Karateristik Bani Israel Menurut Taurat (Part I)

Posted: Februari 10, 2011 in Khazanah

Karateristik Bani Israel Menurut Taurat (Part I)

Kitab yang disucikan dalam pandangan orang-orang Yahudi merupakan sebuah kumpulan kitab-kitab tebal yang dikumpulkan oleh dewan perkumpuan agung, setelah mereka kembali dari Saba, Babilonia, dan Yunani. Kumpulan kitab-kitab ini terdiri dan tiga bagian: Taurat, kitab-kitab tebal para nabi, dan lembaran-lembaran.

Kata Taurat berasal dan kata kerja aura dan ‘allama yang artinya ‘meriwayatkan dan mengajarkan.’ ini sama seperti pengajar dan pendidikan. Kemudian, kalimat tersebut digunakan untuk menyebutkan syariat Nabi Musa Alaihissalam, sebagaimana yang tetah disebutkan dalam Al-Qur’an. Taurat dalam pandangan orang-orang Yahudi adalah lima kitab-kitab besar yang dinisbatkan kepada Nabi Musa Alaihissalam.

Kelima kitab-kitab tersebut adalah: At-Takwin (Kejadian), A1-Khuruj (Keluaran), A1-Alawiyuun (Imamat), Al-Adad (Bilangan), dan At-Tatsniyah (Ulangan).

itab Keluaran terdiri dan kumpulan kitab-kitab tebal (asfar) lainnya, yaitu Yosua, Hakim-hakim, Samuel I dan Samuel II. Adapun Raja-raja Pertama dan Raja-raja Kedua disebut dengan bagian-bagian para nabi terdahulu. Selain itu, kitab ini juga terdiri dan asfar Yaseya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habaquq, Zetanya, Hagai, Zakaria, Maleakhi; dan bisa juga digunakan untuk menyebutkan kumpulan kitab-kitab tebal (asfar) para nabi yang lainnya.

Adapun Kitab Imamat terdiri dan: Hikam (Kebijakan-kebijakan), Adab-adab, Amtsal (Misal-misal), Mazmur atau Mazamir, dan Tawarikh. Tujuh di antara kitab-kitab ini termasuk ke dalam golongan kitab-kitab besar, yaitu: Al-Mazamir (Mazmur), Amtsal (Misal-misal), Ayub, Daniel, Ezra, Nehemia, dan Cerita-cenita tentang Hari-hari Pertama dan Kedua. Kemudian, lima di antaranya kitab-kitab kecil, yaitu: Rut, Lagu-lagu dan Segala Lagu (Kidung Agung), Al-Jami’ah, Al-Maratsi (Ratapan), dan Ester.

Kumpulan kitab-kitab tebal ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, yaitu pada zaman Bathlimus Filadelfus, pada tahun 247-285 SM oleh 70 ulama Yahudi, dan bertempat di Iskandariah Kemudian, diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Untuk pertama kalinya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada tahun 1942 M oleh seorang ilmuwan bernama Sa’diya Al-Fayumi .

Kitab-kitab tebal ini mencakup dasar-dasar pertama bagi agama Yahudi, yang di dalamnya terdapat hukum syariat, keyakinan-keyakjnan, dan upacara-upacara keagamaan.

1. Janji-janji Palsu

Janji-janji palsu yang terus berulang-ulang dalam kitab Taurat merupakan batu pengganjal dalam diri orang-orang Yahudi yang menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan dunia. Hal ini juga menjadikannya sebagai warisan kemanusiaan yang terus-menerus sepanjang zaman. Ia adalah penyakit yang sudah mendarah daging, sulit untuk diobati walau dengan obat apa pun.

Arus janji-janji dalam kitab Taurat ini sudah mulai bermunculan sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam , pada zaman dia memijakkan kakinya menuju Syakim yang pada saat itu ditempati oleh orang-orang Kanaan. Dalam kitab mereka disebutkan, “Ketika itu Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dan berfirman, ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu, dan setelah Lot berpisah dan Abraham, berfirmanlah Tuhan kepada Abraham, ‘Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur, barat, utara, dan selatan sebab seluruh negeri yang engkau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-selamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya. ..” Tampak dan paragraf ini bahwa Ibrahim Alaihissalam belum mampu melihat ke arah utara, selatan, timur, dan baratnya, kecuali terbatas hanya beberapa kilometer saja sehingga mengharuskan mereka untuk mengubah janji-janji lainnya agar menjadi lebih umum dan lebih luas. Terkadang sampai ke Sungai Nil (dan arah selatan) dan Sungai Eufrat (dari arah timur) dengan tujuan untuk menyebarkan anak keturunan yang baik, yang jumlahnya banyak sekali seperti debu di daratan…. Disebutkan dalam kitab mereka, “Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham, serta berfirman, ‘Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar yaitu Sungai Eufrat. Yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang-onang Kanaan, orang Girgasi, dan orang Yabus itu.”

Sebagaimana diketahui bahwa seharusnya pada setiap perjanjian terdapat dua belah pihak yang saling berjanji. Namun, “tuhan”nya orang-orang Yahudi mengubah syarat-syarat yang harus ada di dalamnya kepada satu perjanjian yang hanya dari satu pihak saja. Ini mereka lakukan dengan tujuan untuk membebaskan mereka (orang-orang Yahudi) dari kewajiban-kewajiban yang mengekang dan mengatur kehidupan. Disebutkan dalam kitab mereka, Lalu sujudlah Abraham, dan Allah berfirman kepadanya, ‘Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: engkau akan menjadi bapak sejumlah besar bangsa … dan Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang engkau diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama selamanya.

Dan Nabi Ibrahim Alaihissalam, janji-janji ini mengalir kepada anaknya, Ishak. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu Tuhan menampakkan din kepada-Nya serta berfirman, ‘Jangan engkau pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit. Aku memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.”

Dan dari Ishak, perjanjian-perjanjian palsu ini turun kepada anaknya, Yakub, yang keluar dan Sumur Saba, lalu pergi menuju Haron dan mendapati sebuah tempat. Kemudian, mengmap di sana, lalu bermimpi. Disebutkan dalam kitab mereka, “Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman, ‘Akulah Tuhan Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak. Tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan képadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya.”

Sepertinya mimpi itu saja belumlah cukup. Oleh karena itu, muncullah Allah kepada Yakub dan berfirman, “Namamu Yakub. Dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan lsrail, itulah yang akan menjadi namamu …. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada anak keturunanmu.”

Kemudian, janji-janji ini pun terus mengalir sampai kepada Musa Alaihissalam . Disebutkan dalam kitab mereka, ” … Lalu Musa menutupi mukanya sebab ia takut memandang Allah, dan Tuhan berfirman, ‘Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sunggih kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Oleh sebab itu, Aku turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu kepada suatu negeri yang baik dan luas. Suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya … – Kemudian Rabb berbicara kepada Musa untuk yang kedua kallnya dan mengulangi perjanjian penyerahan bumi Kanaan kepada bani Israil. Dan pada kesempatan ini, Rabb menyebutkan nama-Nya dan berkata bahwa Dia disebut dengan Yahua. Disebutkan dalam kitab mereka, “… Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku Yahua … belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing….”

Namun, sepertinya perjanjian-perjanjian dan pengikat-pengikat ini saja tidak cukup untuk mendorong bani Israil mencaplok bumi Kanaan, maka keluarlah kepada mereka perjanjian-perjanjian yang dapat memotivasi mereka, yang dibarengi oleh malaikat yang berjalan di depan kekuatan mereka yang terus merangkak. Disebutkan dalam kitab mereka, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, ‘Pergilah, berjalanlah dari sini engkau dan bangsa itu yang telah kau pimpin keluar dan tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Demikian kepada keturunanmulah Kuberikan negeni itu. Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi, dan orang-orang Yabus -yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu . Maka, Tuhan akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripada kamu. Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya mulai dari padang gurun dan Gunung Lebanon, dan dan sungai itu, yaitu Sungai Eufrat sampai laut sebelah barat akan menjadi daerahmu.”

Di sini kita dapat menyaksikan bagaimana Yahua menggabungkan daerah Lebanon ke dalam daerah perjanjian, dan tampak bahwa sifat serakah telah menguasai jiwa-jiwa bani Israil ketika Musa sampai membawa mereka ke ujung-ujung bumi Kanaan. Keserakahan dan ketamakan itu mencerminkan (membuahkan) Perjanjian Baru. Perjanjian ini disebutkan dalam Taurat melalul lidah Musa yang menjelaskan tentang ketamakan-ketamakan baru, yaitu sampai mencakup negeni Lebanon, daerah Tepi Barat sampal ke Sungai Eufrat. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tuhan Allah kita telah berfirrnan kepada kita di Horeb, demikian, ‘Cukup kamu tinggal di gunung ini, majulah, berangkatlah, pergilah ke Pegunungan Amori dan kepada semua tetangga mereka di Arab-Yordan, di pegunungan, di daerah bukit, di tanah Negeb dan di tepi pantai laut negeri orang Kanaan dan ke Gunung Lebanon sampal Eufrat sungai besar itu.”

Untuk mendapatkan kebebasan dengan sempurna dan terlepas dari berbagai kewajiban apa saja di hadapan Yahua Tuhan sembahan mereka, orang-orang Yahudi mendapatkan sebuah dekrit dari-Nya. Di dalam dekrit tersebut mereka diperingatkan akan suatu keyakinan bahwa setiap bangsa yang mereka pilih untuk Tuhannya, tidaklah mereka memilihnya, melainkan karena kelebihan-kelebihan penciptaan mereka (orang Yahudi) daripada bangsa pilihannya tersebut. Bahkan, dekrit tersebut menguatkan bahwa Tuhannya telah memilih mereka dan Dia mengetahui bahwa orang Yahudi tidak memiliki keberuntungan. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dengarlah hai orang Israil! Engkau akan menyeberangi Sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsa-ban1gsa yang lebih besar dan lebih kuat daripadamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit. Suatu bangsa yang besar dan tinggi, orang Enok, yang kau kenal dan yang tentangnya engkau dengar orang berkata, ‘Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enok? Maka ketahuilah pada hari ini bahwa Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan di depanmu laksana api yang menghanguskan. Dia akan memusnahkan mereka dan Dia akan menundukkan mereka di hadapanmu. Demikianlah dia akan menghalau dan membinasakan mereka dengan segera seperti yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhan. Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila Tuhan Allahmu telah mengusir mereka dari hadapanmu, ‘Karena jasa-jasakulah Tuhan membawa aku masuk menduduki negeri ini, padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah Tuhan menghalau mereka dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah Tuhan Allahmu menghalau mereka dari hadapanrriu, dan supaya Tuhan menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak, dan Yakub. Jadi, ketahuilah bahwa bukan karena jasa-jasamu Tuhan Allahmu memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk.”

Di tempat lain, keadilan ‘tuhan”nya orang-orang Yahudi dipertanyakan ketika bertoleran terhadap bangsa pilihan-Nya. Bahkan, ketika mereka meninggalkan syariat-Nya, membatalkan kewajiban-kewajiban-Nya, dan tidak menjaga wasiat-wasiat-Nya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku dan apa yang keluar dan bibir-Ku tidak akan Kuubah. Sekali Aku bersumpah demi kekudusanKu, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud. Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan tahtanya seperti matahari di depan mata-Ku…

Ketika Musa Alaihissalam meninggal dunia, Ia digantikan oleh Yosua bin Nun. Kemudian, keluarlah janji-janji dan perintah-perintah Yahua dengan jelas dan memotivasi. Disebutkan dalam kitab mereka, “Sesudah Musa mati, berfirmanIah Tuhan kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, ‘Hamba-Ku Musa telah mati. Oleh sebab itu, bersiaplah sekarang, seberangilah Sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israil itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepadamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dan padang gurun dan Gunung Lebanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yaknil Sungai Eufrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke laut besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.”

Ketika Yosua berusia lanjut dan hari demi hari pun berlalu, maka keluarlah perintah-perintah Yahua untuk membagi negeri Kanaan kepada anak cucu bani Israil. Pembagian tersebut merata sampai kepada mereka yang belum menginjakkan kakinya di dunia ini. Yahua membagi bumi ini merata kepada bangsanya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang kepala agraria yang ahli dalam pengukuran tanah. Disebutkan dalam kitab mereka, “Setelah Yosua menjadi tua dan lanjut umurnya, berfirmanlah Tuhan kepadanya, ‘Engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki. Inilah negeri yang tertinggal: segenap wilayah orang Palestina dan seluruh negeri orang Gesur. Mulai dari Sungai Sikhor di sebelah timur Mesir sampai ke daerah Ekron ke arah utara. Semuanya itu terhitung tanah orang Kanaan. Ada lima raja kota orang Palestina, yakni di Gaza, Asdad, Askelon, Gat, Ekron, dan orang Awi. Di sebelah selatan seluruh negeri orang Kanaan dan Meara, kepunyaan orang Sidon, sampai ke Afek, sampai ke daerah orang Amori. Seianjutnya, negeri orang Gebal dan seluruh Gunung Lebanon di sebelah matahari terbit, mulai dari Baal-Gad di kaki Gunung Hermon sampai ke jalan yang menuju ke Hamat. Semua orang yang diam di pegunungan, mulai dari gunung Lebanon sampai ke Misrefot, Maim, semua orang Sidon. Aku sendiri akan menghalau mereka dari depan orang Israil. Hanya undikanlah dahulu negeni itu di antara orang Israil menjadi milik pusaka mereka, seperti yang Kuperintahkan kepadamu.

Pada zaman Nabi Sulaiman sudah dipersiapkan agar kepemilikan abadi ada pada keturunannya. Disebutkan dalam kitab mereka, “… Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan tahta kerajaanmu atas Israil untuk selama-lamanya, seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata, ‘Keturunanmu takkan terputus dari tahta Kerajaan lsrail.”

Ketika Nabi Sulaiman tidak lagi menjaga wasiat-wasiat Yahua dan hatinya mulai condong dan berpaling dari-Nya, Yahua pun marah kepadanya. Namun, Ia melakukan tawarmenawar dengannya dan menunjukinya sebagal penghormatan kepada nenek moyangnya, Daud. Dia juga merayunya dengan cara menunda penghancuran kerajaannya sampai ia meninggal dunia. Disebutkan dalam kitab mereka, “Oleh karena itu, Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo sebab hatinya telah menyimpang dariipada Tuhan Allah Israil, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti Allah-Allah lain. Akan tetapi, Ia tidak berpegang pada yang diperintahkan Tuhan. Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Salomo, ‘Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu darimu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya. Oleh karena Daud, ayahmu. Dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan. Satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.”

Itulah pokok-pokok janji yang banyak disebut dalam kitab Taurat dan sering pula disebutkan berulang-ulang pada tempat yang berbeda-beda. Suatu hal yang jelas tampak bagi siapa saja di antara manusia normal bahwa hal itu adalah omong kosong belaka yang disebarluadkan oleh pembohong-pembohong Yahudi dalam kitab-kitab sejarah agama mereka yang telah dikumpulkan setelah beberapa abad dari wafatnya Nabi Ibrahim, Ishak, Yakub, Musa, Daud, dan Sulaiman Alaihimussa lam.

2. Ingkar dan Berkata Kotor terbadap Allah

Dalam sebuah buku karangan seorang ilmuwan Lebanon yang muncul beberapa tahun lalu disebutkan bahwa orang-orang Yahudi tidak pernah bersatu, mereka membentuk pikiran tentang ketuhanan sesuai dengan keadaan mereka yang suka mengasingkan diri dan sesuai dengan kondisi daerah tempat mereka menetap. Ilmuwan ini menyandarkan pemikiran-pemikirannya pada penemuan terhadap kota dan gua-gua yang berpusat di Samara, di daerah Al-Ladziqiay. Kebenaran pendapat ilmuwan Lebanon ini akan terbukti dengan mengkaji dan meneilti secara seksama terhadap Kitab Taurat. Dengan melakukan hal itu akan membuat seorang peneliti netral (tidak berat sebelah). Keyakinan bahwa agama Yahudi yang mereka anut diambil dan Taurat, sungguh mengherankan. Tuhan yang mereka sembah adalah tuhan yang mengherankan; kadang pintar dan kadang juga bodoh; kadang lemah dan kadang kuat. Tuhan yang lebih mementingkan penghuni dunia daripada penghuni langit…. Tuhan yang haus dengan peperangan dan pembakaran lemak-lemak musuhnya karena aroma lemak yang dibakar dapat membangkitkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam dirinya. Tuhan yang sangat rakus; sangat cinta terhadap emas. Tuhan yang besar kepala, yang merasa bangga dilayani oleh beribu-ribu imam. Mereka merendahkan diri kepadanya untuk mengatur berbagai ibadah dan perayaan-perayaan agama yang sungguh mengherankan, yang sama sekali tidak ada contohnya dari agama-agama lain. Mereka pernah menghitung jumlah tuhan-tuhan mereka dalam kitab Taurat, maka mereka memusatkan diri kepada Yahua, setelah mereka keluar dari negeni Mesir dan menyatakan bahwa Yahua adalah tuhan khusus bagi mereka. Namun, terkadang mereka menyebutnya tuhan Israil dan kadang juga menyebutnya sebagai tuhan tentara.

Sungguh mudah dalam pandangan kitab Taurat untuk melakukan pertemuan-pertemuan, dialog-dialog, atau memanjatkan permintaan-permintaan antara mereka dengan Yahua, Tuhan mereka. Sampai-sampai orang bisa mengatakan bahwa pertemuan dengan Tuhan itu lebih mudah danipada pertemuan-pertemuan dengan para hakim dan raja suatu negara pada zaman sekarang.

Untuk itu mari kita bersama-sama mengikuti dan menelusuri keajaiban-keajaiban agama Yahudi ini; melihat kekafiran dan hinaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Dalam kitab Taurat, orang-orang Yahudi mulai melakukan perubahan-perubahan dan menyatakan bahwa diri mereka lebih kuat dibanding dengan tuhan mereka. Ini mereka lakukan dengan maksud agar tuhannya bertindak sesuai dengan kemauan hawa nafsu mereka. Disebutkan dalam kitab mereka, “Pada malam itu Yakub bangun dan Ia membawa kedua istrinya, kedua budak perempuannya, dan kesebelas anaknya menyeberang di tempat penyeberangan Sungai Yabok. Sesudah Ia menyeberangkan mereka, Ia menyeberangkan juga segala miliknya. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat bahwa Ia tidak dapat mengalahkannya, Ia memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga terkilir. Kemudian, kata orang itu, ‘Biarkanlah aku pergi karena fajar telah menyingsing.’ Sahut Yakub, ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.’ Bertanyalah orang itu kepadanya, ‘Siapakah namarnu?’ Sahutnya, ‘Yakub.’ Lalu kata onang itu, ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi lsrail sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.’ Bertanyalah Yakub, ‘Katakanlah juga siapa namamu.’ Tetapi sahutnya, ‘Mengapa engkau menanyakan namaku?’ Lalu diberkatinyalah Yakub di situ..

Ketika telah berakhir pertemuan antara Yahua dengan Musa, Musa tidak ingin mendapatkan kehormatan tersebut sendirian tanpa yang lainnya. Oleh karena itu, Ia mengajak beberapa tokoh bani Israil. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab, Abihu, dan 70 orang dan para tetua-tetua Israil. Kemudian, mereka melihat Allah lsrail, kakinya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dan batu pualam dan yang terangnya seperti langit yang cerah. Tetapi kepada pemuka-pemuka orang Israil tidaklah diulurkannya tangannya, mereka memandang Allah, lalu makan dan minum. …”

Orang-orang Yahudi menyekutukan tuhan mereka dan mengakui adanya tuhan-tuhan lain. Disebutkan dalam kitab mereka, “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan lebih besar dari segala Allah. Sebab, ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.” Sebagaimana bahwa Tuhan ini benci dengan kehidupan berkemah yang harus berpindah-pindah dengan bani Israil. Namun, yang Dia senangi adalah bertempat tinggal di istana-istana. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tetapi pada malam itu juga datanglah firman Tuhan kepada Nathan, demikian, ‘Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud, ‘Beginilah firrnan Tuhan, kenapa engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Aku tidak pernah diam dalam rumah semenjak Aku menuntun orang-orang Israil dan Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman. Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israil, pernahkah Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israil, yang Kuperintahkan mengembalakan umat-Ku, Israil. Demikian, mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dan kayu aras? Oleh sebab itu, beginilah kau katakan kepada hamba-Ku Daud, ‘Beginilah firman Tuhan semesta alam…

Namun, karena Daud sibuk dengan berbagai peperangan sengit, akhirnya pembangunan tempat tinggal Rabb tidak bisa selesai pada masa pemerintahannya tapi selesai pada masa pemerintahan anaknya, Sulaiman. Disebutkan dalam kitab mereka, “Pada waktu itu berkatalah Salomo, ‘Tuhan telah menetapkan matahari di langit, tetapi ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.”

Apakah alasannya Rabb rnempunyai keinginan bertempat tinggal di rumah tertentu dan di tempat tertentu. Disebutkan dalam kitab mereka, “Sebab, Tuhan telah memilih Sion. Dia menginginkannya menjadi tempat kedudukan-Nya. Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam sebab Aku menginginkannya. Perbekalannya akan Kuberkati dengan limpahnya, orang-orang yang miskin akan Kukenyangkan dengan roti, imam-imamnya akan Kukenakan pakaian keselamatan, dan orang-onang yang saleh akan bensorak-sorai dengan girang.”

Pada zaman Sulaiman, terkuaklah keinginan Yahua tenhadap kurban, pembakaran dan aroma lemak yang dibakar. Disebutkan dalam kitab mereka, “Setelah Salomo mengakhiri doanya, api pun turun dari langit memakan habis kurban bakaran dan kurban-kurban sembelihan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu. Para imam tidak dapat memasuki rumah Tuhan itu karena kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan. Ketika segenap orang Israil melihat api itu turun dan kemuliaan Tuhan meliputi rumah itu, berlututlah mereka di atas lantai dengan muka mereka sampai ke tanah.”

Selama Tuhan merasa puas tinggal di antara asap yang mengepul sambil menikmati aroma lemak yang terbakar, maka sudah sepantasnyalah Sulaiman bersegera untuk memenuhi kelahapan Yahua dan mérealisasikan keinginan-Nya seluas mungkin. Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu raja bersama-sama segenap Israil mempersembahkan kurban sembelihan di hadapan Tuhan sebagai kurban keselamatannya kepada Tuhan. Salomo mempersembahkan 22.000 ekor sapi dan 102.000 ekor domba. Demikianlah raja-raja dan segenap Israil menahbiskan rumah Tuhan itu. Pada hari itu juga raja-raja menguduskan pertengahan pelataran yang di depan rumah Tuhan.

Di situlah ia mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian, dan segala lemak kurban keselamatan. Mazbah tembaga yang di hadapan Tuhan itu terlalu kecil untuk memuat kurban bakaran dan kurban sajian dan segala lemak kurban keselamatan itu.”

Setelah dihubung-hubungkan, penyembelihan-penyembelihan yang dilakukan untuk memenuhi keinginan Yahua ini dengan upacara-upacara keagamaan dan upacara-upacara penguburan jenazah , ternyata mempunyai hubungan yang sangat kental sekali. Kebanyakan acara-acara ini dilaksanakan pada waktu perjalanan keluar pada zaman Musa dan Harun. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, haruslah kau ambil domba jantan yang lain, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya ke atas kepala domba jantan itu. Haruslah kau sembelih domba jantan itu. Kau ambillah sedikit dari darahnya dan kau bubuhi pada cuping telinga kanan Harun dan pada cuping telinga anak-anaknya, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, dan darah selebihnya kau siramkanlah pada mazbah sekelilingnya. Haruslah kau ambil sedikit dari darah yang ada di atas mazbah dan dan minyak urapan itu dan kau percikkanlah kepada Harun dan pakaiannya dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka Ia akan kudus dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya. Dan domba jantan itu haruslah kau ambil lemaknya, ekornya yang berlemak, lemak yang menutupi isi perutnya, umbal hatinya, kedua buah pinggangnya, lemak yang melekat padanya paha kanannya – sebab itulah domba jantan persembahan penahbisan – kau ambillah juga satu keping roti, satu roti bundar yang bermniyak, dan satu roti tipis dari dalam berisi roti yang tidak beragi yang ada di hadapan Tuhan. Haruslah kau taruh seluruhnya ke atas telapak tangan Harun dan ke atas telapak tangan anak-anaknya dan haruslah kau persembahkan semuanya sebagai pengunjukan kepada Tuhan. Kemudian, haruslah kau ambil semuanya dari tangan mereka dan kau bakar di atas mazbah, yaitu di atas kurban bakaran sebagai persembahan yang harum di hadapan Tuhan; itulah suatu kurban bagi Tuhan.” Tuhan mencukupkan diri-Nya dengan lemak yang sudah terbakar dan gumpalan adonan roti serta sehelai roti dengan sedikit minyak, sementara sisa-sisa korban tersebut diserahkan kepada para imam. Ini kewajiban mereka selamanya yang dapat menjamin hidup mereka abadi dan sejahtera. Yahua sangat senang apabila kurban-kurban yang berupa makanan yang mengundang rasa lapar dan aroma kebahagiaan ini diserahkan kepada-Nya tepat pada waktu-waktu yang sudah ditetapkan-Nya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tuhan berfirman kepada Musa, ‘Peringatkanlah kepada orang-orang Israil dan katakanlah kepada mereka dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku … dan pada bulan-bulan mulia kalian harus mempersembahkan berupa kurban api, dua anak sapi, satu ekor kibas, tujuh ekor domba jantan yang sehat dan cukup haul … dan juga satu ekor kambing hitam sebagai kurban …. Pada bulan pertama pada tanggal 14 Tuhan berfirman … dan kalian harus mempersembahkan kurban api kepada Tuhan, dua ekor sapi jantan dan satu ekor domba.” Upacara keagamaan dan pengorbanan-pengorbanan ini terus berlanjut dalam putaran tahun, khususnya pada bulan ke-7 dan bulan-bulan mereka. Pada bulan ini mereka membawakan kurban-kurban mereka pada hati-hari pertama pada bulan tersebut. Demikian juga pada hati-hari kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan pada hari-hari kelimabelas pada bulan tersebut. Apakah Yahua sudah merasa cukup dengan darah dan lemak binatang tersebut?

Tampak dalam kitab Taurat bahwa kerakusan Yahua dan nafsu-Nya terhadap darah, mengharapkan kurban manusia. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kebetulan datanglah salah seorang Israil membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israil yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu kemah pertemuan. Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak Imam Harun, bangunlah Ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya mengejar orang Israil itu sampal ke ruang tengah dan menikam mereka berdua, yakni orang Israil dan perempuan itu pada perutnya. Kemudian, berhentilah tulah itu menimpa orang Israi1.”

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu roh Tuhan menghinggapi Yefta, Ia berjalan melalul daerah Gilead dan daerah Manasye. Kemudian, melalui Mizpa di Giliead dan dan Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu, bernazanlah Yefta kepada Tuhan. Katanya, ‘Jika engkau sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dan bani Amon, Itu akan menjadi kepunyaan Tuhan. Aku akan mempersembahkannya sebagai kurban api. Kemudian, Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon. Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangannya … ketika Yefta pulang ke Mizpa, ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan menyosong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal, selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyaknyalah bajunya, sambil berkata, ‘Ah anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku. Aku telah membuka mulutku bernazar kepada Tuhan, dan tidak dapat aku mundur.’ Tetapi jawabannya kepadanya ‘Bapak, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada Tuhan, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang engkau ucapkan itu … dan setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu. Jadi, gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. .” Di sannping itu, para imam pun tidak bisa selamat dan penyembelihanmu sebagai kurban bagi Yahua untuk mendapatkan keridhaan dan mengurangi kemarahan-Nya. Disebutkan dalam kitab mereka, ‘Juga segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria yang dibuat oleh raja-raja Israil untuk menimbulkan sakit hati Tuhan, dijauhkan oleh Yosia dan dalam hal ini Ia bertindak tepat seperti tindakannya di Betel. Ia menyembelih di atas mazbah-mazbah itu semua imam bukit-bukit pengorbanan yang ada di sana dan dibakarnya tulang-tulang manusia di atasnya, lalu pulanglah Ia ke Yerussalem.”

Yahua adalah Rabbul junud (Tuhan pasukan), Rabbul harbi (Tuhan peperangan), dan Rabbul Yahudi (Tuhan bangsa Yahudi) adalah Tuhan yang sangat zalim lagi pendengki. Dia telah mensyariatkan sebuah kaidah hukum yang dikenal dengan hukuman imbas, yaitu seorang yang tidak berdosa dapat menanggung dosa dan kesalahan orang lain yang berdosa dan bersalah. Disebutkan dalam kitab mereka, ‘Janganlah sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya sebab aku Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, kepada keturunannya yang ketiga dan keempat akibat dan orang-orang yang membenci aku.”

Sementara itu kita dapatkan pada kitab yang berjudul Zimamul Muganiyin , Daud menggambarkan Tuhannya dengan gambaran yang sangat menakutkan. Disebutkan dalam kitab mereka, ‘Asap membumbung dan hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar daripada-Nya. Ia menekukkan langit, lalu turun kekelaman yang ada di bawah kaki-Nya. Ia mengendarai Kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. Ia membuat kegelapan di sekeliIing-Nya menjadi persembunyian-Nya. Dia menjadikan pondok-Nya, air hujan yang gelap dan awan yang tebal. Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awannya bersama hujan es dan bara api. Maka Tuhan mengguntun di langit, yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya. DilepaskanMya panah-panah-Nya sehingga disebarkan-Nya kepada mereka kilat bertubi-tubi, dikacaukan-Nya mereka. Lalu, kelihatanlah dasar-dasar lautan dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu ya Tuhan, karena hembusan napas dan hidung-Mu.”

Kita juga mendapatkan gambaran yang lain tentang Tuhan, Ia digambarkan dengan sifat menyesal. Disebutkan dalam kitab mereka, “Setiap kali Tuhan membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka Tuhan rnenyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dan tangan musuh mereka selama hakim itu hidup. Sebab, Tuhan berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang menekan dan menindas mereka. Dan Allah mengutus malaikat ke Yerussalem untuk memusnahkannya. Ketika hendak dimusnahkannya, maka Tuhan melihatnya, lalu menyesallah Ia karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya itu, lalu berfirmanlah Ia kepada malaikat pemusnah itu, ‘Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.

Para imam Yahudi berpendapat tidak ada salahnya menggambarkan Yahua, Tuhan mereka, dengan kebodohan. Mereka juga mencatat bahwa anggapan seperti itu berdasarkan pengakuan Yahua sendiri. Ketika Yahua hendak keluar untuk menelusuri negeri Mesir yang telah memerangi bangsanya, Dia meminta kepada mereka (bangsa Israil) untuk menandai pintu-pintu rumah mereka dengan darah dengan tujuan agar Dia bisa membedakan antara rumah-rumah bangsa-Nya dengan rumah-rumah orang Mesir. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan pada hari itu hendaklah kalian menandai pintu-pintu rumah tempat kalian tinggal. Maka tampakkanlah kepada-Ku darah, maka Aku pun akan melewati kalian sehingga pukulan kematian-Ku tidak mengenai kalian ketika Aku memerangi negeri Mesir.”

3. Fanatisme dan Suka Mengucilkan Diri

Onang-orang Yahudi telah menancapkan dalam kitab Taurat mereka akar fanatisme ( taasub ) dan pengucilan diri. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah bangsa Yahua, bangsa terpilih. Mereka adalah sebaik-baik bangsa di seluruh dunia, dan sesungguhnya Yahua memilih mereka karena Ia mencintai dan menyucikan mereka. Taasub, pengakuan, dan penipuan mereka telah sampai pada pengakuan bahwa Yahua adalah Tuhan khusus bagi mereka. Mereka menyimpan-Nya hanya untuk diri mereka sendiri dan mengharamkan bangsa-bangsa lain untuk berhubungan dengan-Nya. kitab Taurat secara bertahap telah menanamkan sifat suka mengucilkan diri dan taasub sejak zaman Ibrahim Alaihissalam , mulai dari awal sampai akhir kitab tersebut. Disebutkan dalam kitab mereka, “Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya, ‘Baiklah, letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku supaya aku mengambil sumpahmu demi Tuhan Allah yang punya langit dan yang punya bumi bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.” Demikian juga yang dilakukan oleh Ishak terhadap anaknya, Yakub. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, Ishak memanggil Yakub lalu memberkati dia serta berpesan kepadanya, ‘Janganlah mengambil istri dari perempuan Kanaan. kemudian, datang perintah Yahua kepada Nabi Musa.” Disebutkan dalam kitab mereka, “Berpeganglah pada yang Kupenintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Berawas-awaslah, janganlah kau adakan perjanjian dengan penduduk negeri yang kau datangi itu supaya mereka jangan menjadi jerat bagimu di tengah-tengahmu. Sebaliknya, mazbah-mazbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka hendaklah kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang. Sebab, janganlah engkau sujud menyembah kepada Allah lain karena Allah cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzina dengan mengikuti Allah mereka dan mempersembahkan kurban kepada Allah mereka, maan membujuk juga anak-anakmu laki-laki untuk berzina dengan mengikuti Allah mereka.” Kemudian, Yahua membuktikan kecintaan-Nya yang membara dan kelengketannya dengan bangsa pilihan. Disebutkan dalam kitab mereka, %ka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan kurban sembelihan mereka. Apabila engkau mengambil anak-anak perempuan mereka menjadi istri anak-anakmu dan anak-anak perempuan itu akan berzina dengan mengikuti Allah mereka, maka mereka akE2

To Be Continued Part II . klik

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s