mereka, “Sebab itu berkatalah mereka, ‘Dari suku-suku Israil adakah satu yang tidak datang menghadap Tuhan di Mizpa?’ Lalu tampaklah bahwa dari Yabesh -Gilead tidak ada seorang pun yang datang ke perkemahan jamaah itu. Oleh karena itu, perkumpulan itu menyuruh 12.000 orang-orang gagah perkasa, ‘Pergilah, pukullah penduduk Yabesh-Gilead dengan mata pedang. Juga perempuan-perempuan dan anak-anak … Semua laki-laki dan perempuan yang telah pernah tidur dengan laki-laki harus kamu tumpas.”

Ketika semangat bangsa pilihan Yahua untuk melanjutkan pembantaian sedikit demi sedikit mulai menurun, kita dapati bahwa Yahua sendiri ikut turun untuk melakukan pembantaian ini. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan Ia membunuh beberapa orang Betsemes karena mereka melihat ke dalam tabut Tuhan , Ia membunuh lima puluh ribu laki-laki dan tujuh puluh orang dari rakyat itu.”

Jadi, Tuhan mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israil, maka tewaslah dari orang Israil 70.000 orang.

Kemudian, datanglah nabi mereka, Samuel. Dia adalah salah satu nabi yang di antara nabi-nabi mereka. Dia mencoba sebuah langkah untuk mendekati Yahua, yaitu dengan cara melakukan pembantaian. Disebutkan dalam kitab mereka, “Beginilah firman Tuhan semesta alam, ‘Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israil karena orang Amalek menghalang-halangi mereka ketika orang Israil pergi dan Mesir. Jadi, pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai…”

Ketika Samuel memberikan tugas kepada Saul untuk melaksanakan perintah Tuhan, yaitu membantai habis segenap penduduk dengan mata pedang, Saul menangkap Agag, Raja Amalek hidup-hidup dan menjadikannya sebagai sandera. Dia juga menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tidak mengizinkan mereka untuk menumpas semuanya itu bersamaan dengan penduduk tersebut. Setelah Samuel marah, lalu dia menumpahkan kemarahan Tuhannya kepada Saul karena kesalahannya tidak menjalankan ajaran Tuhan untuk membantai dengan tuntas. Ketika Saul dinobatkan sebagai raja atas orang-orang Israil karena berkat pertolongan Samuel, Saul pun segera mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan besar yang Ia akui telah dilakukannya, yaitu ketika ia membiarkan hidup Agag, Raja Amalek, beserta binatang ternak pilihan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu berkatalah Samuel, ‘Bawa kemari Agag, Raja Amalek itu.’ Dengan gembira Agag pergi kepadanya sebab pikirnya, ‘Sesungguhnya kepahitan maut telah lewat… ‘Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan Tuhan Gilgal…. Kemudian, Samuel pergi ke Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya di Gibea Saul. Sampal hari matinya, Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan Tuhan menyesal karena Ia menjadikan Saul raja atas lsrail.”

Marilah kita perhatikan Saul yang dulunya disebut oleh Samuel sebagai orang yang terlalu toleran, ketika dia memaafkan Agag (Raja Amalek) dan tidak menumpas semua binatang ternak Kita akan dapati bahwa watak kejam dan buas telah tumbuh pada dirinya. Kita lihat ia telah meminta kepada Daud untuk dipotonglcan seratus ujung zakar orang-orang Palestina untuk dia persembahkan sebagai mahar anak perempuannya, Mikhal . Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian berkatalah Saul, ‘Beginilah kamu katakan kepada Daud, ‘Raja tidak menghendaki maskawin selain dari seratus kulit ujung zakar orang Palestina sebagai pembalasan kepada musuh raja….’ Waktunya belum genap, tetapi Daud sudah bersiap. Dia pergi dengan orang-orangnya dan menewaskan dari orang Palestina itu dua ratus orang serta membawa kulit ujung zakar mereka. Dalam jumlah yang genap diberikan semuanya itu kepada raja supaya Daud menjadi menantu raja. Kemudian, Saul memberilcan Mikhal, anaknya. ” Kita tidak akan terkejut dengan kekejaman Saul kalau kita tidak mengetahui bahwa dia mulai membantai para imam bani lsrail, perempuan, anak-anak, serta binatang ternak. Disebutkan dalam kitab mereka, “Maka ia memerangi para imam itu. Ia membunuh pada hari itu 85 orang yang memakai baju efod dan kain linen. Juga penduduk Nob, kota imam itu dibunuh raja dengan mata pedang, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang menyusu, lembu, keledai, dan domba dibunuhnya dengan mata pedang.

Kemudian, datanglah nabi mereka yang paling agung, Daud, putra terhormat Yahua. Pemimpin yang telah bersumpah untuk melindungi Kerajaan Israil di bawah kakinya untuk selama-lamanya, lalu dia menetapkan penjanjian darah dengan melakukan pembantaian terhadap bangsa Palestina yang telah berbuat baik kepadanya dan telah melindunginya ketika Ia lari dari serangan sengit Saul.

Di sebutkan dalam kitab mereka, “Sesudah itu, Daud memukul kalah orang Palestina dan mendudukkan mereka. Kemudian, Daud mengambil kendali pemerintahan atas ibukota dari tangan Palestina. Dia memukul kalah orang Moab, lalu sambil menyuruh mereka berbaring di tanah, Ia mengukur tempat mereka dengan tali. Jumlah orang yang berkumpul sepanjang dua kali panjang tali itu dibunuh dan yang berada di sepanjang satu kali panjang tali dibiarkan hidup…. Selanjutnya, Daud memukul kalah Hadadezer bin Rehob, Raja Zoba. Daud menawan darinya seribu tujuh ratus orang pasukan berkuda dan dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, lalu Daud menyuruh memotong urat keting segala kuda kereta, rnenyisakan seratus ekor kuda kereta. Kemudian, orang Aram dari Damsyik datang menolong Hadadezer, Raja Zoba, tetapi orang Aram itu dibunuh Daud sebanyak dua puluh dua nibu orang. Demikianlah Daud mendapat nama. Ketika ia pulang, ia menewaskan delapan belas ribu orang Edom di Lembah Asin …, tetapi orang Aram itu lari dari hadapan orang Israil. Daud membunuh dari orang Aram itu tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang pasukan berkuda….”

Ketika Raja Daud belum puas melakukan pembantaian dengan menggunakan pedang, dia menemukan cara baru untuk melakukan pembantaian.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan diangkutnya banyak sekali jarahan dari kota itu. Penduduk kota itu diangkutnya dan dipaksanya bekerja dengan gergaji, penggerek besi, dan kapak. Juga dipekerjakan mereka di tempat pembuatan batu-bata. Demikinlah juga dilakukan Daud terhadap segala kota bani Amon.. ..

Setelah pembantaian yang dilakukan Daud mulai melemah, dia sudah tidak mempunyai musuh lagi, kecuali anaknya yang bernama Absalom. Kemudian, terjadilah permusuhan antara keduanya yang mengharuskannya untuk menyembelih Absalom. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan terjadilah pertempuran di hutan Efraim. Tentara Israil terpukul kalah di sana oleh orang-orang Daud. Pada hari itu terjadilah di sana pertumpahan darah yang dahsyat, dua puluh ribu orang tewas. Kemudian, pertempuran meluas meliputi seluruh daerah itu. Hutan itu memakan lebih banyak orang di antara tentara daripada yang dimakan pedang pada han itu.. . .”

Kemudian, datanglah Sulaiman yang bijaksana, dan mendapati bahwa suatu keharusan baginya untuk melakukan pertumpahan darah demi menyempurnakan kebijaksanaan, melengkapi ketajaman pemikiran yang ada pada dirinya, serta mengokohkan sendi-sendi kerajaan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tujuh hari lamanya mereka berkemah berhadap-hadapan. Tetapi pada hari yang ketujuh, mulailah pertempuran. Pada satu hari orang Israil menewaskan seratus ribu orang berjalan kaki dari orang Aram itu. Orang-orang yang masih tinggal melarikan diri ke Afek, ke dalam kota, tetapi temboknya roboh menimpa 20.000 orang yang masih tinggal itu.. .

Sepertinya tidak benar kalau kita menyepelekan bagian malaikat menurut Taurat Yahudi dalam penumpasan dan penyembelihan ini, sebagaimana yang telah disebutkan dalarn asfar Yahudi, “Pada malam itu keluarlah malaikat Tuhan, lalu dibunuhnyalah seratus delapan puluh ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan paginya tampaklah bangkai orang-orang mati belaka.”

Pertikaian untuk mendapatkan keridhaan Yahua antara Yehuda dan Israil semakin memanas sehingga akhirnya terjadilah peperangan sengit di antara mereka berdua. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang. Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israil oleh Abia dan Yehuda. Orang Israil lari dari depan Yehuda, tetapi Allah menyerahkan mereka ke dalam tangan Yehuda. Abia dengan laskarnya mendatangkan kekalahan yang besar kepada mereka. Dan orang Israil mati tenbunuh 500.000 ribu orang pilihan. Demikianlah orang Israil ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh karena mereka mengandalkan diri kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka.”

Selain itu, Yoram bin Yehuda juga membaskan pedangnya kepada saudara-saudaranya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Sesudah Yoram memegang pemerintahan atas kerajaan ayahnya dan merasa dirinya kuat, ia membunuh semua saudaranya dan juga beberapa pembesar Israil dengan pedang….”

Kemudian, ibu Ahazia bin Yoram yang bernama Atalya menumpas semua keturunan kerajaan yang disucikan. Kenapa tidak? Aku mengatakan bahwa dia adalah termasuk orang-orang yang pemberani dan haus akan pertumpahan darah. Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah Ia membinasakan semua keturunan raja dan kaum Yehuda..

Ketika para imam meramal Zakaria, mereka membunuhnya di rumah Tuhan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu roh Allah menguasai Zakaria, anak Imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat dan berkata kepada mereka, Beginilah firman Allah, ‘Mengapa kamu melanggar penintah-perintah Tuhan sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan Tuhan, ia pun meninggalkan kamu!’ Akan tetapi, mereka mengadakan kesepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah Tuhan….’ Pada pergantian tahun tentara Aram maju menyerang Yoas dan masuk ke Yehuda dan Yerussalem. Dan bangsa itu semua pemimpin habis dibunuh mereka.. ”

Sepertiriya Yahua telah marah kepada bangsa-Nya dikarenakan pembantaian yang mereka lakukan telah mulal merosot turun, maka kemudian datanglah Amazia yang saleh, memberanikan diri mencegah kemerosotan itu. Disebutkan dalam kitab mereka, ‘Amazia mendapat keberanian, lalu memimpin rakyatnya ke Lembah Asin dan memukul kalah sepuluh ribu orang dari bani Seir. Selain itu, sepuluh ribu orang ditawan hidup-hidup oleh bani Yehuda dan dibawa ke suatu puncak bukit batu, lalu mereka dicampakkan dari puncak bukit batu itu…. Orang-orang dari pasukan yang dipulangkan Amazia, dan yang tidak diperbolehkan ikut berperang dengan dia, menyerbu kota-kota di Yehuda dari jurusan Samaria sampai ke Bet Horon, dan menewaskan tiga ribu orang penduduknya dan merampas banyak jarahan.

Bantuan terhadap Israil terus mengalir. Mereka juga mendapatkan rencana dan Yahua, dan menolong mereka dalam menghadapi Yehuda. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, Ia diserahkan pula ke dalam tangan Raja Israil dan mengalami kekalahan yang besar. Sebab, dalam sehari Pekah bin Remalya menewaskan di Yehuda 120.000 orang, semuanya orang-orang yang tangkas oleh karena mereka telah meninggalkan Tuhan Allah nenek moyang mereka. Pahlawan dari Efraim yang bernama Zikhri membunuh Maseya, anak raja, Azrikam, kepala istana, dan Elkana (orang kedua di bawah raja). Orang Israil menawan dari saudara-saudaranya dua ratus ribu orang, yakni wanita, anak laid-laki, dan anak-anak perempuan. Mereka merampas juga banyak harta benda dari orang-orang itu dan membawa rampasan itu ke Samania.”

Kitab orang-orang Yahudi ini tidak menyembunyikan hakikat keberadaan bangsa pilihan Yahua dan kecondongan mereka menghisap darah, mematahkan tulang-belulang manusia, dan membunuh anak-anak. Bahkan, dan anak-anak golongan Yahudi sekalipun. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lihat suatu bangsa yang bangkit seperti singa betina dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya sebelum Ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya…. Allah membawa meneka keluar dari Mesir. Bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan. Bangsa-bangsa yang menjadi lawannya akan ditelannya habis dan tulang-tulang mereka akan dihancurkannya..

Nabi mereka yang bernama Armiya terkadang menentang pembunuhan dengan api terhadap anak-anak Yahudi, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab mereka, “Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anak lelaki dan perempuannya, suatu hal yang tidak pemah kuperintahkan dan tidak pernah timbul dalam hatiku.. ..” Kita dapati dia terus bersenandung mengulangi kebengisan Tuhan mereka dan kekejaman-Nya terhadap orang-orang tua, para jejaka, dan para perawan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Engkau tadinya adalah palu godam bagi-Ku, senjata perang. Dengan engkau Aku menghancurkan bangsa-bangsa. Dengan engkau Aku memusnahkan kerajaan-kerajaan. Dengan engkau Aku menghancurkan kuda dan pengendaranya. Dengan engkau Aku menghancurkan kereta dan penunggangnya. Dengan engkau Aku menghancurkan laki-laki dan perempuan. Dengan engkau Aku menghancurkan orang tua dan muda. Dengan engkau Aku menghancurkan taruna dan dara. Dengan engkau Aku menghancurkan gembala dan kawanan dombanya. Dengan engkau Aku menghancurkan petani dan lembu pembajaknya. Dengan engkau Aku menghancurkan penguasa dan para pembesar.”

Kesucian Taurat Ester, dikhususkan oleh para imam bani Israil. Asfar yang lengkap, yang datang sebagai lambang kebohongan, rencana jahat, kedustaan, pelanggaran janji, kebuasan, dan sebagai lambang kekejaman. Telah disebutkan dalam asfar ini cerita tentang Mordekhai, salah seorang penjaga pintu gerbang kerajaan Raja Ahasyweros. Kisah tentang bagaimana Yahudi ini bisa merusak hubungan Raja dengan kerajaannya dengan tujuan agar sang Raja dapat kiranya mengawinkannya dengan anak pamannya, Ester. Kisah bagaimana Haman mengatur rencana jahat terhadap bangsa Yahudi. Kemudian, ia memanfaatkan Ester untuk ikut memasukkan cerita bohong tentang rencana jahat ini ke dalam hati sang raja. Siasat busuk untuk membunuh semua musuh yang mengancam Yahudi. Dengan perintah ini, akhirnya Mordekhai sukses meraih keberhasilan yang gemilang. Kesuksesannya itu dapat dilihat dengan keberhasilannya membunuh berpuluh-puluh ribu jiwa bangsa pilihan Tuhan, yaitu bangsa Israil. Tidak seorang pun di antara mereka yang dibiarkan hidup sehingga membuktikan ketidakbersalahan bangsa yang memprihatinkan itu dan rencana jahat Yahudi, yang diciptakan oleh Mordekhai. Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika Haman melihat Mordekhai ada di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit, dan tidak bergerak menghormati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk memukul Mordekhai karena mereka memberitahukan kepadanya tentang kebangsaan Mordekhai. Haman mempengaruhi raja untuk membunuh habis semua orang Yahudi yang ada di setiap wilayah kerajaan Ahasyweros. Datanglah Raja dengan Haman untuk dijamu oleh Ester, sang ratu. Pada hari yang kedua itu, sambil minum anggur, bertanyalah pula Raja kepada Ester, ‘Apakah permintaanmu hai Ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Bahkan, setengah kerajaan sekalipun akan kupenuhi … maka Raja mengulurkan tongkat emas kepada Ester, lalu bangkitlah Ester dan berdiri di hadapan raja, serta sembahnya, ‘Jikalau baik pada pandangan Raja, jikalau hamba mendapat kasih Raja, hal ini kiranya dipandang benar oleh Raja, dan Raja berkenan kepada hamba, maka hendaklah dikeluarkan surat titah untuk menarik kembali surat-surat yang berisi rancangan Haman bin Hamedata, orang Agag itu, yang ditulisnya untuk membinasakan orang Yahudi di dalam semua daerah kerajaan.’

Raja Ahasyweros berkata kepada Ester, Ratu Mordekhai yang juga seorang Yahudi, Aku berikan rumah Haman untuk Ester. Adapun dia, maka Ia telah menyalibnya di atas kayu karena mengulurkan tangannya kepada Yahudi… Namun, Mordekhai belum merasa cukup hanya dengan membunuh Haman, maka dia pun merencanakan ribuan pembantaian untuk memenuhi hasrat membunuh yang memang merupakan wataknya dan melakukan balas dendam terhadap orang-orang tak berdosa.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Maka dia menulis surat atas nama Raja Ahasyweros, kemudian ia memateraikan surat itu dengan cincin materai Raja. Setelah itu, dia mengirim surat-surat itu dengan menggunakan perantaraan pesuruh-pesuruh yang berkuda … yang isinya: Raja mengizinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta memusnahkan, membunuh, atau membinasakan segala tentara. Bahkan, anak-anak dan perempuan-perempuan dan bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka serta merampas harta milik mereka…. Di dalam Benteng Susan saja orang Yahudi membunuh dan membinasakan lima ratus orang. Kesepuluh anak laki-laki Haman bin Hamedata, seteru orang Yahudi, dibunuh oleh mereka … lalu Raja bertitah kepada Ester, sang ratu, ‘Di dalam Benteng Susan saja orang Yahudi telah membunuh dan membinasakan lima ratus orang beserta kesepuluh anak Haman … dan apakah permintaanmu sekarang, niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu lagi, niscaya dipenuhi.’

Setelah kesepuluh anak-anak Haman disulakan pada tiang sebagaimana permintaan Ester, orang-orang Yahudi berangkat melakukan pembantaian terhadap bangsa-bangsa di ternpat-tempat lain…. Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya. Mereka membunuh 70.000 orang di antara pembenci-pembenci mereka, hal in terjadi pada hari yang ke-13 dalam bulan Adar.

Pada hari yang ke-14, berhentilah mereka dan hari itu dijadikan mereka sebagai hari perjamuan dan sukacita. Disebutkan dalam kitab mereka, “Hari itu adalah hari led resmi bagi orang-orang Yahudi.”

Kita tidak lupa – tatkala kita memperhatikan pembantaian-pembantaian yang sampai memakan korban ratusan ribu hanya dalam satu kali peperangan dalam waktu satu atau setengah hari saja- untuk mengingat bahwa senjata utama yang digunakan dalam pembarnaian-pembantaian pada waktu itu adalah pedang. Kita bisa membayangkan betapa tinggi tingkat kebuasan, keliaran, dan kebiadaban sebuah peperangan yang memakan korban setengah miliar nyawa tanpa menggunakan bom atom, atau bom hidrogen (zat cair), meriam, peluru, tank, pesawat pelempar rudal, dan roket (torpedo)…. Kita juga bisa membayangkan tingkat peradaban yang ditunjukkan bangsa Yahudi terhadap dunia ketika kita melihat dan membandingkan malapetaka dan bencana-bencana yang muncul dari penawanan terhadap dua ratus nibu wanita-wanita dan anak-anak hanya dalam satu peperangan, itu pun setelah mereka melakukan penyembelihan terhadap ratusan ribu jiwa, baik dari kalangan para tentara atau dari kalangan orang biasa. Demi Allah, hal itu bukanlah suatu peradaban, melainkan sebuah kebiadaban dan kebuasan. Sampai kita sering keliru tatkala kita menisbatkannya kepada binatang buas dan menyebutnya suatu kebuasan. Binatang buas tidaklah mau melakukan pembunuhan, kecuali untuk mengamankan makanannya. Adapun orang-orang Yahudi itu dari dulu sampai sekarang masih tetap haus akan berbagai peperangan dalam skala besar yang belum pernah dikenal dalam sejarah manusia.

5. Fasik dan Berakhlak Bejat

Belum pernah didapati dalam sejarah tindakan pencabulan, kejahatan, kefasikan, dan kebejatan akhlak menjadi suatu kesucian, kecuali dalam kitab Taurat Yahudi. Taurat juga telah menyusun berbagai pencabulan yang sama sekali belum pernah dikenal oleh agama-agama mana pun, kemudian dihalalkan. Demikian juga dengan kitab Taurat yang merupakan kitab pertama dalam segenap sejarah, telah memberikan pelajaran-pelajaran kebobrokan akhlak dan penghalalan Segala cara yang bertentangan dengan moral kemanusiaan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Pergilah Lot dan Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anak perempuannya di pegunungan sebab ia tidak berani tinggal di Zoar. Kemudian, menetaplah ia dalam satu goa beserta kedua anaknya. Kata kakaknya kepada adiknya, ‘Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya, dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya, ‘Tadi malam aku telah tidur dengan ayah, baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur. Masuklah engkau untuk tidur dengan dia supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.’ Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya, dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Lalu mengandunglah kedua anak Lot dan ayah mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan memberinya nama Moab. Dialah bapak orang Moab yang sekarang, yang lebih muda pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami. Dialah bapa bani Amon yang sekarang.”

Selain itu, Ruben bin Yakub telah melakukan kezaliman terhadap istri ayahnya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata, ‘Datanglah berkumpul supaya kuberitahukan kepadamu apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israil, ayahmu. Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku, dan permulaan kegagahanku. Engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan. Engkau yang membual sebagai air tidak lagi engkau yang terutama sebab engkau telah memiliki tempat tidur ayahmu. Waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku.” ‘ Kemudian, meluaslah kezaliman ini dalam kerajaan mereka dan pada anak-anak raja mereka. Absalom bin Daud mempraktikkannya dengan seluas-luasnya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, berkatalah Absalom kepada Ahitofel, ‘Berilah nasihat, apa yang harus kita perbuat?’ Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom, ‘Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israil mendengar bahwa engkau telah membuat dinimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya. Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampini gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israil. Pada waktu itu nasihat yang dibenikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari Allah.”

Absalom bin Daud telah mewarisi akhlak bejat ini dan ayahnya, Daud versi Taurat. Yang dimaksud Daud di Sini bukan Daud yang diagungkan oleh A1-Qur’an dan dihinakan oleh orang-orang Yahudi. Daud versi Taurat ini pernah memaksa istri salah seorang perwiranya ketika perwiranya tersebut sedang tidak ada di rumah karena sibuk berperang di barisan penyerang. Kemudian, ia membuat rencana jahat untuk menghabisi perwiranya agar Ia dapat mengawini perempuan cantik temannya berzina, istri perwiranya itu.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi, perempuan itu sangat elok rupanya. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata, ‘Itu adalah Batsyeba binti Eliem, istri Uria….’ Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Lalu perempuan ftu datang kepadanya, kemudian Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihlcan najisnya. Kemudian, pulanglah perempuan itu ke rumahnya. Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahuhn kepada Daud demikian, Aku mengandung.’ Lalu Daud menyuruh orang kepada Yoab untuk mengatakan, ‘Suruhlah Uria, orang Het itu, datang kepadaku.’ Maka Yoab menyuruh Uria menghadap Daud. Ketika Uria masuk menghadap Daud, ia mengizinkannya pulang untuk bermalam di rumahnya bersama istninya dengan demikian terhapuslah kejahatan yang telah diperbuatnya menghamili istri Uria. Akan tetapi, Uria adalah seorang yang cerdik, Ia dapat memahami rencana yang sedang dijalankan

oleh Daud. Kemudian, Ia membaringkan diri di depan pintu. istana bersama-sama hamba tuannya. Ketika pada pagi hari, Daud mengetahui bahwa Uria tidak pulang ke rumahnya, ia pun bertanya apa sebabnya. Dan pada waktu itu jawaban Uria sangat tepat dan cerdik sekali. Dia mengatakan bahwa sekarang para pasukan sedang bertempur di medan peperangan, maka Ia merasa tidak enak untuk pulang ke rumahnya dan bersenang-senang dengan istrinya. Kemudian, Daud pun mengembalikannya ke medan peperangan setelah menentukan rencana untuk melepaskan diri jeratnya dengan cara mengirimnya ke medan perang bersama Panglima Yoab. Dengan demikian sukseslah rencana itu dan terlepaslah Daud dari Uria yang mati karena sebab kecantikan istrinya. Kemudian, ia mengawininya setelah selesai hari berkabung. Berita kematian Uria telah membuat terperanjat istrinya, dan Ia merasa sedih atas kematian suaminya itu. Setelah hilang sedihnya, Daud pun menjemputnya untuk tinggal bersamanya di istana sebagai istrinya, maka dari istri inilah lahir anaknya…

Kitab Taurat juga menggambarkan Daud pada hari tuanya yang senang terhadap para perawan, dia menyelirnuti diri dengan mereka ketika ia terkena penyakit demam. Disebutkan dalam kitab mereka, “Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya. biarpun Ia selimuti, badannya tetap dingin. Lalu para pegawainya berkata kepadanya, ‘Hendaklah dicari bagi tuanku raja seorang perawan yang muda, untuk melayani dan merawat Raja. Biarlah ia berbaring di pangkuanmu sehingga badan tuanku Raja menjadi panas.’ Maka di seluruh daerah Israil dicarilah seorang gadis yang cantik, dan didapatlah Abisag, gadis Sunem, lalu dibawa kepada Raja. Gadis itu amat cantik, dan ia menjadi perawat Raja dan melayani dia, tetapi Raja tidak bensetubuh dengan dia.

Benar bahwa sifat yang menjijikan ini terdapat pada diri Daud versi Taurat dan bangsanya semazhab. Mereka berenang dalam lautan dosa zina dan kehinaan semenjak 30 abad lalu sampai zaman kita sekarang ini. Kita juga tidak lupa tentang kisah Yehuda, salah seorang anak Yakub yang berzina dengan saudara perempuannya sendiri, Tamar, sebagaimana disebutkan dalam kitab Taurat.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Setelah beberapa lama matilah anak Syua, istri Yehuda. Sehabis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya…. Ketika dikabarkan kepada Tamar, ‘Bapak mertuamu sedang di jalan menuju ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya.’ Maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan bersetubuh. Kemudian, pergi duduk di pintu masuk ke Enaim dijalan yang menuju ke Timna…. Ketika Yehuda melihat dia, disangkanya dia seorang perempuan sundal …, lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata, ‘Marilah, aku mau menghampiri engkau.’ Sebab, ia tidak tahu bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu, ‘Apakah yang akan kau berikan kepadaku jika engkau menghampiriku?’ Jawabnya, ‘Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dan kambing dombaku.’ Kata perempuan itu, Asal engkau memberikan jaminannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.. ”

Kesimpulannya, Yehuda pun memberikan cincin, sapu tangan, dan tongkatnya sebagal barang jaminan, kemudian ia pun berzina dengannya. Setelah beberapa lama ia melakukan perzinaan itu, Tamar menghilang begitu saja. Ketika Yehuda mengirimkan anak kambing itu untuk mengambil kembali jaminannya, dia tidak menjumpai lagi perempuan itu.

Setelah itu, kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda bahwa Tamar telah berzina, bahkan telah mengandung dari perzinaannya itu tanpa menunggu iddah (masa menunggu) dari suaminya, yaitu anak Yehuda. Kemudian, Yehuda pun memerintahkan orang untuk membakarnya. Ketika pembakaran tersebut akan dilakukan, Tamar mengeluarkan barang-barang jaminan yang dahulu diberikan Yehuda kepadanya. Setelah melihat barang-barang jaminan itu, Yehuda pun mengakui bahwa dia adalah temannya berzina dulu, dibatalkanlah hukuman bakar itu terhadapnya. Setelah beberapa lama Tamar pun melahirkan anak kembar. Mereka dia beri nama Peres dan Zerah. Dan keturunan Peres, Ia mendapatkan cucu bernama Buiz yang kawin dengan Bruts yang merupakaa nenek moyang Moab. Dan dari keturunan mereka berdua lahirlah Daud versi Taurat. Jadi, Daud adalah seorang anak hasil perzinaan karena Moab, ayahnya, adalah seorang anak haram. Ibunya adalah anak Lot yang mengandung dari ayahnya sendiri. Buiz adalah anak keturunan Peres juga dan hasi perzinaan. Dengan demikian Daud terlahir dan keturuna pezina, menurut kitab Taurat.

Dalam kitab Taurat terdapat kejadian-kejadian yang lebih buruk dan lebih bejat dan semua yang telah kita baca tadi. Disebutkan bahwa anak Daud yang bernama Amnon berzina dengan saudara perempuannya, Tamar. Kemudian, saudara kandungnya Absalom marah dan membalaskan dendamnya melalui salah seorang anak buahnya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Amnon mempunyai seorang sahabat bernama Yonadab, anak Simea, kakak Daud. Yonadab itu seorang yang sangat cerdik. Katanya kepada Amnon, ‘Hai anak Raja, mengapa engkau demikian merana setiap pagi? Tidakkah lebih baik engkau memberitahukannya kepadaku.’ Kata Amnori kepadanya, aku cinta kepada Tamar, adik perempuan Absalom, saudaraku itu.’ Lalu berkatalah Yonadab kepadanya, ‘Berbaringlah di tempat tidurmu dan berbuat pura-pura sakit. Apabila ayahmu datang menengok engkau, maka haruslah engkau berkata kepadanya, ‘Izinkanlah adikku Tamar datang memberi aku makan. Apabila Ia menyediakan makanan di depan mataku sehingga aku dapat melihatnya, maka aku akan memakannya dari tangannya.’ Sesudah itu berbaringlah Amnon dan berbuat pura-pura sakit. Ketika Raja datang menengok dia, berkatalah Amnon kepada Raja, ‘Izinkanlah adikku Tamar datang membuat kue di depan mataku supaya aku memakannya dari tangarinya.’ Lalu Daud menyuruh orang kepada Tamar dengan pesan, ‘Pergilah ke rumah Amnon … dan sediakanlah makanan baginya.’ Setelah itu, Tamar pergi ke rumah Amnon yang sedang berbaring-baring, lalu anak perempuan itu mengambil adonan, meremasnya, dan membuat kue di depan matanya, kemudian dibakarnya kue itu. Sesudah itu gadis itu mengambil kuali dan mengeluarkan isinya di depan Amnon, tetapi ia tidak mau makan. Berkatalah Amnon, ‘Suruhlah setiap orang keluar meninggalkan aku.’ Keluarlah setiap orang meninggalkan dia. Kemudian, berkatalah Amnon kepada Tamar; ‘Bawalah makanan itu ke dalam kamar supaya aku memakannya dari tanganmu.’ Tamar mengambil kue yang disediakannya itu, lalu membawanya kepada Amnon, ke dalam kamar. Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya Ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya, ‘Marilah tidur dengan aku, adikku.’ Gadis itu berkata kepadanya, ‘Tidak kakakku, jangan perkosa aku sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israil. Janganlah berbuat noda seperti itu.’ Oleh karena itu, berbicaralah dengan Raja sebab Ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu. Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya. Dia lebih kuat daripada Tamar, diperkosanyalah dia…. Kemudian, timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu daripada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya, ‘Bangunlah, enyahlah!’ Tamar menaruh abu di atas kepalanya, mengoyakkan baju kurung yang maha indah yang dipakainya dia meletakkan tangannya di atas kepalanya, dan pergilah Ia sambil meratap dengan nyaring. Berkatalah kakaknya yang bernama Absalom kepadanya, ‘Apakah Amnon kakakmu itu telah bersetubuh dengan engkau? Adikku, diamlah saja. Bukankah Ia kakakmu. Janganlah begitu memikirkan perkara itu.”

Adapun Sulaiman, Taurat telah menggambarkannya sebagai seorang laki-laki hypersex yang hanya bisa puas dengan beratus-ratus istri dan gundik.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Adapun Raja Salomo, maka Ia mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Fir’aun, Ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Anion, Edom, Sidon, dan Het. Padahal tentang bangsa-bangsa itu, Tuhan telah berfirman kepada orang-orang lsrail, ‘JanganIah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu. Sebab, sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada Allah mereka. Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik. Istri-istrinya itu lebih menarik hatinya daripada Tuhan.. ..”

Sepertinya kurang tepat apabila kita menutup pembicaraan kita dalam masalah akar kefasikan dan kebejatan sebagaimana yang tertulis dalam kitab Taurat, tanpa mempelajari apa yang terdapat datam asfar mereka, yaitu asfar Kidung Agung. Penulis berharap agar pembaca jangan berpikiran yang bukan-bukan, penulis hanya menukil dan kitab Rujuus Syaikh ila Swabaahu, “Dengarlah kekasihku! Lihatlah, Ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang, atau anak rusa. Lihatlah, Ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku mulai berbicara kepadaku, ‘Bangunlah manisku, jelitaku, marilah kemari! … Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas, bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah manisku, jelitaku. Kemarilah! … Aku hendak bangun dan berkeliling di kota, di jalan-jalan, dan di lapangan-lapangan. Kucari dia jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku temui peronda-peronda kota, ‘Apakah kamu melihat jantung hatiku?’ Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku. Kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku. Kusumpahi kamu, putri-putri Yerussalem. Demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang. Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya …! Li hatlah, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari Pegunungan Gilead. Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada. Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu. Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya. Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kijang kembar yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung. Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku. Engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dan perhiasan lehermu. Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku! Jauh lebih nikmat cintamu daripada anggur. Lebih harum bau minyakmu daripada segala macam rempah. Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku. Madu dan susu ada di bawah lidahmu. Bau pakaianmu seperti bau Gunung Lebanon. Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku. Kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambang dan maduku, kuminum anggur dan susuku. Makanlah teman-teman. Minumlah, minumlah sampai mabuk cinta! Aku tidur, tetapi hatiku bangun…. Bukalah pintu dinda, manisku, merpatiku, idamanku karena kepalaku penuh embun. Rambutku penuh tetesan embun malam! Bajuku telah kutanggalkan. Apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula? Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku. Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang. Tangannya bundaran emas, berhiaskan permata tarsis. Tubuhnya ukiran dan gading bertabur batu nilam. Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni. Perawakannya manis menyenangkan. Segala sesuatu padanya menarik. Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu putri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan karya tangan seniman, pusarmu seperti cawan yang bulat yang tak terkungkung anggur campuran. Perutmu timbunan gandum berpagar bunga-bunga bakung. Seperti dua anak rusa buah dadamu. Lehermu bagaikan menara gading. Betapa cantik, betapa jelita engkau, hal tercinta di antara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon kurma dan buah dadamu gugusannya. Kataku, ku ingin memanjat pohon kurma itu dan memegang gugusan-gugusannya.’ Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan napas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur! Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya…. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku supaya engkau mengajar aku. Akan kuberikan kepadarnu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku tangan kirinya ada di bawah kepalaku, dan tangan kanannya memeluk aku.”

6. Zalim dan Melampui Batas

Kitab Taurat adalah kitab pertama di dunia yang membolehkan tindakan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa. Bahkan, seorang anak dapat terkena hukuman karena kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Taurat secara resmi menetapkan hukuman imbas yang memakan korban anak-anak kecil, orang-orang tua, dan perempuan-perempuan yang tidak berdosa. Demikian juga membolehkan tindakan pembunuhan terhadap binatang-biriatang yang tidak berakal yang belum pernah dilakukan oleh satu syariat pun di dunia. Lihatlah apa yang telah dilakukan Musa versi Taurat ketika ia menghukum orang-orang dari kaumnya sendiri yang menentang dirinya dan memohon kepada Tuhannya agar mereka ditelan oleh bumi bersama dengan perempuan dan anak-anak mereka. Disebutkan dalam kitab mereka, “Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan istrinya, para anaknya, dan anak-anak yang kecil. Sesudah itu berkatalah Musa, ‘Dari hal inilah kamu akan tahu bahwa aku diutus Tuhan untuk melakukan segala perbuatan ini. Hal itu bukanlah dari hatiku sendiri. Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang ada di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Bumi menutup mereka sehingga mereka binasa dan tengah-tengah jamaah itu.”

Ketika kaum Musa versi Taurat menjumpai salah seorang sedang mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabtu, mereka tidak memberitahukan kepadanya tentang pengharaman melakukan pekerjaan apa pun pada hari itu. Mereka malah membunuhnya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika orang Israil ada di padang gurun, didapati mereka seorang yang mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabtu. Kemudian, orang-orang menghadapkan dia kepada Musa, Harun, dari segenap umat itu. Orang itu dimasukkan dalam tahanan karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa, ‘Orang itu pastilah dihukum mati, segenap umat Israil harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.’ Kemudian, segenap umat menggiring dia keluar tempat perkemahan dia dilontari dengan batu sehingga ia mati, seperti yang difirmankan Tuhan kepada Musa.”

Tuhan Yahudi memerintahkan rnereka untuk menghukum orang yang tak berdosa karena dosa dan kesalahan orang lain.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anak dan cucu-cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”

Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dan hukuman. Bahkan, Ia menimpakan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat…. ‘Anak-anak zina yang tak berdosa dikucilkan dari masyarakat sampai keturunan mereka kesepuluh. Disebutkan dalam kitab mereka, “Seorang anak haram janganlah masuk jamaah Tuhan, bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jamaah Tuhan.”

Yosua bin Nuun, pengganti Musa versi Taurat, juga mengakui dan mengesahkan hukum imbas. Ia tidak merasa cukup hanya dengan menghukum pelaku pencurian, namun semua keluarganya juga harus dibunuh.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian Yosua beserta seluruh Israil mengambil Akhan bin Zerah, perak, jubah, dan emas sebatang itu, anak-anaknya yang laki-laki dan perempuan, lembunya, keledainya, dombanya, kemahnya, dan segala kepunyaannya, lalu semuanya itu dibawa ke Lembah Akhor. Berkatalah Yosua, ‘Seperti engkau mencelakakan kami, maka Tuhan pun mencelakakan engkau pada hari ini. Seluruh Israil melontari Ia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu. Sesudah itu didirikanlah di atasnya suatu timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang. Lalu surutlah murka Tuhan yang menyala-nyala itu.”

Kenapa kita harus mencela Musa dan Yosua, sedangkan mereka tidak pernah melakukan apa-apa, kecuali apa yang disyariatkan oleh Yakub yang pernah bergulat dengan Tuhannya, yang kemudian Dia menamainya Israil. Yakub versi Taurat ini telah menzalimi saudaranya yang bernama Esau dan mencuri hak kesulungan dan keberkatan adiknya. Namun, bapak mereka tidak mengingkari perbuatan rencana penipuan dan kebohongan itu. Dia juga tidak menghilangkan kezaliman yang dilakukan oleh anaknya tersebut. Bahkan, sebaliknya dia menghalalkan dan membolehkannya….

Disebutkan dalam kitab mereka, “Sahutnya, Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.’ Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata, ‘Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia. Dan dia akan tetap orang yang diberkati. Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya, ‘Berkatilah aku ini juga, ya Bapak!’ Jawab ayahnya, ‘Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.’ Kata Esau, ‘Bukankah tepat namanya Yakub karena Ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.’ Lalu katanya, ‘Apakah Bapak tidak mempunyai berkat yang lain bagiku?’ Lalu Ishak menjawab Esau, katanya, ‘Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur. Maka kepadamu, apalagi yang dapat kuperbuat, ya Anakku?’ Kata Esau kepada ayahnya, ‘Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya Bapak? Berkatilah aku ini juga ya Bapak’ Dan dengan suara keras menangislah Esau. Ishak menjawab, ‘Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dan langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikrnu.. ”

Kita sebagai seorang Muslim percaya dan meyakini bahwa Fir’aun adalah seorang raja yang zalim. Taurat memutar batik cerita Musa dengan Fir’aun mi menjadi sebuah cerita yang sangat mengherankan, yang dapat membuat sedih setiap pembaca, ketika mereka melihat kesengsaraan yang dialami Fir’aun dan kaumnya. Kitab ini berlebihan dalam mélampiaskan kemarahan dan menerapkan hukum qisas terhadap bangsa yang terzalimi yang pada waktu itu diperbudak oleh Fir’aun, sebagairnana dia memperbudak bani Israil. Kebijakan Tuhan Yahudi telah menghalalkan sungai-sungai Mesir berubah menjadi lautan darah yang dapat mematikan ikan yang ada di dalamnya dan yang berada di selokan. Membuat tanah Mesir penuh dengan katak, debu-debu bumi berubah menjadi nyamuk-nyamuk, lalat-lalat akan beterbangan menyerang rumah-rumah orang Mesir dan tidak masuk ke rumah-rumah orang Israil. Kuda, keledai, unta, maupun sapi-sapi orang Mesir diserang oleh wabah penyakit. Orang-orang Mesir diserang oleh penyakit borok dan bisul. Kemudian, Tuhan menurunkan hujan es bersamaan dengan api yang menyala-nyala yang membakar semua perkebunan, rumput-rumput dan pohon-pohon, kecuali bumi Gosen, tempat bani Israil tinggal…. Dia mengirim belalang ke tanah Mesir yang memakan semua tumbuh-tumbuhan, baik yang masih hijau ataupun yang sudah kering. Kemudian, mendatangkan kegelapan yang menutupi alam selama tiga hari, tidak seorang pun dapat mengenali saudaranya, anak-anak sulung perempuan yang ada di Mesir akan mati. Bahkan, anak sulung perempuan Fir’aun yang sedang duduk di kursinya juga mati. Demikian juga dengan anak sulung budak perempuannya yang menghadapi batu kilangan, semua anak sulung binatang juga akan binasa.

Semua malapetaka mi ditimpakan Tuhan bani Israil terhadap bangsa Mesir karena perbuatan Fir’aun yang terlambat membawa bani Israil keluar dan tanah Mesir menuju negeri penuh dengan susu dan madu …, yaitu negeri Palestina.

Back to Part I . klik

to Part III . klik

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s