Karateristik Bani Israel Menurut Taurat

Posted: Februari 10, 2011 in Khazanah, sharing n completed

Part III

The End

7. Penipu, Pencuri, dan Tamak

Taurat versi Yahudi menghalalkan segala bentuk penipuan, pencurian, dan ketamakan serta menisbatkannya kepada para nabi. Dia menghiasi mereka dengan semua sifat jelek ini yang sama sekali tidak dapat ditenima oleh masyarakat. Bahkan, ditolak oleh penduduk pedalaman yang masih kolot dan liar, yang tidak pernah melihat seorang nabi pun semenjak dilahirkan sampai pada zaman kita sekarang ini.

Lihatlah apa yang telah dilakukan Ribka, istri Ishak, yang merupakan ibu Esau dan Yakub, ia menganjurkan anak bungsunya (Yakub) untuk mencuri berkat ayahnya dengan cara melakukan penipuan. Berkat itu seharusnya untuk Esau karena merupakan haknya sebagai anak yang paling besar.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Tetapi Ribka mendengarkannya ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya, berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya, ‘Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu, ‘Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan Tuhan, sebelum aku mati. Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu.’ Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang disenanginya. Bawalah itu kepada ayahmu supaya dimakannya agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati.’ Kemudian, Yakub berkata kepada Ribka, ibunya, ‘Tetapi Esau, kakakku, adalah seorang yang berbulu badannya, sedangkari kulltku licin. Mungkin ayahku akan meraba aku, maka nanti ia akari menyangka bahwa aku mau memperolok-olok dia. Dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat.’ Tetapi ibunya berkata kepadanya, Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku, dengarkan saja perkataanku. Pergilah ambil kambing-kambing itu.’ Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya. Sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang disenangi ayahnya. Lalu Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah. Disuruh Yakub mengenakannya. Dan kulit anak kambing itu dibalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya.”

Sukseslah rencana jahat tersebut dengan jalan memperdaya dan melakukan penipuan, kemudian Yakub mendapatkan barakah ayahnya, Ishak, hanya dengan usaha yang sama sekali tidak ada sulitnya. Setelah itu, Yakub pun meminum dan minuman yang ada dalam gelas yang telah dituangkan oleh saudaranya, Esau.

Demikianjuga setelah ia mencukupi masa kerjanya sebagai maskawin anak perempuannya paling kecil, Laban menipunya dengan cara mengawinkannya dengan anaknya yang paling besar. Kemudian, ia menikahkannya dengan anaknya yang paling kecil tadi dengan maskawin dia bekerja selama tujuh tahun seperti yang sudah dijalaninya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban, ‘Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab jangka waktuku telah genap supaya aku akan kawin dengan dia. Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu dan mengadakan perjamuan. Akan tetapi, pada waktu malam diambilnyalah Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakub pun menghampiri dia. Lagi pula Laban memberikan budak perempuannya yang bernama Zilpa kepada Lea untuk dijadikan budaknya. Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Berkatalah Yakub kepada Laban, ‘Apakah yang engkau perbuat terhadap aku ini? Bukankah aku mendapat Rahel bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?’ Jawab Laban, Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu danpada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini, kemudian anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi. Maka Yakub berbuat demikian.”

Kemudian, Yakub bermaksud melakukan balas dendam kepada Laban dengan cara yang sangat cerdik sekali. Sementara itu Laban sudah berniat akan menghadiahkan kepada Yakub karena keikhlasannya itu dan menjadikannya sebagai pelayan tetapnya serta memberikan kebebasan kepadanya untuk menentukan berapa pun besar upah yang diinginkannya. Akhirnya Yakub meminta semua kambing yang bintik-bintik dan belang-belang, semua domba jantan yang berwarna gelap dan kambing kacangan yang berwarna belang dan bintik-bintik sebagai upahnya, Laban pun menyetujuinya.

Untuk lebih jelasnya, manilah kita baca rencana jahat Yakub yang telah dipersiapkannya untuk menipu tuannya, Laban.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu Yakub mengambil dahan hijau dan pohon hawar, pohon badang, dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbenang-benang, sampai yang putihnya kelihatan. Ia meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum domba, tepat di depan domba itu. Adapun domba itu suka bersetubuh saat datang waktu minum. Jika kambing domba itu bersetubuh dekat dahan-dahan itu, maka anaknya berbintik-bintik dan berbelang. Kemudian, Yakub memisahkan domba-domba itu. Dihadapkannya kepala-kepala domba itu kepada yang bercoreng-coreng dan kepada segala yang hitam di antara kambing domba Laban. Demikianlah Ia beroleh kumpulan-kumpulan hewan baginya sendiri, dan tidak ditempatkannya pada domba Laban. Apabila bersetubuh domba yang kuat, maka Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata domba itu supaya bersetubuh di dekat dahan-dahan itu. Apabila datang domba yang lemah, tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi, hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub. Sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan mempunyai banyak domba, budak perempuan dan laki-laki, unta, serta keledai.

Musa versi Taurat belajar tentang seni menipu dan mencuri ini dari kakeknya, Yakub, sebagaimana yang digambarkan oleh Tuhan Yahudi dalam kitabnya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini sehingga apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak, emas, dan kain-kain yang akan kamu kenakan kepada anak laki-laki dan perempuanmu. Demikianlah, kamu akan merampas orang Mesir itu.

Lalu bangsa itu mengangkat adonannya sebelum diragi, dengan tempat adonan terbungkus dengan kain di atas bahunya. Orang Israil melakukan juga seperti kata Musa. Mereka rmeminta dari orang Mesir emas, perak, serta kain-kain. Tuhan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampas orang Mesir itu….”

Tuhan Yahudi ini sungguh mengherankan. Dia menghalalkan pencurian yang dilakukan bangsa pilihan-Nya terhadap harta orang lain selain bangsa pilihan-Nya. Dia juga telah mengatur langkah yang sangat jitu dan lengkap sekali yang Dia lakukan karena orang lain.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Sebab, Tuhan Allahmu membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik. Suatu negeri dengan sungai, mata air, dan danau yang keluar dan lembah-lembah dan gunung-gunung. Suatu negeri dengan gandum dan selainya, dengan pohon anggur, pohon ara, dan pohon delimanya. Suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya. Suatu negeri yang engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, engkau tidak akan kekurangan apa pun. Suatu negeri yang batunya mengandung besi dan dan gunungnya akan kau gali tembaga…. Hati-hatilah supaya engkau jangan melupakan Tuhan Allahmu. Janganlah kau katakan dalam hatimu, ‘Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.’ Haruslah engkau ingat kepada Tuhan Allahmu sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkannya dengan sumpah kepada nenek moyangmu seperti sekarang ini!.”

Salah satu sumber kekuatan yang diberikan Yahua kepada bangsa pilihan-Nya adalah menghalalkan perampasan harta orang lain dengan jalan riba, janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan. Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga supaya Tuhan Allahmu memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya..

Watak tamak, rakus, dan sangat mengagung-agungkan harta merupakan sifat asli pada diri orang-orang Yahudi semenjak diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia menetapkan sifat tersebut dalam hati-hati mereka sehingga menumbuhkan rasa cinta terhadap emas dan perak.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, ‘Katakanlah kepada orang Israil supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus. Dan setiap orang yang terdorong hatinya haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, linen halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, dan kayu penaga. Minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan, ukupan dan wangi-wangian, perrnata krisopras, permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada. Mereka harus membuat tempat kudus bagiku supaya aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang kutunjukkan kepadamu sebagai contoh kernah suci dan sebagai contoh perabotannya. Demikianlah kamu harus membuatnya.”

Kecintaan mereka terhadap emas ini mencapai derajat penyembahan. Mereka membuat seekor lembu dari bahan emas, kemudian mereka menyembahnya. Lalu turunlah kitab Taurat yang kemudian mengada-ada, yaitu menisbatkan pembuatan lembu emas kepada Nabi Harun Alaihissalam.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu berkatahah Harun kepada mereka, ‘Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga istrimu, anak laki-lakimu, dan anak perempuanmu. Bawalah semuanya kepadaku.’ Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah anak lembu tuangan. Kemudian, berkatalah mereka, ‘Hai Israil! Inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!’ Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mazbah di depan anak lembu itu.

Demikian juga dengan para imam Yahudi, mereka sangat mencintai emas. Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika tabut Tuhan itu ada di daerah orang Palestina, maka orang Palestina itu memanggil para imam dan para petenung, lalu berkata kepada mereka, ‘Apakah yang harus kami lakukan dengan tabut Tuhan itu? Beritahukanlah kepada kami bagaimana harus mengantar kembali ke tempatnya.’ Lalu kata mereka, ‘Apabila kamu mengantar tabut Allah Israil itu, maka janganlah karnu mengantarnya dengan tangan hampa, melainkan hanuslah kamu membayar tebusan salah kepada-Nya, maka kamu akan menjadi sembuh dan kamu akan mengetahui, mengapa tangan-Nya tidak mundur daripadamu…. Setelah itu, bertanyalah mereka, ‘Apakah tebusan salah yang harus kami bayar kepadanya?’ Jawab mereka, ‘Menurut jumlah raja-raja kota dan orang Palestina, lima borok emas dan lima tikus emas. Sebab, itulah yang sama menimpa kamu sekalian dan raja-raja kotamu. Jadi, buatlah gambar borok-borokmu dan gambar tikus yang merusak tanahmu, dan sampaikanlah hormatmu kepada Allah Israll. Mungkin ia akan mengangkat darimu, dan Allahmu, dan dari tanahmu.”

Pada hari besar mereka, pada zaman pemerintahan Sulaiman, tampaklah kebesaran perhatian mereka terhadap emas yang melebihi perhatian mereka terhadap segala-galanya. Demikian juga dengan Haikal mereka yang keagungan dan kesuciannya memenuhi semua halaman dalam kitab mereka, yang bangunannya berbentuk bangunan biasa. Tidak ada sama sekali suatu yang menarik dalam arsitekturnya. Tidak ada keindahan dan kesenian sama sekali, hariya timbunan emas yang digunakan untuk membuat bangunannya itu saja yang berharga.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Adapun emas yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat 666 talenta, belum terhitung yang didapat dari saudagar-saudagar dan dari pedagang-pedagang dan dari semua raja Arab dan penguasa di negeri itu. Raja Salomo membuat dua ratus perisai besar dari emas tempaan. Enam ratus syikal emas dipakainya untuk setiap perisai besar. Ia membuat juga tiga ratus perisai kecil dari emas tempaan, tiga mina emas dipakainya untuk setiap perisai kecil. Kemudian, Raja menaruh semua itu di dalam gedung, di hutan Lebanon. Raja juga membuat tahta besar dari gading, yang disalutnya dengan emas tua….”

8. Merendahkan Martabat dan Mengadakan Perbudakan

Kitab Taurat telah mensyariatkan hukum hamba dan perbudakan sebelum hukum itu dikenal oleh sejarah, baik sejarah lama maupun sejarah yang sekarang ini. Bangsa pilihan dalam pandangan kitab ini adalah sebagai tuan dan seluruh bangsa lainnya di dunia ini selain mereka adalah sebagai budak yang melayani tuan Yahudi untuk selama-lamanya. Semenjak zaman Nuh, Taurat sudah menghalalkan perbudakan dan mempersilahkan bangsa pilihannya untuk menjadikan bangsa Kanaan sebagai budak mereka hanya karena hal yang sepele. Ini merupakan hukum zalim yang sangat mengherankan.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Nuh menjadi petani. Dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah Ia minum anggur, mabuklah ia, dan Ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapak Kanaan itu melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur. Mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia, ‘Terkutuklah Kanaan. Hendaklah Ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya. Katanya, ‘Terpujilah Tuhan Allah Sem. Akan tetapi, hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah Ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.”

Taurat juga menggambarkan Nabi Yusuf Alaihissalam sebagai seorang penjajah pintar. Karena kemiskinan bangsa Mesir, Ia pun membeli tanah Mesir beserta penduduknya untuk Fir’aun, dengan menukarkan emas dan binatang ternak dengan noti yang dapat mencegah kematian mereka.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya, ‘Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami.’ Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dan tanah kami akan menjadi hamba kepada Fir’aun. Kemudian, Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Fir’aun sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Fir’aun. Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dan ujung yang satu sampai ujung yang lain. Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu, ‘Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Fir’aun.”

Daud versi Taurat adalah seorang yang bertindak sewenang-sewenang. Dia rnemperbudak orang-orang Yahudi dan juga yang lainnya. Pembantu-pembantunya yang selalu bergantian melayaninya berjumlah 24.000 orang setiap bulan. Setelah dihitung, jumlah semua pembantu yang mendapat kehormatan melayani anak Tuhan, yaitu Daud (versi Taurat) berjumlah 288.000 orang. Setelah kematian Daud, Sulaiman versi Taurat menikrnati dan mengembangkan peraturan perbudakan yang telah diwariskan oleh bapaknya, Daud. Ia kemudian menjajah anak-anak bangsa Palestina yang lolos dari penyembelihan dan pembantaian. Dijadikannya mereka sebagai budak-budak dalam pembangunan Haikal. Disebutkan dalam kitab mereka, “Semua orang yang masih tinggal dari orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus yang tidak termasuk orang Israil, yakni mereka yang masih tinggal di negeri itu dan keturunan bangsa-bangsa itu dan yang tidak dapat ditumpas oleh orang Israil, merekalah yang dikerahkan Salomo untuk menjadi budak. Demikianlah mereka sampai hari ini. Tetapi orang Israil tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo, melainkan mereka menjadi prajurit, pegawai, pembesar, perwira, atau panglima atas pasukan kereta dan pasukan berkuda. . Salomo memerintahkan untuk mendirikan suatu rumah bagi nama Tuhan dan suatu istana kerajaan bagi dirinya sendiri. Salomo mengerahkan tujuh puluh ribu kuli, delapan puluh ribu tukang paha di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus mandor untuk mengawasi mereka itu.”

Semua budak yang berasal dan bangsa Palestina berjumlah 153.600 orang. Bagaimana kita bisa mencela Sulaiman dan Daud versi Taurat ini apabila Tuhannya orang Israil menghalalkan perbudakan dan memerintahkannya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Karena mereka itu (bangsa Israil) adalah hamba-hambaku yang Ku-bawa keluar dari tanah Mesir. Janganlah mereka dijual seperti orang menjual budak Janganlah engkau memerintah mereka dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh engkau miliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu, hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan. Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antanamu, boleh kamu membelinya. Mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negenimu, boleh kamu membelinya. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu. Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian supaya diwarisi sebagai milik. Kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya. Tetapi atas saudara-saudanamu, orang-orang Israil, janganlah memerintah dengan kejam.”

Selain itu, Taurat juga menyeru kepada perbudakan abadi. Disebutkan dalam kitab mereka, “Tetapi apabila dia berkata kepadamu, ‘Aku tidak mau keluar meninggalkan engkau karena Ia mengasihi engkau dan keluargamu, baik perlakuannya padamu. Engkau harus mengambil sebuah penusuk dan penindik telinganya pada pintu sehingga Ia menjadi budakmu untuk selama-lamanya. Demikian juga kau perbuat kepada budak perempuanmu.”

Taurat tidak merasa cukup hanya dengan perbudakan yang dilakukan bangsa Israil terhadap bangsa Palestina. Bahkan, dia menggiring seluruh bangsa dari umat manusia dan menjadikan mereka sebagai budak bangsa Israil.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Lihat, Aku akan mengangkat tangan-Ku sebagai tanda untuk bangsa-bangsa dan memasang panji-panji-Ku untuk suku-suku bangsa, maka mereka akan menggendong anak laki-laki dan anak perempuanmu, akan didukung di atas bahunya. Raja-raja akan menjadi pengasuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu.”

“Orang-orang asing akan membangun tembokmu dan raja-raja mereka akan melayani engkau. Sebab, dalam murka-Ku Aku telah menghajar engkau. Namun, Aku telah berkenan untuk mengasihi engkau. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu dan raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan. Sungguh, bangsa dan kerajaan yang tidak mau mengabdi kepadamu akan lenyap.”

9. Pendengki, Ingkar Janji, dan Suka Memperdaya

Sungguh banyak sekali pelajaran tentang sifat dengki, ingkar janji, dan suka memperdaya yang telah disebutkan secara mendetail dalam kitab Taurat. Semuanya dinisbatkan kepada nabi-nabi Yahudi. Kisah tentang anak-anak Yakub dengan Sikhem yang menikah dengan saudara perempuan mereka, merupakan pelajaran pertama dalam masalah moral kemanusiaan.

Setelah memperdaya dan menipu keluarga Sikhem dan meyakinkan bahwa dengan bersunat mereka akan diberikan saudara-saudara perempuan anak-anak Yakub untuk mereka peristri sehingga dengan itu mereka menjadi ipar dan mereka akan menjadi satu bangsa. Setelah Sikhem bersunat, anak-anak Yakub pun berbalik menyerang dan menumpas habis mereka.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu anak-anak Yakub menjawab Sikhem dan Hemor (ayahnya) dengan tipu muslihat karena Sikhem telah mencemari Dina, adik mereka itu. Berkatalah mereka kepada kedua orang itu, ‘Kami tidak dapat berbuat demiklan, memberikan adik kami kepada seorang laki-laki yang tidak bersunat sebab hal itu aib bagi kami. Hanyalah dengan syarat ini, kami dapat menyetujui permintaanmu. Kamu harus sama seperti kami, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat, barulah kami akan memberikan gadis-gadis kami kepadamu dan mengambil gadis-gadis kamu, maka kami akan tinggal padamu, dan kita akan jadi satu bangsa. Hemor dan Sikhem menyetujui usul mereka. Orang muda itu itu tidak bertangguh melakukannya sebab ia suka kepada anak Yakub. Lagi pula ia seorang yang paling dihormati di antara seluruh kaum keluarganya. Lalu pergilah Hemor dan Sikhem ke pintu gerbang kota dan berbicara kepada penduduk kota itu, ‘Orang-orang itu mau hidup damai dengan kita. Biarlah mereka tinggal di negeri ini dan menjalaninya dengan bebas. Bukankah negeri ini cukup luas untuk mereka? Kemudian, kita dapat mengambil gadis-gadis mereka menjadi istri kita dan kita dapat memberikan gadis-gadis kita kepada mereka.’ Usul Hemor dan Sikhem didengarkan oleh semua orang yang datang berkumpul di pintu gerbang kota itu, lalu disunatlah setiap laki-laki, yakni setiap orang dewasa di kota itu. Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menderita kesakitan, datanglah dua orang anak Yakub, yaitu Simeon dan Lewi, kakak-kakak Dma. Setelah masing-masirig mengambil pedangnya, mereka menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki. Hemor dan Sikhem juga dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dma dari rumah Sikhem, lalu pergi. Kemudian, datanglah anak-anak Yakub merampas orang-orang yang terbunuh itu, lalu menjarah kota itu karena adik mereka telah dicemari. Kambing, sapi, keledai, dan segala yang di dalam dan di luar kota itu dibawa mereka. Segala kekayaannya, semua anaknya, dan perempuannya ditawan dan dijarah mereka, juga seluruhmya yang ada di rumah-rumah.”

Tidak berapa lama setelah anak-anak Yakub mendapati bahwa ayah mereka Iebih mengutamakan Yusuf dengan kasih sayangnya, mereka pun membuat rencana jahat terhadap Yusuf dan memendam rasa dengki yang menguasai diri mereka. Akhirnya, mereka pun menjalankan perbuatan jahat yang telah lama mereka rencanakan. Mereka menjual saudara mereka dengan dua puluh perak.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu, ‘Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismail ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia karena ia saudara kita, darah daging kita.’ Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Madian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismail itu dengan harga dua puluh syikal perak.”

Sifat melanggar janji, mendengki, dan menipu ini turun-temurun kepada bani Israil semuanya. Mulai dan kalangan para nabi, raja, imam, hakim, dan panglima perang mereka, semuanya melakoni sifat ini. Taurat juga menggambarkan Daud yang merupakan Nabi mereka yang paling agung dan Raja mereka yang paling perkasa, sebagai seorang pendengki dan tukang penipu daya. Dia melakukan tipu daya terhadap bangsa Palestina yang telah melindungi dan menghormatinya ketika Ia lari dari kejaran musuhnya, Saul. Setelah kematian Saul, dan Daud pun diangkat menjadi raja, tersingkaplah tipu daya dan pelanggaran janjinya, dia memukul habis bangsa Palestina, yang menyangka kedatangan Daud untuk membalas budi baik mereka. Bangsa Palestina telah memberikan bendera kepemilikan kepadanya, lalu mereka gembira karena ia mau menerima bendera tersebut.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika didengar orang Palestina bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas Israil, maka majulah semua orang Palestina untuk menangkap Daud. Tetapi Daud mendengar hal itu, lalu ia pergi ke kubu pertahanan. Ketika orang Palestina itu datang dan memencar di Lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada Tuhan, ‘Apakah aku harus maju melawan orang Palestina itu? Akan kau serahkankah mereka ke dalam tanganku?’ Tuhan menjawab Daud, ‘Majulah sebab aku pasti akan menyerahkan orang Palestina itu ke dalam tanganmu.’ Lalu, datanglah Daud di Baal Perasim dan memukul kalah mereka di sana.”

Pada setiap tindakari tipu daya, Taurat pasti mengeluarkan perintah-periritah yang bersifat mendukung, menghalalkan, membenarkan, serta memerintahkan untuk melakukannya. Demikian juga dengan Daud versi Taurat, dia tidak akan melakukan tipu daya terhadap bangsa yang telah menolong dan melindunginya, kecuali setelah ia meminta persetujuan Tuhannya dan Tuhan orang-orang Yahudi. Kemudian, Dia pun memerintahkannya untuk menyerang Palestina.

Sebelum Daud mati, dia tidak lupa untuk berwasiat kepada anaknya, Sulaiman (versi Taurat) untuk membunuh para ketua dan para hakim dengan cara tipu daya. Disebutkan dalam kitab mereka, “Engkau pun mengetahui apa yang dilakukan kepadaku oleh Yoab, anak Zeruya, maka bertindaklah dengan bijaksana dan janganlah biarkan yang ubanan itu turun dengan selamat ke dalam dunia orang mati. Juga masih ada padamu Simei bin Gera … dan aku telah bersumpah kepadanya demi Tuhan. Takkan kubunuh engkau dengan pedang! Sekarang janganlah bebaskan dia dari hukuman sebab engkau seorang yang bijaksana dan tahu apa yang harus kau lakukan kepadanya untuk membuat yang ubanan itu turun dengan berdarah ke dalam dunia orang mati.”

Setelah kematian ayahnya, Sulaiman tidak lupa untuk menjalankan apa yang telah diwasiatkan kepadanya. Dia memenuhi pemerintahannya dengan berbagai pertumpahan darah. Dia juga tega membunuh saudaranya sendiri, Edwin, dengan tipu daya. Setelah itu, dia juga membunuh Yoab sang panglima, walaupun ia sudah menyerah dan masuk ke dalam kemah Tuhan untuk melindungi dirinya. Yang jelas dia telah menjalankan sesuai dengan apa yang telah diwasiatkan ayahnya (Daud versi Taurat).

Kedengkian Tuhan Yahudi terhadap semua bangsa selain bangsa Yahudi sangatlah keras dan tidak bisa ditandingi.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Marilah mendekat, hal bangsa-bangsa. Dengar dan perhatikanlah hal suku-suku bangsa! Baiklah, bumi serta segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpancar daripadanya. Sebab, Tuhan murka atas segala bangsa dan hati-Nya panas atas segenap tentara mereka. Dia telah mengkhususkan mereka untuk ditumpas dan menyerahkan mereka untuk dibantai. Orang-orangnya yang mati terbunuh akan dilemparkan, dan dari bangkai-bangkai mereka akan naik bau busuk Gunung-gunung akan kebanjiran darah mereka.”

10. Menghalalkan segala Cara

Kitab Taurat membolehkan siapa saja untuk mendapatkan apa yang diiriginkannya dengan cara apa pun, meskipun cara tersebut bertentangan dengan etika. Seorang bernama Machiavelli, yang sering digunakan sebagai perumpamaan dalam masalah penghalalan segala cara untuk mendapatkan keinginan, adalah seorang yang memang benar-benar terzalimi. Sebab, prinsip ini pada dasarnya sudah ada dalam kitab Taurat. Dalam kitab itu disebutkan bahwa para nabi versi Taurat terlebih dahulu telah menerapkan prinsip ini beribu-ribu tahun yang lalu. Lihatlah Nabi Ibrahim Alaihissalam, ia digambarkan dalam Taurat sebagai seorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Keinginannya adalah hidup senang, walau harus mengorbankan harga diri dan kehormatannya. Kemudian, dinisbatkanlah kepadanya bahwa dia menyia-nyiakan kehormatannya karena takut kehidupannya akan terancam.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abraham ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing sebab kelaparan hebat melanda di negeri…. Pada waktu Ia akan masuk ke Mesir, berkatalah Ia kepada Sara, istrinya, ‘Memang aku tahu bahwa engkau adalah seorang perernpuan yang cantik parasnya. Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata, ‘Itu istrinya.’ Jadi, mereka akan membunuh aku dan membiarkan kau hidup. Katakanlah bahwa engkau adikku supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.’ Sesudah Abraham masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat bahwa perempuan itu sangat cantik, dan ketika punggawa-punggawa Fir’aun melihat Sara, mereka memuji-mujinya di hadapan Fir’aun sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. Fir’aun menyambut Abraham dengan baik-baik karena Ia mengingini perempuan itu, dan Abraham mendapat kambing, lembu, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina, dan unta. La1u, Abraham berangkat dan situ ke tanah Negeb dan ia menetap antara Kedesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing. Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, ‘Dia saudaraku’, maka Abi Melekh, Raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. Kemudian, Abi Melekh mengambil kambing, lembu, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham. Istri Abraham juga dikembalikan kepadanya.”

Demikian juga yang dilakukan oleh Ishak bin lbrahim ketika ia diperintahkan oleh Tuhannya untuk mengasingkan diri ke negeri Gerar.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang istrinya, berkatalah Ia, ‘Dia saudaraku.’ Sebab, ia takut mengatakan, ‘Ia istriku.’ Pikirnya, ‘Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka elok parasnya.’ Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abi Malekh, Raja orang Palestina itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbu dengan Ribka, istrinya. Lalu, Abi Malekh memanggil Ishak dan berkata, ‘Sesungguhnya dia istrimu. Kenapa engkau berkata, ‘Dia saudarakau?’ Jawab Ishak kepadanya, ‘Karena pikirku, ‘Jangan-jangan aku mati karena dia.”

Dalam pandangan nabi-nabi versi Taurat, tujuan dapat menghalalkan segala cara. Jadi, kenapa para raja tidak menerapkannya? Lihatlah apa yang telah dilakukan Ahab, Raja Samirah. Dia merasa kagum dengan kebun anggur tetangganya, maka Ia pun berusaha untuk membelinya. Namun, Nabot tidak mau menjual kebun anggur warisan dari ayahnya tersebut, maka sedihlah hati Ahab karena keengganan Nabot menjual kebun anggur tersebut kepadanya. Setelah melihat kesedihan yang dialami suaminya, segera Izebel membantu menghilangkan kesedihan suaminya. Dia lalu membuat makar dan tipu daya yang dapat mengantarkan suaminya kepada apa yang diinginkannya. Setelah itu, Izebel pun mulai melaksanakan rencana busuknya. Dia memanggil dua orang laki-laki agar keduanya bersedia memberi persaksian bahwa Nabot telah mengutuk Allah dan juga mengutuk Raja. Kemudian, para imam melemparinya dengan batu sampai mati sehingga dengan demikian Ahab bisa menguasai kebun anggur Nabot.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Orang-orang sekotanya, yakni petua dan pemuka yang diam di kotanya itu melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. Mereka memaklumkan kuasa dan menyuruh Nabot paling depan di antara rakyat. Kemudian, datanglah dua orang, yakni orang-orang Dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang Dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat. Katanya, ‘Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu, mereka membawa dia keluar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Segera sesuclah Izebel mendengar bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab, ‘Bangunlah. Arnblllah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi, Ia sudah mati.’ Segera sesudah Ahad mendengar bahwa Nabot sudah mati, Ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambli kebun itu menjadi millknya.”

Taurat, kitab orang-orang Yahudi juga mensyariatkan siasat pengintaian dan menjadikan siasat ini sebagai bagian yang mendasar sekali dalam kehidupan mereka. Dan sepertinya kalimat ‘mengintai’ tidak pernah keluar dari mulut salah seorang pun di dunia ini sebelum keluar dan mulut Tuhan orang-orang Yahudi.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Tuhan berfirman kepada Musa, ‘Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israil, dan setiap suku nenek moyang mereka haruslah kau suruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka. Lalu, Musa menyuruh mereka dari Gurun Paran, sesuai dengan titah Tuhan, ‘Semua orang itu adalah kepala-kepala di antara orang IsraiI.’ Setelah itu, Yosua meneruskan langkahnya menuju Yerikho dengan cara mengutus dua orang pengintai. Dia bekerja sama dengan Rahab, seorang pezina yang dirahasiakannya terhadap Raja Yerikho dan panglima-panglimanya. Kemudian, Yosua puh mengupah pezina tersebut atas jasa-jasanya serta membiarkannya hidup tanpa bangsa Yerikho yang telah ditumpasnya bersama-sama dengan pasukannya.”

Disebutkan dalam kitab mereka, “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang ada di kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba, dan keledai. Tetapi kepada kedua orang mengintai negeri itu, Yosua berkata, ‘Masuklah ke dalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah keluar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, seperti yang pernah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya.’ Lalu, masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa keluar Rahab, anaknya, ibunya, saudara-saudaranya, dan semua orang yang bersama-sarna dengan dia. Bahkan, seluruh kaumnya dibawa mereka keluar, lalu mereka menunjukkan kepadanya tempat tinggal di luar perkemahan orang Israil. Tetapi kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar mereka dengan api.”

Kemudian, raja-raja dan para nabi Israil memanfaatkan siasat mengintai ini seluas-luasnya. Bahkan, Raja Daud menggunakan Yonatan bin Saul sebagai pengintai untuk mengintai gerak-gerik ayahnya. Demikian juga dengan Absalom telah mengutus banyak sekali pengintai-pengintai dari cucu-cucu bangsa lsrail.

11. Pengecut dan Munafik

Taurat Yahudi telah menetapkan terhadap bangsa pilihan sifat pengecut yang asli dan sifat munafik yang murni sekali. Tatkala Musa Alathissalam menggiring mereka dari negeri Mesir, kemudian mereka mehihat orang-orang Mesir mengejar mereka dari arah belakang, timbuhlah rasa takut yang amat sangat dalam diri mereka.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu sangat ketakutanlah orang-orang Israil dan mereka berseru-seru kepada Tuhan, dan mereka berkata kepada Musa, ‘Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir, ‘Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir daripada mati di gurun ini.’ Akan tetapi, berkatalah Musa kepada bangsa itu, ‘Janganlah takut … Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Ketika para pengintai yang dikirim Musa untuk menyelidiki dan mencari informasi tentang keadaan bangsa itu kembali, mereka menyebarkan desas-desus bahwa negeri yang mereka intai tersebut adalah negeri yang tandus, masyarakatnya adalah orang-orang yang keras, perkasa, dan tak tertandingi.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israil kepada Musa dan Harun, dan segenap umat itu berkata kepada mereka, ‘Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir atau di padang gurun ini! Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini supaya tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?’ Salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, ‘Baiklah, kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.”

Taurat menyebutkan bahwa jumlah pasukan yang bergerak maju bersama Musa dan Yosua adalah sangat besar sekali.

Disebutkan dalam Shah Pertama dalam Safar Bilangan bahwa.pasukan yang keluar untuk berperang pada waktu itu mulai dan usia dua puluh tahun ke atas berjumlah 603.555 orang. Kita ketahui bahwa bangsa Palestina, khususnya penduduk Yerikho, jumlah mereka sangat sedikit sekali dan tidak menyadari serta tidak siap menghadapi gerakan mendadak ini sehingga dengan demikian kita dapat mengetahui bagaimana sifat pengecut ini telah menguasai hati orang-orang Yahudi.

Tidak diragukan lagi bahwa pembaca kitab Taurat akan merasa heran ketika disebutkan kalimat “Tuhan Pasukan’, Tuhannya orang-orang Yahudi. Disebutkan dalam sebagian besar halaman kitab Taurat bahwa sebagai seorang pasukan yang perkasa dan bangsa pilihannya, ternyata penyebutan ini termasuk salah satu yang menunjukkan kebenaran sifat pengecut yang ada pada diri orang-orang Yahudi. Khususnya lagi dan sela-sela semua peperangan yang dilakukannya, yang merupakan lambang kekerasan, kekejaman, dan kebiadaban.

12. Cerdik dan Tidak Tahu Berterima Kasih

Isi kitab Taurat versi Yahudi membawakan tabiat orang-orang Yahudi yang cerdik dan tidak tahu berterima kasih dalam membalas kebaikan orang lain. Kisah Yusuf di negeri Mesir yang disebutkan dalam kitab Taurat, mengungkap kejelekan orang-orang Yahudi, kecerdikan, dan ketidaktahuan mereka membalas kebaikan orang lain. Kisah ini dimulai dan hari-hsri Yusuf dapat menguasai Mesir dan penduduknya karena pengaruhnya terhadap Fir’aun, dan wabah kelaparan yang menimpa seluruh negeri Kanaan. Semuanya itu menyebabkan Yusuf dapat menolong bapak beserta saudara-saudaranya dan menyelamatkan mereka dari wabah kelaparan serta membekali mereka dengan harta, makanan, anak-anak sapi, dan hewan-hewan yang dikendarai untuk mengangkut mereka ke negeri Mesir.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu berangkatlah Yakub dan Ber Syeba. Anak-anak Israil membawa Yakub beserta anak dan istri mereka. Mereka menaiki kereta yang dikirim Fir’aun untuk menjemputnya. Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir.”

Ketika Yusuf versi Taurat menemui mereka, dia sepakat dengan mereka untuk mengatakan di depan Fir’aun bahwa mereka adalah para pengembala domba dan ahli dalam bidang peternakan agar Fir’aun menempatkan mereka di tempat terpencil, yaitu Gosen. Ini adalah siasat yang memang merupakan akhlak orang-orang Yahudi yang bersumber dari kebohongan, tinggi hati, suka menyendiri, dan membenci bangsa lain seluruhnya. Karena Fir’aun pada waktu itu adalah seorang yang cerdas lagi murah hati, ia pun memberikan apa yang mereka inginkan.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu berkatalah Fir’aun kepada Yusuf, ‘Ayahmu dan saudara-saudaramu telah datang kepadamu. Tanah Mesir ini terbuka untukmu. Tunjukkanlah kepada ayahmu dan kepada saudara-saudaramu tempat menetap di tempat yang terbaik dari negeri ini, biarlah mereka diam di tanah Gosen. Jika engkau tahu di antara mereka ada orang-orang yang tangkas, tempatkanlah mereka menjadi pengawas ternakku.’ Yusuf menunjukkan kepada ayah dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah di Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Ramses, seperti yang diperintahkan Fir’aun. Dan Yusuf merawat ayahnya, saudara-saudaranya, dan seisi rumah ayahnya dengan makanan, menurut jumlah anak-anak mereka.”

Bani Israil terus tumbuh dan bertambah banyak di tanah Mesir karena kebebasan mereka menikmati segala kebaikan yang mereka dapatkan. Mereka tinggal dengan tenang di bawah naungan pengaruh Yusuf dan keluhurannya, bahkan sampai ia mati. Sehubungan dengan itu, wajar apabila Fir’aun baru merasa khawatir karena jumlah mereka yang begitu banyak. Untuk itulah kemudian dia mengumpulkan mereka semua dan menyerahkan kepengurusan mereka kepada diri mereka sendiri.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir yang tidak mengenal Yusuf. Berkatalah raja kepada rakyatnya, ‘Bangsa Israil itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya daripada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap meraka supaya mereka jangan bertambah banyak lagi … jangan nanti bersekutu dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dan negeri mi.”

Kemudian, muncul kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini dibawakan oleh kitab Taurat dengan metode yang tumbuh dan sifat ingkar yang sangat jelas sekali, yang dapat membuat pembaca merasa pnihatin dan sedih terhadap nasib Fir’aun yang zalim, bukan terhadap Musa dan bani Israil yang tertindas.

Siapa yang tidak akan merasa kasihan tenhadap Fir’aun versi Taurat. Dalam kitab mereka itu dia digambarkan sebagai seorang yang tertarik dan merasa prihatin terhadap bangsa yang tak berdosa, ramah, dan suka menjamu tamu, diazab Tuhan Yahudi. Dia menumpahkan kemarahan dan murka-Nya kepada mereka. Dia juga menimpakan kepada bangsa Mesir berbagai macam wabah dan bencana.

Tuhan Yahudi menumpas bangsa Mesir demi memenuhi watak jahat Yahudi yang tak tahu berterima kasih. Dialah Tuhan yang mewahyukan kepada Daud versi Taurat untuk menipu orang-orang Palestina yang telah melindungi dan menjaganya ketika dia sangat membutuhkan perlindungan dan pertolongan. Dan ketika ia telah menjadi seorang raja, dia tidak mengakui mereka, mengingkari kebaikan mereka, dan tidak berterima kasih atas bantuan mereka. Bahkan, Ia menumpas dan memperbudak mereka.

13. Penjajah dan Menguasai

Hampir semua asfar dan ishah tarot tidak lepas dari penjelasan dan keterangan tentang watak dan sifat penjajah pada diri orang-orang Yahudi. Sifat yang sudah terpendam dalam jiwa-jiwa mereka semenjak hari pertama mereka berada. Bahkan, sebelum janji-janji ketuhanan dan “Tuhan tentara”. Semua janji-janji yang terus berlipat dan berkembang karena sifat dan watak ini, untuk mengenyangkan nafsu gila yang menyala-nyala, tidak mungkin untuk diobati atau diredam.

Dan pengkajian kita terhadap kitab Taurat, tampaklah di hadapan kita bahwa setelah hukum Yahudi menguat di salah satu pegunungan Palestina, yaitu Yerussalem dan Samirah, di atas reruntuhan bangsa Palestina sang pemberani, Raja Daud mengumumkan bahwa Tuhan Yahudi memenintahkannya untuk mendirikan rumah tempat dia menetap. Sesungguhnya Tuhan Yahudi telah memilih Yerussalem sebagai tempat tinggal-Nya karena Dia menginginkannya.

Namun, karena kesibukannya menghadapi berbagai peperangan, Daud versi Taurat mengumumkan bahwa ia tidak bisa meneruskan pembangunan itu. Dengan demikian berpindahlah tanggung jawab pembangunan tersebut kepada anaknya, Sulaiman. Oleh karena itu, ketika Sulaiman versi Taurat menjadi raja, pun melaksanakan wasiat Daud yang merupakan perintah “Tuhan tentara”, yaitu Tuhannya orang-orang Yahudi. Dimulailah pembangunan Haikal Sulaiman. Pembangunan ini merupakan suatu kezaliman, penjajahan, dan penguasaan yang paling keras dalam sejarah.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu Salomo menghitung semua orang asing laki-laki yang ada di negeri Israil, sama seperti yang pernah dilakukan Daud, ayahnya. Maka terdapatlah 153.600 orang. Di antara mereka, 70.000 dijadikan kuli, 80.000 orang tukang pahat di pegunungan, dan 3.600 orang mandor yang harus menyuruh orang-orang itu bekerja.”

Janganlah para pembaca heran ketika mengetahul bahwa Haikal yang merupakan bukti kemalangan dan kesengsaraan, khususnya terhadap bangsa Yahudi dan terhadap harkat kemanusiaan pada umumnya, dibangun oleh arsitek-arsitek Lebanon yang bekerja sama dengan para pekerja Palestina. Bahan bangunannya terutama kayu aras didatangkan dari hutan-hutan Lebanon, para pekerjanya adalah para seniman yang ahli dalam pengolahan emas dan perak juga dari Lebanon. Dalam pembangunan ini, Sulaiman, bani Sulaiman, serta bani Israil tidak mempunyai andil sama sekali, kecuali hanya memakainya saja sebagai tempat melaksanakan ibadah yang memiliki cara pelaksanaan yang sangat mengherankan, seperti pembakaran lemak-lemak kurban, yang membumbungkan aroma khasnya sepanjang siang dan malam, demi memenuhi nafsu dan keinginan Yahua menghirup aroma bakaran hewan-hewan kurban tersebut.

Kisah Haikal Sulaiman dan penaklukan tenhadap bangsa-bangsa untuk membangun kembali bangunan ini terus berjalan. Pada zaman Koresh, Raja Persia, dia rnengizinkan bani Israil dan melepaskan mereka dari tawanan serta menyerahkan kepada mereka sumber daya alam milk negara untuk digunakan sebagai dana pembangunan kembali Haikal. Disebutkan dalam kitab mereka, “Dan harta kerajaan, yaitu upeti yang datang dan seberang sungai, diberikan sebagai dana kepada mereka agar mereka tidak membatalkan rencana pembangunan kembali Haikal itu. Demikian juga apa yang mereka butuhkan dan berbagai jenis binatang ternak, seperti, sapi-sapi jantan, domba, dan lembu-lembu sebagai persembahan bakaran untuk Tuhan langit. Demikian juga gandum, garam, anggur, dan minyak, sesuai dengan apa yang dikatakan para imam yang berada di Yerussalem. Semua kurban bakaran ini harus diberikan kepada mereka setiap hari, sampai mereka tidak merasa tenang. Aku telah mengeluarkan perintah bahwa setiap orang harus mengambil sebuah kayu dari rumahnya. Kemudian, digantungkan padanya salib, kemudian menempatkan sebuah mazbah dalam rumahnya sebagal tempat kayu ini.”

Pada zaman pemerintahan Artahsasta, muncul seorang imam bernama Ezra. Imam ini telah berhasil mendekati raja dan mendapatkan sebuah surat yang merupakan surat pelimpahan kekuasaan paling mengherankan dan merupakan Sebuah tipu daya. Selain surat itu, dia juga mendapatkan perintah penguasaan terhadap para hakim dan wali-wali, mulai dan Babilonia sampai Yerussalem agar mereka mengolah sumber daya alam dan kekayaan negara di bawah peraturannya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Aku telah mengeluarkan perintah bahwa setiap orang di dalam kerajaanku yang termasuk orang Israil awam, atau para imamnya, atau orang-orang Lewi, dan yang rela pergi ke Yerussalem, boleh turut pergi dengan engkau. Oleh karena engkau disuruh raja serta ketujuh orang penasihatnya untuk mengadakan penyelidikan mengenai Yehuda dan Yerussalem dengan berpedoman kepada hukum Allahmu yang menjadi peganganmu. (untuk membawa perak dan emas yang diberikan raja serta para penasihatnya sebagai persembahan sukarela kepada Allah Israil, yang tempat kediamannya di Yenussalem. Oleh karena itu, haruslah engkau dengan seksama memakai uang itu untuk membeli lembu-lembu jantan, domba-domba jantan, anak-anak domba dengan kurban sajiannya dan kurban curahannya. Haruslah semuanya itu kupersembahkan di atas mazbah di rumah Allahmu yang ada di Yerussalem. Tetapi apa yang dianggap baik olehmu dan oleh saudara-saudaramu untuk diperbuat dengan perak dan emas yang selebihnya, boleh kamu penbuat sesuai dengan kehendak Allahmu. Hanya perlengkapan-perlengkapan yang diserahkan kepadamu untuk ibadah di rumah Allahmu, sampaikanlah itu ke hadapan Allah di Yenussalem. Dan yang lain masih diperlukan unituk rumah Allahmu, yang pembayarannya menjadi tanggunganmu, itu boleh kau bayar dari perbendaharaan kerajaan. Kemudian, Raja Artahsasta mengeluarkan penintah kepada semua bendahara di daerah seberang Sungai Eufrat, ‘Segala yang diminta darimu oleh Imam Ezra, ahli Taurat Allah semesta langit, haruslah dilaksanakan dengan seksama, dengan memakai perak sampai jumlah seratus talenta, gandum sampai jumlah seratus kon, anggur sampai jumlah seratus bat, dan garam tidak terbatas….’ Lagi pula kami beritahukan kepadamu bahwa tidaklah sah bila para imam, orang Lewi, penyanyi, penunggu pintu gerbang, budak di Rumah Allah, dan para hamba Rumah Allah dikenakan pajak, upeti, atau bea. .

Tindakan pemanfaatan kesempatan ini terus berulang sampai ketika muncul Imam Nehamia. Imam ini telah melakukan penipuan terhadap raja dengan cara menangis di hadapan Raja karena sedih dengan nasib yang dialami bangsa Israil di Yenussalem, yang sedang menunggu pertolongannya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Berkatalah aku kepada Raja, ‘Jika Raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi penguasa-penguasa di daerah seberang Sungai Eufrat supaya mereka memperbolehkan aku tiba di Yehuda. Juga sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman Raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng Rumah Suci, untuk tembok kota, dan untuk rumah yang akan kudiami’ Raja mengabulkan permiritaanku itu karena tangan Allahku yang murah mellndungi aku.”

Sebenarnya, Nehemia tidaklah setuju dengan penyerahan harta milik negara digunakan untuk melayani kebutuhan orang-orang Yahudi dan mernbangun kembali Haikal yang kemudian membumbungkan asap bakaran kurban-kurban yang dipersembahkan kepada Tuhan Yahudi yang tinggal di Yerussalem.

Adapun penguasaan Yahudi terhadap bangsa lain di dunia, merupakan hal yang biasa. Kejahatan ini mereka katakan sebagai suatu kebenaran yang telah ditetapkan oleh Tuhan orang-orang lsrail.

Disebutkan dalam kitab mereka, ‘Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu. Anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anak perempuanmu digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati sebab kekuasaan dari seberang laut akan beralih kepadamu. Kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu…. Engkau akan menghisap susu bangsa-bangsa dan akan meminum susu kerajaan-kerajaan…. Sebagai ganti tembaga, aku akan membawa emas. Sebagai ganti besi, aku akan membawa perak; sebagai ganti kayu, tembaga, batu, dan besi….

Lalu Tuhan mengulurkan tangannya dan menjamah mulutku. Tuhan berfirman kepadaku, ‘Sesungguhnya, aku menaruh perkataan-perkataanku ke dalam mulutmu. Ketahuilah bahwa pada hari ini aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan. . ..

14. Pendusta

Perbuatan dusta dalam Taurat merupakan salah satu masalah yang banyak sekali dijumpai oleh para pembaca, dalam lembaran-lembaran kitab Perjanjian Lama yang tebalnya mencapai 1.358 halaman. Dusta dan kebohongan dalam kitab ini banyak sekali ragamnya. Semuanya menggambarkan keadaan kejiwaan orang-orang Yahudi yang sakit dan imajinasi mereka yang payah serta keadaan akal mereka yang lemah. Mereka percaya dengan khurafat dan tipuan sulap. Telah kita jelaskan pada bab-bab awal dalam pasal ini, tentang janji-janji palsu yang banyak sekali, yang dihiasi dengan kebohongan-kebohongan oleh para pembual Yahudi. Oleh karena itu, kami akan memaparkan bentuk lain dan kebohongan yang sudah jelas ini, yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal anak kecil sekalipun. lnilah Taurat yang telah berbuat kebohongan dengan lidah Yosua….

Disebutkan dalam kitab mereka, “Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan, pada hari Tuhan menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israil. Dia berkata di hadapan orang Israil, ‘Matahari, berhentilah di atas Gibeon. Dan engkau, bulan, di atas Lembah Ayalon!’ Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam kitab orang jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada sehari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian. Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian sebab yang berperang untuk orang Israil ialah Tuhan.”

Dalam kisah Simson, kitab Taurat telah banyak sekali melakukan kebohongan. Disebutkan bahwa dalam satu kesempatan, dia dapat menangkap tiga ratus ekor anjing hutan, lalu dia mengikat ekor-ekor anjing hutan itu dengan obor-obor yang kemudian membakar tanaman-tanaman milik orang-orang Palestina.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Maka, pergilah Simson. Ditangkapnya tiga ratus anjing hutan. Diambilnya obor, diikatnya ekor dengan ekor dan ditaruhnya sebuah obor di antara tiap-tiap dua ekor. Kemudian, dinyalakannyalah obor itu dan dilepaskannya anjing-anjing hutan itu ke gandum yang belum dituai, kepunyaan orang Palestina. Terbakarlah tumpukan-tumpukan gandum, gandum yang belum dituai, dan kebun-kebun zaitun.” Juga kekuatannya yang luar biasa ketika dia membunuh seribu laki-laki Palestina hanya dengan menggunakan tulang rahang keledai….

Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, Ia menemui sebuah tulang rahang keledai yang masih baru. Diulurkannya tangannya, dipungutnya, dan dipukulnya mati seribu orang dengan tulang itu. Berkatalah Simson, ‘Dengan rahang keledai bangsa keledai itu kuhajar, dengan rahang keledai seribu orang kupukul.’ Kemudian, Simson menghabiskan Taurat, ketika dia merangkul kedua tiang yang paling tengah, penyangga rumah itu, lalu bertopang kepada tiang yang satu dengan tangan kanannya dan kepada tiang yang lain dengan tangan kirinya, lalu membungkuklah Ia sekuat-kuatnya, maka robohlah rumah itu menimpa ribuan orang-orang Palestina itu….”

Selain itu, kebohongan Taurat dalam masalah peperangan banyak sekali. Disebutkan dalam kitab mereka, “Kemudian, Abiya memulai peperangan dengan pasukan yang gagah perkasa, dengan sebanyak 400.000 orang pasukan khusus. Demikian juga Yarobeam telah memilih pasukan khususnya berjumlah 800.000 orang pasukan gagah perkasa…. Lalu, Zaroh Al-Kusyi keluar menghadapi mereka dengan beribu-ribu bala tentaranya dan dengan tiga ratus kendaraan perang….”

Jumlah bala tentara yang jumlahnya mencapal 800.000 sampai 1.000.000 pasukan, sebagaimana yang disebutkan di atas, hanya imajinasi dan kebohongan belaka. Sebab, sarana mobilisasi tentara dan pengerahan pasukan pada zaman itu tidak mampu mempersiapkan jumlah pasukan sebanyak itu.

Daud versi Taurat adalah seorang pembohong besar. Kebohongannya tidak tertutupi, walaupun dalam Mazmur, kitabnya.

Disebutkan dalam kitab mereka, “Pada waktu Israil keluar dari Mesir, kaum keturunan Yakub dan bangsa yang asing bahasanya, maka Yehuda menjadi tempat kudus-Nya. Israil wilayah kekuasaan-Nya. Laut melihatnya, lalu melarikan dirin. Sungai Yordan berbalik ke hulu. Gunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba. Ada apa hai laut sehingga engkau melarikan diri; Ada apa hai Sungai Yordan sehingga engkau berbalik ke hulu; ada apa hai gunung-gunung sehingga kamu melompat-lompat seperti domba jantan; ada apa hai bukit-bukit sehingga kamu seperti anak domba? Gemetarlah hai bumi di hadapan Tuhan, di hadapan Allah Yakub yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”

Taurat berbohong ketika menggambarkan Daud. Dia tidak membawakan hal baru tatkala dia menyebutkan para pahlawan yang ada di sekelilingnya….

Disebutkan dalam kitab mereka, “Inilah nama para pahiawan yang mengiringi Daud, Isybaal, orang Hakhmoni, kepala Triwira. Ia mengayunkan tombaknya melawan delapan ratus orang yang tertikam mati dalam satu pertempuran…. lbisai, adik Yoab, anak Zeruya, dialah kepala ketiga puluh orang itu. Dialah yang mengayunkan tombaknya melawan tiga ratus orang yang mati ditikamnya. Dia mendapat nama di antara ketiga orang :15:15

Back to Part :  III

Sumber : Klik

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s