DEBAT ANTARA DAJJAL ISRAEL DAN AHLI NERAKA

Posted: Juni 22, 2010 in sharing n completed

**Disini sahabat saya “Ahli Neraka” Cb memberikan pertanyaan Tambahan tentang pertentangan (menurutnya) dlm ayat Alquran.

**Semoga dengan jawaban saya ini akan menjadikan “ Ahli Neraka” lebih banyak inigin mempelajari Ayat-ayat suci Alquran yg sempurna ini, dan semoga bermanfaat**

Harapan saya dengan tuntasnya semua jawaban saya ini akan membuat hati “Ahli Neraka” Menjadi lapang menerima ke Sempurnaan ayat2 Suci Alquran yang di fimankan dari Allah melalui Rasul Nya Muhammad Saw.

“Janganlah engkau membicarakan ilmu dengan orang-orang yang kurang akal karena mereka hanya akan mendustakanmu, dan tidak pula kepada orang-orang bodoh karena mereka hanya akan menyusahkanmu. Akan tetapi, bicarakanlah ilmu dengan orang yang menerimanya dengan penerimaan yang baik dan yang memahaminya.” (Ali bin Abi Thalib r.a)

Ini adalah Pertanyaan dari Saudaraku “Ahli Neraka”

**APAKAH MAKANAN PENGHUNI NERAKA?

Makanan dinereka HANYA pohon berduri (QS 88:6)

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri

Makanan dinereka HANYA darah dan nanah (QS 69:36)

Dan tiada pula makanan sedikitpun baginya kecuali dari darah dan nanah

Menurut QS 37: 63-64, 66-67 disimpulkan bahwa makanan kaum di neraka adalah buah dari pohon zaqqum, serta minuman berupa air yang panas

Nabi kok tidak jelas, mengancam dengan kata hanya, cuma, tiada lain satu jenis makanan saja! Mengapa tidak bilang kalo dineraka itu komplit, ada pohon zaqqum, air panas, pohon berduri, plus darah dan nanah.

**ADAKAH TOLERANSI BERAGAMA DALAM ISLAM ?

Muhammad mengatakan tidak ada pemaksaan dalam Islam (QS 2:256, 109:6)

“Tidak ada paksaan dalam agama Islam…”

“Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Hal ini bertentangan dengan, Qs.47:4, Qs.9:5, Qs.8:12, Qs.8 :17, Qs.8:60, Qs.9:14, Qs.9:73, Qs.9:29, Qs.48:29, Qs.4:74, Qs.2:154, Qs 5:33, Qs.9:38, Qs.4:76, dll.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Qs.9:29)

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS 8:12)

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, …… (QS 9:5)

Itulah ajaran toleransi dari Muhammad, rahmat bagi semesta alam. Saat kau lemah, berbaik baiklah terhadap pemeluk agama lain, nanti jika kau telah kuat, paksakan islam kepada mereka, jika tak mau bunuh saja mereka!

**APAKAH MASJID AL AQSA SUDAH ADA PADA JAMAN MUHAMMAD?

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:01)

Pada tahun 621 Muhammad mengaku kalau dirinya jalan2 dari Al Aqsa ke Surga, padahal masjid tersebut baru berdiri 89 tahun kemudian, yaitu tahun 710. Mungkinkah Muhammad meminjam mesin waktunya Doraemon?

**APAKAH IBRAHIM MENGHANCURKAN PATUNG2 BERHALA?

Ibrahim menghancurkan berhala-hala. (Qs.21:58);

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Hal ini bertentangan dengan (Qs.19:47-49,);

Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Ibrahim tidak menghancurkan berhala, tetapi berdiam diri dan meninggalkan para penyembah berhala tersebut.
==========================

=====================================

Jawaban Pertama ;

**APAKAH MAKANAN PENGHUNI NERAKA?

Al Ghaasyiyah (88:6)
Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon berduri

AL-Haqqah (69:36)
Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah

Ash shaffat (37:63)
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang zalim.

Ash shaffat (37:64)
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka yang menyala

Ash shaffat (37:66)
Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.

Ash shaffat (37:67)
Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.

Keterangan :

Ayat ini menerangkan orang yang mengikari, mendustakan, mendua atau menigakan Tuhan mendapat ancaman dineraka, yang menurut ayat tsb beranekaragam jenis makanan penghuni neraka, dan jenis makan penghuni neraka dalam ayat ini digambarkan begitu menakutkan bahkan menjijikan.

Yang menjadi pertanyaan kenapa jenis makanan penghuni neraka tidak secara komplit di tuangkan pada ayat Alquran ? di Ayat ini hanya mengaambil beberapa contoh jenis makanan para penghuni neraka yang menjijikan itu.
Sekarang saya ingin balik bertanya kepada si penanya “Ahli Neraka”
Dapatkah anda menyebutkan secara komplit jenis makanan manusia yang terhampar di alam ini ?
Saya yakin pasti anda hanya mejawab beberapa jenis makanan saja ! dan anda memerlukan 1 kitab/buku untuk menulis semua jenis makanan didunia.
===============================================================

Jawaban Kedua :

**ADAKAH TOLERANSI BERAGAMA DALAM ISLAM ?

Al baqarah (QS 2:256)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ada suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, seorang lelaki bernama Abu Al-Husain dari keluarga Bani Salim Ibnu Auf mempunyai dua orang anak lelaki yang telah memeluk agama Nasrani sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Tuhan sebagai nabi. Kemudian kedua anak itu datang ke Madinah (setelah datangnya agama Islam), maka ayah mereka selalu meminta agar mereka masuk agama Islam dan ia berkata kepada mereka, “Saya tidak akan membiarkan kamu berdua, hingga kamu masuk Islam.” Mereka lalu mengadukan perkaranva itu kepada Rasulullah saw. dan ayah mereka berkata, “Apakah sebagian dari tubuhku akan masuk neraka?” Maka turunlah ayat ini, lalu ayah mereka membiarkan mereka itu tetap dalam agama semula.
Jadi, tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka masuk agama Islam dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri.
Apabila kita sudah menyampaikan kepada mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman itu bukanlah urusan kita melainkan urusan Allah swt. Kita tidak boleh memaksa mereka. Dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman yang artinya, “Apakah Engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi orang-orang yang beriman?”
Dengan datangnya agama Islam, maka jalan yang benar sudah tampak dengan jelas dan dapat dibedakan dari jalan yang sesat. Maka tidaklah boleh adanya pemaksaan untuk beriman karena iman tersebut adalah keyakinan dalam hati sanubari dan tak seorang pun dapat memaksa hati seorang untuk meyakini sesuatu apabila ia sendiri tidak bersedia.
Ayat-ayat Alquran yang menerangkan kenabian Muhammad saw. sudah cukup jelas. Maka terserahlah kepada setiap orang apakah ia akan beriman atau kafir setelah kita menyampaikan ayat-ayat itu kepada mereka. Inilah etika dakwah Islam. Adapun suara-suara yang mengatakan bahwa agama Islam dikembangkan dengan pedang itu hanyalah omong kosong dan fitnahan belaka. Umat Islam di Mekah sebelum berhijrah ke Madinah hanya melakukan salat dengan cara sembunyi dan mereka tidak mau melakukan secara demonstratif terhadap kaum kafir. Ayat ini turun kira-kira pada tahun ketiga sesudah hijrah, yaitu setelah umat Islam memiliki kekuatan yang nyata dan jumlah mereka telah bertambah banyak namun mereka tidak diperbolehkan melakukan paksaan terhadap orang-orang yang bukan muslim, baik paksaan secara halus apalagi dengan kekerasan.
Adapun peperangan yang telah dilakukan umat Islam, baik di Jazirah Arab maupun di negeri-negeri lain seperti di Mesir, Persia dan sebagainya, itu hanyalah semata-mata suatu tindakan bela diri terhadap serangan-serangan kaum kafir kepada mereka, dan untuk mengamankan jalannya dakwah Islam. Sehingga orang-orang kafir itu dapat dihentikan dari kezaliman, memfitnah dan mengganggu umat Islam karena menganut dan melaksanakan agama mereka dan agar kaum kafir itu dapat menghargai kemerdekaan pribadi dan hak-hak asasi manusia dalam menganut keyakinan.
Di daerah-daerah yang telah dikuasai kaum muslimin, orang-orang yang belum menganut agama Islam diberi hak dan kemerdekaan untuk memilih apakah mereka akan memeluk agama Islam ataukah akan tetap dalam agama mereka. Jika mereka memilih untuk tetap dalam agama semula, maka mereka diharuskan membayar “jizyah”, yaitu semacam pajak sebagai imbangan dari perlindungan yang diberikan pemerintah Islam kepada mereka. Dan keselamatan mereka di jamin sepenuhnya asal mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang memusuhi Islam dan umatnya.
Ini juga merupakan suatu bukti yang jelas bahwa umat Islam tidak melakukan paksaan, bahkan tetap menghormati kemerdekaan beragama, walaupun terhadap golongan minoritas yang berada di daerah-daerah kekuasaan mereka. Sebaliknya dapat kita lihat dari bukti-bukti sejarah, baik pada masa dahulu, maupun pada zaman modern sekarang ini, betapa malangnya nasib umat Islam apabila mereka menjadi golongan minoritas pada suatu negara.
Ayat ini selanjutnya menerangkan, bahwa siapa-siapa yang sudah tidak lagi percaya kepada tagut, atau tidak lagi menyembah patung, atau benda yang lain, melainkan beriman dan menyembah Allah semata-mata, maka ia telah mendapatkan pegangan yang kokoh, laksana tali yang kuat yang tak akan putus. Dan iman yang sebenarnya adalah iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lidah dan diiringi dengan perbuatan. Itulah sebabnya, maka pada akhir ayat, Allah berfirman yang artinya, “Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Artinya Allah senantiasa mendengar apa yang diucapkan dan Dia lalu mengetahui apa yang diyakini dalam hati, dan apa yang diperbuat oleh anggota badan. Dan Allah akan membalas amal seseorang sesuai dengan iman, perkataan dan perbuatan mereka masing-masing.

Al kafiruun (109:6)
“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”

Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya yaitu, “Bagi kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balasan atas amal perbuatanku”.

Yang menurut “ Ahli Neraka” Bertentangan Dengan :

Muhammad (47:4)
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”

Ini ayat untuk berperang bukan untuk memaksa keyakinan orang, waktu jaman Rasulullah Muhammad Saw menyebarkan Risalah banyak sekali kaum kafir yang menghalangi dan memeranginya.

Ayat ini menerangkan cara menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan. Allah SWT. menerangkan, “Apabila kamu, wahai kaum Muslimin, menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan, maka curahkanlah kesanggupan dan kemampuanmu untuk menghancurkan musuh-musuhmu, penggallah leher mereka di mana saja kamu temui dalam peperangan itu. Utamakanlah kemenangan yang akan dicapai pada setiap medan pertempuran dan janganlah kamu mengutamakan penawanan dan harta rampasan dari pada mengalahkan mereka. Penawanan dilakukan setelah kamu mengalahkan mereka, karena orang-orang kafir itu setiap saat berkeinginan membunuh dan menghancurkan kamu dan mereka tidak dapat dipercaya. Mereka seakan-akan ingin berdamai dengan kamu, tetapi hati dan keyakinan mereka tetap untuk menghancurkan kamu dan agama Islam pada setiap kesempatan yang mungkin mereka lakukan. Setelah selesai peperangan yang kamu menangkan itu, kamu boleh memilih salah satu dari dua hal, mana yang paling baik bagimu dan bagi agamamu, yaitu apakah kamu akan membebaskan tawanan yang telah kamu tawan atau kamu akan membebaskannya dengan membayar tebusan oleh pihak musuh atau dengan cara pertukaran tawanan.

Al Anfal (8:12)
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman`. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Waktu Rasulullah Saw menyebarkan Risalah tentang bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, dan mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Orang kafir banyak yang menentang bahkan memerangi kaum muslim sehingga ayat ini turun untuk melawan atau menegakan kalimat Allah. Awal penebaran risalah dari segi personel jelas umat muslim kalah banyak dibanding pasukan kafir tapi apa yang terjadi dimedan tempur? Allah memberi bantuan kepada kaum muslim hingga hampir disetiap peperangan kaum muslim “MENANG”
Sesudah itu Allah swt. mengingatkan kaum muslimin kepada pertolongan-Nya yang lain lagi dalam perang Badar, yaitu pada saat Allah swt. mewahyukan kepada para malaikat untuk memberikan bantuan kepada kaum Muslimin. Malaikat-malaikat diperintahkan Allah swt. agar menyertai kaum Muslimin untuk sewaktu-waktu dapat memberikan bantuan. Bantuan itu adalah menetapkan hati kaum Muslimin dalam pertempuran. Dan meyakinkan mereka agar Allah swt. menciptakan ketakutan di dalam hati orang-orang kafir, lantaran mereka melihat jumlah malaikat yang menyertai tentara Islam itu. Dengan demikian kaum Muslimin dapat menguasai pertempuran, mereka dapat maju dengan tangkas dan memenggal kepala-kepala musuh serta dengan mudah pula mereka mematahkan serangan musuh.
===============================================================

Jawaban Ketiga :

**APAKAH MASJID AL AQSA SUDAH ADA PADA JAMAN MUHAMMAD?

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:01)

Pada tahun 621 Muhammad mengaku kalau dirinya jalan2 dari Al Aqsa ke Surga, padahal masjid tersebut baru berdiri 89 tahun kemudian, yaitu tahun 710. Mungkinkah Muhammad meminjam mesin waktunya Doraemon?

*** Allah SWT menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya “Subhana”, agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.
Allah SWT memulai firman Nya dengan “Subhana” dalam ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan Nya.
Dari kata-kata Isra’ dapat dipahami bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw itu terjadi di waktu malam hari, karena memang demikian kata “asra” dalam bahasa Arab. Sedang disebutkan “Lailan”, yang berarti di malam hari,” adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah SWT mengisra’ kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.
Dimaksud dengan “hamba Nya” di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.
Di dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis. Masjidilaksa itu terkenal pula dengan Haikal Sulaiman. Disebut demikian karena Nabi Sulaimanlah yang membinanya. Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang berarti “JAUH”, karena jauhnya dari kota Mekah.
Selanjutnya Allah SWT, menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu juga karena mesjid itu termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.
Sesudah itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw dibawa berjalan pada malam hari, yaitu Allah SWT dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha Pencipta Nya. Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.
Di akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan semua perbuatan mereka. Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas dari pengamatan Nya.
Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama surah An Najm.
===============================================================

Jawaban Keempat :

**APAKAH IBRAHIM MENGHANCURKAN PATUNG2 BERHALA?

Al Anbiya (21:58)
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu benar-benar dilaksanakannya kemudian, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar. Patung yang sebuah itu tidak dirusaknya, karena ia berharap bahwa bila mereka kembali ke sana dan bertanya kepadanya tentang siapa orang yang merusak patung-patung yang lain itu, maka ia akan menyuruh mereka bertanya kepada patung yang terbesar itu, yang tentu saja tidak dapat bicara.

Yang menurut “Ahli Neraka”Hal ini bertentangan dengan (Qs.19:47-49,);

Maryam (19:47)
“Berkata Ibrahim:` Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku”.

Ayat ini bercerita tentang Nabi Ibrahim dengan Bapaknya.
Tak ada jawaban Ibrahim terhadap bentakan-bentakan bapaknya yang kasar itu kecuali mengucapkan, “Selamat sejahtera atasmu”. Aku berdoa agar bapak selalu berada dalam sehat dan afiat. Aku tidak akan membalas kata-kata yang kasar itu dengan kasar pula karena engkau adalah bapakku yang kucintai. Aku tidak akan melakukan sesuatupun yang merugikan atau mencelakakan bapak, biarlah aku pergi dari negeri ini meninggalkan bapak, meninggalkan rumah dan kampung halaman. Aku meminta kepada Tuhan agar bapak diampuni-Nya dan selalu berada dalam naungan rahmat-Nya, mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang membawa kebaikan dan kebahagiaan.

Maryam (19:48)
Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan daripada apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku
Selanjutnya Ibrahim berkata kepada bapaknya, aku akan pergi meninggalkanmu, meninggalkan kaummu, meninggalkan berhala-berhala yang kamu sembah. Aku akan pergi dari sini agar aku bebas beribadat kepada Tuhanku yang akan menolongku dan melepaskan aku dari bahaya yang menimpaku, karena semua petunjuk dan nasihatku kamu tolak mentah-mentah bahkan mengancamku dengan ancaman yang mengerikan. Aku akan menyembah dan berdoa hanya kepada Tuhanku saja dan sekali-kali aku tidak akan menyembah selain Dia.

Menurut riwayat, Ibrahim hijrah ke negeri Syam dan di sana dia menikah dengan Siti Sarah. Aku berharap dengan berdoa dan menyembah Tuhanku bahwa aku tidak akan menjadi orang yang kecewa seperti kamu yang selalu menyembah dan berdoa kepada berhala-berhala itu, tetapi ternyata berhala-berhala itu tidak dapat berbuat sesuatu apapun apalagi akan melaksanakan apa yang kamu minta kepadanya.

Maryam (19:49)
Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Yaqub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.

Setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan negerinya dan menetap di negeri Syam, dikaruniai Tuhan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Allah mengaruniakan kepadanya anak-anak dan cucu-cucu yang sebahagian dari mereka diangkat Allah menjadi Nabi di kalangan Bani Israel. Allah mengaruniakan kepada Ishak dan Ishak inipun mendapat anak bernama Yakub yang menggantikan kedudukannya sebagai Nabi. Adapun anaknya Ismail yang ditinggalkannya di sekitar Kakbah diangkat pula menjadi Nabi yang telah meninggikan dan menyemarakkan syiar agama di sana. Demikianlah ganjaran Tuhan kepada Nabi Ibrahim yang bersedia meninggalkan bapak, kaum dan tanah airnya demi untuk keselamatan akidahnya dan menyebarkan agama tauhid yang diperintahkan Allah kepadanya. Allah tidak mengabaikan dan tidak menyia-nyiakan bahkan mengganti kesedihan meninggalkan keluarga dan tanah airnya dengan kebahagiaan keluarga dan bertanah air yang baru dan menerima ajaran dan petunjuknya serta memberikan kepadanya anak cucu yang baik-baik yang sebahagiannya menjadi penegak agama Allah bahkan banyak pula yang menjadi Nabi.

Demikianlah ulasan dari saya untuk sahabat dan saudaraku ” Ahli Neraka” semoga Allah memberikan kelapangan hati yang jernih dan akal yang sempurna….Amien Yaa Rabb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s